Title : Love Never Wrong
Author : Meyla Rahma
Rated : M (Jaga-jaga buat Content Dewasa)
Pairing : HaeHyuk {Mungkin bisa nambah, tapi Main Pair tetep HaeHyuk }
Genre : Romance
WARNING…!
YAOI / Boy Loves / Boy X Boy
Miss typo(s)
Mature Content
DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!
And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!
DON'T LIKE, DON'T READ..!
JUST CLICK [X] {close} OKE
Happy Reading. . .
.
.
"Ooouh… Hanniiee… aahh…ahh…" Heechul terus mengerang seiring hentakan Hankyung yang makin cepat dan bertenaga. Bisa dirasakannya juniornya yang kembali menegang menggesek-gesek perut sang suami. Hankyung terus menggerakkan pinggulnya, terus meningkatkan kecepatannya. "Ouhh Hannie!" Sontak Heechul melengkungkan tubuhnya ketika sweet spot-nya tersentuh oleh junior Hankyung. Melihat itu Hankyung semakin meningkatkan kecepatannya dan terus menerus menusuk titik yang sama.
"Aaah! Aaah! Ahh! A-aku… h-hampir. . Sampp . . Aaahh.." Heechul menggeram nikmat ketika merasakan orgasmenya hampir tiba. Desahan Heecul terlepas begitu saja ketika akhirnya juniornya kembali menyemprotkan cairan cintanya entah untuk yang keberapa kalinya. Menyebabkan perutnya dan perut sang suami basah karna cairannya. Hankyung menghentikan aksinya sejenak, membiarkan Heechul menikmati saat setelah orgasmenya. "Kau begitu Indah, Chullie." Ujar Hankyung – yang tengah menatap sang Istri. Heechul yang baru saja berorgasme semakin berblushing mendengar penuturan sang suami.
Heechul hanya bisa pasrah ketika sang suami kembali meciumnya dengan sedikit brutal. Membuat bibirnya yang sedikit bengkak semakin terlihat memerah dan bengkak. tak hanya itu, Hankyung mulai kembali menggerakkan pinggulnya. Membuat junior yang ada di hole sang istri semakin melesak kedalam. Mata Hankyung tak hentinya menatap namja cantik yang kini ada dibawahnya. Mata terpejam erat, mulut sedikit terbuka dengan bibir yang merah bengkak dan jangan lupakan cairan putih pekat yang menghiasi perutnya – cairan cinta sang istri. Siapa yang tak akan tergoda dengan pemandangan indah ini, eoh?
"Ahh! Ahh! Ahh!" Heechul terus mendesah, menyuarakan kenikmatan yang ia dapatkan dari suaminya. Tubuhnya semakin basah karna peluh dan sisa-sisa spremanya pasca orgasme tadi. Heechul mengerang kuat ketika merasa orgasmenya akan kembali melandanya. Reflek hal itu membuatnya menyempitkan hole-nya dan meremas kuat junior Hankyung yang berada di dalamnya. Hal ini membuat Hankyung tak kuasa untuk menahan Orgasme yang akan datang.
"Aaah,..Aaah, . . Hann . . A-aku… h-hampir. . Sampp . ." ujar Heechul ketika Orgasmenya hampir datang. Ia tak kuasa menahan semua kenikmatan yang diberikan oleh sang suami.
"Togetherhhhh.. Chulliee. . . ahhhh"
"Hannniee…. Aaakkhh . ."
Cairan cinta mereka keluar bersamaan. Precum hankyung meyeruak masuk kedalam hole sang istri. Sedang cairan Heechul sendiri membasahi perutnya dan perut sang suami. Dapat di rasakan hankyung juniornya di pijat pelan oleh hole heechul karna efek dari Orgasme sang istri.
Hankyung merebahkan tubuhnya di atas tubuh sang istri. Keduanya bernafas bersahutan seolah sedang memperebutkan oksigen. "Saranghae ~" Heechul hanya mengangguk sambil menatap wajah Hankyung.
"Nado saranghae, Hannie ~" ujar Heechul dengan tersenyum simpul.
Hankyung kemudian menggeserkan tubuhnya ke samping Heechul, meski begitu ia sama sekali tidak melepas juniornya dari hole sang istri. Malah ia mendorong pinggulnya supaya juniornya menyeruak masuk lebih dalam sementara tangannya memeluk Heechul supaya mendekat. Begitu dekatnya hingga mereka bisa merasakan terpaan nafas masing-masing.
"Gomawo, sudah mau menjadi istri namja seperti ku." Ujar hankyung romantis – sembari mengecup lembut puncuk kepala sang istri.
"Ish kau ini. Tentu saja karna aku ini mencintai mu. Pabbo hannie ~" ujar Heechul dengan muka memerah yang ia semakin tenggelamkan di dada bidang sang suami.
"Yah, kenapa kau bilang aku Pabbo? Walau aku pabbo, kau kan tetap mencintai namja pabbo ini, eoh?" goda Hankyung pada sang istri – yang ia yakin pasti sedang berblushin ria di dekapannya.
"Aish, berhenti menggodaku hannie~" rengek Heechul sembari memukul pelan dada bidang hankyung.
"Arra. . .Arra. . . Saranghae nae Chullie ~" kata Hankyung lembut.
"Nado. ." ujar Hechul sambil semakin mempererat pelukannya di tubuh sang suami.
Suasana kamar yang hening di tambah keadaan keduanya yang berpelukan tanpa sehelai benangpun yang menutupi membuat keadaan menjadi terasa begitu romantis. Saling memberi kehangatan satu sama lain lewat pelukan yang penuh cinta dari kedua pasang suami istri itu. Tak berapa lama kemudian posel Hankyung yang berada di meja nakas tak jauh dari ranjangnya, berdering. Heechul segera melepas pelukanya dari sang suami dan disambut pandangan kecewa – yang dibuat-buat dari Hankyung.
"Angkat dulu telpon mu, Hannie. Siapa tahu ada yang penting." Ujar Heechul lembut. Sedang Hankyung hanya berdecak karna acara bermesraan dengan sang istri jadi terganggu. Dilihatnya Name Call yang terpampang di layar ponselnya.
-Hae 'Ikan'-
Alisnya sedikit mengeriyit. Pasalnya sang dongsaengnya itu jarang bahkan tak pernah menelponya di tengah malam seperti ini. Perasaan khawatir dan gelisah pun mulai menyergap hati Hankyung. Dengan segera ia tekan tombol jawab.
"Yoboseyo?"
"Hyung . ."
"Hae. .! Kau kenapa?" tanya Hankyung khawatir – setelah mendengar suara sang dongsaeng yang serak parau. 'apa yang terjadi dengannya?' batin Hankyung khawatir. Sedang sang istri memandangnya dengan pandangan bingung dan juga khawatir.
"Aku mencintainya, Hyung . . Aku sangat mencintainya . . . Akku . .BRAAKK . . Tut . .tut . .tut"
Tiba-tiba sambungan telpon terputus setelah terdengar suara benda jatuh. Hati Hankyung semakin tak karuan. Khawatir dan takut perlahan merambati hatinya. Sekilas ia menatap kearah sang istri yang tengah menatapnya dengan tatapan yang seolah bertanya 'Wae?'.
"Aku harus kerumah Hae sekarang, Chagi." Ujar Hankyung sembari turun dari ranjangnya dan berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian.
"Hae kenapa, Han?" tanya Heechul bingung.
"Aku tak tahu, Chullie-ah. Yang pasti dia sedang tidak baik-baik saja sekarang." Ujar Hankyung pelan.
"Aku Ikut. .!" ujar Heechul.
"Ani, kau istirahatlah dirumah. Kau pasti takkan bisa berjalan dengan benar. Biar aku pergi dengan Yesung." Ujar Hankyung bijak.
"Ish, itu kan juga karna mu 'bermain' terlalu kasar..!" ujar Heechul sambil mempoutkan bibirnya kesal.
"Sudahlah, Chullie. Ini demi kebaikkanmu. Istirahatlah sekarang. Biar aku mengajak Yesung kesana." Kata Hankyung sembari mengambil sebuah mantel yang cukup tebal.
"Aku pergi dulu, ne. Tidurlah sekarang." Ujar Hankyung sambil mengecup lembut bibir Cherry milik sang istri.
"Hati-hati dijalan. Semoga Hae baik-baik saja." Ujar Heechul dengan senyum manis – sembari menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut. Sedang Hankyung hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan sebagai balasan.
'Ya, semoga ia baik-baik saja.' Batin Hankyung.
.
.
Sebuah mobil Ferarri F430 berhenti dengan kasar di sebuah rumah mewah bergaya Eropa milik seorang Predir sebuah Perusahaan terkenal – Aiden Company. Beberapa saat kemudian terlihat 2 orang namja tampan keluar dari mobil mewah tersebut. Namja yang keluar dari kursi kemudi terlihat berlari masuk ke dalam rumah megah itu. Sedang namja yang lain mengikutinya dari belakang.
Hankyung terlihat berlari masuk kedalam rumah sang adik. Di lantai dasar tak di temui kejanggalan hingga akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju lantai 2 rumah sang adik. Matanya mengedar mencari sosok dongsaeng yang membuat hatinya gelisah seperti saat ini. Pandangannya kini teralih pada beberapa maid yang tengah mondar-mandir di depan sebuah kamar. Segera ia hampiri maid-maid itu.
"Kenapa kalian berada di depan kamar ini?" tanya Hankyung langsung. Sedang Yesung berada di belakang sang Hyung dengan memandang pandangan bingung yang tertuju pada maid-maid yang diajak berbicara oleh hyungnya.
"Ah, mian. Apa anda berdua hyung dari Tuan Donghae?" Tanya salah satu maid itu.
"Ne, kami hyungnya Donghae. Dimana dia sekarang?" tanya Hankyung tanpa bisa menyembunyikan nada cemasnya.
"Beliau ada didalam sejak kemarin malam. Tuan Donghae sama sekali tak keluar dari kamarnya. Pintunya di kunci dari dalam. Itu membuat kami khawatir. Apalagi beberapa waktu lalu terdengar suara aneh dari dalam kamarnya. Kami berusaha untuk masuk, tapi beliau berteriak agar kami tidak ikut campur. Kami jadi semakin khawatir." Ujar maid itu cemas.
Tanpa pikir panjang Hankyung mendobrak pintu kamar donsaengnya itu. Sekali dobrak ia tak berhasil. Akhirnya ia dan dibantu Yesung mencoba mendobrak pintu kamar itu.
BRAKK
Pintu terbuka dengan paksa dan menampilkan keadaan kamar yang gelap gulita. Hankyung mencari saklar lampu dan menghidupkannya. Saat cahaya menyeruak masuk, terlihatlah keadaan kamar itu yang sesungguhnya. Mata Hankyung dan Yesung terbelalak tatkala mereka melihat kondisi ruang kamar sang adik yang hancur berantakan. Kaca-kaca lemari yang pecah berserakan. Beberapa figura dan lukisan dinding yang juga bernasib sama dengan kaca lemari itu tersebar di atas ranjang king size yang penuh bercak-bercak merah – yang di yakini Hankyung dan Yesung jika itu adalah bercak darah.
Mata Hankyung menelusuri ruang kamar yang tak bisa dibilang kecil itu. Pandangannya terhenti pada piano bewarna putih yang berdiri kokoh di sudut kamar. Namun, bukan keindahan bentuk piano yang dipesan khusus dari Italy itulah yang menjadi pusat perhatian Hankyung. Tapi sebuah tangan yang tersampir di bagian ujung alat musik kesukaan adiknya itu. Matanya sedikit terbelalak ketika mengetahui jika bagian telapak dari tangan itu mengeluarkan darah hingga menetes ke lantai yang ada dibawahnya.
Hankyung segera mendekati piano itu dan hatinya tereyuh mendapati sang dongsaeng dalam keadaan yang memilukan. Telapak tangan kanan donghae tergores atau bahkan robek mungkin karna menghantam kaca-kaca, figura bahkan lukisan dinding dikamar itu. Diatas piano itu terdapat beberapa botol Liquor yang sudah pasti habis ditenggak oleh dogsaeng kesayangannya itu. Tak hanya itu, mata Donghae terlihat bengkak dengan lingkar hitam kantung matanya. Terlihat jelas jika sang adik pasti habis menangis lebih dari sehari.
"Kenapa kau jadi begini, Hae?" gumam Hankyung miris.
"Tolong kalian bersihkan ranjang nya." Ujar Yesung pada maid-maid yang masih tertegun dengan keadaan tuan mereka.
"Ne." jawab maid-maid itu – kemudian mereka dengan cepat membersihkan pecahan kaca yang ada di atas ranjang dan mengganti Sprei beserta selimutnya. Yesung melangkahkan kakinya mendekati sang Hyung yang masih menatap miris dongsaeng mereka itu.
"Apa yang terjadi padanya, Sung-ie? Kenapa sekarang ia jadi begini?" kata Hankyung pelan – tanpa mengalihkan pandangannya pada Donghae yang tergeletak lemah – mungkin tertidur karna kelelahan.
"Molla hyung." Gumam yesung pelan. Matanya melirik tablet Donghae yang masih tergeletak menyala di sisi tubuh sang adik. Dahinya sedikit mengeriyit ketika melihat sebuah foto terpampang jelas di layar mini PC itu. Dia heran karna di layar itu terlihat seorang Namja manis yang tersenyum menawan dengan pot Verbena laciniata berada ditangannya dan muka yang dihiasi lumpur. Ya, seorang namja manis yang beberapa bulan belakangan ia kenal sebagai salah seorang karyawan kakak Iparnya – Hyukkie.
Otaknya pun bekerja lebih cepat dari biasanya (?). satu kesimpulan yang bisa ia tarik. Donghae jatuh cinta pada Hyukkie. Setidaknya itulah yang ada dipikarannya sekarang. Dengan segera ia menepuk pelan pundak sang Hyung. Hankyung yang merasa dipanggil segera menoleh kearah Yesung yang berdiri disampingnya. Yesung hanya memberi isyarat agar sang hyung melihat kearah tablet PC Donghae yang sedang menyala.
Hankyung yang mengerti segera menolehkan kepalanya kearah yang diinstrupsikan Yesung. Matanya sedikit menyipit mencoba mengenali foto yang terpampang di layar Gadget sang adik. Seketika matanya membulat saat mengenali foto siapa yang ada di layar itu. Namun, sesaat kemudian hatinya kelu menerka sebuah alasan yang membuat Donghae menjadi seperti saat ini. 'Hae jatuh cinta pada Hyukkie.' Itu lah yang ada di pikiran Hankyung saat ini.
.
.
Donghae POV
.
Gelap. Hanya ada gelap. Apa aku sudah mati? Atau bahkan sekarang aku sudah di Neraka? Mungkin sekarang di dunia sudah terpampang sebuah berita yang mengabarkan seorang Pengusaha muda yang tewas karna menenggak beberapa botol Liquor. Ish, pasti tidak elit jika aku mati seperti itu. Hey, aku Lee Donghae. Namja Tampan yang kuat dan jika harus mati setidaknya bukan hanya karna beberapa Liquor. Setidaknya lebih elit sedikit lah.
Sepertinya aku tak sendiri. Tunggu. Aku memang tak sendiri. Kalau mata ku tak salah, namja yang berdiri tak jauh dari ku itu adalah – Hyukkie. Ya, benar..! itu Hyukkie. Perlahan aku mendekat kearah namja yang aku yakini sebagai orang yang aku Cintai itu. Dia berdiri tak jauh dari ku. Dapat kulihat ia terlihat begitu manis dengan pakaian bewarna putih yang tengah ia kenakan.
"Hyukkie ~" sapa ku lembut. Kulihat ia mulai membalikkan badannya agar bisa menatap kearah ku. Aku berharap bisa melihat senyum hangat terikur di bibir manisnya. Tapi, yang kulihat tak seperti yang kuharapkan. Wajahnya yang putih itu saat ini basah, mata beningnya teraliri air mata. Sangat kontras jika saat ini Hyukkie sedang menanggung kepedihan yang teramat dalam yang terbias dari air mukanya saat ini.
"Hyukkie . . Gwenchanayo?" tanya ku lembut namun tak bisa ku bendung nada cemas ku.
"Jangan mendekat Hae. . ." ujarnya lirih sambil terisak. Aku hanya bisa mengeriyitkan dahi bingung.
"Wae?" tanya ku bingung.
"Karna . . Hiks. . Aku membencimu . ." ujarnya tanpa menghentikan aliran air matanya.
"Waeyo Hyukkie? Tapi, aku mencintaimu. Jeongmal Saranghaeyo." Ucapku tak mengerti dan mencoba meyakinkan dirinya.
"Aniyo, Hae. Lupakan aku. Aku tak bisa. Karna . . Hiks" ia menunduk berusaha menghidari tatapanku. Namun kemudian ia kembali mengangkat wajahnya dan berujar " – Karna aku membenci mu Hae. . . Aku Membencimu.."
CTAR. . .
Ucapannya serasa seperti pedang yang menyayat hati. Kenapa ia berkata seperti itu? Tak tahukah ia jika aku sangat mencintainya. Tak tahukah ia jika aku sudah terperangkap dalam keindahan Black Hole di matanya. Belum sempat aku bertanya mengapa, sosoknya perlahan menjauhi ku.
"Hyukkie . .! Jangan tinggalkan aku . .! Aku sangat mencintaimu. . ! Kumohon jangan pergi . .!" teriak ku saat sosoknya tak lagi terjangkau oleh ku walau telah ku kejar.
"Lupakan aku Hae. . Aku membencimu . . Aku membencimu . ." ujarnya seraya perlahan menghilang dari pandangan.
"Kumohon jangan pergi Hyukkie. . ! Jebal. .!" teriak ku hingga tak terasa air mataku mengalir dengan deras.
"Hyukkie . . .!"
.
End Donghae POV
.
.
"HYUKKIE. . !"
Teriakan Donghae menggema di dalam kamar tidurnya. Tentu saja hal itu membuat Hankyung dan Yesung yang tengah terlelap di sofa terbangun. Donghae hanya bisa menatap lurus dengan padangan yang kosong. Bahkan ia tak menyadari jika kedua hyungnya berada di dalam kamarnya dan tengah menatapi dirinya. Jiwanya seolah melayang dengan pikiran yang hanya terisi satu hal. Hyukkie.
"Hae ~ kau kenapa?" tanya Yesung khawatir seraya mendekati dongsaengnya itu yang tengah terduduk dalam diam diatas ranjang King sizenya.
Donghae masih saja termenung dalam diamnya. Yesung berdiri dan memandang Hankyung yang tengah duduk ditepi ranjang sang adik dengan tatapan bingung. Demikian dengan Hankyung. Merasa tak mendapat respon dari dongsaengnya, Hankyung pun menepuk pelan pundak sang adik termudanya itu.
"Hae ~ Kau baik-baik saja?" tanya Hankyung lembut.
Mungkin sadar karna tepukan sang hyung, akhirnya Donghae menolehkan wajahnya kearah kedua hyungnya tersebut. Saat melihat air wajah kedua hyungnya yang sarat akan kekhawatiran, Donghae memutuskan untuk tersenyum. ia tak mau kedua hyungnya itu khawatir tentang keadaannya.
"Ne, aku baik-baik saja hyung." Kata Donghae lirih.
Hankyung dan Yesung hanya bisa mengeriyitkan dahi mereka bingung. 'Tadi teriak-teriak, dan sekarang dia bilang tidak apa-apa?' batin mereka berdua. Perlahan Hankyung yang duduk di tepi kasur membenarkan duduknya hingga menghadap Donghae. Sedang Hae hanya mengangkat alisnya bingung.
"Kau tadi mimpi buruk?" tanya Hankyung menyelidik.
"Aaah. . Nde, begitulah hyung." Kata Donghae sambil menghela nafas berat.
"Kalau kau mau, ceritalah pada kami. Siapa tahu itu akan membuat mu sedikit lebih lega." Kata Hankyung bijak.
"Han hyung benar, Hae. Ceritalah pada kami." Timpal Yesung.
Donghae hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia terlihat mempertimbangkan penawaran dari kedua hyungnya itu. Ia ingin menceritakan tentang mimpi buruknya semalam. Namun, disatu sisi ia tak ingin membuat kedua hyunghya terbebani karna masalahnya. Bagaimanapun ini kesalahannya. Ia tak ingin melibatkan hyung-hyungnya kedalam masalah pribadinya.
"Aniyo, lagi pula itu tak penting, hyung. Yang penting aku sekarang baik-baik saja kan hyung?" ujar Donghae dengan senyum dibibir tipisnya – senyum yang terlihat menyakitkan dimata kedua hyungnya.
"Arraseo, kalau itu mau mu. Oh ya, kenapa kau menghancurkan kamar mu? Apa kau sedang ada masalah?" tanya Yesung dengan menekankan pada kata 'menghancurkan'.
"Ah itu, biasa lah hyung. Masalah pekerjaan sedikit membuatku hilang kendali. Maklumi lah adik mu yang tampan ini hyung." Ujar Donghae sembari menunjukkan Puppy eyesnya. Hankyung dan Yesung hanya bisa menghela nafas berat. Mereka berusaha mengerti sifat Donghae. Mereka tahu Donghae takkan mau menceritakan masalah Pribadinya sampai dia merasa benar-benar menyerah.
"Aish, tampan kata mu? Ya, kau yang paling tampan selautan. Kau kan Pangeran Ikan." Goda Hankyung dengan memberi jitakan 'sayang' ke kepala dongsaenya itu.
"Yah, appo hyung. Kau itu, kalau mau memujiku tampan bilang saja hyung tak usah berkelit." Ujar Donghae dengan nada kesal. Kedua hyungnya hanya bisa tertawa melihat tingkah Donghae yang kekanakan itu. Ia memang suka bersifat datar nan dingin di luar. Tapi, jika sudah berhadapan dengan orang-orang terdekat apalagi keluarga, entah kemana perginya sifat buruknya itu.
"Yah, hyung. Jangan tertawakan aku terus. Kalian menyebalkan sekali.!" Ujar Donghae Kesal karna terus-terusan ditertawai kedua hyungnya.
"Arra. . Arra. . Mian. Eh, kau tak pergi kekantor, Hae?" kata Yesung menyudahi gelak tawa mereka.
"Dia kan Boss Besar, Sung-ie. Tak pergi ke kantor 1 bulan pun tak masalah buat dia." Ujar Hankyung dengan nada menggoda sang adik.
"Ish, kau sok tahu hyung. Sebenarnya aku ada meeting di Jepang hari ini." Ujar Donghae santai.
"Aigo, lalu kenapa kau masih disini? Apa klient mu tak menunggu?" ujar Yesung khawatir.
"Mana mungkin aku menemuinya dalam keadaan seperti ini, hyung? Kau ini pabbo atau apa sih.!" Kata Donghae kesal.
"Yah, yang sopan pada hyung mu.! Kau ini…!" ujar Hankyung sambil menjitak (lagi) kepala sang adik. Sedang Yesung hanya bisa tersenyum bangga karna keinginannya –menjitak donghae – sudah terlampiaskan lewat hyungnya.
"Ish, kau ini hobby sekali menjitak kepala ku sih, hyung.! Eh ya, dimana ponsel ku?" tanya Donghae sembari mencari keberadaan ponselnya. Matanya tertuju pada gadget yang tergeletak diatas meja nakas disamping ranjangnya. Setelahnya ia mengambil ponsel tersebut, ia mencari sebuah contact lalu memanggil nomor pada contact tersebut. Sedang Hankyung dan Yesung hanya memandang bingung kelakuan sang Dongsaeng.
Sepertinya pengeras suara pada Gadget Donghae dalam mode : on, hingga Hankyung dan Yesung bisa mendengar sahutan dari Seseorang diseberang sana.
"Yoboseyo?"
"Ne, Yoboseyo. Kau ada dimana?"
"Aku sedang ada di Jepang. Beberapa urusan harus diselesaikan disini. Ada apa memangnya, Hyung?" ujar seseorang disana. 'Hyung? Siapa orang yang sedang di telpon Donghae?' batin Hankyung dan Yesung.
"Oh, kebetulan kalau begitu. Aku punya tugas untuk mu." Kata Donghae singkat.
"Tugas? Yah, hyung.! Aku ke Jepang bukan untuk kerja. Kau hanya memberiku libur 2 hari. Sekarang kau malah seenaknya merampas jatah liburan ku.!" Ujar namja itu kesal.
"Oh, begitu. Tapi, aku menggaji mu bukan untuk membantah perintah ku, eoh?" ujar Donghae telak.
"Ish, kau ini. Araseo. Kau ingin aku melakukan apa?"
"Kalau begini kan lebih baik. Okelah. Aku ingin kau menggantikan ku untuk menemui klient baru disana. Aku tak bisa kesana sekarang. Jadi aku mau kau yang menyelesaikan meeting itu." Jelas Donghae.
"Ish kau ini, hyung. Memang kenapa kau tak bisa kemari? Jangan bilang kalau . . ."
"Yah. .! Jangan pikir yang macam-macam.! Aku sudah tak seperti itu." Pekik Donghae kesal.
"Um, aku pikir kau 'begitu' hingga tak bisa kemari."
"Yah, yang sopan pada atasan mu..! Kau ini. Meetingnya sekitar jam 2 siang. Alamat tempatnya nanti akan ku kirim ke nomor mu." Jelas Donghae.
"Arra. . Arra. . Segera kirimkan alamatnya pada ku ne, Hyung."
"Ne, akan ku kirim sebentar lagi. Gomawo, ne Snow Prince." Ujar Donghae.
"Nde, gwenchana Fishy Prince."
"yah, jangan mulai..! Ya sudah, anneyeong." Kata Donghae mengakhiri.
"hahaha. . Ne Anneyeong hyung. Pipp ~"
Donghae menhela nafas kemudian tersenyum menatap ponselnya. 'setidaknya satu masalah sudah selesai.' Pikir Donghae. Ia kemudian menoleh kearah kedua hyungnya yang masih setia memandanginya dengan tatapan bingung.
"Wae, hyung?" tanya Donghae pada Hankyung dan Yesung yang menatapnya.
"Aniyo, aku hanya memikirkan sesuatu." Kata Hankyung.
"Memikirkan apa?" tanya Donghae bingung.
"Memikirkan kalau kau ini bisa menyelesaikan masalah dalam hitungan detik, ne. Aku sampai terperangah melihat kau menelpon staff mu dan masalah selesai." Jelas Hankyung.
"Ne, seolah semua masalah mu bisa selesai dalam hitungan detik." Tambah Yesung.
"Aish, kalian ini bisa saja, Hyung. Semua masalah tak pernah aku pikirkan hyung. Toh pada akhirnya akan terselesaikan dalam hitungan waktu." Jelas Donghae '- Tapi mungkin tidak dengan masalah Cinta ku, hyung' tambah Donghae dalam hati. Ia hanya bisa menundukkan kepala setiap teringat mimpi buruknya itu. Mimpi kehilangan orang yang ia Cintai.
Hankyung menatap miris sang adik yang tengah tertunduk lesu. Ia kenal Donghae. Dongsaengnya itu mungkin terlihat kuat dan tangguh saat menghadapi masalah. Tapi, tidak dengan masalah hatinya. Hatinya tak sekuat raga dan ambisinya. Hatinya begitu rapuh. Dan Hankyung selalu merasa miris ketika dongsaeng kesayangannya itu terlihat seperti saat ini. Terlihat begitu berusaha menutupi kerapuhannya agar semua orang tak khawatir padanya.
Hankyung tak pernah memaksa Donghae untuk membagi masalahnya. Karna ia paham, Donghae bukanlah typical orang yang suka membagi masalah pribadinya. Maka dari itu Hankyung lebih memilih untuk diam. Ya, diam dan menunggu sang Dongsaeng lelah dan mau membagi beban hatinya. Karna Hankyung yakin masalahnya kali ini bukan masalah yang biasa. Melainkan, masalah yang timbul karna keegoisan hati hingga menyeretnya dalam Badai Perasaan.
.
.
02.15 pm
Okumi Kudou Caffe. . .
.
Seorang namja tampan bertubuh atletis tengah duduk disalah satu meja dicaffe itu denga ditemani segelas Green Tea. Beberapa kali ia melirik jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Ya, ia sedang menunggu seseorang untuk menyelesaikan urusannya di Negri Sakura tersebut. Tak berapa lama kemudian datang seorang namja – boleh dibilang cantik – berkulit putih bersih berjalan menghampirinya.
"Anneyeong ~ Mian saya sedikit terlambat." Ujar seorang namja yang baru datang itu sembari membungkukkan badannya dihadapan namja atletis yang kini tengah berdiri – menyambutnya.
"Gwenchana. Kebetulan saya belum terlalu lama. Oh ne, Siwon Imnida." Ujar Siwon memperkenalkan diri – sambil mengulurkan tangan.
"Syukurlah kalau begitu. Ah ne, Kim Kibum imnida." Ujar namja cantik itu mengulurkan tangannya sembari tersenyum ramah – membuat Siwon terperangah sejenak.
'Cantik' batin Siwon.
"Mian sebelumnya, Siwon-sshi. Presdir tidak bisa menemui anda hari ini karna ada sedikit urusan. Maka dari itu, saya yang diperintahkan untuk menggantikan tugasnya." Jelas Kibum tanpa menghilangkan senyumnya. Entah kenapa, tidak biasanya Kibum bersikap ramah pada orang yang baru ia kenal. Mungkin charisma Siwon yang membuatnya sedikit melunakkan sifat angkuhnya.
"Nde, gwenchana. Um, bisa kau memanggil ku tak seformal tadi? Aku tak terbiasa dipanggil seformal itu." Jelas Siwon sambil tersenyum lembut. Kibum tertegun menatap namja tampan didepannya. Harus ia akui, Siwon namja yang Sopan dan ramah. Tak seperti kebanyakan namja biasanya.
"Ne, tentu saja. Ah iya, ini ada beberapa berkas yang mungkin perlu anda periksa." Ujar Kibum sambil menyerahkan beberapa lembar map yang berisi berkas.
"Ah, gomawo." Kata Siwon sembari menerima berkas itu dan segera memeriksanya.
"Itu hanya beberapa saja, Siwon-ah. Berkas yang lain mungkin akan diberikan pada mu saat berada di Korea." Jelas Kibum.
Siwon hanya mengangguk dan kembali memeriksa berkas yang ada ditangannya. 'Siwon-ah? Orang yang ramah dan mudah akrab ternyata' batin Siwon sambil tersenyum dan sesekali melirik kearah Kibum yang sedang berkutat dengan isi tasnya.
"Um Siwon-ah, apa kau sudah makan siang?" tanya Kibum tiba-tiba.
Siwon hanya bisa mengeriyitkan dahinya bingung.
"Ani, kebetulan aku belum makan." Jelas Siwon.
"Ah, kalau begitu kita pesan makanan saja. Aku juga belum makan dari tadi pagi. Karna Donghae Hyung tiba-tiba menyuruhku menggantikan tugasnya." Ujar Kibum dengan wajah sedikit kesal.
"Donghae?" tanya Siwon bingung.
"Ah, maksud ku presdir." Ujar Kibum sembari memberikan cengirannya.
"Bukan kah nama Presdir mu itu Aiden Lee? Sesuai nama perusahaannya kan?" tanya Siwon.
"Oh itu, nama aslinya Lee Donghae. Ia hanya memakai nama Aiden untuk beberapa klien yang berasal dari luar Negri. Biasanya mereka susah melafalkan namanya, maka dari itu ia gunakan nama Comapany sebagai namanya untuk mempermudah Interaksi antar pengusaha." Jelas Kibum sambil membuka buku menu yang berada didepannya.
'Donghae? Jangan-jangan ia orang yang waktu itu mengantar Hyukkie pulang ke rumah.' Batin Siwon sendiri.
"Ah Siwon-ah, kau mau pesan apa?" tanya Kibum antusias.
"Oh, ne aku pesan Fettucini dan Lemon Tea saja." Ujar Siwon sembari tersenyum.
"Um, kalau begitu kami pesan Spagetti dan Fettucininya masing-masing satu porsi dan minumnya Lemon Tea dua gelas, noona." Ujar Kibum pada seorang waiters yang entah sejak kapan berdiri dekat meja mereka. Waiters itu hanya mengangguk kemudian pergi dari meja mereka.
"Kibum-ah, boleh aku tanya sesuatu?" ujar Siwon pada Kibum yang kini tengah mengutak-atik ponselnya.
"Ah silahkan, kau mau tanya masalah proposal tadi?" tanya Kibum kemudian.
"Aniyo. Aku hanya ingin bertanya tentang, Presdir mu." Ujar Siwon.
"Presdir? Donghae Hyung?" kata Kibum sambil mengeriyitkan alisnya bingung.
"Nde. Apa dia memiliki kakak ipar seorang Florist?" tanya Siwon karna setahunya Bos tempat Hyukkie bekerja merupakan kakak ipar orang yang mengantar kekasihnya waktu itu – Donghae.
"Um, setahu ku memang benar. Hyung tertuanya menikah dengan namja pemilik sebuah Florist terkenal di Korea. Memang ada apa, Siwon-ah?" tanya Kibum bingung.
"Ah, ani. Hanya aku pikir aku mengenal Presdir mu. Mungkin dia memang orang yang aku kenal." Ujar Siwon sambil tersenyum tipis.
"Oh begitu. Yah, makanannya sudah datang." Kata Kibum riang.
Siwon hanya bisa tersenyum melihat tingkah namja yanhg baru dikenalnya itu. Namja yang berparas cantik dan berkulit seputih salju itu ternyata perlahan mampu memikat hatinya yang notabanenya sudah mempunyai kekasih. Tapi, apakah dia tidak boleh egois sedikit, mengingat Hyukkie masih belum bisa membalas perasaannya. Bagaimana pun ia lelaki normal yang membutuhkan seseorang yang mencintainya untuk dimiliki selamanya.
Sesaat kemudian seorang Waiters Nampak menata makanan diatas meja Siwon dan Kibum. Mata Kibum nampak berbinar melihat makanan itu. Maklum saja ia memang belum makan dari pagi hingga sekarang jam menunjukkan pukul 3 sore.
"Mari makan..!" ujar Kibum semangat. Sedang Siwon hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
"Um kibum-ah, kalau boleh tahu kenapa Presdir tak bisa menemuiku secara langsung?" tanya Siwon disela acara makan sore (?) mereka.
"Oh itu, aku kurang tahu juga. Tapi beberapa bulan belakangan sifatnya sedikit berubah." Ujar Kibum sambil menguyah spagettinya.
"Berubah?" tanya Siwon bingung sembari meraih lemon teanya.
"Hu'um, kapan hari aku pernah datang ke rumahnya. Dan kau tahu Siwon-ah, aku menemukan ruang tamu dan mini bar dirumahnya dalam keadaan hancur berantakan." Kata Kibum dengan menyuapkan spaghetti kemulutnya (lagi).
"Hancur? Bagaimana bisa?" tanya Siwon semakin bingung sampai menghentikan acara makannya – karna terlalu antusias mendengarkan penjelasan namja cantik dihadapannya.
"Aku tak tahu juga bagaimana ia bisa menghancurkan ruang tamu yang sangat luas itu ditambah lagi dengan mini barnya. Sempat aku tanya pada maidnya, katanya Hae hyung mabuk dan menghancurkan ruang tamu. Bahkan mereka tak berani untuk menghentikan aksinya." Jelas Kibum.
"Ah Jinjja? Apa mungkin dia tertekan karna masalah perusahaan? Kan dia seorang pengusaha muda yang sukses. Aku saja sangat kagum padanya." Timpal Siwon sembari memakan lagi fettucininya.
"Um, aku rasa itu tidak mungkin. Setahu ku ia bukan orang yang terlalu memikirkan pekerjaan. Oh, kalau tak salah waktu itu maidnya bilang saat Hae hyung mabuk ia sempat memanggil-manggil nama seseorang. Em, Hyukkie . . ya, Hyukkie." Jelas Kibum.
"Uhuk . . Uhuk. . " tiba-tiba Siwon tersedak makanannya.
"Yah, Gwenchanayo?" tanya Kibum khawatir – sambil menyerahkan minum pada Siwon.
"Gwenchana, Kibum-ah. Gomawo." Kata Siwon sembari mengelap bibirnya dengan tissue.
"Aish, Kau ini Siwon-ah. Aku tahu makanannya memang enak, tapi tak usah terlalu bersemangat seperti itu makannya." Kata Kibum sedikit mengoda Siwon.
"Hehehe . . Mian Kibum-ah. Aku terlalu bersemangat. Ya, sudah mari makan lagi." Ujar Siwon sambil memakan lagi makanannya. Mungkin saat ini Kibum tak melihat bahwa Siwon tengah menguyah fettucini itu dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang-layang pada seseorang yang telah lama mengisi hatinya – Hyukkie.
'Sebenarnya apa hubungan Hyukkie dengan namja bernama Donghae itu?' tanya siwon pada dirinya sendiri.
.
.
Siwon nampak tengah berkutat dengan pikirannya sepulang dari acara pertemuan dengan Relevan bisnisnya. Bahkan selama dipesawat saat kembali ke Korea, ia masih lebih sering diam dan tenggelam dengan pikirannya sendiri. Saat ini Siwon tengah mengendarai Mobilnya yang baru saja ia ambil dari parkir bandara sepulangnya dari Jepang. Jalanan Seoul nampak begitu lenggang mengingat sudah pukul 9 malam.
"Kenapa Donghae menyebut nama Hyukkie saat ia mabuk? Apa mungkin dia mencintai Nae Hyukkie?" gumam Siwon sendiri ditengah aktivitas menyetir mobilnya.
"Aish, itu mungkin saja. Tapi, apa Hyukkie juga mempunyai perasaan yang sama?" tanya Siwon lagi – pada dirinya sendiri.
"Arrggh. . . Kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak seperti ini..!" pekik Siwon frustasi. Laju mobilnya terus berjalan ditengah jalanan yang sepi walau pikirannya tengah kalut ia berusaha untuk tetap berkonsentrasi saat berkendara.
Hingga tanpa ia sadari mobilnya sudah memasuki perkarangan rumah mewahnya. Siwon nampak lunglai keluar dari mobilnya. Bahkan sapaan beberapa maid ia abaikan. Biasanya ia akan menyapa mereka. Namun sepertinya suasana hatinya tengah tidak baik saat ini. Segera ia naik ke lantai dua – tempat kamarnya berada.
Langkahnya nampak terhenti ketika melihat sesosok namja manis tengah tertidur di depan ruang televise yang memang berada dilantai dua rumah mewah tersebut. Perlahan siwon mendekat kearah namja manis yang terlelap itu. Ia mendudukkan dirinya disamping sofa tempat namja manis itu berbaring. Perlahan dibelainya pipi cubby milik namja yang berstatus kekasihnya itu. Seulas senyum terukir dibibir Siwon kala namja manis itu menggeliat karna sentuhannya.
"Kau sudah pulang, wonnie?" tanya jaejoong pada sang anak yang tengah asyik membelai wajah sang kekasih yang terlelap.
"Ah, ne umma. Kenapa ia tidur disini?" tanya Siwon dengan sedikit berbisik takut Hyukkie-nya bangun.
"Nanti umma ceritakan. Sekarang bisakah kau mengangkatnya ke kamar? Kasian dia jika terus tertidur disini." Ujar Jaejoong lembut. Dan Siwon hanya mengangguk sebagai balasan.
Dengan perlahan dan lembut ia mengangkat tubuh ramping Hyukkie hingga membopongnya ala bridal. Dengan pelan ia berjalan menuju kamar yang memang disediakan khusus jika sang kekasih itu menginap dirumahnya. Dengan hati-hati ia baringkan sang pujaan hati diatas ranjang Quen size itu. Setelah itu ia selimuti tubuh ramping hyukkie dengan bedcover dan mengecup lembut dahi sang kekasih.
Siwon melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu dan menuju kearah sang umma yang berdiri di depan pintu sembari tersenyum penuh arti.
"Kemarilah, wonnie." Ujar Jaejoong sambil menyeret tangan anaknya menuju keruang televise.
"Ada apa umma? Eh, iya bagaimana Hyukkie bisa berada disini?" tanya Siwon penasaran.
"Oh itu, beberapa hari lalu umma datang kerumahnya. Pagi-pagi umma datang kesana, takut hyukkie sudah berangkat kerja. Tapi, umma malah menemukan dia sedang tertidur dikamar dengan suhu badan yang tinggi. Akhirnya umma putuskan membawanya kedokter dan memaksanya untuk menginap disini karna umma khawatir kalau terjadi apa-apa dengannya." Jelas Jaejoong.
"Oh begitu, tapi keadaannya sekarang sudah membaik kan umma?" tanya Siwon lagi.
"Gwenchanayo, Wonnie-ah. Demamnya sudah turun sejak pagi tadi. Eh, umma ada berita bahagia buat kamu loh, chagi." Kata Jaejoong riang.
"Berita apa, umma?" tanya Siwon penasaran.
"Kau tahu, chagi. Hyukkie mau menikah dengan mu." Ujar Jaejoong sambil tersenyum.
"Ohh. . ." ujar Siwon.
Hening ~
1 detik
2 detik
5 detik
"JINJJAYO?" pekik Siwon histeris.
"Yah,.! Kau ingin membuat Umma tuli, eoh?" ujar Jaejong kesal.
"Ais, mianhe umma. Aku hanya terlalu exited umma. Tapi, benarkah?" tanya Siwon lagi.
"Ne, kemarin sebelum ia tidur ia bilang kalau ia setuju menikah dengan mu, chagi. Umma kekamar dulu, ne. Kau jangan berbuat yang aneh-aneh malam ini..! Awas kalau kau macam-macam.!" Ujar Jaejoong menakutkan.
"Nde, jangan negative thinking dulu lah umma." Ujar Siwon.
"Bagus lah kalau kau mengerti. Umma tidur dulu, ne." ujar Jaejoong riang. Sedang Siwon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sang umma yang gampang berubah-ubah moodnya.
Namun, ada yang sedikit mengusik pikiran Siwon. Entahlah, mungkin obrolannya bersama Kibum waktu di Jepang tadi membuatnya sedikit resah. Bukan karna tak memercayai kekasihnya. Namun, tak dapat di pungkiri jika saat ini Siwon terbebani dengan keputusan sang kekasih yang seharusnya membuatnya senang tapi tidak dengan kenyataannya sekarang.
'Apa kau yakin untuk menikah dengan ku, Chagi?'
.
.
To Be Continued or End..?
.
.
Chap 6 Up-date. . .
mian kalo lamaan. #plak.
sebenernya Author males buat ngelenjuttin nie FF.
soalnya yang review ndag seberapa. jadi Saiia mikir-mikir buat lanjutt pa gga. -_-"
.
.
sekarang semuanya terserah reader's mau dilajutt pa gga nie FF.
kalo masih ndag seberapa yang review di Chap ini.
dengan sangat terpaksa Author bakal End'in FF nie sampi Chap ini ajj.
.
.
mian kalo persyaratannya mengecewakan.
saiia jadi males ngelanjuttin kalo yang review n comment ndag seberapa.
.
.
mohon untuk dimengerti, ne?
Review Please u/ klanjuttan nie FF. .
-_-"
