Let Me Be Happy

-dhedingdong95-

Cast:

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Genre: Family, Brothership, Life, Drama, DLDR, RnR please!

Rate: T (lebih ke Parental Guidance)

Length: Chaptered

(ntah berapa chapter, tergantung respon. bisa saja panjang bisa juga chapter depan tamat)

Disclaimer:

ini merupakan hasil remake FF saya sekitar 4tahun lalu dengan cast yang berbeda. Jadi jika mungkin ada yang pernah membaca di 'tempat lain' dengan cast yang berbeda, tenang saja itu milik saya juga kok. hehe. Telah dilakukan sedikit perubahan sesuai dengan kebutuhan cerita.

Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya.

SELAMAT MEMBACA!

WARNING! TYPO, NOT YAOI, alur kecepetan, membosankan!

Don't like? DON'T READ!

NO BASH and… ENJOY!^^

.

.

.

Chapter 3

.

Flashback

.

2 tahun yang lalu...

.

.

"ibu?"

.

"eoddiya?"

.

"ibu?"

Seorang lelaki muda berpawakan mungil bila dibandingkan dengan orang seusianya, nampak gelisah mencari sang ibu. Kedua manik hitamnya sibuk menelisik kesana kemari. Langkahnya yang sedikit tergesa menghantarkan ia menuju ruang demi ruang di setiap sudut rumah besarnya. Namun percuma saja, ibu yang dicarinya tak kunjung terlihat.

"apa kau melihat ibu?"

"tidak, tuan muda"

.

"kau tak melihat ibu?

"maaf tuan muda, semenjak acara ini dimulai saya sama sekali tak melihat nyonya"

.

"apa kau tahu dimana ibuku?"

"maafkan saya.. sedari tadi saya tak melihat ibu anda, tuan muda "

Lee donghae, nama lelaki itu selalu bertanya pada setiap pelayan yang berlalu-lalang dan secara tak sengaja bertemu dengannya. Pikirannya kalut. Tak biasanya nyonya besar di rumah ini menghilang tanpa jejak. Terlebih saat acara terpenting bagi sang anak semata wayangnya, seperti sekarang ini. Biasanya wanita itu akan menggunakan gaun sederhana namun terkesan mewah dan elegan, dengan make up tipis yang terpoles di paras cantiknya. Dengan ramah ia akan menjamu setiap tamu yang datang, membuat mereka semakin akrab. Tapi tidak untuk saat ini.

Kemeja abu-abu yang donghae kenakan sudah terlihat basah karena keringat, namun kedua bola matanya masih bekerja menelusuri setiap sudut ruangan. Hatinya berdesir, meski tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia tak peduli dengan pesta mewah peringatan ulang tahun ke 17 berjalan tanpa kehadirannya. Ia tak peduli jika lilin-lilin sebanyak 17 buah, belum ia tiup apinya. Saat ini hanya ada satu hal yang terfokus pada pikirannya, yakni menemukan sang ibu.

.

Ditengah pencariannya, terbesit satu tempat yang sebenarnya tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia berlari kecil, mengikuti suara hatinya. Sampai-sampai tak dihiraukannya jika salah satu ikatan tali sepatunya terlepas begitu saja. Tak beberapa lama, kedua kaki itu membawanya ke sebuah kamar. Kamar yang tak asing lagi baginya. Tidak. Ia sudah mencari sang ibu di ruangan ini, namun wanita itu memang tak berada disana. Hanya saja perasaannya mengatakan, nyonya Shin masih berada di sekitar sini. Dengan langkah perlahan ia memasuki ruangan yang terbilang besar dengan ornamen-ornamen penghias berwarna putih.

"...ibu? kau disini?"

Donghae memasuki ruangan semakin dalam. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka dengan lampu yang menyala. Ia tak mengerti mengapa langkahnya menjadi berat saat ingin membuka pintu dengan gagang berwarna emas tersebut.

"ibu? apa kau ada di da-"

Donghae tak melanjutkan pertanyaannya. lidahnya terasa kelu, diikuti dengan tubuhnya yang menegang seketika. Bagaimana tidak, ketika kau ingin mencari seseorang... dan saat itu juga menemukannya dengan keadaan yang tak pernah kau duga sebelumnya. Apa yang kau rasakan, jika kau menemukan sendiri sosok itu terbujur kaku di dalam bath up yang terisi penuh dengan air sabun?

"ibu? kau mendengarku?" donghae mengguncang bahu sang ibu yang sudah terendam sepenuhnya. Suaranya terdengar bergetar menahan tangisnya.

"ibu? bangunlah..." ia begitu panik hingga tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya terlanjur kalut, bahkan tak terpikir sekalipun olehnya untuk meminta bantuan pada orang-orang di sekitar. Yang ia lakukan hanyalah terus mengguncang bahu wanita yang bibirnya pun sudah membiru.

"ibu... jangan tidur disini..."

"ibu jika kau tidur disini, siapa yang akan menemani hae sebelum tidur?" donghae menangis sesenggukan sembari memeluk ibunya yang sudah menutup matanya rapat-rapat. sementara rambut panjang nyonya Shin yang basah dan terurai berhasil menutupi sebagian wajah pucatnya.

"ibu... bagaimana bisa kau melakukan ini?"

"ibu... aku mohon bangunlah... katakan apa yang sebenarnya terjadi..." ia sadar apabila yang dilakukannya tak akan membuat ibunya terbangun kembali. tapi setidaknya ia tahu alasan apa yang disembunyikan oleh ibunya. alasan yang sanggup membuat sang ibu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menyedihkan seperti ini.

"ibu... apa yang harus kukatakan tentang keadaanmu pada orang-orang di luar sana?" lelaki itu, Lee donghae. menangis semakin keras. separuh hatinya terasa menguap dan pergi seolah tertiup angin.

.

.

"donghae-ya... maafkan aku..." seorang wanita berusia 40 tahunan menangis terisak hingga berlutut memohon dibawah kedua kaki lelaki muda, yang berdiri tepat di depan persemayaman terakhir ibunya. Namun tak ada yang bisa lelaki muda itu lakukan selain mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin. Hatinya serasa ingin meledak, setelah mengetahui jika wanita inilah yang menyebabkan ibunya bunuh diri.

"donghae-ya... aku benar-benar tak menyangka jika nyonya Shin akan berbuat sejauh ini... sungguh, maafkan aku..." wanita itu kembali menangis keras, berhasil membuat wajah cantik itu tertutupi oleh mata sembabnya.

"pergi..." hanya satu kata lirih yang terucap dari bibir tipisnya.

"donghae-ya..." wanita itu semakin mengeratkan genggamannya pada kedua kaki donghae. Terlihat seperti ia tak mau meninggalkan rumah persemayaman ini sebelum mendapat jawaban yang diinginkannya.

"kubilang pergi..." donghae mendesis, menahan gejolak amarahnya. Ia harus bisa mengontrol emosi, terlebih ini adalah hari dimana pemakaman ibunya akan berlangsung.

Akan tetapi wanita itu tetap terdiam pada posisinya, sembari menggeleng hebat. Dan tanpa diduga, donghae melepaskan kedua kakinya secara kasar hingga wanita itu jatuh terjerembab ke belakang lalu pergi meninggalkannya.

"ibu... sudahlah, mungkin donghae hyung ingin sendiri. sebaiknya kita pergi" setelah terlalu lama diam dengan alasan ingin memberi ibunya sedikit ruang untuk meminta maaf.. lelaki tinggi dengan kulit putih pucat yang sedari tadi berdiri di muka pintu ruang persemayaman, memilih untuk membuka suaranya. Ia menghampiri wanita itu, dan membimbingnya untuk berdiri.

"tidak kyu, ibu hanya ingin meminta maaf padanya... dosa ibu sudah terlalu besar..."

"sudahlah bu, nanti biar kyuhyun saja yang menggantikan ibu untuk meminta maaf" lelaki itu –kyuhyun- memberikan senyuman hangat pada ibunya. Senyum yang terkenal ampuh untuk menenangkan hati wanita tersebut.

Sebagai jawabannya, sang ibu menggeleng pelan diikuti senyum tipis yang sedikit dipaksakan. "tidak kyu, ini bukan salahmu.. kau tak perlu meminta maaf padanya" ujar sang ibu lagi.

"tapi bu—"

"kyuhyunie, dimana gelangmu?" tanya sang ibu menyela perkataan kyuhyun. Kedua bola mata ibunya tampak menatap tajam ke arah pergelangan tangan kiri kyuhyun. Karena gelang putih yang selalu setia menemani sang anak selama 17 tahun, kini tak terlihat olehnya.

"ah, sebaiknya kita keluar dari ruang persemayaman ini dulu bu. tak pantas bila didengar oleh orang lain" kyuhyun salah tingkah, ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak terasa gatal.

"baiklah, jelaskan pada ibu apabila sudah di mobil nanti... tapi, apa kau tidak mau bertemu dengan ayahmu?"

Lelaki yang diajaknya bicara itupun menggeleng pelan. Raut wajahnya berubah hingga tak dapat diartikan lagi. "aku tak pantas bertemu dengannya lagi bu... bagaimana mungkin setelah membuat kekacauan seperti ini, dengan tak tahu dirinya aku berani menemui ayah?"

"tidak kyu, kau sama sekali tak ikut andil dalam masalah ini. semua karena kesalahan ibu... kau tak berhak menanggung konsekuensinya" jawab wanita itu lagi seraya mengelus punggung anak lelaki semata wayangnya.

"bagaimana jika kita pindah ke kota lain bu? hm.. kurasa pilihan yang sangat tepat jika kita pindah ke luar negeri saja.. kita berdua bisa memulai kehidupan baru disana bu, bukankah itu akan menyenangkan?"

"apa yang kau bicarakan kyu? esok pagi, sesuai keinginanmu.. kita akan menempati rumah baru dan memulai hidup disana" jawab wanita itu lagi diikuti dengan desahan nafas panjangnya.

"rumah baru?"

"hm.. rumah ayahmu"

Kyuhyun tercekat. oh.. bahkan Kyuhyun bersama ibunya masih berada di area rumah persemayaman. dan mau tak mau kyuhyun pun harus menerima kenyataan gila ini. masalah apa lagi yang akan terjadi setelah ini?

.

.

"jadi, katakan pada ibu. mengapa kau tak memakai gelang itu?" tanya nyonya Cho –ibu kyuhyun- sembari menyetir Hyundai Equus dengan mata tetap fokus ke arah jalanan ramai di pusat kota Seoul.

"aku hanya ingin hidup seperti orang biasa bu. aku tak ingin orang menjauhiku karena gelang bodoh itu!" jawab kyuhyun dengan nada kesalnya.

"tak akan ada yang akan menjauhimu sayang.. itu hanya perasaanmu saja"

"itu fakta bu!" kyuhyun semakin sebal. Ia mengacak rambutnya sendiri, hingga tak menyadari jika sifat kekanakannya kembali muncul.

"ibu sangat percaya padamu kyu... tapi jangan lupakan pula, fakta jika gelang itulah yang akan menjauhkanmu dari segala bahaya"

"baiklah... aku tak akan mengulanginya, dan maafkan aku" kyuhyun mulai jengah. Ia putar kedua bola matanya kemudian membuang muka dari nyonya Cho. Ia lebih memilih memandangi jalanan melalui kaca jendela sebelah kanannya, sebelum moodnya semakin keruh. Karena tak ada lagi hal yang dapat membuat Kyuhyun menang apabila berdebat dengan sang ibu. Ia sangat benci jika melihat ibunya sedih, terlebih ketika menangis. Sebab, nyonya Cho telah menerima beribu persoalan. Sebisa mungkin Kyuhyun menjaga perasaan sang ibu, meski ia selalu mengalah jika harus berdebat dengan nyonya Cho.

"oiya, apa ibu sudah memikirkan secara matang tentang keputusan untuk pindah ke rumah... ayah?" sambung kyuhyun lagi dengan hati-hati. Sebenarnya kyuhyun merasa tak enak jika harus menyinggung masalah ini lagi. Akan tetapi ia tak mau jika keputusan itu justru akan membuat hidup ibunya lebih menderita.

"kyuhyun-ah... apa kau percaya pada ibu?" nyonya cho menjawab, tepat disaat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Wanita berparas cantik itu menolehkan kepalanya lalu mengulurkan tangan kanannya kemudian mengelus pipi kyuhyun.

"hm, aku percaya pada ibu sepenuhnya... asal ibu mau berjanji tak akan menyalahkan diri ibu kembali seperti tadi" kyuhyun menggenggam tangan sang ibu, lalu mengelus-eluskannya kembali di pipinya. memang terasa sangat nyaman baginya, jika pada posisi seperti ini.

"dan kau juga harus berjanji pada ibu, untuk terus memakai gelang itu kapanpun dan kemanapun kau pergi..."

"hm... aku mengerti"

.

.

.

.

"kyuhyun-ah... kemarilah" sambut pria paruh baya dengan hangat, yang telah berdiri di teras rumah mewahnya ditemani pula oleh beberapa pelayan.

Lelaki muda yang diajaknya bicara terlihat canggung saat hendak turun dari mobil Hyundai Equus berwarna hitam tersebut. Hatinya masih terasa ragu dengan keputusan yang dipilih sang ibu. Ia tidak memikirkan apa yang akan dilakukan donghae padanya, tetapi lebih memikirkan apa yang akan diperbuat donghae pada ibunya. terlebih ia tahu benar jika donghae sangat membenci ibu yang disayanginya.

"kyuhyun-ah... apa yang kau pikirkan? cepatlah turun dan balas sambutan ayahmu" lamunan kyuhyun buyar ketika sang ibu menegurnya dari luar mobil. sebenarnya kyuhyun sudah membuka pintu mobilnya sejak beberapa saat lalu. namun ia belum siap untuk turun, dan menginjak pelataran rumah yang jauh lebih mewah daripada rumah yang pernah ia tinggali bersama ibunya sebelum ini. Kyuhyun menarik nafas panjang. Bagaimanapun keadaannya, ia harus melindungi sang ibu.

"selamat pagi tuan lee..." sapa kyuhyun begitu turun dari mobil ibunya, ia tersenyum sopan kemudian membungkuk penuh hormat di hadapan pria paruh baya tersebut.

"tuan lee? hahahhaa... tidakkah aku salah dengar? sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan itu nak?" tuan lee tertawa geli sesaat setelah mendengar jawaban yang dilontarkan oleh kyuhyun.

"sejak saat ini... tuan" kyuhyun kembali gugup. tak ada lagi kalimat yang ingin ia ucapkan pada ayahnya ini. semuanya terasa begitu... canggung?

"hahahaha berhentilah membuatku tertawa kyu... masuklah ke dalam, temui hyungmu... ia pasti sangat senang saat tahu orang semanis dirimu akan menjadi adiknya" tuan lee mengusap pelan rambut ikal kyuhyun dengan penuh kasih sayang.

Kyuhyun masih terpaku di tempatnya berdiri. Tak ada niatan sedikitpun untuk masuk ke dalam rumah yang terlampaui besar ini. Jantungnya berdegup cukup kencang.

"kyu? kau tak mendengar kata-kata ayahmu?" lagi-lagi, suara lembut nyonya Cho mencairkan kebekuan hati kyuhyun.

"...bukan begitu bu... tapi aku—"

"temui hyungmu sekarang, dan sapalah dia dengan senyuman hangat... bukankah sebelumnya kau hanya dapat melihat donghae dari jauh saja? bukankah sudah lama kau bermimpi untuk bisa bermain bersama hyungmu?" nyonya Cho kembali menimpali.

"ibu benar... aku memang ingin menghabiskan waktu bersama donghae hyung, tapi bukan seperti ini keadaannya bu... aku sungguh tak pantas berada di rumah ini... aku tak pantas untuk bertemu ayah, lebih-lebih donghae—" ucapan kyuhyun terpotong ketika secara tiba-tiba nyonya Cho memeluk tubuhnya erat.

Mendengar sepenggal ucapan polos seorang kyuhyun, tuan lee hanya bisa tersenyum kecut. Tak disangkanya jika kyuhyun sudah bisa merasakan kesulitan atas buah dari masalah besar yang telah ia perbuat.

"ibu, ayo kita pulang ke rumah saja..." bisik kyuhyun pelan di saat nyonya Cho masih dalam keadaan memeluknya.

"mulai sekarang rumah ini adalah rumahmu juga kyu... percaya pada ibu, jika semua akan baik-baik saja" nyonya Cho melepas pelukannya, menatap lekat obsidian anak kesayangannya kemudian mengangguk kecil sebagai isyarat untuk meyakinkan kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk pelan beberapa kali, sambil memantapkan hatinya sekali lagi. Dihembuskannya nafas kasar dari mulutnya. Dengan langkah pasti seolah tak pernah terjadi suatu hal, kyuhyun berjalan masuk mencari donghae hyungnya.

Kyuhyun terkekeh pelan saat mendapati donghae tengah melamun di ruang tengah. Terbesit suatu ide jahil di otaknya, namun dengan cepat ia menepisnya. Kyuhyun melangkahkan kaki jenjangnya sepelan mungkin, takut suara akibat gesekan sepatunya dengan lantai akan mengganggu donghae. Begitu kyuhyun berhasil mendekati donghae, raut wajahnya berubah tatkala melihat jejak-jejak air mata yang jelas tercetak di pipi hyungnya.

"siapa kau?" pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari bibir donghae, berhasil membuat jantung kyuhyun hampir terlepas.

"donghae hyung... aku... aku..." Kyuhyun kembali tergagap. Wajar saja jika donghae tak mengenalinya, karena mereka berdua tak pernah bertemu sebelumnya. Lupakan pertemuan mereka secara tak sengaja saat di hari pemakaman nyonya Shin, karena Kyuhyun yakin bahwa donghae tak akan menyadari keberadaannya. kyuhyun sering kali memerhatikan hyungnya dari jauh, semenjak sang ibu bercerita jika ia memiliki kakak laki-laki yang berbeda ibu. Dulu sejak pertama kali melihat donghae, kira-kira 7 tahun yang lalu... Kyuhyun mulai menyayanginya. Ia kerap memaksa nyonya Cho agar mengantarnya ke depan sekolah donghae, untuk sekedar melihat hyungnya yang sedang dijemput oleh beberapa pengawal. yaah meskipun hanya menatapnya dari jendela mobil. Terkadang Kyuhyun merasa iri dengan donghae yang leluasa bermain bersama temannya maupun melakukan olahraga kesukaannya saat di sekolah. Pernah beberapa kali Kyuhyun meminta untuk pindah ke sekolah yang sama dengan donghae, namun tak pernah sekali pun nyonya Cho memberinya izin. Walaupun begitu Kyuhyun merasa sangat bangga memiliki hyung seperti donghae, karena saat sekolah menengah donghae memiliki prestasi gemilang di bidang basket. Seumur hidup kyuhyun memiliki keinginan untuk bisa mahir bermain basket, tapi setidaknya donghaelah yang telah mewujudkan keinginannya.

"kau mengenalku?" tanya donghae penuh selidik. Ia tatap setiap inchi dari penampilan Kyuhyun. Mulai dari rambut hingga sneakers yang kyuhyun kenakan.

Kyuhyun tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak tahu harus menjawab apa. Kyuhyun menggigit bibirnya tanda bahwa ia sedang gugup, sebenarnya ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan siapa jati dirinya sebenarnya.

"kau anak dari wanita jalang itu?" donghae berjalan semakin mendekat, menatap tajam kedua mata Kyuhyun. Persis seperti burung elang yang siap menerkam mangsanya.

"donghae hyung..." Kyuhyun terkesiap setelah mendengar pertanyaan dari donghae, ia sungguh sadar jika donghae membenci ibunya. Namun tak pernah terpikir olehnya jika seseorang yang ia banggakan selama ini, memanggil ibu yang disayanginya dengan sebutan wanita jalang.

"adakah sesuatu yang salah, hm? kau kesini untuk membayar hutang nyawa padaku?" Kyuhyun kembali terdiam. Jantungnya berdegup kencang, yang ada di pikirannya adalah bagaimana nasib sang ibu selama tinggal di rumah ini. Ia telah bersumpah sebelumnya, akan menjaga nyonya Cho bagaimanapun kondisinya.

"LEE DONGHAE!" bentakan tuan Lee sukses membuat pagi hari di kediamannya terasa begitu mencekam.

"ayah, apa kau sudah tak waras? baru kemarin jasad ibu dimakamkan, dan sekarang sudah membawa selingkuhanmu kemari?" dengan lantang namun tak menghilangkan nilai kesopanannya, donghae membalas bentakan ayahnya.

"jagalah perkataanmu hae... mulai sekarang wanita itu akan menjadi ibumu, dan kyuhyun akan menjadi adikmu" jawab tuan Lee setenang mungkin, lalu beranjak pergi diikuti oleh nyonya Cho yang masih nampak memiliki rasa segan akan keberadaan donghae.

"APA DENGAN KAU MEMBAWA WANITA INI, IBUKU AKAN HIDUP KEMBALI? KAU MEMANG SUDAH GILA AYAH! KEMBALIKAN IBUKU!" teriak donghae. ia terduduk lemas di lantai lalu menangis keras merasa terlalu frustasi dengan keluarga ini.

Kyuhyun merasa iba dengan keadaan donghae yang sangat kacau. Setelah lama terpaku melihat pertikaian yang dilakukan ayah dan hyungnya, kyuhyun mulai berjongkok mensejajarkan dirinya dengan donghae. Kemudian ia letakkan telapak tangannya ke atas bahu donghae. "hyung... aku tahu ini pasti sangat sulit untuk kau lalui, tapi percaya—"

"TAK USAH IKUT CAMPUR MASALAHKU!" donghae melirik sekilas tangan kyuhyun, kemudian melepaskannya dengan brutal dari atas bahu. Sampai-sampai kyuhyun meringis, karena sedikit merasa kesakitan.

"urus saja penyakitmu itu, tak usah pedulikan aku" perkataan donghae lambat laun kembali melunak. Paling tidak ia bisa mengontrol emosinya lagi.

Namun kata-kata yang donghae ucapkan serasa menohok hati kyuhyun. Ia terkejut dan dengan buru-buru melepas gelang putih yang ia kenakan di pergelangan tangannya, lalu menyimpannya di dalam saku celana. "aku tak memiliki penyakit apapun, aku memang menyukai gelang sejak lama" sahutnya polos.

"menjauhlah dariku mulai detik ini, jika memang kau masih menyayangi nyawamu.. aku tak akan pernah melibatkanmu dalam masalah ini, selagi kau menuruti SATU kalimatku sebelumnya" donghae kembali berujar, dan langsung berhasil membuat kyuhyun menelan ludahnya susah payah.

"satu lagi, anggap saja kau tak pernah melihatku di rumah ini. lakukan aktivitasmu seperti biasanya" setelah cukup memberikan sebuah peringatan, donghae beralih pergi meninggalkan kyuhyun yang masih berusaha mencerna kata demi kata.

"donghae hyung... bagaimana aku bisa menganggapmu tidak ada, jika kenyataannya kau memang hyungku?" meski terucap pelan, namun pertanyaan kyuhyun sukses membuat langkah donghae terhenti sesaat.

Donghae menolehkan kepalanya ke arah kyuhyun yang masih setia pada posisi berjongkok. "sudah kubilang sebelumnya, aku tak pernah mengenalmu!"

"...kau sudah kuanggap sebagai orang asing yang menumpang tinggal di rumah ini" setelah menyelesaikan kalimatnya, donghae melanjutkan langkahnya hingga punggungnya sudah tak terlihat lagi.

"hyung-ah... seberat ini kah? bisakah kau menoleh dan memberikan senyummu barang sedetik saja, langsung kepadaku? bisakah kita berperilaku layaknya hyung dan namdongsaeng (adik laki-laki) walaupun begini keadaannya?" kyuhyun bermonolog tanpa menyadari terdapat beberapa pasang mata yang mengamatinya dari jauh. Ia beranjak dari posisinya dan berjalan mengitari rumah yang sebagian besar terbuat dari kaca, sehingga dengan leluasa dapat melihat pemandangan luar hanya dari dalam rumah. meski harus seorang diri. semua orang di rumah ini terlanjur sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, karena itulah kyuhyun harus mencoba untuk terbiasa.

.

.

.

TBC/END?

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaai, masihkah ada yang menunggu FF ini? apakah pertanyaan para readers di chapter sebelumnya ada yang sudah terjawab?

astaganaga maafkan sayaaaaa, janjinya cepet ternyata updatenya telat satu bulan. dan tengah malem gini updatenya.. T_T sebagai permintaan maaf, nih aku bikinin flash back bagaimana awal kyuhae bertemu^^ hahaha, maaf ya belum sempat balas satu per satu... aku sibuk banget sekarang, mohon dimaklumi sebagai mahasiswa tingkat atas T_T chapter ini aja bikinnya di sela-sela waktu ngerjain tugas hahaha tapi aku janji ch depan akan dibalas setiap komennya! :"))))

saya tidak memaksa reader untuk membaca chapter ini, karena saya yakin chapter ini hancur banget karena belum sempet dibaca ulang T_T tapi jika sudah terlanjur membaca ini bisakah kalian meninggalkan jejak di kolom review barang satu kata saja? karena setiap review merupakan penyemangat bagi saya! akhir kata, terima kasiiiih. saya berusaha untuk bisa update lebih cepat lagi dari pada ini. maaf malah curhat. baaybaay!

terima kasih banyak untuk:

jihyunelf, kyuli 99, kimchan83, Nisa, Rahma94, Awaelfkyu13, septianurmalit1, mifta cinya, Wonhaesung Love, Yeri LiXiu, Sparkyubum, ningKyu, , RTDhilla2 Kyuiee, aniielfishy, adlia, Haebaragi86, Gyu9, phn19, susilawatilia208 dan mungkin bagi yang belum disebutkan.