Malam yang temaram, di balkon sebuah mansion besar. Seorang pemuda duduk dengan santai pada pagar pembatas balkon, dia meluruskan kakinya lalu punggungnya bersandar pada tembok. Iris matanya fokus pada sebuah alat berwarna hitam yang tengah dia pegang. Wajahnya terlihat serius sekali dan tangannya tidak mau diam menekan tombol-tombol bermacam jenis yang ada pada alat tersebut.

"Ah, ini membosankan," keluh pemuda itu, dengan malas dia menatap dua kata yang berada di layar benda hitam yang tadi dia mainkan. Dua kata yaitu 'You Win' adalah kata yang terpampang dengan sangat jelas pada layar PSP tersebut.

"Apa tidak ada hal yang menarik?" Lagi, bibir pemuda itu mengeluh, dia menjatuhkan PSP miliknya ke teras balkon, hingga terdengar bunyi 'prak' yang kecil kala alat elektronik berupa PSP itu berhantaman langsung dengan keramik porselin.

Iris matanya yang sehitam malam memandang bulan purnama yang ada di langit dengan intens, dia terdiam untuk beberapa saat, mencoba untuk mengusir kebosanan yang juga tidak mau pergi. Dia tidak suka suasana seperti ini. Sebuah getaran dari saku celana kain yang dia kenakan membuat pemuda itu terhenyak sebelum mengambil benda berbentuk persegi panjang kecil itu dan menatap layarnya. Nama Lady Black memenuhi layar.

'Semua berkumpul.'

Sejurus kalimat itu terucap dari lawan bicara, maka panggilan itu langsung diputus. Menjengkelkan memang saat di awal-awal, tapi karena sudah biasa maka sang pemuda itu hanya diam kemudian tersenyum, dia melompat turun dari pagar balkon dan merapikan sedikit kemeja yang dia kenakan.

"Aku harus bergegas," ucapnya dengan riang, dia mengambil jas yang tersampir di samping pintu balkon, merapikan sedikit rambutnya di cermin, kemudian keluar dari kamarnya yang berada di lantai dua tersebut.

"Anda kamu ke mana, Tuan Muda Kyuhyun?" Seorang maid menghentikan langkahnya yang sudah akan melewati pintu utama untuk menuju halaman depan dan mengambil mobil.

"Aku ingin bersenang-senang. Jangan halangi aku, atau kau akan kupecat." Ucap pemuda tersebut dengan nada mengancam. Biasanya maid itu dan semua pelayan akan tunduk jika dia sudah mengatakan hal tersebut.


12 Zodiak, Murderer Case

"Nisca31tm-emerald"

Disclaimer : Semua member SUJU bukanlah milik saya, mereka adalah milik diri mereka sendiri…

Warning : OOC, Alur ribet, banyak typo(s) dan miss typo(s), saya membuat banyak sekali perbedaan. Baik itu sifat dan kehidupan tokoh. Ini mengandung unsur sadistik dan koloni-koloninya! Saya sudah memperingatkan anda. Sehingga yang tidak suka, saya sarankan segera menekan tombol back.

Don't like don't read

Rate : M

Summary : Mereka semua adalah hakim, mereka semua adalah orang-orang yang memberi penilaian dan memberikan hukuman. Pantaskah seseorang hidup, pantaskah seseorang untuk mati? Mereka adalah 13 orang hakim yang dilambangkan oleh 12 zodiak, 12 rasi bintang yang mencoba saling mendominasi namun mereka adalah satu. Menegakkan keadilan bagi mereka yang tak bisa bersuara, menjadi senjata bagi mereka yang kehilangan kekuatannya, dan menjadi pembalas dendam bagi mereka yang telah tiada dan mengemban dendam tak terbalas. Mereka adalah 12 pemilik nama Zodiak. Aquarius, diakhiri dengan Capricorn.

HAPPY READING~~


Tidak ada bedanya dengan suasana di luar sana yang sudah menunjukkan tengah malam. Ruangan merah yang hanya memiliki pencahayaan berupa lilin-lilin berwarna putih dengan kilat kuning dan jilatan berwarna oranye, membelah kegelapan yang ingin menguasai ruangan tersebut. Suasana temaram diiringi oleh aura dingin saling mendominasi memenuhi ruangan tersebut dengan sangat kentara. 12 orang memakai topeng opera mengelilingi sebuah meja besar berwarna hitam dari kayu eboni. Kali ini meja besar itu terselubungi oleh taplak meja berwarna broken white. Ujung taplak meja itu menyentuh lantai porselin.

12 orang yang memakai topeng saling tatap, mereka lalu memandang sebuah kursi yang masih kosong, merasa bingung sekali. Biasanya mereka datang dengan selang waktu yang tidak terlalu kentara, tapi kini? Mereka berdua belas sudah menunggu hampir 60 menit, namun pemilik nama zodiak Scorpio itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya, bahkan Lady Black juga belum datang hingga sekarang, tapi memang sudah seperti itu. Jika mereka belum lengkap, maka semuanya tidak akan dimulai, Lady Black tidak akan datang. Mereka semua mulai bosan.

"Ini membosankan," keluh seorang yang memakai topeng biru muda-hitam dengan lis emas menghias masing-masing ujung topeng. Bibirnya membentuk garis datar, dia mendecih tanda tidak suka.

"Sabarlah, kita memiliki masalah masing-masing. Maklumilah itu," kini seorang lagi, yang memakai topeng silver, dengan guratan emas membuka suaranya. Libra.

"Jangan sok menengahi, Libra. Aku tahu kau juga tengah bosan," pemilik nama zodiak Leo menyahut. Tubuhnya yang tegap dia sandarkan pada sandaran kursi dengan lelah, iris matanya memandang tajam pada sosok pemilik nama Libra.

"Kita semua tengah bosan, aku akui itu. Tapi kita harus bisa berpikir jernih. Apa kau tidak pernah belajar tentang itu semua, Leo?" Entah kenapa perkataan dari pemilik nama Libra itu terasa sangat menusuk bagi Leo. Mereka tidak saling kenal, mereka bahkan tidak tahu identitas masing-masing, tapi rasanya, di antara mereka semua, Libra, pemilik nama zodiak itu seakan tahu banyak hal.

Perdebatan itu terhenti saat pintu dibuka oleh seseorang, seseorang yang menjadi akar semua ini. Seseorang yang menciptakan suasana mencekam tersebut, seorang pemilik nama zodiak Scorpio. Penampilannya berbeda, pemuda yang memiliki seringaian paling evil di antara para pemilik zodiak yang lain, kini hanya memakai jas tanpa dikatupkan, kemeja berwarna putih tampak tidak rapi, namun penampilannya sangat modis dan terkesan 'bad' dalam waktu yang sama. Pemilik nama zodiak Scorpio memang selalu memberikan kejutan yang tidak terbaca. Topeng hitam dengan campuran warna keemasan menjadi warna dasarnya, lis silver menjadi pelengkap, menambah kesan misterius.

"Hehe, maaf tuan-tuan. Aku terlambat," ucapnya dengan santai, dengan tenang dan tidak peduli sekitar dia mendudukkan dirinya pada satu-satunya kursi kosong berukir dan memiliki sandaran, tepat di samping pemilik nama zodiak Libra yang tadi berdebat dengan pemilik nama zodiak Leo.

"Maafmu kutolak, kau sudah membuatku sangat bosan," seorang lagi mengeluh. Tampaknya dia sejak tadi menahan diri untuk tidak meledak kecuali jika orang yang menjadi akar dari semua ini datang.

"Aku sudah minta maaf, Taurus."

"Aku tidak seperti Libra yang selalu bisa sabar, juga bukan Aquarius yang tenang sejak tadi. Aku membutuhkan alasan." Sahutnya dengan tegas, tangannya saling bertaut di atas meja, tubuhnya duduk tegap menghadap langsung pada Scorpio yang sama sekali tidak memerdulikannya, pemuda pemilik nama zodiak Scorpio itu justru hanya menyeringai dengan menatap ke arah lain.

"Oya? Aku tidak bisa memberikan alasan yang akan menjadi petunjuk tentang siapa aku."

Setelah jawaban itu terlontar dari mulut Scorpio, pintu berdaun dua itu terbuka lagi. Kali ini dibuka oleh Lady Black, seperti biasanya, wanita itu kembali mengenakan gaun berwarna hitam. Kali ini hanya gaun sebatas mata kaki, sepatu hak kecil terlihat mengkilap di antara kegelapan. Suasana yang temaram, membuat mereka dapat melihat dengan jelas make up yang dipakai oleh Lady Black sangat meriah. Rambutnya yang disanggul, berhias jepitan mawar merah, membuat sosok itu semakin menawan. Tidak ada senyum, tidak ada kata sapaan yang biasanya tak pernah absen. Wanita itu langsung duduk di kursi yang kosong, memejamkan matanya lalu menatap malas pada 13 orang yang ada di sana, sungguh tidak biasa.

"Aku tidak suka tikus got yang merayap sungkan-sungkan namun menggigit dengan rakus," ucap Lady Black sesaat setelah dia duduk.

"Tikus got?" Pemuda yang menjadi pemilik nama Capricorn menyahut. Tubuhnya yang besar, menjadikan dirinya tampak sangat kuat, topengnya berwarna abu-abu polos, lis emas membuat topeng opera itu menjadi hidup.

"Ya. Tikus got yang selalu menggerogoti pipa-pipa air, penuh muslihat, penjilat, gila harta, dan yah…gangguan jiwa," narasi Lady Black terdengar rancu, jelas sekali jika masalah yang dia ungkapkan tidak menarik minatnya barang hanya sedikit. Atau dia sengaja menimbulkan persepsi seperti itu?

13 orang pemilik nama Zodiak hanya diam, mereka berwajah datar, kecuali pemilik nama zodiak Scorpio. Scorpio jarang sekali menyeringai, hanya saja jika dia sudah mengeluarkan smirk evil itu, maka akan terasa sangat mengerikan. Pemilik nama zodiak yang lain hanya diam, dalam hati mereka sudah tahu jika tugas ini akan dibebankan pada Scorpio. Ini selalu terjadi jika Scorpiolah yang mendapat giliran.

"Korban mereka berkisar antara anak umur lima tahun, kemudian mereka mengincar anak 10 tahun. Kebanyak dari anak-anak itu mereka ambil ginjal dan organ dalam, kemudian mereka lelang, menjual tubuh-tubuh tak bernyawa untuk praktek kedokteran. Perbuatan ilegal, pelaku yang seharusnya mendekam di dalam busuknya ruang sempit berjeruji besi. Namun mereka selalu lolos." Lady Black, mengambil sebuah gelas kosong entah dari mana, dia goyangkan gelas itu hingga cairan berwarna merah mulai mengisi gelas tersebut. Aneh. Namun tidak ada satu orangpun yang menegurnya, sepertinya mereka sudah biasa.

"Mereka?" Pemilik nama Aquarius membuka suaranya, orang yang sejak tadi diam itu terlihat tertarik.

"Ya, dua orang tepatnya. Mereka berdua bernama Kim Matae dan Jun Ha. Kedua pemuda itu adalah teman, partner, dan adalah orang yang bergelut sebagai tikus got. Mengendus, membunuh, meniadakan, semua itu sangat menjijikkan." Ucap Lady Black, tutur katanya tanpa arti yang sebenarnya. Seakan-akan dia memang tidak ikhlas sama sekali memberikan kasus ini di ruangan merah.

"Jika kau memang tidak ingin menjelaskan secara detailnya, tidak usah. Yang pasti ini adalah giliranku. Aku tidak butuh tutur kata yang detail, aku hanya butuh nama target, dan aku akan langsung bermain. Itulah caraku menilai," pemilik nama zodiak Scorpio itu menyudahi narasi dari Lady Black, wanita itu memandang kepada sang pemuda dengan pandangan angkuh, seakan-akan dirinya jauh lebih berkuasa dari pemuda itu, dan pemuda itu tidak boleh berkata sok hebat di depannya.

"Terserah kau, Scorpio…"

Jawaban dari Lady Black menutup pertemuan tersebut, memang ini yang terjadi jika Scorpio mendapat giliran, sosok kalem dan dingin yang biasanya dicetak oleh wajah rupawan tertutup topeng milik Scorpio akan hancur jika sudah mendapat giliran. Diri sebenarnya dan semenakutkan apa sesungguhnya Scorpio itu terlihat dengan jelas. Sosok sadis bak iblis yang sangat senang bermain-main. Semua pemilik nama zodiak sudah mengetahui tabiat Scorpio tersebut.

Aqurius berdiri, dia tersenyum sinis saat kakinya mulai beranjak menuju luar ruangan, disusul oleh Pisces juga yang menunjukkan seringaiannya kepada Scorpio, sang Aries, sosok mungil pemilik nama zodiak Aries itu hanya diam seribu bahasa, sepertinya dia masih kesal dengan pemilik nama Scorpio. Setelah semua orang pergi, lebih tepatnya 11 orang pergi, karena di ruangan tersebut tersisa Scorpio, Libra, dan Lady Black. Tidak biasa.

"Aku tidak suka mengatakan ini, tapi jangan coba untuk terlambat lagi, Scorpio. Aku tidak suka melihatmu membuat masalah," Libra membuka suaranya, suaranya yang jernih, memenuhi ruangan tersebut. Tugas Libra memang bukan sebagai pemimpin, namun dia adalah orang yang paling bijak dan paling bisa berkepala dingin.

"Maaf," hanya satu kata itu saja yang terucap dari bibir tipis milik Scorpio yang sejak tadi tidak melunturkan sebuah seringai.

Saat itu juga, Scorpio langsung berangsur berdiri, dia berjalan dengan sangat cepat dan terkesan buru-buru sekali menuju pintu keluar, entah karena tidak sabar atau apa, padahal di luar sana pastilah sudah memasuki pukul 1 dini hari. Kurang lebih. Sebagai pemilik nama zodiak, dan sebagai orang yang mungkin saja berpengaruh besar, Libra hanya diam. Tidak ingin menambahi lagi. Dia hanya menatap pintu tertutup yang ditutup oleh Scorpio dari luar. Pemuda itu memang selalu seenaknya saja. Tapi jika tidak ada orang yang beragam, maka semua ini tidak akan seru. Itulah yang selama ini selalu menjadi lantai dasar kesabaran seorang Libra.

"Heh, aku menunggu, pertunjukan seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Cho Kyuhyun, sang tuan muda itu." Ucap Libra dengan sebuah polesan senyum di bibirnya. Dia menatap Lady Black dengan pandangan tertarik saat melihat wanita bergaun hitam itu memandangnya dengan terkejut.

"Oya, oya. Sepertinya kau lebih dari yang aku harapkan, Libra." Seringaian, seringaian tertarik mengembang di bibir merah pekat milik Lady Black. Iris matanya yang hitam menunjukkan sebuah penghargaan luar biasa kepada Libra.

# # #

Dua tubuh tergeletak tidak sadarkan diri. Dua tubuh tergolek tak berdaya. Kesadaran mereka belum kembali. Dua tubuh itu adalah sosok dua orang laki-laki dewasa yang sepertinya baru saja menginjak usia 30-an. Mereka berdua sama-sama memakai kemeja bergaris. Salah satunya berwarna biru langit, dan yang satunya lagi berwarna hijau lumut. Penampilan mereka berdua jauh dari kata rapi, kotoran debu mengotori kemeja serta celana milik mereka, lecet sana-sini jelas bukan pemandangan yang bagus.

Selang beberapa menit kemudian, salah satu jemari bergerak lemah, sebelum hentakan keras membuat dua tubuh itu terbangun, iris mereka yang sayu saling menatap satu sama lain tidak fokus. Namun itu hanya berselang beberapa detik sebelum keduanya saling menelusuri sekeliling dengan panik. Mereka tidak mengenal tempat ini.

"Hyung! Kita ada di mana!?" Pria berkemeja hijau lumut memandang ke arah laki-laki lain yang memakai kemeja biru tua, iris mata hazelnya memandang sekitar dengan linglung dan panik.

"Tenanglah, Jun-ah. Apa yang terakhir kali kau ingat?" Sang Hyung mencoba menenangkan pemuda berkemeja hijau lumut yang dia panggil Jun-ah itu.

"Aku dan hyung pergi membeli 'perlengkapan', kemudian di jalan pulang ada seseorang yang memukul tengkukku dengan sangat keras. Selebihnya, kita ada di sini, Hyung." Jawab pemuda berkemeja hijau lumut, nada suaranya mengisyaratkan banyak sekali kebingungan dan rasa cemas.

Sang hyung yang memakai kemeja biru langit menautkan alisnya, dia terdiam. Otaknya yang jenius mulai menganalisis berbagai kemungkinan yang telah menimpa mereka berdua. Sebagai orang yang lebih tua dan selalu diandalkan, wajar jika Kim Matae memiliki kecerdasan menganalisa di atas rata-rata. Dia cerdas, jenius, licik, dan semua orang yang mengenalnya tahu akan hal itu. Otaknya masih melerai berbagai informasi, dalam diam otaknya mulai mencari data. Kenapa mereka ada di sini? Apakah jejak mereka ketahuan? Itu jelas tidak mungkin, jejak mereka selalu bersih. Lantas ada apa ini?

'Haaa, sedang menganalisis segala kemungkinan, kah?'

Sebuah suara terdengar serak, karena disamarkan oleh pemilik suara keluar dari sebuah spiker yang tertempel di dinding, suara itu walau serak dan sedikit sulit untuk dicerna, namun bagi Kim Matae dan Jun Ha, suara itu sangat jernih. Mereka bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

"Siapa!?" Erang pemuda berkemeja hijau lumut dengan garang, giginya gemeretak menahan marah, iris matanya yang sehitam malam meneliti seluruh ruangan. Mencari sumber suara tersebut.

'Tidak peduli siapa aku. Bagaimana kalau kita bermain?'

Suara itu kembali terdengar dengan sangat angkuh. Kim Matae yang mendengar itu terlihat tenang, walau keringat dingin tampak jatuh di samping pelipisnya. Berbeda dengan Jun Ha yang sejak tadi menggeram. Emosinya meluap-luap.

'Diam artinya iya.'

Jun terdiam, dia memandang ke arah sang hyung yang sejak tadi tampak berpikir. Melihat jika hyungnya tersebut tersenyum, Jun juga ikut menyeringai. Jika hyungnya tersebut memperlihatkan wajah percaya diri seperti itu, semua akan baik-baik aja. Ya, Jun yakin akan hal itu.

'Kalian ingin keluar dari sini, bukan?'

"Jangan berbelit-belit! Langsung saja katakan apa yang kau inginkan! Uang, kah? Kekuasaan, kah?" Matae ternyata menunjukkan amarahnya, dia menatap sekitarnya dengan penuh selidik, otaknya jelas masih menginput berbagai data yang menurutnya pantas untuk diterima, menganalisisnya dalam diam.

'Aku ingin nyawa kalian.' Dingin, datar, terdengar sangat suram karena suara itu disamarkan.

Suara itu jelas membuat Matae dan Jun terdiam untuk beberapa saat. Ini gawat, mereka berdua tidak tahu apakah orang yang bicara itu serius atau sekedar main-main, tapi jika melihat gelagat dan kenapa mereka bisa ada di sini, semua ini serius. Bahaya.

'Di depan kalian ada sebuah pintu, bukan? Di sana akan banyak sekali permainan menunggu kalian. Jika kalian berdua bisa lolos, maka kalian akan bisa keluar. Tapi…tentu aku tidak akan membiarkan itu terjadi…'

# # #

Sudah sepuluh menit, Jun Ha dan Kim Matae berjalan melewati lorong yang berkelok-kelok bagai labirin yang memiliki lebar sekitar tiga meter, lantainya dilapisi oleh semen coklat dengan keadaan kotor dan penuh debu. Dinding-dindingnya sangat kokoh bak terbuat dari baja. Kadang di sudut belokan lorong itu ada sarang laba-laba dengan laba-laba yang sangat besar berwarna hitam, hal itu jelas membuat suasana mereka menjadi mencekam. Sejak tadi tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu, tidak ada tanda-tanda bahaya atau apapun.

"Mungkin orang itu hanya menggertak kita. Pasti ini hanyalah mainan anak-anak yang mencari perhatian. Ujung-ujungnya orang itu akan meminta uang yang banyak untuk kebebesan kita. Heh," Matae berujar dengan percaya diri. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman jahat di bibirnya.

"Kau benar, Hyung! Orang itu pasti hanya ingin mempermainkan kita! Dia pasti tidak serius…" Ujar Jun dengan nada sedikit rileks, dia melangkah lebih bersemangat dari beberapa detik lalu.

# # #

Sementara itu di dalam sebuah ruangan, yang disinari oleh cahaya dari monitor besar di depannya, seorang pemuda tengah tersenyum misterius, topeng opera yang menutupi setengah wajahnya tidak mampu untuk menyamarkan gurat terhibur dari wajahnya. Kakinya saling menopang pada sebuah kursi putar dan menghadap langsung pada monitor besar yang menampilkan gambar Jun dan Matae yang tengah berjalan di labirin buatan miliknya tersebut. Jemari tangan kiri memegang sebelah pipinya, bertopang dengan angkuh, sedangkan tangan kanannya bebas tanpa bergerak pada pegangan kursi.

"Main-main, kah? Tentu saja aku sedang main-main… Main-main dengan nyawa kalian…" Lalu terdengar kekehan geli dari pemuda bertopeng opera tersebut.

Setelah terdiam untuk beberapa saat kekehan itu berhenti, dengan iris mata memandang jenaka pada layar monitor, pemilik nama zodiak Scorpio kembali bergumam lirih, "Manusia yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi dan saling percaya pada partner itu memang bagus… Akan aku beri hadiah,"

# # #

Kembali ke Jun dan Matae. Keduanya berjalan pada koridor selebar tiga meter kini, temboknya berubah warna menjadi kusam, seakan lebih tua dari tembok yang mereka lewati sebelumnya, cat tembok berwarna abu-abu yang sudah mengelupas dan banyaknya debu serta sarang laba-laba ditambah bau yang kurang sedap menjadi nilai plus yang menambah kesan 'suram' pada labirin tersebut. Matae dan Jun berjalan beriringan dengan pandangan yang angkuh, seakan mereka masih berpegang teguh pada pemikiran mereka yang tak berdasar, bahwa ini hanya main-main saja.

KREK!

Jun menginjak sesuatu, menimbulkan bunyi kecil yang membuat keduanya terhenti bergerak dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk.

"Eh?"

Matae dan Jun berdiam untuk beberapa saat sebelum mereka terbelalak karena sepasang tombak melesat menuju kepala mereka dengan sangat cepat. Na'as bagi Jun Ha, dia tidak terlalu gesit untuk menghindar sehingga bahunya tergores dengan lumayan dalam.

"AARRRGKK!" Teriakan itu menggema di dinding labirin.

"Jun! Jun! Kau baik-baik saja!?" Matae menghampiri Jun yang terduduk sambil memegangi bahu kirinya yang tergores salah satu tombak dan membuat darah merembes dari sana, menodai kemeja hijau lumut yang dia kenakan.

"Hyung! Dia tidak bercanda! Dia ingin membunuh kita! Sakit sekali, Hyung!" Jun meraung dengan nada yang sangat keras, iris matanya memerah menahan marah sekaligus sakit.

Matae yang melihat itu jelas saja shock dan langsung memerhatikan bahu Jun yang mengeluarkan darah, dengan sigap dia buka kemeja Jun, mengambil sebuah sapu tangan lebar yang memang dari awal berada di saku belakang celana yang dia kenakan. Bak seorang perawat handal, Matae merobek sapu tangan tersebut menjadi dua bagian namun tidak benar-benar membelahnya menjadi dua bagian, dia melilitkan sapu tangan itu pada bahu Jun dengan pandangan sedikit ngeri, daging yang terkoyak dalam, walau lukanya tidak mencapai sepuluh senti, namun kedalamannya sangat na'as, pasti sakit sekali.

"Brengsek…" Umpatnya dengan menggeram marah, dia memperhatikan wajah Jun yang menahan sakit. Ini jelas mengundang banyak sekali pemikiran dari otaknya yang cerdas.

"Dia serius, Hyung! Dia ingin membunuh kita! Apa yang harus kita lakukan!?" Jun berteriak bagai orang kerasukan hantu. Matanya membola dengan pupil yang mengecil, menandakan jika dia tidak bisa berpikir dengan jernih.

"DIAM! JUN!" Teriak Matae dengan sedikit frustasi. Dia mengguncang bahu Jun dengan sangat keras.

Jun terdiam. Dia menunduk hingga wajahnya tertutup oleh poni depan. Tubuhnya sedikit bergetar sebelum mengucap maaf berulang kali dengan suara yang seperti terbawa oleh angin saking pelan dan samarnya dia berujar. Matae hanya diam menanggapi itu, iris matanya berkilat dengan sangat berbahaya menandakan jika dia tengah marah. Matanya mengarah pada sebuah kamera kecil yang berada di sudut. Dia berharap tatapannya itu dapat membuat orang yang berada di balik ini cepat mengakhiri lelucon tidak lucu ini. Brengsek.

"Ayo kita lanjutkan!" Perintah Matae, dia mengisyaratkan kepada Jun untuk berdiri dan kembali berjalan.

"Baik, Hyung." Jun menyahut, dia dengan tenang berdiri. Luka di bahunya terasa menyengat, namun jika begitu saja dia masih bisa menahannya, dia sudah pernah mendapatkan luka yang lebih serius, hanya saja dia memang sering panik jika sudah mendapatkan luka seperti ini, sehingga dia tidak bisa berpikir jernih. Untunglah ada Matae.

Matae dan Jun kembali berjalan dalam diam, kadang diam itu dipecah oleh suara rintihan dari Jun yang memegangi bahunya, sapu tangan Matae yang melilit bahu Jun sudah berubah warna menjadi merah pekat, darahnya merembes. Sapu tangan tidak cukup untuk membuat luka itu berhenti mengeluarkan darah, efek dalamnya goresan tersebut.

Sebagai orang yang lebih tua, dan selaku pemandu jalan, Matae tidak henti-hentinya berkeringat dingin. Dia memandang was-was pada lorong labirin di hadapannya, dia mewaspadai segala hal, dia takut kena jebakan seperti tadi lagi. Jika memang orang yang menjadi dalang di balik ini semua serius, maka tidak menutup kemungkinan jika mereka berdua akan mati jika tidak hati-hati. Otaknya harus lebih digunakan sekarang. Mereka berdua tidak boleh meremehkan orang yang berada di balik semua ini.

# # #

Kembali ke dalam sebuah ruangan lain, di depan sebuah monitor besar yang menampilkan 'mainannya', pemuda yang wajahnya tersamarkan oleh topeng opera itu menyeringai. Di tangan kanannya ada sebuah gelas berisi cairan berwarna merah yang sedikit berkilauan karena cahaya temaram yang ada di ruangan tersebut.

"Hihihi, manusia itu memang menarik. Melihat mereka ketakutan," ujar namja itu dengan nada terhibur kala melihat ke arah Matae yang berkeringat dingin, Matae sepertinya sudah hampir mencapai batas sabar, ini akan semakin menarik. Manusia yang sedang berada di ambang batas kekuatan mentalnya itu sangat menghibur, apalagi jika hampir 'meledak' seperti itu.

"Melihat mereka bergelut dengan rasa sakit, rintihan, ringisan, teriakan. Aku ingin mendengarnnya lagi." Lanjut namja tersebut, matanya beralih kepada Jun yang sesekali merintih, walau pemuda itu terlihat tidak kesakitan sama sekali, Scorpio paling tahu bagaimana rasa sakit itu, dan dia tahu bagaimana rasanya terbakar oleh sakit, sama seperti yang ditahan oleh Jun.

"Kita lihat apa yang akan mereka lakukan kali ini," pemilik nama zodiak Scorpio itu, Cho Kyuhyun, kembali menyeringai, dia meletakkan gelas kaca yang sama sekali tidak berkurang isinya itu pada meja di samping kursi yang dia duduki, tangannya yang bebas berangkat ke udara, seakan mencari kepuasan tersendiri dengan segala sesuatu yang ada di hadapannya.

# # #

Kembali kepada Matae dan Jun, keduanya kembali berjalan, lorong yang semakin lama semakin gelap, dengan temaram di sekitar mereka, udara yang panas, keringat yang tiada henti mengalir dari pelipis keduanya. Baik Matae maupun Jun tidak mengurangi waspada mereka akan sekitar. Namun lama kelamaan tekanan itu membuat kedua rekan kerja itu hampir kehilangan kesabaran karena jatuh pada sebuah jurang bernama keputusasaan.

"Hyung, bagaimana jika kita tidak bisa keluar dari sini? Bagaimana jika kita mati di sini? Bagaimana jika-"

"DIAMLAH JUN! AKU SEDANG BERPIKIR!" Jun kaget karena mendapat bentakkan dari Matae, sungguh tidak seperti biasanya. Sepertinya sang hyung tengah frustasi.

Kini sunyi seribu bahasa terjadi di antara keduanya. Jun hanya menatap punggung Matae yang berjalan di depannya dalam diam, dia merasa jika sesuatu yang salah telah terjadi di antara mereka. Suara desingan di sekitar mereka membuat Matae dan Jun berhenti untuk beberapa detik, iris mata kedua memerhatikan sekeliling dengan waspada, kemudian mereka kembali memandang ke depan, di sana ada sebuah pintu tua berwarna hitam, terlihat mencurigakan, namun hanya itu jalan yang mereka miliki.

"Hyung, sebaiknya ki-"

"Kita masuk, Jun." Mengabaikan peringatan yang belum selesai dari Jun, Matae sudah memutuskan tindakannya dan dengan tergesa dia membuka pintu hitam tersebut dengan Jun yang mengikuti di belakangnya dengan pandangan yang sulit diartikan, ada kilat terluka di sana.

Ruangan yang dimasuki oleh Matae dan Jun terbilang lumayan luas, alasnya terbuat dari pasir pantai, sehingga kasar terasa sekali saat keduanya menginjak lantai ruangan yang tidak rata tersebut. Ada sebuah kotak tersegi panjang yang menempel di dinding, di samping kotak itu ada pintu lagi berwarna hijau tua, di dalam kotak ada sebuah kunci dan di atasnya ada sebuah pistol. Matae dan Jun tak beranjak dari tempat mereka semula berdiri. Tidak ingin salah ambil keputusan. Namun Matae yang pertama kali bergerak ingin mendekati kotak berisi kunci tersebut dengan tergesa-gesa, Jun tak ingin ketinggalan jelas mengikuti sang hyung dalam dia dan sesekali merintih.

Matae dengan sumringah mengambil pistol tersebut dan menembakkan peluru pertama ke arah kata berisi kunci yang mungkin bisa untuk membuka pintu di sampingnya. Otaknya yang jenius seakan sudah sirna entah kemana, mana ada orang pintar yang akan meninggalkan senjata untuk 'korbannya' mendapatkan kunci, pasti ada maksud lain.

DOR! DOR!

Tembakkan kedua dan ketiga juga dilepaskan oleh Matae, namun hasilnya tetap sama. Kaca tersebut tidak rusak, tergorespun tidak, seakan-akan memang kaca tersebut dirancang untuk anti peluru.

"Hentikan, Hyung! Pasti ada cara lain untuk membuka kaca itu!" Jun yang tidak tahan melihat kelakuan hyungnya segera menegur. Padahal seharusnya dalam keadaan seperti ini, Hyungnya lah yang bisa menguasai suasana dan berpikir dingin, bukan dirinya.

"Diam kau, Jun! Aku sudah tidak tahan berada di sini!" Iris mata Matae memerah, sebuah ekpresi ketakutan tercetak dengan begitu nyata di sana. Dan itu membuat sadar Jun bahwa memang ada yang tidak beres dengan Hyungnya ini. Kenapa? Seakan-akan hyungnya ini memang kehilangan akal sehatnya. Padahal seharusnya, mereka tidak selemah ini…

"Hyung… Kumohon sadarlah Hyung! Kau sakit! Berpikirlah dengan jernih!" Ucap Jun dengan nada sedikit meninggi, dia memegangi bahunya yang semakin terasa nyeri.

"Memangnya kau tahu apa Jun!? Selama ini selalu aku yang harus memikirkan bagaimana cara kita untuk tetap bertahan, sedangkan kau hanya bermain-main saja dan membuat ulah. Mungkin ini salah satu salahmu hingga kita bisa berada di tempat menjijikkan seperti ini!" Matae dengan kalap melemparkan amarahnya pada Jun. Hingga pemuda yang lebih muda beberapa tahun dari Matae tersebut memasang wajah shock dan tidak terima, emosinya kini juga ikut memuncak.

"Kau yang selama ini bersantai dan selalu memerintah aku! Ini adalah salahmu hingga kita berada di sini! Kau bahkan tidak sadar jika harus aku yang membereskan semua pekerjaanmu jikalau kau melakukan kesalahan, apa kau lupa itu, hah?" Sahut Jun dengan geram, panggilan 'Hyung' untuk Matae hilang begitu saja, dia mendorong bahu Matae dengan lumayan keras hingga Matae mundur beberapa langkah ke belakang.

"DIAM KAU JUN!"

DOR!

Tembakkan keempat dilemparkan Matae ke arah Jun, namun meleset, karena peluru tersebut hanya mengenai helaian rambut hitam Jun, akurasi dari Matae mungkin berkurang karena konsentrasinya yang memang tidak terfokus. Sedangkan Jun yang merasa menjadi korban dari Matae dan merasa jika Matae memang serius ingin menembak dirinya semakin merasa terkhianati. Padahal mereka tidak pernah bertengkar hingga sekeras ini.

'Hm-hm, Haha, HAHAHAHA… Apa kalian sudah bisa melihat kenyataan?' Suara dari spiker yang berada di ruangan tersebut terdengar sangat jernih, baik Matae maupun Jun tak ada yang menyahut, mereka meresapi apa yang diucapkan oleh orang yang berada di seberang sana, seakan terhipnotis.

'Kotak itu hanya dapat dibuka jika salah satu dari kalian mati.' Narasi itu terdengar dengan begitu jelasnya. Baik Matae maupun Jun terdiam. Tidak mungkin mereka saling bunuh, bukan?

# # #

Keringat dingin dari Jun maupun Matae tidak juga berhenti mengalir, suasana panas tidak juga terhindarkan dari keduanya, tidak tahu mengapa berasa ada yang salah, baik Jun atau Matae seakan merasa terhipnotis dengan kata-kata orang yang berada di balik layar. Kotak menuju kebebasan mereka hanya bisa dibuka jika salah satu dari mereka mati? Jangan bercanda.

"Aku sudah tidak tahan lagi, Hyung! Apa yang sebaiknya kita lakukan?" Ucap Jun mencoba mencairkan suasana di antara mereka, dia tidak ingin berdebat dengan Matae lebih dari ini, menurutnya jika mereka bekerja sama seperti biasanya maka mereka pasti bisa melewati ini dengan lancar.

"…Kau mati saja, Jun…" Jawaban Matae membuat Jun membelalakkan matanya, dia memang melihat sesuatu yang tidak beres dengan Matae, seakan-akan Matae sudah hilang kendali dengan pikiran jernihnya tersebut, mereka memang sudah terperangkap dari awal. Jun menggigit bibir bawahnya dengan keras, tidak ada pilihan lain.

"A, apa maksudmu, Hyung?" Ujar Jun dengan gugup, dia mengambil ancang-ancang dengan mundur ke belakang dan mengangkat kedua tangannya ke atas, saat Matae mengarahkan bidikan pistol ke arah dirinya.

"Aku pikir jika aku kehilangan satu orang yang sepertimu tidak masalah, aku bisa mencari yang jauh lebih berguna… HAHAHAHAHA…" Matae berujar dengan nada penuh dengan kegilaan, topengnya lepas sudah, sosok dirinya yang sebenarnya muncul. Sosok biadab, seorang iblis yang mengatasnamakan manusia. Jun terbelalak tak percaya mendengar tuturan kata dari orang yang sangat dia hormati. Sedangkan orang yang berada di balik layar hanya tersenyum melihat situasi ini, dia memang sudah menduganya.

DOR!

Satu tembakkan diluncurkan oleh Matae ke arah Jun dengan penuh percaya diri, konsetrasi penuh akan bidikkannya yang terakhir ini, setelah ini dia akan keluar dari sini, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena game brengsek yang harus mengorbankan seorang partner yang sangat sayang jika dibunuh, namun apa boleh buat? Nyawanya lebih berarti, bukan? Sudah cukup dia bersabar dengan topeng seorang 'Hyung' yang harus dihormati dan dituruti.

Namun dugaan Matae meleset, karena Jun dengan gesit menghindari tembakkannya, sepertinya dia terlalu meremehkan Jun. Dia hanya dapat diam saat dengan sangat cepat Jun berlari ke arahnya dan menendang tangannya yang memegang pistol, hingga pistol itu terlempar jauh ke samping.

ZRASSSH!

Matae terbelalak dengan mata melotot, dia memandang kosong darah yang menyembur keluar dari lehernya, nyawanya melayang dengan begitu cepat tanpa menimbulkan rasa sakit yang berarti. Dengan mata yang masih kosong, tercermin pantulan dari Jun yang memegang sebuah belati tajam di tangan kanannya yang sudah berlumuran darah, iris mata Jun berkilat dengan tajam disertai dengan senyuman sinis dari bibirnya. Dia memang sudah menyiapkan sebilah belati yang dia rawat dengan sayangnya, selalu dia bawa, dan hal tersebut tidak diketahui oleh Matae, karena memang Jun menyiapkan belati tersebut hanya untuk membunuh Matae, orang yang hanya menggunakannya sebagai alat. Ironis memang, mereka bagai musuh yang saling memainkan peran. Saling mendekati hingga akhirnya saling bunuh.

"Hm, Hihihihi… Hahahha, HAHAHAHA…" Dari kikikan berubah menjadi sebuah tawa iblis yang mengerikan, Jun juga sudah membuka topengnya dengan begitu lebar, menampilkan siapa dirinya yang sesungguhnya, dia bukan sebuah alat yang selama ini hanya memenuhi keinginan Matae, dia tidak sepolos itu, justru Mataelah yang masuk dalam perangkapnya, dia tidak sebodoh itu hingga tidak mengetahui di balik sikap baik Matae kepadanya.

"Puas kau, Hah? Cepat buka pintunya!" Teriak Jun dengan geram, dia bergerak dengan agak terseok dan menahan bahunya yang perih ke arah di mana pistol yang semula terlempar, mengambil pistol tersebut dan menggenggamnya di tangannya, belati yang dia gunakan untuk membunuh Matae dia biarkan tergeletak tak berguna, karena memang tugas belati tersebut sudah selesai.

Kyuhyun sang Scorpio yang menyaksikan semua kejadian tersebut hanya semakin melebarkan senyumannya, dia terkikik pelan karena memang semua sesuai dengan keinginannya, penilaiannya memang tidak pernah salah. Penilaiannya multak dan dia bangga dengan hal itu. Akhir yang sangat ironis, namun Kyuhyun harus menghargai siapapun yang berhasil selamat, Kyuhyun menekan sebuah tombol sambil beranjak dari tempatnya duduk.

Kotak kaca yang berisi kunci ruangan berpintu hijau tua terbuka, Jun yang memang sejak awal berada di dekat sana hanya tersenyum meremehkan, jika tahu begini seharusnya dia bergerak lebih cepat dan membunuh Matae. Dengan pelan dia berjalan menuju pintu dan membukanya dengan kunci yang ada. Di balik pintu tersebut ada ruangan putih yang terang benderang, di tengah-tengah ruangan ada sebuah kursi yang diduduki oleh seorang pria bertuxedo hitam yang sangat rapi dengan topeng opera berwarna hitam bercampur keemasan disertai lis berwarna silver yang melengkapi, senyuman manis terpatri di bibir pria itu, dia duduk dengan santainya dengan tangan yang bertepuk seolah memberi selamat kepada Jun.

"Selamat telah sampai sejauh ini," Ujar pria tersebut dengan suara baritonenya yang elegan, ada kilat humor di sana yang Jun tidak suka.

"Jangan basa-basi, cepat keluarkan aku dari sini!" Sahut Jun, dia menodongkan pistol tepat ke arah pria yang dia yakini adalah dalang di balik semua ini, memperlakukan dirinya seperti mainan.

"Apa kau lupa? Bukan kebebasanmu dan partnermu yang aku inginkan, bukankah sudah sangat jelas jika aku menginkan nyawa kalian? Dan kau mempermudah itu dengan membunuh rekanmu sendiri." Pria tertopeng opera menjawab dengan begitu tenang, tidak merasa terancam sama sekali dengan bidikan senjata yang bisa membobol kepala atau organ vitalnya yang lain dalam sekejap.

Pria bertopeng tersebut berdiri dari duduknya, mengeluarkan pistol juga dari balik tuxedo hitamnya yang elegan. Dia membidik balik Jun dengan senyuman meremehkan tidak juga hilang dari bibirnya. Dia mendekat beberapa langkah ke depan, dia tahu Jun tidak akan sembarangan membunuhnya, dia yang memiliki kunci untuk keluar dari tempat ini. Kepercayaan yang tinggi memang tidak pernah menghianati dirinya, dia adalah seorang Scorpio, dia tidak akan terdominasi oleh apapun.

"Kau tahu? Pistol yang kau ancam untuk membunuhku sudah kehilangan gunanya. Pelurunya sudah habis dengan percuma." Perkataan dari pria bertuxedo hitam langsung menampilkan wajah terkejut dari Jun, tangan Jun yang semula yakin menggenggam sebuah pistol kini bergetar tanpa dia ingini. Tanpa pikir panjang Jun melepas pistol tersebut dari tangannya dan bergerak dengan begitu gesit menuju pria di depannya, menggunakan cara yang sama untuk membunuh Matae, dan jelas itu tidak berguna, karena lawan yang dia pilih salah.

DOR!

Peluru dilepaskan oleh Kyuhyun, mengenai tepat pada kepala Jun, membuat pemuda itu tumbang dengan seketika dengan jarak yang sudah sangat dekat dengan tempat Kyuhyun berdiri, darah langsung menggenang. Kyuhyun tersenyum sinis dan mendengus dengan pelan, dia berbalik menuju pintu hitam yang berada di belakang kursi tempat dia duduk.

"Betapa bodohnya, padahal aku berbohong jika pistolnya kehabisan peluru. Namun dia dengan gamblangnya malah percaya padaku. Padahal seharusnya dia tidak mudah percaya dengan orang lain. Dia dengan mudah menghianati rekannya, dia juga dengan mudah membunuh rekannya, ironis malah percaya denganku. Manusia memang aneh," Ucap Kyuhyun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, dia ingin cepat-cepat menghirup udara segar, tugasnya sudah selesai untuk kali ini, dia yakin di luar sana pasti sudah gelap.

# # #

Kyuhyun keluar dari sebuah gedung mewah yang sejak tadi menjadi tempat dia bermain. Seperti dugaannya, malam telah datang, membuat bulan menjadi penguasa malam kali ini. Bulan kali ini begitu besar dan terlihat benderang, meski kadang awan-awan berarak menutupi kilaunya, bulan tetap terlihat megah. Kyuhyun kembali tersenyum, permainan kali ini sungguh menghibur, dia bahkan sampai lupa waktu, objek mainannya memang menyenangkan, mungkin lain kali dia harus sebih sering mendapat pekerjaan seperti ini, tidak terlalu menguras tenaganya, malah semakin menambah kesenangan dalam dirinya.

Sang Scorpio melangkahkan kakinya entah kemana, dia masih memakai tuxedo hitam elegan miliknya, namun sudah tidak serapi awal, karena kini penampilannya lebih 'bad' dan terkesan berbahaya, memang beginilah sebenarnya sosok seorang Cho Kyuhyun. Pemuda yang memang baru saja menginjak umur 20 tahun tersebut sangat berkilau sekaligus beracun.

Bruk!

Perhatiannya yang tidak fokus membuat dirinya menabrak seseorang yang berjalan di depannya. Dengan cepat Kyuhyun mengulurkan tangannya pada korban yang dia tabrak karena sang korban jatuh terduduk di sisi jalan, wajar karena fisik Kyuhyun memang lebih kuat.

"Maafkan aku." Sang korban yang ternyata adalah seorang pemuda berambut pirang kecoklatan yang sangat manis, iris matanya berwarna coklat nan manis semanis almond, tubuhnya langsing dengan kulit putih berkilau, melihat dari fisik dan romansa wajahnya, Kyuhyun bisa menduga jika pemuda di hadapannya seumuran dengannya, entah, mungkin lebih muda. Dari penampilannya bisa dibilang pemuda di hadapannya ini tergolong orang yang berada juga, karena dia terlihat menawan dan rapi pada saat yang sama. Menggiurkan. Meski demikian, Kyuhyun merasa familiar dengan pemuda ini, seakan mereka pernah bertemu sebelumnya, entah di mana, auranyapun terasa tak asing lagi.

"Aku bilang, maafkan aku." Ulang pemuda itu lagi karena tidak mendapat respon dari Kyuhyun. Pemuda ini jelas merasa salah, karena dia merasa dialah yang telah mengambil jalan pemuda bersurai hitam di hadapannya ini.

"Ah, mian. Seharusnya aku yang minta maaf." Sahut Kyuhyun, pemuda di depannya hanya mengangguk dan beranjak pergi, seolah-olah dia terburu-buru akan sesuatu hal.

Kyuhyun hanya memandang punggung dari pemuda manis bersurai pirang kecoklatan sebelum menghilang di belokan dengan iris mata tertarik sebelum matanya yang sehitam batu obsidian menangkap sebuah kartu berwarna putih yang menunjukkan identitas dari pemuda bersurai pirang kecoklatan.

"Kim Leeteuk, kah?" Ujar Kyuhyun saat membaca namanya dari pemuda beriris mata semanis almond yang ternyata adalah seorang mahasiswa kedokteran dari universitas ternama. Kyuhyun kembali tersenyum sebelum beranjak pergi. Dia sama sekali tidak sadar, jika pemuda yang sebelumnya dia perhatikan tidak benar-benar pergi dari tempat itu, Kim Leeteuk tersenyum manis, dia memang menduga jika Cho Kyuhyun tidak akan mengenalinya dengan sosoknya yang seperti ini.

"Ternyata sosok Scorpio tidak sepintar itu jika tidak berhubungan dengan permainan." Ujarnya sebelum benar-benar menghilang di sudut gelap.

# # #


Author's note :

Akhirnya bisa publish juga. Sekarang sibuk binggo karena tugas ini dan itu, ini dan itu, yang begini dan begitu. Hadeuh … Yosh! Langsung saja, balasan review!

Suju Lovers : Iya dong cepet. Soalnya waktu itu lagi sangat bersemangat, dan sekarang malah lelet. Maafkan saya! Memang saya membuat jika semua zodiak tidak saling mengenal pada awalnya. Kibum menyusul ya, Kyuhyun pada chap ini … Makasih reviewnya …

Guest1 : Sudah lanjut, makasih sudah review.

Moetmoet : Gak kok say, Siwon adam Donghae itu Cuma papas an di jalan, Siwon gak SMU kok. Dia adalah penguasaha muda. Psycho seperti itu mudah-mudahan gak ada di tempatmu. Wkwkwkwk … btw, makasih udah review, maaf lama banget …

Scopluse : Iya gpp, makasih udah review, maaf lama banget baru update. Memang mereka memiliki usia yyang beragam, Donghae 17 tahun, Siwon emang 20 tahun, hahaha anda peka jika yang dimaksud anak keluarga Cho yang berulang tahun ke 20 itu adalah Kyuhyun. Okeh ini udah lanjut…

Guest2 : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Kikikyujunmyun : Hahahha, salah. Soalnya Libra bukan Kibum. Tapi someone… hihihihi Makasih udah review

Minyak Wangi : Udah update, makasih udah review. Wkwkwkwkw … Temukanlah jawabannya di chapter2nya … hihihihi

Ddongkoemma : Oke deehh … Makasih udah review

Draconishhorn : Hahahaha ternyata anda memiliki jiwa psycho juga ya … wkwkwk Makasih udah review

Guest3 : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Haikal Kaichou : Waw, anda memiliki feel yang sangat bagus … temukanlah jawabannya nanti. Makasih udah review

Farah Meidita : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Guest4 : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Angelika Park : Hihihi makasihhhh ini udah lanjut kok walau lama banget, saya berasa kena writer's block! Tapi udah enggak kyaknya … Anda memiliki feel yang sangat bagus, memang Libra itu adalah Leeteuk, tapi diam aja ya? Soalnya rahasiaaa #plaakkk! Hihihihi

Guest5 dan Guest6 : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Penpen Sugura : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Kuuhaku-kun : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Latipao : Hihihi, sama aku juga. Aku juga pisces. Wkwkwk Makasih udah review

Guest7 : Ini udah lanjut, Makasih udah review

Dekdes : Makasih,,, hehehe ini udah lanjut, Makasih udah review

RyuELF13 : Iya ini udah lanjut, makasih sudah mengingatkan jika ini sudah setahun. Hehehehe … Makasih udah review