Chapter ini kutulis sebagai ucapan maafku karena sudah menghadirkan chapter Akashi yang terlalu sedikit kemarin(?). Hope you like it! ^^
Btw, di chapter sebelumnya, udah aku kasih 'Bonus' atau 'omake' buat memperpanjang cerita XD (ya walau gak banyak-banyak juga sih(?))
.
.
Hari kelulusan untuk murid siswa kelas satu akan tiba. Anak laki-laki kami satu-satunya, yang bernama Seito terlihat begitu senang sekali menyambutnya. Ia berkali-kali membicarakan tentang hari kelulusannya nanti dan menyuruhku untuk datang bersama Seijuro, suamiku, untuk melihatnya membacakan sebuah karya olehnya di depan panggung—di hadapan seluruh orang tua wali murid dan teman-teman sebayanya.
Aku hanya bisa tersenyum saat ia menarik pelan ujung baju yang aku kenakan sekarang. Saat ini, aku sedang bersama Seito di dapur dengan sebuah mangkuk—aku berniat akan menghidangkan sesuatu untuk dimakan oleh Seito nantinya.
"Mama!" panggilnya dari bawah. aku langsung menolehkan kepala ke bawah dan menemukan dirinya dengan kedua alis mata yang saling bertautan dan bibir yang agak ia kerucutkan—marah. "Papa dan Mama akan datang ke acara perpisahanku, kan?" iris mata merahnya, terlihat sedikit berair. Mungkin ia akan benar-benar kecewa jika seandainya aku dan Seijuro tidak datang pada acara yang sangat ia tunggu-tunggunya itu. Secara, kami pasti selalu punya sesuatu yang membuat kami menjadi sibuk. Terkadang, aku merasa kasihan terhadap Seito. Apa selama ini, ia merasa kesepian karena kami jarang untuk bermain dengannya? Tapi syukurlah, hari ini adalah hari Minggu. Itu berarti hari libur. Aku jadi punya waktu untuk menemaninya di rumah.
Seito adalah anak kami satu-satunya yang berusia 7 tahun dan memiliki warna rambut seperti ayahnya, Seijuro. Walaupun ayahnya terlihat lebih pendiam dari pada Seito, dan juga terlihat—maaf—menakutkan, Seito tidaklah demikian. Bagiku, Seito tidaklah semenakutkan Seijuro (secara dia juga masih kanak-kanak). Malah, ia terlihat begitu imut bagiku. Sekilas, Seito terlihat seperti versi mini dari ayahnya. Banyak orang yang juga bilang demikian. Seperti:
.
"Apa ini anakmu? Dia terlihat mirip sekali dengan Akashi-kun!"
"Wah… kau punya anak yang mirip denganmu, Akashicchi! Hampir tidak ada bedanya kecuali…. Sifatnya! Eh, eh! Maaf! Maaf! Turunkan gunting itu Akashicchi! Tidak baik mempertontonkan sesuatu yang kurang mendidik di hadapan anakmu sendir!"
"Seito, paman membawakanmu sesuatu. Ini adalah jimat keberuntungan agar kamu terhindar dari kesialan. Ngomong-ngomong, wajahmu mirip sekali dengan Akashi, ya? Eh—maksudku... lupakan! Lupakan! Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan! Jangan ge-er! Bukannya aku selalu memperhatikamu!"
"Oh? Seito-chin yang itu? Iya, dia mirip sekali dengan Akashi-chin."
.
Dan itulah berbagai macam komentar dari teman-teman kami. Dengan urutan dari yang pertama sampai yang paling terakhir: Momoi-chan, Kise-kun, Midorima-kun, dan Murasakibara-kun. Komentar yang lainnya, masih banyak hingga aku tidak bisa menyebutkan satu persatu di sini.
Oh iya, kembali ke dunia nyata, saat ini, Seito masih menarik-narik pakaianku dengan harapan agar aku menepati janjiku.
Dan akupun mendeklarasikan sesuatu, "Seito-chan, Mama dan Papa pasti akan datang ke acara perpisahan kelas satu-mu, kok. Jadi, tenang saja," kataku sambil mengelus-elus puncak kepalanya. Berharap ia bisa lebih tenang setelahnya. Namun tiba-tiba, ia malah mengalihkan arah pandangannya seakan-akan ia tidak ingin menjalin kontak mata denganku.
"Mama dan Papa sering berjanji seperti itu padaku, dan juga sering tidak menepati janjinya." Kulihat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Aku sedikit kaget saat melihat Kristal air itu berada di sudut-sudut matanya.
Aku kemudian menjongkokan diriku di hadapannya sehingga tinggi kami sama, lalu memegang kedua sisi wajahnya—lebih tepatnya kedua sisi pipinya—dengan kedua tanganku. Sehingga, kepala Seito yang tadinya menghadap ke samping, kini hanya bisa melihat ke depan—ke arah mataku, "Seito-chan… maafkan Mama karena Mama tidak bisa menepati janji Mama yang dulu. Tapi kali ini, Mama akan berusaha datang bersama Papamu! Mama akan berusaha mengajak Papamu yang super sibuk itu. Jadi, jangan menangis!" ucapku.
Dan sebagai anak yang baik, ia hanya mengangguk pelan. Tidak menjawab dengan kata-kata apapun.
"Hm, kalau begitu, hari ini kau mau sarapan apa, Seito-chan?" tanyaku sambil berusaha berdiri tegak lagi setelah berjongkok barusan.
"Aku mau… sup! Sup tofu seperti yang Papa makan kemarin malam!" matanya tiba-tiba berbinar. Tak lupa dia juga melompat-lompat dengan kedua kaki kecilnya. Arah matanya terus saja mengikuti apapun yang sedang aku lakukan di dapur ini. Berharap ia segera mendapatkan sup tofu miliknya.
"Hei!" teriakku, "Seito-chan tidak menangis lagi! bagus!" ucapku sambil menghadiahkannya sebuah kecupan di dahi.
Ia hanya menyeringai senang dan meminta di gendong sembari aku menyiapkan sarapan pagi untuknya.
.
.
.
Terperangkap di Senyumannya
Sebuah fanfiksi persembahan ImaginationFactory
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Kepemilikanku hanya pada fanfiksi dan OC yang ada di sini
Cover bukan milik saya
Chapter 3: Maafkan Aku, Anak Laki-Lakiku
.
.
.
And, happy reading! ^^
.
.
Setelah sarapan, mandi dan berjalan ke supermarket. Tidak terasa jam rumah sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Aku datang ke rumah sambil membawa dua keranjang penuh dengan makanan dan satu keranjang lagi yang dibawakan oleh Seito. Ia sangat membantu sekali.
Setelah menaruh semua keranjang makanan itu di dapur dan memasukkan beberapa makanan ke dalam kulkas, aku berjalan ke ruang keluarga untuk beristirahat. Seito sudah berada di ruang keluarga duluan ternyata.
Tiba-tiba, aku kembali teringat sesuatu,
.
"…kali ini, Mama akan berusaha datang bersama Papamu! Mama akan berusaha mengajak Papamu yang super sibuk itu. Jadi, jangan menangis!"
.
Kulihat Seito yang sedang sibuk sendiri dengan urusannya itu, terbesit rasa bersalah jika seandainya aku tidak bisa mengabulkan anak semata wayangku ini.
Aku tidak tahu, apakah jadwal dan tugas Seijuro sebagai seorang pimpinan bisa sedikit ditoleransi? Yang aku tahu, jadwal Seijuro selalu padat, tugasnya pun menumpuk. Aku jadi tidak tega menyuruhnya menghindar sebentar dari tugas-tugasnya dan datang ke acara perpisahan anak kami, Seito.
Sekarang, aku dan Seito sedang berada di ruang keluarga. Aku sedang menonton televisi sedangkan Seito—entah apa yang dilakukannya dengan tangan yang berada di atas meja itu. Seito terlihat seperti tengah menggores-goreskan pensil ke sebuah kertas. Aku tebak, ia sedang menggambar.
"Seito, apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku sambil berusaha melihat apa yang dilakukannya dari sofa.
"Hm, coba tebak!" ia segera menutup kertasnya dengan kedua tangan kecilnya, kemudian mendekapnya di dadanya—agar aku tidak bisa mengetahui apa yang sedang ia lakukan.
Aku berusaha meraih kertas itu dari dekapannya. Tapi, nihil hasilnya. Ia malah berlari ke segala arah menghindari diriku yang ingin meraih kertas itu. Aku pun menyerah, "Seito-chan… Mama menyerah," kataku sambil berusaha menstabilkan napasku. Memang ya, anak kecil staminanya cukup banyak juga.
"Karena itulah Mama tidak boleh curang! Mama harus menjawabnya, bukan mengambil kertas ini dariku!" ucapnya dari sekitar 5 meter di hadapanku.
"…." Setelah itu, aku membentuk sebuah pose berfikir dengan jari telunjuk yang kuarahkan ke daguku. "Hm… Mungkin kamu sedang… menulis?" tanyaku.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sebelum menjawab, "salah!"
Aku mencoba berpikir lagi. Apa yang bisa kau perbuat dengan sebuah pensil dan kertas? Jika Seito tidak sedang menulis, pasti ia sedang menggambar! Pasti itu! Aku yakin sekali! "Sedang menggambar!" kataku dengan percaya diri.
"Salah!" ia tetap menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu?" tanyaku penasaran, sudah muak dengan jawaban yang terus-terusan salah.
"Aku tadi sedang mencoret-coret kertas!"
Aku sweatdrop.
Kemudian, ia menunjukkan hasil coret-coretannya di depan wajahku. Aku hanya bisa diam, membatin lebih tepatnya. "Lihatkan! Aku sedang mencoret-coret kertas!" dahiku mengernyit bingung dengan bibir yang otomatis tersenyum akibat kepolosan Seito.
"Itu sih sama saja, Seito-chan…" tanganku tidak bisa diam untuk tidak mengelus-elus puncak kepala anak kecil ini. Aku gemas dengan tingkahnya. Rasanya, ia berhasil membodohiku.
"Tidak! Itu berbeda! Aku tidak merasa kalau aku sedang menggambar, melainkan sedang mencoret-coret kertas!" ia tidak mau kalah, tetap bertahan pada pendiriannya. Kalau sudah begini, yang bisa kulakukan hanyalah mengalah. Sifat Seijuro ternyata sedikit menurun pada anaknya.
"Ngomong-ngomong, gambaranmu bagus sekali, Seito-chan!" pujiku sambil mengambil gambar yang ada di genggamannya.
Dan, sebuah senyuman senanglah yang ia hadiahkan padaku.
.
.
.
Setelah Seito tertidur di ruang keluarga, aku berencana untuk memindahkannya ke tempat tidurnya yang ada di lantai dua—tepat bersebelahan dengan ruang kerja Seijuro.
Kakiku perlahan melangkahi setiap anak tangga ini sambil menggendong tubuh kecil Seito dan berharap agar malaikat kecil kami ini tidak terbangun nantinya.
Aku memeluk Seito lebih erat lagi, Seito pun juga semakin mendekatkan tubuhnya ke dekapanku, mencari kehangatan sepertinya. Aku hanya tersenyum kecil saat melihat wajah tidurnya yang polos dari dekat.
"Wajah, mata, bibir dan rambut, kenapa bisa semirip ini dengan Seijuro-kun?" Pikirku.
Sesampainya di depan pintu kamar tidurnya yang bergambar karakter film animasi favoritnya, aku membuka pintu itu dengan perlahan. Dan melangkahkan kakiku memasuki kamar ini.
Nuansa warna biru pada dinding dengan taburan bintang-bintang di atasnya menghiasi penglihatanku sesaat aku menapakkan kaki di ruangan yang menjadi milik Seito ini. Kamar yang tidak terlalu besar namun bisa dibilang cukup nyaman. Di setiap sisi dindingnya, selalu saja dapat ditemukan sebuah rak buku dengan buku-buku favorit koleksinya.
Oh iya, aku belum menyebutkan bahwa Seito suka sekali membaca. Setiap hari pasti ada saja buku yang ingin ia baca. Sebagai orang tua, aku senang saat mengetahui bahwa Seito senang membaca buku. Ini semua berkat didikan dari ayahnya, Seijuro. Tapi, yang membuatku khawatir adalah: ia jadi tidak memiliki banyak waktu untuk bermain dengan temannya di luar sana. Sebagai anak kecil yang seumurannya, wajar sekali jika ia bermain bersama teman-temannya. Tapi sekarang ini, aku tidak menemukan diriku yang—suka bermain—dulu pada Seito. Cara berpikirnya terlihat berbeda dari anak seumurannya. Sebelumnya, aku tidak menyangka jika Seito lebih memilih bermain di rumah dari pada di luar rumah. Jujur saja, aku khawatir terhadap perkembangan hubungan sosialnya bersama teman-temannya yang ada di luar sana. Tapi, toh, sampai sekarang aku sama sekali tidak menemukan ada sesuatu yang salah pada Seito. Kehidupannya terlihat baik-baik saja walaupun ia memilih jalan yang tidak sama dari teman-temannya.
Langkah kakiku terhenti tepat di depan kasur dengan selimut berwarna biru tebal. Aku menyibakkan selimut itu. Lalu, dengan perlahan, aku menurunkan Seito dari gendonganku dan membaringkannya di atas kasur. Kemudian, kuselimuti tubuh kecil Seito itu.
Mengecup dahinya pelan, aku berkata dengan volume kecil, "selamat tidur siang, pangeran kecilku." Dan ia mengeratkan pelukannya pada guling kecil yang tidak jauh dari sisinya.
.
.
.
Setelahnya, aku berjalan ke ruang kerja Seijuro dengan nampan yang berisi makanan favoritnya, tofu. Tofu, tofu, tofu, tofu dan tofu. Sebenarnya aku agak bosan memasak makanan ini. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari aku berhadapan dengan jenis makanan ini. Tapi, mau bagaimana lagi? ia sangat menyukai jenis makanan ini. Aku tahu kalau ia memakan tofu terus menerus dan tidak diimbangi dengan makanan yang lain, bisa-bisa gizi yang ia terima tidak seimbang! Dan kalau sudah begitu, penyakit mungkin bisa menyerang, kan?! Karena itulah, terkadang, secara diam-diam aku akan menambahkan bahan-bahan lain ke dalam sup tofu yang akan kuhidangkan untuknya, agar gizinya tetap seimbang.
Aku membuka pintu itu secara perlahan, hingga sesosok pria dengan kaos putih terlihat pada penglihatanku, seraya berkata, "Sei-kun… makan siang lah terlebih dahulu," dari ambang pintu sini, aku bisa melihat wajahnya yang berantakan dengan rambut yang mencuat ke segalah arah—oh, baiklah. Walau begitu ia tetap tampan, kok. "Sei-kun, aku memanggilmu…" ulangku. Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dari tumpukan kertas yang ada di hadapannya itu.
Dan sekali lagi, ia tidak menyadari keberadaanku sekarang ini.
Karena kesal, aku berjalan mendekatinya.
Sesampainya di depan mejanya, ia bertanya dengan wajah yang… terlihat lelah?, "Oh? Ada apa?" lihatlah wajahnya itu!
Kuletakkan nampan ini di atas mejanya. Kemudian, tanganku tidak bisa berhenti untuk berusaha merapikan rambut merahnya yang berantakan. "Sei-kun kalau sudah lelah, jangan diteruskan! Beristirahat dan makanlah makan siangmu dulu. Aku tidak ingin kau sakit nantinya." Dan ia membalasku dengan sebuah senyuman.
"Aku senang kau peduli terhadapku, Sayang. Tapi aku tidak bisa meninggalkan tumpukan tugas-tugas ini."
"Lalu, kapan kau akan beristirahat? Bukankah ini hari libur?" tanyaku, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
"Sepuluh menit lagi," jawabnya. Aku menghela napas pelan.
Begini saja ia terlihat sibuk, apa jadinya seandainya aku mengajaknya untuk pergi datang ke acara perpisahannya Seito? Apa dia akan menerimanya?
"Kalau begitu aku akan menyuapimu," ucapku seraya mengambil sendok yang berada di sisi mangkuk dan mengisi sendok itu. Lalu, menyendokkannya ke dalam mangkuk dengan sup tofu beserta nasi. "Buka mulutmu dan bilang, 'aaaaa'!" perintahku.
Jujur saja, terdengar agak aneh memang jika aku memerintahkannya. Tapi, ini demi kebaikannya. Aku tidak bisa membiarkannya sakit nantinya.
Ia menurutiku dan membuka mulutnya perlahan. Aku memasukkan makanan itu ke dalam mulut Seijuro dengan hati-hati.
Setelah itu, aku menarik kembali sendok itu dari dalam mulutnya dan ia mulai mengunyah makanannya dengan perlahan.
"Mmm, seperti biasa, enak sekali," ucapnya. " Kerja yang bagus, my empress," lanjutnya seraya berdiri dari tempat duduknya dan mendorong badanku hingga punggungku menabrak dinding di belakangku.
"Se—Sei-kun?" ucapku terbata-bata. Sendok yang aku pegang pun langsung terjatuh ke lantai.
Ia mengunci tubuhku dengan menggenggam kedua pergelangan tanganku di atas kepalaku.
.
.
.
Wajahnya semakin dekat…
.
.
.
Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat sekarang…
.
.
.
"Papa! Mama!" Teriakan dengan suara yang familiar mengagetkan kami berdua. Seijuro langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan menemukan sesosok manusia mungil yang kuketahui bernama Seito yang tengah memeluk gulingnya sambil berdiri.
Sedangkan diriku? Aku hampir jantungan mendengar teriakan itu. Tapi, dengan cepat aku menormalkan kekagetanku dan bersikap seperti biasa.
Seijuro pun juga begitu, ia langsung melepaskan genggamannya dari pergelangan tanganku.
"Seito? Ada apa?" tanya Seijuro dengan nada tenang seperti biasa. Kuakui memang jika ia cukup pintar untuk menetralkan emosinya dengan cepat.
"Papa!" Seito berlari ke arah ayahnya dengan wajah yang tidak bisa ditebak antara takut atau sedih.
Di sana, Seijuro sudah bersiap memeluk anaknya dengan membuka kedua lengannya lebar-lebar. "Ada apa? kenapa kau berteriak?" tanyanya setelah memberikan ciuman pada kedua pipi Seito.
"Tadi aku sedang bermimpi indah sekali, Pa. Bermimpi jika Papa dan Mama akan menontonku di depan panggung saat perpisahan kelas nanti. Tapi, tiba-tiba, aku dibangunkan oleh sesuatu! Aku merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di tanganku! Dan… Papa tahu apakah itu? seekor kecoaaaaaa."
Aku yang melihat aksi antara ayah dan anak itu, hanya bisa sweatdrop dari sini. Mengetahui Seito berteriak begitu kencangnya hanya karena seekor kecoa membuatku sangat sweatdrop. Sangat.
Sebetulnya, aku juga menyimpan ketakutan terhadap kecoa, sih. Tapi, aku ingin terlihat tidak payah saja di depan Seito.
"Aku benci kecoa itu, Pa! aku ingin terus berada dalam mimpi bahagia itu! aku sebenarnya masih ingin berlama-lama dalam mimpi itu!" ucap Seito setengah berteriak sambil memandang bola mata heterokrom milik Seijuro.
Aku terkekeh kecil mendengarkan curhatan dari Seito itu.
"Anak Papa yang paling perkasa tidak boleh takut dengan makhluk lemah seperti itu…" ucap Seijuro sambil mencubit pelan pipi anaknya.
Mungkin pemandangan yang imut ini hanya bisa ditonton oleh diriku seorang. Karena apa? tentu saja karena aku adalah istrinya. Seijuro hanya memperlihatkan sisi manisnya seperti sekarang ini hanya pada diriku dan Seito. Mungkin, teman-teman Seijuro tidak akan mudah percaya jika Seijuro memiliki sifat penyayang seperti ini.
"…" bocah kecil berambut merah yang ada di dekapan Seijuro, hanya bisa memandang ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Papa bisa menemaniku tidur siang?" tanya Seito. Seijuro langsung menurunkan Seito dari gendongannya.
"Maafkan aku Seito. Lain kali saja. Papa sedang sibuk mengerjakan tugas ini," jawab Seijuro dengan ekspresi wajah berubah menjadi datar. Entah apa yang tercermin dari ekspresi datar itu. Aku sendiri tidak bisa mengartikan ekspresinya saat ini.
Kaki Seito yang sekarang telah menapak di atas lantai, ia langkahkan saja menjauh dari ayahnya dan berjalan pelan menuju kamarnya. Aku yang melihat kejadian ini langsung mengikuti kemana arah Seito berjalan dan mengajaknya untuk tidur siang bersama agar ia tidak bertambah sedih.
"Mama, aku ingin bermain bersama Papa lain waktu," ucapnya sebelum ia tertidur di dalam dekapanku.
.
.
.
Tanpa sepengetahuan seorang wanita yang sekarang sedang tertidur bersama seorang putranya dalam dekapannya itu, seorang pria memperhatikannya jauh dari balik pintu kayu itu. Pada tatapan matanya, tersirat rasa bersalah yang sangat besar pada keluarga kecilnya. Ia tahu, jika ia harus melakukan yang terbaik demi perusahaannya dan karirnya. Tapi, ia juga menyadari sesuatu, bahwa: jika mengejar sesuatu yang diharapkan, kita harus berani merelakan sesuatu yang lain. Terkadang, ia cukup frustasi saat menyadari akan hal itu. Sebenarnya, ia ingin bisa memiliki waktu istirahat yang lebih banyak agar ia dapat bermain bersama putranya. Namun, perusahaan yang ia pimpin tidak mengizinkannya.
Lalu, ia menutup pelan pintu yang terbuka sedikit itu. Berharap agar kedua malaikatnya (istri dan anaknya), tidak terbangun karena ulah suara yang ditimbulkan oleh pintu yang sedang ditutup.
.
.
.
Chapter 3: Maafkan Aku, Anak Laki-Lakiku
/End or to be continue?/
.
.
Hai saya kembali lagi. Chapter ini adalah chapter permintaan maaf saya karena sudah membuat chapter Akashi yang sebelumnya menjadi chapter yang pendek /Ea. Maafkan saya ya! X'D
Btw, sebenarnya cerita yang chapter Akashi ini masih panjang (alias masih ada terusannya), tapi, tergantung reader mau chapter depan seperti apa. Kalian mau chapter selanjutnya itu terusannya chapter ini atau lanjut ke chapter tokoh lain di Kurobas dulu?
Saya tunggu responnya ya, reader yang tersayang(?). Ea LOL X'D
Kalau chapter ini mau di-END sampai sini, endingnya jadi sad! soalnya Seito gak dapet apa yang dia inginkan(?) X'D eaaaa. Kasihan Seito(?) TAT /lolIniApa
