Sehun x Luhan (BxB)

Other Cast : Kyungsoo, Jongin.

Genre : Fantasy, Romance

Rating : M (Mature) take your own risk if you below 18yo.

by: Whiteyes, 2015

Summary : Luhan kehilangan akal saat melihat seorang yang baru saja ia lihat seumur hidupnya, yang anehnya, membuat hormonnya berteriak senang dan memerintah sarafnya untuk segera menghampiri orang itu.

Warning : Please kindly leave this story if you just want to throw the hatred. No bash, no hate, no harmful words! I already warned you.

Oiya sebelumnya akan aku jelaskan dulu ya, aku tau banyak yang bingung akan jalan cerita fanfic ini. Jadi Luhan itu sebenarnya vampire namun insting vampirenya disegel karena kejadian 5 tahun lalu. Dan ya, bisa dibilang disini Luhan itu alter ego. Jadi dia membuat kepribadian lain tanpa ia sadari saat ia lagi terpuruk.

Maaf jika cerita ini begitu membingungkan.

.

.

.

.

CHAPTER IV

.

.

.

.

.

"Sekian dari pelajaran hari ini, belajarlah supaya ujian kalian mendapatkan yang terbaik, selamat sore"

Ucapan Mr. Kim disambut baik oleh anak-anak yang ada dikelas itu. Luhan menghela nafas pelan dan mulai membereskan bukunya. Murid lainnya dengan semangat membawa tas mereka dan keluar dari kelas untuk memikirkan acara akhir minggu mereka sebelum pekan ujian yang membosankan itu berlangsung.

Jongin terlihat didepan pintu kelas itu disambut oleh senyuman Kyungsoo yang masih berada di mejanya dan Luhan. Kyungsoo membalas lambaian tangan Jongin pelan dan melangkah menghampiri Jongin.

"Kutunggu kau diparkiran ya Lu," pesan Kyungsoo sebelum benar-benar meninggalkan Luhan demi Jongin. Luhan hanya mendengus singkat sambil memastikan tidak ada yang tertinggal dalam kelas.

"Luhan…" panggil seseorang yang membuat Luhan berpaling kearahnya

"Ah…Kim Songsaenim? Anda belum keluar?" Luhan begitu terkejut melihat Kim songsaenim masih berada dalam kelas. Biasanya ia akan langsung keluar kelas setelah kelas selesai.

"bisakah kau keruanganku? Ada yang perlu kukatakan padamu.." kata Kim songsaenim sendari menatap Luhan dengan tatapan yang…..dalam?

Luhan tersenyum dan mengatakan 'tentu' dengan sopan sekali. Ia pun berjalan keruangan Kim songsaenim bersama dengan walikelasnya tersebut dalam hening. Kim songsaenim membuka pintu ruangannya dan tersenyum seolah mempersilahkan Luhan untuk masuk. Luhan pun masuk kedalam ruangan Kim songsaenim dan terlonjak kaget saat merasakan bunyi pintu tertutup dan dekapan yang erat pada tubuhnya

"bogosippeo Luhannie…neomu bogosippeo…" lirih Kim songsaenim sambil memeluk erat Luhan dan melirihkan kalimat yang sangat lirih.

"song..songsaen..im….apa yang kau lakukan?" ujar Luhan terbata karena ia terlalu kaget akan situasi ini. Walikelasnya yang hampir 6 bulan mengajarnya tiba-tiba memeluknya dengan erat dan anehnya sesuatu yang hangat merasuki hati Luhan, membuat Luhan ingin menangis dan tanpa sadar membalas pelukan dari gurunya tersebut.

"Luhan"

sebuah suara lain memanggil Luhan, seorang pria berbadan tegak dengan wajah yang tampan luar biasa muncul dari pojok ruangan yang gelap. Ia melangkah kearah Luhan dan Kim songsaenim dan mengelus kepala Luhan dengan lembut. Seakan menyalurkan perasaan rindunya yang sangat membuncah pada Luhan.

"maafkan eomma nak…maafkan eomma…" lirih Kim songsaenim yang masih memeluk Luhan. Luhan yang mendengar perkataan Kim songsaenim langsung melepaskan pelukan mereka dan menatap walikelasnya itu tajam.

"apa kau bilang?!" tanya Luhan dengan nada yang tajam.

"Lu….eomma merindukanmu nak…ini eomma nak" kata Kim songsaenim mencoba meraih tubuh Luhan demi mendapatkan pelukan hangat itu lagi.

"bohong! Jangan mengada-ada kau! Eommaku ada di Amerika!" Luhan seakan tidak mendengarkan perkataan walikelasnya tersebut dan emosinya tiba-tiba naik. Walau dalam hati kecil Luhan, ia merasa sakit melihat ekspresi perih yang tergambar pada wajah Kim songsaenim.

"Luhan…tatap aku" kata namja yang sedari tadi mereka abaikan, Luhan dengan refleks menatap namja tampan bermata tajam seperti musang tersebut. Seketika mata Luhan terlihat kosong dan ia pun diam mematung. Lelaki berwajah tampan itu maju mendekati Luhan, membawa tubuh Luhan kearah sofa yang ada dalam ruangan tersebut dan membaringkannya. Ia menjilat leher Luhan tepat pada nadi yang berada pada daerah itu.

"maafkan Appa, Lu. Appa menyayangimu" ujar pria itu sambil mengelus wajah Luhan.

Mata Luhan yang tadinya kosong tiba-tiba melotot saat merasakan sesuatu menggigit lehernya. Ia bisa merasakan bagaimana pria itu menghisap darahnya dan bagaimana suara tegukan pria itu.

'tamat sudah hidupku…' gumam Luhan dalam hati lalu memasrahkan hidupnya saat pria itu tetap menghisap darahnya sampai ia merasa luar biasa lemas. Pria itu melepas gigitannya disaat Luhan sedang berada diambang kesadaran dan ketidak sadaran, Luhan tidak tau apa yang terjadi namun tiba-tiba ia merasa suatu cairan diminumkan melalui mulutnya. Cairan manis yang membuat Luhan ketagihan dan memiliki tenaga lagi setelah gigitan menyakitkan itu.

Tanpa disadari, mata Luhan menjadi berwarna merah darah, dan tangannya menggenggam tangan pria yang menggigit Luhan sebelumnya dan Luhan menghisap lebih banyak darah dari tangan pria itu.

"Selamat datang kembali, Luhan. Selamat datang diduniamu yang sebenarnya" ujar pria yang mengaku sebagai Appa dari Luhan itu dengan lirih.

.

.

.

.

Kyungsoo dan Jongin terlihat menunggu Luhan dalam mobil mereka diparkiran. Oh jangan khawatir, mereka seperti tidak memperdulikan waktu karena waktu mereka digunakan dengan sangat berarti. Apakah ada yang lebih baik daripada menghabiskan waktu selain dengan berduaan dengan orang yang kau cintai?

Sedangkan seorang lelaki mengamati mereka dari jauh. Setelah memastikan mereka lengah, lelaki tersebut masuk kedalam sekolah dan berjalan menuju sebuah ruangan. Ia berhenti sebentar dan menghela nafas sebelum membuka pintu ruangan itu. Terlihat 3 orang lelaki didalamnya dimana seorang diantara mereka sedang tidak sadarkan diri.

"Kita harus bergerak cepat" Ujar lelaki yang sedang menyangga tubuh Luhan, yang sedang tidak sadarkan diri. sedangkan lelaki yang baru saja masuk keruangan itu menatap Luhan dengan tatapan dalam.

"Sehun?" panggilan Jaejoong seakan menyadarkan Sehun. Sehun langsung mengalihkan perhatiannya dari Luhan dan segera mengangguk mengerti akan rencana mereka. Mereka berempat pun keluar dari ruangan itu, dan dengan cepat keluar dari gedung sekolah. Mereka menaiki mobil ambulans yang sudah mereka siapkan sebelumnya dan pergi meninggalkan gedung sekolah itu sejauh mungkin.

.

.

.

.

"Apa?! Luhan diculik?!"

Teriakan Kris menggema pada ruangan itu saat mendengar kabar dari Kyungsoo dan Jongin. Kyungsoo dan Jongin hanya menunduk. Mereka patut disalahkan karena ketidakbecusan mereka dalam mengawasi Luhan.

"Kami sudah memeriksa seisi sekolah. Dan sekolah itu kosong, hyung" kata Kyungsoo sambil menunduk. Ia menggenggam tangan Jongin seakan mencari kekuatan untuk menghadapi kemarahan dari Kris.

"Bagaimana jika ia jatuh ketangan yang salah?!" Kris terdengar sangat frustasi saat mendengar adiknya itu diculik. Ia takut jika Luhan kembali dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang haus akan kekuasaan dan memancing sisi lain Luhan seperti 5 tahun lalu. Apalagi keadaan Luhan yang seperti sedang berada di dua dunia, dimana insting vampirenya berontak ingin dibebaskan.

Sedangkan Junmyeon yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya hanya diam, ia sedari tadi mencoba menghubungi Sehun. Sehun merupakan mate Luhan bukan? Pastinya ia bisa merasakan dimana Luhan sekarang.

"Ponsel Sehun tidak aktif" ujarnya singkat setelah menyerah menelfon Sehun.

"Cepat cari keberadaan Luhan sebelum semua semakin buruk. Aku takut ia jatuh ketangan pemberontak dewan itu. Laporkan padaku jika ada kabar apapun" kata Kris mutlak lalu ia berlalu dari ruangan itu. Kyungsoo langsung bergegas keluar dari ruangan itu untuk mencari Luhan. Sedangkan Jongin terdiam dan akhirnya ia mengikuti Kyungsoo keluar.

"Kau mengetahui sesuatu kan?" kata Junmyeon tepat saat Jongin tinggal selangkah lagi keluar dari ruangan itu. Jongin menolehkan wajahnya demi melihat Junmyeon.

"Apa maksudmu?" kata Jongin tenang. Junmyeon berusaha membaca Jongin. Namun sialnya Jongin terlalu tenang dan datar. Ia tidak bisa merasakan apapun. Keheningan sangat terasa karena dua sosok pria disana tampak saling terdiam, saling membaca ekspresi satu sama lain.

"Lupakan, lebih baik kau susul Kyungsoo." Kata Junmyeon memecah keheningan tersebut. Jongin pun melangkah keluar menyusul Kyungsoo yang daritadi telah meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Junmyeon tetap bergeming diam dalam ruangan itu.

'sial! Jika begini caranya, rencanaku bisa gagal!'

.

.

.

Luhan membuka matanya saat ia merasakan belaian lembut pada wajahnya. Matanya menutup saat sinar yang begitu silau menyerang matanya, dan akhirnya ia mencoba untuk membuka matanya dengan perlahan untuk menyesuaikan pandangannya. Sosok yang sangat familiar langsung tertangkap oleh indra penglihatannya. Sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang selama ini ia cintai sepenuh hati sedang menatapnya dengan hangat.

"Sudah bangun, Lu?" tanya pria yang sedari tadi membelai wajahnya dengan lembut dengan senyuman yang sangat hangat. Mata Luhan terasa memanas dan tanpa sadar ia meneteskan air matanya mengingat sudah terlalu lama ia merindukan sosok didepannya ini.

"Sehunnah…" lirih Luhan lalu ia menggapai tubuh Sehun dan memeluknya erat.

"sshtt Luhan, aku disini. Jangan menangis. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi" kata Sehun mengusap surai cokelat milik Luhan.

Suara pintu terbuka mengakhiri pelukan kerinduan mereka. Luhan menoleh kearah pintu dan seketika itu juga matanya terbelalak melihat sesosok yang ia kira sudah tidak ada.

"eomma…." Lirih Luhan terdengar tidak percaya pada apa yang ia lihat. Sedangkan sosok yang Luhan panggil dengan sebutan eomma hanya tersenyum dan menghampiri Luhan, memberikan pelukan kerinduan yang sangat dalam. Tidak peduli bahwa Luhan yang sedang dipeluknya sedang diam membeku.

Perlahan Luhan tersadar dari keterkejutannya dan iapun secara ragu membalas pelukan sosok itu.

"Jaejoongie eomma…" lirih Luhan sedangkan Jaejoong, sosok yang memeluk Luhan tetap diam memberikan pelukan pada Luhan. Jaejoong mengecup pipi kanan dan kiri Luhan dan kening Luhan. Menyalurkan kasih sayangnya yang sangat besar terhadap anak semata wayangnya tersebut.

"eomma, jika ini mimpi. Jangan biarkan aku bangun dari mimpi ini" perkataan Luhan langsung dijawab oleh kekehan manis dari Jaejoong. Luhan menatap Jaejoong dengan bingung.

'Bukankah eomma sudah tiada? Ini pasti mimpi kan?'

"Luhan, eomma tidak akan pernah meninggalkanmu. Eomma selalu ada untuk melihatmu dan mengawasimu." Jaejoong menjawab pertanyaan Luhan yang hanya terpikir dalam benaknya.

"tapi…mereka mengatakan bahwa kau-"

ucapan Luhan terhenti saat ia merasakan jari telunjuk Jaejoong mendarat pada bibirnya.

"aku tunggu kau diluar Luhannie, akan kami jelaskan apa yang terjadi tapi sebelum itu, kau harus minum dan gantilah baju seragammu itu. Sehun akan membantumu" kata Jaejoong. Ia pun bangkit dan berjalan keluar kamar itu. Menutup pintu kamar meninggalkan Luhan dan Sehun didalamnya.

"kau haus Lu?" tanya Sehun memecah keheningan. Luhan memandang Sehun dengan tatapan yang polos lalu menggelengkan kepalanya.

"tsk selalu keras kepala" ujar Sehun, iapun menggigit lengannya hingga mengeluarkan darah segar yang sukses membuat bola mata Luhan berubah warna dari cokelat menjadi merah terang.

"ti…tidak. Aku akan mandi terlebih dahulu" kata Luhan berusaha menolak dan bangkit dari ranjang sebelum dirinya ditarik Sehun dan terjatuh kembali diatas ranjang tersebut.

Sehun mendaratkan bibirnya pada bibir Luhan, dan melumatnya kecil. Luhan yang kaget hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa. Merasa Luhan tidak merespon, Sehun menambah lumatannya menjadi lebih liar. Ia menghisap bibir bawah Luhan dan bibir atasnya bergantian. Bibir Luhan sangat manis, bagaikan candu bagi Sehun. Lebih nikmat dari darah atau wine berkualitas tinggi. Luhan tanpa sengaja membuka mulutnya saat ia merasa Sehun menjilat bibirnya dan tentu saja Sehun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Lidahnya langsung masuk mengeksploitasi mulut Luhan yang semakin membuatnya kecanduan.

Luhan membelalakkan matanya saat ia merasa cairan darah masuk kedalam mulutnya. Tidak, ia tidak bisa mempertahankan diri dari rasa haus yang ia rasakan setelah ia sadar tadi. Tapi ia tidak mau jika ia harus memuaskan dahaganya dan menyakiti Sehun. Namun jika begini caranya…

Insting Luhan megambil alih dirinya. Ia membalas ciuman Sehun dan menghisap habis darah yang ada dalam mulut Sehun. Setelah merasa tidak ada darah yang ada dalam mulut Sehun, Luhan melepas ciuman mereka dan lidahnya merambat dari mulut ke leher Sehun. Luhan menjilat leher itu seakan akan dengan nafas terengah dan menancapkan taringnya. Sehun mendesah saat merasakan sakit yang anehnya sungguh nikmat olehnya dan mengelus surai cokelat Luhan saat ia merasa darahnya dihisap. Luhan melepaskan taringnya saat ia merasa dahaganya terpuaskan.

"Lu?" panggil Sehun saat melihat Luhan masih dikuasai oleh insting vampirenya dan Sehun pun terkejut saat Luhan mendorong tubuhnya sehingga ia terlentang diatas ranjang.

"Sehunnie…kau milikku" klaim Luhan, ia memposisikan dirinya diatas Sehun dan melumat bibir tipis nan menggoda milik Sehun lagi.

.

.

.

.

TBC

Notes : terima kasih yang telah membaca dan terima kasih juga bagi yang telah meninggalkan review. Maafkan aku jika aku belum sempat membalas review karena aku masih sibuk (T_T). namun saat aku tau aku mendapat respon yang bagus aku langsung semangat lagi melanjutkan fanfic ini. Aku akan membalas review kalian nanti setelah aku tidak sibuk lagi. ^^