Title : Love Never Wrong
Author : Meyla Rahma
Rated : M {Jaga-jaga karna ada Content Dewasa}
Pairing : HaeHyuk {Mungkin bisa nambah, tapi Main Pair tetep HaeHyuk }
Genre : Romance
WARNING…!
YAOI / Boy Loves / Boy X Boy
Miss typo(s)
Mature Content
DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!
And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!
DON'T LIKE, DON'T READ..!
JUST CLICK [X] {close} OKE
Happy Reading…
. . .
"Choi Siwon imnida. Namjachingu Hyukkie." Ucap siwon sambil memberikan senyum lembut – namun memiliki arti tersendiri bagi pemiliknya saat ini.
"Ne, Lee Donghae imnida. Aku adik ipar dari boss tempat Hyukkie bekerja. . ." donghae menarik nafas – menahan perasaan sakit di dadanya yang datang tiba-tiba – sebelum melanjutkan kalimatnya, "- aku mengantarnya pulang hanya untuk . . . berterima kasih." Kata donghae datar sambil menatap sendu namja manis disebelah siwon – sarat akan kekecewaan.
"Ah, kalau begitu gomawo karna telah mengantar Hyukkie pulang, donghae-sshi." Kata siwon sambil membungkukkan sedikit badannya – dengan senyum menawan masih menghiasi wajah tampannya.
"Ne, aku pamit pulang dulu." Ujar donghae datar.
"Kau tak ingin mampir dulu?" tanya siwon lembut – sedangkan hyukkie yang sedari tadi menundukkan kepala disamping siwon, kini mengangkat wajahnya menatap donghae ragu.
"Ani, aku tak ingin mengganggu . . . kalian." Ujar donghae lirih – penuh rasa sakit dan kekecewaan namun siwon tak tahu itu, tapi mungkin hanya hyukkie yang tahu.
"Baiklah, sekali lagi Gomawo sudah mengantar Nae hyukkie pulang." Kata siwon lagi.
'Nae hyukkie?' batin donghae. Kemudian ia hanya mengangguk sebagai balasan dan menatap hyukkie sendu.
"Aku pulang dulu, hyukkie. Sekali lagi terima kasih telah membantu ku." Kata donghae sambil tersenyum lembut – tapi tatapannya masih tetap sama – sendu.
Hyukkie hanya bisa mengangguk pelan membalas ucapan donghae. Sesudah itu, donghae kembali menuju mobilnya dan mulai mengendarainya meninggalkan area rumah hyukkie – dengan rasa sakit di dada yang entah bagaimana cara menghilangkannya.
. . .
"Kau sudah makan hyukkie?" tanya siwon lembut – pada namja manis yang tengah menyeruput teh di meja makan itu – sambil melamun.
'kenapa aku jadi merasa tidak enak pada hae seperti ini? Entahlah tatapan mata hae tadi, benar-benar mengandung sebuah kesedihan dan . . . kekecewaan. Tapi, kenapa dia kecewa?' batin hyukkie – tak menyadari siwon sedang bertanya padanya.
"Hyukkie chagi. . . kau kenapa?" tanya siwon khawatir – sambil meletakkan dagunya di bahu hyukkie.
"Ah, ani. Aku tidak kenapa-kenapa kok, hyung." Kata hyukkie sambil menghindar dari siwon yang mulai mengecupi leher putih jenjang miliknya.
Namun siwon tidak menyerah. Ditariknya lengan hyukkie hingga ia berdiri dan memeluknya dari belakang.
"Kau tak rindu pada ku, eoh?" tanya siwon lembut sambil menghirup aroma strawberry yang menguar dari leher Hyukkie.
"Aku sangat merindukkan mu . . ." kata siwon yang hampir seperti berbisik di telinga hyukkie. Kemudian ia mulai mengecupi leher sang kekasihnya itu.
Entah kenapa kini hyukkie berusaha menghindar dari perlakuan lembut namjachingunya itu. Tak biasanya hyukkie menolak kemesraan yang diberikan oleh siwon – seperti saat ini.
"Ah, hyung jangan sekarang. Aku masih belum mandi." Kata hyukkie singkat sambil beranjak menuju kamar mandi.
Siwon hanya bisa tersenyum lembut dan menatap sendu punggung hyukkie yang pelahan hilang tertutup pintu kamar mandi. Jika kalian bertanya, apakah Hyukkie adalah kekasih siwon? Maka jawabanya adalah benar. Hyukkie memang namjachingu siwon. Tapi tidak bagi hyukkie. Ya, hyukkie masih belum bisa menganggap siwon sebagai seseorang yang special dihatinya. Ia hanya bisa menganggap siwon tak lebih dari sebatas Hyung. Hanya sebatas hyung.
Saat kematian ummanya, hyukkie bertemu dengan keluarga siwon. Tak disangka umma Siwon – Choi Jaejoong – merupakan sahabat baik umma Hyukkie – Lee Junsu. Sedangkan appa siwon – Choi Yunho – adalah rekan bisnis dari appa Hyukkie – Lee Youchun. Semenjak saat itu Hyukkie sudah dianggap anak oleh keluarga Choi. Apalagi Jaejoong sangat ingin memiliki anak yang semanis hyukkie. Lambat laun putra dari keluarga Choi tersebut – Siwon – mulai mencintai hyukkie. Awalnya hyukkie menolak perasaan siwon, karna ia hanya menganggap siwon sebagai hyungnya.
Namun, entah apa yang telah menjadi pertimbangan bagi hyukkie. Setahun lalu ia mau menjadi kekasih siwon. Namun, ia tetap meminta siwon untuk menunggunya untuk bisa membalas perasaan Siwon pada nya. Tapi sekarang, entah mengapa perasaan yang ia baru bangun untuk siwon – mulai goyah. Hyukkie tak dapat memungkiri jika hatinya tertarik dengan sosok namja tampan berhati dingin – Donghae. Hyukkie tak tahu kenapa. Setiap ia menatap mata Donghae, ia seperti terjebak dalam mata sendu milik donghae tersebut.
Ia seperti merasakan semua perasaan Donghae melalui tatapan sendunya itu. Tatapan yang seolah melumpuhkan sendi-sendi tubuhnya. Tatapan yang seolah membuatnya merasakan setiap rasa sakit yang donghae rasakan. Tapi, hyukkie masih belum bisa menyimpulkan perasaannya itu. Perasaan yang mulai mengusik hari-harinya semenjak pertama bertemu – di Flower Shop. Perasaan yang mungkin akan membuatnya terjebak dalam sebuah – Badai Cinta.
.
.
Suara kicau burung meramaikan pagi hari yang cerah. Mentari menyinari bumi dengan sinar hangat yang membuat siapapun merasa nyaman karnanya. Namun, sepertinya tidak bagi sesosok namja manis yang tengah melamun sambil menopang dagunya di atas meja kasir. Entah apa yang tengah ia pikirkan, yang pasti hal itu bisa membuatnya enggan untuk sekedar mengedipkan onyx bening yang dihiasi bulu mata yang panjang nan lentik miliknya. Hyukkie – namja manis yang melamun itu, bahkan tak menyadari jika sang pemilik toko sedang mendekat ke arahnya dengan sebuah senyum lembut – karna merasa heran dengan dongsaeng ksayangannya itu.
"Yah, Hyukkie. Kenapa kaumelamun seperti itu, ne? Apa yang sedang kau sedang kau pikirkan, hm?" tanya Heechul lembut.
"Ah, ani hyung. Aku tidak memikirkan apa-apa. Um, apa ada yang aku bisa bantu hyung? Mungkin memasak atau apalah. Aku bosan hyung hanya duduk diam disini." Kata Hyukkie sambil mengeluarkan Puppy Eyes andalannya.
"Em, iya ada. Aku ingin kau mengantarkan sesuatu." Kata Heechul kemudian.
"Mengantar apa, hyung?" tanya hyukkie penasaran.
"Tadi Hannie menelpon donghae. Dan katanya donghae sedang tidak enak badan. Aku tadi sudah membuah Sup dan makanan kesukaan donghae. Dan aku ingin kau mengantarkannya kerumah Donghae." Kata Heechul sambil tersenyum – penuh arti. ' sakit? Perasaan 2 hari lalu tidak apa-apa.' Batin hyukkie bingung.
"Jinjja? Hae sakit? Memang sakit apa hyung?' tanya hyukkie penasaran – juga khawatir.
"Aku tak tahu. Eh, kenapa kau jadi panik seperti itu hyukkie?" tanya Heechul sambil menyeringai penuh arti.
"Ah, aniyo. A,aku hanya ingin tahu kok hyung. Lagi pula kalau hyung menyuruh ku mengantarkan makanan itu, aku mana bisa. Kan aku tak tahu alamat rumah Donghae." Kata hyukkie sambil mempoutkan bibirnya imut.
" Ck.. Kau tak perlu khawatir, chagi. Nanti akan ku berikan alamatnya. Sekarang ikut aku kerumah, untuk menyiapkan makanan dan sedikit obat untuk donghae." Kata Heechul sambil melangkah keluar dari tokonya – yang diikuti Hyukkie dibelakangnya.
.
.
Disinilah hyukie sekarang berdiri. Di sebuah rumah yang besar nan maha mewah milik seorang Lee Donghae. Setelah diperbolehkan oleh sang petugas keamanan – satpam – hyukkie masuk kearena pelataran rumah mewah tersebut. Hyukkie sempat tidak percaya ada rumah mewah bergaya Italy di kota Seoul ini. Mengingat selama ini ia tak pernah melihat rumah bergaya Eropa seperti dihadapannya sekarang. Setelah kaget dari acara mari-memandangi-rumah-mewah-bak-istana-milik-Lee Donghae itu, ia segera masuk kedalam rumah – karna maid dirumah itu langsung mempersilahkannya masuk.
Kalian tahu bagaimana ekspresi hyukkie saat ini? Ia benar-benar terkejut. Bukan karna rumah donghae yang sangat luas dan juga bukan karna langit-langit rumah donghae yang berupa lukisan ala Romawi. Hyukkie terkejut dengan keadaan rumah mewah itu yang benar-benar – berantakan. Ya, rumah itu sungguh berantakan. Seolah telah terjadi tornado yang memporak-porandakan rumah mewah tersebut. LCD pecah berantakan, DVD dan Mini Teater yang tergeletak tak beraturan – yang hyukkie yakin itu pasti habis dibanting sang pemilik. Kaca-kaca lemari diruagan itu pecah berantakan – mungkin hancur karna pukulan dari tongkat Baseball yang kini tergelatak dilantai. Guci-guci yang diyakini hyukkie pasti mahal itu pecah berserakan di samping sofa dan meja ruang tamu diruangan itu. Cukup satu kata untuk menyimpulkan keadaan ruangan itu – HANCUR.
Kini mata hyukkie beralih pada sesosok pemuda yang tergeletak lemah diatas meja mini bar dengan ditemani beberapa minuman yang hyukkie yakin jika itu adalah minuman beralkohol. Dan benar saja saat hyukkie sudah dekat dengan sosok itu, aroma khas alkohol itu langsung menyeruak. Hyukkie memandang khawatir pemuda yang kini tergeletak lemah diatas meja mini bar diruangan itu.
'apa ini yang kau bilang tak enak badan pada hankyung hyung?' batin hyukkie miris.
"Hae . . ." panggil hyukkie lembut sambil menggoyang-goyangkan pelan tubuh namja tampan itu.
"Jangan tinggalkan aku. . . " rancau donghae. Dan membuat hyukkie berhenti mengguncangkan tubuhnya.
"jangan tinggalkan akku. . . Hyukkie-ah. Aku .. hiks.. tidak bisa . . hiks . . hidup tanpa mu. . ." rancau donghae sambil menangis – dan tetap memejamkan matanya.
Hyukkie membatu ditempat seketika karna isakan dan kata-kata donghae barusan. Ia hanya bisa menatap miris namja tampan yang tengah memejamkan matanya itu. Tanpa sengaja ia melihat sebulir air mata keluar dari kedua mata donghae yang tengah terpejam itu. Entah kenapa mata hyukkie menjadi buram – karna air mata yang tiba-tiba hadir di pelupuk matanya. Ia merasa tersentuh – atau bahkan bersalah – setelah mendengar kata-kata donghae itu.
Hyukkie berusaha memindahkan donghae ke kamarnya – karna tak tega melihat donghae yang tertidur diatas meja mini bar. Hyukkie menyampirkan lengan donghae pada bahunya. Kemudian membopong donghae menuju kamar terdekat dengan sedikit tertatih – mengingat tubuhnya yang jauh lebih kecil dari donghae. Sesaat ketika menemukan sebuah kamar, hyukkie berinisiatif membaringkan donghae diatas kasur berukuran King size itu. Namun malang, karna tak melihat sebuah majalah yang tergeletak dilantai mereka terjatuh karna terpeleset majalah itu.
Mereka terjatuh dengan posisi hyukkie menindih tubuh donghae yang tergeletak dilantai. Entah karna terbentur lantai cukup keras atau apa, donghae membuka matanya dan menatap sendu sosok yang saat ini berada diatasnya. Tanpa aba-aba donghae membalik posisi mereka hingga hyukkie berada dibawahnya. Donghae menatap sendu onyx hitam nan bening milik hyukkie. Perlahan namun pasti ia menghapus jarak diantara keduanya. Hingga bibir tipisnya bertemu dengan bibir sensual milik hyukkie.
Mulanya hanya sekedar menempelkan bibirnya – untuk menyalurkan segenap rasa yang ia saat ini rasakan. Namun perlahan donghae mulai melumat lembut bibir manis milik hyukkie. Menyesap semua rasa manis yang disuguhkan bibir ranum hyukkie itu. Sedang hyukkie sendiri hanya bisa membalas perlakuan donghae. Ia tak tahu harus bagaimana. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi ia ingin menolak. Namun, di sisi lain jiwanya tak mampu untuk menolak perlakuan lembut yang diberikan donghae. Mereka saling melumat bibir satu sama lain. Seolah tak ingin melepas pagutan lembut pada bibir mereka saat ini.
Donghae mulai berpindah menciumi leher putih susu milik hyukkie. Ia kecup dan hirup aroma semanis strawberry yang menguar dari setiap bagian di leher itu. Hyukkie tak tahu mengapa, ia bisa merasakan desiran hangat yang hadir di hatinya saat ini. Hingga ia tak mampu menolak semua perlakuan donghae saat ini. Namun, ia mulai mengeriyitkan dahi – bingung karna ia dapat merasakan hembusan hangat nafas yang teratur dilehernya. Tak hanya itu, ia bisa merasakan tubuh donghae benar-benar menindihnya saat ini. Satu penjelasan untuk semua hal itu,
Donghae tertidur.
Hyukkie hanya bisa tersenyum lembut, melihat donghae tertidur diatasnya. Ia berusaha bangkit dengan perlahan agar tak membangunkan donghae. Ia bangun dan membaringkan donghae ke atas ranjangnya. Lalu ia menarik selimut dan menyelimuti donghae sebatas dada. Hyukkie tersenyum lembut dan mengusap pelan rambut donghae. Entah kenapa, hyukkie merasa miris melihat keadaan donghae saat ini. Kantung mata tercetak jelas dibawah mata sendunya, baju berantakan dan berbau alkohol yang menyengat. Ia tak menyangka baru 2 hari tak bertemu, keadaan donghae sudah semengenaskan ini. Ya, begitu lah batin hyukkie.
Dengan perlahan hyukkie meninggalkan kamar donghae dan menuju ruang tamu. Di lihatnya seorang maid, kemudian hyukie putuskan untuk menghampirinya.
"Mianhe nonna, boleh saya tanya sesuatu?" tanya hyukkie ragu.
"Nde, silahkan tuan." Ucap maid itu lembut.
"Sejak kapan donghae menjadi seperti itu?" tanya hyukkie pelan.
"Sejak 2 hari lalu saat Tuang donghae pulang dari rumah kakaknya. Yang saya tahu, tiba-tiba ia membanting semua barang yang ada diruang tamu dan menghacurkan apa yang ia lihat. Saya dan beberapa maid yang lain juga satpam tak berani mengganggu beliau jika sedang marah." Kata maid itu lirih.
"Apa dia selalu seperti ini jika sedang ada masalah?" tanya hyukkie lagi.
"Nde, tuan. Tuan donghae sebelumnya jarang seperti ini. Hanya saja beberapa hari lalu emosi beliau sedikit labil. Kalau saya boleh tahu, nama anda siapa tuan?" tanya maid itu bingung.
"Oh ya, Lee Hyukjae imnida. Anda bisa memanggil saya hyukkie. Memang kenapa nonna?" tanya hyukkie bingung.
"Ah, ani. Hanya saja saat tuan donghae mabuk, beliau selalu memanggil-manggil nama anda tuan. Saya juga kurang tahu kenapa. Yang pasti saat memanggil nama anda, beliau pasti akan menangis dan mulai minum minuman alkohol kembali." Ujar maid itu miris.
Hyukkie hanya bisa membatu mendengar ucapan dari maid itu. Hatinya terasa sakit dan bersalah. Entahlah, ia tahu ini bukan salahnya. Tapi, ia tetap merasa bersalah walau tak tahu kenapa. 'apa karna ucapan Siwon hyung kemarin? Tapi kenapa?' batin hyukkie.
"Gwenchanayo, tuan?" tanya maid itu khawatir – karna melihat wajah hyukkie yang gelisah.
"Ah, ne. Gwenchana. Um, kalau begitu biar sayabantu membersihkan kekacauan yang di buat donghae. Bagaimanapun secara tidak langsung saya yang menyebabkan kekacauan ini." Kata hyukkie sambil tersenyum tulus – walau hatinya masih miris.
"Ah, aniyo. Tidak perlu tuan. Bagaimanapun anda tamu disini. Biar saya dan maid yang lain yang membersihkan ini." Kata maid itu sambil tersenyum.
"Anda bisa saja. Kalau begitu boleh saya memakai dapurnya?" tanya hyukkie – sambil menoleh ke kanan kiri mencari dapur di rumah itu.
"Ah, tentu. Dapurnya berada di samping mini bar yang ada disana. Um, apa anda mau memasak?" tanya maid itu bingung.
"Ani. Tadi saya membawa sedikit makanan dan obat untuk donghae. Saya mau menyiapkan untuknya." Ujar hyukkie sambil tersenyum lembut.
"Oh, kalau begitu mari saya antar ke dapur." Kata maid itu.
Hyukkie hanya mengangguk dan berjalan menyusul maid di depannya.
.
.
Donghae terbangun dari tidurnya yang sesaat. Dapat dirasakan, kepalanya pening dan berat karna pengaruh alkohol yang terlalu banya ia minum. Ia merasa sedikit heran dengan posisinya yang saat ini sudah berada di atas ranjang king size miliknya. Padahal seingatnya, harusnya ia masih tergeletak di atas meja mini barnya. Ia masih sibuk memikirkan bagaimana cara ia sampai di kamarnya, saat seseorang masuk ke dalam kamarnya.
"Kau sudah bangun, hae?" tanya hyukkie lembut – sambil membawa nampan berisi makanan dan obat di atasnya.
Donghae sedikit terkejut dengan ke hadiran hyukkie – sosok yang membuatnya harus merasakan pening yang seperti sekarang. Ia menatap bingung namja manis yang saat ini tengah meletakkan nampan diatas meja nakas di sebelah ranjangnya itu. Kemudian hyukkie duduk di tepi ranjang milknya itu sambil memandang bingung kearah donghae yang tengah menatapnya intens.
"Wae?" tanya hyukkie bingung.
"Aniyo. Kenapa kau ada disini?" tanya donghae.
"Ah, itu. Tadi Heechul hyung menyuruhku ke mari untuk mengantarkan makanan dan obat. Kau kan yang bilang pada Hankyung hyung kalau kau tak enak badan" Kata hyukkie sedikit menyindir.
"Jinjja? Kenapa nada bicara mu begitu?" tanya donghae.
"Kau sendiri yang bilang tak enak badan. Tapi tadi, aku menemukan mu terkapar di atas meja mini bar. Itu yang dinamakan tidak enakbadan?" kata hyukkie sinis.
"Yah, kenapa jadi kau yang memarahi ku? Kalau tidak ikhlas untuk mengantarkan pesanan Heechul hyung bilang saja." Kata donghae tak kalah sinis.
"Yah..! Siapa bilang? Aku ikhlas mengantarkannya. Kenapa kau berpikir begitu?" ujar hyukkie kesal – sambil mempoutkan bibirnya.
"Kau sendiri tadi yang berkata sinis. Apa itu bukan namanya tak ikhlas? Dasar aneh." Kata donghae tak mau kalah.
"Siapa yang aneh? Kau sendiri tadi tiba-tiba menciumku saat aku berusaha membawa mu ke kamar. Sekarang siapa yang aneh?" kata hyukkie kesal. Namun tiba-tiba ia diam, karna merasa mengatakan hal yang memalukan untuknya. Entah kenapa tiba-tiba wajahnya memerah ketika mengingat kejadian tadi. Sedangkan donghae langsung shock mendengar penuturan hyukkie barusan.
"Jinjja? Aku? Mencium mu?" tanya donghae bingung.
"Aish.. Sudahlah tak usa dibahas." Kata hyukkie salah tingkah dengan muka yang sudah sangat memerah.
'apa karna aku mabuk dan langsung menciumya ya? Aish, kenapa aku bisa hilang kendali seperti itu.' Batin donghae frustasi. Tiba-tiba suasana kamar donghae menjadi hening. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Hyukkie yang semakin tak nyaman akhirnya memutuskan untuk berdiri.
"Um, aku pamit kembali ke toko saja. Lagi pula aku sudah mengantarkan pesanan Heechul hyung. Aku pamit dulu donghae-ah. Anneyeong." Ujar hyukkie sambil membungkukan badan dan bergegas melangkah. Namun, tangan donghae menggenggam lenganya hingga membuatnya berhenti.
"Um, bisa kau temani aku hari ini? Aku sedang membutuhkan seseorang untuk berbicara dan menemaniku. Nanti aku akan bilang pada Heechul hyung kalau kau tak bisa kembali ke toko." Kata donghae sambil menatap sendu manik kelam milik hyukkie. Sedangkan hyukkie hanya bisa mengangguk dan menundukkan kepala karna tak kuasa menatap mata sendu milik namja tampan di hadapannya itu.
"Gomawo. Duduklah, temani aku makan." Kata donghae sambil tersenyum. Lalu ia meraih semangkuk bubur yang berada di nampan yang tadi di bawakan hyukkie untuknya. Mulanya suasana kembali menjadi hening. Namun, donghae berusaha menghidupkan suasana dengan menggoda namja manis itu hinge membuatnya kesal dan marah-marah. Dan diam-diam donghae menyukai wajah hyukkie yang sedang marah, karna hal itu menurutnya terlihat – Imut. Donghae sadar perlahan namun pasti, semua tabiat buruknya perlahan mulai berubah karna kehadiran namja manis itu.
Suasana kamar yang mulanya hening kini berubah menjadi penuh canda tawa bahkan tak jarang terdengar omelan dari hyukkie yang terus menerus di goda oleh donghae. Hyukkie tak menyangkal bahwa dirinya mulai terpikat dengan sifat donghae yang ternyata memiliki sifat Childish yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Begitupun dengan donghae sendiri. Ia mengakui bahwa pesona hyukkie telah membuatnya tenggelam dalam perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang membuatnya merasa tenang dan nyaman ketika berada di samping namja manis itu. Sebuah perasaan yang biasa disebut dengan –Cinta.
.
.
SKIP TIME
.
3 bulan semenjak hari itu, hubungan donghae dan hyukkie menjadi semakin dekat. Donghae sering datang ke tempat hyungnya, bukan untuk bertemu hyungnya. Melainkan untuk berjumpa dengan namja manis yang telah memikat hatinya. Ia tahu, mungkin hal ini salah – mengingat hyukkie telah memiliki Namjachingu. Namun, donghae tak bisa membendung perasaan yang tumbuh di hatinya. Walau hingga saat ini ia masih belum mengutarakan isi hatinya pada hyukkie.
Ya, donghae tak lagi memperdulikan status hyukkie yang merupakan Namja. Yang ia tahu, ia terpikat dengan pesona dan pribadi hyukkie yang sangat menyenangkan dan membuatnya merasa nyaman. Donghae tahu, bahwa dirinya telah banyak berubah. Dan itu semua karna hyukkie. Dia jadi lebih menghargai seseorang dan perlahan merubah kebiasaan buruknya. Walau memang kadang sifat dingin nan datar miliknya muncul. Namun, hal itu tak berlaku jika ia sedang di dekat namja manis bernama Lee Hyukjae.
Donghae tak lagi berkata dingin dan memakai ekspresi datarnya pada orang-orang terdekatnya. Seperti saat ini, ia sedang berada di toko tempat hyukkie bekerja – toko milik kakak iparnya.
"Yah, hae. Apa kau tak kembali ke kantor?" tanya sungmin pada donghae yang sedang membantu hyukkie menyusun pot-pot tanaman hias.
"Ah, ani. Aku malas hyung. Harus berurusan dengan tumpukan berkas di ruangan menyebalkan itu." Kata donghae sembari menyeka keringat di pelipisnya.
"Hah? Sejak kapan kau benci hal-hal yang bertahun-tahun menjadi makanan mu itu?" ujar sungmin lagi.
"Entahlah" ujar donghae – 'mungkin semenjak mengenal hyukkie' sambung donghae dalam hati sembari menatap hyukkie yang sedang asyik merangkai beberapa Phylanthus alternifoliaditangannya.
Sungmin yang bingung segera mengikuti arah pandang donghae – kemudian tersenyum jail saat mengetahui objek yang tengah donghae pandangi.
"Ooh, sejak kau kenal Namja manis bernama Lee Hyukjae ya, hae?" tanya sungmin sambil memasang seringai Evil milik sang kekasih – Kyuhyun.
"Iya hyung. Sejak aku mengenal, . . Tunggu dulu. Kau bicara apa sih hyung?" kata donghae salah tingkah. Sedangkan hyukkie yang mendengarkan pembicaraan itu langsung Berblushing ria sambil menundukkan kepalanya.
"Aish, hyung. Sudahlah kau bicara apaan sih!" kata hyukkie kesal + malu sambil mempoutkan bibirnya lucu.
"Ah, hyukkie chagi. Aku benar kok. Tuh lihat, muka donghae sudah memerah bak kepiting rebus." Kata sungmin sambil terkekeh melihat wajah donghae yang memerah.
"Yah, hyung.! Berhentilah menggoda ku.!" Ujar donghae kesal – dengan muka yang merah padam karna malu.
"Arra… Arra… Tapi aku benarkan?" goda sungmin (lagi).
Sedangkan hyukkie hanya melihat muka memerah donghae yang di tekuk itu sambil terkekeh pelan. Canda tawa menghiasi ruangan itu. Hingga sebuah mobil sport hitam berhenti di depan toko bunga itu. Seorang namja tampan bertubuh tinggi keluar dari mobil itu dan bergegas memasuki Flower Shop yang sebentar lagi akan tutup itu.
"Anneyeong Yeoreobun..!" sapa namja itu – mungkin lebih mirip dengan teriakan.
Semua orang yang ada diruangan itu langsung mengalihkan pandangannya pada namja yang baru saja masuk ke dalam toko itu. Sesosok namja yang sudah sangat mereka kenal dengan tingkahnya yang evil, seorang kekasih dari sungmin yang sangat suka berselingkuh – dengan PSP-nya dimanapun dan kapanpun.
"Yah, Kyu tak usa teriak-teriak seperti itu..! Kau ingin membuat kami semua tuli, eoh?" kata donghae kesal.
"Mian hyung. Aku kan hanya terlalu exaited untuk bertemu Minnie hyung." Kata kyuhyun sambil menggembungkan pipinya kesal – namun terlihat aneh bagi semua orang yang ada disana.
"Yah, Kyu. Jangan bersifat seperti itu. Kau membuat ku mual, tahu?" sindir donghae.
"Kau itu menyebalkan hyung. Eh, tunggu dulu. Wajah mu kenapa memerah seperti Ikan rebus begitu, hyung?" kata kyuhyun bingung.
"Yah, tidak sopan.!" Ujar donghae kesal sambil menjitak sayang kepala kyuhyun.
"Ish, appo hyung. Aku kan hanya bertanya. Minnie hyung . . ." kata kyuhyun sembari merajuk pada sang kekasih.
"Ish, bisanya mengadu pada sungmin hyung. Dasar manja..!" ujar donghae sambil menjulurkan lidahnya – mengejek kyuhyun.
Ya, seperti itu lah suasana Flower Shop itu setiap hari. Selalu ramai dengan berbagai canda dan omelan sesaat sebelum toko bunga itu tutup. Kyuhyun selalu menjemput sungmin – kekasihnya – setiap hari. Bukan pemandangan yang mengagetkan bagi kyuhyun jika ia melihat donghae berada di sana juga. Satu alasan yang ia tahu kenapa namja yang sudah ia anggap sebagai hyungnya itu berada di toko bunga tempat kekasihnya bekerja itu. Pasti karna namja manis rekan kerja sang kekasih. Siapa lagi kalau bukan Hyukkie hyung. Begitulah pikir kyuhyun.
Hari sudah mulai sore, bahkan sang mentari pun sepertinya telah lelah hingga kilau sinarnya berubah kejinggaan menyambut datangnya remang cahaya sang bulan. Toko bunga milik Heechul itupun mulai menunjukkan aktivitas penutupan toko.
"Hyung, aku pamit pulang dulu, ne?" ujar sungmin pada heechul yang tengah meletakkan beberapa lembar kertas di meja kasir.
"Ne, kau ke apaterment kyu?" tanya heechul sangsi – ketika melihat kyuhyun tengah menyeringai aneh.
"ah, ne. Kyu bilang dia butuh sedikit bantuan untuk mengerjakan beberapa tugas kampusnya. Memang kenapa hyung?" tanya sungmin polos.
"Ish, itu hanya akal bulusnya. Kau hati-hati diterkam sama dia, ne?" goda Heechul pada sungmin.
"Aish, hyung bicara apa sih. Aku pulang dulu ne. Hyukkie, hyung pulang dulu, ne. Anneyeong." Ujar sungmin sembari membungkukkan badannya lalu melangkah menuju ke dalam mobil kyu.
"aku pulang dulu ya, hyungdeul. Anneyeong." Ujar kyuhyun lalu masuk kedalam mobilnya.
Sepeninggal sungmin dan kyuhyun, tinggal 3 orang di toko bunga itu yang sedang menata beberapa barang dalam toko. Entah mengapa, heechul selalu merasa bahwa donghae selalu mencuri-curi pandang pada hyukkie di setiap pergerakan yang ia lakukan. Begitu pula dengan hyukkie. Hal ini tentu saja membuat heechul tersenyum geli melihat kedua namdongsaengnya itu.
"Hyung, kau kenapa? Kenapa senyum-senyum sendiri seperti orang gila saja?" ujar donghae dengan wajah tanpa dosanya.
"Yah..! Tidak sopan. Aku hanya berpikir kalau dilihat-lihat kalian ini sangat serasi loh." Ujar heechul sambil menyeringai penuh arti.
"Aish, kau ini kenapa sih, hyung. Bicara yang aneh-aneh." Ujar hyukkie dengan wajah yang tengah berblushing ria – jangan lupakan dengan bibirnya yang mempout sempurna.
"Aigo, Neomu Kyeopta. Lihat hae, dia benar-benar manis kan jika seperti itu." Ujar heechul pada donghae.
"Ne hyung. . ." kata donghae menimpali dengan senyum menawan menghiasi bibir tipisnya.
"Yah..! Kalian berdua. Berhenti menggoda ku.!" Pekik hyukkie kesal sembari berjalan mengambil barang-barangnya dengan langkah yang dihentak-hentakkan – seperti anak kecil yang tengah ngambek. Sedangkan heechul dan donghae memandangnya sambil terkekeh pelan.
"Hyung, aku pulang dulu ne." ujar hyukkie pada heechul yang tengah berbicara dengan donghae.
"Ne. Um hae, kau mengantar hyukkie pulang kan?" tanya heechul ragu.
"Ne hyung, waeyo?" tanya donghae bingung.
"Ani. Aku pikir ia akan pulang sendiri." Ujar heechul sembari tersenyum.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya hyung. Sampaikan salam ku pada Hankyung dan Yesung hyung juga Wookie ketika mereka pulang, ne hyung." Ujar donghae lembut.
"Ah, ne. Akan ku sampaikan nanti. Kau tak ingin menunggu mereka dan makan malam disini?" tawar heechul.
"Ani hyung. Aku ada sedikit urusan nanti malam." Kata donghae lembut.
"Oh, baiklah. Gomawo sudah mau mengantarkan hyukkie pulang. Hati-hati dijalan, ne." ujar heechul sambil menantarkan donghae dan hyukkie keluar dari tokonya.
"Ne, hyung. Anneyeong." Ucap hyukkie menimpali sembari melambaikan tangannya dari balik kaca mobil donghae.
Heechul hanya bisa melambaikan tangannya sambil tersenyum melihat kelakuan polos dari namja yang sudah ia anggap sebagai dongsaengnya itu. Namun tak lama setelah mobil adik iparnya itu menjauh, sebuah tatapan sendu yang sarat akan kekhawatiran terlukis di wajah namja cantik itu.
"Apakah takdir akan mengijinkan kalian bersatu?" tanya heechul miris.
Ia hanya bisa mendo'akan kebahagiaan dua orang yang telah ia sayangi itu. Walau bagaimanapun ia dan suaminya – hankyung – masih gelisah akan takdir dua orang yang mereka sayangi itu. Bagaimana pun heechul tak kan lupa, jika hyukkie telah memiliki Siwon – Namjachingu nya.
.
.
Hawa musim hujan yang mulai terasa di kota Seoul, membuat siapa saja enggan untuk keluar rumah. Padahal jam masi menunjukkan pukul 6, namun keadaan jalanan sudah mulai lenggang. Saat ini di dalam sebuah mobil mewah terlihat sepasang namja yang tengah menempuh perjalanan pulang dengan di temani lagu One Love yang melantun merdu di dalam mobil bewarna putih itu. Suasana yang hening berkesan romantic, hingga . .
Krruyyuk. . .
Suara perut keroncongan yang bersumber dari namja manis itu mengintrupsi donghae untuk tersenyum geli sambil memandang namja manis yang duduk disebelahnya.
"Kau lapar?" tanya donghae sambil tersenyum geli.
"Hehehe. Hu'um, mianhe." Ujar hyukkie – dengan Gummy smile yang menawannya.
"Kau tadi tak makan siang?" tanya donghae khawatir.
"Ani. Kan kau dan sungmin hyung menghabiskan bekal ku tadi." Ujar hyukkie polos.
"Aigo, jadi tadi itu kau belum makan? Kenapa kau memperbolehkan aku memakannya?" Ujar donghae sedikit frustasi dengan kepolosan namja disebelahnya itu.
"Aku lihat kau bekerja keras membantu ku dan sungmin hyung untuk menata toko. Jadi ku pikir kau pasti lapar. Ya, sudah aku tak protes waktu kau makan bekal ku." Ujar hyukkie sambil menundukkan kepalanya.
'Aigo, kau ini polos sekali sih hyukkie. Kalau kau belum makan, kenapa harus kau berikan bekal mu pada ku tadi.' Batin donghae frustasi.
"Baiklah. Sekarang kau ingin makan apa? Biar aku traktir." Kata donghae bersemangat.
"Ah, ani hae. Aku tak ingin merepotkan mu. Kan kau tadi bilang kalau akan ada urusan malam ini. Jadi tidak usa." Ujar hyukkie berkelit.
"Aku bilang, kau mau makan apa?" ujar donghae sambil mengubah nada bicaranya menjadi datar dan dingin – karna donghae tahu hyukkie takut ketika ia mulai bicara dengan nada datar dan dingin seperti saat ini.
"Bistik murah dengan mie diatasnya." Ujar hyukkie cepat – karna takut dengan kata-kata donghae yang datar – sambil menundukkan kepalanya takut.
"Baiklah. Kita meluncur ke restaurant sekarang." Ujar donghae riang.
'dasar orang aneh! Tadi bicara datar dan dingin yang menakutkan seperti itu. Sekarang berteriak-teriak ga jelas. Tapi dia lucu juga kalau bertinkah seperti ini' batin hyukkie sambil tersenyum menatap namja tampan disebelahnya.
.
.
"Hmm, makanannya enak kan hae-ah.?" Tanya hyukkie sambil menguyah makanan dalam mulutnya.
"Ne, makan lah dulu. Baru bicara." Ujar donghae sambil tersenyum.
"He'em." Kata hyukkie sembari mengangguk dan meneruskan acara makannya. Sangking laparnya atau apa, hyukkie makan hingga belepotan di bibirnya. Hal itu membuat donghae terkekeh pelan melihat tingkah polos namja dihadapannya itu.
"Kalau makan, yang benar. Jangan belepotan seperti anak TK seperti itu." Ujar donghae sambil membersihkan bibir hyukkie dari sisa-sisa makanan dengan ibu jarinya.
Hal ini tentu saja membuat hyukkie kaget. Dan hasilnya membuahkan Blushing gratis di kedua pipi cubby hyukkie. Hingga namja manis itu menundukkan kepalanya karna merasakan panas di kedua pipinya. ' Neomu kyeopta ' batin donghae senang.
"Go,. Gomawo." Ujar hyukkie malu-malu dan kembali meneruskan makannya – kali ini dengan hati-hati.
Donghae hanya tersenyum dan melanjutkan makannya sambil sesekali melirik hyukkie yang makan dengan wajah yang masih memerah. Entahlah, ada sebuah kesenangan tersendiri saat ia melihat pipi putih dan cubby milik hyukkie itu merona ketika sedang malu ataupun marah karna ia goda.
.
.
Mobil Audi sport bewarna putih itu kini berhenti didepan rumah yang sederhana namun terlihat nyaman ketika dipandang. Kedua penumpangnya masih berdiam diri, tak ada yang memulai untuk berbicara. Sang namja manis masih duduk dengan meremas kedua tangan diatas pangkuannya. Sedangkan sang namja tampan hanya tersenyum melihat namja manis yang sedang bertingkah polos itu.
"Um, hae-ah gomawo untuk makanannya dan sudah mengantarku pulang." Kata hyukkie gugup sambil membungkukkan badannya.
Donghae hanya tersenyum tulus menanggapi ucapan namja manis itu.
"aku pulang dulu, ne. Sekali lagi gomawo." Ujar hyukkie lagi dan beranjak turun dari mobil mewah itu. Namun langkahnya terhenti ketika tangan kekar menggenggam lengannya. Hyukkie hanya memandang donghae bingung seolah bertanya 'Wae?'.
"Bisa aku bicara sesuatu?" tanya donghae ragu.
Hyukkie mengangguk dan tersenyum. Lalu ia membenarkan tempat duduknya hingga kini berhadapan dengan namja tampan dihadapannya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu." Ujar donghae lagi.
"Mau bicara apa, hae-ah?" tanya hyukkie penasaran.
"Em, aku tahu ini salah. Karna mungkin aku tak pantas mengatakan hal ini pada mu. Tapi, ketahui lah aku harus mengakui jika aku mulai merasakannya sejak awal kita bertemu." Kata donghae sambil menatap intens manik kelam milik hyukkie – yang tengah menatapnya polos.
"Kau bicara apa sih, hae? Aku bingung." Ujar hyukkie bingung + penasaran.
"Begini, aku tahu ini salah . . ." kata donghae lagi "- aku tahu kau sudah memiliki namja yang bernama siwon itu. Tapi aku tak bisa memungkiri jika aku merasa nyaman di dekatmu. Aku merasa mendapatkan kehangatan dan kebahagian ku jika sedang berada didekatmu." Ujar donghae lagi. Alhasil, itu membuat hyukkie menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.
"Dengarkan aku, . ." ujar donghae sambil mengangkat dagu hyukkie agar ia bisa menatap onyx hitam yang menentramkan milik namja manis itu. "- aku pikir, aku menyukaimu.. ah,ani. Maksudku aku mencintai mu. Saranghae . ." ujar donghae lembut sambil menatap dalam pada onyx kelam milik hyukkie.
Dapat donghae lihat kini onyx hitam milik hyukkie itu berkaca-kaca karna terlapisi Kristal bening yang siap pecah kapan saja. Tak ayal hal itu membuat donghae panik. Ia merasa bersalah karna telah membuat namja manis itu hampir menangis.
"Ah, jangan menagis. Jebal. Mianhe jika kata-kata ku tadi membuatmu terluka dan sedih. Jeongmal mianhe." Ujar donghae khawatir.
Hyukkie hanya bisa menggeleng sambil menyeka air matanya yang perlahan turun membasahi pipi putihnya.
"Aniyo. Aku hanya terharu mendengar pengakuanmu hae-ah." Ujar hyukkie lirih sembari sesekali menghapus jejak air matanya. Donghae yang bingung denan pernyataan namja manis itu buru-buru untuk bertanya. Namun ucapannya terhenti oleh jari telunjuk yang lentik menempel dibibirnya – mengisyaratkannya untuk tidak berbicara. Satu sentuhan lembut hyukkie yang seketika membuatnya terdiam.
"Ssst… Aku terharu dengan ucapan mu hae. Karna kau mengatakan hal itu pada namja biasa seperti ku. Aku tahu perasaan mu itu tulus. Dan aku tak mungkin menyalahkan dirimu. Aku hanya ingin kau memberikan ku waktu untuk berpikir dan memilih yang terbaik untuk mu, untuk ku dan untuk siwon hyung." Ujar hyukkie lembut. Hal itu sontak membuat donghae terkejut. Ia pikir ia akan langsung ditolak oleh hyukkie. Tapi ternyata, hyukkie memberikan pilihan bijak untuk masalah ini. Harus ia akui, satu hal lagi dari diri namja manis itu yang mampu menawan hatinya – yakni Kebijaksanaannya.
"Aku pulang dulu hae-ah. Terima kasih atas semuanya hari ini." Kata hyukkie sambil memberikan gummy smilenya.
CHU ~
Donghae mengecup lembut dahi hyukkie sebelum namja manis itu turun dari mobilnya. Semburat merah langsung mewarnai pipi cubby milik hyukkie. Mungkin karna malu dengan donghae, hyukkie segera beranjak turun sambil menundukkan wajahnya yang telah memerah sempurna.
"Ne, sama-sama. Aku pamit dulu, ne. Anneyeong." Ujar donghae dengan senyum indah terukir dibibir tipisnya, sambil memacu mobilnya meninggalkan area rumah namja manis tersebut.
Hyukkie hanya menatap sendu berlalunya mobil namja tampan itu. Ia hanya menghela nafas berat ketika mengingat apa yang baru saja ia katakan tadi.
"Semoga tindakan ku tadi benar." Gumam hyukkie lalu berbalik memasuki rumahnya.
.
.
Disebuah Apartement . . .
.
''Mmmph...enghhh…''
Desahan sungmin lolos dari bibirnya ketika kyuhyun mulai menggigit dan menghisap kuat kulit lehernya hingga menimbulkan bekas kemerahan yang teramat jelas. Bekali-kali kyuhyun membuat kissmark di leher putih namjachingunya itu. Dan membuahkan desahan-desahan dari sungmin yang semakin membuat kyuhyun bersemangat untuk 'mengerjai' lebih jauh tubuh kekasihnya yang kini sedang ia tindih.
"Keluarkan desahan mu hyung. Aku sangat menyukai suaramu yang sexy itu." Bisik kyuhyun di telinga sungmin dengan nada yang dibuatnya seseduktif mungkin lalu ia jilat dan kulum telinga milik kekasihnya itu.
''Eengh...kyuh...'' desah sungmin lagi.
Kyuhyun, terus menghisap kuat titik itu, meninggalkan jejak kissmark yang mungkin tak akan hilang untuk beberapa hari ini. Ia mengangkat wajahnya, menatap wajah namja yang masih terengah di bawahnya. Sesekali ia tekan dan cubit Nipple sungmin yang telah mengeras – mengingat kini keadaan sungmin yang sudah topless.
''Malam ini, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang sebenarnya, chagi'' bisik kyuhyun ditelinga sungmin. Kembali diciuminya leher, dagu, mata, hidung dan berakhir dibibir ranum milik sang kekasih. Ia lumat bibir atas dan bawah milik sungmin lalu menjilatnya. Merasa mengerti dengan maksud kyuhyun, sungmin segera membuka mulutnya. Tentu saja hal itu tak di sia-sia kan oleh kyuhyun.
Dimasukkannya lidah miliknya untuk menjelajahi setiap inchi rongga hangat milik kekasihnya itu. Menyesap semua rasa manis yang disuguhkan, mengabsen deret rapi gigi kekasihnya itu hingga mengajak lidah sungmin untuk berbattle touge. Walau sudah pasti yang mendominasi adalah dirinya. Tangan nakalnya pun tak dibiarkan diam. Dipelintir dan dicubitnya secara bergantian nipple sungmin yang mengeras itu.
''Hhhnn...ehnnnn... kyuu… aaahhn''
Ciumannya turun perlahan ke leher putih sungmin. Menjilat dan menghisap bekas kissmark yang telah ia buat tadi. Lalu turun lagi pada dua tonjolan mungil yang sudah mengeras karna perlakuannya sedari tadi. Ia kulum nipple kanan sungmin dengan sangat kuat seperti seorang bayi yang tengah menyusu di ibunya. Ia hisap dan kulum dengan kuat secara bergantian nipple kanan dan kiri milik kekasihnya itu. Alhasil, menimbulkan desahan-desahan erotis dari bibir sungmin yang bengkak karna sesi ciuman liarnya tadi bersama kyuhyun. Yang membuat sesuatu diantara kedua paha kyuhyun menegang. Dengan nakal ia tindih tubuh sungmin yang ada dibawahnya lalu menekan pinggangnya hingga sesuatu dibalik celana jeans mereka yang telah menegang, saling bergesekan yang menimbulkan sensasi yang menggairahkan bagi keduanya.
"Aaaah…Kyuh... nik... mathhh... ouhh…"
Kyuhyun memasang seringainya, dan menghentikan sesaat kegiatannya untuk mengamati sang kekasih. Wajah yang memerah dan terengah-engah dengan pandangan sayu serta bibir merah yang sedikit bengkak. Apalagi ditambah keadaan sungmin yang tengah topless, mengekspos tubuh putihnya yang dipenuhi bekas kissmark yang merah menyala. Sungguh pemandangan yang menggairahkan, eoh?
"Tubuhmu begitu indah, chagi. . ." ujar kyuhyun sambil menjilat bibir bawahnya yang tiba-tiba terasa kering.
Sesaat ketika kyuhyun akan melanjutkan 'pekerjaannya', ponsel sungmin tiba-tiba berbunyi. Hal itu tentu tidak dihiraukan oleh kyuhyun dan kembali mulai melumat bibir menggoda milik sang kekasih.
"Enngh kyu… hennn tikan… ponn..sell ku berbunyi…" ujar sungmin ditengah ciumannya. Dan dengan sangat terpaksa ia menghentikan kegiatanya.
Diraihnya ponsel yang berada di meja nakas itu. Terpampang jelas name call dari sang penelpon di ponsel itu.
-Hyukkie Chagi-
"Yeoboseyo?"
"Um, yeoboseyo hyung. Apa aku mengganggu mu, hyung?"
"Ah, ani. Ada apa chagi?"
"Begini hyung, aku ingin bercerita tentang sesuatu pada mu hyung. Dan aku butuh sedikit nasehat dari mu hyung. Apa aku tak merepotkanmu hyung?"
"ah, tentu saja tidak chagi. Mmmhph… chagi tunggu sebentar, ne. Aku ada perlu sedikit. Jangan kau tutup dulu telponnya, ne?" kata sungmin ditengah desahannya – karna kyuhyun mulai menjilati dan menghisap kuat (lagi) leher sungmin.
"Ah, ne hyung. Aku akan menunggu."
Sungmin membungkam speaker suara pada ponselnya agar hyukkie tak mendengar pembicaraannya dengan kyuhyun.
"Kau, diam atau aku tinggal pulang." Ujar sungmin dengan wajah marahnya namun justru terlihat imut di mata kyuhyun.
"Ck.. arra..arra.." kata kyuhyun kesal lalu berbaring kembali dikasurnya.
"Dasar para Uke.!" Gumam kyuhyun (lagi).
Sungmin tersenyum menang dan kembali melanjutkan pembicaraannya dengan hyukkie.
"Hyukkie, kau masih disana chagi?" tanya sungmin lembut.
"Ne, hyung. Kau memang sedang apa sekarang hyung?"
"Ani. Tidak sedang apa-apa kok chagi. Kau tadi mau bicara apa?" ujar sungmin 'tidak mungkin kan kalau aku bilang sedang bercinta dengan kyuhyun. Bisa-bisa aku dibunuh heechul hyung karna meracuni pikiran polos mu chagi.' Batin sungmin geli sendiri.
"Um, itu hyung. Bagaimana cara mengatakannya ya. Begini hyung, tadi Hae mengatakan sesuatu pada ku hyung."
"Mengatakan apa chagi?" tanya sungmin penasaran.
"Dia bilang, dia mencintaiku hyung."
Satu detik
Lima detik
Sepuluh detik
"MWWO?" pekik sungmin.
"Yah, hyung. Kau ingin membuat ku menderita tuli diusia dini, eoh?" protes hyukkie.
"Ah, mianhe. Hyung terlalu kaget mendengarnya tadi. Tunggu dulu apa kau yakin dia bilang dia mencintaimu?" tanya sungmin ragu.
"Ne, hyung." Ujar hyukkie lirih.
"Dia bilang Saranghae, gittu?" tanya sungmin lagi.
"Yah, hyung. Apa bedanya saranghae dengan aku mencintai mu? Ish, kau ini hyung." Ucap hyukkie dengan nada sebal.
"Mianhe chagi. Lalu,. Lalu kau bilang apa pada donghae?" tanya sungmin antusias
"Itu dia masalahnya hyung. Aku menyuruhnya untuk memberiku waktu agar aku bisa memilih yang terbaik untuknya , untukku dan untuk siwon hyung. Bagaimana ini, hyung?" ujar hyukkie dengan nada bingung namun terdengar begitu lirih – yang bisa ditebak jika ia benar-benar gelisah saat ini.
"Dengar chagi, kau sudah memintanya untuk memberimu waktu. Jadi, kau harus bisa memilih dengan bijak. Ikuti kata hatimu, chagi. Karna hati mu tak akan pernah menyakiti mu. Jangan pernah milih hanya karna pikiranmu yang bicara. Tapi biarkan taimu yang berbicara. Percayalah." Ujar sungmin bijak.
"Ne, hyung. Gomawo. Karna sudah mau menenangkan pikiran ku saat ini. Sekali lagi gomawo ya, hyung. Aku menyayangimu." Ujar hyukkie tulus.
"Aigo, tentu saja chagi. Kau itu sudah kuanggap seperti namdongsaeng ku sendiri. Hyung juga sangat menyayangimu hyukkie chagi." Ujar sungmin senang.
"Ya sudah kalau begitu hyung. Mian sudah mengganggu 'acara' mu dengan kyuhyun. Aku sayang hyung. Anneyeong. Pip. . ." ujar hyukkie yang langsung memutuskan sambungan telponnya – sebelum sungmin menanyainya maksud dari kalimatnya barusan.
' acara dengan kyuhyun? ' batin sungmin bingung.
"Yah, hyukkie..!" pekik sungmin saat sambungan telponya diputuskan sepihak oleh hyukkie.
"Aish, anak itu." Gumam sungmin sambil tersenyum.
Segera ia letakkan kembali ponselnya di meja nakas di sebelah ranjang kyuhyun. Kyuhyun? Ah iya, berbicara dengan hyukkie tadi membuatnya harus menunda 'acaranya' dengan sang kekasih. Ditolehnya sang kekasih yang tengah bebaring memunggungi dirinya saat ini. ' sedang pundung, eoh?' batin sungmin geli. Didekatinya sang kekasih tercintanya itu. Ia yakin kyu masih belum tidur.
"Kyuu . . . bangun. . ." ujar sungmin manja sambil mengoyang-goyangkan tubuh namja yang dicintainya itu.
"Kyuuu, bangunlah.. Aku sudah selesai telponnya. Apa kau marah?" tanya sungmin polos – namun sama sekali tak mendapat tanggapan dari sang pujaan hati.
"Aish, kalau begini aku pulang saja. Kau menyebalkan." Ujar sungmin kesal dan beranjak bangun dari ranjang milik kekasihnya itu. Namun, sebuah tangan mencengkeram kuat lengannya dan membating tubuhnya kembali kekasur dengan tidak Berperi Kekasuran.
"Eenngh.." erang sungmin karna dibanting secara tidak elit. Sedangkan kyuhyun sendiri merangkak naik dan menindih tubuh topless sang kekasih. Sebuah seringai Evil terkembang di bibir kyuhyun.
"Hmm, kau mau kemana chagi? Pulang? Aku pikir itu tak akan bisa kau lakukan." Kata kyuhyun dengan seringai yang membuat sekujur tubuh sungmin merinding.
"Hah? Wae?" tanya sungmin bingung.
"Karna malam ini, akan ku buat kau tidak bisa berjalan selama seminggu. Karna kita akan bercinta dengan belasan atau bahkan puluhan ronde." Ujar kyuhyun dengan nada seduktif tepat di telinga sungmin – yang kemudian ia jilat dan kulum salah satu titik sensitive milik kekasihnya itu.
"Mwo? Apa makss . .. mmmpphh.." kalimat sungmin terhenti oleh ciuman liar kyuhyun yang membuat sungmin tak mampu berkata-kata lagi. Ya, sepertinya mereka akan melakukan You-Know-What-I-Mean sepanjang malam ini. Dan mari kita tinggalkan mereka yang tengah sibuk dengan 'acara' mereka tersebut, dan kembali pada Uri hyukkie kita yang tengah gelisah di rumahnya yang sederhana itu.
Hyukkie sedang sibuk membolak-balikkan tubuhnya diatas tempat tidurnya saat ini. Pikirannya kalut dan berkecamuk membuatnya benar-benar gelisah. Ponselnya bergetar ketika ia masih berguling-guling tak jelas di kasurnya itu. Segera diraihnya ponsel tesebut. Terlihat sebuah name call dilayar ponselnya.
-Siwon Hyung-
Hyukkie terdiam sesaat. Menimang-nimang untuk mengangkat telpon dari namjachingunya tersebut. Ia menghela nafas berat sebelum memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.
"Yeoboseyo?"
"Ah, ne yeoboseyo chagi. Kau sedang apa?" tanya siwon lembut.
"Ah, ani. Hanya sedang berguling-guling dikasur." Jawab hyukkie polos.
.
Hening. . .
.
"Hyung?" tanya hyukkie khawatir.
"Muuahahahha. . ." tawa siwon terdengar menggelegar dari ponsel hyukkie. Dan tentu saja hal itu membuat uri hyukkie kaget setengah mati karna tawa namjachingunya itu.
"Aish, kau kenapa hyung? Dasar aneh..!" ujar hyukkie dengan nada kesal.
"hahaha. . . Mian chagi, hahahha. Aku hanya kaget dengan jawabanmu tadi. Kau benar-benar lucu chagi."ujar siwon ditengah tawanya.
"Yah, kalau hyung telpon hanya untuk menertawaiku lebih baik tak usa telpon. Aku tutup saja. Aku mau tidur." Kata hyukkie dengan nada kesal.
"Yah, chagi. Jangan ditutup dulu. Aku kan masih rindu dengan suara mu." Ujar siwon merajuk.
"Oh, jadi cuma rindu sama suara hyukkie saja ini ceritanya. Ish, kalau begitu hyukkie tidur saja. Hyung menyebalkan.!" Pekik hyukkie sebal.
"Yah, jangan marah dong chagi. Aku kan hanya bercanda. Lagi pula aku tak hanya rindu pada suara mu kok. Aku juga sangat meindukan raga dan aroma manis mu, chagi." Ujar siwon – dengan nada seperti mendesah pada kalimat terakhirnya.
"Yah, hyung mesum..!" pekik hyukkie histeris dengan wajah memerah saat ini.
"Hahahaha… Kau yang sudah membuatku mesum, chagi. Pasti saat ini wajah mu memerah, eoh?" ujar siwon yakin.
"Aish, hyung. Berhenti menggodaku." Ujar hyukkie manja.
"Arra. . Arra . . Um, besok kau libur kerja kan chagi?" tanya siwon mulai serius.
"Um, ne. Kenapa hyung?" tanya hyukkie penasaran.
"Bisa kau kerumah ku? Umma kangen pada mu. Dia sangat ingin bertemu dengan mu chagi." Ujar siwon lembut.
"Oh ya? Baiklah aku akan ke rumah hyung besok." Ujar hyukkie lembut.
"Em, baiklah jam 8 aku jemput, ne.?" tawar siwon.
"Ah, aniyo. Aku kesana sendiri saja. Aku kan sudah besar hyung. Lagi pula kasian dirimu, hyung. Lebih baik kau tunggu aku dirumah. Jam 9 aku akan kesana, arra?" ujar hyukkie – lebih tepatnya berupa perintah.
"Arra.. Arra., Pacar ku sekarang cerewet, ne." goda siwon. Namun, hal itu justru membuat hyukkie terdia.
'Pacar? Ya memang. Aku kan kan kekasihnya.' Batin hyukkie miris.
"Chagi? Kau masih disitu kan?" tanya siwon khawatir.
"Ah, ne hyung. Aku masih mendengarkanmu kok."ujar hyukkie lembut.
"Baikalah, sampai ketemu dirumah ya, chagiya. Cepat tidur. Jangan lupa berdo'a dan memimpikan aku, ne." ujar siwon dengan nada jail.
"Ish, yakin sekali kau kalau aku akan memimpikanmu hyung." Ujar hyukkie sinis.
"Tentu saja. Aku kan pangeran mu yang paling tampan. Ya sudah, cepat istirahat, ne. Anneyeong." Pamit siwon.
"Anneyeong, hyung." Balas hyukkie lembut sembari mematikan sambungan telpon dengan namjachingunya itu.
Hyukkie meletakkan ponselnya diatas meja kecil didekat kasurnya. Lalu ia rebahkan tubuh rampingnya diatas kasur empuknya itu. Pikirannya masih melayang-layang tak tentu arah. Hingga sebuah kehangatan mimpi mendekap hatinya yang tengah dibuat gelisah oleh dua orang namja yang kini menghantui hatinya. Sebuah dekapan hangat alam bawah sadarnya yang membuat lelah diraganya perlahan menguar kelua dari pikirannya.
.
.
Disinilah hyukkie. Disebuah rumah yang mewah namun tetap terlihat asri dengan berbagai tanaman hias yang menghiasi rumah bergaya Negri kincir angin dengan sedikit sentuhan gaya korea yang membuatnya terlihat nyaman untuk dipandang mata. Saat ini namja manis itu tengah berada di ruang makan kediaman keluarga Choi – marga namjachingunya. Sang nyonya pemilik rumah, namja cantik bernama Choi Jaejoong itu diam tak berkedip menatap aura kepolosan yang menguar dari onyx kelam nan bening namja yang sudah dianggapnya sebagai putranya sendiri itu.
Hyukkie yang tengah makan, merasa sedikit gelisah karna terus menerus dipandangi namja cantik yang telah ia anggap seperti ummanya sendiri itu. Merasa tak enak, akhirnya hyukkie angkat bicara.
"Um, Jae umma kenapa memandangi hyukkie seperti itu?" tanya hyukkie ragu.
"Ah, aniyo. Umma hanya membayangkan betapa bahagianya umma jika memiliki anak semanis kamu, hyukkie chagi." Ujar jaejoong riang dengan senyum indah terlukis diwajah cantiknya.
"Umma, jangan seperti itu lah. Lihat, wajah hyukkie jadi merah seperti itu." Ujar siwon sebal – karna terus memandangi hyukkie hingga wajahnya memerah seperti sekarang.
"Aigo, Neomu Kyeopta ya kan, Yoebo?" tanya jaejoong pada sang suami – Choi Yunho – yang berada disampingnya sembari tersenyum senang.
Sedangkan sang suami hanya tersenyum lembut melihat tingkah sang istri yang begitu senang ketika sedang bertemu dengan hyukkie – kekasih putranya itu. Jaejoong terus memandangi hyukkie hingga tak meneruskan makan siangnya karna terlalu asyik memandangi wajah polos milik namjachingu putranya itu. Sesaat kemudian ia teringat akan sesuatu yang dari dulu sangat ingin ia pinta dari namja manis dihadapanya saat ini.
"Um, hyukkie chagi. Umma boleh tanya sesuatu?" tanya jaejoong lembut dengan pandangan yang tak pernah teralih dari manik kelam milik namja manis itu.
"Eh? Mau tanya apa Jae Umma?" tanya hyukkie lembut sembari meraih gelas minumannya.
"Kapan kau akan menikah dengan, Siwonnie?" tanya jaejoong antusias.
"Uhuk . . uhuk . ." hyukkie langsung tersedak air yang tengah ia minum – ketika jaejoong menanyakan pertanyaan tersebut.
"Yah, chagi. Gwenchanayo?" tanya siwon khawatir sembari menepuk-nepuk pelan tengkuk hyukkie.
"Ne, gwenchana hyung." Ujar hyukkie sambil mengelap bibirnya dengan tissue.
"Yah, umma. Kenapa tanya hal seperti itu? Hyukkie jadi tersedak kan umma." Ujar siwon kesal.
"Mianhe, wonnie-ah. Umma kan hanya tanya. Lagi pula kan kalian sudah satu tahun berpacaran. Umma pikir itu waktu yang cukup untuk kalian saling mendekatkan diri. Apa salahnya jika kalian merencanakan pernikahan?" ujar jaejoong dengan polos dan mata yang berbinar-binar.
"Umma mu benar, Siwon-ah. Lagi pula usai kalian sudah patut untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius." Kali ini Yunho yang berbicara dengan bijak.
"Lagi pula umma juga ingin segera menimang cucu dari kalian." Ujar jaejoong dengan wajah cemberut – yang terlihat lucu. Padahal usianya sudah menginjak 47 tahun. Tapi sifat dan wajahnya berbanding terbalik dengan umurnya.
"Beri kami waktu untuk memikirkannya umma, appa. Siwon dan hyukkie butuh waktu untuk memikirkan hal ini." Ujar siwon sambil melirik kearah hyukkie yang tengah menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah. Siwon tahu, hyukkie masih belum siap untuk melangkah kejenjang pernikahan. Bagaiamana pun ia dan hyukkie membutuhkan kesiapan yang matang. Ia butuh waktu untuk bisa mendapatkan hati hyukkie seutuhnya. . .
' Ya, mendapatkan Cinta Hyukkie sepenuhnya '
.
.
Sebuah mobil Laborghini Diablo bewarna merah berhenti di depan rumah milik seorang namja bernama Lee Hyukjae. Sepasang kekasih terlihat keluar dari mobil mewah keluaran terbar itu. Hyukkie bergegas menuju pintu rumahnya sambil mencari kunci rumah yang berada di dalam tas selempangannya. Namun, aktivitasnya terhenti karna sebuah tangan kekar menggenggam posesive lengan rampingnya. Hyukkie hanya memandang bingung siwon yang kini tengah berlutut dihadapannya.
Dapat dilihat hyukkie saat ini, siwon tengah berlutut dihadapannya dengan tangan kanan yang menggenggam erat pergelangan tangan hyukkie sedang kan ditangan kirinya terdapat sebuah kotak kecil bewarna Biru Shapire. Hyukkie hanya bisa menatap dengan pandangan yang seolah berkata 'Wae?' pada siwon.
"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat untuk mu. Tapi ketahuilah hyukkie, aku tak pernah bermain-main dengan apa yang aku rasakan." Ujar siwon lembut sembari mencium lembut tangan hyukkie.
"Kau bicara apa sih, hyung." Ujra hyukkie dengan wajah yang benar-benar memerah karna gugup yang tengah melandanya. Ya, hanya gugup.
"Kau tahu kan kalau aku sangat mencintai mu dari dulu hingga sekarang?" ujar siwon dan hyukkie hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan siwon yang terkesan ambigu itu.
"Aku ingin kau tahu jika aku benar-benar membina hubungan ini dengan serius. Aku tak pernah ingin untuk menjadikan hubungan kita hanya sebagai permainan perasaan sesaat. ." ujar siwon lagi – sedangkan hyukkie hanya memandangnya dengan tatapan bingung dan wajah yang memerah.
"Lee Hyukjae, Would You Marry me?" tanya siwon lembut. Namun, nada lembut siwon tak mampu membuat hyukkie bergeming. Ia masih membatu di tempat dengan Ekspresi yang benar-benar shock.
'Menikah?'
'Tuhan, What Should I do now?'
.
.
To Be Continue . . .
.
.
Chap 4 Update. . .
buat yg masih berminat author ucapin makasi bget. .
silahkan Review u/ klanjuttani FF. . .
klo ndag da yg review, dengan snang hati Author bkal hapus nie FF dari predaran. #plak
.
Request alur masih berlaku kogh. .
silahkan lihat ktentuannya di Chapter 2.
author males ketik ulang #plak
.
Jangan lupa review klo uda selesai baca.
Review menentukan klanjutan FF yg anda baca.
Gomawo
