Author's Note : It supposed to be a one-shot at the first place, but well, things happened. So this is it, the second part of Man Next Door. Before I forget, I tell you this is a post-Reichanbach story (thank you for reminding me, sweet Nisatsuki!). Enjoy! :')
P.S. Sorry, un-beta-ed... reviews are very well appreciated...
Disclaimer : Thank you for making such amazing story, Sir Arthur Conan Doyle-sama… for BBC's version by Steven Moffat dan Mark Gatiss, for making it real in the 21st century…
Man Next Door: Curiosity
"Berikan aku es—uhuk!—loli itu!"
"Nggak akan."
"Kubilang—uhuk!—berikan!"
"Ibumu bilang kau nekat makan es loli kemarin dan sekarang lihat! Radang tenggorokanmu kambuh, kan?"
"A… aku baik—uhuk! UHUK!—baik saja!"
John Watson mendecak-decak sambil memandang maklum pada bocah kecil di depannya, menggeleng-geleng pelan. Sebelah sudut bibirnya tertarik nyaris tak kentara ke atas, mengulaskan seringai nyaris sinis dengan penuh kemenangan.
Di hadapan John, sang pasien cilik melipat tangan dengan jengkel di dada. Kedua mata biru-abu-abu cerahnya memincing tajam pada sang dokter. Bibir tipisnya bergerak-gerak tak jelas, seakan ingin memuntahkan sumpah serapah. Namun alih-alih memaki, semburan batuk keras keluar dari tenggorokannya.
"Harus kukatakan berapa kali lagi bahwa kau, Ben, belum boleh makan es loli—atau es-es yang lain—sampai aku yakin betul radang tenggorokanmu sudah sembuh?" nada suara John melembut, "aku tahu mungkin kau lelah cuma bisa minum air hangat…"
"Air hangat membosankan," gerutu Ben sambil memalingkan muka ke arah jendela. Sedikit juntaian rambut keriting gelapnya ikut bergoyang lemah mengikuti gerak kepala sang bocah. Batuk-batuk kecil menyusul kemudian.
"Setidaknya kau harus tetap meminum obatmu," John mendengus agak kesal, "atau aku terpaksa harus meminta ibumu melarangmu main. Sampai kau sembuh."
"Pak dokter nggak bisa membuatnya menyuruhku begitu!"
Ben mendelik marah pada John, namun ekspresi marahnya tidak bertahan lama. Ia terbatuk lagi, keras dan kering, hingga terbungkuk-bungkuk. John segera menepuk-nepuk punggung sang bocah sambil sesekali membisikkan kata-kata yang menenangkan. Ketika akhirnya Ben berhenti terbatuk, ia mengerling John dengan tatap memelas. Sekilas sang dokter bisa menangkap kilau cairan bening di kedua sudut mata sang bocah.
Sesuatu dalam bocah itu seakan mengingatkan John pada sesuatu. Menghisapnya dalam semesta penuh nostalgia. Semesta yang sekelebat tampak nyata dan jelas, namun segera mengabur dan lenyap secepat datangnya. John berharap bisa mengerti apa maksud imaji yang terus mengganggu pikirannya tersebut, namun selalu saja gagal.
John menatap wajah pucat Ben, yang terbingkai untaian rambut keriting gelap dengan saksama. Berharap ada sesuatu di sana yang mampu memberinya petunjuk. Menuntunnya pada sesuatu yang tidak dapat ia pahami, apa pun itu…
Kemudian suara biola itu datang tanpa aba-aba. Lagi. Seperti pagi-pagi, siang-siang, sore-sore, dan malam-malam yang telah lewat. Setiap hari.
Suaranya terdengar makin kuat seiring berjalannya detik.
"Eh, ada apa Pak Dokter?" cicit Ben.
"Ssst!" John mengangkat telunjuk ke depan bibirnya, memberi isyarat pada sang bocah untuk diam sejenak.
Ben mengernyit tak mengerti. Ia tampak kebingungan sesaat, namun akhirnya mulai memahami maksud sang dokter. Dengan suara setipis bisikan, ia bertanya pada John, "Pak Dokter, apa yang sedang—"
"Kau dengar itu?" John bertanya balik. Wajahnya masam dan suaranya tidak kalah lirih dari sang bocah.
Kerut-kerut bingung mulai terbentuk di dahi Ben. "Dengar apa?"
John memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam-dalam. "Apa pun alasannya, dia nggak seharusnya bikin suasana berisik sepagi ini. Nggak dengan pasien yang membutuhkan pemeriksaan dengan fokus dan konsentrasi ekstra," desis sang dokter.
"Dia?" Ben menyeletuk hati-hati, "siapa?"
Sambil menggeleng-geleng sebal, John membuka mata. Rahangnya mengeras sementara bibirnya mengulaskan tipikal senyuman sinis sarkastis. Diiringi desahan panjang, John menegakkan diri. Ia menepuk bahu Ben dengan lembut.
"Camkan baik-baik, Nak. Saat kau dewasa nanti, jangan pernah jadi orang yang menyebalkan," ucap John dengan raut serius, "well, kalau kau memang memutuskan untuk jadi orang yang menyebalkan, tinggalah di ujung dunia. Atau di luar angkasa. Sendirian. Oke?"
Ben mengerjap beberapa kali dalam diam lalu mengangguk kecil. Ekspresi wajah sang bocah jelas-jelas mengatakan kalau ia sebetulnya sama sekali tidak memahami maksud perkataan John.
"Aku akan segera kembali," ucap John kaku, "aku cuma perlu bikin sedikit perhitungan dengan tetangga sebelah… dan biolanya, tentu saja."
"Te… tetangga? Biola? Pak Doker, tungg—"
Ben tidak pernah menyelesaikan kalimatnya. John baru saja keluar dari ruang praktiknya dan membiarkan pintu yang berat tertutup di belakangnya.
John menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang basah karena keringat. Napasnya memburu. John mungkin tidak sadar, namun kelopak matanya kini telah mengerjap dengan intensitas hampir belasan kelopak per menit.
Sepertinya sudah lama sekali sejak terakhir kali John mengalami sensasi ini. Gugup. bahkan nyaris yakin sudah lupa bagaimana rasanya.
"Kau melakukan hal yang benar, John," ucapnya menguatkan hati.
Sebuah pintu kayu mahogani menjulang tertutup di depan wajah John. Dari balik pintu itu, alunan biola diproduksi. Bunyinya telah merambat dengan cepat di udara sampai ke ruang sebelah. Ruang praktik John.
"Kau harus melakukannya, John," sang dokter membisikkan semangat pada dirinya sendiri, untuk kesekian kalinya, "sampai kapan kau mau membiarkan tetangga dan biola sialannya itu mengganggu hari-harimu? Dan pasienmu, tentu saja…"
Meski demikian, John tidak serta merta mengambil keputusan atau tindakan apa pun. Sesuatu seakan mencegahnya menyorongkan tangan dan mengetuk. Sang dokter mencoba melemaskan otot lehernya yang tegang. Sejujurnya, ia merasa sedikit tidak nyaman harus melabrak sang tetangga pagi-pagi begini. Apalagi dengan mendobrak pintu kamarnya.
Sekian tahun John menjadi tentara di Afghanistan, mungkin sudah puluhan kali ia menendang hancur pintu rumah orang. Tetap saja, ia nyaris tidak mampu mengayunkan tangan hanya untuk mengetuk pintu sang tetangga yang menyebalkan.
Bagaimanapun sang tetangga juga manusia, pikir John. Begitu pula orang-orang yang pintunya dulu kau jebol di Afghanistan, benaknya menambahkan dengan iseng.
Sang tetangga berhak melakukan apa yang ia ingin lakukan, John berargumentasi lagi dengan diri sendiri. Termasuk bermain biola. Siapa John sampai bisa melarangnya memainkan biola sesuka hati?
Selama beberapa waktu, John berdiri diam di depan pintu. Kaku. Sementara benaknya berkutat untuk memutuskan apakah ia harus mengetuk, kedua telinganya terus mendengarkan suara gesekan biola dalam aneka nada dan komposisi.
Sebetulnya, kalau didengarkan baik-baik, permainan sang tetangga tidak terlalu buruk. Agak terlalu bagus, malah.
Tunggu dulu. Ia tidak berada di sana hanya untuk mendengarkan permainan biola sang tetangga. Seketika John menelan ludah. Ia mengutuk diri sendiri karena membiarkan otaknya terdistraksi.
"It's now or never, John," ucapnya memantapkan diri, mencegah pikirannya melantur lebih jauh.
Dengan agak kaku, tangan kanan John terangkat ke udara, menuju permukaan pintu, membentuk kepalan. Tiga kali, John akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk.
Suara biola mendadak berhenti. Mendadak senyap. Keheningan canggung merayap di udara.
John menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Suara biola sang tetangga langsung berhenti. Apakah itu artinya ia sudah cukup paham bahwa John dan pasien-pasien tersayangnya selama ini merasa terganggu? Apakah akhirnya sang tetangga sebelah akan berhenti memainkan biolanya hingga John membiarkannya untuk itu? Lantas kenapa orang itu tidak keluar dan mencoba berdiskusi? Apakah ia marah karena John mengganggu kesenangannya?
John mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Bagaimana ia bisa jadi merasa begitu tegang? Sang tetangga memang tidak tampak akan keluar dari kamar, tapi toh permainan biolanya terhenti. Hanya itu yang John butuhkan, bukan?
Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk berbalik dan melangkahkan kaki kembali menuju ke ruang praktiknya…
Hingga tiba-tiba terdengar bunyi 'klik'. John nyaris melonjak di tempatnya berdiri. Bukankah itu tadi suara kunci yang baru saja dibuka?
Pintu kamar sang tetangga masih berdiri teguh. John menunggu. Sang tetangga bisa keluar dari sana kapan saja. Pikiran John kembali disibukkan dengan ribuan kemungkinan, probabilita, dugaan serta asumsi, dan semuanya tidak ada yang berakhir baik.
Namun pintu mahogani itu tidak pernah terayun terbuka. Sudah hampir lima menit berlalu.
John menelan ludah. Mungkin sang tetangga memutuskan untuk tidak keluar sama sekali. Atau mungkin ia harus buru-buru ke toilet segera setelah membukakan pintu.
Saat lima belas menit akhirnya lewat, John mulai merasa frustrasi. Sebagian dirinya ingin menyumpah-nyumpah, jengkel karena diabaikan. Sisa dirinya waspada, mencoba membayangkan indikasi dan arti dari tindakan sang tetangga.
Dalam tiga puluh menit, seisi kepala John seakan telah mendidih dalam kemarahan. Sang tetangga sudah mempermainkannya, membuatnya berdiri di depan pintu tak bergerak dengan sia-sia. John bahkan sampai tega meninggalkan pasien ciliknya—yang bahkan tak punya bayangan atas apa yang sesungguhnya sang dokter sedang lakukan.
"Oke," John mendelik sengit pada pintu, "kau yang memintanya!"
Dengan segenap kekuatan, John memutar kenop pintu dan mendorongnya hingga terbuka penuh. Amarah telah meletup-letup di ujung lidahnya, siap menyembur keluar dengan brutal—hingga John menemukan bahwa ruangan tak terkunci tersebut dalam keadaan kosong sama sekali.
"Apa-apaan…"
Sang dokter berdiri tak bergerak. Matanya yang semula membara nyalang mulai meredup dalam gelombang keterkejutan sekaligus kebingungan. Ia mencoba menyapu seisi ruangan dalam sekali pandang, mencari sesuatu yang bisa menjelaskan padanya apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Lalu tatapan John jatuh pada sesosok biola di tengah ruangan, di atas sebuah meja bulat berdebu. Bow-nya tergeletak kaku tak jauh dari biola. Kedua benda itu teronggok begitu saja di tengah ruangan, seakan menjadi pusat dari segala perabot lain yang kini telah tertutup terpal bening.
"John…"
Sang dokter mendengar suara lembut sang induk semang datang dari balik punggungnya. John tidak perlu menoleh hanya untuk menebak bahwa wanita itu tengah berdiri di ambang pintu, mengamatinya. Dan untuk alasan yang tidak John mengerti, ia tahu satu hal. Nyonya Hudson tengah menatapnya, yang sendirinya tengah menatap seonggok biola dalam bisu, dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca.
"John…"
Nyonya Hudson memanggilnya lagi. Kali ini, John memutuskan untuk memutar tubuh dengan canggung. Kedua matanya segera beradu dengan milik sang induk semang.
"Dia berulah lagi, Nyonya Hudson. Aku cuma berniat mengingatkan dia kalau aku sedang memeriksa pasien dan kami butuh ketenangan," John menyerocos dalam nada datar, yang entah bagaimana semakin lama semakin terengar seperti diseret-seret, "kupikir kalau aku menghampiri langsung ke kamarnya, dia akan menghentikan permainan biolanya untuk sementara. Aku sempat mencoba mengetuk pintu—tentu saja karena aku ingin bersikap sopan—dan Anda tahu, Nyonya Hudson? Dia membukakan pintu untukku. Aku menunggunya keluar, tapi karena sepertinya dia nggak berniat melakukannya, jadi aku memutuskan untuk masuk."
Nyonya Hudson tidak melepas tatap dari John. Dihelanya napas dalam-dalam dalam gerakan canggung. Tiba-tiba bibir Nyonya Hudson bergetar hebat, seakan ia sedang berusaha keras untuk tidak membiarkan emosinya meledak keluar dan menjelma menjadi histeria.
Sekali lagi, hanya sepatah kata yang terucap dari bibir Nyonya Hudson. Parau dan gemetar. Sensasi menyesakkan yang aneh terselip dalam suaranya.
"John…"
"Aku memergoki biolanya, Nyonya Hudson, tapi dia sendiri tidak ada di sini," ucap John. "Dia tidak ada di sini dan tidak di mana pun. Dia… sudah tidak ada…"
Dan sebulir air mata tiba-tiba menetes di pipi John, menjadi anomali di wajahnya yang baru sedetik lalu terpaku stoik.
Man Next Door chapter 2 - END
