Sehun x Luhan (BxB)
Other Cast : Kyungsoo, Jongin.
Genre : Fantasy, Romance
Rating : M (Mature) take your own risk if you below 18yo.
by: Whiteyes, 2015
Summary : Luhan kehilangan akal saat melihat seorang yang baru saja ia lihat seumur hidupnya, yang anehnya, membuat hormonnya berteriak senang dan memerintah sarafnya untuk segera menghampiri orang itu.
Warning : Please kindly leave this story if you just want to throw the hatred. No bash, no hate, no harmful words! I already warned you.
.
.
.
.
CHAPTER IV
.
.
.
.
.
Kris mengusap wajahnya kasar, ia menghela nafasnya yang terdengar sangat berat seakan ia menanggung beban yang sedemikian banyak. Bukan beban, tapi resiko yang akan timbul, dan pastinya timbul nanti. Saat ia telah muncul. Kris sangat terkejut dengan perkembangan dirinya yang sangat cepat. Aura yang dikeluarkan olehnya semakin lama semakin kuat. Dan ini tidak bagus. Jika ia muncul dengan sendirinya, tentunya ia akan murka mengingat kejadian yang telah menimpanya lima tahun silam. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus melakukannya sekarang? Namun, Kris takut orang tersebut belum cukup kuat untuk melawan, melawan sisi lainnya sendiri. Matanya melirik kearah bingkai foto yang menampilkan dirinya, seorang lelaki manis berambut cokelat caramel yang tingginya tidak lebih darinya dan seorang lelaki lainnya namun dengan lesung pipi yang membuat senyumannya sangat menawan. Perlahan, ia mengambil bingkai foto tersebut dan menatapnya dalam diam. Seakan-akan merasakan kehadiran dua orang yang berada dalam bingkai tersebut.
Sebuah lengan ramping menelusup dari belakang, memeluknya dan tampak seorang lelaki menyandarkan kepalanya diatas bahu Kris, berusaha mencari posisi nyaman untuknya.
"Memikirkan adikmu, eum?", Ujar lelaki itu sambil melihat bingkai foto yang sedang dipegang oleh Kris.
"Tao, kau datang?" lirih Kris sambil menoleh kearah lelaki yang dengan nyamannya memandang kearah Kris.
"Ya, aku merindukanmu" kata Tao. Mereka berdua terdiam namun ruangan itu terkesan penuh dengan hawa kerinduan yang amat dalam.
"Kau masih belum mau menceritakanku tentang apa yang terjadi?" Tanya Tao sambil melepaskan pelukannya dan berjalan kedepan Kris. Ia melihat wajah Kris yang terlihat amat sedih.
"Aku takut kau akan membenciku" jawab Kris.
"Kau tidak mempercayaiku?" tanya Tao dengan ekspresi sedih saat mengetahui Kris masih enggan memberitahunya.
"aku….aku masih belum siap." Lirih Kris. Tao menyentuh wajah Kris, berharap sentuhannya bisa menghapus rasa sedih dan bersalah yang Kris miliki.
Walau Tao tau bahwa itu mustahil.
.
.
.
Alunan alat musik instrumental piano terdengar disebuah ruangan. Tampak seorang namja memainkan alat musik tersebut dengan mata yang terpejam, tangannya dengan lincah menari diatas tuts-tuts piano, seakan-akan jarinya tau dimana selanjutnya jari-jarinya akan berlabuh. Suasana dalam ruangan itu sangat kental atas sarat emosi.
Gerakan tangannya berhenti saat ia merasakan kehadiran seseorang dalam ruangan yang tadinya terdapat lelaki itu seorang diri saja.
"Hyung…" lirih lelaki yang berada dihadapan piano itu tanpa menoleh kebelakang. Ia tau siapa yang datang menginterupsi permainannya.
"aku merindukan semuanya" jawab lelaki yang dipanggil 'hyung' itu oleh Sehun, lelaki yang ternyata sedari tadi memainkan pianonya.
"bagaimana keadaan Yixing hyung? Apa ada kemajuan, hyung?" tanya Sehun balik
"Ia masih tidak mau berbicara, dan tidak mau keluar. Ia masih shock. Walau sudah 5 tahun berlalu. Ia…masih membutuhkan waktu, kurasa" kata Junmyeon. Sehun menghela nafas kasar dan berbalik menatap Junmyeon dengan perasaan bersalah.
"Aku tak apa. Jangan meminta maaf." Potong Junmyeon seakan tau apa yang akan Sehun katakan.
"Aku…..sangat bodoh. Sangat bodoh waktu itu. Jika saja aku tetap berada disisinya, jika saja aku selalu bersamanya, pasti hal ini tidak akan ter-"
"Semua bukan salahmu Sehunnie, bukan salahmu jika lima tahun lalu ia kehilangan dirinya dan sisi gelapnya tiba-tiba muncul. Dan siapa yang tau sisi gelap itu akan menguasainya" potong Junmyeon sebelum Sehun menyalahkan dirinya lebih dalam.
"Kehilangan seseorang yang merupakan sandarannya selama kau pergi merupakan hal yang berat. Ia begitu terpuruk saat kau memutuskan untuk pergi saat itu. Walau ia tau dengan jelas apa alasanmu. Dan tak ada yang menyadari seburuk apa keadaannya sampai sisi gelapnya muncul. Dan saat ia menemukan secercah cahaya agar bangkit, ia kehilangan cahayanya lagi. Tidak ada yang lebih buruk dari jatuh kedalam keterpurukkan untuk kedua kalinya" kata Junmyeon berusaha memberikan perhatian terhadap Sehun.
"Dan aku bisa tau seberapa berat beban hidupnya sebelum ia bertemu denganmu. Kakak-kakaknya selalu sibuk tanpa memperhatikannya. Dan ia tak pernah berinteraksi kedunia luar, aku bisa mengerti bagaimana ia menjadi ketergantungan pada orang yang sedikit saja memperhatikannya" lanjut Junmyeon. Ia melihat kearah Sehun dan menggapai Sehun lalu memeluknya untuk memberi kenyamanan pada Sehun. Ia tau bagaimana sampai saat ini Sehun masih sangat menyalahkan dirinya sendiri.
"SEHUN!" pelukan Junmyeon dan Sehun terlepas dan mereka menatap Jongin, yang datang bersama Kyungsoo. Nafas mereka terengah-engah dan wajah mereka terlihat serius seakan ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan.
"ada apa?" jawab Junmyeon berusaha untuk tenang.
"Luhan! Tadi…matanya…melihat….darah….aku melihatnya! Ia dan matanya, ak…aku melihatnya…matanya…memancarkan…oh Tuhan" kata Kyungsoo. Kyungsoo terlalu panik dan takut dengan apa yang ia lihat hari ini. Penjelasannya tidak beraturan namun sepertinya Junmyeon dan Sehun tau apa yang terjadi.
"Apakah…apakah itu dirinya sendiri?" tanya Sehun hati-hati.
"Aku tak tau Sehun! Ia seperti kosong." Jelas Kyungsoo. Ia bersyukur saat ia menatap Luhan, Luhan langsung tersadar dan tidak mengingat kejadian yang hanya berlangsung beberapa detik itu.
"lalu sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Junmyeon,
"Ia baik-baik saja. Aku dan Kyungsoo telah mengantarkannya ke flatnya" kata Jongin yang sedari tadi hanya diam.
"waktunya tidak akan lama lagi," bisik Junmyeon namun masih dapat didengar oleh mereka semua.
"Kris! Kau sudah memberitau Kris?!" tanya Sehun tidak lama lagi.
"tidak perlu, aku sudah mendengarnya" sahut Kris dari sembari ia masuk kedalam ruangan tersebut.
"Maafkan aku, tapi telah kuputuskan untuk membangunkannya lebih cepat, aku takut jika ia bangun, yang muncul bukanlah dirinya yang muncul, tetapi dirinya yang lain" Raut wajah Kris terlihat serius, ia seperti telah memikirkan hal ini dengan matang.
"Apa akan baik-baik saja?" tanya Junmyeon setelah mendengar keputusan Kris.
"Aku tak bisa menjaminnya, namun, saat ia terbangun nanti, kuharap kalian semua ada disisinya. Agar dirinya yang lain tidak memiliki celah untuk muncul" jelas Kris.
Ya, mereka tidak melakukan apa-apa. Dan resiko yang paling besar adalah jika dirinya yang lain itu muncul. Kejadian 5 tahun lalu telah menjelaskan bagaimana mengerikannya ia dan mereka tentu tidak mau mengambil resiko yang besar.
"Urusan dewan sudah kuurus. Lagipula 5 tahun telah berlalu dan dewan tidak bisa bertindak lagi karena masa hukumannya telah usai" tambah Kris.
"Namun, dewan telah memperingatkanku, aku tidak bisa melakukan apapun jika ia berbuat lebih jauh seperti 5 tahun yang lalu" lanjut Kris sambil tersenyum pilu.
"apa..memperingatkan apa?" tanya Sehun, entah mengapa Sehun memiliki perasaan tak enak mengenai para dewan vampire tersebut. Cih, ia tau para dewan hanya rakus pada kekuasaan. Omong-kosong dalam propaganda mereka untuk menjaga perdamaian. Sehun sangat tak menyukai para dewan vampire tersebut dari dulu hingga sekarang.
"mereka… akan membunuhnya." Lirih Kris yang sukses membuat mereka semua terbisu.
.
.
.
"Hm…sudah saatnya ya?" terlihat seorang wanita mengayun-ayunkan kakinya dengan nyamannya. Padahal, ia berada disebuah gedung tertinggi yang ada dikompleks itu.
Wanita itu tersenyum manis, menolehkan wajahnya kesampingnya dan memperhatikan wajah seorang lelaki dengan raut datar, namun wanita itu tau jika lelaki itu memiliki kemarahan yang amat besar yang tersimpan.
"eum, kurasa waktunya sudah dekat" kata lelaki itu.
Wanita itu menolehkan wajahnya kedepan sambil menatap keindahan kota Seoul yang sangat indah saat malam hari itu. Wanita itu tersenyum manis, sangat manis sekali. Namun terlihat ada suatu maksud dibalik senyumannya itu.
"BOOM!"
.
.
.
TBC
Notes : Maafkan aku, aku sudah berusaha untuk memperpanjang setiap chapter pada cerita ini. Namun, semakin panjang aku berusaha menulis, semakin gampang ide yang telah hinggap dikepalaku lenyap. Dan maaf atas keterlambatan update.
aku ingin bertanya, apakah fanfic ini masih ada yang berminat? Maksudku, saat aku mengcheck traffic status dari fanfic ini, ternyata yang review sedikit sekali. Terima kasih kepada ribuan orang telah membaca. Namun dari ribuan readers, kenapa review yang ada sedikit? Apakah fanfic ini isn't worth to continue? jika memang respon yang kudapatkan sedikit. Mungkin chapter depan akan kuhentikan.
Dan terima kasih banyak bagi yang meninggalkan review. I really appreciate it. See you in the next chapter.
