Author's Note : Never thought it would take this long, become this much, and turn out to be real angsty. The REAL final part of the oneshot-intended-Man Next Door. Enjoy! :')
P.S. Sorry, still un-beta-ed...
Disclaimer : Thank you for making such amazing story, Sir Arthur Conan Doyle-sama… for BBC's version by Steven Moffat dan Mark Gatiss, for making it real in the 21st century…
Man Next Door: Violin on the Table
John hampir tidak menyadari bahwa lututnya kini telah bergerak-gerak tak terkontrol. Lutut dari kakinya yang pincang psikosomatik. Ia baru tersadar dari lamunan tegangnya seketika suara gesekan biola mengalun memenuhi udara.
John melepaskan napasnya yang sesaat lalu sempat tertahan di paru-paru. Ia melirik ke samping dan menemukan Sherlock tengah memainkan biolanya—lagi—dengan mata terpejam. John bukan penggemar berat komposisi-komposisi klasik, meski ia pernah beberapa kali 'dipaksa' menonton konser musik klasik oleh sang dektektif konsultan. Karena bagi Sherlock, musik klasik adalah satu-satunya temuan manusia biasa—selain matematika dan kimia—yang menurutnya tidak membosankan.
Setelah sekian lama menjadi rekan satu flat, John sudah hafal hampir semua kebiasaan dan gerak-gerik Sherlock sehari-hari. Nyaris di luar kepala. Salah satu yang paling menonjol adalah fakta bahwa hanya ada tiga hal yang bisa membuat seorang Sherlock Holmes terdiam. Pertama, Sherlock terdiam saat ia sedang berpikir. Kedua, Sherlock terdiam saat ia terkejut. Ketiga, Sherlock terdiam saat sedang menikmati musik klasik—atau, memainkannya.
Saat ini pun, Sherlock terdiam sementara tangannya tak henti menggesekkan bow pada dawai-dawai biola, menghasilkan komposisi nada yang terasa berat. Sendu, kalau John boleh mencoba menerjemahkannya secara bebas. Tentu saja, fenomena semacam ini tidak terlalu biasa. Sejauh yang John tahu, Sherlock lebih suka memainkan sesuatu yang lebih dinamik dan enerjik.
Hanya sekali John memergoki sang detektif memainkan komposisi melankolis sebelumnya. Saat The Woman—Dominatrix—Irene Adler dinyatakan telah tewas. Meskipun akhirnya semua orang tahu bahwa hal ini sama sekali jauh dari kenyataan, John merasa telah mempelajari satu hal baru dari Sherlock. Sesuatu yang sebetulnya lebih tepat dikatakan sebagai kesimpulan berbasis intuisi.
Meskipun pengetahuan John tentang dunia seni tergolong sempit, ia mengerti bahwa tiap karya entah bagaimana selalu setidaknya mengekspresikan sesuatu. Selalu ada suasana, emosi, atau hal-abstrak-apa pun-itu yang menjadi tema besar dalam tiap proses penciptaan seni. Sesuatu yang sesungguhnya, dengan kecermatan dan pendalaman, dapat diekspresikan ke dalam satu kata. Mungkin bukan kata yang sempurna, jelas, karena makna kata bisa berubah. Selain itu, segala sesuatu tentang seni adalah rasa. Dan sebuah rasa disebut 'rasa' karena sesungguhnya tidak pernah bisa terwakili oleh bahasa dalam kungkungan kata-kata.
Ketika Sherlock memainkan melodi melankolis dengan biolanya, John tahu satu kata yang langsung muncul di benaknya begitu saja. Satu kata yang merepresentasikan segalanya: kematian.
Entah milik siapa.
John mendengarkan permainan biola Sherlock dengan lebih saksama dan merasa sedikit lebih tenang. Aneh, sebetulnya. Baru beberapa saat lalu Greg Lestrade meninggalkan Baker Street dengan diliputi keraguan dan kebingungan. Sherlock mengklaim bahwa Moriarty telah mengambil langkah cerdas dengan menanamkan sebuah ide di kepala Sally Donovan, yang kemudian diteruskan pada Greg.
Hanya sebuah ide; tidak ada unsur koersif, tidak pula persuasi. Hanya wacana, bahwa Sherlock, entah bagaimana, terlibat dalam kasus penculikan anak yang belum lama terjadi. Segera, setelah Jim Moriarty dinyatakan tak bersalah dan melenggang begitu saja dari penjara. Belum terlalu lama lama, sejak berita di surat kabar satu persatu mulai memojokkan sang detektif; menudingnya sebagai penipu. John ingat betul, baru beberapa minggu lalu mereka mengoar-koarkan Sherlock sebagai pahlawan Reichanbach di kolom yang sama.
Jadi, John merasa cukup beralasan apabila ia tidak bisa melawan rasa penasaran yang kini bergolak di dadanya. Apakah Sherlock sama sekali tidak sedang merasa gugup atau tegang? Sebab John sendiri yakin ia bisa kena serangan jantung kapan saja, segera, hanya dengan mendengar suara langkah-langkah kaki dan keriut tangga dan pintu yang pelan-pelan terbuka. Sherlock sendiri yang berkata bahwa Greg mungkin sedang mengalami perang batin—atau mungkin malah perang mulut, dengan Sally—untuk memutuskan apakah ia harus kembali lagi ke Baker Street. Kali ini dengan membawa surat penahanan bagi sang detektif.
Sherlock masih memainkan biolanya dengan ketenangan yang bagi John terlihat ajaib, mengingat konteks situasi yang sedang berlangsung. Melodi yang Sherlock coba mainkan terdiri dari banyak nada-nada mayor; John setidaknya tahu itu, karena kalau terjadi sebaliknya, ia pasti sudah akan mendengar nada-nada yang terasa lebih kelam dan sedih.
John juga tahu, sedikit, bahwa nada-nada mayor mewakili emosi lagu yang lebih menyenangkan. Ia ingat bagaimana Sherlock memberinya ceramah-gratis-tak-diminta pada suatu pagi tentang 'mayor' dan 'minor' dalam musik, bukan dalam konteks yang lain.
'"Kurasa aku tahu bagaimana rasanya jadi Yesus, John,"' celetuk Sherlock saat itu dengan sedikit tiba-tiba.
Mendengar ucapan sang sobat, John Cuma bisa mengernyit. Ia tidak pernah merasa bahwa Sherlock adalah orang yang religius. Satu-satunya saat ketika Sherlock membukan Alkitab adalah saat ia membutuhkannya untuk memecahkan kasus, seperti saat mereka sedang berurusan dengan sindikat Black Lotus, Shao-Lin Yao, dan kode anehnya. Sherlock bahkan tidak sedikit pun peduli pada fakta bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, bukan sebaliknya. Semua fakta ini membantu John untuk menjustifikasi diri bahwa celetukan Sherlock tentang Yesus sama sekali bukan hal yang normal. Tidak bagi sang detektif konsultan.
'"Sejak kapan kau peduli pada Yesus, Sherlock? Kau bahkan tidak benar-benar tahu siapa itu Yesus!"' John terkekeh miris.
'"Tentu saja aku tahu, John. Yesus adalah versi yang lebih kuno dari manusia-manusia sepertiku."'
'"Oh, sungguh? Aku belum pernah dengar cerita tentang Yesus sang sosiopat berfungsi tinggi."'
'"Bukan, bukan, bukan itu maksudku, John. Yesus adalah seorang jenius yang membiarkan dirinya dikelilingi orang-orang idiot.'"
'"Aku belum bisa melihat kesamaan di antara kalian. Kau dan Yesus. Sama sekali. Lagipula apa buktinya?"'
'"Masih kurang jelas, John? Dia sampai harus memakai perumpamaan hanya untuk membuat orang-orang paham dengan kata-katanya!"' seru Sherlock dengan sedikit menggebu, '"dan itulah yang sedang akan kulakukan padamu sebentar lagi."'
John tersenyum sinis sambil melempar tatap membunuh pada Sherlock. '"Kau hanya ingin bilang kalau aku idiot."'
'"Ayolah, John, kau tahu kau bukan satu-satunya. Pada dasarnya enam dari tujuh miliar manusia di bumi adalah idiot. Aku tidak bohong, tapi aku juga tidak berniat terdengar ofensif…"'
'"Terlambat, Sherlock."
'"Aku belum selesai bicara," Sherlock memotong cepat lalu menelan ludah dengan tidak kentara, "aku tidak bilang kau idiot dalam segala hal, John. Hanya tentang musik klasik. Ingat kau nggak bisa membedakan lagu klasik mana yang mayor dan mana yang minor?"'
Sebetulnya John tergoda untuk menjawab bahwa ia bahkan tidak bisa membedakan siapa yang menggubah apa. Namun ia juga tahu jawaban semacam itu bertindak seperti minyak buat pidato Sherlock yang berapi-api, jadi John memutuskan untuk pura-pura cuek. '"Jadi, uh, kau tiba-tiba menyeletuk tentang Yesus hanya untuk mengatakan bahwa aku membutuhkan perumpamaan hanya untuk memahami seperti apa melodi mayor dan minor?"'
Sherlock mengangguk singkat. '"Ode to Joy karya Bach adalah lagu dominan nada mayor."
Hanya untuk mencegah sang detektif merasa sakit hati, John bertanya balik, '"Yang minor?"'
'"Swan Lake karya Tchaikovski."'
'"Suasana sedih untuk minor dan suasana ceria untuk mayor! Oke, aku mengerti. Ah! Lihat jam berapa sekarang ! Aku harus belanja…"'
'"Nggak selalu seperti itu, John."'
Celetukkan berat Sherlock menghentikan langkah John. Tidak berniat untuk mendengarkan ceramah lebih lama, John menoleh ke arah sang detektif dengan tatap ingin tahu yang sarkastis. '"Oh, ya? Kau pikir aku ingin tahu?"'
Sherlock Holmes seakan membiarkan kedua matanya menatap lantai selama sekian detik sebelum bergerak pada John. Sekilas Sherlock mengulaskan senyuman. '"Lain kali akan kumainkan Pathetique Sonata-nya Beethoven untukmu…"'
John masih memandangi sobatnya bermain biola. Sherlock menggesekkan bow dengan anggun, membiarkan nada-nada mengalun naik turun; terkadang keras, kemudian lembut, lalu menjadi begitu pelan seakan tengah timbul tenggelam.
Kaki John tidak lagi gemetaran, namun kini kedua matanya terasa pedih. Dari segala saat, dari segala waktu, Sherlock telah memilih saat ini untuk memainkan sepotong Pathetique Sonata untuk John.
Polisi akan datang kapan saja. John tahu itu. Dan di sinilah Sherlock masih memainkan biola dengan sebegitu khusyuknya, seakan ia tidak akan pernah memainkan alat musik itu lagi selamanya…
"Sherlock…"
"Sudah selesai, John. Kau tidak perlu mengingatkanku," ucap sang detektif seraya menurunkan biola dari bahunya, meletakkannya dengan hati-hati di permukaan meja bulat kecil di tengah ruangan. Bow-nya ia letakkan tak jauh di samping body biola.
Pada saat itu juga terdengar suara ponsel bordering.
"Punyamu, John," celetuk Sherlock tenang. Ia berjalan menuju kursi favoritnya kemudian duduk di sana sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dagu.
Greg menelpon, hanya untuk memberitahu John bahwa ia sedang menuju Baker Street membawa serombongan polisi yang lain. Ia hanya ingin memperingatkan bahwa Sherlock tidak punya banyak waktu lagi, namun fakta itu tidak begitu berhasil mencegah John menyumpah sebelum menutup sambungan telpon.
"Masih ada teman di kepolisian rupanya," ujar John datar, "dari Lestrade. Dia bilang mereka sedang dalam perjalanan kemari. Sekarang."
Sherlock tidak berkomentar. Matanya masih menerawang entah ke mana. John tahu pikiran sang detektif sedang bertualang ke tempat lain. Kedatangan serombongan polisi sama sekali tidak tampak seperti ancaman baginya.
"Mereka semua siap memborgolmu, Sherlock, setiap polisi yang sudah pernah merasa kau permalukan seperti… idiot. Yang jumlahnya tidak sedikit, tentu saja," John menambahkan dengan sedikit jengkel.
Sedetik kemudian Nyonya Hudson datang tergopoh-gopoh dalam piamanya. Di tangannya teracung sebuah amplop cokelat bersegel lilin merah darah yang ternyata berisi kue jahe gosong dari Moriarty.
Kemudian segalanya berlangsung begitu cepat malam itu hingga John nyaris kesulitan mencerna semuanya. Penangkapan Sherlock, tindakan melarikan diri yang konyol dalam ikatan borgol suci, segalanya seakan berlalu begitu saja dengan alami. John merasa bahwa ia tidak perlu bertanya apa-apa. Sherlock selalu memiliki rencana berlapis bukan?
Sherlock selalu tahu apa yang harus ia lakukan. Sherlock selalu penuh dengan perhitungan. John terus mencoba untuk meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja. Semua gossip dan tudingan media akan berlalu. Moriarty dapat dikalahkan. Segalanya akan kembali seperti sedia kala…
Sampai John menyaksikan Sherlock terjun bebas dari atap Barts keesokan harinya.
John masih memandangi biola Sherlock di atas meja. Lapisan tipis debu membuat permukaannya yang dulu mengkilap terawat kini tampak pudar.
Nyonya Hudson meraih lengan John dan meremasnya lembut. "Kurasa sudah saatnya kau membiarkanku menyimpan biola itu seperti barang-barangnya yang lain, John."
John tidak menjawab. Ia bahkan tidak berkedip.
"Kau harus melepasnya, John," Nyonya Hudson berbisik. Suaranya sedikit tercekat. "Biarkan Sherlock pergi…"
Perlahan kedua bahu John melemas. Suara napasnya yang tadi sempat tertahan akhirnya terdengar lagi meski kini terputus-putus, menjelma isak-isak kecil. Nyonya Hudson mengerling sang dokter kemudian memeluknya hangat.
"Kupikir aku masih bisa mendengar permainan biolanya sekali lagi, Nyonya Hudson," John tertawa pahit, "sekali lagi saja… untuk terakhir kalinya…"
Man Next Door chapter 3 - END
