Di sebuah ruangan yang di dominasi oleh warna merah tua, telihat seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh delapan tahunan tengah menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memegang biola yang beberapa menit yang lalu ia bunyikan. Ruangan ini penuh dengan berbagai macam penghargaan. Ada yang berbentuk piagam, piala, maupun medali. Hampir semua dari penghargaan tersebut bertuliskan 'juara 1'. Kenapa dibilang hampir semua? Karena, ada satu penghargaan yang bertuliskan 'juara 2' dan itu pada kejuaraan basket se- SMA.

Ya, dia adalah Akashi Seijuro. Pemuda yang telah tumbuh dewasa dan akhirnya mengakhiri masa lajanganya dengan menikahi seorang gadis biasa. Semua teman-teman Akashi pada awalnya mengira jika seorang Akashi tidak memiliki rasa cinta yang membuatnya ingin menikah. Tetapi, ternyata ia membuktikan pada teman-temannya bahwa dugaan teman-temannya itu semuanya salah. Ya, cukup kejam bukan, mengatakan seseorang tidak memiliki rasa cinta? Terlebih ejekan itu diarahkan kepada seorang Akashi Seijuro. Memangnya, teman-teman Akashi tidak takut untuk mati, ya?

Kembali ke pemuda yang tengah memegang biola, ia, Akashi, berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan perasaan tidak nyaman dengan jantung yang berdegup kencang. Kenapa? Inilah alasannya:

.

.

.

Terperangkap di Senyumannya

Sebuah fanfiksi persembahan ImaginationFactory

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Kepemilikanku hanya pada fanfiksi dan OC yang ada di sini

Cover bukan milik saya

.

Warn: ini mungkin agak nyerempet ke M ._. jadi jangan dibaca kalau gak suka. Gak ada lemonnya kok, cuma agak nyerempet aja X3 ceritanya tentang pernikahan; typo; dll.

(Bagi yang gak suka sama cerita tentang pernikahan mending gak usah di lanjutin buat membaca. Saya sudah memperingatkan. Dan, mohon dimaafkan jika ada typo, jika mau, silahkan koreksi dan beritahu di kolom review bagian mana yang salah :3)

.

Summary: Saat bermain biola, tiba-tiba Akashi menggelengkan kepala tidak nyaman. Sebenarnya, apa yang dipikirkannya? Dan… apakah pemuda berambut merah itu tidaklah sepolos kelihatannya? Akashi sudah beranjak dewasa dan pemikirannya pun sudah… begitulah.

Akashi x Reader: Wajah yang Tidak Sepolos Kelihatannya

.

.

And, happy reading! ^^

.

.

.

Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana ia bisa sedikit bersantai dari berbagai macam pekerjaan yang mengekangnya. Sebagai seorang pemimpin suatu perusahaan yang terkenal seantero Tokyo, Akashi tidak bisa membiarkan perusahaannya kalah saingan dengan perusahaan lain. Maka dari itulah Akashi selalu berusaha dengan sebaik mungkin.

Meskipun begitu, di hari liburpun, Akashi tetap menyibukkan dirinya dengan bermain biola di ruang pribadinya. Ruangan itu terlihat luas dari dalam dengan nuansa merah maroon dengan cat berwarna putih yang menghiasinya. Di sanalah Akashi menyimpan semua penghargaannya—termasuk menyimpan alat musik kesayangannya, yaitu biolanya. Biolanya itu mengingatkan dirinya tentang masa-masa remajanya. Masa-masa saat ia terlihat seperti pemuda yang keras kepala dan menjengkelkan (kata seseorang yang berani mengadukan ejekan-ejekan itu kepada Akashi. Dan Akashi hanya menyeringai mendengarkannya. Sesungguhnya, ia sudah tau jika ia memang keras kepala dan menjengkelkan. Jadi, karena itulah Akashi hanya menunjukkan seringaiannya saat mendengar ucapan seseorang itu)

Dari situlah Akashi mulai memainkan biolanya. Jemarinya menggesekkan benda panjang tipis berwarna kecoklatan itu pada senar biola dengan perlahan. Gerakan jemarinya itu terlihat sangatlah lembut bagaikan Akashi tengah menggenggam sesuatu yang rapuh dan ia tidak ingin merusak apa yang tengah ia genggam.

Pikiran Akashi tiba-tiba melayang secara otomatisnya pada imajinasi-imajinasi yang sangat nista. Karena imajinasi itulah Akashi berkali-kali kehilangan konsentrasinya saat bermain biola. Karena mulai kehilangan konsentrasinya, ia pun memutuskan untuk menyudahi permainan biolanya.

Dan, di sinilah Akashi sekarang. Hanya diam, berdiri sambil tetap menatap lurus kedepan—berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu akal sehatnya itu. Tapi… apa daya, ia tetap tidak bisa menghentikan pikiran nista tersebut.

Akhirnya, Akashi memutuskan untuk berjalan ke arah balkon. Sesampainya di balkon, Akashi mendengar sebuah suara yang tidak asing baginya. Suara yang selalu bisa membuat hatinya tenang, dan, tentunya, suara yang dicintainya. Akashi menundukkan kepalanya ke arah bawah; di sana, ia melihat sebuah kolam renang pribadinya yang cukup besar, dengan seorang wanita yang tengah berenang di tengahnya—wanita itu terlihat sangat gembira berenang saat musim panas. Kata orang-orang, musim panas adalah musim yang paling pas untuk berenang. Eits, jangan salah sangka, wanita itu sudah mengolesi sun block pada kulitnya yang putih (versi orang Asia), jadi ia tidak memperdulikan kulitnya yang terpapar oleh sinar matahari.

Wanita itu terlihat tengah memakai bikini berwarna merah pemberian Akashi—suaminya. Apa dia tidak malu untuk memakai pakaian renang seperti itu? Itu karena… kolam renang itu terletak di dalam kawasan rumah Akashi, dan, toh tidak akan ada orang yang melihatnya yang sedang berenang di sana (kecuali Akashi), karena kolam renang itu memang di desain khusus hanya bisa di lihat dari ruangan pribadi Akashi yang terletak di atas lantai dua.

Wanita itulah, wanita itulah yang membuat pikiran Akashi tidak beres seperti tadi. Saat Akashi sedang bermain biola, ia membayangkan jika biola itu adalah istrinya sendiri. Sungguh, pikiran Akashi sudah tidak beres semenjak kehadiran wanita itu dalam hidupnya. Tapi, itu tidak apa-apa kan? Karena, Akashi hanya bertindak demikian hanya pada satu orang saja, yaitu… istri yang dicintainya.

.

.

.

Akashi berjalan mendekat ke arah seseorang berambut hitam yang tengah berenang di tepi kolam renang itu. Lalu, Akashi mengulurkan tangannya dengan sebuah tatapan hangat. Sosok itu kemudian mulai merasa ada seseorang yang berada di dekatnya, sehingga, ia menyudahi acara renangnya dan beralih menatap Akashi yang tengah menyodorkan tangan kekarnya padanya. Dengan mata lebar yang beririskan warna coklat gelap itu, ia memandang suaminya-Akashi. Di mata Akashi, tatapan itu bagaikan tatapan innocent yang mana membuat pemuda itu gemas sekali saat melihatnya.

"Eh, ternyata Sei-kun..." Wanita itu tertawa pelan, kelopak matanya ikut tertutup saat bibirnya sedikit terbuka karena tertawa. Kemudian, kelopak mata itu kembali terbuka sambil ia melanjutkan, "Apa kau sudah selesai bermain biolanya?" wanita itu bertanya dengan ekspresi wajah yang membuat… Akashi gemas sekali seperti ingin memakannya.

"Tentu, ayo sekarang kita minum teh bersama. Ini waktu yang tepat untuk menghilangkan penat, kan? Ayo…" ajak Akashi sambil tetap menyodorkan tangannya itu pada istrinya.

"Baiklah, tapi tunggu, aku akan berganti pakaian dulu," jawab wanita itu seraya ia meraih tangan besar Akashi. Pemuda berambut merah itu menarik tangan istrinya agar tubuhnya keluar dari air jernih berwarna biru muda itu. Senyuman kecil tidak lepas dari wajah sang emperor saat ia mulai mendengar percikan air yang dihasilkan akibat pergerakan istrinya yang berusaha keluar dari kolam renang.

Kemudian, mereka berjalan bersama masuk ke dalam rumah. Tentunya, setelah wanita itu mengambil bajunya yang tadi tergeletak di dekat kolam renang.

.

.

.

.

.

.

'Kring! Kring!' saat kami sedang berjalan melintasi ruang tengah, aku mendengar bunyi telepon yang sedang berdering. Langsung saja aku menghentikan langkahku, begitu juga dengan Sei-kun yang langsung menghadiahiku sebuah tatapan kecewa. Tatapan itu seakan berkata, "Kenapa berhenti? Aku ingin segera menikmati acara minum teh kita berdua. Sekarang." Namun, aku hanya mencoba tersenyum sambil kemudian berkata, "Sei-kun, aku akan mengangkat telepon dahulu. Mungkin saja itu dari orang tua kita, siapa tahu?"

Dan Sei-kun menganggukkan kepalanya pelan sembari melepaskan tautan jari-jarinya pada jariku. Aku segera berjalan mendekati telepon itu, lalu mengangkat gangganggnya sebelum menyapa, "Moshi-moshi, keluarga Akashi di sini. Bisa saya bantu?"

Dan, benar saja, dari seberang sana aku bisa mendengarkan suara yang teramat familiar di telingaku. Suara itu adalah suara Otou-sannya Sei-kun. Seperti biasa, Otou-san pasti akan menelpon di saat liburan seperti ini.

"Hei, apa kabar, anakku? Bagaimana keadaanmu dan Seijuro? Apa kalian baik-baik saja?" tanya seseorang dari ujung telepon sana. Seulas senyuman terukir di bibirku. Rasanya, senang sekali mendengarkan Otou-san bertanya tentang keadaanku bersama Sei-kun. Itu berarti Otou-san masih memikirkanku dan Sei-kun, ya kan?

"Aku baik-baik saja Otou-san, begitu pula dengan Sei-kun." Aku melirik Sei-kun dengan sekilas. Hanya untuk memastikan apakah ia masih berada di sana—menungguku atau tidak. Dan, Sei-kun menatapku balik.

"Syukurlah kalau begitu." Aku tertawa kecil. "Ehm, boleh aku bicara dengan Seijuro, anakku?" tanya Otou-san.

"Boleh, orangnya sedang berada di belakangku." Kemudian aku menarik tangan Sei-kun dan ia langsung gantian memegang ganggang telepon itu.

"Halo?" Sei-kun mulai mengawali percakapannya dengan Otou-sannya itu. Sedangkan aku, hanya mendengarkan dan melihat ekspresi wajahnya dari dekat sini.

"A—Apa?!" tiba-tiba, ekspresi wajah Sei-kun berubah menjadi ekspresi wajah yang sulit dimengerti. Sedih, bukan; marah, juga bukan; lalu?

"Ada apa, Sei-kun?" tanyaku penasaran sambil menarik-narik pelan bajunya dengan kedua jariku—terlihat seperti anak kecil memang. Aku melakukannya agar ia memberikanku perhatian.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Sei-kun lebih memilih untuk meneruskan aktivitas bertelponnya hingga selesai kemudian mengembalikan ganggang telepon itu pada tempatnya semula. Pada awalnya, setelah bercakap-cakap dengan Otou-san lewat telepon, Sei-kun hanya menatapku dalam diam. Aku sendiri tidak tahu apa yang di pikirkannya. Yang aku tahu, ia tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku dan membawaku menuju lantai dua—di mana kamar kami dan ruang pribadi Sei-kun berada.

Dan… Sei-kun menunutup pintu kamar itu rapat-rapat lalu menguncinya. Apa maksud dari kelakuannya ini? Apa… ia mengira jika aku akan kabur darinya, begitu?

.

.

.

-Akashi Seijuro, seorang pemuda yang tidak sepolos kelihatannya.-

.

.

.

CH 2: /END/

.

.

.

.

.

.


Note:

Hai! Saya kembali dari sekian lamanya vacuum update cerita di sini XD (sekitar 3 bulanan, ya? ._.)

Maafkan saya ya, saya sudah mulai banyak tugas sih ._.

.

Sebagai ucapan minta maaf, ini saya sediakan cerita Akashi x Readernya :')

Semoga suka ya…

Oh iya, cerita ini seperti cerita masa depannya Akashi sama Reader dari fanfic saya yang judulnya 'Bisakah Kau Bermain Untukku?' kalau seandainya mereka sudah menikah. Di chap ini, Akashi sama reader masih belum punya anak ya, lol.

.

Oh iya, chapter minggu depan, tokoh mana yang kalian inginkan untuk muncul? Apakah itu Kise/Midorima/Murasakibara/Aomine atau yang lainnya? :3 :) jangan sungkan-sungkan mem-favorite, me-review, ataupun mengirimi saya PM, ya! ^^ saya gak bakalan gigit kayak Akashi kok XD /Eh /Bercanda /AkashiJanganMarah(?)

Akashi: *menatap author dengan tatapan tajam*

Author: B-baiklah… kita akhiri di sini… sampai jumpa minna… :') saya sudah kangen tidak bercakap-cakap sama kalian(?)

.


.

Bonus:

Keesokkan paginya, wanita yang berstatus sebagai istri Akashi itu terbangun dari tidurnya dengan wajah yang terlihat lelah. Di sampingnya, terlihat Akashi yang sedang tertidur dengan pulasnya.

"Aku penasaran apa yang dibicarakan Sei-kun dengan Ayah kemarin sehingga aku harus berakhir di sini," ucapnya seraya menghembuskan napas pelan.

"Bukannya tidak mau, tapi, aku hanya penasaran saja," sambungnya.

"Kapan-kapan, aku akan bilang ke Ayah jangan bicara yang aneh-aneh lagi pada Sei-kun." Ia terus berbicara sendiri.

"Eh?! Tapi, apa aku berani untuk mengatakannya, ya? Ayahnya Sei-kun kan hampir sama dengan Sei-kun sendiri, ppfffft…" lagi, ia menghembuskan napas pelan.

Tiba-tiba, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya dengan diikuti ucapan, "Bisakah kau tidak bicara sendiri di pagi hari? Aku sedang ingin beristirahat," ucap seseorang dari sisi tempat tidur.

Wanita itu langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dan mendapati Akashi dengan kelopak mata yang setengah terbuka memandangnya dari samping.

"Sei-kun? Aku hanya penasaran dengan—"

Tapi, ia selalu gagal untuk melanjutkan ucapannya ketika Akashi lagi-lagi mendaratkan bibirnya pada bibir wanita itu.

.

.

.

.


Uhmmmm….. nistah! Nistah! Maafkan saya! Di sini saya memberikan bonus karena chapter yang ini terlalu pendek mungkin :'3

Maafkan saya… btw, chap selanjutnya masih dengan Akashi (sebagai ucapan permintaan maafku karena memberikan chap yang ini kependekan/?). Kasihan Akashi dapet jatah pendek di chapter ini /lol. Jadi, saya bikin ulang chapternya :'3 tapi yang versi udah punya anak seperti di chapter 1 punyanya Kuroko(?) :'3

Hope you like it. Aku juga berencana bikin cerita sebelum mereka punya anak di sini :'3