Teenager Life
Chapter 5
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Comfort and Hurt/Romance
Pairing : SasuSaku
Chapter 5 : The Truth
Warning: Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Typo(s), alurnya ngalur-ngidul, dan kejelekan lainnya. Masalah rate bisa berubah lohhh, hati-hati.
Happy Reading^^
Sakura meremas rambutnya dengan wajah frustasi. Ia genggam ponsel mahal yang ada di tangannya dengan erat. Ia letakkan ponselnya di sampingnya agar ia dapat berpikir dengan jernih dan tenang. Baginya, berpikir sambil memegang ponsel menyebabkan ketegangan tersendiri karena ia takut ada telepon masuk yang nantinya akan memarahinya. Sakura membuat kepalanya tertunduk dalam. Ia menyadari semuanya. Apa yang dilakukannya hari ini akan menimbulkan dampak yang sangat besar dan berpengaruh untuk hari esok. Sedangkan laki-laki di depannya tetap mengawasi gerak-gerik Sakura yang menurutnya aneh tanpa tahu betapa stress-nya dia.
Sejenak kemudian, Sakura menegakkan kepalanya. Ia menghembuskan nafas selambat mungkin. Kembali pandangannya ia torehkan ke jendela labu raksasa tempat ia dan Sasuke bernanung. Kalau dihitung, kira-kira ketinggian antara labu dengan tanah adalah dua puluh lima meter. Lalu rangkaian mesin ini disusun dengan besi-besi kecil yang kuat dan tidak terlalu jarang. Sakura mulai menimbang-nimbang pemikirannya. Dia tersenyum saat ide gila muncul di kepalanya dengan bola lampu yang berpendar terang.
"Aku akan keluar dari situasi bodoh ini!" Sakura berkata dengan yakin. Sasuke hanya menatap Sakura dengan pandangan yang meragukan ucapannya. Sakura pun mendekatkan jarak antara dirinya dengan pintu masuk labu. Ia membuka pengaman pada pintu itu sehingga pintu itu terbuka dengan bebas. Sakura mendekatkan dirinya ke pintu itu.
Semakin dekat hingga kakinya jatuh menyapa angin. Sasuke yang berpikir bahwa Sakura akan mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri pun langsung menarik leher kaos Sakura sehingga Sakura mundur ke belakang dengan kaki yang terseret dengan lantai besi tempat kaki mereka berpijak. Sakura melepaskan tangan Sasuke dari kerahnya.
"Apa yang kau lakukan bodoh?!" bentak Sakura dengan dada naik-turun. Sasuke menatap Sakura dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras.
"Kalau kau mau mengakhiri penderitaan yang kau alami karena aku, jangan lakukan itu dengan bunuh diri di depanku! Lagipula, apa kau ini tidak sayang nyawa! Kau bukan kucing! Nyawamu itu hanya satu!" Sasuke marah-marah seperti seorang Ayah yang sedang memarahi anaknya yang nakal. Sakura hanya cengo di tempat.
"Apa? Bunuh diri? Karenamu?" Sakura membeo dengan ekspresi yang meremehkan. Sasuke menanggukkan kepalanya.
"Dengar, aku tidak mungkin melakukan itu. Karena apa? Mengakhiri hidup dengan bunuh diri karenamu itu adalah hal yang mustahil! Tutup mulutmu dan hilangkan semua kata-kata yang telah kau siapkan untuk menceramahiku lebih lanjut karena aku tidak akan mendengarkan orang sok bijak sepertimu!" Sakura melanjutkannya dengan senyum sarkastik.
"Satu lagi. Jangan mencoba untuk melarangku karena kau bukan siapa-siapa!" Sakura menekankan kata-katanya dan semuanya tertancap dalam di ulu hati pemuda di depannya dengan teppat.
Setelah mengatakan segala perkataannya dengan nada dingin dan menusuk. Sakura kembali berniat untuk menjalankan misinya. Ia kembali mendekatkan diri ke pintu. Iris mata hijau hutannya fokus lurus ke depan. Ia menerka-nerka jarak antara dirinya dengan ayunan pertamanya menuju besi pertama. Setelah pemikirannya telah matang, ia mempersiapkan diri. Ia mundur beberapa langkah lalu berlari kecil penuh kepastian dan tangannya pun langsung meraih besi pertamanya. Teknisi yang telah datang dan beberapa penonton lainnya bersorak ketakutan dan berteriak memperingatkan agar Sakura menghentikan aksinya dan berhati-hati. Sedangkan Sasuke hanya menatap punggung Sakura yang melanjutkan kegiatannya untuk berayun seperti orang utan.
Sakura tampak ahli dalam melancarkan acara berayunnya. Ia terus berayun dari besi ke besi sampai ia benar-benar sampai ke bawah. Sesampainya di bawah ia langsung berlari menuju pintu keluar. Sasuke terus melihatnya dari jendela sampai punggung Sakura benar-benar menghilang dari pandangannya. Sasuke yang jengah dengan keadaan ini, juga berpikiran untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Sakura. Namun sebelum memulainya, ia melihat ada sebuah ponsel di hadapannya. Seukir senyum terlukiskan di wajahnya sembari ia menggantongi ponsel itu "I got you!" gumamnya dengan senyum licik. Setelah itu, Sasuke juga berayun untuk turun dari wahana yang menjengkelkan itu dengan lancar bahkan lebih cepat.
Tes… Tes… Tes…
Air dari langit turun menjatuhi bumi dan mengampiri pipi tirus Sakura. Sakura menghentikan langkahnya dengan menepuk pipinya. Ia merasa bahwa pipinya basah. Saat kepalanya mendongkak ke atas, air dari langit turun makin cepat dan deras. Sakura menundukkan kepalanya lalu berlari dengan kencang mencari tempat untuk berteduh karena hujan telah turun. Sakura berlari kencang menuju halte untuk berteduh.
Ketika ia sampai di halte, ia duduk dengan nafas terengah-engah. Sakura melihat jalanan mulai tergenang oleh air hujan. Atmosfir juga menjadi gelap dan awan keabu-abuan berkumpul di hamparan langit. Sakura menghela nafas panjang. Ia merasa benar-benar sial hari ini. Ia melirik pergelangan tangannya tempat jam tangan "Baby-G" putih kesayangannya melingkar dengan pas. Sekarang sudah siang. Sekolah juga pasti sudah bubar. Jadi, Sakura berniat untuk meminta Gaara untuk menjemputnya. Sakura pun meraba saku roknya dan ia tidak mendapatkan apa yang ia mau. Seketika itu juga Sakura merasa panik karena ponselnya tidak ada di sakunya.
Sakura mencoba untuk mengingat-ingat dimana terakhir kali ia meletakkan ponselnya. Sakura mencoba untuk mengurutkan kegiatan-kegiatan yang ia lakukan hari ini untuk mengingatnya. Ah! Dia mengingatnya. Iphone itu pasti ketinggalan di labu raksasa itu. Sakura memukuli kepalanya dengan kedua tangannya dan terus menggumamkan "Bodoh, bodoh, bodoh!" secara terus-terusan. Ingin rasanya Sakura menagis karena nasibnya yang kelewat sial hari ini. Dia benar-benar frustasi karena masalah yang berkumpul di bahunya sangat berat.
Tetapi, di tengah-tengah keputusasaan Sakura, sedikit kebisingan yang disebabkan suara klakson dari mobil yang ia sangat kenali mencoba mengalihkan perhatiannya dan membuat keributan. Kaca mobil itu pun perlahan-lahan terbuka dan menampilkan sosok yang sangat tidak ingin Sakura lihat. Ia muak melihat rambut biru dongker seperti ekor ayam itu. Sakura langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Masuklah ke dalam, Sakura!" teriak Sasuke dengan lantang. Sakura tetap pura-pura tidak melihat keberadaan Sasuke. Namun nyatanya, Sasuke tidak pantang menyerah. Ia terus membunyikan klakson mobilnya bertubi-tubi.
"Apa kau tidak mau benda ini kembali padamu, Sakura?" tanya Sasuke dengan senyum liciknya.
Akhirnya Sakura pun menoleh ke arah Sasuke karena ia sudah tidak tahan akan keributan yang dibuat oleh Sasuke. Lagipula Sakura juga penasaran benda apa yang dimiliki Sasuke sehingga dia bisa tersenyum sombong di depannya. Saat ia menoleh ke arah Sasuke, ia mendapati Sasuke memegang Iphone kesayangannya.
"Punyaku! Kembalikan itu!" teriak Sakura sembari berlari menghampiri mobil Sasuke menerobos hujan yang turun deras. Ia membuka pintu mobil dan langsung masuke ke dalam untuk mengambil ponselnya kembali. Begitu Sakura masuke ke dalam mobilnya, Sasuke langsung mengunci mobilnya.
"Kembalikan ponselku!" pinta Sakura dengan kasar. Tetapi, Sasuke menghiraukannya dengan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya. Lalu ia menatap Sakura yang melipat kedua tangannya dengan ekspresi sebalnya.
"Aku tidak mau mengembalikannya." Sasuke berkata dengan datar. Sakura tertawa pelan.
"Tentu saja. Berapa yang harus kubayar agar ponselku kau kembalikan?" tanya Sakura dengan sombongnya. Ia sudah menyangka hal ini dari awal, seandainya tangannya tadi lebih cepat dari tangan Sasuke pastilah ia bisa mendapatkan ponselnya kembali.
"Aku tahu, berapapun yang kupinta pasti dapat kau penuhi. Jadi, aku tidak mau menganggantinya dengan uang tebusan. Aku hanya perlu waktumu."
Sakura membuka mulutnya dengan bibir membentuk huruf O. Sungguh ia tak menyangka apa isi otak laki-laki di sampingnya ini. Menghabiskan waktunya dengan Sasuke? Ya, Tuhan. Yang benar saja! Tidaktahukah dia bahwa waktu Sakura itu sangat berharga dan mahal? Daripada dia menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak penting, lebih baik dia mengurusi kasus yang menumpuk di meja kerjanya atau menjalankan misi yang diberikan padanya. Mau berpikir berapa kalipun, Sakura tetap kukuh dengan jawabannya. Yang jelas, dia tidak mau menghabiskan waktunya untuk hal yang sama sekali tak menghasilkan secercah keuntungan.
"Aku tidak mau. Aku sama sekali tidak mau menghabiskan waktuku yang berharga denganmu untuk bersenang-senang belaka!" Sakura memutuskan. Mendengar jawaban dari Sakura, Sasuke hanya manggut-manggut saja.
"Baiklah. Berarti ponselmu ini, akan terus bersamaku. Mungkin aku akan mengembalikannya sesuai dengan kemauanku." ujar Sasuke yang membuat telinga Sakura menjadi panas.
Keputusannya cukup tergoyahkan dengan kalimat yang dilontarkan Sasuke dan ingatannya akan e-mail yang belum terbaca. Sebenarnya, ada beberapa e-mail dan berkas penting di dalam ponselnya itu. Bahkan ada e-mail dari atasan mereka yang belum sempat ia baca. Dan parahnya, ia tidak tahu apa status dari pesan itu. Kalau benar itu berstatus penting, mungkin dia akan lengser dari jabatannya bahkan dikeluarkan. Sakura menghela nafasnya. Mungkin ini adalah saat dimana ia harus benar-benar mengalah untuk menang. Dia mengalah bukan karena kalah. Dan di lain hari, dia tak akan mau mengalah. Pokoknya, kejadian hari ini akan ia jadikan sebagai patokan agar lebih berhati-hati dan teliti. Sudah ia putuskan, untuk hari ini ia akan mengikuti alur dari permainan Tuan Uchiha Sasuke, sang target.
"Baiklah. Aku mau menghabiskan waktuku denganmu, dengan catatan demi ponselku!" Sasuke tersenyum puas. Sedangkan Sakura memasang sabuk pengamannya dan menatap kaca jendela di sampingnya. Sasuke mengartikan gerakan itu sebagai persetujuan dan perintah untuk memulai apa yang telah ia rencanakan. Tanpa banyak bicara lagi, Sasuke mulai menginjak pedal gas menuju tempat yang ia tuju sebagai tempat untuk date pertamanya.
Mobil sport Sasuke terparkir dengan indahnya di padang rumput yang luas. Sakura memandangi keadaan sekitar lewat kaca jendela sampingnya. Sakura pun turun dari mobil. Pemandangan hutan yang rindang dengan pohon-pohon yang tumbuh besar dan kokoh. Sangat cocok untuk berteduh dan tempat penyegaran mata. Sakura berjalan perlahan-lahan menyusuri hutan kecil yang terpampang di depannya. Air masih menetes secara periodik dari daun-daun dari pohon itu dan terus jatuh mengenai kepalanya saat ia berjalan. Semakin masuk ke dalam, Sakura melihat isi hutan secara penuh. Ternyata di dalam hutan kecil ini ada sebuah danau kecil dan sebuah rumah kecil.
Rumah. Sakura menghentikan langkahnya. Ia meneguk ludahnya. Pikirannya jauh melayang pergi. Melihat ada rumah, Sakura sedikit takut. Dia teringat akan drama yang ditontonnya dengan Ino. Di sana, saat pemeran utama dan pacarnya selesai berkencan, mereka berdua pergi ke sebuah rumah dan melakukan … Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan-jangan, dia mau melakukan sesuatu padaku." Sakura membatin cemas. Saat menoleh ke belakang, ia melihat Sasuke yang berjalan mendekat dengan senyum yang mencurigakan. Berbagai prasangka buruk mulai menghampirinya untuk menyakinkan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir semua pemikirannya. Dia yakin, laki-laki sebayanya belum bisa melakukan apa-apa. Ya! Belum bisa melakukan apa-apa.
Sakura duduk di bawah rindangnya pohon ek. Sakura meregangkan otot-ototnya ke kanan dan ke kiri dengan kepala mengikuti arah gerak tangannya. Tiba-tiba, Sasuke sudah ada di depannya yang membuat Sakura terkejut. Sakura memutar kedua bola matanya pertanda bosan.
"Aku mau berenang di danau itu. Kau mau ikut?" tawar Sasuke.
"Kau ini bodoh atau apa? Aku ini tidak bawa baju ganti! Tadi saja aku sudah diguyur air hujan, bajuku ini masih lembab!" jawab Sakura dengan ketus dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Kalau begitu, aku berenang sendirian saja." putusnya dengan membuka baju couple yang mereka beli tadi. Baju itu jatuh begitu saja di depan kaki Sakura yang memanjang. Setelah itu, Sasuke langsung berlari menuju danau dan meloncat lalu berenang dengan gaya bebas seperti ikan yang dikejar musuh.
Sakura hanya mencoba mengatur nafasnya. Ia mencoba untuk tidak melihat ke arah Sasuke. Tetapi seperti ada magnet yang menariknya agar dia terus menatap laki-laki dengan rambut pantat ayam itu. Dari belakang, Sakura sudah dapat membayangkan bagaimana bentuk badan Sasuke. Punggungnya nampak tegap layaknya seorang prajurit. Sakura membenamkan kepalanya mencoba untuk menghilangkan pikirannya yang sebentar lagi melewati batas. Namun, sejenak kemudian, kepalanya kembali menyembul.
Sedangkan Sasuke fokus untuk berenang mengelilingi sisi danau. Ia merasa sangat segar begitu air danau ini menghantam seluruh badannya. Air danau yang jernih dan sejuk membuat Sasuke betah untuk berlama-lama di dalam sana. Baginya, air ini bagaikan penghapus. Beban yang ada di punggungnya serasa sirna begitu saja. Bahkan, dia lupa kalau dia mengajak Sakura ke sini. Ketika dinginnya air mulai menusuk kulitnya, ia tersadar dari keasyikannya. Segera ia berenang menuju tepi dan mengakhiri acara berenangnya.
Sasuke berjalan mendekati Sakura yang duduk menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip. Sasuke menggaruk-garuk kepala belakangnya sehingga air jatuh menetes dari ujung rambutnya. Air itu turun menyusuri dada bidangnya lalu perut datar dan six pack-nya. Sakura sungguh terpesona melihat tampilan fisik dari Sasuke. Sasuke makin mendekat ke tempat Sakura duduk. Sasuke duduk berjongkok di depan Sakura. Seulas senyum kembali menghiasi wajahnya. Saat Sasuke menjentikkan jarinya di depan wajah Sakura, buyar sudah lamunan Sakura.
"Melamunkan apa?" tegur Sasuke. Sakura meneguk ludahnya. Mata Sasuke langsung turun ke perutnya. Selanjutnya, kita dapat melihat seringaian mesum dari wajah Sasuke.
"Oh, aku tahu. Kau sedang melamunkan perutku yang seksi ini kan? Ayo, mengaku saja!" Sakura menjitak kepala Sasuke dengan keras.
"Dasar mesum! Tentu saja tidak!" jawab Sakura dengan ketus. Tetapi, semburat kemerahan muncul di pipinya. Sasuke tertawa pelan.
"Laki-laki itu memang mesum. Bedanya, ada yang menunjukkannya secara terang-terangan dan ada yang menyembunyikannya. Tapi, yang menyembunyikan itu justru yang lebih ganas." Sasuke membalas. Semburat di wajah Sakura makin kentara. Sekarang dia tahu, bahwa manusia di depannya ini adalah manusia yang mesum dan sedikit lebih jinak(?)
"Sudahlah. Sekarang, mana handukmu?" tanya Sakura untuk mengganti topik pembicaraan mereka yang kurang mengenakan hati.
"Tidak ada. Aku lupa bawa," jawab Sasuke dengan santai. Tangan Sakura lagi-lagi tergerak menuju kepala Sasuke untuk menjitak tempurung pelindung otak itu. Sakura berdiri dari posisi duduknya yang juga diikuti oleh Sasuke.
"Kalau tahu kau tidak membawa handuk begini, tidak kuizinkan kau berenang! Kalau kau sakit bagaimana?! Dasar idiot!" Sakura marah-marah dengan berkacak pinggang dengan wajah merah karena amarahnya meledak. Sedangkan pihak yang dimarahi hanya tertawa.
"Kau perhatian sekali padaku. Tetapi, tenang saja. I'm strong!" Sasuke menjawab dengan memperlihatkan pose binaraga yang menujukkan ototnya. Mendengar jawaban sombong dari Sasuke, Sakura menjewer telinga Sasuke sampai merah. Begitu ia melihat ekspresi kesakitan dari Sasuke, barulah ia lepaskan tangannya yang menyerupai capitan kepiting.
"Aish… Adegan tadi menunjukkan kalau kita bukan seperti orang pacaran, tetapi seperti Ibu tiri yang sedang menghukum anaknya," keluh Sasuke sembari mengusap-usap telinganya yang memerah seperti dibakar.
"Sudahlah. Di sini dingin, lebih baik kita masuke ke dalam." Ujar Sasuke dengan menarik tangan Sakura dan berlari menuju rumah kecil di sana. Sakura yang memutuskan untuk mengikuti alur permainan yang sedang berlaku hanya berpasrah diri saja. Sasuke membuka pintu dan mempersilahkan Sakura untuk masuk.
Rumah itu tampaknya telah ditempati dan dirawat dengan teratur. Rumah kecil ini terbagi menjadi dua ruangan yaitu ruangan dapur dan ruangan pribadi. Di area ruangan pribadi terdapat beberapa pasang kursi yang ditata dengan rapi beserta meja jati yang diukir. Di depan kursi dan meja, ada televisi yang cukup mahal. Di bawah telesvisi, ada tungku perapian agar ruangan tetap hangat. Di pojok ruangan dekat jendela, ada pula satu ranjang yang tak pula besar. Di sebelah ranjang itu terdapat lemari pakaian. Belok ke kanan, kita memasuki ruangan dapur. Saat kita memasuki dapur, ada lorong pendek yang berujung ke kamar mandi. Dapur rumah itu sederhana, tetapi peralatan yang kita perlukan tersedia dan disusun lengkap di dalam lemari-lemari kecil maupun di rak terbuka. Sebagai pelengkap, terdapat juga lemari es.
Sakura duduk di kursi sementara Sasuke mengganti pakaian di kamar mandi. Warna matanya yang senanda dengan batu giok itu masih setia mengamati rumah ini secara detail. Tak lama kemudian, Sasuke keluar dengan kaos putih dan celana panjang berbahan dasar. Ia segera mengambil tempat di depan Sakura.
"Rumah ini milik siapa?" tanya Sakura penasaran. Dia tak menyangka bahwa ada orang yang mau tinggal di dalam hutan kecil seperti ini. Seketika itu juga, raut wajah Sasuke berubah menjadi sedikit sendu dan tak bersemangat. Sakura yang menyadari bahwa air muka Sasuke berubah, menjadi sedikit merasa bersalah. Raut wajah laki-laki itu menampakkan kesedihan yang mendalam.
"Rumah ini milik Ibuku." jawabnya dengan pelan. Sakura hanya diam. Ia takut jika ia membuka mulut, ia akan membuat suasana hati Sasuke menjadi lebih buruk.
"Ibuku tidak ada di sini. Sekarang dia berada di pondok rehabilitasi. Orang-orang menganggap dia sudah tidak waras, termasuk dengan Ayahku. Sebelum masuk pondok rehab itu, dia tinggal di sini karena Ayahku tak mau bertemu dengannya. Mereka kerap kali bertengkar di depanku dan kakakku, sejak aku masih kecil. Karena Ayahku muak melihat Ibu, dia memutuskan untuk berpisah dengan Ibu dan meninggalkan Ibu di sini. Dan sejak aku berusia tiga tahun, aku tidak lagi melihat Ibuku."
Sakura terdiam. Masalahnya dan Sasuke sama. Bedanya hanya Sasuke memiliki Ayah dan masih bisa menatap Ibunya selama tiga tahun. Tetapi, inti permasalahan mereka sama saja. Mereka sama-sama ditinggalkan dan dicampakkan. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa Sasuke dapat jatuh ke lubang dalam yang gelap. Karena memang ia datang dari tempat yang kelam dan curam. Sekarang ia mengerti, narkoba dan menjadi penjahat adalah satu-satunya pelariannya selama ini. Apa yang ia jalani sekarang bukanlah kemauannya sendiri, tetapi karena apa yang telah dibangun oleh keadaan.
"Kau bisa menangkapku, Sakura. Aku menyerahkan diriku," Sasuke menyodorkan kedua tangannya. Sakura membulatkan kedua bola matanya. Jadi, identitasnya telah terbongkar?
"Kau tahu siapa aku?" tanya Sakura dengan pelan. Sasuke mengangguk dengan pelan pula.
"Tentu saja. Siapa yang tidak kenal dengan Sakura yang tak pernah gagal dalam setiap misi yang diberikan Anbu untuk meringkus para penjahat remaja? Aku tahu, seharusnya aku menghindarimu. Tetapi aku tidak bisa melakukan hal itu sekalipun teman-temanku sudah memperingatiku dengan konsekuensi yang harus aku tanggung. Aku tahu kita adalah musuh. Tetapi sejujurnya, aku mencintaimu." Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura lalu menempelkan bibirnya ke bibir tipis Sakura.
To Be Continue
Hallo semuanya!^^
Sudah lama kita tidak bertemu, karena itu pertama-tama saya ucapkan selamat datang kembali di fic Teenager Life ini. Saya memohon maaf karena baru bisa update chapter selanjutnya. Saya tahu, pasti fic ini sudah menjadi tulang-belulang karena sudah lama saya tinggalkan. Untuk ketidaknyamanan yang saya berikan, saya mohon maaf. Saya ucapkan maaf sekali lagi. Tetapi, berhubung bulan ini adalah bulan yang dipilih untuk persiapan menuju ujian akhir, saya kembali minta maaf karena harus update lama lagi. Tetapi, saya usahakan supaya saya bisa update secepatnya. Maaf kalau tindakan saya ini mengecewekan. Atas perhatian dan pengertiannya, saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Terutama kepada kalian yang sudah mau menghabiskan waktunya untuk membaca dan meninggalkan review, fav, dan follow. Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!^^
