Lee Hankyung House

.

"Hannie, kau kenapa?" suara Heechul memecah keheningan yang di ciptakan sang suami – Hankyung.

"Huh? Ani, gwenchana Chullie-ah," Hankyung berusaha tersenyum lembut.

"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Heechul sembari meletakkan secangkir teh di meja ruang tamu – tempat keduanya berada sekarang.

Sepasang suami istri itu baru saja pulang dari kediaman adik mereka – Donghae. Dan semenjak meninggalkan rumah sang adik, Hankyung lebih banyak diam. Ya walaupun namja oriental itu memang lebih suka diam tak bersuara, hanya saja kali ini ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiran namja berusia 30 tahun itu. Setidaknya hal ini menurut sang istri – Heechul.

"Kau lebih banyak diam semenjak pulang dari rumah Donghae, Han," Hankyung menatap sendu sang istri, "-katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan?" saat Heechul berujar dengan nada penuh dicta – khas miliknya.

Hankyung – mencoba – tersenyum lembut. Perlahan di raihnya bahu sang istri dan memainkan jemarinya di antara surai legam milik namja yang telah menjadi bagian dari hidupnya itu.

"Tak ada yang perlu aku sembunyikan dari istri cantik dan penuh perhatian seperti dirimu, Chullie-ah," ucap Hankyung lembut.

Namja berparas ayu itu lebih memilih untuk menegakkan duduknya dan menghindar dari belaian lembut sang suami sembari berucap,

"Ini bukan saat yang tepat untuk menggombaliku, Lee Hankyung,"

Manik kelam milik Heechul menatap lurus nan intens pada sepasang obsidian milik sang suami. Mencoba mencari state yang membuat pria yang di cintainya itu tenggelam dalam lambaian lamunan hingga beberapa kali dalam beberapa saat yang lalu.

Hankyung yang mengerti penurunan mood sang istri lebih memilih untuk membalas dengan tatapan lembut sembari menghela nafas berat sebelum ia membuka sebuah statement.

"Listen my Chullie," Hankyung menatap lembut sembari menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya,

"Aku baik – baik saja. And I never hidden something wrong behind you. So please, trust me. Alright?" tungkas Hanyung – seolah menjawab kecemasan di hati sang istri.

Heechul hanya menganggukkan kepalanya submatif. Tak ingin memperkeruh keadaan pikiran sang suami. Ia lebih memilih untuk memeluk hangat tubuh sang suami dari samping sembari menerawang jauh dari lingkup kesadaraan. Ya, sejenak ia ingin menerbangkan angannya dari bekapan kecemasaan dan lebih memilih untuk percaya terhadap namja yang ia cintai itu.

Berbeda sisi dengan diri Hankyung yang kini terliputi pemikiran yang begitu – rancu. Ia baru saja pulang dari rumah sang dongsaeng tersayang, Donghae. Dan baru saja pula ia selesai memeriksa keadaan sang adik ipar - Hyukkie – yang mendadak pingsan saat berada di balkon bersama Donghae. Namun bukan hal itu yang membuat pikiran Hankyung rancu seperti saat ini.

Seminggu yang lalu, Donghae dan Hyukkie datang ke klinik nya untuk check up rutin yang biasa keduanya lakukan tiap bulan. Check darah, rekap jantung hingga bagian paling complete seperti tomography atau CT Scan keduanya lakukan. Hingga pada akhirnya Hankyung menemukan kejanggalan dari hasil ct scan sang adik ipar – Hyukkie.

Sebuah rongga yang Hankyung sinyalir adalah salah satu organ tubuh berada tepat di samping katung kemih sang adik ipar. Apa yang perlu di khawatirkan? Mungkin hal ini tak perlu di khawatirkan jika sang pemilik hasil check up itu adalah seorang yeoja. Karena sepengetahu Hankyung, namja tak seharusnya memiliki organ tersebut. Sebuah organ yang dimana memungkinkan untuk menjadi tempat kehidupan baru dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Organ yang Hankyung yakini sebagai, , , rahim.

Title :

Love Never Wrong

.

Author :

Meyla Rahma

.

Rated :

T

.

Pairing :

HaeHyuk

and Other Couple

.

Genre :

Romance

.

.

WARNING…!

.

Boy Loves / Boy X Boy

.

M-Preg

.

Miss typo(s)

.

All Cast Is Not Mine.

They owned by themselves and God.

I just loan they name for the necessity of story.

.

It Just a Fiction

So please, Be mature.

.

.

DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!

And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!

DON'T LIKE, DON'T READ..!

JUST CLICK [X] {close} OKAY..?

.

.

.

Happy Reading. . .

.

.

_ooOOooOOooOOoo_

.

.

.

Siang yang cerah melingkupi kediaman seorang pengusaha yang telah menggapai sukses di usianya yang cukup muda. Pengusaha yang kini lebih memilih mengisi harinya untuk berada di rumah dan menikmati kehangatan keluarga kecilnya. Donghae, namja dark brunette itu kini tengah menatap teduh istri dan anak nya yang tengah bermain di ruang keluarga mereka.

Ia memperhatikan tiap gerak Hyukkie dan Eunji yang tengah menyusun sebuah puzzle di atas karpet yang terbuat dari bulu wol yang berada di bawah sofa tempat ia duduk sekarang. Tak jarang ia melihat tingkah sang istri yang dengan telaten mengajarkan Eunji menyusun potongan mosaic tak beraturan itu.

Gaseumi nunmuri tto neoui gieogi

han bangul han bangul

tto nae gaseume heulleo naerinda

Dering ponsel miliknya, sejenak menyadarkan kegiatan yang Donghae lakukan. Detik berikutnya namja itu telah meraih ponsel yang tegeletak tak jauh dari tempat dirinya berdiam. Sebuah nama yang sangat familiar terpampang jelas di layar gadget canggih miliknya itu. Hankyung Hyung.

"Yoboseyo?"

"Ne yoboseyo, Hae. Bagaimana keadaan Hyukkie? Sudah lebih baik kah?" jawab suara di seberang.

"Nde, hyung. Dia sudah jauh lebih baik,"

"Apa dia sudah tak merasa pusing lagi, Hae?"

"Tadi pagi ia sempat merasa pening hingga memuntahkan isi perutnya. Tapi setelah itu dia terlihat baik, hyung,"

". . ."

"Hyung, kau masih di sana?" tanya Donghae setelah tak ada jawaban dari Hankyung selama beberapa saat.

"Huh? Ah, nde aku masih disini Hae-ah,"

"Apa kau yakin kalau hanya tekanan darah Hyukkie saja yang menurun? Lalu kenapa dia sampai merasa mual hingga muntah, hyung?"

"Em, itu mungkin karena efek obat yang aku berikan kemarin. Dia sudah meminumnya kan?"

"Nde, semalam ia sudah meminumnya. Pagi ini juga sudah," Donghae dapat mendengar suara bising kendaraan dari seberang sana, "-kau sedang mengemudi, hyung?"

"Huh? Ah, ya aku sedang di jalan untuk menuju ke Incheon, Hae,"

"Inchoen? Wae?" tanya Donghae penasaran.

"Hyung ingin menemui teman lama hyung di sana. Sudah dulu, ne. Oh jangan lupa, pastikan Hyukkie makan makanan yang kaya serat dan vitamin. Jangan biarkan dia memakan makanan berpengawet. Arraso?"

"Nde, gomawo hyung," ucap Donghae tulus.

"Um, ya sudah kalau begitu. Sampaikan salam hyung untuk istri mu, oke? Anneyeong,"

"Nde, anneyeong. Pipp~"

Donghae memutuskan sambungan telepon dengan sang hyung. Sebuah senyum samar terlukis di wajah tampannya. Ia bahagia karena keluarganya begitu perhatian akan keadaan sang istri yang di cintainya. Pagi tadi sang umma telah meneleponnya untuk menanyakan keadaan sang istri. Dan siang ini, sang hyung juga menanyakan hal yang sama. Setidaknya ia patut bahagia karena keluarganya begitu menyayangi istrinya.

"Nuguya, Hae?"

Suara lembut milik sang istri mengintrupsi pikiran Donghae untuk kembali ke alam sadar.

"Eh? Ah, itu tadi Han hyung, chagi. Dia menanyakan keadaan mu," Donghae meletakkan ponselnya dan mengambil duduk di samping Hyukkie.

"Lalu kau bilang apa?"

"Aku bilang kalau istri ku yang cantik nan manis ini sudah baik – baik saja, berkat perhatian dan cinta dari Lee Donghae," ucap Donghae santai sembari mengecup lembut bibir Hyukkie.

"Aish, jangan seperti ini Hae. Ada Eunji di sini," gumam Hyukkie kesal.

"Memang kenapa? Kau istri ku. Dan Eunji adalah anakku. Kita keluarga bukan?" Donghae mengelus surai blonde sang istri, "-kita keluarga kecil yang bahagia," dengan senyum tulus terpatri di wajah tampannya.

"Nde, Hae. Kita keluarga kecil yang, , , bahagia," Hyukkie tersenyum lembut sembari mengelus surai kecoklatan milik yeoja cilik yang masih sibuk dengan kepingan puzzle di sampingnya.

Sebuah potret bahagia membingkai keluarga kecil milik si bungsu Lee tersebut. Kebersamaan yang entah mengapa membuat dada nya seolah di penuhi buncahan rasa bahagia. Mungkin sudah terlalu lama bagi diri Donghae tidak merasakan indahnya keluarga karena kesalahannya sendiri – di masa lalu.

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

Seorang namja bermata sipit namun bertubuh tinggi tegap, melangkah memasuki sebuah café yang tak terlalu ramai pengunjung. Sebuah amplop bewarna cokelat, tergenggam di sela jemari tangan kanannya. Ia melangkah dengan langkah tegas namun ia terlihat menengok ke beberapa arah. Dan bisa di pastikan jika namja itu tengah mencari keberadaan seseorang.

Langkah namja bernama Lee Hankyung itu terhenti sejenak saat manik sipitnya menemukan sosok yang ia cari. Sesosok namja berjas putih – yang terlihat sedikit lebih tua darinya – yang tengah duduk di ujung ruangan sembari menatap lalu lalang kendaraan dari balik kaca.

"Long time not see, hyung. Sorry, I'm late,"

Hankyung berucap sembari menundukkan sedikit badannya – tanda permintaan maaf – di hadapan seorang namja yang kini tengah menatap ke arahnya. Namja itu tersenyum tipis sebelum berucap,

"Never mind. I know that's a fraction from your habit, Han,"

Namja berwajah tegas nan tampan itu memberi isyarat pada Hankyung untuk mengambil duduk di hadapannya. Seulas senyum ia tunjukkan pada namja yang lebih muda darinya. Namja itu merupakan teman sejawat Hankyung di dunia medis. Jas ia kenakan adalah jas praktek yang juga biasa Hankyung pakai di saat praktek di klinik atau rumah sakit. Sebuah name tag yang tersemat di blazer putih itu mengukir sebuah identitas – Eric Mun.

"Let me remind you to order some drink, Han," ucap Eric sembari melambaikan tangannya pada seorang waiter.

Hankyung hanya tersenyum tipis kemudian memesan secangkir Americano latte sama seperti yang Eric pesan. Jujur saja, Hankyung cukup envy dengan namja berusia 34 tahun itu.

Still full manner.

Itulah yang ada dalam benak Hankyung untuk mendeskripsikan diri Eric baik dulu maupun sekarang.

"Why do you ask me to came to meet you, Han? I think, it should be for something impressive. Am I?" ujar Eric membuka statement.

"Oh please, hyung. Can you stop speaking in English?" Eric memutar bola matanya malas,

"-I know you already stayed in America for a few time. But please, that not make a sense for me," ketika mendengar Hankyung menggerutu kesal padanya.

"Arraso. Kenapa kau menyuruh hyung kemari?" tungkas Eric datar.

"Kau seorang ahli genetic kan, hyung?" tanya Hankyung kemudian.

"Kau meragukan ku?" sahut Eric kesal.

"Aniya. Aku tak mungkin meragukan seseorang yang telah menerima gelar masterpiece semacam dirimu, hyung,"

"So?" tanya Eric dengan alis terangkat.

"Bisa kau beri aku presentase untuk seorang namja yang memiliki rahim di dunia ini?" ucap Hankyung to the point.

Eric meraih cangkir coffee miliknya. Seteguk racikan Americano coffee itu mengalir di kerongkongannya – yang entah mengapa terasa kering. Salah satu alisnya terangkat sembari menatap tajam ke arah Hankyung.

"Waeyyo?" tanyanya menyelidik.

"Huh? Wae, mworago?" tanya Hankyung kembali – dengan tatapan bingung.

"Kenapa kau tiba – tiba menanyakan hal itu?" sebuah seringai kini terpatri di wajah Eric,

"-kau tidak berpikir jika kau adalah salah satu dari namja yang memiliki rahim kan, Han?" sebelum berujar dengan nada jail.

"Aigo, hyung. Bagaimana mungkin kau menebak jika aku akan berpikiran seperti itu?" Hankyung menatap namja di hadapannya dengan tatapan tak percaya,

"-aku masih suka berada diatas, kau tahu," Hankyung berujar dengan nada kesal – tak terima – yang sangat ketara.

"Ish, mianhe. Aku hanya asal menebak. Lalu kenapa kau menyuruhku untuk memberikan presentase semacam itu?" tanya Eric kemudian.

Detik berikutnya, Hankyung terlihat menyodorkan sebuah amplop cokelat yang tadi ia bawa. Eric terlihat menatap kertas pembungkus surat itu dengan pandangan tak mengerti. Namun Hankyung memberinya isyarat untuk membuka amplop tersebut.

"Itu adalah hasil CT Scan adik iparku seminggu yang lalu, hyung," ujar Hankyung pada namja yang kini tengah melihat beberapa lembar photo rekap tomography di tangannya.

"Aku menemukan kejanggalan pada susunan structural organ dalam tubuhnya. Coba kau perhatikan rongga di bagian itu, hyung," Hankyung menunjukkan detail yang ia maksud,

"-setahu ku, tak ada rongga seperti itu dalam tubuh seorang , , , namja," sembari berucap lirih.

Eric memperhatikan lembaran di tangannya dengan seksama. Hankyung tahu jika menunjukkan hasil check up sang adik ipar pada Eric adalah keputusan yang tepat. Bagaimana tidak, Eric adalah seorang ahli genetic dan anatomy tubuh manusia. Secara tidak langsung namja – yang tidak bisa di pungkiri – tampan itu sangat paham akan hal semacam ini.

Hankyung dan Eric mulai berteman saat Hankyung terpilih dalam seleksi pertukaran pelajar ke America saat dirinya menuntut ilmu di China. Pada awalnya Hankyung mengambil bidang hematology (specialist darah) namun berkat dorongan dari Eric, ia akhirnya juga mulai mendalami bidang neurosurgeon (specialist bedah saraf).

"Jadi menurut mu, rongga ini adalah rahim?" tanya Eric.

"Jika kau bertanya pada ku, lalu aku harus bertanya pada siapa untuk mencari jawabannya, hyung," jawab Hankyung sarkas.

"Calm down, Han. Aku tak tahu jika sejak kau menikah dengan Heechul kau jadi tertular penyakit darah tinggi nya," ejek Eric yang hanya di balas dengusan kesal Hankyung.

"Aku tak bisa menjudge hal ini tanpa melakukan USG atau pemeriksaan lanjutan terlebih dahulu, Han," Eric menatap serius Hankyung,

"-tapi kenapa kau bisa beralibi jika bagian itu adalah rahim?" sembari memberi namja bermata sipit itu pertanyaan.

"Ah itu, aku menyamakan hasil tomography itu dengan hasil rekap check up milik umma ku, hyung," Hankyung tersenyum tipis,

"-kau masih ingat jika umma ku adalah salah satu dari wonderful namja kan, hyung?" sembari mengucapkan pertanyaan yang lebih cenderung seperti pernyataan.

"Um, yeah I know that. Kurasa kita sama - sama orang yang beruntung, Han. Karena berada di sekitar orang – orang yang memiliki keajaiban," ucap Eric sembari meneguk coffee nya.

Ya, keduanya memiliki kesamaan dalam kehidupan mereka. Eric dan Hankyung sama – sama memiliki seseorang yang memiliki keajaiban. Jika Hankyung memiliki wonderful umma, maka Eric memiliki wonderful wife. Namja keturunan America – Korea itu memiliki seorang istri yang tak lain adalah seorang namja. Jung Pil Gyo Shin Hyesung.

Shin Hyesung adalah salah satu namja yang juga memiliki keistimewaan seperti Leeteuk. Keduanya sama – sama seorang male pregnancy. Eric menikah dengan Hyesung sekitar 8 tahun yang lalu. Dan kini mereka telah di karunia'i seorang namja cilik bernama Kris.

"Ah, aku sampai lupa. Bagaimana kabar Hyesung hyung dan si kecil Kris? Sudah sebesar apa dia sekarang, hyung?" ucap Hankyung sembari tersenyum tulus.

"Tak ada yang berubah dari Hyesung-ie. Dan untuk jagoan kecil ku dia sekarang sudah tumbuh besar, Han. Dia sangat mirip dengan ku," Eric tersenyum bangga sembari menerawang,

"-walau terkadang, dia tak jauh beda dengan ummanya," sambungnya sembari menghela nafas berat.

Hankyung hanya mampu tertawa geli melihat ekspresi namja yang lebih tua darinya itu. Ia paham betul, apa yang Eric rasakan. Setahunya, Shin Hyesung bukan lah namja kalem yang perhatian selayaknya type uke pada umumnya. Hyesung adalah seorang oncologist (specialist kanker) dan gynecologist (specialist kandungan) yang pernah memenangkan kejuaraan Tae Kwondo di America saat ia menuntut ilmu disana.

Terkadang Hankyung masih belum bisa percaya jika namja semacam Eric yang saat muda terkenal dengan kepribadian 4D nya, mampu menakhlukkan hati seorang Shin Hyesung. Hankyung sungguh belajar banyak dari Eric hingga dia juga bisa menakhlukkan namja semacam Kim Heechul.

"Bagaimana jika kau bawa adik ipar mu ke rumah ku?" ucap Eric membuyarkan lamunan Hankyung sesaat yang lalu.

"Mwo? Waeyyo, hyung?" tanya Hankyung tak paham.

"Aku masih belum bisa menyimpulkan hal ini, Han," Namja tampan itu kembali berkutat dengan lembaran photo hitam di hadapannya,

"-aku perlu melakukan test mendetail. Hyesung-ie bisa membantuku karena dia pakar untuk hal semacam ini," tambahnya sembari menatap Hankyung seruis.

"Geureyyo? Kalau begitu kapan aku bisa ke rumah mu, hyung?"

"Untuk minggu ini, sepertinya aku belum bisa," ujar Eric sembari kembali menyeruput coffee nya.

"Waeyyo?"

"Aku akan ke Jepang untuk memenuhi permintaan liburan dari Hyesung-ie dan Kris. Sudah lama aku tak menyempatkan waktu berlibur dengan mereka karena banyaknya hal yang ku kerjakan," ucap namja berbadan tegap itu dengan nada ramah.

Sekali lagi Hankyung harus mengakui kekagumannya pada sosok yang telah ia anggap bagai hyung nya sendiri itu. Namja berwajah tegas itu begitu menomor satukan keluarganya. Tak peduli apapun, ia akan tetap memprioritaskan kepentingan dan kebahagiaan keluarga kecilnya. Dan Hankyung sangat menghargai hal itu.

"Lalu kapan aku bisa ke rumahmu, hyung?" tanya Hankyung kemudian.

"2 minggu lagi kau bisa datang ke rumah ku," Eric kembali meneguk coffee nya,

"-dan jangan lupa untuk membawa suami adik ipar mu atau lebih tepatnya namdongsaeng mu. Aku tak mau Hyesung mengira kau membawakan ku calon uke kedua," guraunya santai sembari mengedipkan sebelah matanya – jail.

Sedangkan Hankyung hannya menatap cengo tingkah namja di hadapannya. Namun detik berikutnya ia lebih memilih tertawa terbahak. Dia tahu arti dari ucapan namja yang terpaut 4 tahun lebih tua darinya itu. Sebuah arti kata yang hanya bisa tertebak oleh orang – orang macam mereka. Orang – orang yang telah mampu menakhlukkan hati para singa jantan berhati betina.

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

Sebuah mobil audi AX 5 memasuki pelataran halaman sebuah rumah yang begitu asri dan sejuk di pandang mata. Rumah itu bersebelahan dengan sebuah Flower Shop yang tengah tutup mengingat hari ini adalah hari sport mewah itu terbuka setelah terpakir dan memperlihatkan seorang namja brunette yang turun dan berjalan memutar ke pintu di seberangnya.

Donghae membukakan pintu untuk sang istri yang kemudian terlihat keluar dari mobil sembari menggandeng seorang yeoja cilik. Eunji terlihat mulai dekat dengan Hyukkie meski baru 2 minggu keduanya bersama. Terbukti dari erat nya genggaman tangan Eunji pada tautan tangan Hyukkie ketika mereka berjalan bergandengan saat ini. Ketiganya berjalan masuk menuju sebuah rumah milik seorang Lee Hankyung.

Ting Tong~ ~

Bel itu menggemakan bunyi di dalam rumah. Gema pantulan suara benda electronic itu membuat salah satu pemilik rumah berjalan mendekat kea rah pintu utama. Meraih kenop dan membuka daun pintu yang terbuat dari kayu jati pilihan. Sesosok namja berparas putih ayu menyambut kedatangan keluarga kecil Donghae.

"Anneyeong, hyung," Dongha menyapa kakak ipar nya yang telah membukakan pintu.

"Oh, Hae, Hyukkie. Kalian sudah datang rupanya," Heechul tersenyum lembut, "Eunji – ah, apa kabar, chagi?" Heechul mengelus pipi gadis cilik itu sembari berjongkok.

Eunji terlihat menghindar dan bersembunyi di balik tubuh Hyukkie. Hal itu mengundang senyum geli dari diri ketiga namja dewasa itu.

"Aigo~ Eunji malu, ne?" Heechul berdiri lagi, "-perasaan baru dua minggu ia tinggal bersama kalian. Tapi sekarang dia terlihat sudah begitu dekat dengan mu ne, Hyukkie?" sembari bertutur gurau.

"Tentu saja, hyung," Hyukkie mengelus lembut rambut yeoja cilik di sampingnya, "-dia kan sekarang telah menjadi anak ku," sembari berucap lembut.

Donghae dan Heechul hanya bisa menatap teduh pemandangan di hadapan mereka. Sikap lembut seorang Lee Hyukjae selalu bisa membuat siapa saja jatuh hati pada namja ber gummy smile itu.

"Cha, Hannie sudah menunggu kalian di dalam. Masuk lah~" Heechul memberi jalan bagi Keluarga kecil itu untuk memasuki kediamannya.

Ketiga namja beserta seorang yeoja cilik itu masuk ke dalam rumah bernuansa healing tersebut. Mengingat sang pemilik rumah adalah seorang dokter – maka nuansa healing adalah hal yang sangat sepadan.

"Hannie~"

Heechul menghampiri sang suami yang tengah membaca sebuah majalah di ruang tamu. Sebuah suara yang sangat familiar mengintrupsi diri namja bermata sipit itu hingga mengalihkan pandangan dari bacaannya.

"Omo~ kalian sudah datang rupanya," Hankyung berdiri sembari menutup majalahnya.

"Nde hyung, bagaimana kabar mu?" ucap donghae setelah memberi sang hyung sebuah pelukan singkat.

"Sama seperti saat terakhir kali kita bertemu," ucap Hankyung sembari tersenyum lembut.

Keempat nya kini mengambil duduk di sofa yang ada di ruang tamu tersebut. Sejenak bersenda gurau menikmati kebersamaan hyung dan dongsaeng. Bahkan Wookie turut bergabung sesaat setelah mendengar suara gelak tawa di rumah milik kakak iparnya itu.

"Jadi, Yesung hyung sedang pergi ke café miliknya?" tanya Donghae.

"Nde, Hae. Ia berangkat tadi pagi. Semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan menu baru di café," jawab Wookie.

"Menu baru? Kalau boleh aku menebak, pasti kau yang menciptakannya kan, Wokkie?" kali ini Hyukkie yang ambil suara.

"Nde, Hyukkie. Memang siapa lagi? Sung-ie? Yang ada bukan masakan yang ia buat,"

"Tapi racun," tambah Heechul yang di sambut gelak tawa semua orang di sana.

Donghae menatap sekilas Hankyung. Seolah memberi kode untuk segera bergegas pergi ke suatu tempat.

"Cha, hari ini biar Chullie yang menjaga Eunji untuk kalian berdua," Hankyung menatap sang istri, "-kau tak keberatan kan, chagi?"

"Aniya. Tentu saja tidak," Heechul beralih menatap gadis cilik di pangkuan Hyukkie, "-Eunji, ikut ajhumma ne?" sembari berucap ramah.

Yeoja kecil itu bukannya menjawab namun malah semakin merapat ke pelukan Hyukkie. Ia masih belum terbiasa dengan orang – orang baru di sekitarnya. Dan untuk hal itu, Heechul sangat memahaminya. Karena ia tahu jika Eunji menderita trauma akan social adaptation yang memungkian diri yeoja kecil itu bungkam diri hingga kini.

"Eunji chagi~ ikut sama Chullie ajhumma dulu ne," Hyukkie berucap lembut, "-nanti Eunji bisa main di taman bunga milik Chullie ajhumma. Eunji kan suka bunga, ne?" sembari mengelus surai kecokelatan milik Eunji.

"Um," Eunji mengangguk submatif.

"Hae appa dan Hyukkie ajhumma mau pergi sebentar," Eunji menatap Hyukkie, "-nanti kalau sudah selesai, kami akan menjemput Eunji, arachi?" yang kini tengah mengusap lembut rambutnya.

Sejujurnya hati Hyukkie masih terasa miris saat harus melihat Eunji yang masih belum mau berbicara pada siapapun. Tapi ia cukup bersyukur karena yeoja cilik itu masih mau berdekatan bahkan menerima keberadaan dirinya dan sang suami – Donghae.

"Cha, sekarang Eunji ikut Wookie ajhumma ke halaman belakang, ne?" kali ini Wookie yang berucap sembari mengulurkan tangannya di hadapan Eunji.

Perlahan jemari kecil anak kandung Donghae itu meraih tangan Wookie dan menggenggamnya dalam sebuah gandengan tangan. Detik berikutnya, keduanya telah berjalan meninggalkan ruang tamu dan melangkah menuju halaman belakang. Keempat namja yang berada di ruang tamu itu, menatap kepergian Wookie dan Eunji dalam diam.

"Kenapa kau tak membiasakan Eunji untuk memanggilmu umma, Hyuk?" tanya Heechul memcah kesunyian.

"Huh? Ah itu hyung, aku hanya tak ingin memaksanya. Lagi pula, Eunji yang sudah mau menerima keberadaan ku saja itu sudah cukup," ucap Hyukkie sembari tersenyum lembut.

Donghae yang berada di sampingnya, tidak bisa untuk tidak memeluk hangat sang istri tercinta. Perkataan Hyukkie barusan sungguh membuat hati para namja di ruangan itu terenyuh atas ketulusan hati namja bergummy smile itu.

"So, apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Hankyung.

"Terserah padamu, hyung," ucap Donghae, "-Chullie hyung juga ikut kah?" sembari mengalihkan pandang kepada kakak iparnya.

"Ani, Hae. Hyung sedang kurang enak badan,"

"Omo~ hyung sakit?" tanya Hyukkie khawatir.

"Aniya, hyung hanya sedikit pusing. Kurasa sedikit istirahat, akan segera membuat hyung pulih, Hyukkie-ah," jelas Heechul sembari tersenyum lembut ke arah Hyukkie.

"Oh, kalau begitu kau lebih baik segera istirahat, hyung," Donghae berdiri dari duduknya, "-kami akan berangkat sekarang,"

Keempat namja dewasa itu berdiri dari tempat duduk mereka dan segera melangkah menuju pintu keluar.

"Kita pakai mobil ku saja, hyung," ucap Donghae sembari membuka pintu.

"Oh, ne. Biar aku yang mengemudi kalau begitu," sahut Hankyung.

"Hyung, aku titip Eunji, ne?" ucap Hyukkie sembari menggenggam tangan halus Heechul.

"Aigo~ tentu Hyukkie. Kau tak perlu khawatir. Dia aman bersama aku dan Wookie," balas Heechul sembari tersenyum lembut.

"Kau tak perlu khawatir, chagi," Donghae mengelus lembut pucuk kepala Hyukkie, "-Eunji akan baik – baik saja bersama Chullie hyung dan Wookie," berusaha menenangkan hati sang istri.

Detik berikutnya, Donghae dan Hyukkie memasuki mobil bewarna putih yang terpakir tak jauh di halaman – meninggalkan Hankyung yang masih berdiri di depan pintu bersama sang istri.

"Masuklah~ Istirahat dan jangan lupa minum vitamin yang tadi sudah aku siapkan, arra?" tutur Hankyung sembari mengelus sisi wajah Heechul yang bersemu merah.

"Aish, aku bukan anak kecil, Han," balas Heechul kesal.

"Arraseo, kalau begitu aku pergi dulu," Hankyung mengecup lembut dahi sang istri, "-anneyeong~" lalu beranjak menuju mobil sang adik.

Hankyung melangkah masuk di kursi kemudi dan mengemudikan Audi A5 itu meninggalkan halaman rumahnya. Perjalanan mereka kali ini mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Mengingat jarak antara Seoul dan Ilsan yang cukup jauh. Dan Hankyung menyarankan pada Hyukkie untuk beristirahat sejenak.

"Kenapa kita harus ke rumah Eric hyung? Maksudku, kita kan bisa langsung melakukan tes di rumah saikit, hyung," ucap Donghae pelan – takut membangunkan sang istri yang terlelap dan bersandar di pundaknya.

"Eric hyung menginginkan untuk menganalisis secara detail. Dan ia hanya akan merasa nyaman, jika ia menganalisis di rumahnya sendiri. Bersama sang istri," ujar Hankyung sembari menatap Donghae dari kaca mobil yang tergantung di atas.

"Lalu apa kau tak bisa menganalisis hal ini sendiri. Kau kan seorang dokter specialist juga, hyung," tambah Donghae.

"Hyung memang seorang specialist, Hae," Hankyung menatap lurus jalanan yang lengang di hadapannya,

"-tapi tidak untuk hal ini,"

Donghae hanya mengangkat sebelah alisnya – bingung. Namun ia lebih memilih diam dan tidak melanjutkan percakapan – yang sebenarnya masih membuat dirinya penasaran.

Sejam sudah mobil sport mewah itu melaju membelah jalanan kota seoul yang tak seberapa padat – mengingat hari ini adalah hari libur. Hyukkie sudah terbangun dari tidurnya dan kini tengah menatap pemandangan asri yang menyejukkan mata. Karena kini mereka telah memasuki kawasan perumahan Ilsan.

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

Mobil keluaran versi limited edision itu kini memasuki sebuah perkarangan rumah dengan nomor pagar – EM. 15/SH setelah di bukakan pagar oleh salah seorang security penjaga rumah.

Terlihat ada seorang namja bertubuh kekar yang tengah berjongkok di hadapan tanaman yang tersusun rapi ketika Hankyung dan kedua dongsaengnya memasuki halaman rumah yang cukup megah itu.

Bisa di pastikan jika namja yang sedang berjongkok tadi itu tengah melakukan kegiatan berkebun ringan di bawah paparan sinar matahari. Tak jauh darinya, ada seorang namja kecil dengan paras tampan yang tengah menendang sebuah bundaran kecil mengelingi halaman yang bisa dibilang sangat luas itu.

Hankyung menghentikan mobilnya di jalanan setapak yang melintang diantara luasnya halaman rumah itu. Detik selanjutnya, Hankyung memilih turun terlebih dahulu yang kemudian di susul oleh Donghae dan Hyukkie dari kursi penumpang.

"Anneyeong hyung," ucap Hankyung sembari berjalan menuju Eric yang menyambutnya dengan jabat tangan dan pelukan singkat.

"Kenapa kau baru datang hingga sesiang ini?" gurau Eric.

"Mian, hyung. Tadi mereka sempat singgah sejenak di rumah ku," ucap Hankyung, "-dan kenalkan hyung, ini Donghae adiku dan itu Hyukkie adik ipar ku," sembari memperkenalkan Donghae dan Hyukkie pada Eric.

Ketiganya saling berjabat tangan dan sejenak terlihat tertawa karena gurauan yang meluncur dari mulut Eric. Beberapa saat kemudian, ketiganya melangkah memasuki rumah. Dan berhenti di teras saat mereka melihat sosok lain yang tengah membaca buku dengan serius hingga tak menyadari kehadiran tamu di kediamannya.

"Yeobo~"

Panggilan Eric memecahkan konsentrasi namja bersurai dark chocolate tersebut dan kemudian terlihat mengalihkan padangannya ke asal suara. Orbs bening di balik kacamata bacanya sedikit terbelalak menyadari kehadiran tamu di rumahnya.

"Han-Hankyung?" ucapnya ragu.

"Nde hyung, aku Hankyung," jelas Hankyung yang langsung di sambut pelukan hangat dari namja bertubuh langsing tersebut.

"Aigo~ lama sekali aku tak berjumpa dengan dirimu. Bagiamana kabarmu, Han?" ucap namja bernama Hyesung itu.

"Aku baik, hyung," Hankyung tersenyum ramah.

Hyesung mengalihkan padangannya pada sosok lain di sebelah Hankyung.

"This is your brother?" tanya Hyesung.

"Nde hyung, ini adiku Donghae,"

"Anneyeong hyung, Donghae imnida," ucap Donghae sembari berjabat tangan dengan Hyesung.

"Oh Donghae, kau tak jauh beda rupa dengan hyung mu," Hyesung melirik sosok di samping Donghae, "-and this?"

"Dia istri ku, hyung. Lee Hyukjae," jelas Donghae.

"Ow, anneyeong Mrs. Lee," gurau Hyesung.

"Nde, anneyeong hyung. Hyukkie imnida," tutur Hyukkie sembari menyambut tangan Hyesung untuk berjabat tangan dengan wajah tersipu akibat gurauan Hyesung.

"Aigo~ istrimu manis sekali, Hae," puji Hyesung.

"Tentu saja, hyung. Dia adalah yang paling sempurna yang pernah ku miliki," jawab Donghae bangga.

Hyukkie hanya bisa tertunduk diam dengan wajah yang mulai memerah karena tersipu dengan ucapan suaminya yang terlalu membangga. Ia semenjak tadi hanya terdiam karena terkesima dengan namja yang baru saja berkenalan dengannya. Hyesung.

Namja berkaki jenjang itu menyambut Hankyung, Donghae, dan Hyukkie dengan begitu ramah. Untuk beberapa detik diawal, Hyukkie sempat terhenyak dengan aura yang menguar dari diri Hyesung. Namja berkontur wajah yang kecil itu memiliki aura keibuan yang begitu ketara. Dan Hyukkie sangat bisa merasakannya.

"Mom~"

Sebuah suara mengintrupsi percakapan kelima namja dewasa tersebut. Terlihat sesosok namja cilik kini tengah menarik bagian bawah kaos Hyesung. Dan di sisi lain membuat kening Hyukkie berkerut. Mom? Apa mungkin dia anak Hyesung hyung? batin Hyukkie bingung.

"I'm hungry~," ucap namja itu manja.

Namja kecil yang bernama Kris itu menatap ibunya dengan pandangan penuh harap. Detik berikutnya sepasang tangan kekar mengangkat tubuh kecilnya ke dalam sebuah koala hug.

"Aigo~ are you hungry, champ?" tanya Eric.

"Yes, dad. Can we have a lunch right now?" tanya bocah kecil itu dengan tatapan penuh harap.

"Okay, I'll be preapare a lunch for you, dear," kali ini Hyesung yang berkata sembari mencubit gemas hidung bangir sang anak.

"Yeah~ Mom is the best," sorak Kris sembari mengangkat kedua lengannya gembira.

Kelima namja dewasa itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah bocah berusia 7 tahun itu.

"Cha, lebih baik kita masuk ke dalam. Kalian harus ikut makan siang bersama kami," Hankyung hendak bersuara, "-dan itu wajib," sebelum kemudian terpotong ucapan Hyesung.

Donghae dan Hyukkie hanya bisa tersenyum geli saat melihat Hankyung yang menghela nafas berat.

"Oke, champ. Ayo kita masuk sekarang~" sorak Eric sembari mengubah posisi sang anak menjadi bergelayut dalam gendongan di punggungnya.

Namja berbadan kekar itu memasuki rumahnya dengan riuh suara baik dari mulut Kris maupun Eric yang tengah asyik menirukan gerakan pesawat terbang. Namun sebuah suara yang cukup keras mengintrupsi kegiatan ayah dan anak itu.

"YAH~ Mun Jung Hyuk," Hankyung, Donghae dan Hyukkie tersentak,

"-kalau sampai kau membuat Kris terluka, akan ku PATAHKAN LEHERMU.!" karena teriakan merdu dari seseorang di dekat mereka.

Suasana menjadi sedikit awkward sesaat setelah Hyesung mengintrupsi sang suami. Namun tak lama kemudian terdengar teriakan balasan dari Eric dan Kris yang berada dalam rumah.

"Sorry Mom~"

Ketiga tamu itu hanya bisa cengo dengan adegan unik yang baru saja terjadi dihadapan mereka. Yang paling kaget dengan hal itu adalah Hyukkie. Jujur saja, ia tak pernah melihat seorang istri yang berani meneriaki suami nya dengan nama aslinya ketika sedang kesal. Paras ayu yang di miliki Hyesung ternyata sangat berbanding terbalik dengan sifat yang seharusnya dimiliki para istri semestinya.

"Cha~ kita masuk sekarang, ne," ucap Hyesung sembari tersenyum lembut – berbanding terbalik dengan aungan yang beberapa saat yang lalu ia gelegarkan.

Hankyung, Donghae dan Hyukkie segera masuk ke dalam rumah – sesuai intrupsi sang pemilik. Rumah itu memang tak jauh lebih besar dari rumah Donghae – yang kelewat sangat besarnya. Semua perabotan tersusun rapid an bersih. Hankyung tentu saja tak heran melihat itu, karena setahunya hyesung adalah pecinta kebersihan.

Ketiganya kini melangkah menuju ruang makan. Dekorasi ruang yang modern namun tetap berkesan classic menyambut ketiga namja yang kini tengah mengambil duduk di bangku meja makan. Namun beberapa saat kemudian, Hyukkie memilih untuk melangkah kearah dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan.

"Ada yang bisa ku bantu, Hyung?" tanya Hyukkie pada Hyesung yang tengah memunggunginya di depan meja dapur.

"Ah, Hyukkie. Aniya, aku sudah menyiapkan semuanya tadi pagi. Sekarang tinggal memanasinya saja ke dalam microwave," ujar Hyesung sembari berbalik badan dan Hyukkie sesaat setelah memasukan makanan ke dalam microwave.

Hyukkie mengedarkan pandangannya menelinsik setiap sudut dapur. Mungkin karena naluri keukean yang ia miliki terlalu kental, ia lebih tertarik dengan eksotica yang terpatri di ruang untuk memasak itu. Perhatiannya tertuju pada sebuah freezer yang di letakkan menggantung seperti rak gantung pada umumnya.

Bukan kemewahan kulkas pendingin itu yang menarik perhatian Nyonya Lee itu. Namun isinya. Tempat pendingin itu di desain transparan, sehingga memungkinan seseorang untuk dapat melihat secara langsung isinya. Dan di dalam lemari pendingin milik keluarga Mun yang panjangnya hampir 1,5 meter itu adalah,

Wine.

"Kau tak perlu kaget jika menemukan banyak persediaan wine di rumah kami, Hyukkie-ah,"

Sebuah suara yang berasal dari Eric yang memasuki dapur mengintrupsi kegiatan mari-memandangi-dapur yang beberapa saat lalu Hyukkie lakukan.

"Istriku yang tak suka disebut cantik ini adalah seorang boozer sejati, Hyukkie-ah," ucap Eric sembari meraih pinggang sang istri yang tengah mengelap beberapa piring.

Hyukkie hanya bisa sedikit membelalak kaget. Ia bukan orang bodoh. Kemampuan untuk bahasa asingnya lumayan mumpuni. Dan ia tahu sebutan boozer adalah untuk seseorang yang gemar mengkonsumsi alcohol alias pemabuk.

"Jeongmalyyo?" ujar Hyukkie refleks.

"Nde, bahkan saat aku hamil Kris sekalipun. Aku masih sering mencuri – curi kesempatan untuk menikmati segelas wine saat Eric pergi praktek ke rumah sakit," sahut Hyesung dengan senyum yang terkesan childish.

"Ha-hamil?" ujar Hyukkie sedikit tergagap.

"Nde, Kris adalah darah daging kami, Hyukkie. Dan dia lah yang melahirkan Kris ke dunia ini," jawab Eric sembari mengecup lembut pelipis kanan sang istri.

Untuk sejenak Hyukkie seakan masih belum bisa menangkap maksud perkataan Eric yang telah jelas mengatakan jika Hyesung adalah seorang male pregnancy. Dan sisi lain, Hyesung yang pada nyatanya bukanlah penyuka skinship dengan segera mendorong tubuh kekar sang suami di sampingnya.

"Aish, tak bisakah kau tak sembarangan menciumku?" ucap Hyesung kesal.

"Aigo yeobo, kau kan istriku. Mana ada larangan untuk mencium istri sendiri di Negara kita ini?" timpal Eric – tak jelas.

"Aish, kau ini. Bawa ini ke meja makan. Palli~" gerutu Hyesung sembari mendorong sang suami agar membawa sup kepiting yang baru saja selesai ia panaskan.

"Yah, yeobo~"

"Palliyyo~ atau ku tendang kau," ancam Hyesung sadis.

Hyukkie hanya mampu menatap cengo adegan 'mesra' pasangan suami istri di hadapannya itu. Sungguh ia tak pernah melihat seorang istri yang bisa begitu annoying bahkan pada suaminya. Ia berpikir jika Heechul adalah sosok istri yang annoying. Ternyata, masih ada yang lebih darinya.

'Setidaknya hubunganku dengan Donghae lebih baik. Walau aku sering mengomelinya,' batin Hyukkie.

Suasana di ruang makan kali ini cukup ramai dengan celoteh Kris yang bercerita banyak hal kepada Hankyung. Kris cukup akrab dengan Hankyung. Bahkan ia juga mulai dekat dengan Donghae. Jujur saja, Donghae cukup kagum dengan speech yang di kuasai bocah yang baru berusia 7 tahun itu. Bocah cilik itu bahkan bisa mengemix antara english dan hangul dalam sebuah statement.

"Can you go to your room right now, champ?" ujar Eric sembari mengelus pucuk kepala sang anak.

"Why dad? Aku masih ingin bercerita banyak hal bersamaHan ajhussi dan uncle Donghae," sanggah Kris dengan ekspresi kesal yang lucu.

"Appa dan Umma mau berbicara dengan mereka, so please go back to your room, arrachi?" jelas Eric sabar.

"Tapi Dad,-"

"Kris Mun~" kali ini Hyesung yang bersuara dengan nada penuh dicta.

"Okay Mom, I got it," ujar Kris lesu.

"Hey champ, we can talk and play again next time, alright?" ucap Donghae sesaat setelah melihat aura muram di wajah namja cilik itu.

"Are you really, uncle?"

"Of course, boy," Donghae tersenyum tulus, "-High five~" sembari berhigh five ria dengan namja kecil berparas tampan itu.

Sepeninggal bocah cilik itu, kini ruang makan telah di sulap seperti ruang meeting bagi kelima namja dewasa yang berada di sana. Secangkir green tea berada di hadapan masing – masing namja. Dan jangan lupakan tiramisu yang berdiri kokoh di tengah meja makan. Jangan katakan itu berlebihan, mengingat tak ada kata berlebihan dalam kamus keluarga Mun.

"Eric hyung, boleh aku bertanya suatu?" tanya Donghae – membuka obrolan.

"Malhaebwa," balas Eric kalem.

"Aku pikir luas rumah mu ini lebih besar dari kediamanku, hyung," Eric mengangguk pelan,

"-tapi yang membuatku bingung, kenapa kau tidak membangun rumah ini menjadi bertingkat. Bukankah itu akan terlihat lebih baik?" saat mendengar perkataan Donghae.

"Dan membiarkan ada 'tangga' di dalam rumah ku? Never.!" tungkas Eric tegas.

Mendengar hal itu, baik Donghae maupun sang istri – Hyukkie – hanya mampu saling menatap dengan ekspresi bingung yang sulit di sembunyikan. Melihat hal itu sang nyonya rumah, hanya mampu tersenyum geli.

"Aku pernah mengalami insiden kecil dengan tangga, Hae-ah. Dan karena hal itu, Eric menjadi overprotective terhadap aku. Hingga ia lebih memilih membangun rumah yang besarnya abnormal seperti ini," jelas Hyesung sembari melirik tajam sang suami di sampingnya.

"Insiden kecil, kau bilang?" Hyesung menatap malas sang suami,

"-aku hampir kehilangan dirimu hanya karena tangga sialan di rumah kita dulu, dan kau sebut itu insiden kecil?" ketika mendengar celoteh kesal Eric.

"Aish, kau ini. Ada para dongsaeng mu disini.! Tak malukah kau dengan sikap kekanakan mu itu?" balas Hyesung kesal.

"Ani," jawab Eric singkat.

Hankyung, Donghae ataupun Hyukkie hanya mampu terkikik geli dengan kemesraan yang di tunjukan pasangan suami istri d hadapan mereka itu. Kehangatan yang mereka tunjukan sangatlah berbeda dengan pasangan pada umumnya. Cerca bahkan hinaan yang sering di lontarkan Hyesung terhadap Eric seolah menjadi ucapan sayang tersendiri bagi orang – orang yang mendengarnya.

"So, apa yang ingin kalian diskusikan dengan kami?" ujar Hyesung – membuka topic baru.

"Aku pikir Eric hyung pasti sudah menjelaskannya padamu kan, hyung?" uja Hankyung penuh makna.

Hyukkie dan Donghae hanya bisa menjadi pendengar dari kalimat ambigu para dokter di sekitar mereka. Bukan tak ingin ambil pusing, tapi karena pasangan suami istri itu memang tak tahu jika Hankyung telah menyerahkan hasil CT scan milik Hyukkie pada pasangan dokter di hadapan mereka itu.

"Oh itu, tentu aku sudah melihatnya, Han. Dan kurasa Eric pasti sudah menjelaskannya padamu sebelumnya, jika kami perlu melakukan pengetesan mendetail ulang terhadap nya," jelas Hyesung.

"Arraseo hyung," Hankyung menatap adik iparnya, "-Hyukkie-ah, maukah kau melakukan tes tomography ulang dengan Eric hyung dan Hyesung hyung?" dan menanyai namja yang duduk di samping adiknya itu.

Eunhyuk tampak menatap Donghae ragu, "Semua akan baik – baik saja, chagi. Belive me~" ucap Donghae menenangkan.

"Arraseo hyung, aku mau tes ulang," jawab Hyukkie yakin.

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

Kelima namja dewasa itu segera bergegas menuju keruangan lain sesaat setelah mendengar persetujuan Hyukkie atas tes ulang. Eric memimpin keempat lainnya menuju tempat tujuan mereka. Sejenak pikiran Donghae, Hyukkie bahkan Hankyung sedikit tercengang dengan keberadaan sebuah benda di dalam rumah pasangan dokter itu.

"Lift capsule?" ujar Hankyung tak percaya.

"Huh? Wae? Kau berpikir aku akan membiarkan Hyesung keluar masuk lab dengan menggunakan tangga? Never, Han.!" tegas Eric sembari menekan tombol pada sisi kiri lift.

Kelima namja dewasa itu memasuki sebuah ruangan yang terhubung oleh lift yang membawa mereka tadi. Hyesung dan Eric membawa Hyukkie masuk kedalam sebuah ruangan khusus untuk melakukan tes mendetail semacam tomography. Berseberangan dengan ruangan itu, ada sebuah ruangan kecil yang berisikan beberapa sofa dengan rak – rak buku yang mengitari. Dan ditempat itu lah Donghae dan Hankyung menunggu pasangan dokter yang tengah melakukan tes.

Hampir satu jam keduanya menunggu pasangan suami istri itu keluar dari ruang pemeriksaan. Hingga pada akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan menampakan Hyukkie yang telah berganti dengan pakaian serba putih yang ia gunakan saat melakukan CT scan.

"Han hyung, Eric dan Hyesung hyung memintamu untuk masuk kedalam menemani mereka," ucap Hyukkie pada sang kakak ipar.

"Aku? Waeyo?"

"Molla hyung, mereka memintaku untuk memanggilmu. Itu saja," jawab Hyukkie sembari meraih uluran tangan sang suami.

"Arraseo, kalian tunggu disini sebentar," timpal Hankyung sebelum melangkah masuk kedalam ruang pemeriksaan.

"Apa yang terjadi, baby?" tanya Donghae khawatir.

"Mollayo Hae, mereka hanya menyuruhku keluar untuk memanggil Hankyung hyung sesaat setelah selasai proses CT scan," Hyukkie menatap Donghae ragu, "-aku akan baik – baik saja kan, Hae?" sebelum berujar lirih.

"Tentu, baby," Donghae meraih tubuh sang istri, "-aku yakin kau akan baik – baik saja, percayalah~" sembari membelai lembut surai blonde dan mengecup lembut pucuk kepala Hyukkie.

Donghae masih berusaha menenangkan kekhawatiran yang tengah menyelimuti hati sang istri. Di sisi lain sang hyung – Hankyung – tengah berhadapan dengan pasangan dokter yang baru saja memeriksa adik iparnya beberapa saat yang lalu. Dan kini, ia dihadapkan dengan lembaran foto hitam yang ia tahu jika itu adalah hasil dari proses tomography.

"So, apa statement yang ku sampaikan 2 minggu yang lalu itu benar adanya, hyung?" tanya Hankyung.

"Kau bisa lihat itu, Han," Hyesung menunjukkan detail pada foto dihadapann mereka,

"-Hyukkie memiliki membrance yang menyekat bagian pounch urine dan bisa kau lihat jika membrance itu membentuk sebuah canister baru yang bisa kita pastikan jika itu adalah uterus," sembari memberikan penjelasan.

"Jadi kita bi-"

"Aku belum selesai, Han," potong Hyesung.

"Perhatikan bagian ini," Hyesung menunjuk sebuah titik.

Hankyung memandang dengan seksama kearah yang di tunjuk istri dari patner di dunia medis nya itu. Manik sipitnya tiba – tiba melebar menyadari sebuah bentuk yang ia kenali. Walaupun ia bukan seorang ahli kandungan, tapi ia tahu apa yang kini ia lihat. Dan hal itu cukup memberinya alasan untuk berbicara tergagap.

"I-ini, , , astaga,"

Ruang pemeriksaan itu terbuka dan menampilkan 3 namja yang keluar dari dalamnya. hyesung memilih duduk di samping Hyukkie di sofa besar. Sedangkan Hankyung, Eric dan Donghae duduk di masing – masing single sofa.

"Otthoke hyung? Semuanya baik – baik saja kan? Aku sehat kan hyung?" ujar Hyukkie memberondongi namja yang kini tengah duduk di sampingnya.

"Calm down, chagi," Hyesung menepuk pelan bahu Hyukkie, "-kami akan menyampaikan sesuatu padamu, , , juga Donghae,"

"Waeyo hyung? Tidak terjadi apa – apakan dengan istriku, hyung?" kali ini Donghae yang bertanya penuh kekhawatiran.

"Tenanglah, Hae," tutur Eric kalem.

"Hyukkie, kau tahu dengan istilah male pregnancy, ne?"

"Nde hyung, namja yang memeliki rahim dan bisa melahirkan sama seperti yeoja pada umumnya," jawab Hyukkie "-ummaku dan umma Hae adalah salah satu dari namja yang memiliki keistimewaan itu," tanpa memalingkan pandangannya dari sorot mata Hyesung.

Sejenak, Hyesung menatap Eric dengan tatapan ambigu. Seolah menemukan kunci dari sebuah peti yang terdapat di pikiran mereka beberapa saat yang lalu.

"Nde georuchyo, umma mu dan umma Hae adalah salah satudari wonderful namja di dunia ini," Eunhyuk terbelalak, "-termasuk hyung dan, , kau Hyukkie," kala mendengar penuturan Hyesung.

"Ma-maksud hyung?"

"Kau adalah salah satu dari minoritas namja yang memiliki rahim di dunia ini, Hyukkie," kali ini Eric yang angkat bicara, "-dan kini kau tengah mengandung embryo berusia 18 hari,"

"Embryo? Janin? Maksudku, , anakku?" Donghae menatap penuh ketidak percayaan.

"Ne Hae, 2 minggu yang lalu hyung membawa hasil ct scan Hyukkie ke Incheon untuk ku tunjukkan pada Eric hyung," Hankyung menatap sang adik, "-dari awal hyung sudah mengira, jika Hyukkie itu sama seperti umma kita,"

Sejenak ruangan itu menjadi hening. Banyak pikiran atau bahkan rasa tidak percaya yang tengah menyelimuti pikiran dua tokoh utama kita. Donghae dan Hyukkie.

"Jadi intinya, aku adalah salah seorang male pregenancy dan sekarang aku tengah mengandung janin berusia 18 hari begitu, hyungdeul?" kali ini sang tokoh utama pembicaraan yang ambil suara.

"Kita bisa menyimpulkan hal tersebut adalah benar adanya," timpal Eric.

Donghae terihat tersenyum tulus kepada Istri yang berada di hadapannya. Ia mencoba meraih dan menggenggam erat jemari lentik namja yang telah menjadi istri dan bahkan mungkin calon ibu dari anaknya kelak.

"Tapi ada suatu hal penting yang kalian harus ketahui,"

Hankyung memecah kehangatan yang dicipta sang namdongsaeng dan adik iparnya itu denga suara yang berkesan penuh kesedihan. Detik berikutnya ia meletakan sebuah foto hasil ultrasonografi di atas meja di hadapan kelimanya.

"Apa ini hyung?" tanya Donghae.

"Itu adalah rekam gambar embryo yang ada di dalam rahim Hyukkie," Donghae manatap Eric,"-dan embryo itu mengalami keterlambanan dalam perkembangannya,"

"Maksud hyung?" Donghae semakin bingung.

"Membrance rahim yang dimiliki Hyukkie, bisa dikatakan sangat lemah," Eunhyuk tersentak, "-hal ini akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan embryo yang ada didalamnya. Hyukkie memiliki dorsal dan vertal yang tipis. Ini akan menyebabkan perkembangan janin yang lambat," saat Hyesung menjelaskan secara detail.

Hyesung bisa melihat genggaman tangan Hyukkie pada Donghae yang semakin menguat. Ia tahu jika hal ini akan sangat mengejutkan bagi namja skinny itu. Tapi bagaimanapun ini adalah jalan yang terbaik – setidaknya untuk kesehatannya sendiri nanti.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini, hyung?" tanya Donghae sembari menggenggam erat jemari sang istri – berusaha menenangkan hatinya.

"Aku tahu mungkin ini akan mengecewakan kalian, tapi kurasa inilah jalan terbaik untuk saat ini," Hyesung menatap nanar Hyukkie,

"-kau harus menggugurkan kandunganmu, Hyukkie-ah,"

Kata – kata Hyesung seolah menjadi badai yang datang diawal musim semi. Padahal baru beberapa saat yang lalu Hyukkie mendengar kabar bahagia, jika ia tengah mengandung darah daging sang suami – Donghae. Dan kini, ia harus menerima kenyataan jika ia harus menggugurkan janin yang baru berusia belasan hari di perutnya. Tuhan memang tak pernah adil. Begitulah batin Hyukkie.

Entah harus dimulai darimana ia berucap. Yang pasti kini tubuh namja skinny itu tengah bergetar dengan wajah tertunduk dalam. Lelehan air mata tak lagi mampu ia bending. Sungguh, ia tak ingin kehilangan apa yang tengah tumbuh di dalam badannya itu. Baru saja ia hendak merancang mimpi untuk keluarganya, namun kini semuanya harus luluh lantak.

"Haruskah aku menggugurkan janinku, hyung?"

.

.

To Be Continue. . .

.

.

Anneyeong Chingudeul, Long time no see~

Did you miss me..? #plak

Maap ya, lagi - lagi (*baca : SELALU*) up-datenya Ngaret. . :D

Mohon maklum, Mey juga baru sembuh. Aliasnya sih pengen cepet2 namatin FF Mey terus cabut dari FFn gitu #plak

Tapi apa daya, Mey paling males *pake bgt* kalo uda disuruh ngetik. Pundak masih suka ngilu #gakDaYgNanya

.

Ini Mey kasih kelanjutan FF yang uda hampir 7 bulan Mey diemin(?)

Total kurang lebih ada 7000 words buat chap ini. Masih kurang panjang kah? Panjangin sendiri *merong~* #abaikan

.

Buat yg tanya kapan FF Mey yg lain di lanjut, maka jawabanya cuma satu yang pasti,

"Tunggu Keajaiban, Ne?" #dilempar kelaut

Serius ya, Mey ga bisa janji kapan bisa up-date FF yg lain,

Pokoknya entar kalo up-date, pasti Mey bakal Promote dulu di FB Mey,

yg pengen tahu FB Mey, buka ajaProfileMey di FFn ini. Disitu ada link FB Mey, (^_^)

.

Kalo pada bingung kok ada couple baru di FF ini, jgn kaget ne, karna Mey demen banget ma RicSyung copel. Bahkan dri ngenal HaeHyuk. Bukan niat banding2'in, cuma Mey kenal copel ini lebih dulu ketimbang HaeHyuk.

Tapi tetep kok, HaeHyuk is dominan in My Mind. :)

Mey bakal terus ganti2 copel yg hadir di FF ini sebagai pendamping Main Pair - HaeHyuk. Tergantung ama alur n konflik dalam cerita nantinya.

.

Yg jelas Mey kagak bakal ngilang ampe tahunan kok #dihajar

Mey cuma butuh waktu buat ngatasin virus *males ngetik* yg lagi nyerang jiwa Mey #abaikan

Okey, sekian Cuap - cuap dari Mey,

Sekarang Mey mau minta REVIEWnya bolehh..?

Boleh Dong..? :D

.

Mey mau ngucapin makasi buat Reviewer yg uda mau ninggalin jejak di Chap kemarin :

blackwhite28 | zoldyk | thepaendeo | FishyMonkey | nurul. | Nila Arieswari | yunteukwon | myfishychovy | NicKyun | aninda. | Anonymouss | love haehyuk | meyy-chaan | reaRelf | Cho Kyuri Mappanyukki | amandhharu0522 | Mei Hyun15 | Rianti-Haehyuk Fishy | anchofishy | nurichan4 | kim kinan | | miho | MissELFVIP | kim nhufus fishy | shizu indah | dinie teukie | fitri | Kim DY | nekykkiky | kyumineunhae30 | Secret Woman | dyaHaeHyuk | Fujashi | NC love | Yaaa | Someone | Guest | choco | sexy | single | yweokkkkkkkkk | RieHaeHyuk | DadjoePranatha | Lee Eun In | Izmajukir | SSungMine | dhianelf4ever | KyoKMS26 | what | encing | WOdox | DeepHannie88 | Jewelf Forever | meymey BunnyMing | LovHaehyukKyumin | babbyhyukkie334 | fishyLuphNemo | Your Admier | Choi RaggieL | babyHae | ukira Chan | ParKeisha123 | BoPeepBoPeep137 | Lee Chan88 | okta elf | 10rh | Haehyukyumin | FaniHyuk | Haehaebaby | kim hen ji | baby HaeHyuk | Park Gae Shin | EunHaeHyuk Lover | EunHaeHyuk Lover | JewelGuy | SanSanHae | DeepHannie88 | luvHaeFishy | FishyLopheJewels | Your Admier | Jay-Shin | gyuriGyurrii | LeeShinHye | haehyukship | Lee Eun Jae | Deassy | Rissa | FriDHA CassiELF | Laura Rose | Ellizabeth Kim | lee sunry hyun | AyuClouds69 | deehyuk04 | one | SiyllaaEunHaeShipper | SnowDream | Tika HyunBin | niknukss | say | Guest | Sasa Princess EvilKyu |

.

Nb to Choi RaggieL : Of course I still remember who are you, brother. You're the person who inspires me to make this Fiction. Thank you so much for everything, My brother. Please text or call me. I will send my private number to your e-mail.

(^_^)

.

Nah seperti biasa, *Mey harap gak pada bosan*

Review MENENTUKAN kelanjutan FF yg anda BACA. . .

(^_^)

.

Last word,

Salam HaeHyuk Shipper, , ,

.

.

oooXXXooo_Meyla_Rahma_oooXXXooo

.

.

.

_Love Never Wrong_

.

.