kmldr100 's present
krisho/fanmyun/leadercouple- Wedding (4th Sequel of youmakemecomplete)
warn exofic/krisho-fanmyun/genderswitch uke/typo's!
©All cast belong to themself, and this fic purely belong to me
for beloved 100's couples shipper!
.
.
.
Kris mengetuk lantai menggunakan ujung sepatunya. Sudah lebih dari tiga puluh lima menit ia duduk begini, dan Junmyeon belum selesai juga.
"Bagaimana kalau yang ini?"
Junmyeon mengangkat sebuah gaun berwarna putih bersih ke udara, memperlihatkan pakaian yang tampak berkilau itu pada kekasihnya. Kris hanya mengangguk, lalu tersenyum sekilas.
"Semua terserah padamu."
Perempuan itu langsung cemberut saat melihat Kris kembali pada dunianya sendiri –ponselnya tanpa melihat dan mendengarkan lebih akan pendapat Junmyeon.
Srak!
Junmyeon menyimpan gaun itu kembali dengan kesal. Sebelas jam sudah ia menunggui Kris di kantornya, karena laki-laki itu berjanji untuk menemaninya mencari gaun untuk pernikahan mereka. Tapi apa yang dia dapat? Laki-laki itu bahkan tak menemaninya berkeliling.
Kris mengangkat kepala dari ponsel ditangannya, lalu menatap tunangannya ini.
"Kamu sudah selesai? Aku masih ada urusan."
Cukup. Kesabaran Junmyeon habis sudah. Ini bahkan belum satu jam, tapi laki-laki ini sudah mendesaknya? Apa artinya dia menunggu selama sebelas jam kalau begitu?
"Eh? Kamu benar-benar sudah selesai?"
Junmyeon menyampirkan tas kecilnya ke pundak, membuat Kris menatapnya heran. Pernyataan Kris barusan membuat perempuan ini sontak menatap langsung kearah dua iris mata laki-laki ini.
"Aku sudah selesai."
Kris mengerutkan keningnya. Sesuatu yang tidak beres pasti sudah terjadi disini.
"Mana yang kamu pilih?"
"Tidak ada. Aku akan minta ditemani Minseok saja." Junmyeon berucap ketus.
Kris tahu, perempuan ini pasti marah. Apalagi saat ia melihat Junmyeon yang melenggang pergi begitu saja.
Masalahnya, ia tidak tahu dimana letak kesalahannya.
Grep
"Kamu marah padaku?"
Kris menahan pergelangan tangan kurus milik gadisnya, lalu membalikkan tubuh perempuan ini. Junmyeon menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah dengan kedua matanyanya yang menahan tetes-tetes air mata.
"Apa salahku? Ayo katakan!"
Kris berkata dengan tegas. Ia cukup lelah karena beberapa urusan yang harus segera dituntaskan hari ini, dan perempuan ini makin menambah rentetan pikirannya.
"Kamu bertanya apa aku marah padamu?! Kamu berkata apa salahmu?!"
Junmyeon langsung mengangkat kepalanya, kedua hazelnya telah penuh dengan air mata dan menatap kedua mata laki-laki didepannya ini.
Kris langsung terdiam. Ia mengutuki dirinya yang memang susah peka dan kurang tanggap mengenai perasaan perempuan. Belum lagi, air mata Kim Junmyeon itu juga kelemahannya.
"Kenapa diam! Lepaskan aku!"
Junmyeon menghentakkan tangannya, mencoba melepas cengkraman Kris ditangannya. Tapi laki-laki itu tak gentar, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Just let me go or everything is over!"
Lemas. Seluruh persendian itu seolah luruh, mengakibatkan segala jenis tulang yang membentuk rangka tubuhnya ikut runtuh bersama dengan hatinya. Kedua lutut laki-laki itu terasa lemah, ia merasa kalau saat ini dirinya tidak menapak diatas tanah saat ini.
Kris hanya menggeleng tidak percaya. Ia masih tetap pada posisinya, mencengkram tangan perempuan ini.
"No, Kim Junmyeon."
Junmyeon mendengus kasar. Mencibir.
"So, you want me to end this?"
Kim Junmyeon langsung berlari menembus dinginnya malam pada musim gugur di kota Seoul, saat Kris hanya melepasnya begitu saja. Tanpa berkata apapun.
Sebenarnya ia sendiri tidak percaya kalau dirinya bisa mengatakan semua itu dengan mudahnya. Seolah 'mengakhiri segalanya' itu memang akhir dari masalah ini.
Tring!
Setelah menerima balasan yes masuk kedalam akun Line miliknya, Junmyeon langsung menuju halte subway. Ia akan bertemu dengan teman lamanya, Minseok. Dan perempuan chubby itu bilang kalau ia sedang didalam subway menuju apartemennya.
.
.
.
"Sungguh buruk. Bahkan selera makanmu tidak jauh berbeda seperti laki-laki."
Minseok berkomentar ketika Junmyeon menyuap satu sendok penuh ddaebokki ekstra pedas kedalam mulut. Masalahnya, ddaebokki itu biasa dimakan menggunakan garpu atau tusuk gigi. Tapi Junmyeon memakannya dengan sendok yang biasa digunakan untuk mengaduk sup.
'Perempuan ini sudah gila'
Trak!
Junmyeon tidak berkomentar. Ia malah membuka kaleng soda kemasan besar, dan meneguknya habis. Minseok hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu sudah tidak waras ya? Oneshot?! Yang benar saja!"
Junmyeon berdecak kesal.
"Ini soda, Kim Minseok! Bukan alkohol, apalagi wine atau soju! Aku masih waras!"
Junmyeon melanjutkan makannya lagi dan menyuap dua sendok penuh ddaebokki dengan brutal kedalam mulutnya. Minseok hanya menatap temannya miris. Setelah sekian lama bertemu, Junmyeon memang berubah. Dan inilah perubahannya.
"Bukan begitu! Kamu itu tidak minum alkohol, apalagi wine! Minum soda saja kamu tidak kuat!"
Minseok bercerocos, dan Junmyeon tidak perduli.
"Jangan bilang kalau kamu sudah minum alkohol?!" Minseok menyambung omelannya.
Junmyeon hanya menggeleng pelan, lalu menyuap ddaebokki lagi kedalam mulutnya. Tidak perduli kerongkongannya yang terasa terbakar karena rasa pedas yang diterimanya sekarang.
"Tidak. Aku tidak pernah menyentuh minuman yang bahkan tidak pantas disebut minuman itu."
Minseok memangku wajah menggunakan kedua tangannya diatas meja. Memperhatikan cara makan Junmyeon, ia baru sadar pasti perempuan ini sedang ada masalah.
"Apa yang sudah terjadi?"
Junmyeon menggelengkan kepalanya, dan meneguk habis sisa soda dikaleng keduanya.
"Apa kamu putus dengan Kris?"
Uhuk!
Junmyeon terbatuk keras, hingga tersedak dan wajahnya merah. Sedangkan Minseok tersenyum menang. Senang karena berhasil membuat perempuan ini kesusahan. Ck, teman macam apa mereka ini.
"Tidak!"
Junmyeon menyanggah garis keras, sedangkah Minseok memasang tampangnya yang sungguh terlihat menyebalkan. Perempuan chubby itu meraih kaleng soda diatas meja, lalu membukanya.
"Lalu? Apa yang terjadi kalau bukan putus?"
"Sungguhan! Aku benar-benar tidak putus dengannya! Kami malah sudah bertunangan dan akan menikah bulan depan."
Byur!
Kini Minseok yang malah terbatuk keras sampai tersedak dan menyemburkan minumannya keluar. Junmyeon hanya menatapnya tidak suka.
"Untung ini apartemen milikmu. Kalau punyaku, sudah kutendang kamu dari lantai tiga belas." Junmyeon berucap sarkastik.
"Tunangan? Menikah? Bulan depan? Dan tidak memberitahuku?"
"Kamu gila atau sudah tidak waras, sih!"
Minseok berteriak tidak terima. Kesal karena ia tidak dianggap sebagai teman.
"Aku normal, Min. Berhenti mengataiku tidak waras!" Junmyeon mengelak keras. Tidak suka dikatai abnormal oleh temannya ini.
Minseok mendecak kesal. Apa-apaan Junmyeon ini?
"Setidaknya kabari aku! Kapan kamu bertunangan?" Minseok mendesak, tapi yang didesak tampak tidak perduli.
"Aku mau tidur! Besok aku ceritakan semuanya!" Junmyeon melenggang pergi begitu saja, membiarkan segala kekacauan yang terjadi diatas meja ruang tamu Minseok. Lalu, masuk kedalam kamar temannya ini.
"YAH! KIM JUNMYEON!"
.
.
.
"Ah. Kupikir, Kris wu itu sempurna tanpa celah.."
Minseok bergumam menanggapi perkataan Junmyeon perihal keributannya dengan tunangannya. Matanya tetap fokus kedepan, karena dia tengah menyetir saat ini.
"Ck. Siapa bilang? Dia itu tidak peka, asal kamu harus tahu!"
Junmyeon menanggapi sambil menatap jari manisnya, tempat dimana cincin pertunangannya dengan Kris berada.
"Memang apa yang dia urus sampai-sampai kamu harus menungguinya hingga sebelas jam?"
Minseok menarik rem tangan ketika traffic light berubah warna menjadi merah.
"Tidak tahu. Sudahlah jangan bahas itu lagi,"
"Ngomong-ngomong, kamu mau membawaku kemana?"
Junmyeon menengok kearah kirinya, ketika Minseok menjalankan mobil kearah Gangnam. Daerah apartemennya.
"Butik milik Jinwoo. Kamu ingin cari gaun, kan?"
.
.
.
"Eonni!"
Jeritan kecil menyambut dua perempuan itu, ketika mereka menapakkan kaki mereka di JW arc' MH Boutique. Mereka –terutama Minseok langsung mencari sumber suara.
"Oh! Jinwoo-ah!"
Minseok langsung menghambur memeluk perempuan cantik itu. Mereka melepas pelukan, dan perempuan cantik bernama Jinwoo tadi menatap Junmyeon.
"Oh ya. Jinwoo-ah, ini Junmyeon teman lamaku. Dan Junmyeon, ini Jinwoo sepupuku." Perempuan chubby ini mengenalkan dua perempuan itu satu sama lain. Mereka berdua hanya mengangguk.
"Aku Kim Jinwoo. Senang bertemu denganmu," Jinwoo mengulurkan tangan, disambut oleh Junmyeon yang langsung tersenyum tidak kalah cantiknya.
"Aku Kim Junmyeon. Senang bertemu denganmu juga, Jinwoo-ah."
"Minseok eonni bilang, kamu datang untuk mencari gaun pernikahan. Apa itu benar?" Jinwoo langsung bertanya akrab pada Junmyeon. Sedangkan Minseok hanya geleng-geleng kepala, merasa diabaikan.
"Kamu harus tahu kalau Junmyeon itu lebih tua darimu."
"Tidak apa-apa. Aku hanya lebih tua empat bulan diatasmu." Junmyeon mengelak sambil mengibaskan tangannya diudara. Sedangkan Jinwoo kembali menjerit senang, merasa bertemu teman yang sebaya dengan dirinya.
Minseok berdecak sebal karena dia kembali diabaikan.
Salahkan Kim Jinwoo yang sangat easygoing dan salahkan juga Kim Junmyeon sangat ramah dan menyenangkan.
"Aku akan mencari gaun. Kalian boleh berbincang dulu," Junmyeon tersenyum kemudian berlalu menuju bagian butik yang menjual gaun. Minseok dan Jinwoo hanya tersenyum melihat itu.
"Eonni, dia sangat cantik sekali." Jinwoo memperhatikan Junmyeon intens, sampai perempuan itu menghilang diantara etalase-etalase kaca yang berisi manekin dan gaun.
Minseok memperhatikan arah pandangan sepupunya, lalu tersenyum kecil.
"Kamu benar sekali."
"Pantas saja Mino sangat mencintai perempuan itu dulu."
.
.
.
Junmyeon berkali-kali menarik gaun-gaun dari lemari penggantung, kemudian meletakkannya kembali. Banyak sekali pilihan yang tersedia, dan semuanya sangat cantik dan tampak berkilauan. Membuatnya bingung sendiri.
"Kim Junmyeon?"
Suara itu. Suara yang sangat familiar terdengar ditelinganya, dan kembali menyapa ketika bertahun-tahun sudah tidak terdengar. Perempuan cantik itu menolehkan kepalanya kearah samping, ke sumber suara.
"Song Mino?"
Junmyeon tersenyum, membuat laki-laki itu ikut tersenyum. Mino terlihat sama sekaligus berbeda pada waktu yang bersamaan. Laki-laki itu tetap tampan dan tinggi, tapi makin terlihat dewasa.
"Kamu disini?"
Mino membuka suara sambil menatap langsung pada kedua mata perempuan cantik ini. Junmyeon hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Iya. Aku mencari gaun, kamu sendiri?"
Laki-laki itu tersenyum saat mendengar suara itu menyapa pendengarannya. Bagaimana Junmyeon yang tersenyum, dan bagaimana gadis ini berbicara memang tidak berubah. Perempuan ini makin terlihat sangat cemerlang dimatanya.
"Ini butik istriku, maka dari itu aku disini."
Junmyeon langsung berjengit kaget mendengarnya. Song Mino sudah menikah?
"Kamu sudah menikah? Benarkah?"
Laki-laki bermarga Song itu kembali tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak akan heran apabila perempuan ini akan bereaksi begitu.
"Begitulah. Ini sudah tahun ke dua."
Junmyeon menatap laki-laki didepannya dengan jahil.
"Teman jenis apa kamu ini? Menikah tidak memberitahuku? Ck. Tega sekali."
Mino tersenyum tipis. Benar. Kim Junmyeon selalu menganggapnya teman, tidak lebih.
"Aku menikah di San fransisco. Aku kehilangan kontak denganmu, jadi... Begitulah,"
Laki-laki itu mencoba berkilah, dan perempuan cantik ini hanya tersenyum miring.
"Ngomong-ngomong... Kamu mencari gaun buatmu sendiri?" Mino menyambung pembicaraan, dan Junmyeon refleks menghentikan kegiatannya –memperhatikan etalase.
"Hm... Ya," Perempuan itu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Kamu sendiri? Dimana calon suamimu?" Mino penasaran. Dan perempuan itu menatap lurus kearah wedges berwarna soft cream miliknya.
"Dia sibuk," Junmyeon menjawab seadanya, hati kecilnya tiba-tiba terasa perih.
Mino mengenal perempuan ini, sangat. Walaupun Junmyeon tidak memperhatikan dirinya seintens apa yang dia lakukan, tapi laki-laki ini tahu natural facial dari perempuan Kim ini.
Termasuk Kim Junmyeon yang tiba-tiba murung. Pasti telah terjadi sesuatu.
"Siapa dia?" Mino meraih pergelangan tangan kecil milik Junmyeon, membuat perempuan ini otomatis menoleh kearahnya sambil melempar senyum tipis.
"Kris wu."
.
.
.
"Aku lihat tunangan Presdir Wu bersama seorang laki-laki tampan kemarin!"
Tap
Langkah kaki itu terhenti seketika. Gerakan tangannya yang baru saja akan memutar handle pintu ruang pemasaran terhenti begitu saja ketika mendengar nama dirinya disebut.
"Benarkah? Lihat dimana?" Terdegar sebuah suara menyahut ucapan perempuan yang pertama.
"Hmm... di JW arc' MH Boutique"
Laki-laki tinggi itu terdiam. Butik?
"Serius? Kenapa presdir tidak meng-"
Percakapan dua perempuan itu otomatis terhenti ketika mendapati atasan mereka berdiri tepat didepan pintu ruang kerja mereka.
"P-presdir Wu?"
Perempuan dengan rambut cokelat itu membuka suara takut-takut. Berharap kalau bosnya tidak akan memecat dirinya karena ketahuan menggosip.
"Istirahat makan siang masih dua jam lagi. Bekerjalah yang benar, Nona Yoon."
Kris berucap dengan sangat tenang. Ekspresi wajahnya juga terlampau datar, namun sarat akan ketegasan.
"Dan anda juga, Nona Son."
Dua perempuan itu langsung berjengit kaget ketika presdir mereka memanggil mereka dengan nada begitu. Kris terkenal dengan pribadi yang hangat dan berwibawa. Dan mereka tahu kalau mereka telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Jeosonghamnida, Presdir."
Kris hanya berlalu begitu saja ketika dua perempuan itu membungkuk dalam kearahnya.
.
.
.
Drap.. drap
Trakk!
Entah sudah kesekian kalinya bola berwarna oranye itu masuk kedalam ring. Entah tembakan jarak jauh atau dalam jarak dekat sekalipun.
Drap... drap
Brakkk!
Tapi untuk yang kali ini gagal. Bola itu menggelinding entah kemana, dan rupanya sosok yang memainkannya tidak peduli. Laki-laki itu menyeka peluh didahinya, kemudian menatap langit yang penuh bintang.
"Hahhh,"
Ia menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran wanita. Sosok itu –Kris benar-benar butuh Park Chanyeol sekarang. Sahabat idiotnya itu memang tahu betul jalan keluar tentang masalah-masalah tentang cinta. Terutama sekarang ini.
Tapi, laki-laki telinga peri itu sekarang ada di Milan. Katanya mencari jodoh. Dasar orang idiot.
Brakkk!
Bola yang menggelinding entah kemana itu masuk kedalam ring, membuat laki-laki Kanada ini mengalihkan pandangannya.
"Hai. Sudah lama sekali ya,"
Si pelempar bola itu berjalan mendekat kearahnya, kemudian mengulurkan tangan. Kris mengangkat wajahnya.
"Song Mino?"
Laki-laki Wu itu menyambut uluran tangan tersebut dan bangkit dari duduknya.
"Mau minum?"
.
.
.
Trakk
Csssssh
Dua laki-laki itu –Song Mino dan Kris Wu sekarang tengah duduk diatas kap mobil milik Kris yang terparkir di taman tempat dimana Kris main basket tadi. Ditemani dua kaleng soda, karena Kris menolak minum alkohol tadi.
"Apa kabarmu, Presdir Wu?"
Laki-laki dengan marga Song membuka pembicaraan, membuat Kris terkekeh pelan ketika mendengar bagaimana teman se-timnya dulu itu menyebut namanya.
"Panggilan macam apa itu?"
Song Mino menarik sudut bibirnya keatas, Kris wu benar-benar tidak berubah.
"Aku baik. Bagaimana denganmu?" Kris menjawab setelah menelan seteguk soda ditangannya.
"Aku baik juga."
Kesunyian malam menyelimuti mereka. Dua sosok itu sibuk memandangi langit begitu.
"Apa yang tengah dipikirkan seorang Presdir, ketika teman SMA-nya ini menemukan dirinya tengah bermain basket? Bahkan dengan suit kantoran begitu?"
Mino berucap dengan kepala yang tetap menengadah ke langit. Kris menarik sudut bibir kanannya keatas.
"Melepas penat," Laki-laki tampan itu menjawab seadanya.
"Apa ini tentang Junmyeon?"
Kris menoleh kearah teman SMAnya ini, kemudian mengguncang-guncang kaleng ditangannya pelan.
"Hn. Begitulah,"
"Kenapa perempuan sangat sulit dibaca?"
Mino mendengus pelan dan tersenyum ketika mendengar Kris berucap seperti itu. Sosok Kris yang tampak luarnya terlihat penuh wibawa dan bijaksana itu sungguh terbalik ketika berucap tentang perempuan.
"Bukan perempuan yang sulit dibaca. Tapi memang kita yang sulit mengerti,"
Kris mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Entah apa yang terjadi pada kalian. Tapi Junmyeon benar-benar terlihat murung kemarin," Mino menyambung kalimatnya.
Kerutan itu makin dalam terlihat didahi Presidir wu ini. Kemarin?
Apakah Song mino adalah laki-laki yang dimaksud karyawannya tadi siang?
"Kau bertemu dengannya?"
Laki-laki keluarga Song itu mengangguk, lalu meneguk habis soda ditangannya.
"Hhh. Apa kau masih menyukai Junmyeon?"
Song Mino tersentak kaget, walaupun tetap mengulum senyum. "Sedikit."
"Jangan fikir kalau aku akan merebut tunanganmu Kris wu,"
"Apalagi dibutik milik isteriku sendiri," Mino menyambung ucapannya dengan kalem.
"Apa?!"
Berbeda dengan Mino yang terlihat santai, Kris justru terlihat shock berat mendengarnya. Masalahnya Mino itu terkenal sangat menyukai Junmyeon dulu, dan ternyata malah laki-laki Song itu yang menikah duluan.
"Ck. Ekspresimu bahkan jauh lebih heboh dari Junmyeon,"
"Bagaimana bisa? Maksudku, kau kan.. –"
Mino hanya terkekeh mendengar perkataan laki-laki disebelahnya ini.
"Ya. Aku juga tidak sangka,"
"Dan soal Junmyeon.. Kalau saja aku belum menikah, dan aku bukan temanmu sudah kurebut perempuan itu dari dulu."
Mino memutar kaleng ditangannya, "Dia itu perempuan baik, jangan pernah sakiti dia."
Kris mengangguk mengerti. Dalam hatinya ia mengiyakan, karena dirinya juga tahu hal itu.
"Perempuan itu memang sulit dimengerti. Tapi, jika kau lebih sabar pasti semuanya akan terlihat mudah."
Mino mengulurkan tangannya, kemudian menepuk-nepuk pundak kokoh milik Kris.
"Aku percaya kau yang terbaik buatnya. Jangan melakukan sesuatu yang akan menyakitnya, dan membuatmu menyesal kemudian."
Laki-laki dengan rambut cokelat tua itu mengangguk samar. "Thanks."
"Kenapa kau begitu peduli?"
Mino menolehkan pandangannya pada laki-laki yang tengah menggoyangkan kaleng soda ditangannya.
"Karena aku peduli," Jawabnya, sambil tersenyum kalem.
"Kau temanku, dan Junmyeon orang yang aku cintai dulu. Bagaimana aku bisa tidak peduli?"
Kris wu memandang teman satu timnya dulu penuh arti.
.
.
.
"Junmyeon-ah!"
Seorang perempuan dengan kacamata tebal menghampiri Junmyeon dengan nafas yang putus-putus.
"Hn?"
Namun perempuan yang dimaksud justru menanggapi dengan asal, matanya masih menatap lekat kearah monitor didepan.
"Ada yang datang!"
"Suruh masuk saja Young-ah!" Junmyeon menyahut, masih memandang layar komputer.
"T-tapi dia-"
"Aku sibuk Park Ah Young. Suruh masuk saja,"
Perempuan berkacamata itu langsung berlalu setelah mengiyakan perkataan Junmyeon barusan. Tidak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka. Ada orang yang masuk.
"Selamat pagi Nona Kim,"
Trak
Jemari lentik itu menghentikan aktivitasnya begitu mendengar suara yang sangat familiar masuk kedalam indera pendengarannya.
Setelah berhenti beberapa saat, perempuan Kim itu menyambung kegiatannya tadi. Mencoba mengacuhkan kehadiran seseorang disana.
Orang itu –Kris hanya mendesah pelan melihat tingkah laku tunangannya ini. Ia kemudian berjalan kearah meja gadis cantik itu, dan duduk tepat didepan meja kerja Junmyeon.
"Kamu masih marah padaku?"
'Pertanyaan bodoh. Sudah jelas aku marah padamu'
Junmyeon masih tidak bergeming. Matanya tetap menatap lurus kearah monitor tanpa perduli kalau Kris menatapnya lekat-lekat.
"Kemarin aku bertemu Song Mino, dan dia menyadarkanku tentang banyak hal."
Kris mengedarkan pandangannya. Sudah lama sekali dirinya tidak mampir ke tempat kerja tunangannya ini, saking sibuknya dirinya belakangan.
"Dia bilang kalau aku harus menjagamu, atau dia akan merebutmu dariku."
Junmyeon menghentikan kegiatannya dan fokus mencerna perkataan tunangannya barusan.
"Song Mino bilang kalau dia begitu peduli pada kita, dan dia mau kamu selalu bahagia."
Kris menghembuskan nafasnya kasar, "Hhhh."
"Aku minta maaf kalau belakangan ini aku cenderung mengabaikanmu. Aku benar-benar tidak bermaksud begitu." Kris menyambung ucapannya, kemudian meraih satu tangan tunangannya ini yang tertelungkup di meja.
"Aku tidak mau kamu sedih, nanti Mino mengambilmu dariku."
Junmyeon –akhirnya mengalihkan pandangan dari monitor kearah wajah Kris. Laki-laki itu terlihat sedikit kacau walau terlihat sangat tampan seperti biasa.
Perempuan cantik ini mengembangkan senyum angelic miliknya, membuat dirinya tampak sangat bersinar di mata Kris.
"Maafkan aku juga, Kris."
.
.
.
"Terimakasih sudah datang!"
Junmyeon tersenyum manis sambil melambaikan tangannya kearah teman-teman kampusnya dulu. Sebelah tangannya ia pakai untuk memeluk lengan Kris yang terbalut setelan jas berwarna hitam.
"Wah, pakaian itu benar-benar cocok dipakai kalian."
Minseok berkomentar sambil menggandeng kekasihnya –Kim Jongdae. Junmyeon tersenyum cerah pada sahabat karibnya ini.
"Thanks ya, Min!"
Perempuan chubby itu tersenyum senang. Kris dan Junmyeon memang benar-benar ditakdirkan untuk bersama. Kris dengan setelan jas dan kemeja berwarna putih, juga simpul dasi berwarna raven blue terlihat sangat tampan dan berwibawa.
Dan Junmyeon dengan gaun putih bersih yang terlihat menyatu dengan kulit tubuhnya yang semulus porselen, terlihat sangat berkilau dan cantik hari ini.
Minseok tersenyum, kemudian memeluk temannya ini dengan haru, "Akhirnya kalian menikah!"
Setelah berkata begitu, Minseok dan Jongdae pamit untuk pergi ke tempat makanan.
"Junmyeon noona! Kris hyung!"
Jongin berjalan menghampiri sepasang pengantin baru itu dengan sumringah. Wajahnya yang tampan terlihat sangat elegan dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja silver. Disebelahnya ada seorang perempuan cantik bermata besar dengan drees pink pastel.
"Hai! Jongin–ah!"
Kris menyapa adik iparnya dengan semangat, dan memeluk laki-laki yang lebih muda empat tahun dibawahnya itu dengan bahagia.
"Annyeong haseyo, Do Kyungsoo imnida,"
Perempuan bermata besar itu akhirnya mengenalkan dirinya sendiri setelah menatap Jongin dengan ragu-ragu.
"Noona, Hyung ini Kyungsoo, pa-"
Belum selesai Jongin berbicara, kakak perempuannya ini sudah duluan memotong perkataannya.
"Aaaah, kamu Kyungsoo! Manis sekali, pantas saja Jongin sangat tergila-gila padamu!"
Junmyeon menyerobot pembicaraan dan memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan hangat, membuat perempuan keluarga Do itu melebarkan mata besarnya.
Kris sendiri hanya terkekeh kecil melihat tingkah isterinya, dan Jongin... Laki-laki tan itu menggaruk pipinya canggung.
"Aku harap eonnie mau menerimaku!"
Kyungsoo berujar dengan semangat –sekaligus malu-malu sambil membungkuk dalam, membuat Junmyeon tertawa kecil karenanya.
"Hahahaha! Jangan terlalu formal begitu, Kyungsoo-ah!" Junmyeon menyahut.
"Iya, Junmyeon pasti menerimamu dengan sangat baik!" sambung seseorang dari belakang, membuat Junmyeon menolehkan kepalanya.
"Ibu!"
Perempuan cantik itu memeluk ibunya dengan erat, tak peduli kalau ia masih dipesta pernikahannya sendiri.
"Puteri ibu sudah besar ya," Nona besar Kim mengelus pipi puterinya dengan lembut, membuat orang-orang disana tersenyum melihatnya.
"Kris, ibu titip anak cerewet ini ya!"
Kris tertawa kecil mendengarnya, sedangkan Junmyeon hanya merengut kesal mendengar perkataan ibunya barusan.
"Aku tidak cerewet ibu!"
Namun rupanya perkataan Junmyeon tidak didengar.
"Tentu saja bu! Aku akan menjaganya dengan sangat baik untukmu," Kris berujar dengan tenang pada ibu mertuanya.
Ucapan Kris barusan membuat Nona besar Kim tersenyum senang mendengarnya, dan Junmyeon mengeratkan pelukan pada lengan suaminya.
"Oh ya, Jongin-ah."
Junmyeon membuka suara ditengah kebahagiaan itu, "Jangan lupakan janjimu yang ingin bekerja keras dan menikahi Kyungsoo,"
"Apa?!"
Perempuan yang dimaksud langsung melebarkan matanya yang memang sudah lebar, kemudian menoleh kearah pacarnya dengan wajah semerah tomat.
"Kenapa? Kamu tidak mau menikah denganku?"
Jongin berujar dengan santai, mengundang kekehan dari bibir Junmyeon dan Kris.
"T-tidak. Bukan maksudku begitu –" Kyungsoo menjawab dengan gugup, namun Jongin malah mengusap kepalanya lembut.
"Berarti kamu mau. Aku akan berusaha keras, tenang saja." Jongin berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, terlihat tampan sekaligus menyebalkan.
Kyungsoo mendengus kesal –sekaligus malu mendengarnya, "Aku pegang janjimu! Awas kalau ingkar!"
Semua orang disana tertawa keras ketika melihat perubahan drastis sikap Kyungsoo yang tiba-tiba galak.
"Iya sayang,"
.
.
.
"Oh ya, Kris. Mana Chanyeol?"
Junmyeon bertanya, setelah melambaikan tangannya kearah Minseok dan Jongdae yang pamit duluan. Yang ditanya justru mengambil ponselnya dan membuka akun Line miliknya.
"Dia bilang sudah tiba dari Milan dua jam yang lalu, entahlah."
"Oi Kris!"
Panjang umur, baru saja dibicarakan laki-laki bertelinga peri itu datang menggandeng seorang perempuan manis berambut ungu.
"Selamat ya Kris, Junmyeon-ah!"
Chanyeol menyalami pengantin itu bergantian, kemudian merangkul pundak perempuan manis disebelahnya.
"Oh ya, ini Baekhyun. Pacarku,"
Perempuan yang dimaksud Chanyeol langsung tersenyum manis, "Hai, senang berkenalan dengan kalian."
"Perempuan ini yang kamu cari di Milan?" Ceplos Kris asal, mengundang pelototan tajam dari sobat karibnya. Sedangkan para perempuan hanya saling pandang tidak mengerti.
"Sebenarnya aku ke Milan untuk mengunjungi abeoji. Baekhyun ini pacarku dari satu tahun yang lalu!" Sahut Chanyeol kesal, sedangkan Kris hanya membulatkan mulutnya mengerti.
"Oh ya, kapan kau mau 'itu'?" Chanyeol berucap ambigu, mengundang pelototan tajam dari pacarnya. Sedangkan pengantin baru itu hanya menatapnya heran.
"Apanya yang itu?" Kris bertanya heran, dan Baekhyun justru melotot lebih lebar.
"Itu maksudku xxx. Kau tahu kan ka–AWW!"
Perkataan Chanyeol terpotong karena pacarnya yang mencubit pinggangnya keras. Junmyeon dan Kris yang mengerti sontak memerah wajahnya.
"Jangan mesum, Chanyeol! Sudah ya, Junmyeon-ah, Kris. Kami pergi ke tempat minuman dulu!" Baekhyun memutus pembicaraan sambil menggeret paksa pacarnya. Terlihat konyol, karena si Jangkung digeret oleh Baekhyun yang cenderung –ehem pendek.
"Dasar bocah mesum," Kris menggumam pelan sambil menggeleng melihat sahabatnya yang 'disiksa' di tempat minuman oleh Baekhyun. Junmyeon sendiri hanya terdiam dengan wajah yang bersemu merah.
"Junmyeon-ah!"
"Jinwoo-ah!"
Dua perempuan cantik itu saling berpelukan dengan hangat, sedangkan para lelaki menatap isteri mereka dengan senang.
"Selamat ya, kau benar-benar paham maksudku rupanya." Mino menepuk pundak Kris sambil tersenyum cerah, sedangkan laki-laki Wu itu menyahut senyumannya dengan kekehan.
"Tentu saja aku mengerti! Thanks, presdir Song."
Dua laki-laki itu tertawa bersama, membuat isteri mereka menatap mereka dengan heran.
"Junmyeon-ah, selamat ya!"
Song Mino mengulurkan tangannya, dan perempuan cantik itu menyambutnya dengan semangat. Ia kemudian tersenyum senang.
"Terimakasih ya, Mino!"
Junmyeon tersenyum senang, Mino benar-benar tulus dan dirinya sangat bersyukur bisa mengenal laki-laki ini.
"Pakaian itu benar-benar cocok untuk kalian. Aku bersyukur tidak memilih warna yang salah," Jinwoo tersenyum sambil mengelus gaun putih yang melekat ditubuh Junmyeon.
Perempuan yang berganti marga menjadi Wu itu ikut tersenyum mendengar perkataan Jinwoo, "Iya, aku suka sekali. Terimakasih ya, Jinwoo-ah."
"Eh? Kamu hamil?"
Junmyeon mengerutkan keningnya ketika melihat perut Jinwoo yang sedikit berisi. Yang ditanya justru memeluk lengan suaminya, dan tersenyum kalem.
"Iya. Ini sudah minggu ke empat."
Junmyeon langsung tersenyum dengan semangat mendengarnya, "Woaah. Selamat ya!"
Jinwoo dan Song Mino mengangguk antusias sebagai jawaban.
"Iya. Kamu cepat hamil ya!" Ceplos Jinwoo, mengundang semburat merah dipipi putih milik perempuan cantik itu.
"Tenang saja, aku akan punya anak yang banyak dari Junmyeon!" Kris menyahut perkataan Jinwoo, mengundang pelototan tajam dari isterinya. Sedangkan pasangan Jinwoo dan Mino tertawa mendengarnya.
"Kris!"
Yang dipanggil menoleh kearah isterinya, "Kamu mau punya berapa anak? Tiga? Lima? Atau dua belas?"
Junmyeon merengut kesal, "Dasar! Memangnya aku kucing!"
Percakapan empat orang itu berakhir dengan tawa yang berderai dan Junmyeon yang marah-marah karena 'dikatai' begitu oleh suaminya.
.
.
.
Fin!
Haloooo semua! Aku Kembali dengan sequel dari you make me complete!
Aku minta maaf kalau fanfic ini updatenya sungguh ngaret ._. Belakangan ini aku kepepet tugas yang menggudang. Terserah apakan fanfic ini masih ada yang nunggu, atau nggak tapi aku benar-benar akan tuntasin ceritanya.
Tapi aku nemu beberapa readers yang terus-terusan nanya kapan fanfic ini update, bahkan sampai nge-Pm. Wuaaaaah.. aku sungguh terharu T.T
Bocoran chapter depan adalah... Their son!^^~
Aku putusin buat nggak ada Ncnya ._.v maaf yaaah~ aku takut kehilangan feelnya dan jadi clueless. Hohoho~
oh ya, di timeline lagi heboh sehun-baek kiss ._. ohmaygarrd itu super greget hahaha.
#3yearswithEXO
Mind to review?
Regards,
Kmldr100
