Title :

Love Never Wrong

Author :

Meyla Rahma

Rated :

T to M(?)

Pairing :

HaeHyuk

and Other Couple

Genre :

Romance

.

WARNING…!

Boy Loves / Boy X Boy

M-Preg

NO BETA

Miss typo(s)

Out Of Character / OOC

All Cast Is Not Mine.

They owned by themselves and God.

I just lend their name for the necessity of story.

It Just a Fiction

So please, Be mature.

.

DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!

And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FICTION or ANYTHING IN THIS STORY!

DON'T LIKE, DON'T READ..!

JUST CLICK [X] {close} OKAY..?

.

.

_ooOOooOOooOOoo_

.

Happy Reading

.

_ooOOooOOooOOoo_

Dua orang Lee itu berjalan memasuki kediaman mereka dengan hening yang menyelimuti keduanya. Seorang bertubuh skinny diantara keduanya lebih memilih langsung melangkah menuju kamarnya meninggalkan seseorang dibelakang yang tak lain sang suami yang tengah menggendong gadis cilik di punggungnya.

Seolah tak ingin memperkeruh keadaan hati sang istri, Donghae lebih memilih untuk membaringkan sang anak - Eunji - di kamar. Seusai membaringkan Eunji dan memberi kecupan hangat pada sang anak, Donghae segera melangkah menuju kamarnya - berharap sang istri belum terlelap.

Pemandangan pertama yang dilihat Donghae hanya lah punggung sang istri yang memunggunginya - sesaat setelah ia membuka pintu kamar. Ia sangat tahu suasana hati lelaki yang tengah berada di hadapannya itu. Marah. Pasti hal itulah yang tengah menggeluti pikiran lelaki yang baru beberapa bulan dinikahinya tersebut. Dan tentu pada dirinya lah kemarahan itu berpusat.

Lama bertaut dengan tatapan kosong pada punggung sang istri, Donghae memilih untuk mendudukan dirinya di tepian ranjang. Tanpa melihatpun Donghae yakin jika Hyukjae masih belum terlelap - walau kelopak mata lelaki bergummy smile itu terpejam. Donghae sangat tahu seperti apa sang istri. Baginya, Hyukjae sama seperti buku yang terbuka - sangat mudah untuk mengetahui isi hatinya.

"Mianhe," kata itu seolah menjadi pedang yang mengiris hati Hyukjae.

Donghae diam dalam tatapan kosong yang sekali lagi membelut pandangannya. Rasanya, masih tak sampai hati bagi lelaki penggila ikan itu untuk kembali mengungkit sesuatu yang membuat suasana hati sang istri memburuk seperti saat ini.

"Aku tahu kau sangat menyanyangi bayi kita. Tapi kumohon Hyuk-" Donghae menghela nafas sejenak, "-turutilah apa yang di katakan Hyesung hyung. Demi kebaikanmu. Kebaikan kita," sebelum kembali berucap lirih.

Tak ada balasan dari partner yang diajaknya beradu ucap. Namun tak lama berselang, Donghae memilih menoleh menghadap punggung Hyukjae. Obsidannya bersinar sendu saat melihat punggung ringkih itu bergetar pelan. Ia sangat yakin jika lelaki pecinta anak kecil yang ia cintai itu tengah menangis – dalam diam.

Rasa ngilu seakan menyebar di dada seorang Lee Donghae. Ia yang tak kuasa melihat lelaki yang teramat di cintainya itu menangis, lebih memlih membalik paksa tubuh Hyukjae dan menggelamkan badan yang lebih kecil darinya itu ke dalam pelukan hangat sebelum Hyukjae sempat bereaksi menolak.

Nafas Donghae seakan tercekat saat dirasanya Hyukjae mulai meronta dalam dekapannya. Dan sekali lagi hanya nyeri tak tertahankan saat tangis lelaki bergummy smile itu semakin keras – memecah kesunyian kamar.

"Mianhe, hyuk. Jeongmal mianhe~"

Perkataan Donghae justru semakin membuat tangis Hyukjae pecah. Sakit, kecewa, atau bahkan putus asa, mungkin itulah yang tengah Hyukjae rasakan saat ini. Bayangkan, disaat kau akan memiliki suatu hal yang akan melengkapi hidupmu. Tapi justru kau harus merelakan hal itu untuk hancur. Bahkan seseorang yang teramat kau cintaipun, memaksa mu untuk tetap menghancurkannya. Lalu apa yang akan kau rasakan?

"Aku tak akan membiarkan anak kita digugurkan. Tak akan pernah, Hae. TAK AKAN.!" jerit Hyukjae pilu.

Untuk sepersekian detik, detak jantung Donghae seakan terhenti akibat jerit pilu sang istri. Dekapannya pada lelaki kurus itu semakin mengerat kala perasaan yang bercampur aduk yang beberapa saat lalu berusaha ia singkirkan, kembali bergelut di pikirannya. Ia menyayangi bayi mereka yang tengah berada di kandungan sang istri. Namun, ia lebih menyayangi lelaki yang tengah mengandung anaknya tersebut.

"Uljima, hyuk. Jebal," Donghae menenggelamkan wajahnya pada surai halus milik sang istri, "-aku tahu kau menyayangi anak kita, tapi ku mohon. Demi kebaikanmu, hyuk,"

Hanya isakan halus yang seolah menjawab pernyataan Donghae barusan. Keduanya tenggelam dalam dekapan hangat yang tak satupun dari mereka ingin untuk mengakhirinya. Entah untuk berapa kalinya, takdir terus – menerus mempermainkan hidup mereka. Seteguk manis kehidupan baru saja keduanya rasakan. Namun kini, pil pahit itu harus kembali keduanya telan bulat – bulat.

Perlahan isak tangis itu memudar dan terganti dengkur halus dari lelaki penyuka strawberry itu. Jemari panjang Donghae menyisir lembut surai halus lelaki dalam dekapannya. Dengan pelan ia menghapus jejak air mata yang telah mengering di pipi tirus lelaki tersebut. Dan entah untuk keberapa kalinya dalam sehari ini, dadanya berdenyut ngilu saat menatap raut kegelisahan yang terpancar dari Hyukjae – bahkan ketika ia tertidur sekalipun.

"Aku hanya terlalu takut kehilanganmu, Hyuk," bisik Donghae lirih.

Sejenak, lelaki brunette itu memejamkan mata – berusaha menetralkan gemuruh batinnya.

'-dan aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika harus kehilanganmu,'

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

"Tak adakah cara lain, hyung?"

"Aku sudah mengatakannya padamu, Hae. Terlalu besar resiko yang akan istrimu hadapi jika tetap mempertahankan kandungannya,"

Donghae hanya terdiam saat mendengar alibi dari Eric. Dirinya saat ini tengah berada di sebuah café bersama Eric dan Hyesung. Ia tak tega melihat sang istri – Hyukjae – yang semakin sering melamun semenjak terakhir kali datang berkunjung ke rumah pasangan dokter tersebut. Dan dia hanya ingin memberi secercah cahaya bagi Hyukjae-nya.

"Aku hanya ingin dia bahagia, hyung," gumam Donghae lirih.

Hyesung yang masih bisa mendengar bisikan lirih itu hanya bisa meraih tangan suaminya dan saling bertukar pandangan. Eric hanya menatap lurus sang istri sebelum kemudian mengangguk pelan.

"Hae, kau tahu kan jika seorang namjayang hamil sangat berbeda dengan yeoja pada umumnya," Donghae mengangguk pelan,

"-kandungan kami – para namja – lebih lemah di banding dengan kandungan yeoja pada umumnya. Maka dari itu, presentase namja yang bisa mempertahankan janinnya hingga lahir ke dunia ini. . . sangat sedikit,"

Donghae termenung dalam diam. Hyesung benar. Bagaimanapun realita seorang male pregnancy masih bisa di anggap sesuatu yang langka. Setidaknya mungkin satu banding sepuluh juta orang lelaki di dunia ini yang termasuk seorang male pregnancy.

"Hyukjae memiliki selaput rahim yang terlalu lemah. Bahkan untuk seorang male pregnancy sekalipun," Donghae menatap sendu lelaki yang lebih tua darinya itu,

"-aku hanya khawatir sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi padanya, nanti,"

Sekali lagi Donghae lebih memilih menunduk dalam diam. Jujur saja, ini bukan kebiasaannya. Ia adalah seseorang yang egois dan selalu menghadapi segala masalah dengan dingin hati nya. Namun entah mengapa, untuk segala hal yang berhubungan dengan Hyukjae sangat berpengaruh dengan hatinya.

"Aku tahu kau sangat mencintai istrimu, Hae," Hyesung memberikan senyum tipis,

"-dan aku akan mengijinkannya untuk tetap memiliki janin kalian, asal kau memastikan untuk membawanya padaku jika terjadi sesuatu yang kiranya mencurigakan,"

Donghae masih diam untuk beberapa saat. Mencoba memproses kalimat terakhir yang Hyesung ucapkan. Sebelum akhirnya mendongak kasar dan menatap tak percaya ke arah pasangan dokter yang kini tengah tersenyum kepadanya.

"Jeongmal? Ani maksudku, kalian memperbolehkan aku, ah ani, maksudku kami un-"

"Nde Hae. Kami akan mengijinkan kalian untuk menjaga janin kalian. Dan kau tak perlu tergagap seperti itu, boy," ujar Eric yang di akhiri ejekan.

"Hah, gomawo hyung. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Jeongmal gomawo," Donghae melirik Eric sekilas,

"-and I'm not a boy hyung. I'm a man,"

"Arra, tapi perlu kau tahu Hae kalian harus selalu memerikasakan keadaan janin di kandungan Hyukjae ke rumah sakit atau ke rumah kami untuk di periksa Hyesung. Benarkan Sung-ie?" Hyesung mengangguk submasif.

"Ini adalah pilihan dengan resiko berat, Hae. Hyung harap kau mengerti hal itu," tungkas Hyesung.

Donghae mengangguk mengerti. Ia terlalu bahagia, hingga ia tak mampu menyembunyikan senyumnya. Sangat kontras dengan saat pertama ia masuk ke café itu tadi. Ia sungguh tak sabar memberitahukan hal ini pada Hyukjae yang berada di rumah.

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

Sepulang dari café itu, Donghae langsung bergegas kembali ke kediamannya. Ia sengaja mengambil cuti hari ini demi bertemu dengan Eric dan Hyesung. Dan tentunya itu bukanlah hal yang sia – sia. Mengingat kedua pasangan dokter itu memberinya ijin agar sang istri tetap mempertahankan calon bayi mereka.

Lelaki berparas tampan itu seolah tak mampu menutupi suasana hatinya yang tengah di buncah bahagia. Terbukti dari langkahnya yang ringan menyusuri kediamaannya. Bertanya pada salah satu maidnya tentang keberadaan sang istri dan kembali melangkah riang menuju halaman belakang tepatnya ke sebuah ayunan – tempat Hyukjae biasa berada.

Donghae menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah ayunan dimana sang istri berada. Mata teduhnya bersinar sendu menatap lelaki yang sangat ia cintai yang kini tengah terlelap. Hyukjae tampak begitu indah dimata Donghae. Walau hanya menggunakan celana skinny longgar bewarna gelap yang berpadu dengan kemeja putih polos sudah mampu membuat melukis kesempurnaan Hyukjae di mata Donghae.

Perlahan lelaki berlengan kekar ini duduk di sisi ayunan yang kosong. Hatinya berdesir hangat saat mengetahui kedua telapak tangan sang istri yang tengah tertangkup ini di atas perutnya sendiri. Seolah mengatakan pada calon bayi mereka bahwa ia akan melindunginya apapun yang terjadi. Donghae duduk di sebelah Hyukjae dan perlahan menyampirkan lengannya pada bagian belakang kepala lelaki cantik itu. Membawa jemarinya untuk mengelus lembut surai halus yang terjatuh menutupi sisi wajah bagian depan sang istri.

Hyukjae yang merasakan seseorang tengah membelai surainya, perlahan membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia lihat ialah paras sempurna seorang Lee Donghae yang tengah menatapnya dengan tatapan teduh menenangkan.

"Kau sudah pulang, Hae?"

Suara Hyukjae terdengar sedikit parau. Donghae yakin pastilah sang istri menangis sebelum jatuh tertidur.

"Ne, Chagi," Donghae mengecup pelan kening Hyukjae.

"-kenapa kau tidur disini, Hyuk? Cuaca sedikit dingin disini. Tak baik untukmu, , dan bayi kita,"

Hyukjae hanya tersenyum kecut. Entah mengapa beberapa hari ini suasana hatinya benar-benar tidak baik. Bahkan senyum tulus nan manis itu tak mampu ia lukis di bibirnya. Dan seolah ia tak ingin membuat suasana hatinya semakin memburuk, ia lebih memilih untuk mengganti topik pembicaraan.

"Kau dari mana, Hae? Tidak ke kantor?"

"Aku ke kantor tadi pagi dan ada urusan di luar. Dan aku bertemu dengan, , , Eric hyung dan Hyesung hyung,"

Sempat ada gurat terkejut di orbs bening itu. Namun dengan cepat kembali bersinar redup. Dan percayalah itu sangat mengganggu bagi Donghae.

"Oh ya? Untuk apa kau bertemu mereka?," wajah Hyukjae nampak datar tanpa ekspresi,

"-ingin menanyakan kapan proses pengguguran janin ini?" tungkas Hyukjae sembari mengelus perut ratanya.

Bagai disiram air dingin, Donghae menatap terluka lelaki dihadapannya. Wajah yang biasanya terhias gummy smile itu kini nampak suram nan datar dengan aura sendu yang menguar. Membuat ngilu yang telah lama tak terasa kini kembali menghunus hati Donghae.

"Kenapa kau berkata begitu, Hyuk?"

"Bukankah kau memang menginginkan dia pergi, Hae?"

Tatapan kosong itu seakan menembus iris hazel milik Donghae. Orbs bening itu seakan kosong. Tak ada lagi kehangatan yang berpancar dari sana. Ia telah lama tak melihat Hyukjae seperti ini. Terakhir kali hanya saat kedua nya terlibat kesalahpahaman, sebelum mereka menikah.

"Listen Hyuk," Donghae meraih kedua sisi wajah Hyukjae. Menangkupnya dalam tangkupan hangat kedua telapak tangannya.

"-aku tak akan pernah membiarkan kau terluka. Membuat kau merasakan sakit yang dulu pernah kita rasakan bersama. Aku tak pernah ingin mengulang hal itu kembali. Aku akan menjagamu dan anak kita,"

Hyukjae tersenyum lemah. Donghae selalu bisa membuat hatinya tentram. Lelaki itu selalu tahu segalanya tentang dirinya. Hyukjae beruntung memiliki Donghae. Ia memeluk Donghae erat. Mungkin ia hanya ingin berbagi gundah hatinya sejenak dengan sang suami. Ia takut kehilangan janinnya. Kehilangan calon anaknya.

"Kau tahu apa yang Hyesung dan Eric hyung katakan saat kami bertemu tadi, hyukkie?" Donghae membelai lembut surai halus istri dalam dekapannya.

"Molla. Apa mereka membahas rencana untuk menggu-,"

"Ssstt,"

Donghae melepaskan pelukan dan menaruh satu telunjuknya di bibir sang istri. Tatapan teduh yang menentramkan itu ia pancar untuk orang terkasihnya itu. Hyukjae sendiri hanya diam. Menatap sang suami dengan tatapan bingung yang begitu menggemaskan di mata Donghae.

"Ia menyuruhku, untuk menjaga anak kita,"

Mata bulat Hyukjae masih berkedip – kedip bingung. Kalimat Donghae barusan seakan sulit untuk ia cerna. Beberapa detik berlalu, dan manik indah itu membulat lucu. Sepertinya ia sudah mengerti maksud sang suami.

"Tu-tunggu dulu, Hae. Maksudmu kita bisa, , kita bisa," ucapan Hyukjae terbata. Banyak letupan di dalam hatinya yang seakan membuncah keluar.

"Ne baby, kita bisa menjaganya. Menjaga dan merawatnya bersama," ucap Donghae lembut sembari mengusap pelan perut rata Hyukjae.

Greepp, , ,

Dekapan erat membuat Donghae terhuyung pelan ke belakang. Lelaki kekar itu mengusap lembut punggung kecil di dekapannya. Istrinya yang manis itu memeluknya erat dengan ucapan terima kasih yang ia ucap bagai mantra. Lama mereka berpelukan, pundaknya terasa basah akan sesuatu. Hyukjae menangis.

"Wae~"

Donghae melepas dekapannya. Menangkup wajah manis nan cantik sang istri yang masih sesenggukan dengan hidung memerah. How cute you're baby. Batin Donghae tersenyum.

"A-aku, hiccup, aku tak menyangka ini, hiccup, bisa terjadi. Akhirnya kita bisa, hiccup, membesarkan dia,"

Hyukjae berujar di tengah senggukan tangisnya. Donghae meraih tubuh kecil itu kembali ke pelukannya sembari mengecup lembut pucuk kepala sang terkasih. Hyukjae adalah hal terindah yang pernah Donghae miliki. Lelaki manis itu selalu berhasil membuat hatinya menghangat bahkan hanya dengan senyum kecilnya.

"Kita akan menjaganya, Baby. Merawat dan membesarkan anak kita,"

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

"Hae, kenapa pakai mayonaise? Aku kan tadi bilang jangan pakai itu,"

"Astaga baby, , mana ada salad buah tanpa mayonaise? Semua salad buah pasti pakai mayonaise,"

"Aku tak peduli. Pokoknya belikan lagi yang tak pakai mayonaise,"

Ya begitulah hari – hari seorang Lee Donghae 4 bulan terakhir. Hidupnya penuh dengan cobaan yang benar – benar menguji kesabarannya yang terkenal hanya setipis plastik pembungkus jajjangmyun. Teriakan kesal dan rengekan Hyukjae – sang istri – membuat ia harus ekstra sabar. Donghae baru saja pulang dari kantor dan saat di perjalanan Hyukjae menelponya agar di belikan salad buah. Dan sekarang istri manisnya itu meminta salad yang tak pakai mayonaise. Padahal jelas jika istri manisnya itu tak mengatakan apa – apa tentang mayonaisetadi.

Dengan langkah gontai Donghae melangkah meninggalkan ruang tamu dimana sang istri tengah menonton siaran telenovela sembari memangku mangkuk besar berisi buah strawberry. Langkahnya terhenti saat sang istri kembali berujar padanya.

"Oh iya Hae," Donghae berhenti dan memutar tubuhnya menatap sang istri dengan alis bertaut

"-belikan Tteokbokki juga,"

"Arraseo chagi," Donghae berbalik dan sudah akan melangkah pergi sebelum kalimat terakhir dari sang istri membuatnya membatu di tempat.

"Ganti saus cabainya dengan saus kedelai ne, Hae,"

"Mworraggo?" suara Donghae mengeras.

Di lain sisi Hyukjae menatapnya kaget. Mata bulat itu mulai berair. Oh gawat Donghae lupa, moodswing Hyukjae semenjak hamil itu benar – benar menakutkan. Istri manisnya itu mulai memasang wajah hendak menangis. Perubahan emosinya benar – benar membuat Donghae kalang kabut menghampiri sang istri.

"Hae, , hiks, , sudah tak cinta, , hiks, , Hyukkie lagi," kristal bening itu mulai mengalir di pipi Hyukjae namun,

"-diam disitu.!" teriakan nya pada Donghae yang hendak menghampiriya itu terdengar mengerikan.

Sejak 2 bulan lalu Hyukjae mulai merasakan ngidam seperti layaknya orang hamil lainnya. Moodswing Hyukjae bahkan lebih parah di banding Heechul. Karena tak jarang lelaki manis itu merengek manja pada Donghae dan berganti cepat dengan teriakan marah seperti yang terjadi barusan. Donghae masih membatu di tempatnya akibat teriakan menggelegar sang istri.

"Kau lihat baby, , hiks , , appa jahat. Appa mu, , hiks, , sudah tak mencintai kita lagi," ujar Hyukjae sembari mengelus perut nya yang sedikit membuncit.

Donghae yang sudah kembali tersadar dari keterkejutannya mengusap kasar wajah rupawannya yang sudah lecek seperti cucian kotor. Ingin rasanya ia menangis menghadapi sikap sang istri yang sungguh menguji level kesabarannya yang terbatas itu.

"Arrasseo, arraseo. Akan ku belikan yang sesuai dengan permintaanmu. Asal jangan menangis, ne?" rayu Donghae dengan wajah bingung dan serba salah.

"Jeongmalyyo?" Hyukjae menatap sang suami dengan wajah yang begitu polos. Membuat Donghae menelan ludahnya gugup.

"N-ne. Akan ku belikan untuk mu, chagi,"

"Kau begitu tunggu apalagi? Kha~" Hyukjae mengibas – kibaskan tangannya – menyuruh Donghae pergi.

Untuk beberapa detik Donghae sempat melongo. Dan selanjutnya mendengus kesal sembari melangkah keluar. Moodswing Hyukjae terkadang membuatnya jengkel. Tapi jika mengingat kalau lelaki yang kembali mengecat rambutnya menjadi blonde itu tengah mengandung buah hatinya, akan ada senyum terkembang di bibir tipisnya dan semua rasa kesalnya akan menguap begitu saja.

"Ajhumma, tolong buatkan tteokbokki tanpa saus," wanita penjual jajanan khas Korea itu menatap Donghae dengan tatapan seakan berkata – kau bercanda?

"Kalau itu yang kau pesan, lebih baik kau beli kue ikan saja, anak muda,"

"Anak muda? Aku ini pria dewasa, ajhumma," Donghae merengut kesal

"-ayolah ajhumma. Istriku sedang mengidam ingin makan tteokbokki dengan saus kedelai," ujar Donghae jujur.

Wanita penjual jajanan itu menghentikan aktivitas mengaduk tteokbokkinya,

"Istrimu sedang hamil?"

"Ne, dan dia menyuruhku membeli tteokbokki dengan saus kedelai,"

Donghae mengacak surainya frustasi. Demi seluruh ikan yang ada di laut, sampai ia berkeliling ke seluruh pelosok Korea ia tak akan menemukan tteokbokki dengan saus kedelai seperti yang di minta istri manisnya di rumah. Bahkan saat ia berada di toko yang menjual jajanan khas kota kelahirannya itu sekarang.

"Arraseo. Tunggulah disini sebentar,"

Wanita paruh baya penjual jajanan itu masuk kedalam tokonya. Donghae hanya diam disana karena tak mengerti maksud wanita tadi. Lagi pula ia juga sedang kelelahan. Hampir 2 jam ia berkeliling mencari pesanan unik bin aneh Hyukjae itu.

"Cha, ini pesanan mu. Tteokbokkispesial dengan, , err, , saus kedelai?" wanita itu tertawa.

"Jeongmalyyo ajhumma?" Donghae memegang bungkusan pemberian pemilik toko.

"Yee, berikan pada istrimu. Tapi jangan terlalu banyak makan saus kedelainya. Tak baik untuk bayi kalian,"

Wanita itu tersenyum ramah. Donghae hanya berbinar senang seperti anak kecil. Ia sudah lelah berkeliling mencari makanan yang tak biasa itu. Beruntung sekarang ia bisa mendapatkannya.

"Jeongmal kamshamnida ajhumma," ucap Donghae sembari membungkukkan badan dan membuka dompetnya.

"Tak perlu bayar, anak muda. Ini gratis," ucap wanita itu sembari tersenyum lebar.

"Tapi kan ajhumma-"

"Sudahlah. Anggap itu hadiah dari ku untuk istrimu dirumah. Kau juga pasti kelimpungan mencari makanan itu kan?"

"Yee. Sekali lagi kamshamnida ajhumma,"

Donghae kembali membungkuk pelan dan mulai bergegas pulang ke rumah. Sang istri pasti tengah menunggunya saat ini. Donghae mengendarai mobilnya dengan senyum terkembang diwajahnya. Sekelibat ingatan bagaimana uniknya sang istri saat ngidam membuatnya tersenyum tak jelas.

Bayangkan saja, beberapa minggu lalu Hyukjae bersih keras memintanya untuk memesan pohon natal yang dihias lengkap dan diletakkan di halaman belakang rumah mereka. Tak hanya itu, Hyukjae juga sempat ribut dengan pelayan restoran minggu lalu saat ia memaksa memesan Pizza dengan topping nanas, daun bawang dan semangka. Dan parahnya dengan wasabi sebagai penggati sausnya.

Lalu bagaimana lelaki manis itu merengek agar Eunjianak Donghae – bisa tidur sekamar dengan mereka. Ia sangat keberatan untuk hal itu. Pasalnya ia tak bisa leluasa menggrepe-grepa istri manisnya itu. Oh ayolah, kebutuhan level 'pribadi' Donghae itu sangat besar. Sehari tak menyentuh Hyukjae, bisa membuatnya lemah tak berdaya(?)

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

"Na watta~"

Donghae memasuki rumah mewahnya dengan langkah ringan dan teriakan ceria layaknya anak TK. Para maid nya hanya tersenyum geli melihat tingkah kelakuan tuan mereka. Donghae memang berubah drastis semenjak menikah dengan Hyukjae. Apalagi sekarang lelaki bruntte itu akan punya seorang anak – lagi.

"Hyukkie? Baby?"

Donghae mengedarkan pandangannya ke ruang tamu dan tak menemukan keberadaan sang istri. Ia sudah akan melangkah menuju kamar mereka namun terhenti saat ia melewati ruang baca. Ada sesosok manis yang tengah terlelap diatas sofa panjang bewarna merah dengan sebuah majalah tergeletak di pangkuannya.

"Igo mwoyya," Donghae mendekat kearah sang istri yang terlelap,

"-tadi merengek minta makanan aneh – aneh. Sekarang malah tidur seperti ini," omel Donghae entah pada siapa sembari meletakkan bungkusan makanan ditangannya ke atas meja dekat sofa.

Ia menyisir lembut surai blonde sang istri yang sudah agak memanjang itu. Ia mengecup pelan hidung bangir sang istri. Membuat lelaki manis itu menggeliat terganggu dan perlahan membuka kedua manik matanya.

"H-hae? Kau sudah pulang?" ucap Hyukjae dengan suara serak.

"Hm," Donghae mengambil duduk di samping sang istri,

"-kenapa tidur disini, baby?" ujar Donghae sembari mengelus lembut pipi Hyukjae.

"Aku menunggumu pulang, Hae. Kenapa lama sekali perginya?" ucap sang istri sembari menyandarkan kepalanya manja pada pundak kokoh sang suami.

Donghae tersenyum lembut, "Aku mencari pesanan mu tadi. Kau tahu baby, permintaanmu aneh-aneh. Aku sulit mendapatkannya,"

Hyukjae menegakkan duduknya dan menatap Donghae.

"Jeongmalyyo? Mianhe Hae," Hyukjae menundukkan kepala dan memainkan lengan kemeja Donghae.

"Aniya chagi, gwenchana. Aku kan appa yang baik," ucap Donghae sebari mengedipkan sebelah matanya.

Hyukjae tampak tersenyum dengan tingkah Donghae. Namun hanya beberapa detik, sebelum raut manis itu berganti cemberut. Donghae mengerinyitkan alisnya melihat perubahan ekspresi sang istri.

"Waeyyo?"

"Ayo ke kamar," Hyukjae berdiri dan menggeret tangan Donghae.

Donghae yang kaget hanya diam dan mengikut keingin istri manisnya. Mereka sempat berpapasan dengan salah seorang maid mereka.

"Seoyon-ah tolong kau bawa bungkusan tteokbokkidi meja ruang baca ke dapur, ne? Nanti biar ku makan,"

"N-nde nyonya,"

Hyukjae tersenyum menanggapinya dan kembali berjalan menuju lantai atas kamar mereka. Lelaki yang tengah mengandung hamper 5 bulan itu membuka kamarnya dan menyeret sang suami masuk ke dalam. Hari ini Eunji tidur di kamarnya sendiri. Jadi kamar mereka kosong dan Hyukjae mendorong Donghae hingga terduduk di ranjang mereka.

Buggh,

"Baby? Yah, yah, w-wae geurae?"

Donghae panik saat tiba – tiba Hyukjae mendorongnya hingga terduduk di tepi ranjang mereka. Tak sampai disitu, lelaki brunette itu semakin di buat panik saat Hyukjae mulai melepas pakaian di hadapannya. Membuka kemeja cream polosnya itu dengan gerakan sensual. Demi seluruh ikan, ekspresi sang istri benar – benar seperti bintang film AV yang professional. Wajah polosnya itu benar – benar menggoda iman Donghae.

"Hae, tak ingin bermain dengan Hyukkie~"

Suara Hyukjae terdengar mendayu – dayu di telinga Donghae. Lelaki berlengan kekar itu sendiri hanya speechless dan mengedipkan mata seperti orang bodoh. Ia tak pernah mengetahui jika istrinya punya sisi nakal seperti ini. Bawaan bayi? Sepertinya Donghae harus berterima kasih pada anaknya kelak.

Grepp

Hyukjae merangkak menaikki badan Donghae yang duduk di ranjang mereka. Kancing kemejanya hanya terkancing dua dibagian bawahnya. Kemeja cream itu menggantung begitu saja, mengekspose tubuh mulus Hyukjae – dan jangan lupakan perutnya yang sedikit membuncit. Sementara bagian bawah lelaki manis itu hanya mengenakan boxer karena celananya telah ia lepas.

"Let's play with me, Hae~" ucap Hyukjae sambil menarik dasi Donghae sensual.

Demi seluruh hal yang di miliki Donghae, istri manisnya itu sudah benar – benar menguji kendali nafsunya. Dengan sekali hentakkan lembut – karena Donghae tak ingin istri dan bayi mereka terluka – Donghae membalik posisi dan membawa Hyukjae dalam kungkungan lengan kekarnya. Hyukjae yang merasa berhasil menggoda suaminya tak lantas diam. Dengan sengaja ia memajukan kepalanya dan menjilat sensual bibir tipis milik sang suami.

Donghae menggerang bak seekor binatang buas yang di ganggu tidurnya. Tanpa ba bi bu ia meraup bibir Hyukjae dalam lumatan ganas. Persetan dengan keadaan, istri manisnya itu sepertinya ingin bermain – main dengannya. Dan dengan senang hati akan melayani nya.

"Eeeunggh, , nnghh, , Hae, , nngghh,"

Hyukjae menggeliat erotis saat tangan nakal sang suami memainkan kedua putingnya yang mengeras karena rangsangan Donghae. Tak hanya itu, dengan sengaja Donghae menekankan lututnya pada selangkangan sang istri. Membuat Hyukjae menggelijang keenakan.

"Akkhh, , , aahh, , H-hae, , t-there, , aaahh, , m-more, , nggh,"

Hyukjae merancau keenakan saat tangan besar sang suami mengocok dan mengurut batang penisnya di balik boxer nya yang sudah terbasahi cairan precum. Mulut Donghae kini beralih mengecap, menghisap dan menggigiti nipple Hyukjae sedang tangannya yang lain ia gunakan untuk penyangga tubuh kekarnya.

Srett

Donghae membuang sembarangan satu – satunya penutup bagian bawah istri manisnya itu. Membuat tubuh lelaki manis itu terekspose dan meninggalkan kemeja yang sudah kusut karena memang Dongha tak berniat membuangnya. Setidaknya Hyukjae terlihat seksi seperti itu.

"Eungghh, , aakkh, , , H-hae, ,, ngghhh,"

Donghae beralih turun dan memblow job penis sang istri yang sedari tadi di manjakan tangannya. Memaju mundurkan kepalanya yang menelan seluruh batang panjang itu ke dalam mulutnya. Membuat Hyukjae menggerang frustasi dengan semua kenikmatan yang menerpa tubuhnya. Wajahnya memerah saat tiba – tiba Donghae memasukkan satu jarinya ke dalam lubang anal sang istri.

"Akkhh, , H-hae, , a-appo, , aahh, , nggh, , p-pelan hae, , akkhh,"

Donghae sepertinya mengenai prostat Hyukjae. Membuat lelaki manis itu melenguh nikmat. Tubuh mulus itu mengejang saat Donghae kembali berhasil mengenai titik nikmat sang istri. Kepalanya masih naik turun menghisap dan memainkan batang sang istri di mulutnya. Ia menambahkan satu jarinya lagi. Mulai mengeksplor bagian dalam lubang yang terlampau sering ia nikmati itu. Namun ia tak pernah bosan tentunya.

"Akhh, , Hae, , m-more, , nggghh, , aahhh, , hnngg,"

Hyukjae semakin merancau tak karuan saat Donghae semakin gencar memainkan alat kelamin dan lubangnya di bawah sana. Kabut putih itu pun perlahan menggulung Hyukjae. Membuat pandangan lelaki berparas manis itu mengabur dan seluruh otot di tubuhnya seakan berkontraksi. Mengejang hebat saat ia mencapai titik klimaks yang penuh kenikmatan.

"Akkhh, , Hae, , c-cum, , aakkhh, , ngghh, , HAE~"

Tubuh mulus itu mengejang dan melengkung indah. Penisnya menyemburkan benih yang tanpa ragu di telan sang suami. Tubuhnya ambruk dengan sedikit kejangan halus pasca klimaksnya yang hebat. Wajah cantik itu penuh peluh dan nafasnya tersenggal.

"Manis. Seperti biasa. Cha-" Donghae merangkak naik ke atas tubuh sang istri

"-sekarang giliran mu memuaskan ku, baby," ucap Donghae dengan sebuah seringai di wajahnya.

"Aniyo shireo. Aku capek, Hae~" rengek Hyukjae sembari mendorong dada bidang sang suami.

"Tapi chagi, aku belum apa – apa. Aku bahkan masih mengenakan pakain lengkap,"

Donghae frustrasi dengan tingkah sang istri yang cepat sekali berubah. Tadi meminta untuk main bersama. Tapi sekarang malah memintanya untuk berhenti. Ia bahkan sudah menegang di bawah sana.

"Shireo~ Aku capek, Hae. Aku mau tidur sekarang,"

Hyukjae mendorong keras dada sang suami dan menarik selimut menutupi tubuh nya. Berbalik memunggungi Donghae yang menatapnya dengan tatapan merana.

"Aishh, jeongmal!"

Donghae mengusap wajahnnya frustasi. Semakin frustasi saat melihat ke bawah dimana adik kecilnya masih belum terpuaskan. Dengan langkah lunglai, Donghae masuk kedalam kamar mandi. Menyalakan shower dan berdiri tetap di guyuran air dingin yang mengalir.

"Arrrgghh~"

Teriakan menggema itu terbekap dalam suaran pancuran air. Sepertinya ia harus bersolo karir mala mini.

.

.

_Love Never Wrong_

.

.

"Pagi,"

Donghae masuk ke ruang makan dengan langkah lunglai. Ia masih memakai piyama tidurnya. Ia berjalan menujuh putrinya yang sedang memakan semangkuk sereal cokelat.

"Pagi, Eunji baby," ucap Donghae sembari mengecup pelan pucuk kepala sang anak.

Lelaki brunette itu berjalan ke counter dapur – tempat sang istri tengah memotong buah untuk membuat jus.

"Masih marah?" tanya Hyukjae pada sang suami yang memeluknya dari belakang.

"Hn,"

Hyukjae tersenyum lembut saat sang suami memanyunkan bibirnya. Ia bisa melihatnya karena Donghae memangku dagunya di pundak kecil sang istri.

"Kau tahu kan Hae, semalam aku sudah kelelahan,"

"Ck, tapi kau tega pada ku baby," ujar Donghae sembari semakin erat memeluk sang istri.

"Kau saja yang terlalu pervert,"

Hyukjae masih sibuk dengan potongan buahnya. Sedang Donghae mulai menciumi tengkuk mulus nan menggiurkan milik sang istri. Hyukjae yang merasa terganggu mulai menggeliat dan mendorong pelan pipi Donghae agar menjauh dari lehernya.

"Ada Eunji disini, Hae,"

"Ck, kau selalu saja begitu, Hyukkie," ucap Donghae dengan wajah tertekuk masam.

Hyukjae hanya menggeleng pelan dengan sikap sang suami. Suami tampannya itu memang memiliki kebutuhan bioligis yang melebih rata – rata. Entahlah kadang Hyukjae berpikir bagaimana bisa ia kuat melayani sang suami yang mesum tak tahu tempat itu. Ia meraih sebuah gelas berwarna merah jambu dan menuangkan jus strawberry pisang itu kedalamnya. Dan menuangnya ke dalam dua gelas besar yang lain

"Habis kan sarapanmu na, chagi. Lalu minum jus strawberry pisang kesukaanmu ini, ne," ujar Hyukjae sembari menaruh segalas jus di samping Eunji.

"Ne, umma,"

Gadis cilik itu menyahuti dengan suara lirih. Membuat dua orang dewasa di sana tertegun dalam keheningan.

"Huh?" Donghae menatap tak percaya.

"Eunji-ah," Hyukjae berjongkok mensejajarkan diri dengan gadis cilik itu

"-katakan sekali lagi, ne?"

Gadis kecil nan cantik itu menatap Hyukjae dengan seulas senyum indahnya.

"Ne umma,"

Mata Hyukjae kini sudah terlapisi bening kristal. Ia membawa gadis kecil itu kedalam pelukannya. Hatinya seakan membuncah dengan kebahagian sendiri mendengar secuil kata dari anak semata wayang Donghae itu.

Itu adalah kalimat pertama yang di ucapkan Eunji selama ia berada di rumah ini. Gadis kecil itu tak pernah mau berbicara sebelumnya. Ia hanya menggangguk dan menggeleng menanggapi interaksi di sekelilingnya. Dan lihatlah sekarang, gadis cilik itu tersenyum bahkan memanggil Hyukjae dengan sebutan, Umma.

"Eunhi-ah, gomapta. Jeongmal gomata-gu,"

Hyukjae memaluk gadis kecil itu erat. Donghae yang seakan baru sadar dari keterkejutannya tak bisa menahan senyum harunya. Ia bahagia. Malaikat kecilnya itu sudah mau berbicara. Ia bangkit dari kusrinya dan menghampiri dua orang yang paling berarti dalam hidupnya itu. Memeluk mereka dalam pelukan hangat. Ia tak pernah sebahagia ini. Seakan semua beban hidupnya terangkat sudah.

Mereka berpelukan hangat. Membagi kebahagian yang tengah membuncah di hati mereka. Mereka keluarga kecil yang terlihat begitu bahagia. Terlalu banyak hal yang membuat mereka menangis selama ini. Inikah akhir dari segalanya?

.

.

The End.?

.
or To Be Continue.?

.
You choose^^

Hello Reader-san,

Sudah berapa abad(?) kalian menunggu kelanjutan FF ini?

Sy meminta maaf untuk hal itu. Jujur sy kehilangan feel FF ini.#pundung

Mungkin karena masa hiatus sy yang cukup lama. Jadi sy kehilangan feel melanjutkan FF ini. Sy sempat hendak melelang FF ini bahkan akun sy lewat akun pribadi sy. Namun hasilnya nihil. -.-

Dan inilah yang sy dapat. Sy berniat melanjutkannya sejak bulan November tahun lalu. Namun setelah sy edit ulang kemarin, justru sy rombak habis – habisan. Dan baru selesai sekarang. Jujur sy sedikit merasa aneh dengan gaya bahasa sy yang dulu. #alasan

Namun sy berusaha tetap mempertahankan feel FF ini. Dan inilah hasilnya. Cukup memuaskan kah?

Sy ingin berterima kasih pada semua orang yang sudah mereview di chapter terakhir kemarin :

AphroditeThemisYJSYunberryunochan || Tika HyunBin || FriDHA CassiELF || Anonymouss || NicKyunYujachapumpkinsparkyumin ||
Guest ||
Haru54HaeHyuk Baby'snurul. reaRelf || Tina KwonLee || jihyuk44Mei Hyun15 || andinihaehyuk || clarissaa ||
Reezuu608Amandhharu0522 || F-polarise || haehyuk baby || nienuck || Lee Eun Jae || dekdes || SnowDream || Rissa || Jay-Shin ||
DeepHannie88 || baby HaeHyuk || EunHaeHyuk Lover || ParKeisha123 || Your Admier || LovHaehyukKyumin || meymey BunnyMin ||
kim hen ji || luvHaeFishy || JewelGuy || FishyLopheJewel || gyuriGyurrii || vikey ||
dhian930715ELFRieHaeHyuk || Laura Rose || Yui the devil ||
fitri || Missnippel ||
hyukjae86dashhelfishy haehyukshippersycarplyndaariezz || anchofishy || Mybluepearl || HaeHyuk || Lee HaerieunRany Haehyuk ||
claudy ||
AnakHaehyuk || Ryeona || HAEHYUK IS REALJun Kyuni || ananda tasya || Guest || haegya || Ranny || Ayun870620 || eunhaeyah ||
Depi ||
FishyHaeHyuk || haehyuk child || Marya Kitaragi || Etoilepolarisejewel0404 || Cahaya jewels haehyuk shipers || meyidhae

Sy sungguh terhura(?) dengan banyaknya reader yang menunggu cerita tak jelas sy ini. Sy juga merasa bersalah sudah membuat kalian semua menunggu. Sekali lagi terima kasih atas apresiasi kalian. #hugAll

Selanjutnya sy hanya ingin member pilihan.

Apa cerita ini di 'Tamatkan' di part ini? Atau mungkin adakah yang berminat di lanjut?

Kalian tak perlu khwatir karena sikon sy sudah benar – benar mendukung untuk sy kembali menulis seperti 3th yang lalu.^^

So, let's choose what you want guys.

Salam,
Meyla Rahma

April 4, 2015