. . .
. .
.
Dear Lee Donghae, , ,
Aku berharap kau masih mengingat diriku. Seorang yeoja yang pernah menghabiskan malam musim panas bersamamu, dalam sebuah tenda di depan hamparan pantai California. Aku tak bermaksud mengganggu kehidupanmu saat ini, Hae. Aku hanya ingin mengirimkan 'buah hasil' dari apa yang pernah kita lakukan malam itu, , , padamu.
Aku tak bermaksud membebanimu. Hanya saja, suami ku tak menerima keberadaan EunJi dalam rumah tangga kami. Sungguh, aku sangat menyayangi anakku, Hae. Tak pernah aku bermaksud untuk membuangnya. Namun, bagaimanapun juga kau adalah appa dari Eunji. Karena aku, tak pernah melakukan hal seperti pada malam itu dengan siapapun, , , kecuali dengan dirimu.
Aku merasa bersalah jika terus membiarkan EunJi disampingku. Dia bahkan tak lagi mau bicara, karena terlalu sering di caci maki oleh orang-orang di sekitar tempat tinggal kami karna ia terlahir tanpa seorang appa. Sungguh, aku merasa berdosa jika terus - menerus membuatnya bersamaku.
Ku mohon Hae, rawatlah EunJi. Sayangilah dia, karena dia adalah darah dagingmu – anakmu. Aku tak pernah meminta pertanggung jawabanmu selama ini, Hae. Cukup terimalah EunJi dan jagalah dia dengan sebaik-baiknya.
Maaf bila tindakanku ini mengganggu hidupmu dan ketenangan orang-orang di sekitar mu. Jeongmal, mianheyyo Hae.
Sincerely,
Im Yoona
. . .
. .
.
Title :
Love Never Wrong
.
Author :
Meyla Rahma
.
Rated :
T
.
Pairing :
HaeHyuk
and Other Couple
.
Genre :
Romance
.
.
WARNING…!
.
YAOI / Boy Loves / Boy X Boy
.
Miss typo(s)
.
Broken E.Y.D
.
Mature Content
.
.
DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!
And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!
DON'T LIKE, DON'T READ..!
JUST CLICK [X] {close} OKE
.
.
.
Happy Reading. . .
.
.
_ooOOooOOooOOoo_
.
.
.
Hening.
Satu kata itulah yang berhasil menggambarkan bagaimana keadaan ruang tamu kediaman presdir Lee tersebut. Donghae sendiri terlihat tertunduk dengan secarik kertas yang masih ada di genggaman tangannya. Ruangan seluas kurang lebih 12 meter itu terasa begitu sunyi dan senyap. Semua anggota keluarga yang berada disana, terdiam dalam lamunan pikiran mereka masing – masing.
Iris hazel milik namja brunette itu bersinar penuh kebimbangan, marah dan kecewa pada dirinya sendiri, juga perasaan bersalah. Ya, dia sangat merasa bersalah pada sang istri yang sangat ia cintai. Hyukkie.
'Oh god, apa yang harus aku lakukan sekarang?'
Tatapan matanya semakin sendu memandang secarik kertas di tangannya. Kegundahan hati Donghae, ternyata juga di rasakan oleh sang umma – Leeteuk. Namja bersingle dimple itu nampak tengah memandangi sang putra bungsunya itu dengan tatapan yang teduh namun sarat akan jutaan emosi yang terpancar di dalamnya.
Tak ada yang kunjung memulai pembicaraan. Mereka terlalu larut dalam pikiran masing – masing. Baru saja Donghae mengecap indahnya kebahagiaan, namun kini justru takdir kembali menyambangi hidupnya dengan sebuah kejutan kecil – yang membuatnya limbung dalam kegundahan yang rumit.
"Chagiya~"
Suara lembut namun terkesan bergetar dengan banyak emosi di dalamnya itu membuat semua tatapan yang semula kosong, beranjak mengalihkan pandangan pada sang sumber suara. Sosok itu tak lain adalah satu – satunya sosok berambut blonde di ruangan itu. Hyukkie.
"Kemarilah. Sini, duduk dengan ajhumma,"
Hyukkie berusaha menahan gejolak yang melanda hatinya. Ia menepuk pangkuannya guna mempersilahkan sosok mungil itu agar duduk di atas pangkuannya. Heechul yang semula memangku gadis kecil itu pun mengangkat tubuh mungil dihadapannya hingga membuatnya berdiri dan mendorongnya dengan lembut agar berjalan menghampiri Hyukkie yang duduk berseberangan dengan kursinya.
"Namamu EunJi, ne?" sebuah anggukan kecil menjadi jawaban pertanyaan Hyukkie "-um, chaega Hyukkie, Hyukkie ajhumma," senyum lembut terbingkai diwajah manis Hyukkie.
Seluruh anggota keluarga diruangan itu hanya mampu diam. Mereka menatap sendu pemandangan hangat yang tersuguh dihadapan mereka. Hati mereka teriris pedih saat kembali mengingat hal yang beberapa saat lalu membuat pikiran mereka dilanda kegundahan. Sosok kecil tak berdosa yang kini berada dipangkuan Hyukkie lah yang menjadi sumber semua tatapan kosong yang beberapa saat lalu serempak dilakukan keluarga besar Lee tersebut.
"Eunji sudah makan?" hanya sebuah gelengan yang menjadi jawaban, "-Omo, kalau begitu ayo kita ke dapur. Biar ajhumma buatkan Eunji makanan yang enak. Otte?"
"Um,"
Secuil suara kecil itulah yang menjadi jawaban. Sejujurnya, hati Hyukkie teriris karna melihat keadaan yeoja kecil di pangkuannya. Makhluk mungil itu sama sekali tak mau berbicara. Namun Hyukkie tak ingin menunjukkan perasaannya. Ia segara mengajak Eunji berdiri lalu menggendongnya. Kaki – kaki jenjangnya hendak melangkah namun terhenti, saat sebuah tangan kekar mengintrupsi pergerakannya.
"Hyukkie~"
"Tidak sekarang, Hae. Not now," seutas kalimat langsung meluncur begitu saja dari bibir Hyukkie.
Tanpa menunggu lama, Hyukkie segera membawa Eunji menuju dapur. Donghae hanya menatap kepergian sang istri dengan tatapan sendu. Pikirannya bercampur aduk saat ini. Ia tahu, mungkin Hyukkie kecewa pada dirinya. Tapi sungguh, ia belum siap dengan semua sifat Hyukkie nanti padanya.
"Dia~"
Donghae mengalihkan pandangannya pada sang umma – yang kini tengah menatap sendu pintu yang menghubungkan ruang tamu dan dapur tempat Hyukkie tadi melangkah.
"-begitu mirip denganmu, Hae,"
Tatapan Donghae kembali kosong, seusai kalimat itu terucap dari bibir sang umma – Leeteuk. Jiwanya bagai dihantam oleh deburan ombak kenyataan. Ia tak mampu berpungkir jika Eunji memang mirip dengannya. Iris hazel yeoja cilik itu bagai titisan langsung dari dirinya. Rambutnya yang pirang kecoklatan, adalah ciri khas dari umma kandungnya – Jessica.
"Hyung~"
Hankyung dan Yesung serempak mengangkat kepala mereka – menatap sang adik. Namun yang ditatap justru tengah berpandang kosong tak tentu arah.
"Tak adakah cara untuk menyakinkan, apa dia benar – benar aegya ku?" ujar Donghae lirih.
"Sebelum kami datang kemari, aku sudah memeriksa DNA Eunji. Dan aku telah menyamakan dengan DNA appa, aku dan Yesung,"
"Lalu?" tanya Donghae serius.
"Hufft~ 60% DNA kami sama dengan DNA Eunji,"
"Jadi, walau harus mengetes ulang dengan DNA ku maka hasilnya akan pasti tertebak begitu kah maksudmu, hyung?" ujar Donghae pelan.
"Aku bukan mendahului kenyataan, Hae," Hankyung menatap sendu sang dongsaeng yang tengah tertekan batinnya, "-hanya saja, ilmu kedokteran kadang tak pernah salah untuk hal semacam itu,"
Iris hazel namja brunette itu kembali memancarkan kekosongan yang penuh kekalutan. Dirinya masih belum siap jika harus menerima cobaan kembali di dalam hidupnya. Belum cukupkah selama ini takdir mempermainkan ku?
"Jeongmal, nan eotthoke?"
Semua mata memandang namja brunette itu dengan tatapan sendu. baru saja kebahagiaan ia raih. Ya, kebahagiaan agar bisa bersama Hyukkie. Namun kini, kenyataan baru menyambangi dirinya.
"Hae~"
Donghae menatap sosok yang memanggilnya. Sosok yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan teduh dan seyum malaikatnya. Leeteuk.
"Jika memang benar dia adalah aegya mu, maka kau harus bisa menerimanya dalam hidupmu, nak," ujar Leeteuk lembut.
"Tapi umma–"
"Menolak kenyataan bahwa ia adalah darah dagingmu, bukanlah hal yang tepat, Hae. Kau pernah menentangnya,-" Donghae menatap lurus sang umma, "-tapi tidak untuk kedua kalinya," sedang sang umma hanya menatap sendu dirinya.
Donghae tahu, bahwa ia pernah menentang kehadiran sang umma dalam hidupnya. Ya, semua itu hanya karna sang umma adalah seorang – namja. Namun kali ini berbeda. Ia takut. Sungguh ia takut jika Hyukkie akan menghindar dan pergi darinya karna kecewa dan benci padanya. Ia tak mungkin bisa hidup jika Hyukkie tak bersama di sampingnya.
"Kita bisa melakukan tes DNA untuk memastikan hasilnya. Walau kita sudah mengetes dengan DNA kita, tak ada salahnya jika kita mengetes dulu dengan DNA mu, Hae," ujar Hankyung memecah lamunan yang membekap sang adik.
"Untuk apa, Hyung?" Hankyung manatap Donghae tak mengerti. "Untuk apa jika kita sudah pasti tahu hasilnya," sambung Donghae lirih.
"Hae~"
Donghae mangalihkan pandangnya pada sang appa.
"Sejujurnya, appa memang kecewa padamu," Leeteuk meraih lengan suaminya – berusaha untuk tidak memperkeruh suasana hati sang anak.
"Tapi appa tak akan pernah marah padamu, jika kau mampu menghadapi hal ini dengan pikiran dewasa,"
Donghae menatap sendu sang appa. Begitu pula Leeteuk yang semula mengira suaminya akan mencerca sang aegya.
"Appa dan umma hanyalah orang tua yang akan selalu mendukung semua keputusan aegya kami. Dan mengarahkan mereka pada hal yang tepat dalam hidup kalian. Appa dan umma akan bangga padamu, jika kau mampu mengambil keputusan yang – bijak," Kang In menatap sang anak dengan tatapan yang penuh keseriusan.
Sekali lagi, Donghae seperti tertampar oleh hempasan angin kenyataan. Ya, dia harus mengambil keputusan. Keputusan yang mungkin akan mengubah hidupnya. Walau ia masih takut dengan reaksi sang istri nantinya. Tapi ia harus bersikap dewasa. Semuanya kini sudah ada di depan mata. Dan ia tak mungkin bisa menghindar dari kenyatan yang ada.
Ia tak mungkin jadi seorang pengecut yang menghindar dari semua kenyataan yang mulai menyabotase hidupnya. Perlahan ia menghela nafas dalam sebelum sebuah penuturan terucap dari bibir tipisnya.
"Bisakah aku melakukan tes DNA sekarang, hyung?"
.
.
.
.
Seluruh keluarga Lee terlihat tengah duduk berjajar di deretan bangku klinik mlik salah satu anggota keluarga mereka – Lee Hankyung. Tak terkecuali istri Donghae – Hyukkie – yang tengah memangku Eunji. Ia terdiam dalam lamunan dan membiarkan yeoja cilik itu berkutat dengan boneka beruang di pangkuannya.
Namja manis itu tak lagi bernaung pada alam sadarnya. Pikirannya terbang dalam bayangan masa depan yang akan menyapa kehidupan rumah tangganya kelak. Sungguh, ia tak merasa keberatan tentang kehadiran Eunji dalam mahligai rumah tangga yang baru ia bangun bersama Donghae. Hanya saja, ia masih belum mampu menerima semua kenyataan yang terlalu cepat ini. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia mungkin hanya sedikit kecewa pada Donghae.
Berbeda dengan diri Donghae. Namja brunette itu kini tengah mengatur kesiapan mentalnya. Walau pada akhirnya nanti mungkin ia sudah pasti tahu hasil apa yang akan ia terima nantinya dari tes yang kini tengah diperiksa sang Hyung. Ia hanya mencoba mempersiapkan hatinya dengan semua kemungkinan yang akan menyambangi hidupnya. Kemungkinan yang mungkin akan merubah segalanya.
Cklek~
Suara pintu yang terbuka, mengintrupsi semua pandangan mata yang semmula hanya berpancar kekosongan. Dari balik pintu bewarna putih itu, muncul sosok Hankyung yang keluar dengan selembar amplop putih ditangan kanannya. Namun, amplop itu masih terlem dengan rapi. Sepertinya, Hankyung ingin jika adiknya lah yang langsung mengetahui hasil tes DNA yang baru saja ia periksa.
"Bagaiamana, Hyung?" tanya Yesung membuka suara.
"Biar Hae saja yang membuka hasilnya," Hankyung menyerahkan amplop putih itu ke hadapan sang dongsaeng.
Donghae segera meraih lembaran putih itu. Tatapan sendunya tak berpindah dari kertas dihadapannya. Sungguh, ini bagaikan membaca kemana takdir akan membawa biduk rumah tangganya. Perlahan ia robek ujung amplop itu dan mengeluarkan kertas yang lain di dalamnya. Ia buka kertas yang terlipat tiga yang kini di tangannya.
Manik hazel miliknya menelinsik untaian kata yang tersuguh lewat lembaran dihadapannya. Jantungnya tiba – tiba berdebar di luar batas seharusnya, saat irisnya tertuju pada barisan bait yang tertoreh di atas kertas berlogo klinik hyungnya itu.
'Sample A and sample B is suitable with classification blood type A plus'
Sampel A (DNA Donghae) dan sampel B (DNA Eunji) adalah cocok dengan kesamaan golongan darah tipe A plus.
'Sample A and sample B is suitable with similarity until 100%.'
Sampel A (DNA Donghae) dan sampel B (DNA Eunji) mencapai kesamaan hingga 100%.
Untuk sejenak, waktu terasa berhenti berjalan bagi Donghae. Kertas yang dipegangnya, perlahan jatuh ketanah. Iris sendu miliknya perlahan beralih menatap sosok kecil yang tengah dipangku oleh sang istri. Dengan badan yang mulai bergetar, Donghae mendekati yeoja cilik yang tengah menatapnya dengan tatapan – datar.
"Putriku,"
Donghae meraih Eunji dan memeluk bocah kecil itu erat. Air matanya turun tanpa bisa terbendung. Ia memang belum siap dengan kenyataan ini. Tapi melihat kedaan Eunji, entah mengapa membuat hatinya teriris luka. Mengingat gadis cilik itu tak lagi mau bicar dengan siapapun. Seperti yang telah dikatakan lewat surat ibunya – Yoona.
"Mianhe, Eunji. Mianhe," Donghae semakin memperat pelukannya "-maafkan appamu ini, nak. Maafkan appa,"
Donghae tak lagi bisa mengontrol emosinya. Ia merasa bersalah pada yeoja cilik itu. Baginya, ialah yang menyebabkan keadaan Eunji sekarang. Diam membisu dan tak lagi mau berbicara pada siapapun.
Semua anggota keluarga menatap nanar pemandangan haru di hadapan mereka. Hankyung yang pertama kali meraih kesadarannya, segera mengambil kertas yang tergeletak diatas porselen tempatnya berpijak. Hatinya terenyuh dan mata sipitnya menatap teduh bait terakhir dari hasil diagnosa DNA yang tadi ia periksa.
'And result final, sample A and sample B is nearest relation.'
Dan hasil akhir, sampel A (DNA Donghae) dan sampel B (DNA Eunji) adalah golongan sedarah.
.
.
.
.
Sejuk~
Angin musim semi Korea di sore hari memanglah yang terbaik. Dedaunan hijau bergoyang seirama terpaan angin yang membelah rimbun pepohonan. Sungguh tentram bagi siapapun yang menghabiskan sore hari dibawah terpaan sejuk angin sore hari. Tak terkecuali Hyukkie.
Namja manis itu kini tengah berdiri di balkon halaman belakang rumahnya dan Donghae. Wajahnya sedikit terlihat lebih pucat dari biasanya. Namun ia justru lebih memilih berangin – angin di tepi balkon seperti saat ini. Sedikit membuang penat hati, mungkin itulah yang kini tengah namja ber gummy smile itu lakukan. Sesekali ia tersenyum simpul melihat sang kakak ipar – Heechul – yang tengah bermain ayunan di halaman belakang rumah dengan putrinya.
Putrinya? Ya, mungkin ia harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan Eunji sebagai putrinya. Bukan ia tak suka dengan keberadaan Eunji. Oh ayolah, Hyukkie sanga menyukai anak kecil. Terlebih anak menggemaskan macam Eunji. Namun sungguh tak mampu Hyukkie pungkiri, jika ia sedikit terluka jika mengingat asal usul Eunji.
"Kau disini?"
Sebuah suara merdu mengintrupsi diri Hyukiie untuk menoleh kebelakang dan mendapati suaminya tengah menatapnya sendu. Namja brunette yang merupakan suaminya itu perlahan berjalan mendekati Hyukkie dan mengambil posisi berdiri di samping namja blonde itu dengan tatapan lurus menerawang ke depan.
Sungguh ini adalah pemandangan yang kikuk bagi keduanya. Biasanya, Donghae akan melingkarkan lengannya pada pinggang Hyukkie dan menumpukan dagu pada pundak kecil milik sang istri sembari menikmati pemandangan matahari terbit ataupun terbenam bersama di tempat keduanya berpijak sekarang.
Namun kali ini lain. Keduanya masih terlibat dalam kekalutan dalam pikiran masing – masing. Disatu sisi, Donghae tak ingin Hyukkie meninggalkannya karna kehadiran Eunji. Dan di sisi lain, Hyukkie tengah bergelut menenangkan hatinya yang semula tergerus kekecewaan atas masa lalu Donghae.
"Kau~"
"Aku~"
Keduanya saling berucap hingga membuat perkataan itu terbentur satu sama lain. Onyx sekelam malam itu saling bertemu pandang dengan sepasang iris hazel dalam sebuah tatapan sendu nan teduh yang mengandung luapan emosi batin.
"Kau duluan saja, chagi,"
"Ani. Kau saja yang duluan, Hae," sergah Hyukkie segera.
Donghae terlihat menghela nafas berat. Jutaan pemikiran bergelut dalam otaknya. Serasa otak namja brunette itu bisa pecah kapan saja karna terlalu banyak frasa yang terambang dalam pemikirannya. Namun entah mengapa pada akhirnya ia hanya membu mengatakan satu frasa.
"Mianhe,"
Hyukkie tertegun sejenak dengan permintaan maaf yang diucapkan suaminya.
"Mianhe? Waeyyo?" tanya Hyukkie bingung.
"Maafkan aku karna telah mengecewakanmu," Donghae mengambil nafas dalam, "-sungguh aku malu jika harus menjelaskan betapa kelam masa laluku – dahulu. Aku malu karna kau adalah sosok sempurna yang telah mau menjadi sandaran hati namja laknat macam diriku. Dan kini, pada akhirnya buah dari kebejetanku datang mengahmpiri,"
Donghae menatap lurus kearah sang istri,
"Kau boleh membenciku, Hyukkie. Aku sudah pernah berjanji tak akan lagi membuatmu terluka. Tapia pa yang ku perbuat sekarang? Walau mengatakannya, aku tahu kau sangat teramat kecewa padaku. Aku memang bukan seseorang yang sempurna untuk namja sebaik dirimu. Kebahagiaanmu adalah kebahagaian ku Hyukkie. Jika kau tak bahagia bersamaku, kau, , kau bisa meninggalkanku, kar-"
PLAK~
Sebuah tamparan melayang mulus diwajah tampan milik Lee Donghae. Namja bruntte itu kini bahkan bisa melihat buliran kristal yang menalir tanpa dosanya di wajah cantik sang istri. Sungguh jika Donghae mau, ia bisa saja mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai dua rumahnya yang terbilang cukup tinggi itu. Semua itu karna satu alasan. Ia tak mampu melihat sang istri menangis karna dirinya.
"Apa kau pikir dengan pergi meninggalkanmu semua masalah akan selesai, huh? KENAPA PIKIRANMU SEDANGKAL ITU?" teriak Hyukkie frustasi.
"Hyukkie~"
"Kenapa kau tak pernah memikirkan perasaan orang – orang di sekitarmu? Kenapa kau harus memulai sesuatu dengan prasangka buruk? Aku, , hiks , , aku mencintaimu, hiks, , kenapa kau berpikir, , hiks, , aku harus MENINGGALKANMU? Dasar namja PABBO, , hiks, , namja pabbo,"
Donghae meraih sang istri kedalam pelukannya. Dan membiarkan tangan – tangan kurus sang istri terus menerus memukuli dada bidangnya hingga terasa sedikit nyeri. Dadanya semakin nyeri melihat sang istri yang terus terisak dalam pelukannya. Ia sungguh merasa – bersalah.
"Uljima, Hyukkie. Uljima~" Donghae mempererat pelukannya, "-maaf kau. Jeongmal, mianheyyo,"
Donghae bisa merasakan bagian depan kemejanya yang basah karna air mata sang istri. Ia mengecup lembut pucuk kepala sang istri. Membenamkan hidung bangirnya di helaian suarai lembut sang pujaan hati dan menghirup wangi yang menguar disana. Ia bisa merasakan Hyukkie memabalsa pelukannya. Dan itu membuat hati Donghae lega. Setidaknya ia sudah tenang. Begitulah pikir Donghae.
"Hyukkie~"
Donghae melepas pelukan mereka dan menatap lurus kearah sang istri,
"Jeongmal mianheyyo, atas semua pemikiran bodohku barusan. Maaf jika ucapan ku tadi melukaimu. Aku, , aku hanya,-"
"Hanya menginginkan kebahagianku, karna kebahagiaanku adalah segalanya bagimu. Begitukan?" potong Hyukkie cepat.
"Nde~" ujar Donghae lirih sembari menundukkan wajahnya yang muram.
"Tak pernahkah kau berpikir, Hae," Hyukkie meraih tangan sang suami kedalam genggamannya, "-kebahagiaan sejatiku adalah dirimu," membuat sang suami menatap lekat kedalam manik kelam miliknya.
"Hyukkie~" Donghae tak lagi mampu berucap.
"Aku mencintaimu, Hae," Dongahe manatap lurus dalam onyx sekelam malam itu, "-jika satu – satunya hal yang saat ini kau khawatirkan adalah Eunji, maka kau tak perlu khawatir," hati Donghae mendadak khawatir. Ia khawatir dengan apa yang akan di ucapkan Hyukkie dan keadaan sang istri sendiri. Entah perasaannya atau emang pada nyatanya, Hyukkie terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Aku akan menerima Eunji sebagai bagian dari keluarga kecil kita," ucap Hyukkie tulus.
Donghae terperangah sejenak dengan penuturan namja yang dicintainya itu,
"Eunji adalah buah hatimu, Hae. Dan aku juga akan mencintainya juga. Karna dia adalah bagian dari – dirimu,"
Greep~
Untuk kesekian kalinya Donghae membawah tubuh kecil sang istri kedalam dekapan hangatnya. Sebuncah perasaan bahagia, meletup keluar dari dalam hatinya. Seolah tak ada lagi gundah, yang beberapa saat lalu membebani hatinya.
"Jeongmal gomawo, chagi. Gomawo~"
Berulang kali ia mengecupi pucuk kepala sang istri sebagai luapan bahagia dihatinya. Sungguh, ia adalah namja paling beruntung di dunia ini. Karna bisa memiliki istri pengertian dan sesempurna Hyukkie.
Mereka masih berpelukan erat, hingga tak menyadari banyak pasang mata yang mengamati kegiatan mereka sedari awal tadi. Mereka tak lain adalah keluarga besar Lee beserta Eunji. Mereka turut berbahagia atas pasangan termuda dikeluarga mereka itu. Semuanya tersenyum tulus dan aura bahagia terpancar dari masing – masing anggota penyandang marga Lee tersebut.
Ugghh~
Tiba – tiba saja Hyukkie menutupi mulutnya. Dan hal itu sontak membuat Donghae terkejut dan khawatir.
"Hyukkie, gwenchana?"
"Ani. Aku mendadak mual dan pusing, Hae," ucap Hyukkie lirih.
"Mwo? Baiklah, lebih baik kita masuk sekarang,"
Keduanya pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah mewah mereka. Namun baru beberapa langkah kedua nya berjalan, tiba – tiba,
Bruukk~
"HYUKKIE..!"
.
.
.
To be Continued. . .?
.
.
.
Hay~ Hay~ Hay~
Meyla Rahma is here,
.
This is story yang uda lama ditunggu – tunggu #kepedean
Mianhe saiia terlalu lama lagi up-datenya.
Mohon dimaklumi. Karna saiia berusaha menyempatkan diri untuk mengetik kelanjuttan FF ni di balik semua pekerjaan saiia yang menyita banyak waktu. Jeongmal Mianheyyo, ,
.
Mian saiia ndagh sempet bales review para reader's, ,
Takutnya, nanti balesan review.x jauh lebih banyak di banding isi FF ini sendirii, ,
.
Pokok.x saiia Cuma maubilang BERIBU TERIMA KASIH bagi para reader's yg sudah setia membaca apalagi mereview di FF saiiaini,
JEONGMAL KAMSAHAMNIDA~
.
Sekian dari saiia,
Last word,
Salam HaeHyuk Shipper, , ,
.
oooXXXooo_Meyla_Rahma_oooXXXooo
