Title : Unusual Feeling

Main Cast : Sehun x Luhan (BxB)

Other Cast : Kyungsoo, Jongin.

Genre : Fantasy, Romance

Rating : M (Mature) take your own risk if you below 18yo.

by. Whiteyes, 2015

Summary : Luhan kehilangan akal saat melihat seorang yang baru saja ia lihat seumur hidupnya, yang anehnya, membuat hormonnya berteriak senang dan memerintah sarafnya untuk segera menghampiri orang itu.

Warning : Please kindly leave this story if you just want to throw the hatred. No bash, no hate, no harmful words! I already warned you.

.

.

.

.

CHAPTER III

.

.

.

.

.

'Apakah kau sudah menemukan jawabannya' Luhan menoleh kearah datangnya suara, lagi lagi ia menemukan refleksinya sedang memandangnya dengan ekspresi yang datar.

'Huh? Apa maksudmu?' Ujar Luhan bingung

'Dirimu Luhan, dirimu' refleksi tersebut terdengar mendesis seakan tidak mendapat jawaban yang ia inginkan

'Aku tidak mengerti apa maksudmu' jawab Luhan, jujur saja, untuk apa ia mencaritau sesuatu tentang dirinya sendiri?

'Apa kau tidak sadar bahwa selama ini orang tuamu sangat tidak memperdulikanmu? Mereka menetap di Amerika? Kau yakin? Apa kau ingat bagaimana wajah mereka?' sang refleksi mencerca Luhan dengan tidak sabar.

'Tentu saja, aku mempunyai foto mereka, dan mereka tetap menghubungiku setiap bulan' kata Luhan mantap.

'Tentu saja para dewan sialan itu akan menutupinya.' Balas sang refleksi mendecih saat mengetahui bahwa semuanya telah tertutupi dengan rapi. Sampai ia tidak bisa memiliki celah untuk memulainya. Keadaan hening sesaat. Sang refleksi seakan memikirkan apa yang akan ia lakukan sedangkan Luhan terdiam karena ia tidak mengerti apa yang dimaksud si refleksi.

'Luhan, apa warna kesukaanmu?' tanya sang refleksi tiba-tiba, Luhan menoleh, menatap lekat sang refleksi yang terlihat jelas dalam cermin.

'Biru' kata Luhan singkat.

'Setauku warna kesukaanmu adalah merah' kata sang refleksi. Ia memandang lekat kearah luhan dan tersenyum manis, lalu dengan cepat sang refleksi menggigit lengannya dan keluarlah darah dari lengan si refleksi.

'Lihat Luhan! Bukankah kau suka warna merah? Merah seperti ini, kan?' kata sang refleksi sambil menunjukkan lengannya yang terdapat aliran darah yang keluar. Luhan seakan terhipnotis dan terus melihat bagaimana darah tersebut mengalir dan menetes dan lengan sang refleksi. Sang refleksi tersenyum menang saat mengetahui Luhan telah masuk kedalam perangkapnya.

.

.

.

'Bagus, Luhan! Merah seperti darah, karena itu adalah jati dirimu'

.

.

.

Esoknya, semua terasa lebih baik bagi Luhan, kecuali bagian dimana ia memikirkan mimpi anehnya. Luhan sebisa mungkin melakukan kontak fisik maupun komunikasi yang minim dengan Sehun, dan Luhan senang kali ini Kyungsoo lebih meluangkan waktunya untuk Luhan, bahkan Jongin, kekasih Kyungsoo, datang ke kelas Luhan. Namun anehnya, semenjak tadi ia merasa diperhatikan oleh seseorang. Tapi ia tak tau siapa. Kandidat pertamanya entah kenapa tercantum Sehun. Namun tidak, Sehun bahkan sedang memulai proses interaksi sosial dengan teman-temannya. Luhan melihat Sehun, Mino dan Bobby keluar bersama saat jam istirahat datang.

"Kyung, kau sahabatku kan?" tanya Luhan tiba-tiba yang sukses dihadiahi tatapan aneh oleh Kyungsoo dan Jongin.

"Kau sakit, Lu? Kau terbentur? Kau amnesia?" jawab Kyungsoo mendramatisir, namun Luhan menganggapnya hanya angin lalu.

"Apa warna kesukaanku?" lanjut Luhan

"Merah" kata Kyungsoo dengan cueknya lalu kembali mengobrol ria dengan Jongin, kekasih hatinya itu. Luhan mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Kyungsoo. Ia yakin semua orang di sekolah tau bahwa ia menyukai warna biru. Lihat tasnya yang berwarna biru, dompetnya, peralatan tulis. Okey mungkin terlihat kekanakkan but who cares as long Luhan loves Blue.

"Kyungsoo, apakah kau mempunyai kenalan seorang psikiater?" tanya Luhan yang sukses menghentikan acara 'mari-menggelitik-sesama' ala Jongin dan Kyungsoo.

"Huh? Kau punya masalah?" tanya Kyungsoo

"tidak, hanya untuk jaga-jaga jika nanti aku merasa tertekan saat musim ujian" Balas Luhan. Kyungsoo mengernyit tak percaya akan jawaban Luhan, ada sesuatu yang sedang disembunyikan Luhan. Jika Luhan tidak mau memberitahu, terpaksa nanti ia akan mencaritaunya sendiri.

"akan ku-emailkan padamu nanti, handphoneku ketinggalan" kata Kyungsoo.

"Terima Kasih, Kyungie" kata Luhan, lalu Luhan melanjutkan acara membaca bukunya. Tidak, Luhan bukan seorang kutu buku yang memakai kacamata tebal. Ia hanya menyukai bagaimana buku menjadi objek yang membuatnya tenang dan tidak memikirkan masalah lain.

.

.

.

.

.

'Hai, kita bertemu lagi' kata sang refleksi pada Luhan.

'Mengapa kau selalu muncul dalam mimpiku?' kata Luhan dengan tingkat penasaran yang tinggi.

'Karena kau butuh bantuan, Luhannie' balas sang refleksi, Luhan menggerutu, ia merasa ia baik-baik saja sehingga ia tak butuh bantuan, mengapa sang refleksi seakan-akan berbicara jika apa yang Luhan lakukan semuanya adalah salah.

'Aku punya hadiah untukmu' ujar sang refleksi tiba-tiba. Luhan menatap sang refleksi dengan wajah bingung sebelum sang refleksi menyuruh Luhan untuk menoleh kesisi kanannya, mata Luhan terbelalak dengan apa yang ia lihat disisi kanannya. Hal yang selama ini berusaha ia lupakan dan ia hindari, karena ia mau menjadi orang yang normal.

Oh Sehun

Sehun tersenyum manis pada Luhan, yang sialnya- membuat sekujur otot dan saraf Luhan menjadi lemas. Sehun meraih dagu Luhan dan membawa wajah mereka mendekat, sehingga mereka bisa merasakan aroma mereka masing-masing. Bau kopi. Bau Sehun seperti bau kopi yang memabukkan dan membuat orang yang mencium aromanya akan kecanduan, seperti Luhan sekarang ini.

Tanpa sadar bibir Sehun telah menempel pada bibir Luhan, Luhan semakin terbelalak saat merasakan betapa mabuknya ia hanya karena bibir tipis nan menggoda milik Sehun menempel pada bibirnya. Tiba-tiba ia merasa panas dan entah dorongan darimana, ia mulai melumat bibir Sehun dengan liar, layaknya professional kisser. Sehun membalas lumatan Luhan dan menyodorkan lidahnya kedalam mulut Luhan yang langsung disambut baik oleh Luhan. Luhan mendesah pelan saat lidah Sehun menari dalam mulutnya.

Sial.

Ini terlalu menggairahkan untuk ukuran ciuman, teriak hati Luhan, namun naluri Luhan menguasainya sehingga ia tidak bisa melakukan apa yang diteriakkan dari hatinya. Tangan Luhan merambat kebelakang punggung Sehun, lalu terdampar pada tengkuk namja mempesona itu. Ciuman mereka semakin dalam bahkan Luhan sudah tidak memikirkan bagaimana caranya bernafas. Ciuman mereka terlepas, dan Lidah Sehun menari disekitar mulut Luhan, lalu lari ketelinga Luhan dan menjilatnya serta mengecup mesra yang menyebabkan rintihan dari Luhan. Luhan menarik wajah Sehun dan memulai ciuman panas mereka. Air liur mereka bercampur menjadi satu jatuh ke dagu Luhan dan menetes ke leher Luhan. Tangan Sehun meraba nipple Luhan dari luar pakaiannya, jarinya menari indah disekitar nipplenya seraya wajahnya tetap bermain pada area wajah Luhan, yang sekarang lidahnya menuju leher Luhan yang sangat menggoda. Luhan mendesah tak karuan saat ia merasa bahwa rangsangan pada dadanya kurang. Ia ingin lagi, ia ingin lebih, ia ingin kenikmatannya, ia ingin kepuasan tertingginya saat ini juga, ia ingin-

'Lihat bagaimana kau berani, agresif dan sangat sensual, Luhannie' kata-kata sang refleksi sukses mengacaukan semuanya, Luhan seakan tersadar dan tidak menemukan Sehun dimanapun. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia telah berbaring dilantai dengan posisi pasrah. Dengan cepat ia menoleh kearah sang refleksi dan menatap tajam kearahnya seakan meminta penjelasan.

'Itulah Luhan yang kukenal, Xi Luhan yang kukenal. Bukan seorang yang lemah dan hanya bisa menghindar' ejek sang refleksi yang membuat Luhan mengepalkan tangannya karena malu dan marah yang menjadi satu.

'Bangunlah Luhan, bangunlah kedirimu yang sebenarnya' kata sang refleksi pada Luhan, kata-kata itu seakan terngiang di telinga Luhan.

'siapa aku? Kenapa semua ini semakin rumit? Haruskah aku bangun?' – pikiran-pikiran itu bermunculan di pikirannya.

'Aku bisa membantumu' tawar sang refleksi dengan senyuman manis yang terkembang diwajahnya. Luhan menatap tangan sang refleksi yang menyentuh cermin tersebut. Dengan ragu, ia menggerakkan tangannya kearah cermin, bertemu dengan telunjuk sang refleksi seakan mereka sedang bersentuhan.

Tanpa disadari Luhan, sang refleksi menyeringai melihat tangan mereka yang nyaris bersentuhan tersebut.

.

.

.

.

Sehun melangkahkan kakinya kedalam rumah bergaya eropa kuno itu, langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang tengah duduk dengan nyamannya di ruang tamu. Perlahan ia mendekati sofa dan duduk dihadapan seorang namja berambut pirang yang sedang menatapnya dengan pandangan yang serius.

"Aku bisa merasakan aura dan energinya semakin muncul ke permukaan" jelas namja berambut pirang itu. Sehun menggertakkan giginya, tanda ia tak senang akan kabar ini.

"aku sudah dengar dari Kyungsoo bahwa kau memancarkan energimu berlebihan saat bertemu dengannya, itu yang memacunya untuk muncul"- lanjut namja berambut pirang itu.

"apakah buruk jika ia bebas nanti?" tanya Sehun dengan hati-hati.

"Kurasa ia akan marah. Dan yang kutakutkan hal seperti dulu akan terjadi lagi, dan aku mau kau terus bersamanya. Hanya kau yang bisa menyelamatkannya jika nanti ia tidak terkendali, kau paham tentang hal ini, kan?" – sehun berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mengendalikan seseorang yang bahkan lebih kuat darinya. Ia tak yakin dengan ucapan namja berambut pirang itu, namun, apapun akan Sehun lakukan demi dirinya. Walau ia harus mengorbankan dirinya sendiri.

"Aku mengerti Kris Hyung, terima kasih" kata Sehun singkat.

"aku akan terus memantaunya, untuk kedepannya, jika kau tak ada urusan dengannya, jangan dekati dia. Karena kau orang yang paling berpengaruh dan itu bisa menyebabkan ia tiba-tiba muncul", tambah Kris seraya ia bangkit, dan meninggalkan Sehun yang merenung memikirkan perkataan mereka sendirian diruang tamu itu

.

.

.

.

Kyungsoo menatap Luhan dengan cemas, sejak tadi Luhan hanya terdiam dan terlihat tidak fokus, bahkan wajahnya terlihat lebih pucat. Tidak ada rona merah di wajahnya.

"Lu, kau sakit?" tanya Kyungsoo, namun anehnya Luhan tetap tidak bergeming dan hanya menatap kedepan dengan pandangan kosong.

"Lu?" panggil Kyungsoo sekali lagi dan respon yang didapatkan oleh Kyungsoo pun sama seperti yang sebelumnya. Kyungsoo memegang dahi Luhan dan terkejut saat merasakan suhu tubuh Luhan sangat tinggi. Kyungsoo mengguncang bahu Luhan dan sukses membuat Luhan tersadar akan lamunannya.

"Lu! Ya Tuhan! Badamu panas! Kau ke ruang kesehatan saja! Sana istirahat, lihat wajahmu seperti orang yang sedang sekarat" kata Kyungsoo sambil menyeret Luhan. Luhan yang memang merasa lemas akhirnya hanya menurut pada Kyungsoo. Ia dipapah oleh Kyungsoo ke ruang kesehatan. Untungnya ruang kesehatan sedang sepi jadi ia mendapatkan ranjang untuk berbaring. Setelah meminta beberapa obat dari dokter penjaga, Kyungsoo menghampiri Luhan dan memaksanya untuk meminum obat supaya Luhan bisa beristirahat dengan baik nantinya. Dan efek obat itu memang luar biasa, kurang dari 15 menit, Luhan merasakan ngantuk yang luar biasa dan akhirnya ia pun terlelap.

.

.

.

Luhan terbangun setelah ia memiliki tidur yang sangat nyenyak. Ia membuka matanya dan menemukan Kyungsoo duduk disamping ranjangnya, ditemani oleh Jongin, tentu saja. Kyungsoo tersenyum dan mengusap rambut Luhan yang lembut itu.

"Sudah mendingan? Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau sakit" kata Kyungsoo yang disambut dengan tawa Luhan.

"Ya, terasa lebih baik. Terima kasih" kata Luhan sopan.

Pintu Ruang Kesehatan terbuka dan terlihat beberapa siswa sedang membawa seorang siswi yang terkulai lemas dengan darah di pelipisnya

"Dia jatuh dari tangga" jelas Myungsoo singkat pada dokter penjaga yang secara gesit menangani siswi tersebut.

Luhan seakan terpaku dengan warna merah yang mengalir dari pelipis siswi tersebut.

'Lihat Luhan! Bukankah kau suka warna merah? Merah seperti ini, kan?'

Potongan mimpinya tiba tiba muncul dalam kepala Luhan yang membuat Luhan meringis namun tetap memandangi objek merah yang terus mengalir pada pelipis siswi tersebut.

"Apa warna kesukaanku?" "Merah"

Kyungsoo bingung melihat Luhan gelisah, ia mencoba melihat arah pandangan Luhan dan ia membelalakkan matanya saat ia mengetahui bahwa Luhan melihat darah yang mengalir dari pelipis siswi itu.

"Lu, kau tak apa?" Tanya Kyungsoo, namun Luhan tidak menanggapinya. Ia terlalu fokus pada darah yang ada pada siswi tersebut.

"Luhan! Hey Luhan!" – Kyungsoo berusaha untuk menyadarkan Luhan namun itu terlihat sia-sia, akhirnya ia menolehkan wajah Luhan secara paksa agar menatap Kyungsoo. Mata Kyungsoo terbelalak dan mulutnya terbuka karena terkejut saat ia melihat Luhan

.

.

.

.

.

Karena mata Luhan memancarkan warna merah, walaupun itu hanya sekilas.

.

.

.

.

TBC

Notes : Terima Kasih untuk yang sudah membaca dan yang sudah meninggalkan review. Dan akan kubalas review kalian nanti ya. :)