Teenager Life

Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Comfort and Hurt/Romance

Pairing : SasuSaku

Chapter 2 : Our Deal

Warning: Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Typo(s), alurnya ngalur-ngidul, dan kejelekan lainnya. Masalah rate bisa berubah lohhh, hati-hati.

Happy Reading^^


Tak ada gunanya bila kita membahas masalah pelajaran Guru Kakashi yang berjalan tiga jam berturut-turut. Toh, setelah insiden kurang baik itu keadaan kelas menjadi hening karena semua warga kelas sibuk memerhatikan Kakashi yang sedang mengajar. Ya, berilah pengecualian untuk Sakura yang sedang gencar-gencarnya membaca novel. Setelah tiga jam itu, bel istirahat pun berdering. Dengan selesainya bel pertanda istirahat berbunyi, maka selesai juga pelajaran Matematika dan acara membaca novel yang dilakukan oleh Sakura.

Sakura bersyukur bahwa Sasuke sudah lenyap dari sampingnya. Setelah dilihat-lihat lagi, ternyata laki-laki berambut biru dongker itu tengah membicarakan sesuatu dengan Kakashi. Bagus kalau anak baru itu jauh-jauh darinya. Yang ia perlukan hanya membekuk laki-laki itu, bukan berdekatan dengannya. Sekarang saatnya memikirkan bagaimana cara supaya misi yang diberikan Shikamaru dapat berjalan dengan lancar dan cepat selesai. Ah! Untuk ini, ia harus membuat rencana dengan Ino. Emerald Sakura pun berputar-putar mencari keberadaan Ino, tetapi gadis itu sudah tidak ada di dalam kelas ini. Setelah menghela nafas untuk meredam rasa kesalnya, Sakura beranjak dari bangkunya menuju pintu kelas untuk mencari sahabat gilanya.

"Tunggu sebentar, Sakura,"

Mendengar suara berat yang menyebut namanya, Sakura dengan sangat terpaksa memutar balik badannya. Guru bermasker itu menatap wajahnya yang menampilkan ekspresi yang benar-benar tidak ikhlas, sedangkan laki-laki di sebelahnya tersenyum mengejek. Bisa ia tebak apa yang akan dikatakan oleh gurunya yang satu ini. Pastilah dia ingin …

"Bisakah kau mengantar Sasuke untuk berkeliling?"

Menyuruh Sakura agar mengantar Sasuke berkeliling. Benar kan? Sudah tertebak akal bulus manusia di samping Kakashi itu. Sepertinya dia tidak main-main dengan ucapan sebelum mereka berdua terdiam tadi. Kalau begitu, jelas saja Sakura menolak. Untuk apa jalan bersama orang yang paling ia benci untuk saat ini?

"Kau bisa ditemani oleh Hyuuga Hinata," bantah Sakura.

Seorang gadis berambut ungu panjang dengan poni rata yang menutupi alisnya menegakkan kepalanya. Semburat kemerahan langsung muncul di kedua pipi chubby miliknya. Saat iris lavendernya bertatapan dengan tiga orang yang ada di depan, kepalanya kembali tertunduk karena ia gugup. Hyuuga Hinata, orang yang kemarin ia selamatkan.

"Kau mau menemani Sasuke untuk berkeliling, Hyuuga?" tanya Kakashi. Dalam hati, Sakura memohon supaya gadis gagap itu mau menolongnya sebagai tanda terima kasih. Hinata menundukkan kepalanya. Sakura menghembuskan nafas panjang. Agak tersinggung juga dia karena perilaku gadis yang diincar semua anak laki-laki itu. Memangnya wajahnya seseram apa sehingga dia tak mau bertatapan? Dengan ragu-ragu, Hinata menggeleng. Cocok sekali. Mengapa yang ia sebutkan tadi harus Hinata? Dia benar-benar lupa kalau Hinata adalah gadis yang tak mau berbaur dengan laki-laki. Pilihan bodoh, poor you Sakura!

"Kau lihat? Lagipula kau kan mau berjalan keluar, biarkan saja Sasuke ikut bersamamu," kata Kakasi. Sakura menggeleng cepat.

"Guru Kakashi yang baik hati. Aku tak ma …"

"Maaf, ya. Aku banyak urusan, aku titipkan Sasuke padamu," Dengan seenak jidatnya, Kakashi memotong alasan Sakura dan pergi dengan membawa tas mengajarnya. Sasuke hanya tersenyum bagaikan iblis yang senang melihatnya menderita. Sakura menghentakkan kakinya pertanda kesal. Mungkin, setelah ini tensinya akan naik karena si rambut pantat ayam ini. Kemudian, ia berjalan keluar dengan langkah kaki yang terbilang cepat. Melihat itu, Sasuke pun menyusul Sakura.

Tanpa didengar oleh siapa-siapa, kecuali Tuhan Yang Maha Esa, berbagai umpatan kasar telah Sakura dendangkan untuk meratapi nasib sialnya, yaitu mengantar targetnya untuk berkeliling. Sakura membuat langkahnya makin cepat. Dia tak memperdulikan Sasuke yang sibuk mengejarnya. Akhirnya langkah Sakura berhenti karena Sasuke berhasil menggapai tangannya.

"Kau ini mau apa?!" bentak Sakura sambil menghempaskan tangannya dari genggaman Sasuke.

"Kau sudah tahu, kan? Tugasmu sekarang adalah mengantarku berkeliling. Dasar bodoh!" balas Sasuke. Sakura menyipitkan matanya. Wajahnya sudah mulai memerah menahan amarah. Dia terksesan seperti bom atom yang mau meledak. Satu kata lagi yang tak mau ia dengar selain mahluk lemah, yaitu bodoh. Dia merasa itu ungkapan yang paling kasar dari segala umpatan yang lain. Dia lebih senang dirutuki dengan sebutan lain. Misalkan sialan, tak berguna, dia lebih terima itu.

"Bodoh?! Kau sendiri yang bodoh! Kalau kau pintar untuk apa kau memintaku mengantarmu berkeliling?! Kau bisa bertanya pada siswa di sini untuk kembali ke kelas! Kalau kau mau mengetahui berbagai ruangan, buka matamu lebar-lebar untuk membaca!" teriak Sakura dengan keras. Akibat dari perbuatan Sakura itu, semua siswa yang ada di sana datang berkumpul untuk menyaksikan perdebatan antara dua insan manusia itu. Rasanya, harga diri Sasuke langsung terjun bebas menuju tingkat paling rendah saat ia dilihat oleh banyak orang dengan berbagai tatapan yang mengatakan bahwa dia adalah seorang penjahat. Selama ini, selama dia berpindah-pindah sekolah, tidak ada satu pun siswi yang berani membuatnya malu. Ini adalah pengalaman pertamanya dan rasanya begitu menyakitkan melihat semua orang menatap mereka berdua dengan tatapan aneh. Sasuke pun mendekat ke Sakura dan merangkul pundaknya Sakura.

"Jangan begitu, sayang. Aku tahu aku yang salah di sini, aku minta maaf," Sasuke mengelus-ngelus pundak Sakura dan memasang raut muka bersalah. Sakura menoleh ke arah Sasuke dengan kedua mata yang membulat.

"Jadi hanya karena ada masalah. Ya sudahlah, kita kembali saja teman-teman!" ujar salah satu dari penonton. Yang lainnya juga mengiyakan, kemudian rombongan penonton massal itu pun bubar. Meninggalkan sepasang manusia. Yaitu, Ino dan Sai. Ino terpaku dengan mulut terbuka.

"Sa-sayang? Kalian berdua pacaran?" tanya Ino dengan pandangan tak percaya. Sakura menggeleng-gelenggkan kepalanya serta menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri. Sasuke tersenyum.

"Iya, kami sedang ada masalah tadi," jawab Sasuke seakan mewakili jawaban yang mau Sakura ajukan. Sakura makin membulatkan matanya. Astaga! Suatu fitnah besar telah terjadi di sini! Siapa yang mau berpacaran dengan jenis orang seperti Sasuke? Siapa?! Kecuali gadis yang benar-benar gatal yang minta digaruk yang benar-benar ingin memiliki predikat jalang.

"Tidak! Itu fitnah, Ino!" seru Sakura dengan semangat. Ino menatap Sakura dengan pandangan yang seolah mengatakan "apa-kau-tidak-bercanda?" Sakura menepuk jidatnya.

"Apakah aku terlihat bercanda? Jangan gila, Ino! Sejak kapan aku mau dengan orang seperti dia?! Kau tahu seleraku, kan?" Ino mengangguk. Sakura menghembuskan nafas lega.

"Tentu saja. Tipe favoritmu itu kan, tinggi, putih, keren, tampan, kaya, pengertian, dan unik. Itu semua ada di Sasuke, kok," Sakura tercengang. Mulutnya terbuka lebar menunggu lalat yang mau singgah di rongga mulutnya. Tadinya ia pikir, Ino akan membelanya dan akan menaikkan derajatnya. Ternyata malah sebaliknya. Menyesal dia minta pembelaan dengan orang yang otaknya berjaringan lemot seperti Ino. Sasuke yang disebelahnya hanya tertawa pelan dengan tangan yang masih bertanggar di pundaknya. Baru dia ingat, kalau dari tadi tangan Sasuke melekat di pundaknya. Sakura pun segera menyingkirkan tangan Sasuke dari pundaknya dan membuat jarak di antara antara mereka berdua.

"Maafkan kami karena sudah menggangu kalian. Kami permisi," Ino pun pergi bersama Sai yang tersenyum palsu padanya.

"Ino! Ino! Ino! Ino! Ino! INOOOO!" Sakura berulang kali berteriak-teriak memanggil nama Ino karena ia ingat kalau dia mempunyai urusan dengan Ino. Yaitu membuat rencana untuk menangkap grup Invisible dan menjebloskannya ke penjara. Sayangnya, orang bernama Ino itu sama sekali tidak menyahut.

"INO SI BABI HUTAN!" teriak Sakura dengan keras sampai Sasuke menutup telinga karena takut terkena penyakit tuli. Namun, usaha Sakura tersebut gagal karena jarak Ino dan dirinya sudah terlalu jauh dan mungkin saja Ino langsung memakai headseat putih yang biasa ia pakai.

Sakura menyerah. Dia tak mau lagi bermain dengan Sasuke. Terlalu banyak risikonya. Sudah menanggung malu, tenaga habis, pokoknya banyak ruginya. Sakura pun berjalan menuju lapangan basket yang dekat dengan tempat mereka berdiri. Di sana ada pohon yang besar, cocok sekali untuk berteduh di saat siang ini. Ternyata tak hanya ada dia di sini dan Sasuke yang mengekorinya, tetapi juga ada laki-laki berambut pirang yang masuk dalam kawanan Sasuke.

"Inikah jalang selanjutnya, Sasuke?" tanya Naruto.

Pertanyaan macam apa itu? Emosi dalam diri Sakura kembali berlomba-lomba ingin keluar. Dan kata selanjutnya yang ia benci adalah jalang. Memangnya siapa gadis yang mau dikatakan jalang? Sebagai respon, Sakura mengajukan genggaman tangannya ke pipi Naruto. Lagi-lagi karena tinjuan mautnya, ada darah segar yang jatuh menetes. Untuk mengimbangi, Sakura juga memukul pipi kiri Naruto. Alhasil, Naruto pun jatuh tersungkur. Sakura ingin menduduki dada Naruto kemudian menghajarnya sampai wajahnya babak-belur untuk mengatasi rasa kesalnya. Namun, tindakannya dicegah oleh Sasuke. Sasuke menghadang pergerakan Sakura dengan cara memeluknya dengan erat.

"Tenanglah. Jangan termakan emosimu," Sasuke berusaha menenangkan Sakura yang seperti pembunuh berdarah dingin.

"Minggir sialan! Jangan menghalangiku! Aku ingin memukul wajahnya yang jelek itu!" balas Sakura yang sudah seperti manusia kemasukan roh.

Sakura berusaha memberontak. Sasuke juga kewalahan melawan tenaga Sakura yang ternyata seperti banteng liar yang dilepas. Dan, untuk menangkannya, Sasuke memilih melakukan hal nekat. Dia menyatukan bibirnya dengan bibir Sakura. Sakura diam saat lidah Sasuke masuk ke dalam rongga mulutnya untuk mengacak-acak apa yang ada di dalam sana. Sakura hanya diam. Dia seperti terhipnotis akan ciuman yang diberikan Sasuke. Dia merasa terbuai dengan perbuatan lelaki yang dibencinya ini. Merasa tangan Sasuke merambat ke kepala belakangnya untuk memperdalam ciuman mereka, Sakura sadar. Dia tak seharusnya melakukan ini dengan Sasuke. Dan, Tuhan! Lelaki gila yang kurang ajar inilah yang menuri first kiss yang selalu dijaganya. Kisah macam apa ini? Baru pertama bertemu first kiss sudah dicuri dan dia hanya diam! Tuhanku!

Sakura pun mendorong dada Sasuke yang tadinya bersentuhan dengan dadanya. Demi apapun, pencurian first kiss adalah hal yang ia paling benci dibandingkan dengan dibilang mahluk lemah, bodoh, dan jalang. Tadi itu adalah pertama kalinya rongga mulutnya dimasuki oleh daging tak bertulang milik orang tak dikenal dan laki-laki. Sakura terpaku di tempatnya. Dia tak menyangka, bahkan sama sekali tak pernah berpikir bahwa first kiss yang selalu dia jaga akan diambil secepat ini. Naruto yang merasa bersalah karena sudah menyebabkan kekacauan ini pun pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura. Pandangan Sakura kosong. Sepertinya Sakura sangat menghargai kehilangan first kiss yang selalu dibanggakannya karena belum juga hilang. Namun kata "belum juga hilang", dihapuskan sekarang. Mereka berdua bertahan dalam keadaan hening. Beberapa selang waktu kemudian, Sakura tertawa dengan putus-putus. Matanya mulai digenangi oleh cairan bening.

"Apa yang kau lakukan tadi?" tanyanya dengan tatapan tak percaya. Sasuke menghembuskan nafas panjang. Baru pertama kali ini dia melihat gadis yang ia curi first kiss-nya menangis. Kalau di sekolahnya yang dulu, mereka malah kesenangan. Dan, perasaan menyesal meresap masuk menyentuh batinnya.

"Aku minta maaf," balas Sasuke dengan mendekatkan dirinya pada Sakura. Tetapi Sakura berusaha menjauhi Sasuke dengan mundur ke belakang, ternyata dibelakangnya adalah kursi penonton. Sakura pun terduduk di sana.

"Kau tak seharusnya melakukan itu,"

"Sakura, aku ..."

"Kau tak tahu apa masalahku dengan first kiss,"

Sasuke memilih duduk di samping Sakura. Sepertinya, saat ini Sakura memerlukan pendengar, bukan pembicara. Jadi, ia putuskan untuk menjadi pendengar tanpa niat untuk membantah. Sakura menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan-lahan. Dia berusaha untuk rileks.

"Maafkan aku. Aku tak bermaksud seperti itu," ujar Sasuke dengan menatap Sakura yang menatap lantai lapangan.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan menjadi kekasih orang yang mencuri first kiss-ku, sedangkan aku tidak suka padamu!" cerita Sakura dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sasuke sedikit bingung dengan Sakura. Tetapi, ia tetap diam saja. Dia hanya ingin menjadi pendengar hari ini.

"Mungkin otakku sudah rusak, makanya janji seperti itu bisa kubuat. Memalukannya diriku ini," lanjut Sakura yang masih ada di zona galau. Sasuke tak menyangka kalau banteng liar seperti Sakura memiliki sisi yang seperti lembu yang dengan mudahnya terjebak dalam jebakan si pemburu. Memang aneh gadis satu ini. Mungkin di saat-saat seperti ini, Sakura ingin diberi saran. Jangan-jangan Sakura salah satu penderita bipolar. Sasuke menghapuskan pikirannya. Berbahaya sekali kalau misalkan apa yang ia pikirkan memang benar. Di dalam otak bipolar kan selalu ada niat untuk bunuh diri. Kalau Sakura sendiri, mungkin … Tidak! Tidak mungkin si banteng liar ini mau bunuh diri. Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia perbuat untuk membangkitkan semangat Sakura?

Tring!

Sebuah bola lampu yang memancarkan cahaya kuning muncul di samping kepala Sasuke. Ide yang sepertinya tak terlalu buruk muncul di otaknya dengan tiba-tiba. Mungkin harus ia urungkan niatnya untuk menjadi pendengar saja, sekarang tibalah saatnya untuk dia menjadi pembicara.

"Aku punya suatu ide, kalau kau tak keberatan mendengar," Sakura pun mengangkat kepalanya dan memangku wajahnya dengan air muka suram.

"Bagaimana kalau kita tentukan melalui lempar koin saja? Anggap saja itu sebagai bukti takdir," Sakura mengangguk. Sasuke menunjukkan koin yang entah ia dapatkan darimana. Sasuke melempar koin itu ke atas lalu menangkapnya. Dalam hatinya, ia berharap bahwa apa yang Sakura pilih akan benar-benar terjadi dan artinya mereka berjodoh.

"Ekor atau kepala? Jika benar, maka itu takdir," tanya Sasuke.

"Kepala," Sasuke pun membuka telapak tangannya. Dan ternyata itu kepala. Astaga, apakah benar takdirnya adalah menjadi kekasih Sasuke? Muka Sakura bertambah suram melihat peluang yang ia dapat. Sasuke kembali melempar koin itu ke atas dan menangkapnya kembali.

"Apa yang kau pilih?"

"Kepala," jawab Sakura tanpa berpikir lagi. Ia menjawab masih dengan nada yang sama, nada suram tak ada harapan. Begitu Sasuke membuka kedua telapak tangannya ternyata kepala lagi. Kalau begitu memang betul-betul takdir. Wajah Sakura bertambah suram. Sasuke agak tak enak hati melihat Sakura. Memang tujuannya adalah membuat Sakura menjadi miliknya, tetapi jika seperti ini, mendingan tidak usah saja.

"Untuk hasil akhirnya, kita tanding saja," Sasuke berdiri dan dia mengajak Sakura untuk melakukan hal yang sama. Kemudian ia mengambil bola basket yang ada di dekatnya dan menggendongnya.

"Kita tanding basket. Tiga point saja," Mendengar kata basket, Sakura tak lagi murung. Tak tahu apa sebabnya, semangatnya bangkit kembali. Sepertinya Sakura menyukai basket. Sekarang dia seperti robot yang yang sudah full di-charger.

"Berapa menit waktunya?" tanya Sakura. Sasuke nampak berpikir.

"Tiga menit saja. Satu menit dihabiskan untuk membuat satu shoot, adil kan?" Sakura mengangguk setuju. Kelihatannya saat ini Sakura sudah mulai bertenaga.

"Baik. Aku akan pasang timer," Sasuke merogoh kantung celana panjangnya dan mengeluarkan Iphone terbarunya, sama seperti yang Gaara miliki. Sebentar ia berkutat dengan smartphone mahalnya itu, kemudian ia meletakkan ponselnya di bangku penonton.

"Baik. Aku penyerang, kau bertahan," putus Sakura sembari merebut bola basket dari naungan Sasuke. Sasuke dan Sakura menuju ke tengah lapangan. Sasuke berdiri di depan ring basket, sedangkan Sakura ada di hadapannya. Seringai terpatri di wajah masing-masing. Sebagai pemanasan, Sakura men-drabble bola basket itu sebanyak tiga kali. Setelah itu, dia maju. Setelah agak dekat dengan ring, Sakura berusaha melemparnya dan ternyata masuk. Sasuke sama sekali tak menduga bahwa Sakura akan secepat itu. Sakura tersenyum senang.

"Satu untukku," ucapnya dengan nada angkuh. Kembali Sakura men-drabble bola basket itu. Pergerakannya masih belum bisa dibaca oleh Sasuke. Sakura berlari zig-zag, kini dia ada di sisi kanan lapangan. Kemudian ia berlari ke kiri. Sasuke merasa tambah kesulitan. Sasuke memutuskan untuk menjaga daerah kiri, tetapi dengan cepatnya Sakura berpindah ke tengah lapangan lalu melakukan shoot. Bola itu berputa-putar di permukaan ring, setelah menunggu beberapa detik dengan sejuta harapan, bola itu pun masuk.

"Yohooo!" Sakura bersorak senang dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Saat ini adalah saat dimana ia sedang di atas daun, tunggu saja waktu sampai daun itu koyak, maka dia akan jatuh. Sasuke hanya tersenyum, entah apa arti senyumnya itu, tetapi Sakura tak mau memperdulikannya. Yang ia pikirkan saat ini adalah kemenangan yang akan ia raih.

"Satu lagi maka takdir itu akan terpatahkan," Sasuke mengangguk. Dengan senyum yakin menang, Sakura kembali berlari dengan men-drabble bola basket itu menuju ring. Saat Sakura ingin melakukan shooting lagi, dengan mudahnya Sasuke menghalangi bola itu untuk masuk. Sakura membulatkan matanya saat melihat bola itu gagal masuk.

KRIIINGG!

Iphone Sasuke berdering dengan nyaring, pertanda bahwa waktu yang mereka tentukan sudah habis. Tiga menit tanpa terasa sudah berlalu. Seragam Sakura telah basah karena dibanjiri keringatnya. Dia terlihat seperti mandi keringat. Nafasnya ngos-ngosan, lalu ia pun duduk di kursi penonton. Sasuke tersenyum, tepatnya menyeringai. Ia juga duduk dengan Sakura.

"Kau adalah milikku," bisik Sasuke tepat di telinga Sakura. Sakura menghadapkan dirinya ke Sasuke.

"Setan! Aku sudah memasukkan dua bola, hanya dengan satu bola lagi aku akan menang, dan itu semua gagal? Di saat menit-menit terakhir pula! Sialan!" umpat Sakura dengan wajah tak terima. Sasuke mengulurkan tangannya untuk memberikan sapu tangan. Dengan kasar Sakura menerima sapu tangan itu, lalu memakainya untuk mengelap semua keringatnya yang ada di wajahnya. Sasuke tersenyum senang.

"Sudahlah. Mungkin sudah takdirnya," balas Sasuke. Sakura hanya mendengus keras untuk membalas perkataan Sasuke yang tak bisa ia terima di pikirannya.

"Panjangkan kakimu, tidak baik habis berlari kaki ditekuk," Sakura pun memanjangkan kakinya. Dengan cekatan, Sasuke menidurkan diri dengan kepala di paha Sakura. Sasuke langsung memejamkan kedua matanya pertanda dia akan tidur.

"Dasar kurang ajar! Kau benar-benar tidak tahu kalau aku lelah," ucap Sakura dengan sebal.

"Nanti aku antar pulang. Tenang saja, aku mau tidur dulu," balas Sasuke sambil memeluk pinggang Sakura dengan erat. Sakura hanya menghela nafas dan menikmati angin yang berhembus pelan membuai wajahnya. "Dasar laki-laki kurang ajar," batin Sakura kesal.


To Be Continue

Holaaaaaa^^

Kembali lagi bersama saya, di fic saya yang kelima ini. Saya kira ada banyak review lagi yang masuk, ternyata saya salah. Hehehe… Maklumkan saja. Namanya author baru, pasti kepengenannya ngeliat review yang banyak. Walaupun begitu, tak apa kok. Mungkin memang ceritanya saja yang kurang menarik. Ayoo dong, review lagi. Saya yakin ada silent reader yang tak mau mengemukakan suaranya. Silent reader, keluarkanlah suaramu! Aku tunggu loh, komentar kalian. Kalau begitu, saya balas review yang masuk seadanya, ya^^

Khairani N II : Hoyaaaaa^^ Saya bersyukur kalau kamu suka, hehehe. Makasih loh udah mau nyempetin buat post review. Saya berterima kasih, ya. Maaf nggak bisa update kilat, sekali maaf kalau mengecewakan. Terima kasih yaaa, jangan lupa review lagi^^

Re UchiHaru Chan : Hellloooo! Salam kenal juga, ya^^ Saya juga bersyukur kalau kamu juga menyukai fic ini. Ini udah di update yoo, maaf kalo agak lama hehehe. Sudah dilanjutkan yaa. Yoshhh! Ganbatte Ne! Makasih lohh karna sudah mereview. Ketagihan nih, lagi boleh gak?^^

Azizaanr : Haloooo^^ Ternyata kamu kembali muncul di new fic ini. Kyaaaaa! Kalau mau jujur, saya senang sekali lohh. Apalagi karena kamu bilang suka, hehehe.. Maaf ya gak bisa publish cepet-cepet. Biasa, penyakit lama update saya belum bisa hilang sampai sekarang. Okay, ini udah di update supaya kamu seneng. Makasih lohh udah mau mereview dan melibatkan diri untuk berpartisipasi dalam fic ini. Saya tunggu yang review selanjutnya^^

Meskipun orang yang satu ini tidak memberi review, saya mau numpang bicara di daerah bacot area ini. Maafkanla kalau misalkan, jadi agak rame.

Jeremy Liaz Toner : HAIIII! Apa kabar kamu? Kamu diam-diam masih mengikuti aku, yaaa? #PedeTingkatDewa Ada apa dengan dirimu? #aseekkk Kenapa tidak post review? Padahal aku sengaja nunggu review dari kamu. Jangan diam-diam dong, pengen baca review dari kamu lagi. Mulai sekarang, keluarkan aspirasimu, okay? Aku tunggu lohhh

Baik, semuanya. Sekian balasan review gaje dari saya. Saya harap, kalian tidak ketularan gaje dari saya. Kalau begitu, mengingat mata yang sudah lima watt, saya pamit undur diri dari sini. Saya mohon bantuannya melalui review dan terima kasih. Maaf jika kalau ada kata-kata yang tidak enak dipandang mata. Maaf juga kalau masih ada typo dan segala kekurangan lainnya. Sekali lagi, terima kasih^^