Teenager Life

Chapter 4

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Comfort and Hurt/Romance

Pairing : SasuSaku

Chapter 4 : Mind And Feeling

Warning: Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Typo(s), alurnya ngalur-ngidul, dan kejelekan lainnya. Masalah rate bisa berubah lohhh, hati-hati.

Happy Reading^^


Sakura langsung melepaskan tangan Sasuke karena dia sudah bisa menyeimbangkan dirinya dan tersadar dari apa yang ada pikirannya. Sakura membawa permen kapasnya lalu berlalu pergi. Perasaanya campur aduk. Dia masih memikirkan apa yang ia lamunkan tadi. Dia masih merenungkan bagaimana perasaannya sekarang.

Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya menunggu jawaban. Pertama, mengapa jantungnya berdetak saat ia dekat dengan Sasuke? Mengapa ia merasa nyaman ketika ia membenahi surai biru malam Sasuke? Mengapa dia tiba-tiba merasa senang saat ia memandangi wajah damai Sasuke saat tidur? Dan sekarang, mengapa dia ingin Sasuke mengejarnya? Pertanyaan terakhir, apakah Sasuke mencintainya dengan tulus? Sakura meremas rambutnya pertanda frustasi.

Beban pikiran yang selalu ia tanggung rasanya mau merontokkan helaian lembut rambut pink miliknya. Bermimpi apa dia semalam? Mengapa dia bisa menghadapi masalah yang lebih rumit dari kasus pembunuhan misteri yang belum juga terselesaikan? Sejak kapan, seorang gadis pandai yang menutupi perasaanya tiba-tiba menyempatkan waktunya yang sangat berharga untuk memikirkan masalah sepele, yaitu cinta.

Cinta. Apakah yang dimaksud dengan cinta? Jika pertanyaan itu dilayangkan kepadanya ia akan menjawabnya sesuai dengan apa yang ia pikirkan dan rasakan. Defenisi dari cinta adalah suatu perasaan nyaman, tentram, dan damai dari lubuk hati yang paling dalam yang menyelimuti dada dan mengirimkan impuls rasa senang ke seluruh tubuh dan membuat otak berpikir bahwa dia adalah orang yang paling sempurna di dunia ini. Dari defenisinya saja, kepala sudah dibuat pusing karena kerumitannya, bagaimana mau dilaksanakan? Tunggu sebentar, sejak kapan dia bisa menggabungkan frase seperti seorang siswa sastra yang berbakat dan tekun? Ini semua karena perasaan bernama cinta itu! Cinta ini membuatnya gila!

Kalau begini, lebih baik dia tidak mengambil keputusan secepat itu. Harusnya, dia tidak menceritakan perihal nazarnya tentang ciuman pertamanya. Kalau begitu, ia tak usah menjalani hubungan dengan targetnya. Sesuai dengan pepatah yang berlaku. Penyesalan selalu datang di saat-saat terakhir, kalau di awal namanya pendaftaran. Baiklah, lupakan pikirannya yang sedikit melenceng itu. Harap dimaklumi saja, dia kan sudah gila. Sudah tidak waras dan berakal sehat lagi. Sekarang dia merasa bahwa dia adalah orang yang paling bodoh di dunia sejagad raya ini. Paling bodoh! Perlu kalian tekankan itu, dia tak akan marah jika kalian katakan itu padanya–saat ini.

Lagipula, mana ada kisah yang menceritakan bahwa sang pemberantas kejahatan jatuh cinta bahkan menjalin hubungan yang dekat dengan sang buronan. Apakah ada? Baik, dia akui kalau cerita itu ada. Tetapi hanya sedikit kan? Mungkin, kisahnya masuk di dalam sedikit dari cerita yang temanya cukup jarang itu. Lupakan itu dan kembali ke pokok permasalahan yang sedang membayangi dirinya. Bolehkah dia mencabut perjanjiannya dengan Sasuke? Rasanya, dia mau memutuskan hubungan ini. Ini semua sama sekali tak berguna. Sangat tak berfungsi untuk kelancaran kasus yang harus ia selesaikan ini. Yang ada, hubungannya dengan Sasuke malah memperburuk keadaan dan membuatnya merasa tidak enak dan membuat mentalnya melemah.

Tolong beritahu aku, sejak kapan Sakura si mental baja bisa menjadi seperti ini seakan dia adalah gadis desa yang tidak punya pengetahuan tentang apapun. Julukannya itu mungkin akan segera terhapuskan karena nyatanya, sekarang dia adalah salah satu bagian dari gadis bermental rapuh seperti debu. Astaga! Ya, Tuhan! Sejak kapan dia menjadi seorang penyair yang selalu merenung dengan kalimat yang sangat puitis seperti ini. Baru setengah jam ia menjalani hubungan dengan Sasuke, tetapi rasanya seperti setahun dan serasa disiksa di lautan api yang paling panas, neraka.

Sakura menarik nafas dalam untuk menetralkan segala pikirannya yang sudah kelewat batas. Dia berjalan ke arah tempat duduk yang dihias sedemikian rupa yang sepertinya terletak di tengah Animeland ini. Tak ia sangka, ia melamun sambil berjalan seperti orang tidur yang ngelindur. Tawa hambar masih ia suarakan walaupun dengan suara yang sangat pelan. Sakura memutuskan untuk duduk dan mengistirahatkan diri sambil memakan permen kapasnya. Ia memandangi semua orang yang berlalu-lalang di depannya dengan saksama. Mereka semua adalah pasangan bad boy dan nerd girl yang sepertinya juga bolos, kebanyakan. Ternyata kisah percintaan antara bad boy dengan nerd girl banyak terjadi. Ia kira itu hanya seulas imajinasi dari si penulis.

Ada juga sebuah keluarga yang lengkap dengan sepasang anak yang lucu. Keluarga yang sederhana, lihat saja dari pakaian yang digunakannya. Meskipun begitu, mereka terlihat gembira dengan apa yang mereka miliki. Keluarga yang bahagia itu duduk di depannya, tepat di belakang sebuah patung Doraemon yang sedang tersenyum lebar sembari mengangkat tangan seakan menyapa dengan hangat.

Sakura tak bisa menahan senyumnya. Sebuah keluarga yang bahagia dan utuh. Hanya hal itu yang ia dambakan, tak lebih. Tetapi sayangnya, ia tak bisa mewujudkan impian terbesarnya itu. Ia tak tahu mengapa saat kecil ia menghabiskan waktunya di panti asuhan yang kecil dan terpencil. Bukannya bergaul untuk bermain bersama, dia hanya ingin membaca sebuah buku cerita yang tak lazim dilakukan oleh teman-teman sebayanya saat itu. Dengan sedikit bantuan dari Ibu Panti, dia bisa membaca. Semuanya ia baca tanpa memedulikan keadaan lingkungan sekitar. Seiring ia tumbuh berkembang, ia sering mengintrogerasi Ibu Panti dengan berbagai pertanyaan yang menyinggung keberadaan Ibunya. Namun, semuanya berakhir begitu saja sampai dia diasuh oleh keluarga Sabaku.

Segala yang terjadi di panti tak meninggalkan kesan atau bekas di hatinya. Toh, semuanya sudah berlalu. Apa yang bisa diperbuat selain mengingat? Lagipula itu adalah masa lalu yang tak pantas diingat, lebih baik dia menatap lurus dan melangkah maju ke depan. Tetapi di samping itu, hatinya masih menyimpan resah karena memikirkan dimana keberadaan Ibu kandungnya. Memang, dia selalu mengutuk wanita yang tak pantas disebut sebagai Ibu itu, bukankah Ibu memiliki perasaan yang lembut dan sangat tidak tega? Lalu mengapa Ibunya tega untuk meninggalkan dirinya yang saat itu masih memerlukan kasih sayang dari Ibunya? Tetapi, jauh di dalam rongga terdalam di ruang hatinya, ia masih memikirkan Ibunya. Ia ingin tahu bagaimana rupa Ibunya. Ia ingin tahu perangai Ibunya. Ia ingin tahu segalanya. Namun, semua hasrat yang mendalam itu selalu tertutup oleh perasaan bencinya pada Ibunya yang tercinta.

Sakura memejamkan matanya dan mendongkakkan kepalanya. Ia merasa kalau ada cairan bening yang membuat matanya panas dan cairan itu ingin menerobos keluar membasahi kedua pipinya. Lalu, ia mengerjap-kerjapkan matanya agar liquid bening itu tak jadi turun melewati kelopak matanya. Kemudian, ia mengusap-usap kelopak matanya. Helaan nafas kembali terdengar. Ia benci semua ini! Saat dimana ia harus menangisi hal yang mustahil ia lihat. Dengan bodohnya dia menangis demi wanita brengsek yang meninggalkannya tanpa perasaan! Air matanya terlalu berharga dan terlalu mahal untuk menangisi wanita yang tak punya rasa keibuan itu.

"Sakura!"

Sakura langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata Sasuke yang sedang berlari ke arahnya seperti sang penggemar berat bertemu dengan artis idola pujaannya. Sungguh konyol, memangnya siapa dirinya sampai Sasuke mau berteriak seperti orang gila demi memanggilnya. Sakura sama sekali tak ada niat untuk menghampiri Sasuke, padahal tadi dia memikirkan apakah Sasuke mencarinya. Sekarang, wanita itu sok jual mahal. Topengnya memang berlapis-lapis sehingga ia dapat menutupi perasaannya. Tetapi, begitulah sikap agen polisi yang baik. Dia mempelajari itu dari tokoh novel kesukaannya setelah Sherlock Holmes. Yaitu tokoh yang menginspirasi terlahirnya tokoh cerdik kesukaannya, Monsieur Lecoq.

"Aku mencarimu kemana-mana tahu!" ungkapnya dengan nafas terengah-engah karena lelah. Sakura hanya mangut-mangut sebagai respon netral, tidak negatif apalagi positif. Dia sedang malas meladeni laki-laki di depannya ini, karena dia, Sakura merasa bahwa dia sedang ada di pusaran air yang arusnya sangat kuat sehingga ia tak bisa berenang keluar untuk mengambil nafas barang sebentar saja.

"Dari tadi aku hanya duduk di sini," balas Sakura dengan pandangan lurus ke depan. Kelihatan sekali, kalau Sakura ingin menghindari kontak mata dengan Sasuke dan ingin mengacuhkan laki-laki itu. Sasuke pun mengambil tempat di samping Sakura.

"Ayo! Kita harus menaiki semua wahana di sini!" Sasuke tiba-tiba mengambil pergelangan tangan Sakura dan berdiri. Dengan sangat terpaksa, Sakura berdiri dan mengikuti langkah kaki Sasuke yang seenaknya mengajaknya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu. Muka tekuk sembilan dipamerkannya kepada orang-orang yang ada di sekitar wahana yang hendak mereka naiki.

Kalian tahulah apa yang akan dinaiki oleh pasangan yang berani ini. Ya, tentu saja wahana yang memacu adrenalin. Setidaknya dapat membuat jantung berdetak lebih cepat, sama seperti saat berdekatan dengan orang yang disukai. Wahana yang akan mereka naiki ini adalah wahana yang menampung sepuluh orang. Kalian tahu kan? Yang akan membawa kalian ke atas ketinggian sekitar dua puluh meter dengan kecepatan kereta listrik tercepat. Lalu setelah itu benda itu akan membawamu kembali dengan guncangan seperti komet yang jatuh ke bumi. Mesin itu akan melakukan hal itu sekitar empat kali.

Kini tiba giliran Sasuke dan Sakura. Setelah menyelesaikan persyaratan agar mereka bisa memainkan wahana itu, mereka berdua masuk. Sasuke dan Sakura langsung mengambil tempat yang membuat mereka berdekatan. Setelah itu, mereka memakai sabuk pengaman dan pegangan yang ditarik dari atas ke bawah seperti ban yang melingkari leher karena besar dan tebal. Suara yang mengatakan bahwa sebentar lagi mesin ini akan dijalankan telah terdengar. Tinggal menunggu tiga sekon maka mereka akan merasakan sensasinya.

"GO!"

Setelah tiga detik menunggu, mesin itu mulai menujukkan fungsinya. Dia membawa para penumpang menuju ketinggian dengan sangat cepat. Sakura berteriak dengan keras karena kaget. Setelah sekitar dua sekon di atas ketinggian, mereka kembali dibawa ke bawah dengan cepat. Rasanya seperti dibanting dengan bantingan punggung dengan sangat kuat. Mesin itu tak memberi jeda seperti saat mereka sampai di atas, melainkan langsung membawa mereka kembali ke atas dengan kecepatan yang lebih cepat. Sakura kembali berteriak dengan girang. Tanpa dia sadari, ia memegang tangan Sasuke saat mereka turun ke bawah. Sasuke hanya menatap Sakura yang nampak senang sekali dibawa ke ketinggian.

Setelah empat kali dibawa mesin itu naik-turun, maka usai sudah waktu untuk bermain wahana itu. Dengan perasaan yang senang, Sakura melepaskan segala pengaman yang dipakainya, begitu juga dengan Sasuke. Mereka berdua menjauh dari wahana itu dengan tangan yang saling bertautan. Mereka berjalan menuju wahana yang sedikit lebih menenangkan batin. Mereka berdua berjalan ke arah wahana yang berfungsi untuk melihat tempat ini dari ketinggian secara keseluruhan. Tidak perlu mengantri karena wahana ini sepertinya kurang diminati.

Penjaga membukakan pintu tempat duduk yang seperti labu raksasa itu. Saat kedua orang itu masuk, pintu ditutup dan mesin mulai berputar. Secara perlahan-lahan labu yang mereka tempati naik ke atas. Sakura bisa melihat semuanya dari sini. Matanya berbinar-binar saat ia melihat ada cosplay dan badut Shizuka. Sasuke yang duduk dihadapannya hanya senyum-senyum sendiri.

"Kau terlihat manis sekali jika seperti itu," ungkap Sasuke. Pernyataan itu sukses membuat Sakura mengalihkan perhatiannya kepada tokoh kartun favoritnya itu. Emerald jernihnya menatap mata Sasuke dengan deathglare mematikan. Tetapi tak lama kemudian dia merotasikan bola matanya.

"Bullshit!" balasnya kasar lalu mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sasuke hanya terkekeh pelan mendapat jawaban kasar dari Sakura. Sedangkan Sakura yang mendengarkan kekehan itu hanya mendengus keras.

Tiba-tiba saja labu yang mereka naiki berguncang ke kanan dan ke kiri dengan kuat. Karena guncangan itu, Sakura dengan sukses jatuh ke dalam pelukan Sasuke. Kepala mereka berdua bertabrakan dan jarak antara wajah mereka sangat dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Sakura yang menyadari keadaan darurat seperti ini langsung menjauhkan diri dengan duduk di tempatnya kembali. Rona kemerahan muncul di kedua belah pipi Sakura. Untuk menyembunyikan wajahnya yang persis dengan udang rebus itu, Sakura menjulurkan kepalanya ke jendela. Sang penjaga wahana berteriak kepada mereka, tetapi suaranya tidak cukup kuat untuk terdengar sampai ke atas. Tetapi, berdasarkan gestur bibirnya dia berkata "Mesinnya macet. Kalian berada di puncak ketinggian maksimal!" Ya, kurang lebih itulah kata-katanya. Kemudian sang penjaga kembali berkata "Kami akan menghubungi teknisi untuk memperbaiki mesin ini" lanjutnya.

Sakura menghela nafasnya. Dia menyandarkan punggungnya dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Toh, dia tidak phobia pada ketinggian. Sakura berusaha untuk tidak mengumpat dan menjalaninya dengan sabar dan ikhlas. Harus terjebak di ruangan sempit dengan buronannnya adalah masa yang paling membosankan sepanjang hidupnya. Sakura berusaha bersabar diri agar dia tahan pada ujian dari Yang Maha Kuasa yang satu ini.

"Harusnya tadi aku di sekolah saja," Sakura berkata dengan helaan nafas panjang pertanda menyesal. Sasuke hanya dia tak merespons.

"Ikut denganmu adalah pilihan buruk karena sekarang kau membuatku terjebak denganmu di sini. Di ruangan yang sempit dan di ketinggian ini," lanjutnya dengan harapan Sasuke akan terpojok dan kesal lalu mereka berdua akan putus karena dia rajin mengeluh. Sasuke menyunggingkan senyum tipis.

"Bukankah itu bagus? Jadi kita berdua dapat mengenal satu sama lain dengan lebih detail," balas Sasuke yang sepertinya tidak terganggung dengan gerak-gerik bosan yang diciptakan oleh Sakura. Sakura yang tadinya menundukkan kepalanya kini menegakkan kepalanya. Dia menatap Sasuke dengan sinis.

"Mengenal satu sama lain dengan detail? Kau kira itu menyenangkan? Jawabannya sama sekali tidak!" seru Sakura galak seperti anjing yang menyalak.

"Lagipula aku sudah tahu bagaimana dirimu. Kau menyebalkan, egois, jelek, bodoh, pemaksa, sok keren, sok cool, dan yang paling penting kau adalah penjahat!" tambah Sakura dengan sebal. Sasuke hanya membalasnya dengan tertawa pelan.

"Hebat sekali kau ini. Tahu sekali bagaimana karakteristikku. Padahal kita baru kenal," puji Sasuke dengan memberikan tepuk tangan yang meriah. Sakura hanya merotasikan kedua bola matanya.

"Menjijikkan!" teriak Sakura dengan seolah-olah mau muntah. Sasuke makin terbahak mendengar perkataan Sakura. Sedangkan gadis berambut pink itu hanya menatap kesal pemuda di depannya dengan tangan yang menyangga dagunya yang lancip.


Ruang kelas hening. Tak ada yang berani berbicara saat ini. Sekalipun ada Naruto si anak baru yang selalu menimbulkan kehebohan, kini bungkam. Pandangan mereka semua tertuju pada wanita yang ada di depan kelas. Wanita yang berkepala tiga itu terlihat rapi dengan setelannya. Ia memakai baju putih yang dibalut dengan cardigan hijau dan celana panjang berwarna coklat. Tetapi setelannya yang bisa dibilang longar itu tidak bisa menutupi dadanya yang besar dan membusung karena dia berdiri tegap seperti seorang tentara. Rambutnya yang pirang ia ikat dua ke belakang, gaya yang ditunjukkan selayaknya sewaktu seorang perempuan menyandang status remaja. Iris coklat madunya ia gerakkan menyusuri segala penjuru kelas. Dia berkacak pinggang di belakang papan tulis. Tatapannya menajam ketika dia menatap Ino. Ino meneguk salivanya.

"Nona Yamanaka!" bentaknya sembari berjalan ke tempat Ino duduk. Ino mengangkat kepalanya. Dalam hati dia mengumpat dan menggumamkan berbagai sumpah serapah. Jantungnya berdetak lebih cepat saat wanita itu makin mendekat. Bukan karena suka, tetapi karena takut.

"Yamanaka!" Wanita itu kembali berteriak dengan nyaring dengan menggebrak meja dengan kuat. Meja itu nyaris patah karena kepalan tangannya terlalu kuat. Dengan terpaksa Ino menoleh dan menatap iris coklat muda yang dilindungi oleh bulu mata lentik itu. Tatapannya begitu tajam seakan bisa masuk menusuk raganya.

"Y-ya Bu Tsunade?" jawab Ino dengan tergagap saking takutnya. Wanita bernama Tsunade itu menyeringai melihat perubahan raut wajah Ino yang menjadi pucat pasi. Tsunade menatap dua bangku yang kosong. Di sana hanya terdapat tas hitam buatan Louis Vuitton dan tas biru dongker bermerek Export. Matanya membulat melihat bangku kosong itu.

"Kemana Haruno kesayanganku?!" Mendengar pertanyaan Tsunade itu, Ino menghela nafas lega. Dia pikir dirinya akan dihukum karena sedari tadi bermain ponsel sambil mengobrol dengan Sai. Ternyata hanya menanyakan Sakura. Wajar saja kalau Tsunade menyatakan keberadaan Sakura, Sakura adalah satu-satunya siswa yang tahan diajar oleh guru segalak Tsunade dan dia adalah satu-satunya orang yang selalu mendapat nilai sempurna saat ujian Biologi dilaksanakan. Dia juga orang yang paling senang jika di kelasnya diadakan observasi dan penelitian atau praktik mengenai pembedahan dan segala pengetahuan yang bersangkutan dengan tumbuhan.

"Aku tidak tahu, Bu," jawab Ino dengan santainya. Mendengar jawaban Ino, air muka Tsunade langsung berubah. Tatapannya kembali tajam dan berapi-api. Rahangnya mengeras dan dia kembali menggebrak meja membuat semua siswa yang tadinya tenang-tenang saja menjadi panik seketika.

"Dimana Haruno Sakura?!" bentaknya dengan suara lantang. Naruto shock melihat ekspresi Tsunade yang bagaikan manusia yang frustasi karena kehilangan harta yang paling berharga.

"Cepat! Katakan dimana murid kesayanganku itu!" teriak Tsunade dengan geram.

Para siswa yang ada di kelas tak berani bergerak dari tempatnya. Salah satu wanita yang mau mengembalikan pena yang ia pinjam pada teman yang duduk di sebelahnya menjadi mengurungkan niatnya karena melihat Tsunade telah mengamuk murka. Semuanya menatap Ino dengan pandangan yang mengatakan "Ino-tolong-selamatkan-nyawa-kami!" yang disertai dengan pandangan yang memohon dan berserah penuh pada Ino. Ino kembali meneguk salivanya. Melihat Ino yang pusing setengah mati, Sai masih mempertahankan senyum palsunya. Tak ada orang yang tak menatap Ino karena mereka semua tahu kalau Ino adalah sahabat karib manusia yang sejenis dengan Tsunade itu. Karena semua perhatian tertuju pada Ino, Sai mengangkat tangannya. Mata Tsunade yang tajam langsung menoleh ke arah Sai.

"Ya! Kau! Kau tahu dimana Sakura?!" tanya Tsunade dengan antusias dengan jari telunjuk yang tertuju ke arah Sai. Pandangan beralih menjadi kepada Sai. Ino sedikit merasa lebih lega karena tidak diburu perasaan takut mengecewakan yang selalu melindunginya. Sai menganggukkan kepalanya dengan pelan. Tsunade mendekati Sai agar dia dapat mendengar alasan yang dilontarkan Sai dengan puas.

"Aku melihat Sakura bermain basket dengan Sasuke di lapangan. Tetapi itu setengah jam yang lalu. Aku tak tahu mereka masih ada di sana atau tidak," jawab Sai dengan alasan yang dikarang-karang. Padahal jawabannya memang benar sesuai dengan fakta yang ada. Tsunade membulatkan kedua matanya seakan di tak percaya dengan apa yang Sai katakan.

"Mereka bermain basket? Setengah jam sebelum pelajaranku?" Tsunade berkata pada dirinya sendiri. Sai hanya mangut-mangut untuk meyakinkan Tsunade.

"Berarti Sasuke yang mengajak Sakura untuk membolos! Astaga! Mereka berdua akan kuhukum besok!" gumam Tsunade dengan tatapan tajam. Semuanya kembali meneguk ludahnya masing-masing karena gumaman Tsunade masih terdengar di telinga mereka dengan jelas. Tsunade meremas kepalan tangan kanannya dengan geram. Tsunade kembali ke meja guru yang disediakan lalu membuka buku paket Biologi.

"Kalian buka halaman tiga puluh sembilan! Kerjakan semua latihan itu! Sekarang!" teriak Tsunade garang setelah ia kembali memukul meja kerjanya dengan keras karena rasa kesal meluap-luap dalam dirinya. "Haruno Sakura, akan kuhukum kalian karena berani bolos di pelajaranku!" dalam hatinya Tsunade berkata.

"Ng.. Bu Tsunade," Ino mengangkat tangan kanannya ragu-ragu. Tsunade melirik Ino dengan pandangan malas. Ia mengangkat dagunya ke atas.

"Bolehkah saya permisi ke toilet?" tanya Ino. Tanpa pertimbangan, Tsunade mengangguk. Ino menggeser bangkunya lalu beranjak dari bangkunya. Dia segera keluar dengan langkah terburu-buru. Ino berlari menuju toilet. Ketika di sampai di sana, ia masuk ke dalam toilet perempuan lalu mengunci pintu dengan grandel pintu.

"Sakura kurang ajar!" umpat Ino kesal. Ino merogoh sakunya lalu mengambil Iphone 5s dengan paper case bertuliskan I'm A Princess. Ino segera menekan tombol di atas layar ponsel mahalnya itu yang telah ia hafal di luar kepala. Kemudian ia menempelkan Iphone-nya ke telinga kanannya. Tak perlu menunggu lama, teleponnya tersambung.

"Heh! Setan neraka!" sapa Ino kasar. Suara dari sana mendengus.

"Apa ratu iblis?!" balas suara yang sudah tak asing di telinganya. Siapa lagi kalau bukan rekannya yang sangat akrab dengannya, Haruno Sakura.

"Kau ada dimana, hah?! Jangan seenak jidat lebarmu itu! Kau tidak ingat, apa saja jadwal pelajaran hari ini?!" sembur Ino dengan panas. Sakura yang ada di seberang sana mendengus.

"Siapa? Kenapa berteriak?" Suara berat ala laki-laki jantan terdengar juga. Ino makin panas dengan tingkah Sakura pada hari ini. Terdengar kalau mereka sedang bertengkar, padahal teleponnya masih tersambung.

"Kau kira aku lupa? Aku bolos pada jam Fisika!" jawab Sakura dengan yakin. Ino menepuk keningnya dengan keras sampai Sakura mendengarnya dengan sangat jelas.

"Kau. Adalah. Manusia. Yang. Paling. Idiot!" Ino berkata dengan kata-kata yang berjeda dan penuh penekanan. Sakura tidak terima dengan pernyataan yang dikemukakan Ino.

"Hah? Apa? Apa aku ti…"

"Idiot! Bodoh! Dasar pelupa! Apakah kau tidak ingat kalau Fisika diganti dengan Biologi karena Guru Asuma menemani istrinya yang sedang melahirkan?!" potong Ino dengan kesal. Dari ujung telepon, Sakura berteriak dengan suaranya yang cempreng dan nyaring. Sakura juga mengumpat mendendangkan sumpah serapah yang telah biasa ia ucapkan dengan lancar.

"Baru bangun dari alam mimipi, sobat?" Ino menyindir secara halus. Sakura berdecak sebal.

"Sial! Pasti besok aku akan dihukumnya! Sial! Sial! Sial!" umpat Sakura dengan kesal. Ino menghela nafasnya.

"Salahmu sendiri. Bye!" Ino langsung memutuskan sambungan telepon seenaknya. Kemudian ia merapikan diri lalu segera berlari kelasnya.

"Sial sekali hidupku ini!" gerutu Sakura lagi. Sakura pun kembali memasukkan Iphone miliknya kembali ke dalam saku seragamnya. Sedangkan Sasuke yang ada di depannya hanya bisa menatap Sakura karena dia tidak mengerti masalah apa yang akan mereka berdua hadapi nanti.


To Be Continue

HHHHHHHHHaaaaaaaaaaallllllllllllllooooooooooooweeeeeeeennnnnnnnnn!

Maafkan saya tadi itu alay mode on. Okay, kita kembali bertemu ya! Ah maafkan juga karena aku ini selalu lama update. Aku mau post chapter ini sebagai closing, karena minggu depan udah masuke ke bulannya ulangan. Hehehe.. Saya minta maaf juga kalau misalkan chapter ini sama sekali tidak memuaskan. Sekali lagi saya minta maaf! #bungkukbadannunduk-nunduk Ini saya buat selama dua jam dengan ngebut lohhh #curhat. Saya cukup sedih karena reviewnya turun. Hmm… tapi nggak masalah. Mungkin memang ini yang jelek kali, ya? Ya, sudahlah. Daripada mikirin itu mending saya membalas review yang masuk.

Jeremy Liaz Toner : Hallo! Cieee yang meninggalkan jejak pada angin yang berhembus cieee. Cieeee yang suka juga cieeee. Ini diupdate kok, cuman kayaknya kurang baik saja. Semua orang ninggalin jejak kalau di jamban kelesssss… Gimana sih kamuuuu #gemess #apasihahgaje! Ahahaha maafakan diriku ini. Makasih buat yang sebelumnya yaaaa. Btw, Jangan nggak review lohhh^^ #deathglaremengancam

Hanazono Yuri :Hayyyyy! Ini lanjutannya loh, ini dia! Semoga suka yaaaaa! Kalau mau lihat Gaara sister complex, next chap aja yaa. Nggak sempet soalnya #soksibukamatsihloh Makasih yaa udah post review. Lagi dong lagi hehehhe:3

Sky Of Tears : Holllaaaaaa^^ Saya belum pernah denger atau lihat penname kamu. So, salam kenal dulu yaaa. Hahhaha.. Iya dong! Siapa dulu yang bikin, author gitu loh. Si Sasuke mah emang maunya begitu mulu. Ya, gak Sasuke? #senggolSasukedikit Ini udah dilanjutkan kok. Semoga suka yaaaa^^ Saya minta maaf karena kagak bisa update kilat. Berbagai kendala menganggu saya:(( Makasih banget udah nyempetin buat post review. Lagi, lagi, lagiiiiiii:3

WARNING!

Mungkin saya akan menghilang selama satu bulan ini. Mungkin ini adalah post terakhir saya di bulan ini. Saya minta maaf. Bukannya benar-benar mau out bukan, cuman butuh refreshing dikit doang, supaya ada insipirasi. Jadi, kalau begitu saya pamit untuk undur diri. Ehhhhhh, tapi nggak tahu juga sih. Tergantung keadaan, tapi kemungkinan besar iya. #Labil

Akhir kata, sekian dan terima kasih.

Mind to RnR?:3