Let Me Be Happy
-dhedingdong95 & haifandr-
Cast:
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Ada beberapa cast lain yang menyusul
Genre: Family, Brothership, Friendship, Life, Drama, DLDR, RnR please!
Rate: T (lebih ke Parental Guidance)
Length: Chaptered
(ntah berapa chapter, tergantung respon. bisa saja panjang bisa juga chapter depan tamat)
Disclaimer:
ini merupakan hasil remake FF saya sekitar 4tahun lalu dengan cast yang berbeda. Jadi jika mungkin ada yang pernah membaca di 'tempat lain' dengan cast yang berbeda, tenang saja itu milik saya juga kok. hehe. Telah dilakukan sedikit perubahan sesuai dengan kebutuhan cerita.
Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya.
SELAMAT MEMBACA!
WARNING! TYPO, NOT YAOI, alur kecepetan, membosankan!
Don't like? DON'T READ!
NO BASH and… ENJOY!^^
.
.
.
Chapter 4
(kembali ke cerita sebenarnya)
.
.
"BRENGSEK! ANAK KURANG AJAR! kau sama saja dengan ibumu! Shin Hyora yang tak pernah tahu diri! memalukan keluarga!" kulihat ayah semakin larut dengan kemurkaannya. Wajahnya pun menjadi merah karna menahan amarah.
Tapi apa gunanya ia marah seperti itu padaku? apa gunanya ia memukul hingga aku babak belur? toh tak ada sedikitpun rasa takut terlebih perasaan segan padanya dalam diriku ini. yang ada hanyalah kebencian mendalam yang semakin membara di hatiku.
"sekali lagi, jangan pernah sebut nama ibuku! atau kau akan menyesal seumur hidupmu!" kulayangkan kakiku untuk masuk ke dalam kamar tanpa memedulikan keberadaan ayah. tak tahu lagi dimana sopan santun yang kupunya selama ini.
"apa yang harus kusesali atas perbuatan-perbuatan bodohmu hm? yang harusnya aku sesali ialah... memiliki anak sepertimu! pembangkang dan tak memiliki rasa terima kasih!"
DEG! langkahku terhenti tepat saat ayah mengakhiri perkataannya. Nafasku kian memburu, serasa tak ada lagi oksigen di sekitar tempatku berdiri. Bagaimana bisa ayah berkata demikian? Sungguh hatiku yang kini telah hancur, semakin hancur lagi bak menjadi serpihan-serpihan kecil bahkan mungkin telah menjadi debu. atau dapatkah aku berkata jika saat ini, aku sudah tak memiliki hati?
"aku telah bahagia memiliki anak seperti kyuhyun! Ia membawa keceriaan di keluarga dengan sikapnya yang manis dan penurut. Kau bisa melihat bukan? dengan keterbatasan yang dimilikinya ia masih bisa berprestasi dan membanggakan keluarga! sedangkan kau? apa yang dapat dibanggakan darimu? hanya bermain-main dengan hal yang tak penting" sepertinya amarah ayah telah mereda, tapi bagiku setiap kata yang diucapkannya sama seperti pisau yang satu per satu dilempar tepat mengenai jantungku.
.
benarkah saat ini ayah tak menginginkan kehadiranku? Apa kini hanya kyuhyun yang ia anggap menjadi anak kandungnya? lantas mengapa ia tak membunuhku dari awal bersama dengan ibu? mengapa ia masih membiarkanku hidup hanya sekedar untuk menikmati penderitaan ini?
.
Sesaat setelah mendengar pernyataan mengejutkan dari ayah.. kuputuskan untuk berlari menuju kamar, mengambil barang lain yang begitu berharga di hidupku. Kuambil sebuah kotak terbuat dari kayu berukuran cukup besar yang sengaja kusimpan di dalam lemari kamar beberapa tahun terakhir ini.
"apa kau ingat benda-benda ini? apa kau tahu bagaimana perjuanganku dulu untuk mendapatkan perhatian sedikit saja darimu, ayah? aku memang tak sepintar kyuhyun yang dengan homeschooling saja dapat mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional.. dari awal aku sangat menyadari jika kemampuan otakku terbatas, maka dari itu sejak umurku menginjak 10 tahun aku berjuang mati-matian agar mahir bermain basket, setidaknya aku bisa membanggakan kedua orang tuaku bagaimanapun caranya. masih tercetak dengan jelas memori saat kau membuang medali pertamaku ke tempat sampah dengan tersenyum remeh, kau selalu berpikir bahwa basket adalah permainan yang tak berguna. Medali yang kudapat begitu susah payah, dengan mudahnya terbuang sia-sia. Dari situ aku tak menyerah. Tak peduli apa respon ayah suatu saat nanti, aku memutuskan untuk mengumpulkannya satu demi satu hingga sebanyak ini. dan kau masih menganggap bahwa ini bukanlah sebuah prestasi? baiklah... mungkin sebaiknya aku harus menyerah sekarang" kujatuhkan kotak putih yang kubawa, hingga isinya turut berhamburan di lantai. Aku sudah terlalu lelah hidup seperti ini, mungkin pilihan terbaik adalah berkumpul menemui sahabat-sahabatku.. demi menghilangkan beban pikiran walau hanya sementara, tapi bagiku itu semua lebih dari cukup.
Oh! aku tahu, kalian pasti bertanya-tanya bagaimana keadaan kyuhyun? Tenang saja, anak itu sudah dilarikan menuju 'rumah kedua'nya. Dapat kupastikan jika ayah berani menghabiskan seluruh harta yang dimiliki hanya untuk menyelamatkan anak haram kesayangannya. Cukup merepotkan bukan?
.
.
"yak! lee donghae! masalah apa lagi yang kau perbuat huh?" tanya sungmin sembari mengobati memar di sudut kanan bibirku, katakanlah jika dia memang salah satu teman baikku.
"ah! pelan-pelan ming!" sahutku sedikit berteriak karena menahan perih. selain menjadi teman baik, sungmin juga bisa diibaratkan menjadi kotak obat berjalan bagiku. dia adalah satu-satunya teman yang selalu mengobati luka-lukaku setelah kejadian seperti ini terulang kembali.
"melawan perkataan tuan lee dan memberi pelajaran pada kyuhyun" hyukjae yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar sungmin dengan membawa beberapa kantung snack, menjawab pertanyaan sungmin. um, bisa kubilang sangat tepat.
"tak perlu kujelaskan pun kalian sudah mengerti" aku segera beranjak dari sofa, dan menghempaskan diri di kasur besar milik sungmin.
"seharusnya kau tak perlu sekeras itu pada kyuhyun, bagaimanapun dia adikmu. dan jangan lupakan jika tubuhnya berbeda dengan kita" bahkan sikap bawel sungmin pun sudah kembali.
"lalu bagaimana keadaan kyuhyun?" sepertinya hyukjae berubah menjadi lebih antusias. aku sengaja menutup kedua mataku agar mereka berdua berhenti mengoceh, tetapi sepertinya sama saja.
"...mungkin dia sudah mati..." jawabku enteng, kemudian menutup kupingku dengan salah satu bantal yang berada di sekitarku.
"YAK!" sudah kuduga, pasti mereka berdua cukup terkejut dengan perkataanku.
"bagaimana bisa?"
"apa yang kau lakukan padanya?"
"aku tahu kau tak sekejam itu lee donghae!"
"jelaskan semuanya pada kami!" sungmin dan hyukjae terus saja mengganggu acara tidurku. mereka berusaha mengambil bantal yang kugunakan, menarik-narik kaosku atau melakukan apapun hanya untuk membuatku terbangun.
"bisakah kalian diam dan membiarkanku tidur dengan tenang sebentar saja?" tak jarang memang apa yang dilakukan kedua sahabatku ini membuatku sedikit naik pitam. namun bagaimanapun tanpa kehadiran mereka di hidupku, aku pasti sudah menyerah sejak lama.
"tidak, sebelum kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. aku tak mau tiba-tiba terseret dalam masalah keluargamu, kemudian ikut ditahan di penjara" hyukjae kembali berujar ditengah mengunyah onigiri yang beberapa saat lalu ia beli.
"tidak seperti itu bodoh!" kulemparkan bantalku ke arah dimana hyukjae berdiri.
"benar apa yang dikatakan hyukjae. kau harus menceritakan semuanya, bagaimana kami tahu apa yang kau rencanakan setelah ini hm? bagaimana jika kau sudah menjadi buronan polisi dan mencari tempat persembunyian disini?" sungmin yang kulihat lama terdiam, kini ikut berujar.
"jadi kalian tak mau menampungku disini huh? baiklah aku pergi! anggap saja kalian tak pernah mengenalku" aku bersiap untuk turun dari ranjang, namun tiba-tiba sebuah tangan menghentikan aksiku.
"bukan begitu hae, aku hanya—"
"yeoboseyo" tiba-tiba ayah meneleponku. tak biasanya. karena moodku sedang tak baik, kujawab saja dengan asal-asalan.
"kau dimana sekarang? bergegaslah ke rumah sakit St. Mary sekarang"
"ada apa?" sebenarnya aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ayah saat ini. kyuhyun. pasti karena anak inilah ayah yang tak pernah meneleponku lebih dulu, dengan tanpa basa-basinya ia menghubungiku dan bertanya dimana aku sekarang.
"ia kritis. ia terus memanggil namamu di tengah tidurnya. aku mohon, temuilah dia sekarang" apa aku salah dengar? ayah? memohon padaku... demi anak penyakitan itu? bukankah ini sangat lucu?
"tsk, bukan urusanku" gigiku kembali bergetar menahan emosi yang kapan saja bisa meledak. sebenarnya siapa anak kandungnya? dia? atau aku?
"jangan biarkan aku melakukan cara kasar, lee donghae"
"lakukan saja jika itu maumu" jawabku enteng seakan tak ada lagi rasa takut akan cara apa yang ayah lakukan untuk memaksaku.
"LEE DONGHAE!" oh tuhan, bahkan ini sambungan telepon dan ayah masih sempat membentakku?
"apa dengan uangmu yang menggunung itu tak cukup untuk membuat kyuhyun sembuh? mengapa aku harus dilibatkan?"
"karena KAU satu-satunya biang masalah. kau yang menyebabkan dia begini. sadarlah itu lee donghae! kutunggu hingga 1 jam kedepan, jika kau tetap keras kepala... aku bisa melakukan apa saja pada kedua teman bodohmu itu" selalu begini. dengan harta yang dimilikinya, ayah bisa melakukan apa saja yang ia mau. lantas apa yang bisa aku lakukan selain menuruti setiap perintahnya?
"baiklah, aku akan menurutimu. tapi jangan sekali-kali kau membawa mereka ke dalam permasalahan keluarga 'sampah' ini. cukup aku saja yang menjadi korban kekejamanmu, ayah..."
PIP.
Kututup sambungan telepon itu secara sepihak. Aku sudah bosan mendengar ancaman-ancaman tak berarti dari mulut lelaki yang kupanggil 'ayah'. tapi apabila itu sudah berhubungan dengan sahabat-sahabatku, aku tak dapat berkutik lagi.
"siapa yang menelepon hae?" hingga tanpa kusadari, hyukjae dan sungmin sedari tadi begitu termangu menyimak percakapanku baru saja.
"ayah" aku beranjak dari kasur empuk itu, kemudian mengambil mantel yang tersampir di lengan sofa.
"mau kemana lagi eoh?"
"menemui anak itu. aku pergi dulu"
"anak itu? siapa? kyuhyun? tadi kau bilang— YAK! LEE DONGHAE!" suara hyukjae secara berangsur memudar dalam pendengaranku seiring tertutupnya pintu kamar sungmin.
.
.
seolah mengulur waktu, aku berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit St. Mary yang terkesan sunyi dan sepi ini meskipun beberapa dokter dan perawat sempat berlalu lalang. jangan heran jika aku sudah cukup hafal dengan seluk beluk rumah sakit ini, karena setiap kyuhyun kambuh ia selalu dirawat disini. namun sepertinya sekarang adalah masa paling kritis yang pernah kuketahui. ah masa bodoh dengannya, dia sembuh atau dia mati pun juga bukan urusanku.
"apa kau perlu diancam untuk mau datang kemari?" suara bass milik ayah menghancurkan lamunan indahku.
"aku hanya tak ingin direpotkan" kumasukkan kedua telapak tanganku ke dalam saku mantel, dengan berani kutatap langsung kedua mata lelaki paruh baya itu.
"merepotkan katamu? tidakkah kau melihat ini sebagai bentuk tanggung jawab? aku bisa saja melaporkanmu pada polisi dengan ancaman percobaan pembunuhan" suara ayah berubah lebih pelan, tapi dibalik itu semua terselip ancaman yang siapapun tak akan percaya ketika mendengarnya.
"apa mengancam adalah hobi barumu? sudah berapa ancaman yang kau layangkan padaku hari ini? sudah kukatakan ribuan kali jika aku tak takut dengan ancaman busukmu. bahkan jika kau membunuhku pada detik ini juga, aku tak takut! dan bagaimana jika aku juga melaporkanmu karena membunuh ibuku? itu adil bukan?"
"bukti apa yang kau punya? aku tak pernah membunuh ibumu, dia saja yang bodoh"
"sudah hentikan! ini rumah sakit. tak pantas jika kalian terus berdebat disini. donghae-ya, aku mohon... temuilah kyuhyun sebentar saja. dengan keberadaanmu di sampingnya, aku yakin cara itu akan membuatnya cepat sadar"
"..bagaimana bisa?" tanyaku spontan dengan sedikit rasa tak percaya.
"sebenarnya aku juga tak mengerti apa yang terjadi pada kyuhyun. dokter berkata saat ini ia berada diambang kesadarannya. dia tidak mengalami koma, dia hanya tertidur entah kapan akan terbangun. tapi kuharap secepatnya. sedari tadi ia hanya menggumamkan namamu dibalik masker oksigen yang digunakannya. kumohon donghae-ya.. aku tak akan menyalahkanmu.. tapi kumohon.. bantu aku untuk mengembalikan kyuhyun, hae-ya.." aku terdiam mendengar penjelasan hanna ahjumma. seharusnya aku merasa senang melihat kyuhyun tak berdaya diatas ranjang rumah sakit, setidaknya ia tak bisa mengganggu aktivitasku lagi. tapi... kenapa ada rasa sedikit nyeri di hatiku? sungguh tak nyaman rasanya. kuhembuskan nafasku pelan dengan tujuan menetralkan segala rasa campur aduk di dalam hatiku.
"bagaimana jika aku memintamu untuk mengembalikan ibuku? apa kau sanggup mengabulkannya?" kudengar isakan dari hanna ahjumma semakin keras. aku tak tahu apakah tangisnya ini benar dari lubuk hatinya atau air mata buaya belaka.
"hhh, sayangnya aku tak sekejam dirimu ataupun lelaki ITU. baiklah... aku akan mencobanya" kuarahkan tatapan tajamku pada sosok laki-laki paruh baya yang duduk termenung di kursi depan ruang rawat kyuhyun.
"terima kasih... sekali lagi terima kasih donghae-ya..." hanna ahjumma terus saja menyalami tanganku dan sesekali air matanya menetes mengenai punggung tanganku, mungkin itu sebagai rasa terima kasihnya.
aku tak menjawab ucapan hanna ahjjuma dan melanjutkan jalanku menuju kaca bening yang terpasang di pintu ruangan dimana kyuhyun dirawat. melalui kaca berukuran sekitar 30x10cm, aku dapat melihat anak itu tersiksa karena alat kedokteran yang tak seberapa kuketahui nama-namanya. kuberanikan diri untuk masuk ke ruangan besar yang terkesan dingin dan sepi. hanya suara elektrodiagramlah yang meramaikan ruangan ini. dengan langkah sepelan mungkin, kudekati ranjang dimana kyuhyun tertidur. aku tak mau suara gesekan yang dihasilkan oleh sepatuku, membuatnya terganggu.
aku memilih berdiri di sisi kiri ranjangnya. kutatap seksama wajah pucatnya. ia terlihat seperti tidur layaknya orang normal. tidak ada kejanggalan selain masker oksigen yang menempel di sekitar mulut dan hidungnya, serta beberapa selang dan kabel yang menempel di tubuhnya. masih terpatri jelas beberapa luka memar yang menghiasi wajah dan tangannya, mungkin di bagian tubuh lain.. tertutupi oleh baju rumah sakit dan selimut putih yang dikenakannya. aku tahu akan sangat lama menghilangkan bekas memar-memar itu, tapi bagaimana lagi? dia selalu saja mengganggu kehidupanku, bak parasit yang terlalu senang menempel di tanaman lainnya. lagipula sudah kuperingatkan dari awal agar ia tidak mencampuri urusanku, jadi siapa yang salah disini?
"hyung... donghae hyung..."
suara itu...
"donghae... hyung..." sangat lirih namun masih jelas tertangkap oleh indra pendengaranku. ternyata benar, ia memang seperti mengigau. apa yang ada di pikirannya hingga bisa menyebutkan namaku di tengah aktivitas 'tidur'nya?
setelah berulang kali memanggil namaku, ia terdiam kembali. jujur saja, aku tak melakukan apapun saat tanpa sadar ia menggumamkan namaku. hanya berdiri dan menahan nafasku, aku merasakan ketegangan menjalar ke seluruh tubuhku. entah apa penyebabnya.
"...aku disini kyu..." bisikku pelan.
aku tak mengerti mengapa tanganku tiba-tiba ingin menggenggam tangan putih nan dingin yang terbalut oleh selang-selang infus itu? semakin tanganku mendekati tangan kirinya, kuurungkan saja niatku tersebut dengan cepat.
apa memang benar dengan keberadaanku disini, akan membuat kyuhyun cepat sadar? lihat, bahkan jari-jari panjang miliknya mulai menunjukkan sedikit pergerakan. kedua matanya sedikit terbuka. kyuhyun tersenyum tipis di balik masker oksigen itu. tunggu dulu, siapa yang ia beri senyuman itu? sekalipun kyuhyun tersadar dari masa kritisnya, ia langsung tersenyum. ada-ada saja.
"donghae hyung..." kyuhyun kembali tersenyum, kali ini senyumnya lebih lebar dari sebelumnya. ck! jangan tersenyum bodoh, itu akan semakin membuat rasa sakit di hatiku menjadi dua kali lipat!
"maaf..." aku tak melanjutkan kata-kataku kembali, dan berlalu pergi.
.
.
"bagaimana keadannya hae?" begitu aku keluar dari ruang rawat, hanna ahjumma sudah siap menghadangku dengan pertanyaannya.
"sepertinya dia telah kembali" aku menjawab seperti tanpa ada beban.
"benarkah? syukur—"
"tugasku sudah selesai bukan? baiklah, aku pergi" tanpa menunggu hanna ahjumma menyelesaikan kalimatnya, aku memilih untuk pergi dari tempat yang paling memuakkan.
"kau bisa menjenguk kyuhyun kapanpun kau mau, hae!" ditengah perjalananku menjauhi mereka, hanna ahjumma kembali berujar dengan sedikit berteriak.
"jangan berharap lebih nyonya" jawabku santai, meskipun aku tahu jika jawaban ini tak sampai terdengar olehnya.
.
.
aku terus berjalan menjauhi rumah sakit. kutinggalkan saja mobil audi R8 yang setia menemani kemanapun aku pergi di basement rumah sakit. lagipula aku tak memerlukannya saat ini. di tengah perasaanku yang tak menentu, alangkah baiknya bila aku mengunjungi sebuah lapangan basket yang jaraknya tak jauh dari rumah sakit. sudah beberapa hari aku tak menyentuh benda bulat berwarna oranye itu, mengingat turnamen nasional tinggal menghitung hari.
ah, untung saja tak ada yang menggunakan lapangan ini. hahaha, lagipula siapa yang mau bermain di lapangan basket ketika suhu udara malam ini kurang dari 10 derajat celcius? cari mati saja. eum, kalian pasti berfikir bagaimana caraku untuk mendapatkan bola basket disaat aku kesini dengan tangan kosong? hey, apa gunanya memiliki dua sahabat yang setia seperti hyukjae dan sungmin?
kuambil ponselku dari saku mantel, dan mengetikkan beberapa pesan disana.
.
To: hyukbabo
bisakah kau membawakan bola basket ke lapangan yang ada di seberang rumah sakit St. Mary? jika kau tak mau melihatku mati membeku, cepatlah kemari.
.
sent.
.
tanpa menunggu lama, sebuah pesan balasan dari hyukjae telah kuterima.
.
from: hyukbabo
dasar bodoh! kemana saja kau? kenapa baru menghubungi setelah membuat kami ketakutan setengah mati? diamlah disana, dan jangan coba untuk pergi lagi. aku dan sungmin akan menyusulmu dalam 10 menit.
.
aku terkikik geli sesaat setelah membaca pesan dari hyukjae. semarah apapun kedua sahabatku itu, mereka tak akan bisa tenang tanpa mengkhawatirkanku.
.
.
.
"selalu saja. menghubungi kami disaat kau sedang memerlukan sesuatu" ejekan sungmin terbang bagaikan angin lalu di sekitar kupingku.
"setan apa yang merasukimu huh? nekat bermain basket di tengah suhu dingin begini. bagaimana jika tiba-tiba kau tumbang? kau sengaja mau merepotkan kami? kau bisa berlatih bersama klubmu di lapangan indoor, setidaknya disana jauh lebih hangat daripada ini" jitakan pelan dari tangan lee hyukjae mendarat mulus di kepalaku.
"AUCH, LEE HYUKJAE!" aku berpura-pura kesakitan.
"bagaimana? apa kyuhyun sudah membaik?" tanya sungmin mengalihkan pembicaraan, sambil melemparkan sebuah bola tepat mengenai perutku.
"sepertinya.." aku menjawab sekenanya dan berlari kecil ke tengah lapangan.
"yak lee donghae! kau hanya kuberi waktu satu jam untuk bermain disini, sisanya kau harus ikut menginap di rumah sungmin! aku tak mau temanku menjadi gelandangan di sekitar sini!" hyukjae kembali berteriak dari tepi lapangan. uh, cerewet sekali. tapi tenang saja, aku sama sekali tak menghiraukan teriakannya. aku tetap fokus pada permainanku seorang diri... hingga lupa waktu.
.
"donghae-ya! 10 menit lagi!" kulirik sekilas hyukjae dan sungmin tengah duduk di tepi lapangan, dengan menyesap secangkir kopi panas yang mungkin mereka beli di salah satu vending machine dekat sini.
aku melanjutkan permainanku kembali. peluh yang sudah membanjiri wajahku tak menyurutkan semangatku untuk bermain. memang aneh rasanya, ketika suhu dingin seperti ini tubuhku malah basah oleh keringat.
"donghae-ya!" hyukjae berteriak kembali dan membuat permainanku terhenti beberapa saat.
"apa lagi?" tanyaku malas. aku tahu terkadang dia lebih suka mengerjaiku di waktu yang tidak tepat.
"hanna ahjumma menghubungimu!" hyukjae mengambil ponsel yang kugeletakkan di atas mantel, yang sedari tadi kutitipkan pada mereka. ia terlihat sedikit panik.
"tolak saja panggilannya" jawabku sesuka hati sembari mendribble benda berbentuk bulat itu.
"bagaimana jika ini berhubungan dengan kyuhyun?" sungmin ikut menimpali.
"aku tak peduli" yes three point! bola yang kulempar dari jarak tak dekat itu, masuk ke dalam ring dengan sempurna.
"ayolah hae, angkat saja. ini sudah panggilan kelima, pasti ada sesuatu penting yang ingin ia bicarakan padamu" sungmin kembali angkat bicara. seperti biasanya, diantara kami bertiga memang dialah yang paling menunjukkan kekhawatiran apabila sudah berhubungan dengan kondisi kyuhyun.
"kalau begitu kau saja yang angkat, apa susahnya!" kulemparkan bola itu ke luar lapangan demi menunjukkan kekesalanku pada sikap bawel mereka.
"bukan begitu hae, aku yakin ini pasti berhubungan dengan kyuhyun. kau tahu bukan, jika kesembuhan kyuhyun sangat bergantung padamu? angkatlah sebentar saja. kalau memang bukan menyangkut tentang kyuhyun, kau bisa langsung mengakhirinya" hyukjae berusaha bersikap bijak kali ini. ia menyodorkan ponsel putih dengan tulisan 'panggilan masuk dari hanna ahjumma' yang tertera di layar.
.
kuangkat panggilan itu dan kuletakkan ponsel tersebut di telingaku. aku memilih diam sembari mendengarkan ocehan apa yang keluar dari mulut ahjumma itu.
"donghae-ya, kau mendengarku?"
"..."
"maafkan aku jika mengganggu kegiatanmu saat ini. kyuhyun baru saja tersadar sekitar satu jam yang lalu."
"..."
"sejak pertama kali tersadar, ia terus mencarimu. ia selalu menangis dalam diam, tubuhnya masih sangat lemah. bahkan alat-alat di tubuhnya belum ada satupun yang dilepas. aku takut, jika ini akan mempengaruhi kondisi tubuhnya"
"..."tanganku bergetar, untuk memegang ponsel pun rasanya aku tak sanggup. mengapa rasa nyeri di hatiku datang lagi? sungguh. otakku memerintahkan bahwa aku harus mengabaikan kondisi kyuhyun. tapi kenapa sepertinya hatiku berkata lain?
"aku tahu kau tak sudi menemui kyuhyun dalam waktu dekat ini, tapi bisakah aku memohon padamu sekali lagi? kali ini saja, biarkan kyuhyun mendengarkan suaramu hae-ya..."
tidak. aku tidak bisa. tolong. jangan paksa aku.
"..." lagi-lagi sangatlah berat untuk mengeluarkan suara meski hanya sedikit saja.
"donghae hyung..." suara itu... kembali memenuhi otakku. bisakah aku tak mendengarnya selama sisa hidupku? sungguh, suara itu sangat menyiksa batinku.
"..."
"donghae hyung... hiks" ia menangis. aku tak tahu apa yang sebenarnya ia tangisi.
"hm..." sebuah kemajuan bukan? tanpa kusangka aku berani merespon perkataannya.
"maafkan aku..." suaranya terdengar sangat lirih dan sedikit serak.
"..." mengapa dia yang justru meminta maaf? karena akulah dirinya hampir berada diambang kematian.
"maaf, karena aku.. kau menjadi seperti ini... kalau bisa, aku akan memilih mati daripada membuatmu semakin menderita.. tapi kenapa tuhan tak segera mencabut nyawaku?"
"KYU jangan berbicara macam-macam!" suara hanna ahjumma menyela perkataan kyuhyun.
"hiks. seandainya jika aku mati akan membuat hyora ahjumma hidup kembali... kau tak perlu memusuhi ibu dan ayah lagi. kupikir, setelah kau memukulku habis-habisan, aku akan mati... hiks. tapi kenapa tuhan harus menyelamatkan aku kembali? kenapa tuhan tak mengerti mauku sekarang? hiks" tanpa sadar air mataku menetes. tampaknya tangisan kyuhyun semakin deras.
"sudahlah kyuhyunie, kau bisa tersedak jika menangis dengan masker oksigen yang masih terpasang..." hanna ahjumma kembali menenangkan kyuhyun.
"donghae hyung..."
"hm..."
"kau dimana? malam semakin larut, diluar pasti sangat dingin... jangan lupa memakai beberapa lapis baju dan mantel, ne?" ia tidak menangis lagi. ia bahkan masih sempat mengkhawatirkanku.
"..."
"donghae hyung, bolehkah aku berharap? saat aku bangun esok pagi... kau ada disini..."
"..."
"haha sepertinya aku mulai berkhayal ya hyung"
"tidurlah kyu..."
"eung! jalja hyung" lihat, umurnya saja yang hampir menginjak 19 tahun. tapi sampai kapanpun sikapnya masih kekanak-kanakan.
.
.
TBC/END?
.
.
HAIIIII!
Masih adakah yang menunggu ff absurd ini? update beberapa hari lebih cepat daripada chapter sebelumnya.. bagaimana? membosankan? alur cerita yang pasaran? wkwk maafkan aku, ini mentok banget sampe-sampe dibantu ade aku buat nyari ide hahahaha dan maaf kalo ceritanya jadi ga karuan, aku aja sampe ga pede buat baca ulang lol yah pokonya dibaca aja deh ya, mau komentar apapun sangat diterima asal ga perlu ngebash oke? mau komentar satu titikpun saya akan sangat senang menerimanya guys. hehehe
oiya minggu depan, univ ku libur seminggu lebih.. jadi pasti bakal ada waktu buat bikin ff ini... akan aku usahakan update deh ya wkwkkw
byeeee!
.
.
balasan komentar chapter lalu
DevilCute: haaaiiii, makasih yaa
Huang Yoori: haiiii ini sudah diupdate loooh
Yeri LiXiu: maaf yaaa, chapter kemarin isinya cuma flashback~ iya, kyuhyun kena hemofilia hihi. ini udah diupdate kokk~
lianpangestu: akan diusahakan lebih panjang yaaah, ini sudah diupdate^^
sofyanayunita1: iyaaa, dia sakit hemofilia... makasih yaaa
Haebaragi86: iyaaa, makasih juga udah direview~ aminnn doakan cepet lulus yaa ahahaha ini sudah dilanjut kok hehe
Wonhaesung Love: haiii ini sudah dilanjut yaaah
Guest: kyuhyun kena hemofilia hihi
mengkyuwind: haiiii makasih yaaa, ini sudah dilanjut loooh
Rahma94: ahahah maafiiin, chapter kemarin isinya flashback doang.. ini udah kulanjut looohh
Awaelfkyu13: iyaaa, kyu sakit hemofiliaaa~ ini sudah dilanjut looooh~
ririzhi: haaaai, makasih yaaa. ini udah dilanjut looh
Shofie Kim: haaaai salam kenaaal! hehe makasih yaaa
Nisa: iyaa, kyu sakit hemofilia~ semuanya akan terjawab di chapter-chapter berikutnyaa hehehe
mifta cinya: iyaaa, kyu sakit hemofiliaa~ ini sudah dilanjut loooh
adlia:haaii ini udah dilanjut looohhh, akan diusahakan update rutin hehe
iissri2093: yeesss, kyuhyun kena hemofilia hehe
Guest (2): haiii ini sudah dilanjut yaa
aniielfishy: sebenarnya mereka berdua hanyalah korban T^T sudah dilanjut yaaaahhh..
dewiangel: haiii salam kenal yaaaah, hehe ini sudah dilanjut yaaa
RTDhilla2 Kyuiee: haaaai makasih yaa, iyaps kyu kena hemofilia.. semua akan diungkap di chapter-chapter depan :p ini udah dilanjut hihi
Kyuli 99: iyaaah, kyu sakit hemofiliaa. siaaap, kalo responnya bagus pasti cepet dilanjut kok hehe
ayuesetya: iyaaa, kyu sakit hemofilia nih.. ini sudah dilanjut yaah
aya: ini sudah diupdate yaaaa, hehehe
phn19: yeess! ini sudah dilanjuttt, semoga bisa menjawab rasa penasarannya hehe
SheeHae: aku juga ga ngerti ini sebenernya nyonya cho baik apa jahat wkwkw nyonya cho baik hanya buat kepentingan kyuhyun. tuh udah aku kasi bocoran kan? ahaha
rikarika: haiii, makasih kritiknyaaa. sebenernya di ch sebelumnya udah kutulis flashback loh diatasnya. hehe mungkin bisa jadi masukan buatku di chapter chapter mendatang hehe
Sparkyubum: iyaaah, kyuhae itu saudara satu ayah beda ibu.. hehe ini udah dilanjut yaaaa
ekha sparkyu: selama ada aku, kyuhyun baik-baik saja kok hahahahaah
jihyunelf: waah tebakannya benar! wkwkw ini udah dilanjut looohh
ningKyu: masih banyak misteri yang belum terjawab sebenarnya wkwkwk ini udah dilanjut loooh
septiananurmalit1: yess, chapter kemarin memang flashback.. ini udah dilanjut yaaak!
siskasparkyu0: haaai salam kenal! makasih yaaa hehe, ini sudah dilanjuttt
Gyu9: makasiiih sudah bersedia komen panjaaang (itu yang saya harapkan) wkwkwk iyaa, sebenarnya mereka berdua hanyalah korban T^T
ainkyu: haaaiii ini sudah dilanjut yaaa
ilmah: wkwkwkw tbc kan memang harus berada di tempat yang bikin penasaran wkwkwk ini sudah dilanjut yaaaa
.
.
Terimakasih kuucapkan pada kalian semua guys! ga nyangka responnya sebanyak ini! hihi jangan bosan-bosannya review yaah, tuh buktinya semakin banyak respon aku semakin semangat ngelanjutin hehehe
