Title : Love Never Wrong

Author : Meyla Rahma

Rated : T (untuk chapter ini)

Pairing : HaeHyuk {Mungkin bisa nambah, tapi Main Pair tetep HaeHyuk }

Genre : Romance

WARNING…!

YAOI / Boy Loves / Boy X Boy

Miss typo(s)

Mature Content

DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!

And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!

DON'T LIKE, DON'T READ..!

JUST CLICK [X] {close} OKE

Happy Reading. . .

.

.

Seorang namja bertubuh atletis nan berwajah tampan terlihat tengah mengaduk-aduk minumannya dengan tatapan kosong. Tergambar dengan jelas jika namja yang bernama Choi Siwon itu kini tengah diliputi kegelisahan di dalam hatinya. Padahal apa yang ia harapkan selama ini akan menjadi nyata. Harapan yang sudah lama ia impikan – menikah dengan Hyukkie.

Tapi justru hal itu lah yang membuat Siwon menjadi resah nan gelisah seperti sekarang. Keputusan Hyukkie yang tiba-tiba mau menerima lamarannya terkesan. . aneh. Ia memang mengharapkan Hyukkie menerima lamarannya. Tapi ia tak pernah menyangka akan secepat ini. Belum lagi masalah hubungan Hyukkie dengan namja bernama Donghae yang sempat membuatnya bingung sendiri. Dan hal itu lah yang membuat hati Siwon sedikit – curiga.

Namun, nampaknya kegelisahan hatinya itu bukan merupakan alasan mengapa Siwon berada di Caffe bernuansa Eropa itu. Siwon bukan tipe seseorang yang suka membuang waktunya. Jadi ia berada di caffe itu pasti dengan alasan yang jelas. Ya, sebuah alasan untuk menemui atau lebih tepatnya menunggu seseorang yang mungkin – bisa memberikannya solusi untuk kegudahan hatinya kini.

Beberapa saat kemudian terlihat seorang namja yang bisa dikatakan cantik dengan kulit putih bersih, memasuki Caffe yang cukup mewah itu dengan langkah yang tergesa. Sesaat ia terlihat melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna mencari keberadaan seseorang yang menjadi alasannya datang ke Caffe itu.

Senyum terkembang diwajahnya yang cantik saat melihat sesosok namja bertubuh tegap nan atletis – yang tengah melamun menatap hilir mudik manusia lewat balik kaca Caffe. Segera ia bergegas menghampiri namja itu dan mengambil tempat duduk tepat dihadapannya.

"Mian aku telat. Kau sudah menunggu lama kah?" tanya Kibum dengan nafas yang tersenggal.

"Ani. Aku baru menunggu 47 menit." Ujar Siwon sembari tersenyum lembut.

"Aish, bilang saja kau sudah lama disini. Tak perlu menyindir ku secara tersirat seperti itu." Ujar Kibum kesal sambil meraih gelas Orange jus Siwon dan langsung menenggaknya. Sedangkan Siwon hanya menatap cengo namja berkulit seputih salju itu.

"Wae?" tanya Kibum sambil mengelap bibirnya.

"Ani. Kenapa kau tak pesan saja?" tanya Siwon.

"Terlalu lama jika harus memesan dulu. Wae? Apa kau punya penyakit menular?" tanya Kibum serius.

"Aish, kau ini. Tentu saja tidak lah." Ujar Siwon sinis. Namun setelah itu ia tersenyum lembut mengingat kelakuan Kibum barusan. Satu hal yang harus Siwon catat dalam kamus hidupnya – jangan menilai seseorang dari kelihatannya.

"Eh ya, kenapa kau mengajak ku bertemu ditempat ini? Pasti bukan masalah pekerjaan kan?" tanya Kibum penuh selidik.

Harus Siwon akui namja cantik berkedok Ice Prince itu memiliki otak yang encer dalam analisa situasi.

"Kau pintar juga, Kibummie." Ujar Siwon sambil tersenyum.

"Tentu saja. Sekedar kau tahu besar IQ ku 180, loh." Ujar Kibum bangga. Sedang Siwon hanya tersenyum remeh – tapi dalam hatinya ia sungguh kagum dengan namja berparas cantik itu.

"Okey lah. Lebih baik kita tak usah membahas besar IQ mu. Aku mengajak mu kesini untuk membicara kan sesuatu –" ujar Siwon serius. Sedangkan kibum yang dari tadi manyun sewot mulai menatap serius namja yang tengah berbicara itu.

"- aku ingin kau memberiku solusi untuk masalah ku."

.

.

Flashback

.

"kau yakin dengan keputusan mu, chagi?" tanya siwon pada Hyukkie yang duduk bersandar ranjangnya.

"Ne, hyung. Aku yakin dengan keputusan ku." Ujar hyukkie sambil tersenyum lembut – namun Siwon menangkap sebuah Kepedihan mendalam dari senyum sang kekasih itu.

Siwon merengkuh tubuh rapuh sang kekasih kedalam pelukannya. Memeluknya dengan erat seolah ingin membagi setiap kehangatan yang mereka rasa.

"Saranghae ~" ujar Siwon lembut sambil melepas pelukan mereka. Dan menatap lurus kearah onyx kelam milik namjachingunya yang selalu bisa membuatnya merasa tentram.

"Nado ~" ujar Hyukkie lirih. Siwon mulai menghapus jarak antara mereka berdua.

CHU ~

Sebuah ciuman lembut terjalin diantara kedua insan yang mulai memejamkan mata itu. Awalnya hanya sekedar menempel. Namun, Siwon mulai menuntut balas ciumannya yang entah sejak kapan berganti melumat dan menghisap lembut bibir plum nan manis milik kekasihnya itu.

Pagutan itu semakin dalam dan penuh perasaan, kala tangan kanan Siwon beralih menekan tengkuk hyukkie guna memperdalam ciuman mereka. Sedang tangan kirinya ia gunakan untuk meraih pinggang ramping milik sang kekasih yang tengah bersandar di ranjang King size itu.

Namun, entah kenapa tiba-tiba Siwon merasakan rasa asin kala ia memanggut bibir manis itu lebih intens. Siwon perlahan membuka matanya tanpa melepas pagutannya. Matanya menatap sendu kearah onyx kelam milik Hyukkie yang terpejam – namun melelehkan air mata.

Perlahan siwon melepas ciumannya, hingga menyisakan benang-benang kristal yang berpaut diantara bibir mereka. Dengan lembut Siwon menghapus sisa saliva mereka saat berciuman tadi yang berada di sudut bibir Hyukkie.

"Kenapa kau menangis, chagi?" tanya Siwon lembut. Dan di jawab gelengan kepala dari namja manis itu.

"Ani hyung. Aku hanya merasa terharu dan. . Bahagia." Ujar Hyukkie lirih.

Dengan lembut Siwon merengkuh Hyukkie kedalam pelukannya. Perlahan ia membelai lembut surai platinum milik namja yang 10 tahun telah ia cintai itu. Namun, tanpa hyukkie sadari, sang kekasih tengah menatap nanar punggung namja manis itu yang tengah terisak di daalm pelukan Siwon itu.

'Tak ada orang yang mengungkapkan kebahagiaan dengan menangis terisak seperti ini, chagi.' Batin Siwon miris.

Katakan yang sejujurnya, chagi.

Aku rela melepaskan mu, jika itu membuat mu – bahagia.

.

End Flashback

.


.

Kibum tampak mengeriyitkan dahinya dengan tatapan seruis kerah segelas jus. Namja cantik itu terliha tengah berpikir dengan keras. Hingga pada akhirnya ia menghela nafas panjang – tanda ia menyerah. Bahkan IQ tingginya tak mampu memberinya sebuah solusi untuk seorang namja tampan yang kini menjadi sahabatnya itu.

Ya, sepulang dari Jepang untuk masalah bisnis, Siwon dan Kibum masih tetap berhubungan. Siwon merasa nyaman ketika membagi ceritanya pada namja yang memiliki senyum mematikan itu. Bahkan Siwon menceritakan masalah pribadi yang tengah ia dera saat ini. Hingga pada akhirnya mereka menyadari bahwa Donghae yang dimaksud Kibum adalah orang yang sama dengan Donghae yang pernah mengantar kekasih Siwon. Dari mana mereka mengetahuinya?

Beberapa hari lalu, siwon bertemu dengan Presdir tempat Kibum bekerja. Ya, tentu saja ia adalah Lee Donghae. Saat itu sifat Donghae sungguh dingin dan datar – berbeda dari biasanya. Pertemuan itu terasa sangat canggung. Hingga pada akhirnya Donghae memutuskan untuk mengundurkan diri dan meminta Kibum untuk melanjutkan agenda pertemuan waktu itu. Satu kesimpulan yang Kibum dan Siwon peroleh.

Donghae dan Hyukkie memang memiliki sebuah 'hubungan'.

Entah apa ~

"Hahh ~" hela nafas Kibum membuat Siwon tersadar dari lamunannya – setelah menceritakan semuanya pada Kibum.

"Wae?" tanya Siwon bingung.

"Masalah mu sungguh pelik, wonnie-ah. Bahkan otak encer ku tak mampu memberikan sebuah ide untuk menyelesaikannya. Hahh ~" jelas Kibum sambil menghela nafas malas. Siwon hanya bisa tersenyum miris mendengarnya. Ia tak pernah menyangka akan terjebak dalam badai perasaan yang membingungkan seperti ini.

Kibum terlihat tengah mengaduk – aduk minumannya tak jelas. Ia merasa tak hanya minuman itu yang teraduk-aduk. Tapi juga dengan otaknya. Dia sangat ingin membantu menyelesaikan masalah Siwon. Bukan karna apa. Tapi karna ini juga menyangkut dengan sahabat karibnya – Lee Donghae. Walau ia tipe orang yang suka ikut campur. Tapi masalah ini sudah terlalu banyak menyita pikirannya.

Terlalu banyak yang ada dalam pikiran namja cantik itu untuk membantu memecahkan masalah perasaan yang tengah terjadi Siwon, kekasihnya – Hyukkie – dan tentu saja sahabatnya – Lee Donghae. Banyak hal tentang cinta yang ia baca dari ensiklopedia mulai dari Cinta yang abadi nan sejati, hingga Cinta yang tak harus memiliki. Tunggu dulu.! 'Cinta yang tak harus memiliki?' Entah karna apa tiba-tiba onyx bening milik Kim Kibum itu mendadak membulat sempurna ditambah dengan sebuah Smirk yang terlukis di wajah stoic nya.

"Yah, siwon-ah.! Apa kau benar-benar mencintai Hyukkie kekasih mu itu?" tanya Kibum dengan nada yang cukup keras – yang sukses mengagetkan seorang Choi Siwon.

"Aish, kau ini. Tentu saja aku sangat mencintainya. Tak perlu kau tanyakan lagi hal itu." Ujar Siwon dengan nada sedikit kesal – karna tadi dikagetkan.

"Clam down, man. Kalau memang benar kau mencintainya, aku punya sebuah ide untuk mu." Ujar Kibum penuh rahasia.

"Wae?" tanya Siwon penasaran.

"Mungkin ini terdengar sedikit gila untuk mu. Begini. . . "

Ketika cinta harus dikorbankan. . .

.


.

"Kau suka yang ini, chagi?" tanya seorang namja cantik pada namja manis yang tengah melamun.

"Ne, umma. Itu juga bagus." Jawab namja manis itu – ketika tersadar dari dunia lamunannya.

Namja manis bernama Lee Hyukjae atau kerap dipanggil Hyukkie itu kini tengah fitting baju pengantin yang akan ia kenakan di hari pernikahannya nanti bersama umma calon suaminya – Jaejoong. Ya, pernikahan Hyukkie akan digelar 4 hari lagi. Jaejoong ingin segera pernikahan anaknya – Siwon – digelar secepatnya. Dan inilah jadinya. Mereka mempersiapkan semuanya dengan express. Mulai dari undangan, baju, dan sebagainya.

"Kau kenapa, chagi?" tanya Jaejoong lembut sambil mendudukan diri disebelah Hyukkie dan membelai lembut surai platinum milik namja manis itu.

"Ah, ani umma. Mungkin aku hanya sedikit. . gugup." Ujar Hyukkie lirih tapi masih terdengar oleh Jaejoong.

"Umma mengerti perasaan mu, chagi. Lagi pula kau tak perlu khawatir. Umma sudah menyuruh wonnie untuk 'menundanya' kalau kau belum siap." Ujar Jaejoong sambil tersenyum lembut.

"Menunda? Maksud umma?" tanya Hyukkie bingung sambil memiringkan kepalanya – imut.

"Aish, kau ini polos sekali chagi. Maksud umma agar menunda malam pertama kalian." Ujar Jaejoong senang.

BLUSH ~

Kedua pipi cubby milik Hyukkie memerah tanpa bisa dicegah sang empunya.

"Yah, umma bicara apa sih.!" Pekik Hyukkie sembari menundukkan wajahnya yang seperti kepiting rebus.

"Loh, umma benar kan? Hal itu yang dari tadi membuatmu melamun dan gelisah kan?" ujar Jaejoong – penuh keyakinan.

"Aish, umma apaan sih.! Ani, bukan itu umma." Ujar Hyukkie sambil memainkan kedua tangan dipangkuannya dengan wajah yang masih Blushing.

'Neomu Kyeopta' batin Jaejoong.

Tanpa kedua namja cantik berkulit putih itu sadari, seorang namja tampan bertubuh tegap atletis tengah menghampiri mereka yang berada di sudut ruangan ganti sebuah toko baju pengantin dengan senyum penuh arti – kala melihat orang yang ia kenali.

"Hey, Chagi ~" ujar Siwon sambil memeluk Hyukkie yang tengah duduk dari belakang – yang sontak membuat Hyukkie langsung menolehkan kepalanya kesamping. Dan. .

CHU ~

Hyukkie 'tanpa sengaja' mencium pipi Siwon yang tengah memeluknya dari belakang dengan dagu yang bertumpu di pundak mungil sang kekasih. Dan tentu saja karna hal itu wajah namja manis itu menjadi semakin memerah dari semula – yang awalnya masih memerah.

"Aigo, pacar ku sekarang jadi semakin agresif, ne?" kata Siwon dengan nada menggoda dan mengerlingkan sebelah matanya.

"Yah aniyo..! Itu tadi kan tidak sengaja. Hyung yang mengagetkan ku..!" seru Hyukkie – berusaha mengelak.

"Aish, mengaku saja kalau kau mau aku cium. Sini aku cium." Ujar Siwon sambil berusaha meraih kepala sang kekasih.

"Andwe..! Aku tak mau dicium namja Pervert seperti mu..!" pekik Hyukkie sambil berlari menghidari Siwon yang mulai mengejarnya.

"Yah, kemarilah chagi. Sini biar aku cium ~" Kata Siwon sambil mengejar sang kekasih yang berlari tidak jelas memutari sofa panjang yang diduduki Jaejoong.

Sedang Jaejoong sendiri hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah anaknya dang calon menantunya – mungkin – yang bertingkah kekanakan itu. Ia kembali tersenyum ketika melihat Hyukkie sudah tertangkap dan berada dalam pelukan sang anak – Siwon – dengan wajah yang benar-benar memerah seperti orang demam.

"Wonnie-ah, sudah jangan menggoda Hyukkie terus. Kau tak lihat wajahnya sudah memerah seperti orang demam begitu." Ujar Jaejoong – penuh intrupsi.

"Ck, umma mengganggu saja." Decak Siwon kesal. Sedang Hyukkie langsung berlari menuju sebelah Jaejoong saat Siwon melonggarkan pelukannya.

"Umma, lindungi aku dari namja Pervert itu ~" Rajuk Hyukkie sambil mendorong tubuh mungil Jaejoong agar menutupi tubuhnya – yang juga mungil.

"Aigo, bagaimanapun namja Pervert itu akan menjadi suami mu, chagi." Ujar Jaejoong lembut.

"Ish, umma engga seru..!" seru Hyukkie sambil mempout kan bibirnya lucu.

"Jangan poutkan bibir mu seperti itu, chagi. Kau ingin aku cium, eoh?" ujar Siwon menggoda.

"Yah..! Umma ~" rengek Hyukkie pada Jaejoong.

"Apa Sayang ~?" ujar Jaejoong lembut.

"Ish, Umma dan Siwon Hyung sama saja..! Menyebalkan..!" ujar Hyukkie kesal sembari menendang-nendangkan kakinya ke lantai dengan bibir yang terpout sempurna.

Jaejoong dan Siwon hanya bisa terkekeh melihat tingkah menggemaskan namja manis bertubuh ramping itu. Wajah kesalnya benar-benar mampu menghancurkan kegundahan yang beberapa saat lalu Siwon rasakan.

"Eh, iya umma. Ini undanganya sudah jadi. Tadi aku mampir dan mengambilnya. Beberapa sudah aku bagi ke teman-teman dekat ku saja. Lagi pula kita kan memang tak mengundang banyak orang." Jelas Siwon sambil melangkah mendekati sang umma dan mengambil tempat duduk dihadapan namja cantik bermata bulat bening itu.

"Um, iya memang kita tak seberapa mengundang banyak orang. Lagi pula kan pesta resepsi kita adakan terpisah dengan hari pernikahan kalian." Ujar Jaejoong sambil memilah-milah undangan yang kini ada ditangannya.

Mata Siwon kini beralih pada namja manis yang beberapa saat lalu meramaikan suasana – tapi kini malah duduk diam membisu dengan tatapan kosong yang mengarah ke undangan yang tengah di pegang Jaejoong. Sejenak Siwon melihat adanya kepedihan yang teramat dalam dari tatapan kosong namjachingunya itu. Hal inilah yang membuatnya ragu. Ragu untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan namja manis itu.

"Chagi ~ kau kenapa?" ujar Siwon lembut – berusaha menghilangkan keraguan dihatinya.

"Huh? Ani, aku tidak apa-apa kok Hyung." Ujar Hyukkie sambil tersenyum – senyum yang terlihat memilukan dimata Siwon.

"Dia dari tadi memang suka melamun, Wonnie-ah. Hyukkie tadi bilang kalau dia hanya gugup. Umma yakin ia pasti gugup memikirkan malam pertama kalian." Ujar Jaejoong sambil memasang seringai jail di wajah cantiknya.

BLUSH ~

"Ish, umma apaan sih..! Kenapa bilang begitu di depan Siwon hyung." Ujar Hyukkie kesal sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah (lagi).

"Jinjja?" ujar Siwon dengan nada menggoda. Sepertinya bertambah satu lagi orang yang akan membuat wajah uri Hyukkie semakin memerah karna malu.

"Yah..! Aniyo.!" Pekik Hyukkie mengelak.

"Aish, pacar ku sekarang sudah jadi tante-tante genit, eoh?" goda Siwon sambil mencolek dagu Hyukkie yang tengah menunduk.

"Yah..! Apaan sih hyung.! Aku ini NAMJA tahu..!" pekik Hyukkie frustasi – karna digoda terus menerus oleh umma dan anak itu yang menyebalkan – menurut Hyukkie - itu.

"Oh, kalau begitu om-om genit, eoh?" goda Siwon (lagi).

"Yah..! Siwon hyung pabbo..!" pekik Hyukkie kesal sambil memalingkan wajahnya kearah lain dengan bibir yang mempout lucu.

CHU ~

Tanpa sungkan Siwon mencium bibir Hyukkie yang mempout itu. Sontak hal itu semakin membuat wajah Hyukkie seperti terbakar – panas.

"Kan sudah ku bilang jangan poutkan bibirmu seperti itu, jika tak ingin ku cium." Ujar Siwon sambil menjulurkan lidahnya – meledek Hyukkie.

"Yah, umma.! Lihatlah anak mu yang nakal itu ~" rengek Hyukkie pada Jaejoong sambil menarik-narik lengan kemeja Jaejoong seperti anak kecil meminta sebuah mainan.

"Aigo, kalian ini sudah mau menikah tapi tingkahnya seperti kucing dan anjing yang tidak bisa akur." Omel Jaejoong pada kedua namja yang masih 'bertarung' deathglare itu.

"Eh, iya chagi. Kau mengundang keluarga tempat mu bekerja itu kan?" tanya Jaejoong membuyarkan acara saling tatap-menatap sengit yang tidak jelas antara Siwon dan Hyukkie.

"Oh, keluarga Dokter Hankyung itu, umma?" sahut Siwon.

"Ne, istrinya kan pemilik toko tempat Hyukkie bekerja. Kau mengundang mereka kan, chagi?" tanya Jaejoong lagi.

"Ne, aku akan mengundang mereka, umma." Ujar Hyukkie sambil menundukkan kepalanya – menyembunyikan ekspresi pedihnya yang tiba-tiba kembali terpasang wajah manis tersebut.

Siwon yang mengerti hal itu, buru-buru menyahut untuk meredam keheningan.

"Lalu kapan kau akan mengantarkan undangannya, chagi? Biar aku menemani mu kesana." Ujar Siwon lembut.

"Ani tak usah hyung. Biar aku saja yang mengantarkannya." Ujar Hyukkie lembut.

"Kau yakin tak mau aku antar?" tanya Siwon khawatir.

"Ne, hyung bantu saja umma untuk menyiapkan desain interior ruang keluarga. Nanti biar aku yang mengantarkannya."

'biar aku sendiri yang membawa undangan itu kekeluargaNya.' Lanjut Hyukkie dalam hati.

.


.

Pagi yang indah kini kembali menyambut kota Seoul. Tak ada yang berbeda dengan pai-pagi sebelumnya. Suasana tentram nan nyaman tercurah kala sang mentari menyinari bumi. Beberapa orang sudah ada yang kembali memulai aktivitas pagi mereka. Mulai dari bekerja, sekolah hingga berdiri di depan sebuah rumah bergaya minimalis Eropa seperti yang dilakukan seorang namja tampan bernama – Lee Donghae.

Ya, namja berparas tampan nan bertubuh kekar atletis itu kini tengah memandang datar rumah hyungnya – lebih tepatnya pada Flower Shop yang bersebelahan dengan rumah itu. Matanya yang tajam namun sendu itu memandang kosong kearah toko yang menyediakan beraneka ragam jenis tumbuhan wangi bernama bunga yang Donghae tak tahu apa namanya.

Masih ingat dalam benaknya saat beberapa waktu yang lalu ia mencari sosok namja manis yang membuat hatinya remuk redam karna kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka. Namun, tak ditemukannya.

'Sudah hampir seminggu ini ia tak masuk kerja, Hae. Ia bilang ingin menyelesaikan urusan. Tapi ketika ku tanya urusan apa, ia tak menjawab. Iia hanya menyuruhku agar tak perlu khawatir. Karna dia baik-baik saja.

Hanya kata-kata dari Sungmin itu lah yang ia dapat ketika ia mencari namja manis itu seminggu yang lalu. Itu artinya sudah hampir 2 minggu, namja manis yang merebut hatinya namun juga meremuk redamkan hatinya karna kesalahpahaman yang terjadi itu tak masuk kerja. Satu hal yang ia yakini sebagai alasan. Menghindari dirinya.

Merasa sakit didadanya kembali menyeruak saat ia kembali teringat 'hal itu', Donghae segera melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah hyungnya. Dibukanya pintu dari jati bercat putih dengan pahatan yang indah itu – tanpa perlu menetuk ataupun memencet bel terlebih dahulu. Satu hal yang menyambut Donghae kala memasuki rumah mewah bergaya minimalis tersebut. Sepi.

Mungkin semua penghuninya berada di dalam rumah. Namun tak lama seorang namja mungil berwajah manis nan innocent menghampirinya dengan senyum manis terkembang di bibir mungilnya.

"Hae? Kenapa kau tak bilang kalau mau kemari?" tanya Ryeowook lembut.

"Aku mau main hari ini, wokkie-ah. Aku bosan dirumah. Sekalian aku mau numpang makan siang. Hehehe." Ujar Donghae dengan cengiran tanpa dosanya.

"Aish, kau ini. Mau aku panggilkan Sung-ie dan Han Hyung?" tanya namja berpipi tirus tersebut.

"Ne, jika tak repot." Jawab Donghae – dengan cengiran yang masih setia membingkai bibir tipisnya.

"Tunggulah disini. Aku akan memanggil mereka untuk kemari." Ujar Ryeowook sambil melangkah menuju kearah dalam rumah.

Donghae hanya bisa tersenyum lembut menatap kepergian kakak iparnya itu. Mata sendunya mulai menelisik seluruh ruang tamu yang mungkin luasnya memang tak lebih besar dari ruang tamu rumahnya – yang sedikit tak wajar luasnya itu.

Perhatiannya kini terpusat pada alat musik kesukaannya yang berdiri kokoh disudut ruangan – piano. Dengan langkah pelan dihampirinya alat musik yang menjadi kegemarannya dari kecil itu. Matanya sedikit memincing tajam ketika melihat sebuah undangan bewarna silver dengan tulisan dari tinta emas yang tergeletak diatas piano tersebut. Sebuah undangan pernikahan.

Mendadak hatinya kembali ngilu seolah sebuah pisau menancap didadanya hingga tembus ke punggung. Remuk redam yang beberapa saat lalu menghilang kini kembali terasa dihatinya kala ia menatap untaian bait di cover surat untuk acara sakral tersebut.

Lee Hyukjae & Choi Siwon

12 Maret 2011

Tak terasa setetes kristal bening meluncur begitu saja dari obsidan kecoklatan yang sendu miliknya. Hatinya bgitu sesak dan ngilu ketika ia harus menanggung kenyataan bahwa namja yang ia cintai akan bersanding dengan orang lain dalam sebuah ikatan yang suci. Bahkan kaki-kakinya seolah tak lagi mampu menahan berat tubuhnya. Hingga,

BRAK. . .

Ia jatuh terduduk dengan lutut yang sempat menghantam kaki piano dihadapannya hingga menimbulkan suara gaduh yang cukup keras. Tanpa ia sendiri sadari, para hyungnya segera bergegas menemui dirinya saat mendengar suara benda terjatuh – yang berasal dari dirinya.

"Donghae. . !" pekik Hankyung sambil berlari menghampiri adiknya yang jatuh terduduk didepan piano.

"Kau kenapa?" tanya Hankyung khawatir. Sedang yang ditanya hanya memberi tatapan kosong dengan kristal-kristal bening yang masih terus mengalir dikedua mata sendunya.

Yesung melirik undangan yang tergeletak tak berdaya dilantai. Segera dipungutnya undangan yang baru tapi pagi diantarkan sang pemilik tersebut.

"Hyung ~" panggil Yesung lirih sambil menepuk pelan pundak Hankyung yang duduk bersimpuh sambil merengkuh pundak sang dongsaeng tersayangnya itu.

Hakyung hanya bisa menatap nanar undangan yang tengah dipegang Yesung. Kemudian ia beralih menatap sang dongsaeng yang masih menatap kosong.

"Hae ~" panggil Hankyung lirih.

"Aku mencintainya, hyung. Aku sangat mencintainya.." ujar Donghae lirih dengan badan bergetar dan berurai air mata.

"Hyung tahu. . ." ujar Hankyung lirih sambil merengkuh bahu sang adik.

"Kenapa harus begini? Kenapa hyung? Aku mencintainya. AKU MENCINTAINYA…!" pekik Donghae dengan tangisnya yang semakin deras.

"Aku yang bodoh. Kenapa aku harus. . hiks. . mencintainya. KENAPA AKU MENCINTAINYA…!" pekik Donghae histeris.

PLAKK . .

Sebuah tamparan keras Hankyung layangkan pada sang dongsaeng kesayanganya itu. Donghae hanya bisa tertunduk lesu dengan mata yang masih tak berhenti mengalirkan air mata.

"Hannie ~" ujar Heechul lirih sambil menutup mulutnya tak percaya – dengan apa yang baru saja dilakukan suaminya pada adik iparnya itu.

"Aku tak pernah mengajarimu untuk menjadi namja yang lemah..! Kau dengar itu, LEE DONGHAE..!" seru Hankyung marah.

"Kau benar, hyung. Aku memang namja yang lemah. Bahkan untuk memperjuangkan orang yang aku cintai. . . aku tak sanggup." Sahut Donghae lirih.

"Dengarkan aku." Kata Hankyung sambil mengangkat dagu sang adik yang tertunduk lesu.

"Relakan dia. Relakan Hyukkie bersama Siwon. Biarkan ia hidup bahagia bersama pilihannya." Ujar Hankyung bijak.

"Tapi, aku tahu ia masih mencintaiku hyung." Jawab Donghae lirih

"Mencintainmu?" tanya Heechul lirih – yang berada di belakang Donghae dan Hankyung bersama Wookie yang berada disampingnya.

"Ne, hyung. Mencintaiku. Dan aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya." Ujar Donghae dengan air mata yang kembali mengairi obsidan kecoklatan miliknya.

Entah kenapa Donghae begitu lemah jika menyangkut urusan Hyukkie. Mungkin karna rasa sayang dan cinta yang ia pendam untuk Hyukkie terlalu besar. Hingga rasa sakit yang yang ia terima sangat besar hingga seolah mampu menghunus jantungnya.

Tanpa semua orang yang ada diruang tamu itu sadari, sesosok lain dibalik tembok ruang tamu juga tengah menangis – dalam diam. Sosok yang membuat namja tampan yang kini bersimpuh dengan buraian air mata dan rasa sakit di dada. Hyukkie.

Ia berniat kembali untuk mengambil barangnya yang tertinggal saat tadi mengantarkan undangan pernikahannya. Namun, yang ia dapat malah pemandangan pilu yang menguras air mata. Ia hanya bisa berdiri di balik ruang tamu sambil menutup mulutnya – menahan isaknya yang siap meluncur keluar.

'Mianhe, Hae. Jeongmal Mianhe. . .'

.


.

Siwon baru saja pulang dari kantornya saat ia menerima telpon dari sang Umma bahwa ia sedang pergi dan Hyukkie dirumah sendirian. Dan alasan terkuat ia segera pulang kerumah adalah – ingin bermesraan berdua dengan Hyukkie-Nya.

Segera ia melangkah – berlari – menuju kelantai atas tempat dimana kamar sang kekasih berada. Karna ia yakin namjachingunya itu pasti tengah asyik bersantai diruang televisi atau berada di kamarnya sendiri. Mungkin Siwon tak kan menyangka kemungkinan lainnya.

Matanya mengedar ke penjuru ruang lantai dua yang tidak bisa dibilang kecil itu. Ia sengaja tak memanggil-manggil namjachingunya itu, karna ia ingin memberikan kejutan. Ditelusurinya semua ruangmulai dari ruang televisi, ruang baca hingga kini ia melangkah menuju kamar sang namjachingu tercinta.

Langkah siwon terhenti kala ia mendengar samar-samar suara namjachingunya itu. Suara yang mungkin bisa dibilang . . isakan.

"Mianhe. . hiks. . jeongmal mianhe."

Siwon perlahan mendekati pintu kamar Hyukkie yang terbuka sedikit. Matanya sedikit memincing kala ia melihat sang namjachingu tengah duduk dengan lutut yang ditekuk sembari memandangi sebuah gagdet mini tablet yang setahunya berasal dari seorang namja. Lee Donghae.

"Aku. . hiks. . tak bermaksud menyakitimu. Sungguh. . hiks. . aku tak bermaksud."

Isak tangis namja manis itu mau-tak mau membuat hati Siwon menjadi perih dan ngilu. Bukan karna cintanya yang mungkin tak berbalas. Namun karna melihat kondisi rapuh dari namja yang sangat dicintainya itu.

Buliran kristal bening yang mengalir tanpa dosa dari onyx kelam miliknya, tubuh ringkih yang diyakini Siwon pasti saat ini bergetar hebat karna tangis dan rasa sesak yang melanda jiwa namja manis itu. Siapa yang takkan terenyuh hatinya bila melihat pemandangan memilukan seperti itu. Bahkan seorang Choi Siwon pun tak mampu menahan panas dimatanya kala kristal beningnya berkumpul dipelupuk obsidan elang miliknya.

"Maafkan aku. Sungguh maaf kan aku. Aku. . hiks. . mencintaimu, Hae. Aku mencintaimu. Saranghe, Hae ~"

"Jeongmal. .hiks. . Saranghae ~"

CTARR ~

Siwon serasa tersambar petir karna mendengar isakan Hyukkie itu. Hatinya sesak menahan semua pengakuan memilukan itu. Tapi ia tak merasakan sakit layaknya orang yang patah hati. Kenapa bisa? Entahlah Siwon sendiri tak tahu mengapa. Yang pasti ia hanya merasa kaget dan sesak dihati namun bukan perasaan perih terluka seperti orang yang cintanya tak berbalas.

Ia memang merasa kecewa. Tapi itu tak membuat hatinya merasa perih terluka. Entah, mungkin tanpa Siwon sadari hatinya sudah merelakan Hyukkie untuk mencintai orang lain. Ia hanya merasa sakit ketika melihat Hyukkie yang saat ini terlihat begitu rapuh dan memilukan. Hatinya ngilu melihat sosok yang disayanginya menjadi seperti itu. Ya, sosok yang disayanginya. Hanya disayangi.

Perlahan isak tangis Hyukkie mereda. Siwon dapat malihat saat ini namja manis itu tengah berbaring meringkuk dengan lengan yang memeluk lututnya. Tampaknya ia kelelahan karna semenjak tadi menangis tersedu. Dengan langkah pelan Siwon memutuskan untuk menghampiri namja manis yang telah terlelap itu.

Ia berdiri disamping ranjang dengan tatapan kosong sarat akan keprihatinan kearah Hyukkie-nya – yang mungkin sebentar lagi bukan menjadi miliknya. Perlahan dibelainya surai lembut bewarna platinum milik Hyukkie yang tengah terlelap itu. Sebuah senyum miris terlukis dibibir namja berlesung pipi yang tengah menyingkirkan poni Hyukkie yang menutupi wajah namja manis itu.

Ditariknya selimut diatas ranjang itu untuk menyelimuti tubuh mungil Hyukkie. Lalu dengan lembut Siwon mengecup dahi Hyukkie dan membelai pelan pipi cubby namja manis yng jiwanya tengah terbang kealam mimpi itu.

"Akan kulakukan apapun untuk mu, chagiya." Gumam Siwon pelan dengan sebuah senyum yang menyayat hati terlukis dibibir tipisnya.

Dengan sedikit gontai, Siwon melangkahkan kakinya keluar dari kamar Hyukkie. Ditutupnya pintu kamar bercat putih itu lalu melangkahkan kaki-kaki panjangnya menuju sebuah sofa diruang televisi. Hingga akhirnya ia memutuskan duduk termenung diatas sofa bewarna merah itu.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Siwon lirih.

Dengan kasar ia sandarkan kepalanya disandaran sofa. Pikirannya serasa melayang-layang terbawa udara. Hening malam seolah benar-benar mendukung suasana hatinya yang terlampau risau saat ini. Ingatanya kembali mengingat sebuah 'saran' yang diberikan seseorang yang telah menjadi teman dekatnya akhir-akhir ini. Kim Kibum.

.

"Mungkin ini terdengar sedikit gila untuk mu. Begini. Bagaimana jika kau relakan kekasihmu Hyukkie itu bersama dengan Hae Hyung. Mungkin ini terdengar gila. Tapi, bukan kah kau mencintainya? Dan kau ingin ia hidup bahagia, kan?"

.

Perkataan Kibum beberapa hari lalu kembali terniang di otaknya. Ia memang sangat mencintai Hyukkie. Tapi untuk melihat Hyukkie bersama orang lain? Sepertinya ia memang masih belum bisa. Namun, disisi lain ia sangat ingin kembali melihat seutas senyum bahagia yang berasal dalam lubuk hati itu kembali terukir di bibir manis milik namja yang sangat ia sayangi itu. Pikirannya kembali berperang. Antara Ego dan Suara Hatinya.

Siwon hanya bisa menghela nafas berat saat merasakan perasaan sesak kembali menggeluti hatinya. Miris, perih dan kecewa masih mendominasi dirinya. Bukan, bukan karna Hyukkie tak bisa membalas perasaannya. Tapi, karna ia tak lagi sanggup melihat namja pemilik gummy smile yang memikat itu terlihat rapuh seperti akhir-akhir ini. Sungguh ia tak kuasa melihatnya.

.

"Maafkan aku. Sungguh maaf kan aku. Aku. . hiks. . mencintaimu, Hae. Aku mencintaimu. Saranghe, Hae ~"

.

Isakan Hyukkie beberapa saat yang lalu kembali berputar-putar dikepalanya. Sakit hatinya kala melihat namja yang begitu ia sayangi itu meringkuk lemah dengan buraian air mata di onyx kelamnya.

"Aku tak akan membiarkan mu terpuruk seperti ini, chagiya. Tak akan. ."

Dengan sebuah tekad yang tepancar dari mata tajamnya, Siwon mengambil ponselnya dan mecari sebuah kontak untuk dihubungi. Saat kontak itu sudah ditemukannya, ia segera menekan icon hijau dari ponselnya.

"Semoga tindakan ku ini benar." Gumam siwon lirih.

Tut ~ tut ~ tut ~

"Yoboseyo?"

"Ne, Yoboseyo. Bisa kita bertemu, . . Kyu ~"

.

.

To Be Continued . .?

.

.

Chapter ini adalah chap ke - 9 dari LNW yang pernah kehapus di rate M.

author suda mutusin untuk nunggu review dari reader's di chap ini.

sebenernya saiia pengen liat review ya paling ndag setengah dari review yg kemeren ada diLNW di rate M.

tapi apa daya.

-_-"

.

.

Okey sekrang saiia serius. . .

Saiia bakal ngelenjuttin nie FF kalo review.x mencapai setengah dari Review LNW yg kmaren blom kehapus.

klo ndag salah sekitar 170 review. tapi saiia cma pngen liat Review stengah dari yg kmaren (sebagai penyemangat saiia)

bneran deh saiia lagi Galau mau nglenjuttin nie pa gga.

pa lagi nie uda 9 chapter. sayang bnget kalo dihapus.

mka dari itu, bagi chingu yang masih berminat baca, tolong lah review.

beneran deh bakal saiia publish chapter 10 kalo review.x mencapi setengah dari yang dlu.

soalnya ini uda 9 chap #walau ada yg digabung.

.

.

okey sekian dari saiia.

Saiia menunggu review anda untuk kelanjuttan FF innie.

Gomawo -_-"