kmldr100 's present

krisho/fanmyun/leadercouple-Unexpected! (2nd Sequel ofyoumakemecomplete)

warn exofic/krisho-fanmyun/genderswitch uke/typo's!

©All cast belong to themself, and this fic purely belong to me

for beloved 100's couple shipper!

1shot!

.

.

Kris memandang gelas berkaki panjang di hadapannya tanpa minat. Pandangannya kosong. Tubuhnya disana, tapi tidak bergitu dengan jiwanya.

"Mr. Wu?" Tegur suara halus itu, sambil sedikit menggoyangkan lengannya. Membuat lelaki blasteran itu kembali dari lamunannya.

"Uhm. Ya? Maafkan saya." Sahut lelaki itu, membuat sosok disebelahnya mengulum senyum maklum. Ia memberikan isyarat pada orang-orang didepannya untuk segera 'membubarkan diri'. Orang-orang itu tampaknya mengerti, dan tanpa banyak bicara segera angkat kaki dari ruangan disana.

"Sepertinya direktur sedang ada masalah. Saya pamit ke ruangan." Ucap sosok itu lagi, sambil membungkukkan tubuhnya dalam. Kris berjengit kaget, dan segera menegakkan tubuhnya saat dilihatnya sosok itu hampir membuka pintu.

"Sekertaris Lu Han?" Ucap Kris, membuat sosok itu membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah atasannya.

"Terimakasih banyak." Kata lelaki itu lagi, membuat Lu Han hanya tersenyum maklum dan kembali membungkukkan tubuhnya sopan.

"No problem. Itu memang sudah tugasku, sajangnim." Dan gadis itu segera memutar handle pintu dan melangkah keluar dari ruangannya.

.

.

Tok.. tok

"Masuk." Ucap lelaki itu, masih sambil membolak-balikkan kertas di tangannya. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan juga suara ketukan dari heels dan lantai yang terdengar berderu di ruangan bercat strong black dan broken grey itu.

"Mr. Wu, ada seseorang yang mencari anda." Ucap pemilik dari suara heels itu –Lu Han. Kris mengangkat kepalanya dan menatap kearah sekertarisnya.

"Suruh masuk saja." Perintahnya tanpa pikir panjang, dan kembali mengalihkan pandangannya pada kertas-kertas di tangannya. Lu Han segera beranjak dari ruangan itu setelah mengatakan baiklah, dan memberikan intruksi pada orang yang mencari atasannya itu untuk masuk.

"Wassup dude!" Sapaan itu terdegar familiar, membuat Kris meletakkan kertas-kertas ditangannya dan beralih pada sosok tinggi yang melangkah mendekat kearah meja kerjanya.

"Park Chan Yeol! Apa yang kau lakukan disini?" Ucap lelaki Kanada itu dengan nada –nggak nyelow sambil berjalan menghampiri sosok itu.

"Begitukah sapaanmu untuk sahabatmu ini, Mr. Wu?" Kata Chan Yeol sinis sambil membalas jabatan tangan dari lelaki didepannya, Kris hanya nyengir dibuatnya.

"Sahabat jenis apa yang tidak memberi kabar kalau dia sudah lulus dan pulang kampung?" Balas lelaki Wu itu tak kalah sinis, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa berbulu halus disana. Tepat di samping sahabatnya.

"Well, aku hanya iri padamu yang lulus 1 tahun lebih cepat dariku. Jadi.. begitulah." Balas Chan Yeol acuh, sambil menggedikkan bahunya. Ia menyenderkan tubuhnya pada sofa berbulu itu.

"I miss highschool. Collage sucks." Desis Chan Yeol pelan, membuat Kris hanya tersenyum maklum karenanya. Lelaki itu ikut menyenderkan tubuhnya persis seperti Chan Yeol.

"Dan kau apa-apaan! Kita tidak bertemu 4 tahun, dan pertengahan tahun ini tiba-tiba New York Time merilis sebuah headline news dengan title besar "Wu coorporation changes" dan "Kris Wu. Full of charismatic side, the newest lead director of Wu Coorporation" Ck." Omel Chany Yeol kesal.

"Aku tidak pernah mengira kalau kau akan jadi buisness man. Kukira kau akan jadi ahli Kimia yang akan menemukan unsur periodik baru atau ahli filsafat berkepala botak." Cerocos lelaki itu lagi, mengundang geplakan dikepalanya oleh Kris. Lelaki Kanada itu tidak terima dirinya dikatai botak. Yah, walaupun Chan Yeol tidak mengatainya secara langsung, tetapi lelaki itu merasa begitu.

"Apa salahnya jadi buisness man? Lagipula aku lebih memilih jadi atlet basket daripada jadi apapun yang kau sebut barusan." Ucap Kris sambil sedikit melonggarkan dasinya.

"Habisnya aku kesal. Aku belum lulus, tapi kau sudah sukses duluan." Chan Yeol masih mengomel, membuat Kris hanya berdecak kesal. Orang ini datang untuk berkunjung atau hanya untuk marah-marah?

"Bagaimana kuliahmu di Oxford? Apa kau jadi playboy disana?" Tanya Kris pada temannya yang tampak mengambil sekaleng coke dari kulkas kecil di sudut ruangan itu.

"Aku lulus musim panas kemarin. Dan well, aku taubat setelah melihat namamu terpampang jelas di New York Time waktu itu." Balas Chan Yeol sambil mendudukkan tubuhnya pada kursi direktur milik Kris dan berputar-putar menggunakan kursi –yang memang bisa berputar itu.

"Kupikir gadis disana seksi semua." Ucap lelaki Wu itu sambil memasang wajah pokernya saat melihat tingkah bodoh dari sahabatnya ini.

"Memang. Jujur aku shock karena asal kau tahu, semua gebetanku jatuh cinta padamu karena mereka melihat wajahmu di New York Time." Balas Chan Yeol dengan nada kesal, mengundang kekehan ringan keluar dari bibir lelaki Kanada itu.

"Hm. Kau tahu kalau pesona seorang Kris wu tidak akan pernah padam, bukan?" Ucap lelaki itu santai, sambil melipat lengannya di depan dada. Chan Yeol hanya mencibir kecil dibuatnya.

Ia tahu kalau Kris itu memang sangat famous, apalagi di kalangan perempuan. Pribadinya memang introvert dan anti sosial. Tapi, jika kau sudah dekat dengannya, kau akan menemukan sisi lain dari seorang Kris wu. Seorang Kris wu yang hangat dan murah hati. Belum lagi kharisma yang memancar kuat dari sosok dengan tinggi 190 senti ini, bahkan hanya dengan menatap kedua eagle eyes itu kau bisa merasakan sisi maskulin dari lelaki ini.

Belum lagi fakta kalau Kris itu sangat cerdas, apalagi dalam bidang eksak dan bahasa. Chan Yeol kadang heran dibuatnya, karena tiap ia berkunjung kerumah sahabatnya ini, dia pasti selalu menemukan Kris yang tengah sibuk dengan sneakers-sneakers basket miliknya. Ia jarang melihat Kris belajar dan cenderung malas membuka buku. Tapi kenapa tiap ujian tiba, lelaki ini selalu mendapat nilai A sempurna seorang diri?

"Oh ya. Bagaimana dengan Kim Junmyeon? Kau masih berkencan dengannya?" Chan Yeol balik bertanya, membuat Kris hanya mendesah pelan.

"Hm. Begitulah." Balas Kris singkat.

Menyadari perubahan ekspresi dari sahabatnya, Chan Yeol hanya tersenyum maklum. Ia tahu kalau lelaki ini pasti tengah bertengkar dengan kekasihnya.

Kris itu lelaki yang sangat maskulin, dan segala hal yang berhubungan dengan lelaki itu pasti selalu berkaitan dengan hal yang sangat laki-laki dan terkesan manly. Ia cenderung flat dan talkless. Tapi, hanya pada Chan Yeol lelaki itu berani berekspresi dan mencurahkan isi hatinya. Dan lelaki keluarga Park itu siap mendengar apapun dari sahabatnya.

"Kau bertengkar dengannya?" Chan Yeol mencoba memancing sahabatnya untuk bercerita. Dan rupanya berhasil.

Flashback

Kris menendang batu kerikil di depannya, lalu mendengus dalam. Lelaki itu hanya bingung dengan tingkah kekasihnya yang belakangan ini agak berubah. Junmyeon sering ngambek dan uring-uringan tidak jelas, dan yang paling parah adalah kejadian hari ini.

Junmyeon cemburu. Ia tahu itu, dan lelaki itu pikir kalau gadisnya pasti maklum. Karena seingat Kris, gadisnya itu kenal hampir seluruh teman-temannya. Termasuk gadis California yang ia temui kemarin, Jessica Jung.

Saat jam makan siang kemarin, Kris memutuskan untuk pergi ke kedai Starbucks untuk membeli Cappuchinno macchiato kesukaannya dan berniat untuk pergi ke kedai yang tepat bersebelahan dengan kedai Starbucks itu. Dan saat ia ingin membayar Puff Pastry miliknya, sebuah suara yang terdengar sangat familiar mampir di telinganya.

Dia Jessica Jung. Teman lamanya di Amerika, dan teman SMPnya dulu.

Maka mereka memutuskan untuk mengambil tempat duduk di sudut paling pojok kedai yang tepat menghadap ke arah luar jendela. Mereka saling bertukar fikiran dan berbagi cerita kemarin. Sampai Jessica sadar kalau ada seseorang yang memperhatikan dirinya dan Kris dengan sangat intens.

Kris yang sadar kalau gadis berambut darken gold itu tak lagi fokus berbicara, segera mengikuti arah pandang Jessica dan kedua eagle eyesnya itu langsung melebar. Junmyeon di luar sana, tengah memandang kearahnya dengan pandangan yang terluka. Ia segera melangkah keluar dengan sangat cepat –mungkin setengah berlari. Lelaki itu tahu, kalau Junmyeon sudah salah sangka dan pasti berbagai macam fikiran yang tidak-tidak muncul dalam benak gadisnya.

Junmyeon yang tahu kalau Kris menyadari kehadirannya, segera melangkah menjauh dari sana dan berjalan dengan sangat cepat. Ia hanya berharap untuk tidak mendengar apapun terlontar dari bibir kekasihnya untuk saat ini. Tapi semuanya hancur, saat dirasanya sebuah tangan meraih pergelangan tangan kecilnya.

Junmyeon hanya menatap Kris datar, tanpa ekspresi. Ia tidak ingin terlihat lemah lalu menangis didepan kekasihnya, tapi ia juga tidak ingin terlihat sok kuat dengan tatapan sinisnya.

"Aku bisa jelaskan semuanya." Ucap lelaki itu sambil berusaha mengatur nafasnya yang menderu akibat berlarian mengejar Junmyeon tadi.

"Nothing to explain. I want to go back home." Balas gadis itu datar, membuat hati Kris mencelos. Junmyeon jarang –atau mungkin tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti ini padanya dan Kris yakin kalau ia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

"Kamu salah paham. Dengarkan aku dulu!" Ucap lelaki itu sambil mencengkram pergelangan tangan kecil milik gadisnya, membuat Junmyeon meringis.

"Kau menyakitiku. Lepaskan aku." Ujar Junmyeon dengan suara yang terdengar bergetar. Kris hanya tersentak kaget dan segera melemahkan genggamannya.

"Maafkan aku, aku tak bermaksud-"

"Aku harus pulang. Jangan menghubungiku untuk beberapa waktu kalau kau tak punya waktu untukku dan lebih mementingkan gadis lain." Ucap gadis itu final, membuat Kris hanya menggeram pelan.

"Tapi Jun, dengar dulu.." Cegah lelaki itu, tapi percuma saja. Seperti gadisnya sudah marah besar dan tidak mau mendengar apapun darinya. Membuatnya hanya pasrah begitu saja dan memandangi punggung kecil itu yang semakin menjauh.

Kris hanya menatap nanar tanah tempat Junmyeon berpijak tadi. Ia fikir kalau Junmyeon pasti sudah biasa melihat dirinya makan dengan kolega-koleganya yang memang beberapa seorang perempuan. Apa salahnya dengan Jessica?

"Kris.."

Dan lelaki itu membalikkan tubuhnya saat melihat Jessica menatap dengan pandangan bersalah kearahnya. Ia hanya tersenyum tipis karena itu.

"Is she your girlfriend?" dan Kris hanya mengangguk pelan.

"I'm sorry for-"

"No. Isn't your fault, Jessica. Dia hanya salah paham." Ucap Kris, tanpa membiarkan perempuan itu menyelesaikan perkataannya. Pantang baginya membuat perempuan merasa tersakiti dan meminta maaf. Dan bodohnya, ia membuat gadisnya sendiri tersakiti.

"Aku harus ke kantor sekarang. Sampai jumpa lain waktu, Jess."

.

.

Junmyeon memakai Hi Top Sneaker White ber-merk Giuseppe Zanotti Croc-Embossed miliknya, lalu menghentakkan kedua kakinya ke lantai secara bergantian. Setelah bercermin sekilas, ia melangkahkan kedua kakinya keluar. Rambutnya dibiarkan tergerai –sengaja, karena dirinya baru saja men-dip dye rambut darken brown miliknya menjadi darken brown dengan aksen fairytale –perpaduan antara light blue, darken blue,gold dan olive green pada ujungnya.

T-shirt light grey dan jeans dark blue, dipadukan dengan Sneaker Hi Top putih, dan rambut cokelat bergradasi hijau, emas dan biru pada ujungnya. Mungkin mencolok, tapi sangat sempurna untuknya. Salahkan kulit putih dan bersih miliknya, membuat apapun selalu terlihat sempurna menempel pada tubuhnya.

Persetan dengan mode. Ia tahu, dip dye hair populer tahun 2013 tapi punya hak apa orang lain melarangnya? Ia justru terlihat makin cemerlang dan fresh dengan semua itu.

Tapi, kalau kau menatap jauh kedalam kedua bola mata gadis itu, dirinya tengah menyembunyikan sesuatu disana.

Dan sesuatu yang disembunyikannya itu.. mengenai Kris. Kekasihnya.

Belakangan ini, lelaki Kanada itu banyak menghabiskan waktu di kantor dan jarang menghubungi dirinya. Pada awalnya Junmyeon mengerti, apalagi jika ia harus menghadapi kenyataan kalau Kris adalah Lead director di tempatnya bertugas.

Tapi... Lelaki itu semakin jarang untuk menghabiskan waktu dengannya –bahkan untuk menghubunginya sekalipun. Kadang, terhitung berapa pesan singkat yang dikirimi Kris padanya dalam satu minggu.

Belum lagi banyak kolega-kolega Kris yang kebanyakan adalah perempuan. Ia tahu kalau Kris adalah sosok yang profesional. Tapi... Siapa yang tahu jalan pikiran seorang lelaki?

Maka dari itu, salah satu alasan dirinya men dip dye habis rambutnya adalah untuk menghilangkan segala pemikiran negatif mengenai Kris.

Junmyeon adalah seorang novelis dan author dari beberapa fanfic terkenal di dunia maya. Hari ini, ia berencana pergi ke tempat kerjanya untuk menyerahkan naskah dari kolom cerpen 1 lembar full di sebuah teen magazine terkenal.

Sebenarnya, deadline naskahnya masih tanggal 21 Mei –atau lebih tepatnya besok. Tapi, ia telah menyelesaikannya dari jauh-jauh hari. Lagipula, gadis ini sudah berencana untuk pergi ke Nike store bersama adiknya, Jongin.

Junmyeon pergi ke tempat kerjanya menaiki subway yang katanya 4 kali lebih cepat, hemat dan efisien daripada mobil pribadi. Ia memang orang yang hanya positive thinking mengenai apapun percaya-percaya saja, lagipula ia memang membutuhkan semua itu sekarang. Karena, rute menuju tempat kerjanya lumayan padat kendaraan dan merupakan jalur sibuk.

Dan sekarang ia tengah duduk setengah depresi menunggu subway yang tak kunjung bergerak. Bukan, tidak ada macet dalam route subway, karena kendaraan itu punya route miliknya tersendiri. Tapi, supirnya bilang kalau salah satu roda kendaraan itu bermasalah, jadi harus mengganti aki.

Maka dari itu, tanpa berfikir panjang Junmyeon segera turun dari sana karena tak mau membuang waktunya percuma. Belum lagi, ada ahjussi mesum yang terus menatap kearahnya.

Junmyeon hanya mendengus kesal. Roda yang bermasalah kenapa harus aki yang diganti? Sebenarnya siapa yang bodoh.

"Dunia ini sungguh konyol." Desis gadis itu pelan, sambil menerbangkan sedikit poni yang menutupi dahinya.

Matahari seoul siang ini bersinar sangat terik. Junmyeon melirik kearah jam tangan yang melingkar di lengan kurusnya lalu bergumam,

"Jam makan siang Kris.."

Maka ia mengambil route yang berlawanan dengan kantornya, menuju kedai Starbucks di ujung persimpangan. Berniat membeli Cappuchinno macchiato kesukaan Kris dan membeli beberapa potong Puff pastry kesukaan kekasihnya di kedai yang berada tepat disebelah Starbucks.

Gadis itu hanya ingin memberikan sedikit kejutan pada kekasihnya. Lagipula, pertengahan bulan sudah akan berakhir pasti banyak tugas yang menumpuk di meja Kris.

Drrrt... drrrt

I-phone 5s gold edition miliknya bergetar. Ia segera merogoh kantung Jeansnya dan meraih benda tipis itu.

Kim Jong In calling

Junmyeon segera menempelkan benda itu ke telinganya, setelah memilih option hijau disana.

"Noona, kau dimana?" Terdengar suara adiknya itu di line seberang.

"Hmm. Aku di jalan, mau ke Starbucks. Wae?"

"Kupikir kau mau ke kantormu."

"Ya. Dan aku mau ke kantor Kris juga." Balas Junmyeon, sambil berbelok ke arah ujung persimpangan.

"Tadinya aku mau mengajak noona ke kedai ramyun baru di depan kantor ibu."

"Yaaah.. Lusa aku ulang tahun, aku traktir kau disana." Balas Junmyeon sambil sedikit mendecak, saat melihat Starbucks yang tampak penuh dari kejauhan.

"Ah, jinjjayo? Aku pegang janjimu!" Pekik lelaki itu dari line seberang, membuat Junmyeon hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.

Apa-apaan Jongin itu. Di sekolah saja sok keren, anggota klub basket dan leader di klub dance. Tapi dirumah –apalagi kalau sudah bersama Junmyeon pasti bocah hitam itu tak ada bedanya dengan anak umur 7 tahun yang manja luar biasa.

Junmyeon berdiri tepat didepan kaca jendela kedai itu dan memaksa masuk. Jongin masih bertelponan dengannya dan ia tengah melangkah keluar, berniat pergi ke sambil memegang 2 cup Caramel macchiatto dan Cappuchinno macchiatto ditangannya.

"Aku lapar sekali. Tak bisakah kau mentraktirku sekarang?" rengek Jongin dari Line seberang, membuatnya mendengus kesal. Ia berdiri tepat di depan kedai sekarang.

"Yah! Aku bilang kalau aku akan mentraktirmu besok! Tak..."

Junmyeon menghentikan ucapannya. Persendiannya seolah lemas dan mulutnya terasa kaku, tak bisa mengeluarkan suara. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kris memeluk seorang gadis dan mereka tengah berjalan menuju sudut kedai.

Junmyeon hanya terpaku di tempatnya, dan memandang lurus kearah Kris yang tengah berbicara dengan gadis itu. Apa Kris tak menyadarinya walau hanya dibatasi oleh sebuah kaca jendela yang bening sekalipun?

Junmyeon masih disana, sampai gadis berambut darken brown yang tengah bersama kekasihnya itu menoleh kearahnya dan diikuti oleh Kris yang tampak terkaget.

"Jackpot. Aku yang berniat memberi surprise malah aku yang mendapat surprise." Gumam Junmyeon sambil tersenyum miris. Ia segera mengambil langkah cepat dan pergi dari sana, saat ia sadar Kris mengejarnya.

Junmyeon melirik ponselnya, dan langsung menempelkan benda itu ditelinganya saat melihat Jongin belum memutuskan sambungan teleponnya.

"Aku panas. Jemput aku di persimpangan route 12, kutraktir ramyun sekarang." Ucap Junmyeon cepat dan menutup Line telpon, kemudian berlari cepat untuk menghindari Kris.

Terlambat. Pergelangan tangannya tengah di genggam sekarang.

.

.

Jongin bingung sekarang. Noona-nya bilang kalau ia panas, lalu kenapa ia mengajak Jongin pergi ke kedai ramyun dan memesan semangkuk ramyun ekstra pedas sekarang?

Belum lagi noona-nya makan dengan sangat tergesa-gesa, membuatnya beberapa kali lipat bingung.

"Noona. Apa yang terjadi?" Tanya lelaki tan itu. Junmyeon hanya mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari mangkuk ramyun ke wajah adiknya.

"Kau tidak makan? Traktiran ini tidak berlaku besok." Junmyeon mengalihkan pembicaraan, membuat Jongin mendecak sebal.

"Noona, jawab aku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Jongin bertanya lagi.

"Cepat habiskan, lalu antar aku ke tempat kerjaku." Junmyeon kembali mengalihkan pembicaraan, sambil memakan ramyun miliknya.

"Apa semua ini tentang Kris?"

Trak!

Junmyeon meletakkan kedua sumpitnya di atas meja. Mood-nya makan lenyap begitu saja saat mendengar nama itu.

Dan Jongin hanya menarik sudut bibirnya keatas saat melihat perubahan dari air muka Noona-nya. Sesuatu pasti telah terjadi di kedai Starbucks dan tadi.

"Kerja bagus. Kau menghilangkan selera makanku, kau tahu?" Desis Junmyeon kesal.

"Aku tahu itu." Balas Jongin santai, sambil mengangkat tangannya. Memberi isyarat pada waiters untuk menghampiri meja mereka. Junmyeon hanya mendecak kesal melihat tingkah adiknya.

"2 gelas sprite, juseyo."

Dan waiters itu hanya mengangguk dan pergi setelah mencatat pesanan Jongin dan mengucapkan baiklah.

"Jadi... Apa yang terjadi dengan Kris?" Ucap Jongin, sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Jangan sebut namanya!"

"Hmm... Baiklah-baiklah. Jadi.. Apa yang sudah terjadi? Kenapa kau menangis?" Ucap lelaki itu lagi. Namun, Junmyeon hanya terdiam.

"Ah! Aku tahu!" Jongin menjentikkan jarinya, membuat Junmyeon memandang malas kearahnya.

"Lelaki itu pasti telah menghamilimu, dan tak mau bertanggung jawab. Iya kan?" Ceplos Jongin asal, mengundang pukulan dilengannya.

Bugh

"Dasar anak sialan! Tidak begitu juga!"

Dan Jongin hanya terperangah. Pukulan itu sama sekali tidak sakit, hanya saja ia terkejut. Selama 17 tahun ia hidup bersama noona-nya, untuk pertama kali ia mendengar gadis yang terpaut 3 tahun di atasnya itu berkata-kata kasar.

"Apa katamu tadi? Darimana noona belajar kata-kata seperti itu? Apa dari lelaki itu?" Ucap Jongin tak percaya.

"Darimu. Saat kau memaki-maki Oh Sehun yang dekat dengan gebetanmu yang bermata bulat itu." Balas Junmyeon sengit, membuat Jongin meringis.

Junmyeon itu hanya tampangnya saja yang angel face. Bukan berarti dia jahat, gadis itu sangat murah hati malah. Tapi, saat marah putri sulung keluarga Kim itu akan berbicara pedas dan menusuk sambil memasang poker face miliknya.

Jongin hanya pura-pura batuk dan membetulkan posisi duduknya. Caranya saat ingin mengubah topik pembicaraan.

"Jangan bahas itu. Ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi tadi."

Junmyeon langsung terdiam, dan putaran kejadian tadi langsung tergingang di dalam kepalanya. Tak lama, air matanya turun membasahi kedua belah pipi mulus miliknya. Membuat Jongin panik setengah mati.

"Noona! Kenapa kau menangis!"

Dan Jongin menemukan 2 hal baru dari noona-nya hari ini.

Satu, Kim Junmyeon yang berkata kasar.

Dua, Kim Junmyeon yang juga menangis dalam waktu yang sama.

Dan ia tidak suka keduanya.

"Belakangan ini dia jarang sekali menghubungi dan mengabariku, hiks." Junmyeon mulai bercerita.

"Apa dia juga tak pernah bertemu denganmu belakangan ini?" Potong Jongin, membuat Junmyeon mendelik tajam kearahnya.

"Menghubungi saja jarang, apalagi menemuiku bodoh!" Pekik Junmyeon kesal, sambil menangis. Melupakan fakta bahwa ia adalah perempuan terhormat dari Keluarga Kim, dan melupakan fakta bahwa mereka tengah berada di tempat umum.

"Pssst. Pelankan suaramu noona, dan berhentilah menangis. Aku dikira orang memutuskan pacarku sendiri, kau tahu?" Ucap Jongin setengah berbisik, membuat Junmyeon terdiam.

"Kau adikku, bodoh!"

"Tapi kita tidak mirip!" Elak Jongin.

"Kau ini ingin mendengar ceritaku atau mau bertengakar denganku!" Ucap Junmyeon dengan nada tinggi –hampir menjerit. Membuat semua pelanggan disana memandang aneh kearah mereka. Jongin yang sadar langsung membungkuk meminta maaf.

"Iya-iyaa. Maafkan aku." Ucap Jongin pelan.

"Aku berjanji tidak akan memotong perkataanmu, Noona." Sambung lelaki tan itu, membuat Junmyeon mendengus pelan namun dia tetap melanjutkan ceritanya.

"Yah, dan tadi aku melihat dia tengah makan siang dengan seorang perempuan." Ucap Junmyeon, sambil mengaduk-aduk isi mangkuknya tanpa minat. Jongin hanya menaikkan alisnya.

"Mungkin itu hanya koleganya?"

"Kenapa mereka sedekat itu!" Elak Junmyeon.

"Mungkin teman lamanya?"

"Kenapa mereka berpelukan?" Elak Junmyeon lagi.

"Hah? Benarkah?!" Pekik Jongin yang disambut death glare dari kakak perempuannya itu. Apa-apaan dia itu? Dia yang menyuruh Junmyeon untuk tidak berisik, dia sendiri yang berteriak.

Dan Jongin hanya nyengir, lalu minta maaf. Tak lama, 2 gelas Sprite pesanan Jongin tiba.

"Kau serius?" Ucap Jongin, sambil meneguk isi dari gelas pertama. Junmyeon hanya mengangguk kecil. Jongin hanya menggedikkan bahunya lalu meminum gelas kedua habis.

"Hey! Mana untukku!" Kesal Junmyeon.

"Noona kan tidak minum soda." Balas Jongin singkat.

"Setidaknya pesankan aku air putih tadi! Aku yang mentraktirmu makan Ramyun." Balas Junmyeon sengit.

"Tapi aku tidak memakannya." Balas Jongin lagi.

"Salah siapa tidak makan?" Junmyeon tak mau kalah, membuat Jongin mengerutkan keningnya.

"Noona, ada apa denganmu? Aku tidak seperti melihatmu yang sebenarnya.." Gumam Jongin pelan. Membuat hati Junmyeon sedikit meluluh.

"Aku juga tidak tahu. Maafkan aku,"

Jongin hanya mendesah pelan, lalu mengusap tengkuknya. Ia ikut sedih melihat kakaknya yang biasa lembut, anggun dan ceria menjadi galak seperti ini hanya karena seorang Kris wu.

"Noona, dengarkan aku. Jangan potong ucapanku sebelum aku selesai berbicara."

Dan Junmyeon hanya mengedipkan kedua matanya meng-iya-kan.

"Laki-laki dan perempuan memiliki pola pikir yang berbeda. Jika lelaki hanya menggunakan logika dalam berfikir, maka perempuan akan menggunakan logika, perasaan dan fakta dalam berfikir dan mengungkapkan sesuatu." Ucap Jongin, sambil mengaduk es batu dalam gelas Sprite miliknya yang sudah kosong.

"Aku percaya, kalau Kris hyung adalah lelaki yang bertanggung jawab. Aku tahu kalau dia sangat mencintaimu, dan kalau ia memang memeluk perempuan lain selain dirimu pasti ia memiliki suatu alasan." Sambung Jongin, membuat Junmyeon hanya terdiam.

"Jadilah pihak yang pengalah, Noona. Mungkin Kris hyung satu tahun diatasmu, tapi pola pikir seorang lelaki itu berbeda. Aku yakin, cepat atau lambat dia pasti akan menghubungimu, karena dia seorang lelaki yang bertanggung jawab."

"Aku hanya berbicara menurut perasaanku. Karena aku seorang lelaki, jadi.. Menurutku begitu." Ucap Jongin final, sambil mengusap pundak sempit milik kakak perempuannya. Junmyeon hanya mengangguk pelan.

"Terimakasih Jongin. Kau yang terbaik."

.

.

Kris melangkah gontai menuju pintu kamarnya. Setelah melepas simpul dasi yang terasa mencekik lehernya, ia langsung menghempaskan tubuh jangkung miliknya keatas tempat tidur.

Putaran kejadian tadi siang terus terngiang dalam benaknya. Mulai saat ia memimpin rapat tadi siang, bertemu Jessica dan Junmyeon yang berlari menjauh darinya.

Ia mengeluarkan ponselnya, dan hatinya langsung mencelos saat melihat walpaper ponselnya adalah selca dirinya bersama Junmyeon yang diambil sebulan yang lalu.

Lelaki itu merasa sesak saat melihat senyuman Junmyeon yang sudah belakangan ini tak dilihatnya. Kris baru sadar kalau ia jarang sekali menghabiskan waktu untuk kekasihnya itu.

Dan lelaki itu terpejam setelah mengutuk tugas kantor yang belakangan ini memang menumpuk di meja kerjanya.

Flashback off

Chan Yeol hanya menopang dagunya, sambil mengerutkan keningnya saat Kris selesai bercerita. Sebenarnya masih ada yang mengganjal di benaknya.

"Jadi.. Menurut sudut pandangmu, apa penyebab Junmyeon marah padamu?" Ucapnya, sambil berjalan menghampiri Kris yang tengah duduk di sofa.

"Mungkin karena aku jarang menghubungi dan bertemu dengannya." Jawab lelaki itu, dan disambut gelengan kepala dari Chan Yeol.

"Tidak-tidak. Ada hal lain. Pasti." Sanggah lelaki bertelinga peri itu, sambil memutar-mutar kaleng soda yang diambilnya dari kulkas milik Kris.

"Apa maksudmu?"

"Aku kenal Junmyeon, Kris. Dia itu tipikal gadis yang cuek terhadap dirinya sendiri, tapi perhatian pada orang sekitar. Bukan masalah besar untuknya, kalau kau tidak sering menghubunginya. Pasti ada hal lain."

"Coba pikirkan lagi apa yang kau lakukan bersama Jessica, dan membuat Junmyeon marah?" Selidik Chan Yeol. Dan Kris langsung terdiam sambil mencoba mengingat-ingat.

"Aku pergi ke Starbucks membeli kopi, dan pergi ke membeli kue." Kris mencoba mengingat-ingat. Chan Yeol hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mendengarkan –sok tahu sekali.

"Saat aku ingin bayar Puff pastry milikku, ada Jessica. Kami saling sapa, dan ia memelukku." Sambung lelaki itu, dan membuat Chan Yeol langsung melebarkan kedua matanya yang memang sudah lebar itu.

Trak!

"Aw! Sakit tahu!" Pekik Kris kesal, saat Chan Yeol memukul kepalanya menggunakan kaleng soda. Sahabatnya itu hanya menggeram kesal.

"Kau berkata seperti itu dengan mudahnya? Jessica memelukmu, dan Junmyeon melihatnya! Kau fikir Junmyeon itu apa?!" Kesal Chan Yeol, membuat Kris langsung terdiam.

"Menurutku berpelukan saat bertemu itu hal yang wajar dilakukan, apalagi di Amerika. Dan Jessica itu hanya temanku, tak lebih!" Kris membela dirinya sendiri.

"Ini Korea, Kris! Dan mana Junmyeon tahu kalau Jessica itu temanmu! Kalau aku perempuan dan pacarku memeluk perempuan lain, aku akan langsung memutuskan pacarku saat itu juga!" Ucap Chan Yeol agak meninggi.

"Kupikir Junmyeon tahu semua temanku." Ucap Kris lirih, membuat Chan Yeol geram.

"Kau bilang, kalau Jessica tinggal di Amerika dan punya bisnis fashion disana. Dan Junmyeon tinggal di Korea. Apa kau pernah bercerita tentang Jessica secara individual pada Junmyeon?"

Bingo. Kris langsung terdiam. Dan hanya seorang Park Chan Yeol yang bisa membuat lelaki Kanada itu mati kutu.

"Kau tahu? Kau adalah orang yang paling kusegani dan kuhormati setelah abeoji. Kau bisa lulus universitas dengan sangat cepat dan langsung menjadi Lead director. Kau sangat cerdas di bidang apapun. Kau selalu mengalahkanku menjadi MVP di SMA dulu. Hampir semua gadis di sekolah menyukaimu. Kau sangat sopan dan karismatik." Tutur Chan Yeol jujur, membuat Kris hanya menunduk dalam. Menatap kearah lantai marmer yang dipijaknya sekarang.

"Aku sangat iri padamu, dan ambisiku selalu berputar untuk mengalahkanmu pada porosnya. Karena aku fikir, seorang Kris Wu adalah sosok yang sempurna tanpa celah."

"Tapi aku baru sadar, kalau tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kelemahanmu adalah perempuan. Dan perasaanmu."

Kris langsung menoleh kearah Chan Yeol, membuat sahabatnya itu langsung memandang wajah poker yang sejujurnya tak pantas untuknya.

"Selain perempuan dan perasaan, kelemahanmu adalah kau tidak peka." Dengus Chan Yeol kesal, saat mengetahui kalau Kris belum menangkap maksud ucapannya yang terakhir.

"Seharusnya kau bersyukur, Junmyeon adalah sosok yang penuh atitude dan berpendidikan tinggi. Dia tidak banyak berkata-kata dan langsung pergi. Kalau aku jadi perempuan, aku akan langsung memutuskanmu dengan suara lantang di tengah jalan." Ceplos Chan Yeol lagi, kembali pada sifat aslinya.

Kris hanya meringis mendengarnya.

"Berhentilah berkata kalau kau adalah seorang perempuan! Itu sangat menggelikan, bodoh!"

Chan Yeol hanya mencibir.

"Minta maaflah padanya, dan jelaskan semuanya. Berikan sedikit kejutan juga untuknya, seperti hadiah mungkin." Ucap Chan Yeol sambil memandang kearah sahabatnya yang tampak berfikir.

"Hadiah ya..." Gumam Kris pelan, sambil melihat kalender di meja kerjanya. Chan Yeol hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Kedua eagle eyes itu langsung melebar saat melihat tanggal setelah hari ini yang dilingkari dengan tinta berwarna violet.

"Besok ulang tahun Junmyeon! Aku harus pergi sekarang. Terimakasih sudah mendengar ceritaku, Yeol!" Ucap Kris kilat sambil menepuk pundak sahabatnya dan langsung menyambar jas hitam diatas kursi miliknya.

Dan Chan Yeol kembali memasang poker facenya ketika menyadari kalau ia sudah sendiri di ruangan itu.

"Selain perempuan dan tidak peka, kau juga pelupa."

.

.

Kris melajukan mobilnya dengan kecepatan konstan. Ia memang sedang terburu-buru, tapi bukan berarti ia harus mengebut. Pantang hukumnya membawa mobil diatas kecepatan yang wajar.

Ia menghentikan mobilnya saat traffic light menunjukkan warna merah. Sambil mengetuk-ngetuk setirnya, ia berfikir kira-kira hadiah apa yang cocok untuk gadisnya itu.

Maka ia membelokkan mobilnya menuju arah kanan dari simpang empat, dan memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah butik.

Saat ia masuk kedalam sana, semua pasang mata langsung menatap kearahnya. Seluruh pengunjung yang kebanyakan kaum hawa memandang takjub dirinya yang nampak seperti pangeran dalam buku-buku dongeng.

Rambut dirty blonde yang sudah di cat darken brown dua hari yang lalu, dan setelan jas hitam juga kemeja putih. Jangan lupakan dasi berwarna oreo grey yang rapi membalut sempurna tubuh jangkungnya.

Kris wu mencakup 3 hal idaman. Kriteria kekasih favorit, calon suami favorit dan calon menantu favorit.

Dan ia hanya mengabaikan seluruh pandangan itu –yang sudah biasa ia terima dan berjalan menuju perempuan dibalik meja kasir.

"Bisa ambilkan dress berwarna pastel? Aku ingin warna peach untuk spesifik." Ucap lelaki itu tegas dan penuh wibawa. Membuat siapapun akan takluk dibawahnya.

"Dress berwarna pastel masih dalam pengiriman menuju butik kami, tuan. Kemungkinan tiba besok pukul 10 pagi." Ucap perempuan itu, sambil mengecek kearah komputernya. Kris hanya berdecak kecil, lalu membungkuk.

"Aku butuh untuk hari ini. Terimakasih."

.

.

Kris mulai menggaruk pipinya frustasi. Ia sudah mengunjungi banyak butik, sneakers dan wedges store tapi belum satupun barang yang menarik perhatiannya.

Hari mulai petang, dan ia belum memikirkan pesta kejutan untuk Junmyeon.

Drrt..drrt

Kris menurunkan kecepatan mobilnya, dan mengambil ponselnya yang terletak di dashboard.

Kim Jong In calling

Dan lelaki Kanada itu mengerutkan dahinya saat adik lelaki dari kekasihnya itu menelponnya. Ia segera mengaktifkan panggilan itu dalam mode speaker dan meletakkannya di dashboard.

"Yeoboseyo? Hyung?" Terdengar suara Jongin di Line seberang.

"Ya, ini aku Jong In. Ada apa?" balas Kris masih fokus menatap kearah jalan raya.

"Kudengar kau bertengkar dengan Junmyeon noona."

Dan Kris langsung terdiam mendengar nama itu.

"Hyung? Kau masih disana?" suara Jongin kembali merambat ke gendang telinganya.

"Ya.. Uhm maaf, dia salah paham kemarin." Kris bingung mau bicara apa.

"Cobalah jelaskan padanya. Ia marah-marah padaku sambil menangis dan memakan dua mangkuk ramyun porsi besar dan ekstra pedas kemarin."

Dan Kris hanya terkekeh kecil mendengarnya.

"Aku coba nanti, aku sedang mencari hadiah untuk ulang tahunnya besok." Balas Kris sambil merendahkan kecepatan mobilnya saat traffic light di depannya menunjukkan warna merah.

"Benarkah? Hyung dimana sekarang?" Tanya Jongin.

"Aku di simpang tiga route 86. Memangnya kenapa?" Kris balik bertanya.

"Aku punya ide bagus." Ucap Jongin sambil tersenyum saat melihat mobil sport milik Kris berada tepat di simpang tiga route 86, tepat di depan cafè yang di tempatinya sekarang.

.

.

Jongin mengacak rambut platina-nya dengan kasar. Ia sedikit frustasi saat ibunya mengajak ia dan kakak perempuannya makan malam dengan salah satu kolega perusahaan keluarga mereka.

Sebenarnya, kalau situasinya memungkinkan lelaki tan itu pasti akan dengan sangat senang hati menuruti kemauan ibunya. Tapi, kenapa harus malam ini? Rencana yang dibuatnya bersama dengan Kris bisa hancur total kalau begini.

Drrrt drrrt

Dan Jongin langsung menempelkan benda itu ke telinganya saat melihat nama Kris terpampang jelas di layar ponselnya.

"Halo, Jong In?" Suara Kris terdengar jelas di Line seberang.

"Ya, hyung? Ada apa?" Jongin membalas.

"Kurasa rencana kita gagal. Dad mengajakku keluar malam ini dan Well.. Aku tidak bisa menolaknya. Maafkan aku ya," Suara Kris terdengar sangat menyesal.

"Aku baru saja akan memberitahumu kalau ibu mengajakku dan Noona makan malam dengan koleganya. Kita seri, hyung." Balas Jongin sambil terkekeh ringan.

"Kau serius? Sepertinya aku harus memikirkan cara lain,"

"Kau bisa menelponku untuk ide-ide yang bagus, hyung. Siapa tahu aku bisa membantumu." Jongin coba menghibur. Kris tersenyum samar di Line seberang walau Jongin tidak tahu.

"Terimakasih. Aku akan menelponmu kalau aku tak punya inspirasi. Sampai nanti," Kris mengucap salam dan langsung menutup sambungan teleponnya.

Dan Jongin langsung berlari kemudian mengacak lemarinya, mencari setelan jas yang diberikan Kyungsoo saat ulang tahunnya bulan Januari.

.

.

Kris menyimpulkan dasi yang 'mengikat' lehernya dan merapikan kerah kemejanya. Ia bercermin sekilas dan langsung bergegas menuruni anak tangga setelah menyemprotkan sedikit parfum beraroma maskulin ke sekitar rahang dan pundaknya.

"You're ready, my son?" Tanya ayahnya yang juga masih terlihat sangat tampan di umurnya yang menginjak kepala lima. Kris hanya mengangguk dan tersenyum pasti.

"Where's mom? Is she will follow us tonight?"

"I'm in here!" Dan Mrs. Wu turun dari anak tangga dan menghampiri suami dan putera termudanya. Ia tersenyum bahagia. Sudah lama sekali ia tak bertemu dengan putera bungsunya ini.

"Let's go!"

.

.

Kris berjalan di belakang ayahnya yang berjalan berdampingan dengan ibunya didepan. Mereka memasuki restaurant bintang lima yang sangat terkenal di seluruh penujuru Korea selatan.

Lelaki itu tersenyum. Sungguh ia sangat mencintai kedua orangtuanya yang sudah lama tak ia temui. Walaupun ia sedikit kecewa sebab, rencananya untuk Junmyeon gagal karena ayahnya ingin ia ikut serta dalam acara makan malam dengan perusahaan sahabat dari perusahaan keluarganya.

Kris masih berdiri di belakang ayah dan ibunya saat ia mendengar kedua orangtuanya mengucap salam. Ia segera maju dan membungkuk saat ayahnya memintanya memperkenalkan diri.

"Kris?"

Dan ia langsung mengangkat kepalanya saat suara yang terdengar sangat familiar menyapa gendang telinganya.

"Junmyeon?"

.

.

Suasana makan malam yang diperkirakan akan berlangsung sangat khidmat dan hening berbanding terbalik menjadi sangat hangat akibat godaan dari 2 pihak orang tua disana.

"Ibu tidak tahu kalau kalian sudah saling mengenal. Jadi gadis ini yang kamu ceritakan waktu itu?" Tanya Mrs. Wu sambil menyikut lengan puteranya, membuat lelaki itu tersenyum kecil kemudian mengangguk.

"Tapi Junmyeon sangat manis dan cantik ya. Tak heran kalau Kris sangat takut kehilanganmu dan bercerita pada ibu sambil menangis waktu itu." Sambung Mrs. Wu yang mengundang gelak tawa disana. Kris hanya mengusap tengkuknya malu, dan Junmyeon hanya tersenyum dengan semburat merah jambu di pipinya.

"Ibu.." Lirih lelaki itu pelan.

"And Junmyeon look so pretty with that hair. I heard that you wait for 6 month only for Kris. Aaahh... you're his girlfriend?" Goda Mr. Wu, membuat suasana di meja itu semakin hangat.

Jongin terkekeh melihat noona-nya tersipu seperti itu. Benar-benar menggemaskan dan sangat berbeda dari ekspektasi yang ia buat sebelumnya.

Dan ia memberi isyarat pada Kris untuk segera melakukan sesuatu. Rupanya lelaki Kanada itu cepat tanggap dan mengerti akan kode yang dibuat oleh Jongin.

"Dad, mom, ommonim. Aku ingin memberi sesuatu." Ucap Kris dengan deep voice miliknya sesaat setelah ia berdeham –meminta perhatian. Dan orang-orang di meja itu termasuk Junmyeon dan Jongin menatap kearahnya.

"Besok Junmyeon berulang tahun dan aku ingin memberinya hadiah." Kata lelaki itu sambil meraih sesuatu dari kantung jas hitam miliknya.

Kris mengeluarkan sebuah kotak beludru merah, membukanya dan meletakkannya diatas meja. Tepat di depan Kim Junmyeon. Dan gadis itu hanya terpaku di tempatnya. Tampak sepasang cincin emas putih dengan batu permata kecil disana. Sangat sempurna, indah dan elegan.

Kris menatap langsung kearah angel eyes milik gadisnya yang tengah memandang kearahnya juga.

"Selamat ulang tahun sayang. Will you marry me?"

Kedua orang tua Kris dan Ibu Kim bertepuk tangan riuh rendah. Baru saja mereka ingin merencanakan perjodohan dan pernikahan. Siapa sangka lelaki itu melangkahi niat mereka?

Dan Kim Jongin tersenyum senang sekaligus geli melihat prosesi lamaran tiba-tiba yang disaksikan secara langsung oleh orangtua kedua belah pihak.

Junmyeon sendiri masih membeku di tempatnya. Kedua tangannya dingin dan persendiannya terasa kaku, sulit di gerakkan. Siapa yang akan menyangka kalau ia akan dilamar Kris tepat di malam ulang tahunnya? Dan terlebih, di depan kedua orang tua Kris yang jarang di Korea dan di depan Ibunya yang super sibuk?

Gadis itu masih mematung sebelum sadar, sesaat sebuah tangan besar meraih jemari lentik miliknya. Membawanya kembali ke dunia nyata. Di tatapnya langsung kedua eagle eyes yang menghiasi wajah tampan nan rupawan milik kekasihnya. Dan ia menangkap itu. Sebuah keyakinan dan kesungguhan disana.

Maka tanpa ragu, ia menganggukkan kepalanya sambil meneteskan air mata bahagia. Membuat para orangtua makin heboh melihat kemesraan dari kedua putera-puteri mereka.

"Yes, i will, Kris." Ucap Junmyeon tanpa ragu, membuat Kris langsung tersenyum bahagia. Ia langsung mengecup punggung tangan gadisnya dan memasang cincin itu di jari manis milik gadisnya.

Jongin langsung bertepuk tangan. Tampaknya ia sangat bahagia. Siapa sangka rencana Kris dan dirinya yang dikira gagal malah berjalan mulus tanpa hambatan dan gangguan yang berarti?

"I'm so glad, Kris. I will told both of your brother about this." Ucap Mr. Wu senang dan dianggukki oleh isterinya.

"Properti pernikahan dan tanggal resepsi biar Ibu dan Mrs. Kim yang urusi. Kau jaga saja calon isterimu dengan baik." Ucap Mrs. Wu dan di-iya-kan oleh Mrs. Kim.

Ini akan menjadi hal yang sangat menghebohkan seluruh warga Korea selatan kalau berita pertunangan ini di sebar luaskan keesokan hari, bukan? Putera dan puteri dari dua perusahaan terkenal bertunangan secara resmi dan sah, bukan sekedar perjodohan yang hanya bertujuan untuk menaikkan saham masing-masing pihak.

"Jongin, jadilah lelaki yang gentleman seperti Kris. Lamar kekasihmu nanti di depan ibu, ya?" Ucap Mrs. Kim sambil menepuk pundak puteranya.

Dan pikiran Kim Jongin langsung berotasi memikirkan cara unik untuk melamar kekasihnya. Junmyeon yang memang sudah tahu jalan pikiran adiknya langsung tersenyum kecil.

"Kyungsoo masih terlalu kecil. Belajar yang benar, lalu bekerja keras! Baru kau bisa melamarnya!" Ucap Junmyeon yang mengundang tawa hangat disana.

"Noona!"

.

.

Junmyeon dan Kris tengah berjalan pelan, menyusuri sepanjang jalan di pinggiran Han river dengan kedua tangan yang bertautan. Mereka hanya terdiam, menikmati semerbak harum Cherry blossom yang menguar di sepanjang jalan pada musim semi kali ini.

"Indah sekali..." Gumam Junmyeon pelan sambil menatap lurus kedepan. Kearah Han river yang mulai mengeluarkan atraksinya dengan memancarkan air ditambah gradasi cantik dari lampu-lampu berwarna neon. Han river pada malam hari tak kalah indah saat di siang hari.

Kris tersenyum kecil melihat Junmyeon yang tampak sangat cantik dan cemerlang. Kedua pipi yang putih dan pucuk hidungnya yang memerah karena cuaca yang memang agak dingin, juga angel eyes yang memantulkan cahaya dari lampu-lampu di Han river, membuat ia makin jatuh cinta.

"Kamu senang?" Tanya Kris, dan dibalas oleh anggukkan antusias dari gadisnya yang masih tetap memandang kearah Han river dengan kedua mata yang berbinar.

"Kamu suka?" Tanya lelaki itu lagi, membuat Junmyeon mengangguk kembali dan membalikkan tubuhnya kearah Kris.

Lelaki itu sedikit membungkukkan tubuhnya, mensejajarkannya dengan tubuh Junmyeon tadi. Dan saat gadisnya membalikkan tubuh, bibirnya –tak sengaja tapi niat mengecup bibir Junmyeon. Mengundang semburat merah jambu tampak dengan sangat jelas di kedua belah pipi mulus gadis itu, mengingat jarak mereka yang benar-benar sempit.

"A-apa yang kamu lakukan! Huh!" Kesal Junmyeon sambil berjalan cepat –setengah berlari menuju pinggiran Han river dan menutupi kedua pipinya dengan telapak tangan kecilnya.

Kris hanya terkekeh kecil melihat tingkah laku gadisnya, dan berjalan menghampiri Junmyeon yang sudah kembali takjub melihat pancaran-pancaran lampu dari Han river.

"Jun.." Ucap Kris, namun tak di hiraukan oleh gadis itu.

"Junmyeon.."

"Hmm.." Sahut gadis itu, masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Kris hanya menyipitkan matanya dan menatap gadisnya dari belakang, walau Junmyeon tak tahu.

Junmyeon yang sadar kalau Kris tak memanggilnya lagi, langsung membalikkan tubuhnya. Ia hanya mengerutkan dahinya saat melihat Kris yang tengah menatapinya dengan sangat intens. Seolah ingin mengupasnya.

"A-apa? Kenapa menatapku seperti itu!" Ujar Junmyeon gugup. Kris menyeringai dalam hati. Junmyeon yang gugup adalah salah satu favoritnya.

"Ada apa denganmu, hm?" Tanya lelaki itu sambil berjalan mendekati Junmyeon, dan gadis itu memundurkan tubuhnya hingga ia sadar kalau ia sudah terkurung dalam kungkungan Kris dan pagar pembatas di belakangnya.

"A-aku?"

"T-tidak! Memangnya aku bagaimana?" Jawab Junmyeon terputus-putus. Terdengar gugup dan grogi, membuat Kris hanya menyeringai licik.

Siapa yang tidak akan gugup saat wajah tampan milik seorang Kris wu berada kurang dari satu senti didepan wajahmu? Belum lagi kedua belah eagle eyesnya menghujam tepat dikedua bola mata bening milikmu?

Bisa bernafas juga seharusnya kau bersyukur.

"Kau terdengar sangat gugup, sayang." Balas Kris, dengan suaranya yang rendah dan sedikit memajukan wajahnya. Berniat meraih bibir peach milik Junmyeon. Dikatai gugup, Junmyeon langsung membuka kedua matanya yang tadi terpejam.

"Apanya yang gugup! Aku masih marah asal kau tahu!" Pekik Junmyeon marah sambil menginjak kaki kanan milik lelaki didepannya ini. Kris terpekik kencang, walau kakinya terbalut sepatu berkulit tebal, ujung tajam dan runcing dari sebuah High heels tujuh sentimeter cukup menyakitkan rupanya.

Junmyeon hanya melipat tangannya di dada, lalu membuang pandangannya. Kemanapun, asal tidak pada kedua mata milik Kris.

Kris meringis kesakitan. Walaupun ia tahu kalau ini belum seberapa dibandingkan perasaan gadisnya yang terluka melihat Jessica yang memeluknya tempo hari.

"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Kris sambil melepas kungkungannya dari Junmyeon. Gadis itu masih belum mau menatapnya.

"Semua yang kamu lihat itu hanya salah paham. Pada awalnya, aku heran kenapa kamu marah begitu saja saat melihatku hanya makan bersama dengan gadis itu." Kris mulai bercerita.

"Tapi aku sadar kamu pasti melihat hal lain selain pemikiranku. Iya kan?" Tanya lelaki itu, membuat Junmyeon langsung menatap kearahnya sambil mempoutkan bibirnya lucu.

"Gadis itu, Jessica Jung. Teman lamaku di Amerika waktu SMP dulu. Dan sepertinya, gaya hidup Amerika masih melekat dalam dirinya, jadi ia memelukku begitu saja saat kami bertemu di tempo hari." Kris mencoba menjelaskan dan Junmyeon terdiam mendengarkan.

"Pada awalnya, aku juga terkejut. Tapi, aku sadar kalau memeluk lawan jenis tiap bertemu dalam gaya hidup Amerika itu hal yang wajar dan sama halnya dengan memberi salam." Sambung Kris, sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

"Dengarkan aku, Jun. Aku sangat mencintaimu dan aku tahu kaupun begitu. Kamu itu termasuk sosok yang paling berpengaruh dalam hidupku.." Kris mengelus pipi gadisnya yang tampak merona menggunakan telunjuknya.

"Kamu itu ibarat udara yang biasa aku hirup. Tanpa kehadiranmu, aku merasakan sesak disini Jun. Di dadaku." Lelaki itu membawa tangan kanan milik gadisnya, lalu menempatkannya di dada sebelah kiri miliknya. Junmyeon menatap kekasihnya dan bisa merasakan debaran jantung milik Kris yang berdetak cepat.

"Jantung ini, selalu berpacu dengan irama yang seperti ini tiap kali kau berada di dekatku. Bekerja empat kali lebih cepat dari biasanya, seolah jantungku telah menemukan pusat koordinasinya sendiri saat bersamamu."

"Aku sangat menyayangimu, Jun. Dan kalau nanti ada perempuan lain yang kupanggil sayang selain dirimu dan Ibuku, itu pasti anak perempuan kita." Ucap Kris lembut, sambil mengecup punggung tangan milik Junmyeon. Membuat gadis itu makin merona dibuatnya.

"Jangan pernah meragukanku lagi, dan percayalah padaku. Karena aku pasti akan menjaga kepercayaanmu." Sambung lelaki itu, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya. Junmyeon menutup kedua angel eyes miliknya saat ia merasakan aroma mint dan greentea dari nafas Kris menerpa wajahnya.

Tak lama, tautan itupun terjadi. Kris mengulum kedua belah bibir peach milik kekasihnya dengan lembut secara bergantian, membuat Junmyeon makin terbuai. Kris meraih pinggang kecil milik gadisnya, menariknya agar semakin mendekat dan merapat pada tubuhnya.

Junmyeon melingkarkan kedua lengannya di leher kekasihnya, dan menautkan jemarinya disana. Meresapi semerbak cinta yang ditebarkan Kris padanya, menikmati tiap sentuhan lembut yang selalu diberikan lelaki itu padanya.

.

.

Kris mengeratkan pelukannya pada pinggang kecil milik Junmyeon yang tengah ia peluk dari belakang. Ia meletakkan dagunya pada puncak kepala Junmyeon sambil sesekali mengecupnya lembut.

Junmyeon itu selain kecil dan putih, ia juga lembut dan harum. Aroma Wild cherry dan Rose butter selalu menguar lembut dari tubuh gadisnya itu. Membuatnya selalu merasa nyaman disamping gadis ini.

"Kris?" Tanya Junmyeon yang masih sibuk memandang kearah Han river yang masih terus melakukan atraksinya walau hampir tengah malam.

"Hmm.." Gumam lelaki itu, masih memejamkan kedua matanya.

"Kenapa kamu tiba-tiba melamarku tadi?"

"Kenapa? Kamu tidak senang?" Lelaki itu balas bertanya, sambil membalikkan tubuh Junmyeon hingga menghadap kearahnya.

"Tidak, bukan begitu. Aku senang. Sangat senang malah. Tapi... Kenapa tiba-tiba?" Balas Junmyeon, sambil memberanikan diri untuk menatap kekasihnya.

Kris menarik kedua sudut bibirnya keatas, lalu kembali membalikkan tubuh gadisnya menghadap Han river dan kebali memeluk Junmyeon dari belakang.

"Sebenarnya ini ide dari adikmu, sayang."

"Jongin?" Ucap Junmyeon tak percaya. Kris hanya mengangguk sebagai jawaban, walaupun Junmyeon tidak melihatnya.

"Tadinya kami merencanakan pesta kejutan ulang tahunmu, tapi batal karena makan malam tadi. Siapa sangka semua yang diperkirakan gagal malah berlangsung mulus."

"Ck. Anak itu..." desis Junmyeon pelan, mengundang kekehan kecil terlontar dari bibir kekasihnya.

"Kenapa kamu tertawa?!" Ujar Junmyeon kesal.

"Seharusnya kamu bersyukur memiliki adik seperti Jongin. Dia itu selain baik dan pengertian, Jongin juga bisa menaklukan noona-nya yang sedang cemburu." Ujar Kris sebagai jawaban atas pertanyaan Junmyeon tadi. Gadis itu merasa tak terima dikatai cemburu.

"Apanya yang cemburu! Aku tidak cemburu!" Ujar Junmyeon setengah berteriak.

"Tapi kamu marah padaku, kan?" Balas Kris dengan nada menggoda.

"Tidak! Aku marah tadi, bukan cemburu!" Junmyeon keras kepala, sambil mencoba melepas pelukan Kris padanya. Namun nihil, tak berhasil. Pelukan itu malah semakin mengerat.

"Lalu... Apa maksud Jongin yaaaa tadi sore menelponku untuk melakukan sesuatu terhadap noona-nya yang curhat padanya sambil menangis dan makan dua mangkuk ramyun porsi besar ekstra pedas?"

Skak mat!

Junmyeon langsung terdiam dan menggeram pelan lalu menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Kris hanya terkekeh kecil karena berhasil menangkap basah Junmyeon.

"Kamu terlihat cantik dengan dip dye ini. Aku suka." Ujar lelaki itu tiba-tiba, membuat Junmyeon melupakan segala ke-kesalan hatinya yang tertangkap basah oleh Kris barusan.

"Benarkah? Bukankah ini model tahun lalu?" Tanya gadis itu, yang disambut gedikkan bahu dari Kris wu.

"Aku tidak perduli ini model tahun lalu, tahun depan, atau dari zaman Paleolithikum sekalipun. Apapun yang kamu pakai, pasti selalu cocok denganmu," Balas Kris sambil 'mencuri' ciuman dari sudut bibir Junmyeon yang tengah menolehkan kepalanya kebelakang. Junmyeon hanya men-death glare dirinya.

"Jangan berbohong!" Ujar Junmyeon kesal, pura-pura ngambek.

"Tidak. Aku tidak berbohong. Habisnya kamu terlalu cantik sih, jadi apapun yang kamu pakai pasti terlihat cocok untukmu.." Jawab Kris terdengar jujur, membuat Junmyeon blushing sendiri.

"Ah.. Atau kamu lebih cantik jika tak mengenakan apapun? Hmm... siapa yang tahu," gumam Kris, yang membuat Junmyeon merona sampai ke telinga.

"Aw! Sakit tahu!" Kris terpekik saat Junmyeon mencubit pinggangnya dengan sangat keras.

"Dasar mesum!" Junmyeon berjalan cepat meninggalkan Kris yang tengah mengusap pinggangnya sambil meringis kesakitan.

Gadis itu terus menggerutu mengatai Kris macam-macam, dan semua itu dapat ditangkap dengan baik oleh lelaki Kanada ini. Han River sangat sepi sekarang dan hanya ada mereka disana.

"Kau katai aku mesum-pun, aku tetap paling tampan di muka bumi, kan?" Kris menggoda gadisnya yang terus berjalan tanpa menengok sedikitpun kearahnya.

"Yah! Jun! Pelankan jalanmu!"

"Ya! Yaaaa!"

.

.

The end!

Hai semuanya! Aku kembaliiiiiiiii, adakah yang masih ngarep sequel dari You make me complete? *nggak adaaaaaaaa *ngambek ke pelukan Wuyifan! Hahahah bercanda.

Pertama-tama aku mau minta maaf baru update sekarang. Ide aku belakangan ini mentok deh, gak bohong. Udah gitu, baru isi kuota hehehe. Ini aku kabulin permintaan readers yang minta sequel lagi^^ dan soal marriage life mereka, aku usahain deh yaaa~ tapi kalo NC, aku gak janji :3

Maaf kalo part ini masih ada yang bikin kecewa~ aku bener-bener nulis menurut jalan fikiran aku dan kalo ada yang mau kasih masukan –apalagi buat marriage life mereka bisa kirim PM atau simplenya tulis aja di kotak review! Kritik dan saran diterima! Tapi no bash apalagi flame ya, jangan ke castnya juga. Mereka gak salah apa-apa!

Aku tunggu reviewnya! Akhir kata, thanks for every single of beloved 100's couple shipper!

Ppyong!