Title : Love Never Wrong
Author : Meyla Rahma
Rated : T to M
Pairing : HaeHyuk {Mungkin bisa nambah, tapi Main Pair tetep HaeHyuk }
Genre : Romance
WARNING…!
YAOI / Boy Loves / Boy X Boy
Miss typo(s)
Mature Content
DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!
And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!
DON'T LIKE, DON'T READ..!
JUST CLICK [X] {close} OKE
Happy Reading. . .
.
.
_ooOOooOOooOOoo_
.
.
"Kau sudah yakin dengan keputusan ini mu, hyung?"
"Nde, aku sudah yakin, Kyuhyun-ah. Lagi pula ini demi kebahagiaan Hyukkie."
Saat ini Kyuhyun yang merupakan namjachingu Sungmin - salah satu karyawan di Flower Shop milik Heechul - tengah bertemu di sebuah caffe dengan Siwon. Jika kalian bertanya bagaimana bisa Kyuhyun mengenal Siwon? Maka jawabannya mudah. Karna mereka Saudara.
Kyuhyun masih satu silsila keluarga dengan Siwon. Hanya saja marga mereka yang berbeda karna mengikuti marga ayah mereka. Disetiap kesempatan Siwon sering meluangkan waktunya untuk bertemu dengan saudara sepupunya itu. Sekedar untuk bertegur sapa atau bahkan membicarakan perkembangan dunia game. Mengingat Siwon juga maniak game - namun tak semaniak Kyuhyun.
Beberapa saat yang lalu Siwon menghubungi Kyuhyun. Tentu saja namja berambut ikal itu menduga jika sosok yang sudah dianggap sebagai hyungnya itu ingin bertemu untuk membahas game terbaru yang baru saja diluncurkan - mengingat minggu-minggu ini banyak game baru yang dipromosikan di banyak tempat. Namun ternyata dugaannya. . . salah.
Siwon menemuinya untuk membahas 'hal' lain yang mampu membuat otaknya jungkir balik memikirkan alasan kenapa Siwon merencanakan hal - yang dianggap Kyuhyun 'gila' itu. Ia tak habis pikir. Setahunya hyungnya itu sangat mencintai namja manis yang menjadi patner kekasihnya di tempat kerja. Siapa lagi kalau bukan hyukkie.
Namun, ia tak mau mencampuri privasi Siwon. Ia yakin namja berlesung pipi itu telah memikirkan keputusan - yang mungkin akan 'mengalihkan' laju masa depannya - itu dengan matang. Ia bisa lihat dari sorot mata Siwon. Walau ia sendiri tak memungkiri jika hyungnya itu kini terlihat tertekan atau bahkan. . . terluka.
"Jika itu yang kau putuskan, maka aku hanya bisa mendukungmu dan membantu sebisa ku, hyung." ujar Kyuhyun mantap.
"Gomawo, Kyu. Aku harap kau tidak lupa untuk membicarakan 'hal ini' dengan kedua hyung dari - namja itu ." kata Siwon lirih.
"Kau tenang saja, Hyung. Itu masalah gampang untuk ku. Em, lalu bagaimana dengan . . . Yunho ajhussi dan Jae Ajhumma?"
Kyuhyun hanya bisa berujar sambil menatap ragu kearah sosok yang menjadi panutannya itu - Siwon. Ia tahu bahwa keputusan yang kini telah diambil oleh Hyungnya itu bukanlah keputusan sepele. Ini mengenai hidupnya dan tentu juga hidup namja dicintai hyungnya - Hyukkie. Dan setahunya kedua orang tua Siwon sangat menyayangi Hyukkie, mengingat mereka sudah mengenal namja manis itu selama kurang lebih 12 tahun.
"Kau tak perlu memikirkan hal itu, Kyu. Aku yakin mereka pasti akan menyetujui hal ini. Ya. . . aku yakin."
.
.
Ketika Cinta harus Di korbankan
.
_oooOOOooo_
.
.
Hening . . .
Mungkin satu kata itu cukup untuk menggambarkan keadaan ruang tamu di kediaman keluarga Choi. Jika kalian berpikir kalau ruangan itu sepi alias sedang tak ada orang disana, maka itu adalah pemikiran yang salah. Karna seluruh anggota keluarga orang paling berpengaruh di Korea saat ini itu sedang duduk dalam diam. Atau lebih tepatnya dalam. . . lamunan.
Terlihat jika Choi Yunho dan Choi Jaejoong sedang duduk disalah satu sofa panjang di ruang itu. Dihadapan mereka duduklah kedua putra mereka, Choi Siwon dan adiknya - Choi Minho. Namun tak ada satupun dari keempat Choi itu yang mau membuka suara untuk - meneruskan pembicaraan yang tertunda.
Sang kepala keluarga - Yunho - tampak tengah memijit pelan keningnya. Entah mengapa kepalanya mendadak pening karna 'hal' yang baru saja diutarakan anak sulungnya - Siwon. Sosok umma - Jaejoong - sendiri nampak tengah menerawang dengan tatapan kosong kearah segelas air minum yang tadinya hendak ia minum, namun terhenti karna hal yang sama dengan yang membuat kepala sang suami pening.
"hahhhh~"
Hela nafas dari sang Umma, membuat seluruh anggota keluarga - kecuali Siwon - diruang itu menatapnya. Karna mereka tahu namja cantik itu akan mulai berbicara. Sebuah kebiasaan kecil dikeluarga itu.
"Siwonie. ."
Merasa dipanggil, Siwon yang dari tadi menundukkan kepala dengan ragu menatap kearah sang Umma. Cukup kaget saat ia menatap air muka namja yang telah melahirkannya itu. Bisa ia lihat kini sang umma memandangnya dengan tatapan - serius. Tatapan yang jarang ia lihat selama 26 tahun hidupnya.
"Nn-nde umma," jawab Siwon ragu.
"Kau, sudah yakin dengan keputusan mu ini?" tanya Jaejoong lembut.
"Ne, umma. Aku tak ingin membuat 'nya' terus berada dalam kegelisahan terlalu lama. Aku, aku tak sanggup melihatnya. . terluka." ujar Siwon lirih - sambil menundukkan kembali wajahnya.
Si bungsu - Minho - yang sedari tadi hanya diam, kini menatap iba kearah Hyung satu-satunya itu. Sepercik rasa sakit tercipta dihatinya kala melihat kondisi Hyungnya yang terlihat benar-benar tertekan itu. Ia paham betul perasaan yang bercampur aduk dalam benak hyungnya saat ini. Tertekan, gundah bahkan terluka itu yang ia yakini tengah bergelut dalam hati dan pikiran Hyung kesayangannya itu.
Harus minho akui jika hyungnya itu telah mengambil keputusan yang sangat berat - untuk kelanjutan hidupnya sendiri. Minho tahu betul sebesar apa cinta kasih yang telah dicurahkan Siwon untuk seorang namja manis bernama Hyukkie itu. Dan kini setelah penantian yang begitu lama, Siwon harus memilih keputusan yang berakhir dengan mengharuskan ia - melepaskan Cintanya.
Dunia memang tak pernah adil. Itu lah yang terpikir oleh dongsaeng kesayangan Siwon itu. Tapi dibalik itu semua, terbesit rasa bangga didalam hati Minho. Ia bangga karna memiliki Hyung seperti Siwon yang selalu tegar dalam menghadapi semua masalah. Kalau ia jadi Siwon, belum tentu ia akan mengambil keputusan yang berat seperti ini. Tanpa semua anggota keluarga diruang itu sadari, seulas senyum lembut terukir dibibir sang kepala keluarga yang tengah menatap lembut sang anak. Yunho.
"Hahh. . . Siwon-ah~" ujar Yunho sambil menegakkan duduknya hingga bisa menghadap langsung kearah anak sulung kebanggaannya itu. Terang saja hal itu membuat semua orang menatap kearah namja bertubuh tegap tersebut - tak terkecuali Siwon.
"Appa bangga padamu."
Ucapan Yunho tersebut mengundang tatapan bingung dari seluruh anggota keluarganya. Bahkan Siwon, tak luput untuk memandang sang appa dengan tatapan seolah bertanya 'Wae?'.
"Appa bangga memiliki anak sepertimu, Siwonnie. Kau bersedia menekan rasa egoismu demi kebahagiaan orang yang kau cintai. Appa sangat menghargai keputusanmu, nak." ujar Yunho sambil menepuk bahu kokoh sang anak - seolah memberi kekuatan pada hati anaknya yang tengah gamang itu.
Sejenak ruang keluarga itu kembali hening. Jaejoong memandang lembut penuh kekaguman pada suami yang sudah menemani hidupnya selama 27 tahun itu. Tak hanya Jaejoong, si bungsu dikeluarga itupun menatap kagum kearah appanya.
"Jadi, maksud appa, appa mendukung keputusan Siwon hyung?" timpal Minho tak sabar.
"Nde, Minho-ah. Appa sangat mendukung keputusan hyungmu. Asalkan ia bisa bahagia dengan keputusannya itu, maka appa akan selalu berada dibelakangnya untuk memberi dukungan." ujar Yunho lembut.
"Yeobo~" ucap Jaejoong dengan mata berkaca-kaca - menahan haru didadanya.
Seolah mengerti apa yang dirasakan sang istri, Yunho kembali duduk sambil menggenggam erat jemari lentik nan lembut milik sang istri tercinta. Menatap lembut onyx bening yang kini terlapisi kristal itu sebelum berujar dengan lembut.
"Kita harus bangga dan mendukung keputusan aegya kita, yeobo. Dia sudah menguatkan hati demi keputusan yang telah ia ambil ini. Dan sebagai orang tua yang baik, sudah seharusnya kita mendukungnya." ujar Yunho lembut nan penuh bijaksana.
"Kau benar, yeobo. Yah, Siwon-ah. Umma ingin kau berjanji pada umma. Setelah ini kau harus segera mencari 'pengganti' nya. Umma tak mau tahu, pokoknya harus secepatnya." ujar Jaejoong - berakting - ngambek.
"Gomawo, Appa, Umma. Gomawo sudah mau mengerti keputusan ku." ujar Siwon bahagia sambil memeluk erat kedua orang tuanya.
"Hey, tak adakah yang mau memeluk ku?" sahut Minho sebal - karna keberadaannya tak dianggap.
Semua yang ada diruang itu terkekeh bebarengan lalu Siwon meraih dongsaeng satu-satunya itu dan kembali berpelukan bersama appa dan umma mereka. Secercah senyum lembut kini bertengger manis diwajah tampan milik Choi Siwon. Hatinya kini serasa melambung keawan, karna kini semua pemikirannya jika appa dan ummanya akan menentang keputusannya kandas tersapu gelak tawa kebahagian yang kini tengah ia rasakan. Kilat kesungguhan untuk membahagiakan orang yang ia cintaipun kini terpancar jelas dari sorot mata tajamnya.
'Akan ku buat kau bahagia, chagi. Tak akan ku buat kau terisak kembali. Tak akan pernah. . .'
.
.
_oooOOOooo_
.
.
- Hanchul Florist -
.
.
"Bisa kalian tak memandangi ku dengan, er. . tatapan seperti itu, hyung?" tanya Kyuhyun sedikit - risih.
"Ah, mianhe Kyu. Kami hanya terlalu - kaget." timpal Hankyung.
Saat ini Kyuhyun tengah berada di Flower Shop milik Heechul. Ia berkumpul bersama Hankyung, Heechul, Yesung, Ryeowook juga kekasihnya - Sungmin untuk membicarakan 'rencana' yang telah ia susun bersama Siwon tadi siang. Setelah menjelaskan apa maksud tujuannya, Kyuhyun berharap keluarga Dokter dan Penyanyi itu akan menyetujuinya. Namun yang ia dapat justru tak sama sekali serupa dengan apa yang ia harapkan.
Keluarga besar bemarga Lee itu sekarang justru tengah memandangnya dengan tatapan. . . kosong. Jujur saja hal ini sedikit membuat Kyuhyun takut. Bayangkan saja jika kau dikelilingi orang-orang yang tengah menatap kaget kearahmu dengan tatapan cengo yang seolah bisa menenggelamkan mu dalam rasa hening mencekam. Bahkan kekasihmu juga memandangmu begitu.
"Yah, Bocah. Kau yakin dengan apa yang kau katakan, huh?" sahut Yesung - sanksi.
"Ish, jangan memanggilku bocah dong, hyung. Ck, tentu saja aku yakin. Siwon hyung sendiri yang membuat 'rencana' ini. Aku hanya disuruh mengatakannya pada kalian." jawab Kyuhyun.
"Lalu bagaimana dengan para tamu undangan dari keluarga Choi yang sudah datang?" kali ini Ryeowook yang sanksi.
"Untuk masalah itu, Siwon hyung sudah menghandlenya. Kalian hanya disuruh menyeret 'nya' agar mau menghadiri acaranya besok." jelas Kyuhyun.
"Itu lah yang aku ragukan, kyu." kata Heechul lemas.
"Maksudmu, hyung?" tanya Sungmin bingung.
"Keadaannya sedang tertekan semenjak melihat undangan pernikahan itu beberapa hari yang lalu. Aku ragu 'ia' mau menghadiri acara besok." jelas Heechul.
"Buat saja skenario seolah ini adalah hal terakhir yang bisa membuatnya melihat Hyukkie untuk terakhir kalinya. Mudahkan?" sahut Yesung enteng.
Seketika semua orang yang ada disana melongo kearahnya. Bukan, bukan karna ucapan jenius barusan. Mereka langsung cengo karna yang mengatakan solusi jenius barusan adalah seorang Yesung. Oke perlu ditekan kan. Seorang YESUNG.
"Yah..! Kenapa kalian memandangiku seperti memandang idola begitu? Oke, aku akui aku memang tampan. Tapi kalian tak perlu melihatku seperti itu." ujar Yesung narsis.
PUK ~
"Kami bukan terpana karna melihat wajahmu. Lagi pula wajahmu itu hanya pas-pas'an. Kami hanya heran bagaimana bisa kau bisa memikirkan rencana yang cemerlang seperti itu?" ujar Hankyung penuh ejekan - setelah sebelumnya memukul sayang kepala sang dongsaeng.
"Ish, kau ini apa-apaan sih, hyung. Tentu saja aku ini berotak cemerlang. Kalau tidak, bagaimana mungkin Wookie mau denganku. Iya kan, chagi?" ujar Yesung semangat. Hal yang bena-benar tak sinkron dengan apa yang tengah dibahas.
"Ya, sudah kalau begitu. Lebih baik kau dan Yesung segera kerumah 'nya', chagi." saran Heechul pada sang suami yang masih bersweet drop ria karna perkataan Yesung barusan.
"Oke, kau benar chagi. Yah, Sung-ie ayo ikut aku kerumah 'nya'. Kita tak lagi punya banyak waktu." titah Hankyung.
"Ne, baiklah. Kalau perlu kita menginap dirumahnya. Agar ia tak memiliki alasan untuk tak datang diacara besok." sambung Yesung.
Hankyung hanya bisa memutar matanya malas menanggapi ucapan adiknya barusan. Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa bisa Wookie mau menikah dengan dongsaengnya yang otaknya konslet itu. Sekilas ia menatap Wookie yang menatapnya dengan senyum lembut yang seolah berkata 'Aku sudah terbiasa dengan hal itu.' Sungguh malang Nasib namja mungil itu, batin Hankyung. Setelahnya Hankyung segera
melesat menuju mobilnya yang terpakir dihalaman depan rumahnya dan langsung mengendarainya bersama Yesung menuju rumah Dongsaeng kesayangan mereka.
Ketika Kebahagian di Depan Mata . . .
.
.
_oooOOOooo_
.
.
12 Maret 2011
.
.
Pagi yang cerah menyapa hamparan kota Seoul. Burung-burung beterbangan dengan nyanyian indah kicaunya yang melantun bagai musik dari surgawi. Cahaya mentari menyeruak menembus rentina dengan amat lembut membuat kesan hangat di hati tiap insan di muka bumi yang bersiap menjalani hari. Namun indahnya pagi dihari itu bagaikan hari dimana sebuah malapetaka akan terjadi bagi seorang namja tampan yang hatinya tengah remuk redam karna pedihnya luka. Lee Donghae.
Namja tampan yang memiliki obsidan coklat sebagai alat pengelihatannya itu tengah duduk di jok penumpang di dalam mobilnya dengan muka masam. Kenapa ia tidak menyetir sendiri mobilnya? Jawabannya mudah, karna sang Hyung dengan berbaik hati menyupiri mobil mewah miliknya hinggasampai ketempat tujuan mereka. Altar Pernikahan.
Gerutuan kecil yang digumamkan Donghae seakan tak pernah didengarkan oleh Empat anggota keluarga lain yang kini tengah semobil dengannya itu. Hankyung, Yesung, Heechul dan Wookie sangat berbaik hati mengantarkan Donghae menuju acara pernikahan Hyukkie. Berulang kali ia berontak agar tidak menghadiri acara yang semakin membuat hatinya remuk itu kepada kedua hyungnya. Namun yang ia dapat hanyalah kilatan tajam mata Hankyung yang membuat bulu kudunya meremang dan tentunya membuat nyalinya menciut.
'Apa mereka sudah gila? Menyuruhku menghadiri pernikahan Hyukkie, sama saja menyuruhku masuk kedalam jurang kematian ku sendiri.' batin Donghae kesal.
Bahkan Donghae tak menyadari bahwa ia tengah mengenakan sebuah tuxedo hitam elegan yang sengaja disiapkan oleh kedua kakak iparnya. Ia masih sibuk berkedumel ria hingga tak menyadari kedua kakak ipar yang duduk di jok belakang tengah terkikik geli melihat tingkahnya.
"Andai ia tahu, jika ia sedang menjemput kebahagiannya." bisik Heechul lirih.
"Sepertinya ia takkan pernah tahu, hyung. Ia masih sibuk ngedumel sendiri sekarang." timpal Wookie lirih sambil terkekeh pelan.
Tanpa terasa mobil mewah yang mengangkut keluarga besar itu kini telah berada di depan sebuah Gereja bernuansa Eropa Klasik yang tingginya menjulang kelangit. Hiasan berbagai jenis bunga bewarna putih menjadi hal yang Dominan untuk menyambut datangnya para undangan keacara Saklar tersebut. Acara yang akan menyatukan Dua hati yang tengah . . . terluka.
Kelima namja kini keluar dari mobil mewah tersebut, dan melangkah memasuki tempat peribadatan suci yang kini telah disulap dengan sedemikian rupa hingga menjelma seperti Altar surgawi dengan nuansa putih. Mereka memilih menempati baris kursi di deret tengah. Donghae yang sejak awal memang tak berniat untuk menghadiri acara itu, terlihat murung namun tersembunyi dibalik wajah dingin yang selalu menjadi topeng sempurna yang telah digunakannya bertahun-tahun silam.
Sekilas ia melihat kehadiran Kyuhyun dan Kibum yang duduk didepan sebuah piano dibagian samping altar. Kibum? Kenapa dia hadir? Tapi ternyata Donghae tak memikirkan hal itu. Ia masih sibuk menenangkan hatinya agar bisa kuat melihat namja yang ia cintai akan menjadi milik orang lain. Bahkan ia tak menyadari Kyuhyun dan Kibum yang menyeringai penuh arti kearah namja yang kini memasang wajah datar nan dingin itu.
Lama tenggelam dalam pikirannya, Donghae sedikit tersentak kala alunan musik dari tuts piano yang dimainkan Kibum menyapa pendengarannya. Alunan dentingan piano berpadu dengan merdu suaru seseorang yang Donghae kenal bernama Kyuhyun itu, seolah mengiringi langkah kaki seseorang yang memasuki tempat peribadatan itu.
Secara refleks Donghae mengarahkan padangannya kearah pintu masuk gereja tersebut. Obsidan kecoklatannya menangkap sesosok namja manis ber-tuxedo putih elegan - bermodel sama seperti miliknya - memasuki Altar pernikahan. Namja yang selama beberapa bulan terakhir ini mengisi kekosongan dihatinya. Hyukkie.
.
.
Donghae POV
.
.
Niga geuwa datugo
Ttaeron geu ttaeme ulgo
.
.
Ku lihat sesosok tubuh yang ku yakini selama ini sebagai malaikat tuhan yang tersesat dibumi itu melangkahkan kakinya menapaki setapak karpet bewarna darah dihadapannya dengan wajah sendu yang selama ini telah berhasil mengunci hatiku karna bias itu. Namun kenapa bias sendu yang kau pancar dari wajahmu, chagi?
.
.
Himdeureo hal ttaemyeon
nan huimangeul neukkigo
.
.
Langkah lemah gemulai ia tapakkan saat kaki jenjangnya kembali berpijak menuju altar. Dua anak kecil berwajah manis menuntun langkahnya. Wajah malaikat kecil disampingnya itu, sama sekali tak mampu menyaingi kemilau pesona yang telah sosok itu pancarkan untuk hatiku.
.
.
Amudo moreuge mam a-a-apeugo
Nijageun misomyeon tto damdamhaejigo
.
.
Karangan mawar putih yang kau genggam seolah tak ada apa-apanya dibanding pancaran kilau putih bersih hatimu yang tulus dimataku. Semua yang ada pada dirimu seolah membuat duniaku berputar tak lagi pada porosnya.
.
.
Niga hoksina nae maeumeul alge doelkkabwa
Arabeorimyeon uri meoreojige doelkkabwa
.
.
Derap langkahmu seolah meluluh lantakkan hatiku. Aku seolah melihatmu menuju lembah mautku. Aku hanya bisa melihatmu melangkah dengan anggun dan elegan dibalik tuxedo putih elegan yang membalut kulit putih bak susu milikmu. Aku pikir tuxedomu itu senada dengan tuxedo yang kini ku kenakan. Bahkan aku mulai berangan jika kau adalah - mempelai ku.
.
.
Nan sumeul jug yeo
Tto ipsureul kkaemureo
Jebal geureul tteona naege ogil
.
.
Ingin rasanya raga ini berlari menghambur ke pelukanmu dan dengan segera membawamu keluar dari tempat yang menyeremkan ini - setidaknya untuk ku. Aku tak ingin melihatmu bersamanya. Tak mampu rasanya hatiku ini menyaksikan detik-detik dimana kau akan menjadi milik orang lain. Bukan menjadi milikku.
.
.
Baby jebal geuui soneul japjima
Cuz you should be my Wife
Oraen sigan gidaryeo on nal dorabwajwo
.
.
Kau masih menatap sendu langkah mu. Namun saat kau mengalihkan onyx bening itu hingga bertemu pandang dengan obsidan coklatku, aku merasa Dunia telah berhenti berputar. Sepasang onyx sekelam malam itu menatapku dengan tatapan - terluka.
.
.
Noraega ullimyeon ije neoneun
Geuwa pyeongsaengeul hamkkehajyo
.
.
Onyx indah itu menatapku dalam diam. Mungkin hanya sekejap. Namun terasa menusuk untukku, kala pancaran sinar hangat yang biasa manik kelam itu pancarkan kini terganti oleh goresan luka dalam kepedihan hati yang tak tertara. Mianhe telah membuatmu terluka olehku. Mianhe karna akulah yang telah menggores luka dihatimu. Mianhe.
.
.
Oneuri oji ankireul
Geureoke na maeil bam gidohaenneunde
.
.
Kau paling kan manik kelammu kala sejenak beradu pandang dengan obsidanku. Kilat kecewa dan luka sempat ku lihat terpancar jelas saat kau palingkan pandanganmu. Maafkan aku, namja bodoh yang telah melukai hati sosok indah berhati malaikat sepertimu. Namun, satu hal yang mungkin tak pernah kau tahu. Bahwa aku akan selalu. . . mencintaimu.
.
.
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress
Nega ibeun wedding dress
.
.
Kini kau sudah didepan altar. Ku lihat namja itu sudah menunggumu disana sedari tadi. Senyum terlukis indah diwajah namja yang akan segera menjadi - Suami mu itu. Pancaran cinta yang hangat terlukis jelas tertuju hanya padamu. Dengan lembut ia meraih tangan putih susumu yang lembut nan halus lalu mengecupnya penuh cinta. Entah mengapa hatiku meradang hanya karna pemandangan itu.
.
Cukup sudah, aku tak kuat berada disini..!
.
.
End Donghae POV
.
.
Donghae mulai gusar di kursi tempat ia singgah sedari tadi. Ia mencelos kekanan dan kekiri mencari jalan untukknya pergi dari tempat yang membuat hatinya meradang hingga matanya merah menahan panas dihatinya. Hankyung yang mengerti gerak-gerik mencurigakan dari sang dongsaeng disampingnya, dengan segera meraih lengan kekar sang adik untuk menyuruhnya tetap dia ditempat.
Sejenak Hankyung tertegun saat melihat wajah sang dongsaeng yang memerah menahan gejolak dihatinya. Bahkan obsidan sendu yang dikaguminya itu kini terlapisi kristal bening, walau tak seberapa ketara.
'Sesakit itu kau menahan perasaanmu, Hae?' batin Hankyung miris.
"Kau mau kemana, Hae?" bisik Yesung bingung.
"Biarkan aku pergi, hyung.! Terus berada disini hanya akan membuatku. . . sakit." ujar Donghae lirih.
"Tetaplah disini. Jebal~" timpal Hankyung tak kalah lirih.
NNGGIIING ~
Suara microphone yang dinyalakan, mengintrupsi namja tampan itu untuk mengarahkan pandangannya kearah altar. Tampak Siwon yang tengah bersiap untuk menyampaikan sesuatu kepada para tamu undangan.
"Hadirin sekalian, Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda semua yang telah menyempatkan diri untuk hadir di upacara saklar pernikahan ini.-"
"Saya juga berterima kasih pada Dua orang sahabat saya yang sudah merelakan waktu berharganya untuk menjadi pengiring acara saklar ini. Cho Kyuhyun dan Kim Kibum." Semua orang bertepuk tangan untuk Dua namja yang tadi telah mengiringi masuknya sang mempelai hingga ke depan Altar.
"Namun, sekedar untuk pemberitahuan. Upacara pernikahan ini bukanlah upacara pernikahan - saya."
Semua mata yang hadir disana langsung membelalakan matanya kaget. Bagaimana tidak, mereka menerima undangan pernikahan atas nama Choi Siwon dan Lee Hyuk Jae. Tapi yang terjadi sekarang? Siwon malah berkata jika ini bukan acara pernikahannya. Merasa dipermainkan sang namja manis itupun mulai berkaca-kaca.
"A-apa maksudmu, hyung?" tanya Hyukkie dengan suara bergetar - menahan tangis.
Donghae yang sedari tadi melihat peristiwa itupun mengepalkan tangannya kuat - hingga buku jarinya memutih. Sang hyung yang berada disampingnya dengan segera mencekal lengan sang adik agar tak berbuat hal-hal yang tidak diinginkan.
Kini dapat semua orang lihat, sosok Siwon tengah meraih dan menggandeng tangan namja manis yang ada disampingnya. Menatap onyx bening yang terlapisi kristal itu dengan amat lembut sambil menganggukkan kepala - seolah berkata 'semua akan baik-baik saja.'
"Hari ini, bukan lah acara pernikahan Saya. Melainkan upacara pernikahan seorang Lee Hyuk Jae dan - Lee Donghae."
Penuturan barusan membuat semua pasang mata yang ada disana tersentak kaget. Lee Donghae? Ya, para undangan yang berada disana mengenal sosok Lee Donghae. Sebagian besar orang disana mengenal nama itu sebagai nama orang yang menjadi patner bisnis mereka. Dan mereka juga mengetahui jika sosok itu kini juga berada disekitar mereka. Maka dari itu semua orang yang ada disana segera mengarahkan pandangan mereka kearah deret baris tengah. Tempat dimana Lee Donghae berada.
"Majulah, Hae. Jemput kebahagiaan mu." ujar Hankyung lembut pada sang namdongsaeng yang berdiam diri cengo karna kaget.
"Ta-tapi, hyung?"
"Kau mau kehilangan dia lagi, eoh?" sela Yesung.
"Aniyo..!" seru Donghae - tanpa sadar.
Hyung dan kakak iparnya dibuatnya terkikik geli melihat tingkahnya yang refleks itu. Tanpa adanya keraguan ia segera melangkahkan kakinya menuju ke Altar - tempat cintanya berada.
.
.
_oooOOOooo_
.
.
"Lee Donghae ~"
"Bersediakah engkau mencintai, menyayangi dan melindungi Lee Hyuk Jae sebagai pasanganmu dalam suka maupun duka hingga hanya maut yang memisahkan kalian berdua?"
"Ne, aku bersedia." ujar Donghae lantang.
"Dan Lee Hyuk Jae ~"
"Bersediakah engkau mencintai, menyayangi dan melindungi Lee Donghae sebagai pasanganmu dalam suka maupun duka hingga hanya maut yang memisahkan kalian berdua?"
"N-ne, aku bersedia." ucap Hyukkie gugup.
"Semoga tuhan memberkati rumah tangga kalian berdua. Sekarng silahkan pasang Cincin pernikahan kalian di jari manis pasangan masing-masing." jelas Pendeta itu lembut.
Perlahan Donghae merah jemari lentik nan lembut milik Hyukkie-NYA dan menyematkan cincin emas putih dengan ukiran berlian saphire ditengahnya yang telah dipersiapkan oleh sang Hyung - Hankyung - di jemari halus milik istrinya. Hyukkie juga melakukan hal yang sama dengan menyematkan cincin serupa di jemari kekar milik suaminya itu.
"Nah, sekarang anda bisa mencium pasangan anda, tuan Donghae." ujar Pendeta itu lembut dan dengan sukses membuat tegang tubuh Hyukkie.
Mengetahui hal itu, Donghae mengusap lembut punggung tangan Hyukkie lalu menarik dengan perlahan pinggang namja manis yang telah menjadi istri sah nya itu mendekat kearah dekapannya. Perlahan namun pasti ia mendekatkan wajahnya hingga ia bisa merasakan gemuruh nafas Hyukkie yang tak beraturan.
Chup~
Getaran hebat menyapa tubuh Hyukkie kala bibirnya bersentuhan lembut dengan bibir tipis namja yang telah menjadi suaminya itu. Hanya sentuhan lembut, tanpa nafsu dan hanya ada Cinta dan kebahagian yang membuncah dari kedua insan yang kini telah bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Kisah kasih mereka yang berat seolah sebuah jembatan yang menuntun mereka kearah kebahagian besar yang saat ini mereka rasakan.
Donghae melepaskan ciuman lembut bibirnya dan menatap dalam onyx kelam yang selalu berhasil menenangkannya itu sambil menggenggam jemari lembut Hyukkie-NYA.
"Aku sangat bahagia saat ini. Dan semua itu karna mu. Saranghe~" ujar Donghae sambil tersenyum lembut tanpa melepas pancaran hangat matanya untuk sang istri.
"Nado, nado saranghe, Hae~" timpal Hyukkie sambil tersenyum tulus.
'Takkan pernah lagi ku melepaskanmu, chagi. Tak akan pernah.'
.
.
To Be Continue. . .?
.
.
Anneyeong . . .!
Akhirnya bisa UP-date juga. . .
Sumpah mian kelamaan. . .
Nerusiin nie FF bnyak kendalanya.
Mulai Lappy yang masuk 'Rmah sakit', ampe File.x yg ilang. # CurCoL
.
.
Mian saiia ndag sempat bales Review2. . .
saiia cuma mau bilang GOMAWO buat para reader's yang uda mau berkenan menunggu, membaca palagi Review di FF saiia nie. #plak
.
.
Saiia bingung, nie FF mau dilanjutt ndagh?
klo iyya berarti chap depan . . . jennn jenggg #author gilla
chap depan NC brarti.
:)
.
.
Silahkan Reader's putuskan 'Mau dibawa kemana nie FF' #plak
mau ampe HaeHyuk punya anak ato mau ampe sinnie ajj. #drajam reader's.
.
.
Silahkan tingalkan jejak alias REVIEW n saran 'Mau dibawa kemana nie FF'
okkayy..?
.
.
akhir kata, seperti biasanya. . .
Review menentukan Kelanjuttan FF yg anda baca
:-)
