Title : Love Never Wrong
Author : Meyla Rahma
Rated : M {Jaga-jaga karna ada Content Dewasa}
Pairing : HaeHyuk {Mungkin bisa nambah, tapi Main Pair tetep HaeHyuk }
Genre : Romance
WARNING…!
YAOI / Boy Loves / Boy X Boy
Miss typo(s)
Mature Content
DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!
And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!
DON'T LIKE, DON'T READ..!
JUST CLICK [X] {close} OKE
Happy Reading…
Suasana pagi ini sangat lah cerah, secercah Sinar Mentari menyinari Bumi dengan hangatnya. Namun, sepertinya kebaikan pagi tidak berlaku di ruangan Donghae. Ruangan itu sedikit mengeluarkan aura yang tidak biasanya. Kalau biasanya auranya sesuai dengan sang pemilik ruangan yakni Dingin, maka untuk 2 hari belakangan auranya berubah – menjadi sedikit mencekam karna amarah sang Presdir yang saat ini tengah membuncah.
"Apa hanya ini yang bisa kalian buat?" tanya Donghae keras sambil melempar sebuah Proposal kehadapan beberapa Staffnya. "Kami sudah merubah beberapa hal seperti yang telah kemarin Presdir perintahkan." Kata salah seorang Staffnya takut. "Apa kalian Tuli, eoh? Aku bilang kemarin ubah beberapa Detail Konsep kalian. Tapi apa? Tak ada yang berubah, malah kalian menghilangkan beberapa Elemen penting pada Proposal itu. Apa kalian tak lihat? Apa kalian sudah BUTA?" bentak Donghae.
Ini adalah kali pertama, seorang Lee Donghae marah besar terhadap beberapa karyawannya. Biasanya ia hanya akan berkata sinis dengan nada Datar nan Dingin miliknya. Namun, kali ini berbeda. Ia benar-benar Marah. Bahkan boleh dibilang hanya untuk hal yang kecil –mengingat Deadline Proyek itu masih 2 bulan lagi. Tapi, kenapa Donghae bisa semarah itu?
"Perbaiki Proposal itu sekarang!" kata Donghae dengan Nada Super Dingin. Para Staff yang ada disana hanya mengangguk kemudian keluar dari ruangan sang Presdir. Donghae segera membanting punggungnya ke sandaran kursinya saat pintu ruangannya tertutup. Dia benar-benar tertekan saat ini. Kalian pasti bertanya tertekan karna masalah apa? Pekerjaan? Mana mungkin seorang Lee Donghae akan begitu tertekan hanya karna masalah Pekerjaan saja.
.
Donghae POV . . .
Aish, kenapa dengan diriku ini? Kenapa aku jadi Tempramen seperti ini? Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan saat aku dianggap menjijikkan karna 'statusku' oleh teman-teman ku disekolah, aku tak seemosi sekarang. Apa mungkin ini semua karna omongan Hankyung Hyung waktu di Caffe kemarin?
Arrgh, ada apa dengan mu, Lee Donghae? Kenapa kau jadi GALAU seperti ini?
'Seberapapun kita menolak mereka, tapi pada kenyataannya mereka lah yang membesarkan kita dan menjaga kita sebagai orang tua.'
Kata-kata Hankyung Hyung benar-benar sudah membuat ku gila. Aku memang tak membenci Appa dan Umma. Hanya saja aku . . . masih belum siap jika harus bertemu dengan mereka lagi. Ya, jujur saja aku memang merasa bersalah atas sikap ku selama ini – yang selalu menghindar dan tak menganggap mereka ada. Hey, tapi apa aku salah jika ingin bernasib sama seperti anak-anak pada umumnya? Jangan salahkan aku sepenuhnya dalam masalah ini.
Tapi aku harus bagaimana? Semua ini benar-benar membingungkan untukku. Aku memang membenci 'status ku' tapi disisi lain aku tak ingin kehilangan mereka. Aku masih sangat menyayangi mereka. Mungkin kata-kata Hankyung hyung benar bahwa bagaimana pun mereka tetaplah kedua orang tua ku. Tapi, aku masih belum bisa bertemu dengan mereka. Mungkin aku merasa tak pantas – atau bahkan Malu . . .
Arrghhh… aku benar-benar gila sekarang . . .!
End Donghae POV . . .
.
Tanpa sadar Donghae melempar Remote AC kearah TV LCD yang ada diruangannya. Hingga menyebabkan LCD itu pecah berantakan. "Aish, selalu saja begini." Gumam Donghae pelan. Ya, memang selalu begitu ketika Donghae mengingat sesuatu tentang masa lalu nya. Amarahnya tak pernah bisa ia kendalikan. Sebuah Amarah yang berasal dari rasa Benci yang sebenarnya tidak perlu.
Sesaat kemudian terdengar bunyi posel Donghae yang memecahkan keheningan yang tengah melanda ruangan itu. Donghae melirik sekilas Name Call pada ponselnya.
Hankyung Hyung –
Donghae menghela nafas berat sebelum memutuskan untuk mengangkat telepon dari hyung tertuanya itu.
"Yoboseyo?"
"Yah, Ikan. . ! Apa kau tak ingat kalau hari ini Yesung datang ke Korea, huh?"
Teriakan yang berasal dari ponselnya itu, berhasil membuat Telinga Donghae berdenging karna Kemerduan suara Hyungnya itu.
"Yah, Hyung tak perlu teriak-teriak seperti itu. ! Kau ingin aku jadi Tuli, eoh?" ujar Donghae sinis.
"Salah mu sendiri. .! Aku kan sudah bilang saat di Caffe kalau Yesung akan datang ke Korea hari ini. Apa kau sudah pikun, eoh?"
Sepertinya sang Hyung sudah sedikit banyak belajar olah Vokal pada sang Istri, buktinya dia sekarang pandai sekali menyuarakan suaranya dengan Indah – sampai bisa memecahkan gendang telinga.
"Aku tahu, hyung." Jawab donghae singkat.
"Kalau kau tahu, apa kau tak akan menemuinya sekarang? Dia sangat rindu pada mu, Hae."
"Ne, aku tahu itu, hyung. Sekarang aku akan ketempatmu hyung. Kau dan Yesung hyung ada dirumah mu kan, hyung?" tanya Donghae.
"Ne, kami dirumah ku. Apa kau tidak sibuk jika kau kemari sekarang?"
'Tadi ia sendiri yang meminta ku untuk datang, sekarang malah tanya sibuk apa tidak.' Batin Donghae –sepertinya ia sedang tak ingin berdebat dengan hyungnya lewat telpon sekarang.
"Ani, aku sedang tak ada pekerjaan, hyung. Tunggu lah sebentar. Aku akan kesana sekarang."
"Ne, mian tadi aku teriak-teriak. Anneyeong."
"Anneyeong." Balas Donghae.
Ya, lebih baik ia kerumah hyungnya, dari pada ia harus termenung dalam masa lalu yang membuatnya pedih –dan merusak semua fasilitas kantornya, disini. Donghae berdiri dan mengambil Jas yang ia sampirkan di kursinya kemudian mengambil Kunci mobilnya yang tergeletak dimeja kerjanya. Segera ia bergegas keluar dari ruangannya, tapi sebelumnya ia berhenti depan meja sekretarisnya.
"Panggil OB, untuk membersihkan ruangan ku, juga hubungi toko elektronik kita biasanya." Ujar Donghae.
"Ne, Presdir. Maaf sebelumnya, untuk apa menghubungi toko elektronik, Presdir?" tanya sang sekretaris bingung.
"Pesan kan TV LCD untuk ruangan ku, lagi." Ujar Donghae – dan hanya dibalas anggukkan dari sekretarisnya. Ya, sang sekretaris tak lagi bertanya kenapa harus memesan LCD baru – karna ia yakin LCD itu pasti telah bernasib sama dengan 2 LCD sebelumnya yang juga hancur ditangan sang Presdir.
.
.
Mobil Audi A5 8T bewarna sedang memasuki sebuah pelataran sebuah rumah dengan suasana asri yang juga bersebelahan dengan sebuah Flower Shop. Sesaat kemudian turunlah sesosok Namja Tampan dari Mobil mewah tersebut. Sejenak Namja tersebut termenung menatap Flower Shop dihadapannya – tempat dimana sesosok Namja Manis yang berhasil meleleh es didalam hatinya. Namun, sepertinya keegoisan hatinya masih mendominasi pikirannya. Buktinya saat ini Namja Tampan itu malah berjalan mendekati rumah hyungnya – bukan mengikuti kata hatinya yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam Flower Shop itu.
Kini namja itu sudah berdiri didepan rumah dengah gaya Minimalis dengan perpaduan warna putih keabuan dan Biru Shapire – rumah hyungnya. Beberapa kali ia menekan bel yang terpasang disisi kanan rumah itu. Sesaat kemudian terdengar suara seseorang yang mengintrupsinya untuk menunggu sebentar. Tak lama kemudian terbuka lah pintu yang terbuat dari Kau jati dengan cat bewarna Tourquie yang seketika membuatnya tertegun dalam wajah datarnya.
Bagaimana tidak, ia tadi menghindari untuk tidak memasuki Flower Shop tempat Namja Manis itu bekerja. Namun, sepertinya takdir berkata lain. Karna saat ini Namja manis yang sudah seminggu menghantui mimpinya, tengah berdiri dihadapannya dengan celemek masak yang masih menghiasi pakaiannya. 'sepertinya dia habis memasak' batin Donghae.
"Ah, Donghae-sshi. Silahkan masuk. Hankyung hyung sudah menunggu mu." Kata Hyukkie dengan senyum yang menawan miliknya – Gummy Smile. Dengan segera Donghae menggangguk, berusaha menyadarkan diri dari Dunia Khayal – yang tercipta ketika dia memandang Hyukkie.
"Emm, kau tidak kerja?" tanya Donghae pada Hyukkie yang tengah berjalan di depannya – menuju sebuah ruang tamu.
"Ah, aku sedang tak ada pekerjaan, maka dari itu aku kemari untuk membantu Heechul hyung memasak. Silahkan duduk, Donghae-sshi. Aku panggilkan Hankyung hyung dulu." Kata Hyukkie dengan Gummy Smilenya kemudian berjalan kea rah dalam rumah. Donghae hanya bisa memandangi punggung Hyukkie hingga menghilang sambil berusaha menenangkan Degup Jantungnya yang tak beraturan – yang ia sendiri tak tahu mengapa.
Donghae menerawang isi rumah hyung tertuanya itu. Jujur ia merasa sangat nyaman dengan rumah bergaya Minimalis yang begitu menyejukan ini. Rumah itu tertata rapi dan bersih hingga sangat nyaman untuk dipandang mata. Ia yakin bahwa semua itu hasil karya dari Istri hyungnya itu. Donghae masih tenggelam dalam dunia pemikirannya sendiri hingga tak menyadari 2 Namja Tampan tengah memandangnya bingung – mengingat sekarang Donghae sedang senyum-senyum sendiri.
"Yah, ikan . .! Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Kau sudah gila, eoh?" tanya Hankyun sinis.
"Ah, aniyo hyung. Aku hanya kagum dengan rumah mu ini." Ujar Donghae sambil mengalihkan pandangannya ke arah Hankyung. Pandangannya kini teralih pada sosok yang berdiri tak jauh dari hyung tertuanya itu. Sosok bermata sipit da memiliki suara yang sangat merdu – yang sangat dirindukan oleh Donghae. Segera saja tanpa disuruh, Donghae langsung menghambur kepelukan Hyung keduanya itu.
"Hyung . . .! Aku benar-benar merindukan mu. Lama tak bertemu denganmu, membuat ku hampir tak mengenali sosok mu." Kata Donghae sembari melepaskan pelukan dari hyungnya itu.
"Kau bisa saja, Hae. Aku juga hampir sama sekali tidak bisa mengenali dirimu. Kalau bukan tadi Han hyung yang bilang bahwa kau adalah namdongsaeng ku, mungkin aku sudah berpikir bahwa kau adalah pasiennya Hankyung hyung." Jelas Yesung.
"Jinjja, hyung? Kau sampai berpikir begitu?" tanya Donghae dengan mata yang berbinar.
"Ya, Hae. Bagaimana tidak, seingatku kau itu pendek dan kurus. Tapi sekarang ini bahkan kau sangat jauh dari semua itu." Ucap Yesung sambil tersenyum.
"Yah. . .! Kau ini sama saja dengan Hankyung hyung. Kalau mau memuji, ya puji saja. Tak usa bawa-bawa bentuk tubuh ku waktu dulu." Kata Donghae dengan muka masam sambil kembali duduk disalah satu sofa.
"Tapi memang benar kan, Hae? Kau itu sudah banyak berubah. Lihat lah badan mu sekarang. Sangat atletis. Sangat berbeda dengan yang dulu. Kau banyak sekali perubahanya. Benarkan, hyung?" kata Yesung sambil memandang hyungnya.
"Kau benar, Sung-ie. Namdongsaeng kita satu ini memang sudah banyak berubah secara fisik. Tapi, tak pernah berubah sifatnya. Masih saja kekanakan." Kata Hankyung sambil tertawa bersama Yesung.
"Yah. . ! Kalian itu senang sekali mengejek ku sih, hyung." Ujar Donghae sambil memasang muka cemberut.
"Aiogo . . Lihatlah, hyung betapa lucunya Namdongsaeng kita ini. Hahahaha." Kata Yesung sambil tertawa keras.
"Yah . .! Hyung, berhentilah tertawa. Kalian ini seperti anak kecil saja." Ucap Donghae dengan nada dan wajah yang kesal. Mengetahui perubahan wajah sang dongsaeng, akhirnya Hankyung dan Yesung berusaha menghetikan tawa mereka.
"hahaha mian, Hae. Kami benar-benar kagum dengan perubahan fisik mu. Kau memang Daebak, Hae." Ujar Yesung dengan nada kagum.
"Gomawo, hyung. Eh iya, kau disini sampai kapan?" tanya donghae penasaran.
"Um, kira-kira 2 – 3 bulanan. Karna aku juga hendak membangun cabang Caffe ku di Korea." Ujar Yesung dan dibalas anggukan oleh Donghae.
"Kau tinggal disini bersama Han hyung?" tanya Donghae lagi.
"Ya, seperti itu lah. Niatnya aku dan Ryeowook akan menyewa sebuah rumah. Selama aku berada di Korea. Tapi, istri Hankyung hyung yang paling cantik itu berhasil merayu Ryewook agar tetap tinggal disini." Kata Yesung sambil melirik ke Hankyung yang sedang tersenyum bangga.
"Oh begitu. Lalu dimana , Um. . . istri hyung itu?" tanya Donghae ragu – mengingat dia masih belum terbiasa dengan status hyungnya yang telah 'menikah'.
"Dia ada di dapur, bersama Heechul hyung dan Hyukkie." Jawab Yesung sambil tersenyum.
"Chagi, makanannya sudah siap." Kata seorang Namja mungil yang berjalan mendekati 3 Namja tampan yang sedang bercengkrama di ruang tamu itu. Sontak saja hal itu membuat ketiga Namja tampan itu mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara tersebut. Sementara Donghae memandang kaget pada Namja bertubuh mungil itu.
"Ah, Wookie –ah. Kenalkan ini Dongsaeng kesayangan ku, Lee Donghae." Kata Yesung paa sang istri.
"Kim Ryeowook imnida." Kata Ryeowook sambil membungkukkan badannya.
"Ah ne, Lee Donghae imnida. Hyung apa kau tak salah? Kau bisa tersangkut kasus hukum loh, hyung." Pekik Donghae tiba-tiba – setelah sadar dari kekagetannya.
"Kenapa aku harus tersangkut kasus hukum? Aku kan tidak melakukan apa-apa." Ujar Yesung bingung – karna tiba-tiba dongsaengnya itu berkata yang membuatnya dan sang istri bingung.
"Bagaimana tidak, kau sudah menikahi Namja dibawah umur, hyung. Berapa umur mu Wookie-ah? Pasti hyungku yang Pabbo ini memaksa mu untuk menikah dengannya kan?" tanya Donghae sok tahu. Sontak saja karna kata-katanya itu Donghae mendapat lemparan sayang dari hyungnya menggunakan majalah.
"Yah, kau itu tidak sopan..! Kata siapa aku menikahi Namja dibawah umur, eoh? Wookie itu seumuran dengan mu, kau tahu?" ujar Yesung kesal.
"Ah, jinjja?" tanya Donghae tak percaya.
"aish, kau ini . ." kata Yesung sambil mengambil ancang-ancang untuk kembali memukul Donghae – tapi terhenti oleh tangan mungil sang istri.
"Sudahlah, chagi. Aku tahu maksud Donghae itu baik. Ah iya, kau tampak sangat berbeda dengan yang ada di foto Hae." Kata Ryeowook sambil tersenyum manis.
"Foto?" tanya Donghae bingung. Seingatnya ia tak pernah mengirimkan foto selama ia di Amerika.
"Iya, Foto mu 12 tahun lalu. Sebelum Sung-ie berkarir di Jepang." Kata Ryeowook manis.
Sontak Donghae memasang muka kaget dengan mata yang melotot menakutkan – tapi terlihat lucu bagi kedua hyungnya. ' jangan-jangan Foto waktu aku masih kurus dengan rambut panjang lurus yang menjijikan itu.' Batin Donghae ragu.
"Yah..! Jangan bilang kau memberikan Foto kita waktu masih anak-anak dulu ya, hyung? Andwe… Itu benar-benar menjijikkan..!" pekik Donghae Histeris – sendiri.
"hahahaha. . . . Mian, Hae. Habis Wookie selalu memaksa agar memperlihatkan sosok Namdonsaeng kesayangan ku padanya. Ya sudah, ku berikan saja foto itu." Ujar Yesung disela tawanya.
"Kau jahat hyung..!" ujar Donghae – sambil pasang muka jutek.
"Ayolah, Hae. Mianhe. Jangan marah lah." Ujar Yesung – berusaha merayu.
"Bagaimana kalau kau makan siang disini saja. Tadi Chullie, Wookie dan hyukkie memasak masakan special untukmu. Tadi ku suruh Chullie supaya memasak Ramyun dan Sup Kimchi untuk mu." Ucap Hankyung – juga berusaha merayu Namdonsaeng kesayangannya.
Mendengar nama makanan yang ia sukai disebut, wajah Donghae berubah menjadi berbinar. Apa lagi mengingat ia sudah jarang memakan makanan itu – karna kesibukannya, ia jadi jarang memanjakan Lidahnya.
"Jinjja?" tanya Donghae bersemangat.
"Ne, tadi aku Chullie hyung dan Hyukkie memasak untukmu." Kata Ryeowook senang.
'Hyukkie? Ia juga memasak untuk ku?' batin Donghae bertanya.
"Ayo, kita ke ruang makan..!" kata Hankyung semangat.
Mereka segera bergegas menuju ruang makan. Termasuk Donghae – yang berusaha mengendalikan Degup jantungnya yang kembali berdetak tak beraturan. 'sepertinya setelah ini aku harus Cek Kesehatan Jantung." Batin Donghae sendiri. Tanpa Donghae sadari, hatinya sudah tak lagi sejalan dengan keegoisan pikirannya – hanya karna seorang Namja Manis yang sudah merubah cara pandangnya.
.
.
Acara makan siang itupun berlangsung sangat nyaman dan romantis – walaupun hanya bagi kedua hyung Donghae, sementara dirinya sendiri tidak. Ya, kedua hyungnya mengadakan acara mari-makan-bersuapan-dengan-mesra waktu makan siang tadi. Lalu bagaimana dengan Donghae? Dia hanya bisa makan sambil berusaha menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan – karna makan disamping Hyukkie.
Seusai makan siang sekarang tinggal lah Hyukkie yang sedang mencuci piring dan Donghae yang sibuk bermain dengan Tablet PCnya sambil meminum segelas Jus semangka.
"Um, sudah berapa lama kau bekerja bersama Heechul hyung?" tanya Donghae – membuka pembicaraan.
"Eh? Oh itu. . Sekitar 10 tahun yang lalu. Sebelum Heechul hyung menikah dengan Han hyung." Kata Hyukkie santai.
"Uhuk (tersedak). . ."
"Yah..! Gwenchanayo?" tanya Hyukkie khawatir – sambil menepuk pelan tengkuk Donghae.
"Gwenchana. Gomawo, itu berarti kau tahu saat pertama kali hyung ku mengenal Heechul hyung?" tanya Donghae penasaran – sambil mengelap bibirnya yang belepotan jus nya.
"Ne, tentu saja. Heechul hyung dulu itu tak suka saat Han hyung mengejar-ngejar nya. Bahkan butuh waktu hampir 2 tahun untuk Han hyung bisa menjadi kekasih Heechul hyung. Setelah itu mereka berpacaran selama 4 tahun baru kemudian memutuskan untuk menikah." Kata Hyukkie – sambil mengingat-ingat.
"Uhuk . .Uhuk..Uhuk.. (Batuk + Tersedak)"
"Aish, kau ini ceroboh sekali. Gwechana?" tanya Hyukkie – Kesal + Khawatir.
"Ne, Gwenchana. Aku hanya kaget mendengar cerita mu tentang perjalanan hidup Han dan Chullie hyung. Han hyung sudah banyak berubah ternyata." Kata Donghae – dengan nada lirih pada kalimat terakhir.
"Apa kata mu tadi, Donghae-sshi?" tanya Hyukkie – karna tak mendengar kalimat terakhir Donghae itu.
"Ah, aniyo." Jawab Donghae singkat – sambil memandang kearah lain – lalu melamun.
'setahu ku, Hankyung hyung itu typical orang yang realistis. Semua yang ia lakukan, pasti harus sesuai dengan Nalar dan Akal sehat. Ternyata Chullie hyung berhasil merubah Manusia Idealis macam hyung ku itu Hanya dengan sentuhan Kasih sayang – atau mungkin Cinta.' batin Donghae.
Donghae masih tenggelam dengan pemikirannya sendiri tanpa mengetahui Namja Manis disebelahnya tengah memperhatikannya.
'Dia memang tampan. Tapi hatinya itu loh, Dinginnya minta ampun. Mengapa orang sesempurna dia bisa memiliki hati yang benar-benar Datar nan Dingin? Sayang sekali.' Batin Hyukkie miris.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Donghae karna Hyukkie tiba-tiba melamun – sambil memandanginya.
"Ah, aniyo. Hanya sedikit tertegun dengan kesempurnaan wajah mu. Eh, apa itu Angry Bird versi terbaru?" tanya Hyukkie – antusias.
"Ah, ini. Iya, aku baru saja menginstallnya tadi. Kau mau pinjam?" tawar Donghae.
"Ne, bolehkah?" tanya Hyukkie ragu.
"Nde, pakai lah. Aku sudah bosan." Kata Donghae singkat.
"Ah, gomawo. Aku sangat ingin memainkan ini. Sudah lama aku tak memainkannya." Ucap Hyukkie riang.
Donghae hanya bisa tersenyum lembut. 'ah, tunggu dulu. Apa tadi ia bilang kagum dengan wajah ku? Aish, mungkin ia pasti hanya bercanda. Tapi, benarkah?' batin Donghae. Donghae hanya bisa tersenyum sambil menatap Namja manis dihadapannya.
"Kau mau kemana, Donghae-sshi?" tanya Hyukkie ketika melihat Donghae beranjak dari kursinya.
"Aku mau keruang tamu. Menemui yang lain." Ujar Donghae datar.
"Yah..! Aku ikut." Ujar Hyukkie sambil berjalan mendahului Donghae – dengan Tablet PC Donghae yang masih ditanganya.
Donghae hanya bisa tersenyum dalam diam saat berjalan menuju ruang tamu. Selama ini ia takkan pernah meminjamkan Gadget nya pada siapapun. Tapi, tadi ia dengan sendirinya menawarkan untuk meminjamkan gadget nya pada sosok Namja manis itu.
'Satu lagi Kebiasaan Donghae yang perlahan berubah karna Namja Manis itu.'
.
.
Ruang tamu Keluarga Lee Hankyung itu saat ini terasa sangat hangat. Bukan karna suhu udara yang meningkat, melainkan berkumpulnya 2 pasang Suami Istri dan sepasang Namja – yang mungkin suatu saat akan menjadi seperti kedua pasang Suami Istri itu – tengah becengkrama hangat di ruang tamu yang cukup luas – bagi kalangan biasa. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Disana terlihat Hankyung tengah menonton TV dengan Heechul yang duduk disebelahnya sambil menyandarkan kepala ke bahu Bidang Suaminya. Sedangkan disisi yang lain terlihat Yesung tengah menonton TV sambil tiduran dipangkuan sang istri yang tengah membelai lembut surai halus milik sang Suami.
Sedangkan diatas lantai yang beralaskan karpet bewarna merah terlihat 2 orang Namja yang tengah sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Hyukkie yang sedang duduk bersila sambil serius memainkan Tablet – milik Donghae – ditangannya. Dan Donghae yang duduk tak jauh dengannya yang tengah menatap TV – tapi pikiranya melayang-layang entah kemana.
Melihat hal itu, Heechul segera menyikut pinggang Suaminya, agar melihat keadaan sang Namdongsaeng – yang tengah melamun. Hankyung hanya bisa menatap Iba dongsaengnya tersebut. Tanpa ia ketahui sang istri tengah memberi kode pada Wookie – agar melakukan hal yang sama dengannya pada sang suami – Yesung.
"Um, Hae. Ini sudah malam, kau tak pulang? Atau kau mau menginap disini?" tanya Heechul – memecahkan Keheningan yang sesaat melanda ruangan itu.
Merasa namanya di panggil, Donghae segera menatap sang Kakak Ipar sambil mengeriyitkan dahi.
"Kau juga, Hyukkie Chagi. Apa kau tak pulang? Ini sudah malam loh." Kata Heechul mengingatkan Namja yang sudah dianggapnya dongsaeng itu.
"Ah, iya. Tak terasa sudah jam 9. Kalau begitu aku mau berkemas untuk pulang dulu ya, hyung." Kata Hyukkie dengan senyumnya – sambil mematikan Tablet milik Donghae yang ada ditangannya.
"Um, hae. Apa kau bisa mengantarkan Hyukkie pulang? Kasian kalau ia pulang sendirian. Kan ini sudah lumayan larut." Kata Heechul khawatir.
Hyukkie segera memandang Heechul dengan tatapan kaget + kesal – yang lucu. Melihat itu, Donghae hanya bisa tersenyum tipis.
"Ne, hyung. Aku akan mengantarnya pulang." Kata Donghae singkat sambil beranjak berdiri.
"Tunggu hae, aku dan Yesung ingin berbicara dengan mu." Kata Hankyung mencegah Donghae untuk pulang.
Hankyung segera menganggukkan kepalanya ke arah sang istri – memberi kode agar membawa Wookie dan Hyukkie ke ruangan lain.
"Um, Wookie, Hyukkie, bisa kalian bantu aku sebentar di dapur?" tawar Heechul pada dua Namja manis itu.
Mereka hanya menganggukkan kepala. Kemudian mengikuti langkah Heechul menuju dapur.
"Kalian ingin bicara apa hyung?" tanya Donghae ketika tinggal mereka bertiga – Dia dan kedua Hyungnya – yang ada di ruangan itu.
"Besok kau ikut ke rumah Appa dan Umma, kan?" tanya Hankyung ragu. Seketika itu juga raut wajah Donghae berubah menjadi Datar dan Dingin serta penuh dengan Kepedihan diwaktu yang bersamaan.
"Hae, kau tidak apa-apa kan?" tanya Yesung khawatir.
"Ani." Jawab Donghae singkat.
Diperhatikannya wajah sang dongsae yang terlihat suram dan penuh amarah yang terpendam itu. Yesung masih bingun dengan sikap Namdongsaengnya itu. Tak lama kemudian, Yesung ingat kan suatu Hal. Hal yang merupakan sebuah Pemikiran Konyol yang berasal dari Namdongsaengnya itu.
"Tunggu sebentar, jangan bilang kalau Pemikiran bodoh mu yang dulu masih bersarang di Otak mu?" tanya Yesung – mulai curiga. Seketika ruang tamu itu menjadi hening, Hankyung hanya diam dan mendengarkan percakapan kedua Namdongsaengnya – membiarkan Yesung menasehati Namdongsaeng kesayangannya – Donghae.
"Aku tak habis pikir, kenapa kau masih memikirkan hal Bodoh semacam itu? Jawab aku Donghae!" ujar Yesung tegas.
"Aku tak tahu, hyung. Aku masih belum bisa melupakan semua itu." Ujar Donghae lirih – karna menyadari Yesung mulai marah sebab hyungnya itu tak pernah setuju dengan pemikirannya.
Yesung menghela nafas berat. Ia berusaha mengendalikan amarahnya. Sejak dulu, ia tak pernah suka dengan pemikiran bodoh Donghae. Namun, ia tak mau menyalahkan Namdongsaengnya itu. Ia tahu Dongsaengnya itu sedang terjebak dalam perang dengan batinnya sendiri. Perang yang telah berhasil merubah Watak sang Dongsaeng menjadi Datar nan Dingin.
"Dengar, kau, aku dan Han hyung terlahir dari Rahim yang sama. Rahim seorang Namja. Mungkin orang yang tak mengerti apa-apa akan menganggap hal ini sebagai hal yang aneh dan menjijikkan. Kenapa kau hanya menganggap ini sebagai hal yang menjijikkan? Apa kau tak pernah berpikir bahwa ini adalah sebuah Mukzijat?" tanya Yesung – yang langsung membuat sang Namdongsaeng mengeriyitkan dahi.
"Maksud hyung?" tanya Donghae bingung.
"Apa kau pikir kalau kita terlahir dari Rahim seorang Yeoja, kita akan mendapatkan kebahagian yang melimpah seperti sewaktu kita kecil? Apa kita akan merasakan kasih sayang lebih dari yang Umma berikan pada kita? Tak pernah kah kau berpikir, betapa beruntungnya kita lahir di tengah-tengah Keluarga Lee?" ujar Yesung dengan nada Tegas.
Donghae hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia bingung. Bingung dengan semua perasaan yang bergejolak di hatinya. Perasaan marah, malu, dan bersalah yang tak hentinya membuatnya marah pada dirinya sendiri.
"Pulang lah. Ini sudah malam. Dan pikirkan baik-baik apa yang sudah ku katakan. Sebelum kau menyesali semuanya." Kata Yesung lembut sambil menepuk pelan pundak sang Dongsaeng.
Sebelum semuanya terlambat. –
.
.
Di dalam mobil . . .
Suasana kota Seoul pada malam hari terlihat lenggang. Hanya ada beberapa Mobil dan Taxi yang terlihat dijalanan kota itu. Termasuk sebuah Mobil Audi sport warna putih yang tengah melaju dengan kecepatan standart. Di dalamnya terdapat sepasang Namja tampan dan Namja manis yang duduk bersebelahan di kursi depan. Sang Namja tampan sedang serius mengemudikan mobilnya hinga tak menyadari Namja manis disebelahnya tengah memperhatikannya sedari tadi.
"Um, Donghae-sshi. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Hyukkie – membuka pembicaraan – dengan ragu.
"Apa?" kata Donghae datar.
"Apa selama 12 tahun kau tak pernah bertemu dengan Hankyung hyung dan Yesung hyung?" tanya Hyukkie ragu.
"Ya, begitulah. Aku sama sekali tak bertemu dengan mereka. Maka dari itu aku kaget, ketika mendengar kabar kalau mereka sudah . . . menikah." Ujar Donghae lirih.
"Um, begitu. Berarti kau juga sama sekali tak bisa bertemu dengan appa dan umma mu, ne?" tanya Hyukkie lagi.
Seketika raut wajah Donghae berubah menjadi datar. Kenangan tentang masa lalunya kembali berputar dalam pikirannya. Perkataan kedua Hyungnya kembali membayanginya, hingga membuatnya kembali merasa – bersalah. Menyadari perubahan ekspresi Donghae, Hyukkie jadi merasa bersalah karna bertanya hal seperti tadi.
"Ah, mian Donghae-sshi. Aku tak bermaksud untuk ikut campur urusan anda." Ujar Hyukkie takut – sambil menundukkan kepala.
"Gwechana. Kau kan tak tahu." Ujar Donghae dengan mimik sendunya – yang entah sejak kapan bisa ia tunjukkan pada Orang lain.
"Jinjja? Sungguh aku tak berniat ikut campur. Sekali lagi, mian." Kata Hyukkie sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Gwenchanayo. Lagi pula kau benar. Selama ini aku memang tak pernah bertemu dengan. . . appa dan umma." Ucap Donghae lirih.
"Apa kau tak merindukan mereka, donghae-sshi?" tanya Hyukkie lirih.
"Rindu? Mungkin. Atau lebih tepatnya merasa – bersalah." Ujar Donghae pelan.
"Bersalah? Ah, itu. Setelah belokan di depan itu rumah ku." Ujar Hyukkie riang – melupakan pertanyaan yang baru saja akan ia tanyakan pada Donghae.
"Disini?" tanya Donghae sembari menghentikan laju mobilnya – ketika sudah sampai di depan rumah Hyukkie.
"Ne, gomawo. Um, tunggu sebentar. Ini Tablat PC mu. Gomawo sudah mau meminjamkan pada ku, ne." ujar Hyukkie seraya menyerahkan Tablet milik Donghae – sambil memamerkan Gummy Smilenya.
"Ambil lah. Anggaplah itu sebagai hadiah karna kau sudah bekerja dengan giat selama ini." Ujar Donghae sambil tersenyum tipis.
" Jinjjayo? Ah, aniyo. Aku tak bisa menerima ini. Ini terlalu mahal untuk dijadikan hadiah buat ku, Donghae-sshi." Ujar Hyukkie sambil menatap Tablet yang ada ditangannya.
"Ani. Kau pantas untuk mendapatkannya. Karna kau sudah bekerja dengan giat bahkan selama 10 tahun. Satu hal lagi, panggil aku 'Hae' saja. Lagi pula kita hanya berbeda 1 tahun." Ujar Donghae lembut.
"Ah, Ne. Gomawo, Donghae-sshi. Aish, maksudku Hae." Ujar Hyukkie sambil memberikan Gummy Smilenya.
"Ne, sama-sama." Kata Donghae singkat.
"Aku pulang dulu, ne. Gomawo sudah mau mengantarkan ku pulang, Hae-ah." Kata Hyukkie sambil membungkukkan badan dan bergegas untuk turun dari Mobil Audi bewarna putih itu.
"Bye bye." Ujar Hyukkie pada Donghae sambil melambaikan tangan – yang dibalas anggukkan oleh Donghae sebelum ia kembali menjalankan mobilnya.
Ketika Cinta mulai tumbuh dan menghapus segala Keegoisan Hati . . .
.
.
Donghae POV . . .
Ini dimana? Kenapa semuanya gelap? Apa aku sudah mati saat tertidur? Ah, mana mungkin. Aku tak mungkin mati konyol seperti itu. Tunggu, apa itu sebuah cahaya? Itu cahaya. Aku harus kesana. Disini terang. Tunggu, kenapa ada bangku di tempat seperti ini? Dan siapa orang yang duduk di situ? Badannya bergetar, apa dia sedang menangis?
"Gwenchanayo?" ku coba menyapanya lembut sambil memegang bahunya. Tunggu, aku mengenal sosok ini. Sosok Namja yang telah melahirkan aku ke dunia in – Umma.
Dia menatapku dengan matayang beruai air mata. Ada apa dengannya? Kenapa ia menangis di tempat seperti ini? Kenapa hanya ada aku dan Umma disini? Tempat macam apa ini?
"Mianhae, Chagi." Suara lembutnya terdengar bercampur isakan halus ditelinga ku.
"Mian Umma sudah membuat mu Malu dan Marah selama ini." Ucapnya dengan bulir air mata kembali membasahi mata indah miliknya.
'aniyo, umma tak pernah membuat ku marah. Hae, saja yang terlalu bodoh hinga bersikap seperti itu selama ini.' Ucap ku lirih.
"Maafkan Umma, Hae boleh membenci Umma jika itu membuat kau tenang, Chagiya." Ujar umma sambil meneteskan air matanya - lagi.
'ani, umma. Hae, sangat menyayangi umma.' Ujar ku lirih.
"Umma akan pergi, Hae. Jika hal itu bisa membuat kau Bahagia, chagi." Kata umma – dan perlahan menjauh dari hadapan ku.
'Umma jangan pergi. Jebal. . . Hae sayang Umma. Ku mohon jangan pergi umma. Jebal.' Ujar ku sambil mengejar umma yang perlahan semakin jauh dari hadapan ku.
Tak terasa air mata ku turun saat melihat umma semakin jauh dan mulai menghilang dari pandangan ku. Aku tak tahu kenapa aku menangis. Yang jelas aku tak ingin Umma pergi.
'Umma . . Jebal, jangan pergi. Aku mohon.' Teriak ku sambil bersimpuh ditanah – saat ku lihat umma telah menghilang dari hadapan ku.
End Donghae POV . . .
"UMMA..!" teriak Donghae – saat ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Sebuah mimpi buruk telah melandanya.
Donghae hanya bisa terduduk diatas kasur King size miliknya itu. Pandangannya kosong menerawang ke awang-awang. Tak ada sepatah kata yang mampu ia ucapkan. Mimpinya tadi benar-benar seolah mebungkam mulutnya hingga tak bisa bersuara. Tak bereapa lama, kesadarannya sudah mulai kembali. Diliriknya ponsel yang tengah tergeletak di meja – disamping ranjangnya. Diraihnya ponsel itu. Alis nya mengeriyit ketika melihat sebuah pesan di ponselnya.
- Hankyung hyung-
Jika kau berminat ikut mengunjungi appa dan umma, kami berangkat pukul 8. Ikuti kata hati mu, Hae.
Donghae terdiam sesaat. 'kenapa tadi aku menangis saat melihat umma menghilang? Apa kau takut kehilangannya? Ya, aku memang takut kehilangan umma. Aku sadar. Aku begitu menyayangi umma. Aku tak ingin kehilangan Umma. Aku harus kesana. Aku harus ikut hyung menemui appa dan umma.' Batin Donghae. Diliriknya jam weker yang ada dimejanya.
07:35 AM
"Masih sempat." Gumam Doghae lirih.
Segera ia bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan diri, berganti pakaian, lalu bergegas keluar kamar dan mengambil mobilnya di garasi. Sepanjang perjalanan menuju rumah hyungnya, pikirannya masih kalut. Perang antar Keegoisan dan Keinginan hatinya mulai melandanya kembali. Hingga membuatnya beberapa kali harus menepikan mobilnya dan menenangkan pikirannya kembali. Pikirannya kalut. Perang perasaan yang tengah melandanya, membuat hati dan dan pikirannya tak lagi sejalan. Namun, entah dorongan dari mana. Ia kembali melajukan mobilnya menuju kerumah hyung tertuanya itu. Kata-kata Yesung dan Hankyung beberapa hari lalu memberinya sedikit keyakinan bahwa yang ia pilih saat ini adalah – benar.
-Ketika semuanya harus Diperjuangkan-
.
.
08 : 20 AM
Rumah Hankyung . . .
Sebuah Mobil audi sport warna putih memasuki pelataran rumah seorang dokter bernama Lee Hankyung. Seorang Namja tampan keluar dari mobil sport mewah tersebut. Namja itu berjalan dengan tergesa menuju pintu rumah Dokter yan merupakan – Hyungnya. Dipencetnya beberapa kali bel rumah hyungnya itu. Tapi, ia tak sama sekali mendapatkan respon dari seseorang dari dalam rumah. Tiba-tiba ia merasakan seseorang menepuk pelan bahunya. Segera ia membalikkan badannya – dan menemukan sosok namja manis yang tengah tersenyum lembut padanya.
"Mereka sudah berangkat." Kata Hyukkie pelan.
Tubuh Donghae seketika menjadi lemas. Ia meraih sebuah kursi yang berada di beranda rumah itu. Tubuhnya terduduk lemas di kursi itu. Mungkin ia bisa saja menyusul kedua hyungnya ke rumah appa dan umma mereka. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Ia terlalu lemah jika harus bertemu orang tuanya sendirian. Pandangannya mulai menerawang kosong tak tentu arah.
"Apa kau merindukan mereka?" tanya Hyukkie lirih.
Donghae menatap Hyukkie yang duduk disebelahnya – dengan tatapan sendu – kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
"Lalu kenapa dulu kau tak pernah menemui mereka? Apa karna kau marah pada mereka?" tanya Hyukkie lagi – ragu.
"Aku terlalu bodoh. Dulu aku menganggap diriku menjijikkan karna aku anak dari mereka – yang sesama Namja. Dan karna itu lah aku menghindar dari mereka." Ujar Donghae lirih.
"Apa salahnya jika memiliki orang tua yang sama-sama Namja?" tanya Hyukkie.
Donghae mengeriyitkan dahinya. Ia bingung dengan Statement sekaligus pertanyaan yang di ucapkan Namja manis disebelahnya itu.
"Aku saja tak pernah mempermasalahkan hal itu." Ujar Hyukkie lagi.
"Jadi, kau juga . . ." ujar Donghae – menggantung – sambil menunjukkan ekpresi kaget.
"Ya, aku juga anak dari seorang Namja. Umma ku, Lee Junsu adalah seorang namja. Ia menikah dengan Appa ku, Lee Youchun yang merupakan namja asal Jepang. Aku tak pernah mempersalahkan status kedua orang tua ku yang sama-sama Namja. Karna mereka selalu menyayangiku sepenuh hati. Apa yang perlu dipermasalahkan? Buat ku semua itu sama. Tak ada yang berbeda antara Namja yang bisa melahirkan dengan seorang Yeoja. Lagi pula kau masih beruntung, Hae. Karna kau masih bisa memiliki mereka hingga kini." Ujar Hyukkie – dengan nada lirih pada kalimat terakhirnya.
"Maksud mu?" tanya Donghae bingung.
"Ya, kau masih bisa memilki mereka hingga kini. Aku tak seberuntung kau, Hae-ah. Appa ku meninggal saat aku berusia 3 tahun." Ujar Hyukkie lirih.
"Mian. Aku tak bermaksud membuat mu sedih. Lalu kemana Umma mu?" tanya Donghae lagi – ragu.
"Gwenchana. Umma ku juga meninggal 5 tahun setelah Appa ku meninggal. Kau beruntung masih bisa melihat dan memiliki orang tua mu saat ini. Maka jangan pernah memikirkan hal seperti itu. Buatku, tak peduli siapa yang telah melahirkan kita, entah dia namja atau yeoja. Yang terpenting adalah kasih sayang yang telah mereka berikan pada kita. Karna hal itu lah kita bisa merasakan kebahagiaan dan bisa hidup hingga sekarang." Ujar hyukkie dengan tersenyum lembut.
"Ya, kau benar. Tak peduli siapa yang melahirkan kita. Tapi bagaimana ia menyayangi kita." Ujar Donghae sambil menunduk.
Hyukkie hanya bisa tersenyum melihat sikap Namja tampan disampingnya itu. Jujur ia cukup kesal dengan pemikiran Donghae sebelumnya. Namun, semua itu luntur hanya karna tatapan sendu yang Donghae tunjukkan. Tapi, ia sedikit bingung dengan sikap Donghae saat ini. Saat in Donghae sedang mengangkat kepala sambil membuat cengiran lucu di bibir tipisnya.
"Ya..! Kau benar. Tak peduli mereka namja atau bukan. Yang penting mereka sudah rela mengorbankan nyawa mereka demi melahirkan ku dan merawat ke semasa kecil." Ujar donghae semangat – lalu berdiri.
"Yah..! Kau mau apa?" Pekik hyukkie ketika tangannya diseret oleh Donghae.
"Kau. Ikut aku." Ujar Donghae singkat.
"Kemana?" tanya Hyukkie bingung.
"Kerumah appa dan umma ku." Ucap Donghae- sambil menggandeng tangan Hyukkie menuju mobilnya.
"Yah..! Kau ini. Biarkan aku izin dulu ke sungmin hyung. Kasian jika nanti ia mencariku." Gerutu hyukkie kesal.
Donghae menghentikan langkahnya sejenak. Kemudian menatap datar hyukkie. Hyukkie hanya bisa menatap kesal pada donghae.
"Kau bawa ponsel sekarang?" tanya Donghae singkat.
"Ne, aku bawa." Ujar hyukkie sambil meraba saku celananya.
"Ya sudah, nanti kau telpon Sungmin. Yang jelas sekarang kita tak punya banyak waktu." Kata donghae sambil membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Hyukkie untuk masuk.
"Yah..! Tapi . . ." ucapan hyukkie terpotong karna donghae sudah menutup pintunya.
'aish tidak sopan. Knapa ia bilang kita tak punya banyak waktu? Bukannya ini masalahnya.' Batin Hyukkie kesal. Hyukkie mulai mempoutkan bibirnya lucu – tanda ia sedang kesal.
Donghae hanya melirik sekilas Namja manis yang duduk disampingnya itu. 'aish, jangan mempoutkan bibir mu seperti itu. Aku jadi ingin menciummu. Ah, apa yang ku pikirkan.' Batin donghae – sambil tetap menatap hyukkie intens.
"Apa yang kau lihat, eoh?" tanya hyukkie kesal.
"Ah, ani. Kau terlihat manis jika sedang marah." Kata Donghae tanpa sadar.
"Aish, kau ini menjengkelkan." Kata Hyukkie semakin mempoutkan bibirnya – dengan muka yang memerah.
'Neomu Kyeopta.' Batin Donghae. Ia hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan Namja manis yang sangat lucu – menurutnya – itu.
-Ketika cinta datang tanpa bisa ditebak, siapa yang akan disalahkan?-
.
.
"UMMA . . . APPA . . . Kami datang . .!" teriak hankyung senang.
Heechul hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang suami. Sedangkan Yesung lebih memilih memeluk pinggang Wookie sambil berjalan masuk ke dalam rumah – kedua orang tuanya. Sementara dari dalam terlihat sepasang namja tampan dan cantik tengah berjalan menuju ruang tamu tempat Hankyung dan yang .
"Yah..! Jangan teriak-teriak seperti itu.! Kau ingin membuat kami Tuli, eoh?" ujar Kang In sinis.
"Yoebo. . . Jangan bicara begitu. Apa kau tak senang dikunjungi sama Uri aegya, hm?" tanya Leeteuk lembut – sambil menyikut pinggang sang suami yang tengah memeluk pinggang nya.
Suasana ruang tamu keluarga Lee itu menjadi sangat ramai dan memancarkan kehangatan – yang ditimbulkan oleh rasa rindu dan bahagia antar sesama anggota keluarga. Namun tidak bagi sang umma. Leeteuk nampak sedikit muram. Pikirannya berkecamuk memikirkan sang anak bungsu – Donghae. Mengetahui perubahan air muka sang bunda, akhirnya Hankyung angkat bicara.
"Umma, Gwenchanayo?" tanya hankyung lembut.
"ah, Gwenchana. Umma dengar, adik mu sudah kembali ke Korea. Apa itu benar?" tanya Leeteuk lembut.
"Ne, dia sudah kembali. Beberapa minggu yang lalu ia mampir ke rumah Han, umma." Ujar hankyung lembut.
"Jinjja? Kenapa ia tak ikut kemari?" kali ini sang appa – Kang In – yang bertanya.
"Emm, itu . . . Karna dia bilang ada urusan pekerjaan." Ujar hankyung berusaha tidak memberitahu hal yang sebenarnya.
"Kau berbohong kan, Chagi. Umma sudah tahu semuanya.?" kata Leeteuk lembut.
"Maksud Umma?" tanya hankyung bingung.
"Ya, umma tahu kenapa Hae tak bisa ikut. Karna Hae tak mau bertemu dengan Umma kan?" kata Leeteuk dengan mata berkaca-kaca.
"Apa maksud mu, Yoebo?" tanya Kang In yang bingung dengan perkataan sang istri.
"Umma tahu Hae tak mau kemari karna dia membenci umma, kan? Dia tak mau memiliki orang tua seperti Umma, kan? Katakan pada Umma, hae membenci Umma, kan?" kata Leeteuk seraya meneteskan bulir air matanya.
Tanpa semua orang yang ada di ruang tamu itu ketahui, seorang namja tampan tengah berdiri di depan pintu masuk dengan mata berkaca-kaca – karna mendengar semua perkataan ummanya tadi.
"Ani. Hae tak pernah membenci Umma." Kata donghae tegas – dari arah belakang tempat para Suami Istri itu berkumpul.
"Hae . . ." ujar Leeteuk lirih.
"Hae tak penah membenci Umma. Hae mohon, Umma jangan pernah berkata seperti itu. Jebal . . ." kata Donghae seraya mendekati sang Umma.
Semua orang di ruangan itu terkejut dengan kedatangan sang Namja tampan – yang semenjak tadi menjadi objek kegusaran.
"Hae . . . Umma sangat menyayangi mu, chagi. Jeongmal mianhe karna selama ini umma tak pernah mengerti perasaan mu." Ujar Leeteuk seraya memeluk anka bungsu nya itu dengan berurai air mata.
"Ani, umma. Hae yang salah. Hae tak pernah memikirkan betapa umma menyayangi Hae selama ini. Hae malah berpikir untuk membenci umma. Hae anak yang BODOH..! Umma boleh membenci Hae. Tapi hae mohon Umma, maafkan hae. Jeongmal umma, maafkan Hae. . maafkan hae, Jebal . ." kata donghae sambil terus menangis di dekapan sang Umma.
"Hae Chagi, dengar. Umma tak akan pernah membenci mu. Kau adalah permata bagi umma. Kau anak bungsu kesayangan umma, appa dan hyung-hyung mu. Jangan pernah berkata seperti itu, ne. Bagaimana pun, tak akan ada seorang umma pun di dunia ini yang bisa membenci anaknya. Umma yang melahirkan mu. Umma juga yang telah merawat dan menyayangi mu selama ini. Jadi, umma tak mungkin bisa membenci anak umma yang tampan ini." Ujar Leeteuk seraya melepas pelukannya dan mengelus lembut surai halus milik sang anak – dengan senyum malaikat yang menghiasi wajah cantiknya.
"Jeongmal?" tanya donghae sambil terisak dan air mata yang masih menetes di kedua mata sendu miliknya.
"Aigo, Neomu Kyeopta. Kau benar-benar anak umma yang paling lucu, chagi..!" kata Leeteuk senang sembari memeluk erat Donghae.
"Yah, umma. Jangan menggoda ku, ne." ujar donghae dengan muka kesal – sembari menghapus jejak air matanya.
"Ne, ne. Donghae anak umma yang paling tampan." Kata Leeeuk sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut anaknya.
Semua orang itu tertawa bahagia melihat adegan ibu dan anak itu. Hingga donghae ingat dengan seseorang yang telah menyadarkannya agar datang ke rumah appa dan umma nya.
"Omo. Aku lupa.!" Pekik Donghae tiba-tiba. Seketika donghae berjelan kearah sesosok Namja manis yang tengah berdiri di depan pintu dengan senyum yang tak kalah manis dari dirinya (?). Sedangkan yang lain hanya menatap bingung kedua namja tersebut.
"Umma, Appa, Hyung. Aku harus berterima kasih pada hyukkie. Karna dia, aku jadi sadar betapa bodohnya sikap ku selama ini. Hingga aku putuskan untuk datang kemari." Ujar donghae sambil menggandeng hyukkie menuju ketempat yang lain berkumpul – dengan senyum tipis diwajahnya.
"Omona. Apa dia kekasihmu, hae?" tanya Leeteuk antusias – seraya mendekat kearah Hyukkie.
"Ah, ani ajhuma. Saya pegawai Heechul hyung di toko." Kata hyukkie dengan Gummy Smilenya – dan muka yang memerah.
"Ah, sayang sekali. Padahal kau terlihat sangat cocok dengan Hae. Kau sangat manis soalnya." Kata Leeteuk sambil mencubit gemas pipi Hyukkie yang merah merona.
Sedangkan disisi lain Hankyung dan Heechul saling menatap satu sama lain dengan senyum yang penuh arti.
.
.
Saat ini Hyukkie sedang berada dibalkon atas kediaman keluarga Lee. Ia menatap lurus kearah hamparan bukit hijau dan sebuah menara yang ada dihadapannya – mengingat rumah itu berada tidak jauh dari Gunung Nam dan Menara Namshan. Jika kalian tanya kemana anggota yang lain? Maka jawabannya adalah Leeteuk, Heechul dan Ryewook sedang berada di dapur. Awalnya hyukkie ingin membantu. Tapi tidak diperkenankan oleh Leeteuk dan Heechul. Alasannya? Karna Hyukkie terlalu manis untuk berada di dapur(?). 'benar-benar tidak masuk akal' batin Hyukkie.
Tanpa hyukkie sadari, seorang Namja tampan tengah berjalan kearahnya dengan dua kaleng minuman di tangannya.
"Ini. Minumlah." Kata donghae singkat sembari menyodorkan kaleng minuman dingin itu ke hyukkie – lebih tepatnya ke pipi hyukkie.
"Aish, kau ini membuat ku kaget saja, Hae-ah. Kenapa harus di tempelkan ke pipi segala sih?" gerutu hyukkie sambil pasang muka kesal – yang imut menurut donghae.
"Agar pipi mu tak lagi memerah seperti tadi." Kata donghae sambil terkekeh geli melihat tingkah lucu namja manis itu.
"Aish, berhenti menggoda ku, Hae.!" Pekik hyukkie – ngambek.
"Arra . . arra . . (*sigh*) Gomawo ne." ujar donghae sambil menatap pemandangan indah dari atas balkon tersebut.
"Eh?" ucap hyukkie bingung.
"Gomawo karna sudah menyadarkan Namja Pabbo seperti aku." Ujar donghae sambil tersenyum lembut dan menatap sendu onyx hitam milik hyukkie.
"Ah, itu. Tak usa terlalu begitu. A,.Aku hanya membantu sebisa ku." Ujar hyukkie gugup sambil menundukkan kepalanya.
CHU . .
"Sekali lagi, Gomawo ne." ujar Donghae sambil mengecup lembut pipi hyukkie – kemudian melangkah masuk kedalam rumah meninggalkan Hyukkie yang masih membatu dibalkon tersebut.
'apa itu tadi? Dia mencium pipi ku? Aish, wajah ku rasanya panas sekali sekarang. Eothoke?' batin hyukkie gugup.
Sementara itu Hyukkie takmenyadari bahwa Donghae melangkah masuk dengan senyuman yang penuh arti. 'aku harus mengakuinya. Aku mulai jatuh cinta padanya.' Batin donghae sambil tersenyum.
.
.
Suasana Seoul malam ini terasa sedikit berbeda. Mungkin tetap dingin seperti biasanya. Namun terasa hangat dalam hati sepasang Namja yang berada dalam sebuah Mobil Mewah bewarna putih itu. Saat ini Donghae sedang mengantarkan hyukkie pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Tak ada yang memancing untuk membuka pembicaraan. Hingga tak terasa sudah sampai di depan rumah Namja manis tersebut.
Ada yang sedikit berbeda dari rumah Namja manis tersebut. Bukan karna beberapa pot berisi tanaman baru yang terdapat dibagian depan rumah itu. Melainkan sesosok Namja tampan bertubuh tinggi yang tengah duduk di kursi yang terletak dibagian depan rumah sederhana tersebut. Kedua namja yang berada dalam mobil itu pun keluar. Hyukkie sedikit berlari untuk menghampii Namja bertubuh tinggi nan atletis tersebut.
"Siwon hyung, kapan kau pulang? Kenapa tak mengabari aku hyung?" tanya hyukkie tidak sabaran.
"Aniyo, hyukkie. Aku hanya ingin membuat Surprise untuk mu." Ujar namja yang dipanggil Siwon tersebut sambil memberikan senyum yang menawan.
"Kau dari mana? Kok baru pulang sekarang? Tadi aku ke toko, aku mencari mu. Dan kata Sungmin hyung kau sedang keluar." Kata Siwon lembut.
"Oh, itu. Aku pergi ke rumah keluarganya boss ku hyung. Eh, iya hyung kenalkan ini Donghae. Hae kenalkan ini Siwon dia .," ucapan hyukkie terpotong oleh omongan Siwon.
"Choi Siwon imnida. Namjachingu Hyukkie."
CTAR . . .
'Namjachingu Hyukkie?'
'apakah ini mimpi?'
.
.
To Be Continued. . .
.
.
Chap 3 Update. . .
buat yg masih berminat author ucapin makasi bget. .
silahkan Review u/ klanjuttani FF. . .
klo ndag da yg review, dengan snang hati Author bkal hapus nie FF dari predaran. #plak
.
Request alur masih berlaku kogh. .
silahkan lihat ktentuannya di Chapter 2.
author males ketik ulang #plak
.
Jangan lupa review klo uda selesai baca.
Review menentukan klanjutan FF yg anda baca.
Gomawo
