kmldr100 's present
krisho/fanmyun/leadercouple- The beginning (Sequel of youmakemecomplete)
warn exofic/krisho-fanmyun/genderswitch uke/typo's!
©All cast belong to themself, and this fic purely belong to me
for beloved 100's couples shipper!
1shot!
.
.
"Kim Junmyeon! Lihat nilaimu ini! Bagaimana bisa nilai ulanganmu menurun drastis seperti ini!" Pekik seorang wanita berkacamata pada seorang gadis di depannya. Gadis yang diteriaki hanya dapat menundukkan kepalanya dalam, merasa bersalah.
"Jeosonghamnida saem. Aku sangat menyesal." Ucap gadis dengan name tag Kim Junmyeon itu, sambil memilin ujung rok rampel miliknya.
Wanita itu membetulkan letak kacamatanya, lalu mengatur nafas. Ia mencoba untuk mengontrol emosinya. Junmyeon mungkin sedang tidak fit saat ulangan kemarin, jadi gadis Kim yang biasa mendapat poin A+ di setiap mata pelajaran –apalagi mata pelajaran yang ia ajarkan, Fisika saat ulangan harian kemarin tiba-tiba anjlok menjadi -C.
Kau bayangkan, -C!
Karena, jika poin dari –C dikonversikan ke kurikulum baru, poin yang didapatkan gadis ini hanya kisaran 0,3. Dan well, she got it today as the result for her physics exam. Dan tampaknya ia sangat menyesal, terlihat dari air mukanya yang tampak sangat muram.
"Aku pikir kau sangat mengerti tentang materi ini. Saat practice di kelaspun, kau sangat aktif. Apa semua soal ini menyulitkanmu?" Tanya wanita itu lagi. Karena sejujurnya, ia sangat kecewa dengan hasil yang didapatkan oleh anak didiknya ini.
"Aku akan minta bantuan pada salah satu murid kelas 12-1 untuk mengajarimu. Ulangan kemarin ia berhasil mendapat nilai sempurna." Ucapnya, sambil membolak-balik kertas-kertas ulangan di tangannya.
"Ini dia. Kris wu, dari 12-1. Ia mendapat poin 4 sempurna, A+." Ucap wanita itu, sambil mengangkat kertas putih ke hadapan wajah Junmyeon. Membuat gadis itu mengangkat wajahnya seketika.
"A-apa? Belajar dengannya? T-tapi.."
"Aku harap kau mendengarkan ucapanku, Kim Junmyeon. Agar saat perbaikan minggu depan, kau bisa mendapat hasil maksimal."
"Kau bisa kembali ke kelasmu." Ucap wanita itu final. Membuat gadis itu menelan salivanya yang tiba-tiba terasa pahit.
"B-baiklah. Aku permisi, saem."
.
.
Gadis itu berjalan di koridor dengan sangat lesu. Ia menyeret kakinya dan berjalan gontai menuju kelas. Sejujurnya, ia memang tidak terlalu aneh dengan hasil dari ulangan Fisika yang ia dapatkan, dan ia bisa menebaknya. Dan ia juga tidak menyangkal kalau Kwon songsaenim pasti akan semurka itu melihat hasil yang ia dapatkan.
"Jun, bagaimana? Apa yang dikatakan Kwon songsaenim? Apa dia memarahimu?" Tanya teman semejanya, Minseok saat ia tiba di kelasnya. Seisi kelaspun memandang kearah meja gadis itu dengan pandangan horor.
"Nilaiku jelek. Aku dimarahi olehnya." Ujar gadis Kim itu, dengan poker facenya. Membuat Minseok hanya tercengang dibuatnya.
Maksudku, Junmyeon itu salah satu murid paling cerdas dan ia mencintai kesempurnaan. Apalagi untuk masalah nilai.
Dan sekarang? Dengan entengnya bocah itu bilang kalau nilainya jelek dan dimarahi oleh guru yang sudah menganggap Junmyeon itu anak emasnya.
Minseok langsung memegang jendela.
"Apa yang kamu lakukan?" Junmyeon bingung melihat teman sebangkunya yang memegangi jendela sambil menggumam tak jelas.
"Oh? Aku fikir ada gempa bumi yang membuat otakmu tergeser begitu."
Plak
Junmyeon menepuk jidatnya lalu mengerang keras.
"Huweeeeeeeee.."
Minseok benar-benar tidak bisa di andalkan.
.
.
Junmyeon sibuk dengan selembar kertas di tangannya, mulutnya berkomat-kamit. Membuat Minseok menatap horor ke arah teman sebangkunya.
Menyadari pandangan aneh dari Minseok untuknya, Junmyeon langsung menghentikan kegiatannya.
"Kenapa memandangku seperti itu?"
Minseok hanya mengedipkan kedua matanya.
"Kamu sudah gila?" Ujar Minseok sambil menunjuk Junmyeon dan kertas yang dipegangnya barusan.
Dan bodohnya, Junmyeon mengikuti arah tunjukkan Minseok. Lalu menggeram kesal menyadari sesuatu.
"Kamu yang gila! Aku sedang menghafal!" Pekik Junmyeon kesal, membuat Minseok langsung mengkerut.
"L-lalu? Kenapa mulutmu berkomat-kamit begitu?" Ujar Minseok takut. Junmyeon memegangi pelipisnya, seolah pelipisnya itu akan lepas dari tempatnya.
"Min, aku sedang menghafal fisika. Lihat! Ini kumpulan rumus untuk bab getaran dan gerak harmonis!" Ucap Junmyeon mencoba sabar, sambil menunjukkan kertas yang dimaksudnya.
Minseok hanya mengerutkan dahinya heran.
"Hari ini tidak ada pelajaran Kimia, Jun!" Ujar Minseok, membuat Junmyeon naik darah.
'SIAPA YANG BILANG INI KERTAS KIMIA, KIM MINSEOK!' Junmyeon geram dalam hati
"Ya memang hari ini tidak ada jam Kimia, Min. Aku bilang kalau aku menghafal Fisika, bukan Kimia!" Junmyeon kembali terpekik, membuat beberapa orang dikelas mereka memandang aneh kearah mereka.
"Tapi yang kamu pegang itu tabel periodik unsur & golongan, bukan kumpulan rumus Fisika!" Minseok membela diri.
"Ya! Sudah kubilang!-" Junmyeon berteriak, lalu memandang kearah kertas yang dipegangnya.
"Eh? Ehehehe.." Gantian Junmyeon yang mengkerut. Kertas itu benar tabel Kimia, bukan kumpulan rumus Fisika.
Sepertinya Junmyeon butuh istirahat dan 'sedikit obat' setelah ini.
Gadis Kim itu langsung menurunkan tubuhnya dan bersembunyi di bawah meja. Menekuk kedua kakinya, dan menenggelamkan wajahnya disana. Malu.
"Sudah kubilang kan? Berarti benar kamu gila!" Minseok nyengir bangga.
.
.
Junmyeon beberapa kali menggelengkan wajahnya, lalu mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar. Terus begitu hingga beberapa kali, membuat kuncir rambutnya nyaris saja lepas kalau tidak ada Minseok yang menghentikan kegiatan absurdnya itu.
"Sudahlah, Jun. Kamu jangan fikirkan hasil ulangan Fisika terus.." Ujar Minseok sok tahu –sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lihat, kuncir rambutmu hampir lepas akibat tingkah idiotmu itu! Lagipula baru kali ini kamu harus mengulang kan?" Sambung gadis berpipi chubby itu, sambil menunjuk kearah kuncir rambut Junmyeon menggunakan dagunya.
Junmyeon sendiri hanya terdiam sambil mendengar ocehan Minseok itu. Tapi, saat dikatai idiot seenaknya oleh Minseok ia tidak tinggal diam tentu saja.
"Siapa yang idiot sampai ujian Kimia 2 semester selalu di remedial, hah?!" Kesal Junmyeon setengah berteriak, membuat Minseok langsung menyumpal mulut temannya ini.
Junmyeon itu, kalau sudah marah tidak akan kenal siklus dan suasana. Dia pasti akan membeberkan semua fakta menyebalkan –yang sialnya selalu nyata seenaknya. Dia memang baik dan sangat lembut, tapi jangan pernah berani membuat gadis pertama keluarga Kim ini naik darah.
Kalau sampai iya, kau harus siap-siap semua aib memalukan milikmu terbongkar begitu saja.
Minseok langsung mengusap wajahnya kasar, lalu sibuk membungkuk ke segala arah. Mereka di kantin sekarang, dan Junmyeon berteriak seperti itu tanpa berfikir?
"Mereka semua memandang kearah kita, Jun. Keep calm.." Minseok setengah berbisik, membuat Junmyeon meniup sedikit poni yang menutupi dahinya.
Minseok sebenarnya tak tega melihat temannya ini murung begitu, biasanya Junmyeon akan tampak sangat cerah dan bersemangat.
"Apa yang terjadi padamu? Apa hanya karena ulangan Fisika?" Ucap Minseok sambil sedikit menggoncangkan bahu temannya yang tampak melamun ini.
Junmyeon hanya menggeleng, lalu meraih Strawberry milkshake miliknya dan menyedot minuman itu sedikit.
"Lalu? Apa kau tak belajar semalam?" Minseok kembali bertanya, dan hanya menghasilkan sebuah gelengan mulus dari temannya ini.
"Aku belajar keras semalam.." Ucap Junmyeon pelan, sambil memasang wajah memelasnya.
Minseok masih menanti jawaban dari temannya ini dengan sabar.
"Sebenarnya..."
Flashback on
Junmyeon menuangkan sedikit body lotion beraroma grapefruit pada telapak tangannya dan mengusapkannya perlahan mulai dari pundak hingga pangkal lengan, dan lengan atasnya. Lalu menuangkannya lagi, dan mengusapkannya pada kedua kakinya.
Ia memakai kemeja putihnya, lalu dasi pita miliknya, menaikkan roknya dan memakai blazer berwarna hitam miliknya. Gadis itu membuka kembali tas miliknya, lalu mengulang kembali beberapa materi Fisika yang akan keluar pada ujian harian hari ini.
Setengah jam berlalu, Junmyeon melirik jam tangan berwarna atomic turquoise miliknya. Masih pukul 6.15 am, namun gadis itu langsung memasukkan buku-bukunya kedalam tas dan segera menuruni anak tangga, menuju ruang makan.
"Selamat pagi, ma!" Ucap Junmyeon sambil menghampiri ibunya yang menata piring di meja makan. Wanita itu menghentikan kegiatannya sejenak, untuk membalas sapaan puterinya barusan.
"Selamat pagi sayang! Panggil adikmu turun!"
Junmyeon langsung memasang pose pura-pura kesal.
"Ck. Bocah itu, kapan mandirinya sih?!"
"Siapa yang belum mandiri, hah?!" Sahut seseorang sambil menuruni anak tangga. Ah, itu putera termuda keluarga Kim yang baru saja dibicarakan.
"Oh Jongin! Kamu sudah bangun ternyata!" Ucap nyonya Kim, sambil mengecup kedua pipi anak bungsunya bergantian.
"Kamu sangat tampan ternyata." Nyonya Kim memuji puteranya. Oh ayolah, sejak kapan Kim Jongin berubah menjadi buruk rupa? Kulit tan, tinggi badan melebihi 178 sentimeter, wajah tampan, rambut berwarna cokelat gelap, ketua klub dance... Tanpa kau tebak pun, dia memang pujaan wanita, maskot ketampanan untuk sekolahnya.
"Aku memang tampan, ma!" Ujar Jongin sombong, mengundang cibiran kecil dari bibir kakak perempuannya.
"Andai semua penggemarmu disekolah tahu, bagaimana tingkah idolanya ini saat di rumah.." Cibir Junmyeon, sambil menerawang segala kebiasaan bodoh, absurd dan abstrak adiknya ini.
Menangis keras saat celana dalam kesukaannya hilang, padahal benda itu masih di keranjang cucian, belum di cuci. Membangunkan Junmyeon tengah malam hanya untuk segelas susu, dan membuat para maid di keluarga Kim heboh karena tuan muda mereka yang ngambek, sebab tali sneakers dancenya hilang sebelah, padahal ia sendiri yang melepas benda itu untuk dibuat sebagai pengikat gorden kamarnya.
Dan masih banyak kebodohan lain yang dibuat lelaki ini. Membayangkannya saja sudah membuat Junmyeon sakit perut.
"Ya noona! Berhenti mengingat semuanya!" Kesal Jongin akan tingkah laku kakaknya. Junmyeon hanya menggedikkan kedua bahunya acuh.
"Aku masih ingat ekspresi heboh ketua maid Im saat kau bilang tali sneakers dancemu hilang, dan bagaimana ekspresi poker miliknya saat kau bilang kalau talinya kau gunakan untuk mengikat gorden. Aduh.. Perutku sakit, hahaha!" Junmyeon tertawa puas.
"Noona! Yaaa!" Pekik Jongin kesal. Hal itu sangat memalukan, sungguh hal yang paling bodoh yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Junmyeon terus tertawa keras sambil memegangi dagunya.
"Sudah puas tertawa, hah?! Dasar kalian ini! Kalian sudah dewasa, seharusnya-"
"Kim Junmyeon! Kenapa kamu memegang dagumu saat tertawa?" Nyonya Kim menyela tertawa puteri sulungnya. Membuat Junmyeon berhenti tertawa, dan menyambungnya lagi.
"Oh ini? Aku hanya takut dagu-ku lepas saat aku tertawa, ma! Ahahaha!" Jawab Junmyeon sambil tertawa, tak sadar kalau sebenarnya ia ikut mentertawakan dirinya sendiri.
Jongin dan ibunya saling memandang heran, lalu terbahak keras mendengar jawaban gadis itu.
"Hahahahaha!"
Dan sarapan pagi itu berakhir konyol di kediaman keluarga Kim.
.
.
"Aku heran kenapa mama tak pernah membolehkanku membawa mobil ke sekolah, tapi kamu yang diizinkan!" Kesal Junmyeon, sambil memandang kearah jalanan saat kendaraan yang di bawa Jongin membelah jalanan Seoul yang masih tampak lenggang.
Jongin hanya terkekeh pelan melihat tingkah laku noona-nya yang tak ada bedanya dengan anak kecil saat merajuk begini.
"Mungkin karena aku lebih dewasa darimu, Noona." Jongin membalas pernyataan kakak perempuannya. Junmyeon langsung memandang adiknya tajam.
"Apa-apaan! Kamu bahkan masih menengah pertama, walaupun sudah di tingkat akhir!" Junmyeon masih tak terima.
"Hmm.. Mungkin noona itu ceroboh dan berisik!" Ceplos Jongin asal, membuat Junmyeon melongo tak percaya. Apa-apaan Jongin itu!
"Sebenarnya siapa yang ceroboh sampai menangis karena celana dalamnya hilang? Padahal benda itu masih ada di tempat cucian kotor!" Pekik Junmyeon kesal, membuat lelaki itu sweatdrop. Masalahnya, traffic light sedang merah sekarang. Banyak pengendara –bahkan pejalan kaki yang memandang aneh kearah mobil mereka.
Matilah jika salah satu dari pejalan kaki atau pengendara mobil disana teman sekolahnya. Reputasinya sebagai primadona sekolah bisa-bisa lengser pada sepupunya, Kim Jongdae. Si wajah kaleng biskuit dari kelas fotografi!
"Noona! Yaaa! Pelankan suaramu, mereka memandang kearah kita!" Ujar Jongin kesal.
Dalam hati ia sedikit bersyukur kalau ia tidak membuka atap mobil pagi ini.
.
.
Junmyeon menendang kaleng cola di depannya dengan kencang. Jongin menurunkannya jauh dari sekolahnya, dengan alasan kalau ia mau mencari jalan potong menuju sekolahnya. Padahal jelas-jelas Junmyeon lihat adik hitamnya itu berhenti tepat di depan halte subway, dan tak lama seorang gadis manis bermata bundar masuk kedalam mobil adiknya.
'Dasar adik durhaka!'
Dan Junmyeon tak habis-habisnya mengumpat adiknya dalam hati.
Untungnya tadi ia berangkat masih sangat pagi, jadi kemungkinan terlambat sangat tidak mungkin. Walaupun ia sedikit mengeluh lelah harus berjalan kaki begini.
'Awas kau bocah hitam!'
Lagi-lagi umpatan itu di alamatkan untuk Kim Jongin –walaupun dalam hati.
Tiiiiin
Junmyeon terperanjat kaget, saat bunyi klakson tiba-tiba merambat masuk kedalam indera pendengarannya. Baru saja ia akan meneriaki pemilik mobil itu, tapi tiba-tiba sang pemilik mobil terlanjur keluar dari Lamborghini berwarna metallic silver yang baru saja membunyikan klaksonnya itu.
Oh rasanya Junmyeon akan lumpuh di tempat!
Itu Kris Wu! Primadona sekolahnya! Anak kelas 12-1! Kapten tim basket yang sudah menjadi MVP lebih dari 6 kali! Peraih nilai TOEFL terbaik se-negeri ini! Dan lelaki ini berdiri di depannya sekarang!
Bersyukurlah kau tidak jadi meneriakinya, Kim Junmyeon!
"Ehm. Junmyeon? Kim Junmyeon?" Ujar lelaki itu, sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah gadis ini.
Dan tepukan pelan di pundaknya membuat gadis Kim itu sadar dari 'dunianya'.
"Eh? Oh? Ya! A-ada apa?" Sahut gadis itu terbata-bata, mengundang kekehan kecil dari lelaki di depannya.
'Kris wu sangat tinggi ya.. Memang benar kata MinAh'
Junmyeon bergumam dalam hati, sambil memandang lelaki di depannya ini dengan sedikit mendongakkan kepalanya.
Deg!
Dan ia bisa dapat merasakan kalau rona merah muda menjalar kuat hingga ke telinganya, saat kedua mata tajam milik lelaki di depannya ini menatap langsung ke arah kedua matanya.
Dan jantungnya berdebar tak karuan sekarang.
Kris sendiri hanya mengulum senyumannya saat melihat gadis di depannya ini merona begini.
"Kamu mau ikut bersamaku? Jarak ke sekolah masih jauh," Ujar lelaki ini, dengan deep voice miliknya.
Oh, dan Junmyeon dapat merasakan kalau benda yang terletak di rongga dada sebelah kiri miliknya berdebar sangat kencang.
"A-apa? M-maksudku benarkah? M-maksudku.. Umm.. Apa tidak merepotkanmu?" Junmyeon terbata. Dan gadis itu langsung merutuki kebodohannya itu dalam hati.
"Tidak! Tentu saja tidak! Justru aku akan sangat tersanjung kalau gadis secantik dirimu mau ikut kedalam mobilku." Ucap lelaki dengan surai berwarna Raven blue itu sambil tersenyum.
Membuat Junmyeon seperti akan mimisan saja.
'Demi tuhan seorang primadona sekolah menawariku tumpangan dan memuji diriku cantik!'
"Bagaimana?" Kris memastikan, membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan memandang lelaki di depannya langsung kedalam kedua mata itu.
"B-baiklah."
Dan dengan satu kata itu, berhasil mengundang sebuah senyuman menawan tampak dari wajah tampan seorang Kris wu.
Ingatkan Junmyeon untuk mentraktir Jongin pulang sekolah nanti. Kalau bukan karena bocah hitam itu menurunkannya di tengah jalan, ia tidak akan naik mobil sport ini sekarang.
Flashback end
Uhuk!
Minseok hampir tersedak Banana float miliknya kalau saja Junmyeon tidak menepuk-nepuk punggungnya.
"Kamu bercanda? Maksudku.. Dia Kris wu, Jun!" Ujar Minseok heboh.
"Kalau aku bercanda, tak mungkin aku sampai remedial Fisika!" Seru Junmyeon kesal. Minseok hanya nyengir tanpa dosa.
Junmyeon meraih Strawberry milkshakenya, lalu meneguk cairan berwarna merah muda itu sedikit.
"Baru ditawari tumpangan saja kau sudah remedial Fisika.. Apalagi kalau kau 'ditembak' olehnya.." Ucap Minseok, sambil membentuk tanda kutip dengan kedua jarinya.
"Mungkin kamu tidak akan lulus ujian kelulusan!" Celetuk gadis chubby ini, membuat Junmyeon tersedak minumannya sendiri.
Minseok langsung nyengir tanpa dosa melihat temannya heboh batuk-batuk.
"Kamu ini menyumpahiku, ya!" Kesal Junmyeon sambil menepuk pundak temannya, mengundang tawa renyah keluar dari mulut Minseok.
"Habisnya kamu berlebihan! Dia baru mengajakmu naik mobilnya sekali ini, bagaimana kalau ia mengantar jemputmu tiap hari!"
"Habisnya... Ini pertama untukku! Jadi aku tak bisa berfikir benar saat ujian tadi.." cicit Junmyeon pelan.
Lalu dua gadis cantik itu melanjutkan jam istirahat mereka dengan penuh canda –walau terkadang diselingi oleh keributan kecil.
.
.
Junmyeon turun di halte subway kedua, 2 halte sebelum mencapai rumahnya. Gadis ini memang sengaja, karena ingin membelikan adiknya ddaebokki yang paling terkenal di Apgujeong.
Hitung-hitung ucapan terimakasih karena adiknya itu, ia bisa satu mobil dengan Kris wu.
Setelah membayar dan mengucap terimakasih, gadis cantik ini melangkah keluar dari kedai penjual kue beras pedas ini dengan dua bungkus besar ddaebokki di tangannya.
Junmyeon mengambil ponselnya, lalu mencari kontak adiknya.
"Yeoboseyo? Noona?" Terdengar suara Jongin dari Line seberang.
"Hmm. Ini aku. Kamu dimana?"
"Aku di lapangan depan taman, di route 76. Wae?" Jongin membalas.
"Jangan dulu pulang, aku kesana."
Pik
Dan panggilan diputus sepihak oleh Junmyeon.
.
.
"Jongin!" Pekik Junmyeon, pada adiknya yang tampak tengah mengusap peluhnya menggunakan handuk yang melingkar pada lehernya.
"Oh noona!" Jongin balas berteriak, sambil memberi isyarat pada kakaknya untuk mendekat. Junmyeon tersenyum tipis, dan segera menghampiri Jongin yang tengah duduk di bangku penonton.
Bocah itu baru saja selesai berlatih basket rupanya.
"Noona sudah sampai?" Ucap Jongin, begitu kakaknya duduk tepat di sampingnya. Junmyeon hanya menggumam pelan sebagai jawaban, lalu ia membuka plastik berisi ddaebokki yang dibawanya.
"Apa ini?" Jongin membuka plastik pembungkusnya, dan langsung terpekik senang.
"Woaaaah.. Ddaebokki!"
Dan tanpa berfikir dua kali, Jongin langsung melahap makanan berwarna merah itu.
"Noonaaa, gomawo~" Ucap Jongin merajuk. Junmyeon hanya mengangguk, sambil membuka bungkusan satu lagi miliknya.
"Tapi... Tumben sekali. Aku fikir noona akan memukuliku karena aku meninggalkanmu tadi pagi. Ahahaha!" Ujar Jongin sambil menyenggol lengan kakaknya.
"Kenapa memang? Kamu mau aku pukuli disini, hah?!" Ucap Junmyeon galak. Membuat Jongin langsung sweatdrop seketika.
"T-tidak. Aku bercanda noona. Bercanda.. hehehe," Sanggah Jongin, sambil memegangi kedua lengan kakak perempuannya ini.
"Noona, noona itu cantik dan pintar. Janganlah galak, dan... Sering-seringlah mentraktir adikmu yang tampan ini. Ahahaha!" Cerocos lelaki ini lagi sambil mencubiti kedua pipi noona-nya gemas.
"Yaaa! Yaaa!" Kesal Junmyeon sambil mencoba melepas tangan adiknya.
Tapi kelakuan Jongin makin menjadi. Ia menarik kedua pipi kakak perempuannya ke kanan dan kiri sambil tertawa keras. Mengundang jeritan dari Junmyeon.
"Jongin-ah, ayo berlatih lagi!" Teriak seseorang dari ujung lapangan, membuat Jongin langsung menghentikan kegiatan menyiksa noona-nya.
Junmyeon langsung menepuk bahu adiknya keras, melampiaskan kekesalannya barusan sambil mengumpat kecil.
Walaupun diam-diam ia bersyukur juga Jongin disuruh berlatih lagi.
"Ya! Noona! Sakit tahu!" Pekik Jongin lebay –tangan Junmyeon itu sangat kecil, mana mungkin tepukannya sesakit itu.
Dan Junmyeon hanya mencibir.
"O? Kim Junmyeon?"
Merasa namanya dipanggil dan merasa mengenal suara itu, Junmyeon langsung membalikkan tubuhnya.
"E-eh? Kris?"
Dan lelaki itu langsung tersenyum cerah melihat gadis cantik yang diam-diam disukainya ada disini. Namun, senyum itu langsung menghilang seketika saat melihat Junmyeon duduk bersebelahan dengan Jongin.
"Kris hyung! Kau mau ddaebokki ini?" Ujar Jongin ceria, sambil menyodorkan makanan itu pada Kris. Namun lelaki itu hanya menggeleng.
"Tidak. Ayo berlatih." Ucap lelaki itu ketus dan berlalu begitu saja, mengundang kerutan aneh di dahi Jongin.
"Kenapa dia itu?" gumam lelaki tan itu pelan.
Dan Junmyeon juga merasakan keanehan yang dirasakan adiknya.
"Sudahlah. Pergi latihan sana!"
.
.
"Kelas hari ini berakhir. Kim Junmyeon, jangan lupa belajar dengan anak 12-1 itu!" Ucap Kwon songsaenim.
Kim Junmyeon hanya dapat mengangguk patuh.
"Arraseo,"
Dan Kim Minseok memandang teman sebangkunya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Selamat sore." Ucap guru berkacamata tebal ini, mengakhiri seluruh kegiatan penat di ruangan itu.
Junmyeon langsung memasukkan seluruh buku dan kawanannya kedalam tas, bergegas menuju anak kelas 12-1 yang dimaksud gurunya barusan.
"Yah! Anak kelas 12-1 yang mana? Kamu tidak cerita padaku?!" Seru Minseok kesal, Junmyeon hanya tak acuh.
"Memangnya aku belum cerita?" Junmyeon merapikan alat tulisnya. Minseok hanya menggeleng.
"Kris." Ucap Junmyeon kecil, membuat Minseok langsung heboh.
"Apa? Kamu bercanda?!"
"Kamu berkata seolah dia itu hal yang ringan! Kemana dirimu yang kemarin sampai remedial Fisika hanya karena ditawari tumpangan olehnya?!" Cerocos Minseok tak berhenti.
Junmyeon menghentikan kegiatannya sejenak.
"Kemarin aku berfikir kalau dia itu terlalu sempurna buatku.. Dan.."
"Mana mungkin ia memperhatikanku.." Suara Junmyeon terdengar putus asa.
Minseok mengigiti ujung telunjuknya. Bagaimana anak ini bisa berubah drastis begini?
"Yah! Bagaima-"
Baru saja Minseok akan berbicara, Junmyeon sudah melenggang begitu saja.
"Kamu mau kemana! Aku belum selesai bicara!" Gertak gadis dengan rambut berwarna pillarbox red itu frustasi.
"Aku sudah terlambat. Hati-hati naik subway Min!"
Dan Minseok hanya mendengus melihat punggung kecil milik Junmyeon hilang dibalik pintu kelas mereka.
"Dasar bodoh."
.
.
Junmyeon melangkahkan kedua kakinya menuju kelas 12-1 yang tampak sangat sepi. Ia sedikit menjinjitkan kakinya, mengintip dari jendela –yang sialnya terletak diatas kepala Junmyeon. Membuatnya harus susah-susah berjinjit seperti maling.
'Sudah sepi..'
Ia bermonolog dalam hati.
Krieeet
Pintu besar itu terbuka, tampak sesosok lelaki bertubuh tinggi tegap keluar dari sana. Junmyeon langsung menghampiri sosok itu.
"Eo? Junmyeon? Belum pulang?" Tanya sosok itu, sambil menghampiri Junmyeon. Gadis itu hanya tersenyum kecut, bukan dia yang dirinya tengah cari sekarang.
Junmyeon hanya menggeleng sebagai balasan.
"Mino-a, kamu lihat Kris?"
Dan lelaki yang dipanggil Mino tadi langsung mengkerutkan dahinya.
"Dia tidak ada di dalam. Mungkin dia sudah pulang, karena hari ini tak ada jam latihan untuk klub basket."Jawab lelaki yang –ehem tampan itu, membuat Junmyeon hanya membentuk O di mulutnya.
"Kamu ada perlu dengannya? Apa kalian berkencan?" Cegah Mino, sambil meraih pergelangan tangan Junmyeon yang tampak akan segera pergi dari sini.
"Jangan konyol, Mino! Aku disuruh Kwon songsaenim untuk belajar Fisika padanya saja." Jelas gadis cantik ini, membuat lelaki keluarga Song ini langsung mengangguk mengerti.
"Mau pulang denganku?" Tawar lelaki itu, membuat Junmyeon terdiam untuk beberapa saat. Walaupun pada akhirnya ia menggeleng, mengundang sebuah raut kecewa dari lelaki di hadapannya.
"Kupikir aku harus disini dulu, mungkin saja dia masih disini." Tolak gadis ini lembut, membuat Mino tak bisa berbuat apapun.
Lelaki ini langsung melepas pergelangan tangan Junmyeon, lalu tersenyum.
"Aku pulang duluan kalau begitu. Hubungi aku kalau kamu butuh bantuan!" Ujarnya terdengar tulus, sambil mengusap rambut Junmyeon.
Gadis itu hanya hanya tersenyum dan mengangguk, lalu menatap punggung lelaki itu yang menghilang di ujung koridor.
.
.
"Thanks Kris! You can go back to your class!" Lelaki berkacamata itu memandang puas jurnal para muridnya yang tampak sangat rapi.
"My pleasure, sir."
Dan lelaki Kanada itu pamit kembali ke kelasnya yang pasti sudah sangat sepi, karena bel pulang sekolah berbunyi 20 menit yang lalu.
Ia jadi ingat perkataan Kwon songsaenim –guru Fisikanya, kalau Junmyeon harus belajar materi tentang bab yang baru saja di ujiankan. Maka dari itu, ia mempercepatkan langkah kakinya.
Kris menuruni anak tangga dengan cepat, takut-takut gadis itu lebih lama menunggunya. Walaupun ia masih kesal pasal Junmyeon dan Jongin –teman seklub basket di kompleksnya.
"Eo? Junmyeon? Belum pulang?"
Kris langsung menghentikan langkah kedua kaki panjangnya dan bersembunyi dibalik tembok, saat mendengar suara itu. Itu Song Mino, teman sekelasnya, teman se-klub basketnya.
Dan hampir satu sekolah tahu kalau lelaki itu menyukai Junmyeon dari tingkat pertama.
"Mino-a, kamu lihat Kris?"
Rasanya Kris ingin berteriak kencang sambil koprol mengelilingi koridor sekolahnya sekarang juga. Ia berani bertaruh kalau air muka lelaki beralis tebal itu pasti berubah kecut saat Junmyeon malah menanyai keberadaannya sekarang.
Hey Kris! Memangnya alismu tidak tebal?
"Dia tidak ada di dalam. Mungkin dia sudah pulang, karena hari ini tak ada jam latihan untuk klub basket."
Kris masih diam di tempatnya, menanti apa-apa lagi yang akan dilontarkan temannya itu lagi.
"Kamu ada perlu dengannya? Apa kalian berkencan?"
Dan Kris langsung terdiam mematung pada tempatnya sekarang. Menerka-nerka apa jawaban yang akan di lontarkan oleh gadis itu. Oh! Lihatlah lelaki itu keringat dingin sekarang.
"Jangan konyol, Mino! Aku disuruh Kwon songsaenim untuk belajar Fisika padanya saja."
Duar!
Kepalanya serasa disambar petir dan terbelah menjadi dua begitu mendengar jawaban itu dari mulut Junmyeon.
'Apa aku konyol?'
Ugh! Harusnya Junmyeon tahu kalau Kris itu selalu memperhatikannya dari dulu –tingkat awal mereka sekolah. Jadinya, ia bisa lebih dekat dengan gadis itu dan menarik simpatinya. Seperti dengan cara mengajak gadis itu pulang-
"Mau pulang denganku?"
Bersama.
Dan pupus sudah harapan lelaki Kanada itu saat mendengar tawaran Mino barusan. Ia sudah kalah sebelum berperang.
Dan dengan lesu, Kris meninggalkan tempat itu. Mengabaikan permintaan Kwon songsaenim dan segera menuju parkiran. Tanpa mendengar jawaban Junmyeon akan tawaran itu.
.
.
Junmyeon menaikkan tubuhnya keatas keramik dipinggiran air mancur kecil di taman sekolah. Ia menggerakkan kedua kaki kecilnya sambil menikmati hembusan angin yang menerbangkan helai demi helai rambutnya.
Kepalanya menengadah, menatap kearah langit. Gumpalan-gumpalan mega berwarna kelabu menggantung di langit, membuatnya bergidik ngeri.
'Masa iya Kwon songsaenim tak memberitahu Kris..'
Junmyeon bermonolog dalam hati.
Dan saat titik demi titik air hujan turun, ia langsung berlari menuju kelasnya. Mengambil tasnya.
.
.
"Sudah ya! Sampai jumpa besok!" Ucap Sehun, sambil memberi lambaian pada temannya. Jongin balas melambai dan segera masuk kedalam mobilnya, setelah mengambil bola basket yang di gunakan untuk latihan kali ini.
Ia langsung menghembus nafasnya lega. Tepat setelah ia masuk kedalam mobil, hujan turun dengan derasnya.
Jongin memeriksa ponselnya, siapa tahu ada pesan masuk atau telepon dari Kris yang hari ini tidak datang latihan. Entahlah, lelaki blasteran yang sudah ia anggap sebagai kakak lelakinya sendiri itu sedikit menjauh darinya.
Dan ia tidak nyaman akan hal itu.
Jongin mendengus kesal saat route yang biasa di ambilnya untuk pulang ditutup karena ada perbaikan jalan, maka dengan terpaksa ia harus memutar jalan.
"Hujannya deras sekali.." gumam lelaki Tan itu, sambil sesekali bergidik ngeri akibat bunyi gemuruh yang bersahutan.
Ia menajamkan pandangannya ketika matanya tak sengaja menangkap sosok perempuan bertubuh mungil meringkuk di box telepon.
MCM black-white edition..
Nike Air Force 1gs Schuhe White Orange..
Wavy brown hair..
Persis seperti noona-nya.
Dan ia melambatkan laju mobilnya, sambil memandang kearah sekitarnya. Daerah sekolah noona-nya itu. Kedua matanya langsung membesar.
"Noona!"
.
.
Kris menyeret tasnya masuk. Ia masih kesal dengan kejadian di koridor tadi, dan kasihan tas itu.
Benda itu tak bersalah apapun, namun diperlakukan dengan sangat tidak pantas oleh majikannya. Oh, sungguh pemikiran yang sangat konyol.
"Tuan muda Chanyeol sudah menunggu anda di kamar." Ucap salah seorang maid dirumahnya, saat ia baru saja akan menaiki anak tangga.
Lelaki blasteran itu langsung menghembuskan nafasnya kasar. Ck, bocah itu.
"Terimakasih." Balasnya sambil tersenyum, diiringi bungkukkan dalam dari maid itu.
Dan pemandangan pertama yang didapatinya saat pertama kali menginjakkan kakinya kedalam kamar adalah Chanyeol yang sedang membaca komik dengan posisi terbalik.
Bukan bukunya yang terbalik, maksudku, tapi tubuhnya yang terbalik. Kepala lelaki bersenyum menawan itu menjuntai dibawah, dan badan hingga kedua kakinya ada di atas kasur.
Bisa kau bayangkan seberapa konyolnya Park Chanyeol itu?
Kadang Kris sendiri tak habis fikir kenapa ia bisa punya sahabat dekat seperti Chanyeol. Kalau ditinjau dari kepribadiannya saja sudah sangat jauh berbeda.
"Bisakah kau membaca dalam posisi normal? Aku pusing melihatmu begitu." Ujar sang pemilik kamar, sambil melempar tasnya yang malang ke pojokan kamar.
Chanyeol hanya nyengir tanpa dosa, dan seakan menyadari kebodohannya, ia segera bangkit dan meletakkan kepalanya di headboard kasur.
"Apa kau punya cheesestick? Kudengar cheestick dekat terminal sangat enak!" Chanyeol membuka percakapan, sambil meraih jam weker di bawah lampu meja Kris, lalu memutar-mutar jarumnya.
Kris hanya memandang kelakuan temannya yang melebihi bodoh –sebut saja idiot ini.
"Tak bisakah kau melakukan sesuatu yang lebih berguna?"
Chanyeol mendecak kesal.
"Maksudmu berguna yang bagaimana? Bermain dengan tabung-tabung reaksi diatas meja belajarmu itu? Atau mengerjakan laporan pengamatan tentang biji kacang hijau itu?"Ucap lelaki itu, sambil menunjuk kearah meja belajar Kris yang tertata rapi dengan banyak barang percobaan.
Kris langsung melempar temannya menggunakan kaleng soda –yang ia yakini bekas Chanyeol sendiri tepat di kepalanya. Tentu saja! Ia tidak akan membuang sampah sembarangan begini.
"Aku tidak akan membiarkan rumahku meledak hanya karena kau salah memasukkan campuran kedalam tabung reaksi!"
.
.
Jongin mendorong keranjang belanjanya, lalu meraih beberapa barang yang dibutuhkan. Saat menghampiri rak untuk minuman kaleng, onyx miliknya menangkap sosok yang tidak asing di matanya.
"Kris hyung!"
Rahang lelaki itu mengeras, saat melihat rekan di klub basketnya ini menghampirinya.
"Hyung! Kau tidak latihan tadi?" Jongin mencoba ramah, walaupun hatinya kesal saat ini.
Kris memandang kearahnya sekilas, lalu meraih bungkusan besar roti tawar.
"Tidak."
Cukup sudah. Kesabaran lelaki tan itu habis, kalau saja ini bukan supermarket pasti ia sudah memukul Kris habis-habisan.
"Aku tidak tahu apa masalah hyung denganku, tapi.. Jangan pernah menyakiti Joonmyeon noona"
"Ia demam karena menungguimu untuk jam tambahan Fisika tadi."
Jongin berkata datar, dan Kris masih tidak bergeming di tempatnya. Jongin kesal sendiri, dan melenggang pergi begitu saja.
"Jongin!"
"Boleh aku minta alamatnya?"
.
.
Pada awalnya Kris heran, kenapa ia dibawa kerumah Jongin saat ia minta alamat gadis cantik itu. Dirinya baru saja ingin melayangkan protes, tapi niat itu diurungkan saat Jongin sudah turun dari mobilnya dan keluar begitu saja.
"Noona diatas, kamar berpintu lavender paling ujung."
Kris mengangguk dan Jongin langsung pergi begitu saja.
Krieeeet
Lelaki itu memutar kenop pintu dan memasukkan tubuhnya, sesaat setelah menimbang-nimbang pemikirannya. Kedua kaki panjangnya melangkah mendekati tempat tidur, disana ada sosok yang tengah bergelung dengan selimutnya.
Dan ia mendudukkan tubuhnya di tepian kasur, mengingat tempat tidur itu lumayan luas.
"Aku tidak mau makan, Jongin.."
Junmyeon menggumam saat menyadari pergerakan diatas tempat tidurnya, tanpa sadar Kris mengeraskan rahangnya saat mendengar nama itu.
Junmyeon tidur membelakanginya, membungkus tubuhnya seperti kepompong. Kris masih tidak bergeming, namun tangannya bergerak untuk mengusap punggung perempuan ini.
Gadis itu membalikkan tubuhnya saat merasakan tangan yang mengusap punggungnya.
"Jongin sudah ku-!"
"Kris?"
Junmyeon langsung bangkit dan mendudukkan tubuhnya, namun ia langsung meringis saat kepalanya serasa diputar-putar.
"Tidurlah lagi, jangan memaksakan diri.." Ujar lelaki itu pelan, sambil membantu Junmyeon rebahan.
Suasana kembali sepi, diselimuti rasa canggung. Tak ada satupun dari keduanya yang berniat untuk membuka percakapan.
Kriiiet
"Noona, sup ayam sudah siap!"
Jongin masuk sambil membawa nampan berisi mangkuk berisi sup, nasi, segelas air dan obat. Junmyeon langsung meringis melihat itu.
"Aku tidak nafsu makan." Ucap gadis itu lugas, membuat adiknya mendesis kecil.
"Aku tidak mau tahu. Semua ini harus kosong dan masuk ke perutmu bagaimanapun caranya!" Ucap Jongin dan melenggang begitu saja setelah meletakkan barang bawaannya itu di meja.
Kris mengerutkan dahinya, sepertinya Junmyeon dan Jongin sangat dekat.
"Makanlah.. Kamu tahu kalau Jongin berbelanja ke supermarket tadi.." Kris membuka suara, membuat kedua hazel itu memandang kearahnya.
"Benarkah? Lalu kamu bertemu dengannya?" Junmyeon bertanya. Kris hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Dan dia juga yang membawamu kemari?" Junmyeon kembali melayangkan pertanyaan, dan lagi-lagi lelaki itu hanya mengangguk.
Hening lagi, mereka berdua bingung ingin berbicara apa.
Junmyeon sendiri heran, padahal ia biasa cerewet pada Jongin dan Minseok. Tapi, kali ini lidahnya terasa kelu dan mulutnya serasa terkunci.
"Kamu... Sepertinya sangat akrab dengan Jongin ya," Kris membuka suara lagi, dan Junmyeon langsung menatapnya aneh.
"Apa maksudmu? Dia adikku, Kris tentu saja aku akrab dengannya!" Sanggah perempuan itu, dan Kris hanya mematung di tempatnya.
"Apa?"
"Dia, Kim Jongin adikku. Kenapa sih?" Junmyeon makin heran. Kris hanya menggaruk pipinya canggung.
"Aku kira kamu pacarnya, karena kemarin kalian terlihat sangat akrab.." Lelaki itu menjawab, membuat Junmyeon melongo tidak percaya.
BRUAK!
Terdengar pintu terbuka lebar, dan kedua manusia dalam ruangan itu mengalihkan pandangannya kesumber keributan. Tampak sesosok Kim Jongin tengah tersungkur di lantai.
Oh... Bocah itu menguping dari tadi.
"Yah! Apa yang kamu lakukan disana, hah?!" Pekik Junmyeon kesal, dan Jongin langsung bangkit dari tempatnya lalu mengusap lehernya.
"Hyung! Apa hyung marah padaku karena hyung kira aku pacar Junmyeon noona?" Jongin mengabaikan pertanyaan kakaknya barusan.
Kris hanya terkekeh kecil.
"Begitulah, hahaha."
Kedua Kim bersaudara itu hanya sweatdrop di tempatnya.
"Bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana kamu sampai punya pemikiran seperti itu?" Kali ini Junmyeon yang bertanya.
"Kamu tahu, kalian berdua sama sekali tidak mirip.." Kris menunjuk Junmyeon dan Jongin bergantian.
Sebenarnya gagasan Kris barusan tidak salah sih. Jongin itu tinggi, kulitnya tan, badannya cukup berisi –mungkin karena rajin olahraga. Sedangkan Junmyeon itu kecil, pendek dan berkulit putih bersih.
"Banyak orang yang bilang kalau kami tidak seperti adik-kakak, tapi kamu orang pertama yang sampai salah paham begini. Ckckck.."
"Kau konyol, hyung!"
Dan sore menjelang malam itu diiringi derai tawa di kediaman keluarga Kim.
.
.
Junmyeon memasukkan sendokan terakhir sup ayam buatan Jongin kedalam mulutnya, dan menelan obatnya. Kris langsung membantunya meletakkan benda-benda itu kembali ke atas meja.
"Terimakasih Kris," Ucap perempuan itu, dan Kris hanya mengangguk sebagai balasan.
"Kamu... Benar-benar menungguiku hingga kehujanan tadi?"
Suasana tidak terlalu canggung akibat pengakuan Kris yang terdengar konyol barusan. Dan Jongin mohon undur diri dan beralasan mengerjakan PR Kimia miliknya. Junmyeon hanya mengiyakan setelah mengancam lelaki itu untuk tidak kembali menguping, atau kamarnya akan rusak karena Jongin yang terus-terusan menempel di sana.
"Menurutmu aku bercanda? Aku benar-benar tidak berani mengelak perintah Kwon songsaenim, tahu!" Junmyeon ngambek, membuat Kris langsung tersenyum kecil.
"Aku fikir kamu pulang bersama Mino tadi.." Lirih lelaki ini, membuat Junmyeon langsung menatapnya aneh.
"Bagaimana kamu tahu? Apa kamu juga menguping seperti Jongin tadi? Ck. Sungguh tidak bisa dipercaya.." Cerocos Junmyeon lagi, membuat Kris langsung sweatdrop tidak percaya.
Sepertinya Kim Junmyeon sudah sembuh.
"Sebenarnya aku belum pulang tadi. Guru bahasa Inggris memintaku untuk membuat Jurnal, dan saat aku kembali untuk menemuimu, aku mendengar percakapanmu dengan Mino.."
Junmyeon kembali terpaku tidak percaya.
"Lalu, kenapa kamu tidak menghampiriku tadi? Apa kamu juga tidak tahu kalau aku menolak tawaran Mino untuk pulang karena aku berniat menungguimu?" Junmyeon penasaran.
"Mana aku tahu! Aku benar-benar kesal saat mendengar Mino menawarimu tumpangan, aku pikir kamu sudah melupakan janji kita dan malah pergi bersamanya!" Kesal Kris, membuat Junmyeon makin terbengong di tempatnya.
"Kamu? Kesal karena Mino menawariku tumpangan? Kenapa?"
Oh, rasanya Kris ingin menjedukkan kepalanya ke headboard kasur saat mendengar pertanyaan yang kelewat polos terlontar dari bibir Junmyeon.
Junmyeon benar-benar tidak peka.
"Aku menyukaimu, Kim Junmyeon! Aku cemburu saat kau menyuapi Jongin ddaebokki kemarin, dan aku cemburu saat Mino menawarimu tumpangan!"
Deg
Kedua hazel itu langsung membulat saat mendengar penuturan lelaki ini. Semuanya terasa jelas sekarang. Junmyeon tidak tahu harus menjawab apa karena bibirnya terasa di kunci rapat, dan kunci itu telah dibuang jauh-jauh.
"Aku tidak akan memaksamu untuk merasakan hal yang sama tapi-" Kris kembali berkata sebelum kalimatnya terputus karena Junmyeon yang tiba-tiba mengecupnya.
Mengecupnya. Di bibir.
"Berhenti bicara Kris. Aku juga menyukaimu.."
Dan giliran Kris yang merasa membeku di tempatnya. Seolah sihir queen Elsa membekukan dirinya begitu saja.
Lelaki itu langsung menatap Junmyeon dengan pandangan apa-kau-serius. Dan seolah mengerti, Junmyeon hanya menganggukkan kepalanya. Malu-malu.
Senyum lebar terpatri di wajah tampan milik Kris, dan dengan perlahan ia meraih Junmyeon ke dalam pelukannya. Mengusap rambut perempuan ini dengan sangat lembut.
"Terimakasih. Aku sangat mencintaimu.."
Kris berujar tulus sambil mengecupi puncak kepala Junmyeon dengan lembut, dan gadis itu hanya mengangguk dalam pelukannya. Membuat dirinya makin mengeratkan pelukannya di pinggang Kris.
"Aku juga.. Sangat mencintaimu."
.
.
Epilog
Jongin menempelkan benda kaca yang dipegangnya ke tembok, dan sedikit menggeser benda bernama gelas itu kesana-kemari. Berharap ia bisa menguping sedikit pembicaraan yang berlangsung di kamar sebelah.
Dan setelah bersusah payah mencoba berbagai tempat, ia memutuskan untuk berdiri di atas lubang ventilasi kamar kakak perempuannya dengan menaiki kursi kecil di depan meja rias milik ibu mereka.
"Terimakasih. Aku sangat mencintaimu.."
"Aku juga.. Sangat mencintaimu."
Kedua onyx itu melebar.
Apa-mereka-jadian?!
Jongin masih asyik menempelkan telinganya diantara celah ventilasi, dan bertarung bersama debu yang menempel disana. Tanpa memperdulikan langkah-langkah kaki yang terdengar mendekat.
Bruakkkk!
"YAH KIM JONGIN KAMU SUDAH GILA? APA YANG KAMU LAKUKAN, HAH?!"
Junmyeon yang berniat mengantar Kris pulang, langsung shock saat melihat adiknya tersungkur di depan kamarnya. Kris sendiri hanya geleng-geleng kepala.
"Eh? N-noona? Ehehehe!"
.
.
Fin!
Annyeong! Im hereeeee. Kembali dengan sequel dari you make me complete!
Mungkin ada yang heran kenapa jadi school life begini, tapi aku bermaksud untuk buat asal usul hubungan Junmyeon sama Kris ini. Dan aku liat di review ada yang penasaran juga sama gimana sih awalnya mereka itu? Makanya aku buat deh walaupun rada panjang hahaha ._.
Maap yaaa kalau banyak Jongin yang ikut-ikutan nimbrung! Aku suka banget kalau dia jadi adiknya Junma soalnya, hihihi ^^
Aku minta ide buat NC nya doong, harus pake atau nggak? Aku rada bingung juga, takut gak nyambung sama kontennya dan malah gak dapet feelnya lagi ehehe. Atau ada yang mau kasih saran?
Hope you guys pleased with this fic! Gimme some review juseyo~
Regards,
Kmldr100
#1000DayWithEXO #ILoveEXO
