Let Me Be Happy
-dhedingdong95-
Cast:
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Genre: Family, Brothership, Life, Drama, DLDR, RnR please!
Rate: T (lebih ke Parental Guidance)
Length: Chaptered
(ntah berapa chapter, terhantung respon. bisa saja panjang bisa juga chapter depan tamat)
Disclaimer:
ini merupakan hasil remake FF saya sekitar 4tahun lalu dengan cast yang berbeda. Jadi jika mungkin ada yang pernah membaca di 'tempat lain' dengan cast yang berbeda, tenang saja itu milik saya juga kok. hehe. Telah dilakukan sedikit perubahan sesuai dengan kebutuhan cerita.
Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya.
SELAMAT MEMBACA!
WARNING! TYPO, NOT YAOI, alur kecepetan, membosankan!
Don't like? DON'T READ!
NO BASH and… ENJOY!^^
Sebelumnya:
Ditengah gemelut pikiranku, kusempatkan mengunjungi taman kesayanganku di sela-sela aktivitas pagi. Namun ada sesuatu yang begitu membuatku tercengang. Daun-daun pada tangkai mawar itu terlihat menguning. Bahkan aku juga melihat mahkota bunga yang satu persatu berguguran jatuh ke tanah. damn! Lelucon macam apa ini? Siapa yang berani-beraninya melakukan ini padaku? Tidakkah ia berfikir matang-matang, apa yang terjadi jika aku benar-benar marah karena masalah ini? Karena sesuatu kesayanganku yang telah dirusaknya?
.
.
Next!
Chapter 2
.
.
.
Ntahlah, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Kedua matakupun terasa begitu panas.
Tidak cukupkah penderitaan yang kualami selama ini?
Haruskah aku mengalami penderitaan-penderitaan yang lainnya?
Mengapa hidup ini sungguh tidak adil? Mengapa hanya aku yang merasakannya? Mengapa bukan dia?
.
.
"Tukang kebun Kim! Tukang kebun Kim!" Aku berusaha mencari kepala tukang kebun keluarga kami di setiap sudut taman rumah ini. Kau pasti tahu bukan jika taman ini cukup luas, hingga mempunyai lebih dari 5 tukang kebun.
"ya tuan muda" ia menghadapku dengan raut wajah begitu ketakutan. Ia pasti sudah mengetahui apa yang membuatku begitu murka pagi ini.
"jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" kufokuskan untuk menahan amarah yang telah memuncak. Setidaknya aku harus mendengarkan penjelasan darinya terlebih dahulu. Bagaimana tidak, sangatlah sulit untuk mengembalikan keadaan mawar-mawarku seperti sedia kala. Dapat disimpulkan jika satu-satunya cara terbaik adalah mengganti seluruh tanaman mawar tersebut dengan bibit yang baru.
1 menit.
2 menit.
.
.
Tukang kebun Kim sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Ia hanya menunduk cemas dengan memainkan kesepuluh jarinya.
"atau ini semua karna ulahmu?"
"KAU APAKAN BENDA KESAYANGANKU, HAH?" setelah cukup lama aku menahan, pada akhirnya emosi ini meledak juga. Teriakan lancang ini, keluar begitu saja dari mulutku. Salahkan saja tukang kebun Kim yang berlagak seperti orang bisu. Sama sekali tak merespon setiap pertanyaanku, tsk!
"salah memberikan pupuk? lupa memberi air? ATAU APA? Bukankah ini pekerjaanmu sehari-hari? Mengapa kau begitu teledor?"
Kulihat gelagat tukang kebun Kim semakin menunjukkan hal yang aneh. Seperti ia sedang menyembunyikan suatu hal dariku.
"oh, aku tahu! apakah gaji yang diberikan ayah setiap bulan masih kurang untukmu? Tenang saja, jika itu maumu... aku akan memberikan setengah dari uang jajanku hanya untukmu! Apa itu masih kurang? Haruskah aku memberikan seluruh uang jajanku padamu, hanya untuk merawat mawar-mawarku jika aku sedang sibuk? Haruskah?"
Nampaknya tukang kebun Kim begitu tersentak kaget mendengar perkataanku. Ia menggeleng hebat, kemungkinan terbesar ia ingin menunjukkan jika pernyataanku baru saja tidaklah benar.
"JAWAB AKU TUKANG KEBUN KIM!"
"Jika kau memang salah, aku berhak memecatmu. Tidak perlu menunggu Ayah. Tidak perlu juga menunggu Hanna ahjumma!"
"hmm... bukan.. bukan... tuan muda.. bukan begitu..." setelah kugertak beberapa kali, tukang kebun Kim mulai berani membuka suara. Yaah.. meskipun ia berbicara dengan tersendat-sendat.
"bukan begitu? maksudmu? kau mempunyai alasan lain tentang siapa dalang utama ini semua hm?" aku maju satu langkah penuh selidik mendekati tukang kebun Kim. Dan apa yang terjadi? dengan tiba-tiba ia ikut mundur satu langkah, seperti ia tak mau diinterogasi lebih dalam lagi.
"um.. maafkan saya tuan muda..." semakin lama aku menatap tukang kebun Kim, semakin pula tubuh itu bergetar. Entah karena ketakutan atau ada alasan lain dibaliknya.
"maafkan saya? Jadi.. kau?"
"pagi-pagi tadi... tuan muda Kyuhyun meminta saya untuk tidak merawat bunga mawar milik anda. Tuan muda Kyuhyun berkata jika ia akan merawatnya sendiri khusus hari ini... tentu saja tanpa sepengetahuan anda. Ia mengatakan pada saya jika itu merupakan salah satu hal untuk menunjukkan rasa sayangnya pada anda secara perlahan. Karena saya juga menginginkan hubungan kedua tuan muda mulai membaik, dengan lancangnya saya mengijinkannya untuk melakukan hal itu. Hingga akhirnya... saya... saya tidak menyangka jika.. jika ini akan terjadi... percayalah tuan muda, ini semua.. di luar... di luar dugaan saya.. maafkan saya tuan muda... jangan.. jangan pecat saya.." di tengah ketakutannya, tukang kebun Kim terus memohon kepadaku. Persetan dengan apa yang dilakukannya, mendengar cerita dari tukang kebun Kim berhasil membuat kedua tanganku terkepal erat. Meski menyakitkan, setidaknya aku telah mendapatkan sedikit titik terang darinya.
"tukang kebun kim... sudah berapa lama kau bekerja denganku, hm?"
"kau lupa semua peraturanku mengenai benda kesayanganku ini? termasuk tidak membiarkan orang lain mendekati, menyentuh, lebih-lebih MERAWAT mereka selain KAU! dan AKU!" ujarku lagi sembari menekankan kata 'merawat', 'kau', dan 'aku'.
Tanpa mendengarkan penjelasan darinya lagi yang menurutku terlalu bertele-tele, segera kutinggalkan saja ia dengan segala kecemasan yang dirasakannya. Kecemasan tentang apa yang akan terjadi di rumah ini sebentar lagi.
.
.
Semakin lama jantungku semakin terpacu cepat. Kemarahanku kian memuncak, hingga kedua tanganku hanya dapat mengepal erat-erat bak sedang mencari mangsa. Sungguh, aku tak dapat memaafkan kejadiaan ini hingga akhir hidupku. Tidak sama sekali! Hartaku yang paling berharga satu-satunya, kini telah dirusak olehnya! Tak akan pernah kumaafkan, tidak akan!
Kutemukan Kyuhyun sedang membantu para pelayan menyiapkan sarapan di ruang makan, terlihat sesekali ia bercengkrama dengan mereka. Tak jarang pula para pelayan dibuat tersenyum oleh kelakuannya. Ah, apa juga peduliku.
"donghae hyung! tak biasanya kau sudah bangun? astaga! ini kan baru jam 6 pagi!" suara Kyuhyun yang terdengar sok polos di telingaku itu semakin membuatku naik pitam. Kulihat wajahnya berseri-seri seolah ia tak pernah melakukan suatu kesalahan yang besar. Demi tuhan, aku muak. Aku muak dengan semua kepura-puraannya!
Tanpa basa-basi lagi, aku berjalan cepat menghampirinya. Dan…
BUG!
sebuah hantaman keras kulayangkan kearah pelipis kanannya. Terlihat cairan merah mulai keluar, dan semakin lama meluncur dengan derasnya.
"hyung-ah! apa maksudmu?" kulihat Kyuhyun sangat terkejut. Ia tak membalas hantamanku, ia hanya berusaha memegang pelipisnya agar darah tak keluar lebih banyak. Sesekali meringis menahan rasa perih yang menderanya.
"seharusnya aku yang bertanya, APA MAKSUDMU HAH?" kulayangkan hantaman kerasku lagi, kali ini kearah pipi kirinya hingga menyentuh hidung 'mancung'nya. Tak kusangka, hantamanku ini berhasil membuatnya tersungkur di sisi kiri meja makan. Darah segar juga mengucur dengan deras dari lubang hidungnya. Ck, lemah sekali dia!
Lagi-lagi, Kyuhyun tak membalas hantaman-hantamanku. Padahal keadaannya benar-benar memprihatinkan. Ia hanya berusaha untuk bangkit meskipun berdiri tegakpun nampaknya kesusahan. Ia usap hidungnya menggunakan lengan kemeja yang dipakainya, guna menghentikan pendarahan terebut. Bahkan ia masih sempat menatapku dengan tatapan yang menyedihkan. Jangan harap aku akan iba padamu, kyuhyun-ah!
.
.
"apa yang kau lakukan pada mawar-mawarku? jawab aku, atau kau akan merasakan hantaman keras dari kepalan tanganku ini, HAH?" kutarik kerah kemejanya, hingga ia benar-benar kesulitan untuk bernafas.
Namun apa yang kudapat dari tindakanku ini? Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Secara tiba-tiba kulihat air matanya menetes.
"mengapa kau sama sekali tak menjawab pertanyaanku? CHO-KYU-HYUN?" aku semakin menarik kerah bajunya, hingga Kyuhyun semakin tak berkutik. Jangankan mengeluarkan suaranya, kulihat untuk bernafaspun ia sudah semakin kesusahan. Lebih tepatnya terdengar seperti putus-putus. Oiya, jangan lupakan... jika aku tak akan sudi memanggilnya menggunakan marga Lee. Karna hanya akulah keturunan Lee satu-satunya di sini, dan secara resmi pula telah terdaftar di kartu keluarga. Masa bodoh dengan harta warisan yang seringkali diperebutkan, bagiku tidaklah penting... dan dengan warisan bodoh itu juga, tak akan bisa membawa ibu untuk kembali ke sisiku lagi.
"kau bisu... hm? Kau tuli? Tak bisa berbicara?" Kyuhyun menggeleng kasar, tangannya menggapai-gapai lehernya sendiri, mungkin sebuah isyarat memintaku untuk melepaskan kerah bajunya. Hhhh.. tak semudah itu, kecuali ia memberikan penjelasan yang berarti!
"kau tahu? Banyak saksi melihatmu mendekati taman mawar saat aku tidur. Jadi apa? Kau mau mengelak lagi?" aku berbisik tepat di depan telinganya, membuat suasana terasa lebih mencekam.
.
.
"masih tak mau menjawab?"
.
.
"salahkah usahaku untuk membuatmu bahagia hyung?" setelah sekian lama bungkam, pada akhirnya kudengar sebuah jawaban dari Kyuhyun yang terdengar seperti bisikan. Mendengar jawaban darinya membuatku semakin kesal. Apa susahnya untuk mengaku dan meminta maaf? Bukan penjelasan bertele-tele seperti ini yang kutunggu.
"hhh... usaha katamu? merusak barang kesayangan orang lain, kau bilang itu usahamu untuk membuatku bahagia?"
Kyuhyun kembali terdiam pasrah, memejamkan kedua matanya sejenak diikuti dengan nafas tersengal. Tak jarang kudengar ia mulai terbatuk pelan. Darah dan keringat yang berasal dari pelipisnya kian menetes silih berganti. Mengapa anak ini tidak ada usaha untuk mengusapnya?
.
Persetan dengan keadaan Kyuhyun sekarang, anak manja sepertinya sebentar lagi pasti akan membuat kehebohan di seluruh penjuru rumah. Pelayan yang mondar-mandir membawakan kotak obat, Hanna ahjumma yang menangis histeris, atau bahkan ambulans yang didatangkan untuk membawa anak manja itu ke rumah sakit. Sangat mudah untuk menebak apa yang akan terjadi setelah ini, ya... karena anak manja itu memiliki hobi menyusahkan orang lain.
Bagaimana jika aku sedikit bermain-main dengannya?
Setidaknya, jika aku melakukan ini... mungkin rasa benciku padanya sedikit berkurang.
Mungkin. Karena aku sendiripun tak yakin, apakah rasa sakit hati ini akan dapat berkurang walau setitik pun?
.
.
BUG!
"pukulan ini untukmu! mengapa kau lahir di dunia ini? mengapa harus kau yang menjadi anak haram ayahku? mengapa kau datang disaat tak ada orang yang mengharapkanmu? " aku memberikan hantaman selanjutnya ke arah perut datarnya. Hantaman keras ini hanya menjadi bagian kecil pelampiasan dariku pada kenyataan yang ada.
.
BUG!
"pukulan ini untuk sikap keras kepalamu! jangan pernah membuntutiku lagi! jangan pernah mencampuri urusan orang lain! urus saja kepentinganmu sendiri! aku lelah mendengarmu yang selalu mengoceh untuk mengomentari setiap apa yang kulakukan!" aku memukul perutnya lagi, namun sepertinya kali ini sedikit meleset hingga mengenai dada kirinya. Masa bodoh jika ia kesakitan, atau mungkin lebih parahnya... hahaha itulah yang kuinginkan!
.
BUG!
"pukulan ini untuk sikap sok polosmu! Aku muak dengan sikapmu itu! Kau tak perlu bersikap polos, karena semua orang akan selalu ada di sekelilingmu dan ME-NYA-YA-NGI-MU! Tapi, satu hal... jangan mengharapkan rasa kasihan dan kasih sayang dariku. Karena kurasa itu sangatlah mustahil!" aku memukul tengkuk lehernya dengan sikut tanganku. Tak cukup keras memang, tapi kurasa pukulan ini akan meninggalkan bekas memar di kulit putihnya.
.
BUG!
"pukulan ini untuk ibumu! orang kejam seperti dirinya harus mati! perusak rumah tangga orang lain! atau mungkin dulu ibumu bukanlah seorang asisten pribadi melainkan pelacur yang setiap saat menggoda ayahku?" kutendang kaki kanannya tepat di bagian tulang kering. Jika aku tak menahan tubuhnya, ia pasti sudah tersungkur (lagi) tak berdaya di atas lantai.
"JANGAN MEMANGGIL IBUKU DENGAN SEBUTAN MENJIJIKKAN SEPERTI ITU!" Kyuhyun mulai melawan. Mungkin ia tak mau melawanku dengan adu fisik, tapi aku tak menyangka jika ia akan berani melawan perkataanku seperti itu.
"hyung-ah... kau boleh menghinaku.. kau boleh mengataiku sesuka hatimu.. kau boleh memukulku hingga kau merasa puas.. hingga kau bisa tersenyum kembali, tersenyum lebar tanpa beban sama persis ketika kita belum saling mengenal seperti dulu... tapi.. tolong.. jangan kau hina ibuku.. sama halnya kau menganggap Hyora ahjumma sebagai pelita di kehidupanmu, bagiku... ibuku juga seperti itu... ibu yang telah melahirkanku di dunia ini... ibu yang selalu melindungi anaknya di segala kondisi..." Kyuhyun menyahutku dengan lirih, ditengah sisa tenaga yang ia miliki. Hampir terasa seperti bisikan.
"apa? melindungi anaknya di segala kondisi? cobalah kau lihat! apa ibumu berada disini? apa ibumu hadir untuk memohon padaku agar aku berhenti memukulimu? mana ibu yang kau sebut sebagai pelindungmu? MANA? TAK ADA BUKAN? Ia hanya seseorang yang tak lebih sebagai parasit. Selalu menempel pada ayahku dan merugikan setiap orang yang berada di sekitarnya!" Kupikir kyuhyun semakin terisak hebat. Matanya membengkak karena pukulanku ditambah air yang terus keluar dari matanya.
"Oh! Hei Kyuhyun-ah! Apa yang sebenarnya kau tangisi? TAK ADA YANG PERLU KAU TANGISI! aku tak memerlukan tangisanmu, aku tak memerlukan rasa keprihatinanmu, aku hanya memerlukan penjelasan atas mawar-mawarku! Tidak lebih!" kujatuhkan tubuhnya ke lantai secara kasar.
.
.
FINAL. Ia tak sadarkan diri.
.
.
Aku beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun yang sudah tergeletak lemah di lantai. Tak peduli dengan riuhnya para pelayan yang begitu panik karena keadaannya. Memang, sedari tadi tak ada satupun pelayan yang berani meleraiku. Lebih-lebih ayah dan Hanna ahjumma masih melakukan perjalanan bisnisnya beberapa hari belakangan ini. Oh! Lihat! Baru saja kubicarakan, ternyata mereka berdua telah tiba di rumah. Ck! benar dugaanku sebelumnya, Hanna ahjumma menangis hebat dan berlari menghampiri Kyuhyun. Hhhh..dasar! benar-benar anak manja!
.
Bagaimana bisa ia dikatakan lelaki sejati, jika digertak sedikit saja sudah tak sadarkan diri?
.
"DONGHAE-YA! Berhenti!" suara lantang milik ayah, menghentikan sejenak langkahku yang hendak berlalu menuju kamar. Namun setelah beberapa saat, kulanjutkan lagi langkahku hingga tepat berada di depan ruangan kamar pribadiku.
"LEE DONGHAE! Hentikan langkahmu sekarang juga!" bentakan ayah berhasil membuat kebekuan pada diriku. Sangat berat rasanya untuk menjejakkan kaki ke dalam kamar, meskipun hanya beberapa langkah lagi. Aku terus berusaha mengatur nafasku, agar emosi ini tidak meledak untuk kesekian kalinya.. di pagi ini tentu saja.
Kutolehkan kepalaku walau hanya secara perlahan ke arah belakang, lebih tepatnya ke arah dimana ayah berada. Kupasang wajah datar, aku ingin memperlihatkan pada ayah jika aku memang tidak melakukan kesalahan. Sekalipun ada sedikit perasaan takut yang menyelinap di hatiku. Namun tak beberapa lama, perasaan takut itu kembali tertutupi dengan perasaan benci yang amat mendalam.
.
PPPPLAAAAKK
.
Sebuah tamparan keras kudapatkan dari tangan ayahku sendiri. Kurasakan ada sesuatu yang keluar dari hidungku dengan begitu derasnya.
.
Haaaahh, Kyuhyun-ah. Saat ini kau berdarah, dan akupun juga berdarah. Jadi, bagaimana? kita impas bukan?
Sekarang kau merasakan sakit, begitu pun denganku.
Kau merasakan sakit di tubuhmu, dan aku merasakan sakit pada hatiku.
Tak usah khawatir, bisa kupastikan dalam waktu hitungan hari kau akan segera pulih.
Tapi... bisakah kau memastikan kapan sakit pada hatiku akan sembuh? Sakit hati yang selama 2 tahun terus aku pendam sendiri...
Hanya saja keadaan kita yang sangatlah berbeda. Banyak orang yang lebih sayang dan memperhatikanmu, sedangkan aku? Aku hanyalah seorang yang tak berguna dan menyedihkan.
.
"apa yang kau lakukan pada adikmu? mengapa kau sangat kejam padanya?" tatapan tajam ayah yang seolah sangat mengkhawatirkan keadaan Kyuhyun, semakin menyulut api kebencianku padanya.
"adik? aku tak memiliki adik! aku adalah anak tunggal, dan selamanya pun akan tetap sama. ANAK TUNGGAL! Ibuku saja sudah meninggal, bagaimana bisa aku memiliki adik? HAHAHA LUCU SEKALI! dan apa? aku kejam padanya? hanya memukul! tidak menghilangkan nyawa, kau menyebut itu kejam?" aku membalas tatapan tajam yang diberikan ayah dengan tatapanku yang dapat terbaca sebagai tatapan menantang.
.
PPPPPLLLAAAKK
.
tamparan kedua yang aku terima, dalam renggang waktu tak ada 10 menit. kuterima dengan senyuman kecut yang aku miliki selama ini.
"lantas, sebutan apa yang pantas untukmu? mengapa kau hanya membunuh ibuku? mengapa kau tak membunuhku juga, jika itu semua dapat membuatmu tersenyum puas?" tanpa sadar aku mengeluarkan perkataan yang terasa sangat bodoh bagiku.
"mengapa kau diam saja? Apa kau menyesal tidak membunuhku juga? Apa kau menyesal memiliki anak yang membangkang sepertiku? bukankah aku seperti ini karna ada penyebabnya? JAWAB AKU AYAAAAHHH..." kekerasan hatiku selama ini di depannya, kini seketika melebur di hadapan ayah. aku terjatuh tepat di bawah ayahku berdiri, dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak tahan dengan keadaan ini. Aku sendiripun merasa jika aku sudah tak ada gunanya lagi di keluarga ini.
.
Bukankah jika aku pergi, mereka akan menjadi keluarga yang bahagia? Tanpa aku... tanpa seseorang yang selalu membuat permasalahan di sangkar emas ini. kau tahu arti sangkar emas bukan? Sebuah tempat dimana orang yang melihat dari sisi luarnya terus menerus mengaguminya, namun bagiku yang tinggal di dalamnya... seperti di dalam neraka.
.
"bunuh aku ayah…" sebuah kalimat yang tak pernah terpikir olehku sebelumnya, kini meluncur secara lirih dari mulutku.
"bunuh aku ayah… bunuh aku…" aku masih terduduk di lantai dengan pikiran yang runyam. Tak ada kalimat lain selain meminta ayah untuk membunuhku di dalam otak ini.
.
Untuk saat ini, kuakui jika aku memang gila. Meminta sang ayah untuk membunuh anak kandungnya sendiri. Um... itu pun jika aku memang masih diakui sebagai anak kandungnya. hahaha, setan apa yang sedang merasuki diriku?
Kalau saja itu memang akan membuat ayah bahagia, tidak ada salahnya bukan? Setidaknya janjiku terealisasikan kembali. Misiku memberikan cinta pada orang di sekelilingku, seperti halnya bunga mawar akan segera terwujud. Walau jalan hidupku, harus berakhir seperti ini.
.
"ayah... kau bisa membunuhku saat ini juga... aku... aku siap untuk kau bunuh... aku sangat siap untuk segera kau kirimkan bertemu ibu di surga" kupejamkan erat kedua mataku, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya padaku. Terlebih pula aku telah dibuat penasaran, cara apa yang akan ayah lakukan untuk membunuhku?
.
.
.
TBC/END?
Hehehe pas satu minggu lebih satu hari! Harusnya kemarin udah diupdate tapi ternyata ffn errorT_T Bagaimana? Terlalu membosankan? Alur kecepetan? Penyampaian yang bertele-tele? Itu semua, bisa readers tulis di kolom review. Mau review apapun (yang penting berkaitan dengan ff ini dan tidak memberi flame) akan tetap sangat aku hargai kok. Semakin banyak review, akan semakin cepat diupdate. Terima kasih :*
.
Balasan review:
septianurmalit1: siyaaaaaaap! Udah diupdate nih, maaf jika mengecewakan terima kasih juga untuk reviewnya~~
kyuli 99: aduh ini yang menderita kyu apa hae ya? Wkwkwk tergantung sudut pandang sih hahaha terima kasih reviewnya^^
Rahma94: syudah diupdate yaaaah~~ hayooook mati beneran ga nih? Atau hanya ramalan semata? Tebak tebak! Wkkwkwk terima kasih reviewnya^^
Mengkyuwind: halooooo sudah diupdate chapter 2nya~~^^ semoga tidak mengecewakan yaaa~~ terima kasih juga untuk reviewnya~~
Wonhaesung Love: haiiiii sudah diupdate chapter 2nya~~^^ semoga tidak mengecewakan yaaa~~ terima kasih juga untuk reviewnya~~
Sparkyubum: halooooo sudah diupdate chapter 2nya~~^^ semoga tidak mengecewakan yaaa~~ untuk kebenaran perkataan bibi itu, bisa dibaca di (mungkin) chapter depan~ lol terima kasih atas reviewnya~~
Retnoelf: haiiiii sudah diupdate chapter 2nya~~^^ semoga tidak mengecewakan yaaa~~ terima kasih juga untuk reviewnya~~
Yeri LiXiu: haaaai yeriii~~ sebenernya sih lebih cocok ke kibum, tapi tak apalah udah terlanjur wkwkwk lagian sebenernya donghae kan ga jahat, hanya butuh pelampiasan saja hihi terima kasih atas reviewnya~~
ningKyu: lol ga akan menjurus ke yaoi kok, ini pure brothership hehehe terima kasih atas reviewnya~^^
mifta cinya: haaaai sudah diupdate ya ch 2nya~^^ mungkin pertanyaannya sedikit terjawab di chapter ini hehe amiiin, semoga yaaaa wkwkw terima kasih atas reviewnya~~^^
Lee Gyu Won: hehehe semoga chapter ini juga suka ya~~ terima kasih atas reviewnya~~
aniielfishy: mati ga ya? mati ga ya? hehehe dibaca aja yuks yuks~^^ terima kasih sudah direview~~
Gyu9: terima kasih, terima kasih juga sudah direview~^^
Awaelfkyu13: waduh? Bingung ya? maaf T_T semoga makin ke belakang makin ga bingung sama jalan ceritanya ya.. hehe terima kasih atas reviewnya~~
