Let Me Be Happy

-dhedingdong95-

Cast:

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Ada beberapa cast lain yang menyusul

Genre: Family, Brothership, Life, Drama, DLDR, RnR please!

Rate: T (lebih ke Parental Guidance)

Length: 5 chapters

Disclaimer:

ini merupakan hasil remake FF saya sekitar 4tahun lalu dengan cast yang berbeda. Jadi jika mungkin ada yang pernah membaca di 'tempat lain' dengan cast yang berbeda, tenang saja itu milik saya juga kok. hehe. Telah dilakukan sedikit perubahan sesuai dengan kebutuhan cerita.

Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya.

SELAMAT MEMBACA!

WARNING! TYPO, NOT YAOI, alur kecepetan, membosankan!

Don't like? DON'T READ!

NO BASH and… ENJOY!^^

.

.

Chapter 5

.

.

.

4 hari kemudian...

.

.

"howaa! donghae hyung? kau sudah pulang?" baru saja aku menginjakkan kaki ke dalam rumah setelah 4 hari terakhir, tanpa diduga anak itulah yang pertama kali menyambutku. begitu mendengar suara langkah kakiku, kyuhyun langsung saja terlonjak dari acara tidur santainya di sofa sambil menatap layar televisi. tampaknya ia akan berlari kecil untuk menghampiriku.

"kyuhyunie! jangan terlalu banyak bergerak!" teriakan hanna ahjumma yang mengetahui antusias kyuhyun pun terdengar hingga ruang keluarga. padahal ahjumma itu sedang sibuk berada di dapur, eum sepertinya.

"hyung-ah, kenapa kau hanya mengangkat telepon sekali saja selama aku di rumah sakit huh? bahkan telepon dari ayah ataupun ibu juga kau abaikan" kyuhyun memulai aksi cemberutnya, tak lupa juga diikuti dengan acara tarik menarik lengan mantelku. aisssh dasar anak ini!

aku tak menjawab pertanyaannya, hanya memandangi polah tingkah kyuhyun dengan memasang wajah ogah-ogahan.

"donghae hyung, sebenarnya kau kemana saja selama 4 hari ini? tanpa kabar sama sekali, aku kan jadi khawatir!" aku memutar kedua bola mata. terkadang sikap sok manja kyuhyun memang menyebalkan, tapi kupikir ia sendiri pun tak menyadari dengan sikap menjijikkannya itu.

"aku sibuk bocah! memangnya aku pengangguran sepertimu?" karna terlalu gemas, kujitak saja kepalanya pelan lalu pergi ke taman belakang rumah. sudah hampir seminggu aku tak mengunjungi mawar-mawarku. setelah kejadian itu, aku meminta seluruh tukang kebun untuk menanam kembali bibit mawar yang baru. dan yaaah, beginilah jadinya. sepetak tanah di taman belakang rumah yang begitu luas, terasa gersang karena tak ada tanaman yang mendiami di atasnya.

"AUCH!" teriakan kyuhyun yang tak begitu keras, berhasil membuatku menoleh ke arahnya. ia mengusap kepalanya di tempat jitakan yang kuberikan tadi.

"..sakitkah?" aku mengernyit tak mengerti. sepertinya tadi aku tak menjitaknya dengan keras, bahkan itu terbilang sangat pelan bagiku. bagiku itu tak terasa sakit sama sekali. tapi... kenapa dia mengaduh seperti kesakitan?

"ah, tidak kok hyung.. aku saja yang berlebihan" aku mengernyit lagi melihat kyuhyun masih meringis diikuti tangannya yang terus mengusap-usap kepalanya. meskipun senyuman bodoh itu kembali terukir di wajahnya.

Ah! mungkin memang benar jika hyukjae dan sungmin sering mengataiku bodoh. mengapa aku tak ingat sedikit pun tentang riwayat penyakit hemofilia kyuhyun? dijitak pelan saja sudah mengaduh, lantas bagaimana dia menahan rasa sakitnya saat aku menghantamnya habis-habisan? ah, lupakan saja donghae. lagipula itu bukan seluruhnya kesalahanmu.

"seharusnya kau mengajakku bergaul dong hyung, agar aku tak jadi pengangguran yang kerjanya hanya di rumah!" kyuhyun meneruskan kalimatnya setelah terhenti karena teriakannya tadi. ia tersenyum kegirangan melihatku tercengang atas apa yang dikatakannya. sejak kapan ia menjadi sangat dan super bawel seperti ini?

"eoh? mana sungmin hyung dan hyukjae hyung? apa mereka tidak mampir? sepertinya tadi aku mendengar suara mobil.. hyung tidak membawa mobil kan? beberapa hari yang lalu ayah bilang kalau hyung meninggalkan mobilnya di basement rumah—"

"yak! bocah! kalau mengoceh terus, kapan aku sampai ke taman belakang huh? kau ingin aku pukul lagi?" kupasang saja wajah datarku agar kyuhyun sadar diri, dan membiarkanku pergi dari ruangan ini. tapi apa yang aku dapatkan? kyuhyun malah cekikikan sambil memegangi perutnya, sama sekali tak menunjukkan jika ia takut terhadap ancamanku.

"hyung kenapa sih tak pernah mengenalkanku pada mereka? kau pasti malu ya mengenalkanku sebagai adik lelaki di depan teman-temanmu? kau pasti malu dengan aku yang penyakitan ini. aku juga ingin punya teman... terkadang aku iri melihat hyung begitu akrab dengan sungmin hyung dan hyukjae hyung, sedangkan bertemu denganku saja kau sering menghindar" suara kyuhyun memelan. ia pegang erat-erat ujung sweater cokelatnya, seperti sedang memikirkan apa yang akan kulakukan setelah ini.

"sudah tahu, masih saja bertanya. minggir, kau menghalangi jalanku!"

"tunggu saja, aku tak akan menyerah hyung!" teriakan ceria kyuhyun menggema di ruang keluarga. aku heran, cepat sekali dia mengubah mengubah moodnya dalam hitungan menit. tak kuhiraukan teriakan itu, sebenarnya apa yang harus ia perjuangkan huh? selama ia tak mengganggu kehidupanku, aku pasti tak akan memberikan pelajaran padanya.

"kemana saja kau, selama 4 hari ini hae?" suara berat yang sangat kuhafal perlahan namun pasti memasuki pendengaranku. suara itu berhasil membuatku menghentikan langkah, dan menoleh ke sumber suara.

"a...yah? kau sudah pulang?" dan keterkejutan kyuhyun pun menghiasi drama yang mungkin sebentar lagi akan dimulai.

aku berdecih pelan. sejak kapan ayah mengkhawatirkan keadaanku huh? aku melanjutkan jalan menuju halaman belakang rumah tanpa mengindahkan keberadaan pria tua yang telah memancarkan tatapan tajam dan siap untuk membunuh.

"KUBILANG KEMANA SAJA KAU LEE DONGHAE? benar-benar tidak punya tata krama rupanya!" eoh? belum ada 15 menit aku memasuki rumah ini, ayah sudah membentakku?

"...bahkan kau masih berani menginjakkan kaki ke dalam rumah setelah pergi tanpa pamit" ayah tersenyum remeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"apa maksudmu? kau ingin aku pergi dari rumah dan tak pernah kembali lagi? apa itu maumu ayah? tapi bisakah sehari saja kau bersikap baik padaku layaknya ayah dan anak? mengapa di matamu hanya kyuhyun... kyuhyun... dan kyuhyun saja? dia anak HARAM, dan akulah anak KANDUNGMU ayah!" aku mengacak rambut karena frustasi, dan berjalan berbalik arah dari tujuan utama. tepat sekali. kamar pribadiku. satu-satunya tempat di rumah ini yang menjadi saksi utama betapa terpuruknya aku yang sebenarnya.

"donghae hyung..." lirihan kyuhyun yang seolah merasa prihatin, tak berhasil membuatku menghentikan langkah kembali. sudah kubilang, aku cukup kebal dengan situasi seperti ini.

"bagiku, kaulah yang menjadi anak haram donghae-ya..." pernyataan yang ayah berikan benar-benar menjadikanku seperti patung yang terbuat dari batu. berat. sangat berat, hingga aku sama sekali tak bisa menggerakkan seluruh badanku.

apa... yang ayah katakan baru saja? ini semua hanya lelucon bukan? hey, namakulah yang ada dalam silsilah keluarga! bukan si cho bodoh itu!

"ayah... lelucon apa lagi yang kau buat? kau tahu bukan, ini sama sekali tak lucu" aku tertawa miris sampai-sampai tak menyadari jika sebulir air mata telah jatuh mengenai pipiku.

"aku hanya mengatakan yang sebenarnya.."

"ayah! akulah anak pengacau di rumah ini. tak seharusnya kau berkata begitu kejamnya pada donghae hyung" sesekilas aku melihat kyuhyun tengah berdiri dengan nafas yang menggebu dan keringat yang bercucuran. wajar saja, keadaannya belum terlalu sehat.

"MASUK KE DALAM KAMARMU LEE KYUHYUN!" hhh, baru kali ini aku melihat ayah membentak anak kesayangannya.

"TIDAK! AKU TIDAK MAU!" kyuhyun balas berteriak. bisa dibilang jika saat ini ia seperti orang kesetanan. wajah putih pucatnya menjadi merah padam, dengan rambut ikalnya yang basah karena keringat.

"KUBILANG MASUK!" ayah semakin murka. ia bahkan sampai menuding dengan jari telunjuknya.

"aku lelah ayah... aku lelah saat kalian tak melibatkanku pada masalah keluarga ini, yang jelas-jelas akulah biangnya. aku lelah menjadi anak lemah yang pura-pura tak mengerti apapun. aku berhak tau semuanya!" kyuhyun mulai dapat menguasai dirinya. ia menundukkan kepalanya diikuti dengan tubuhnya yang bergetar. dan tanpa menunggu lama, hanna ahjumma sudah berlari memeluk kyuhyun yang masih tak bergerak dari tempatnya. manja sekali.

"sebenarnya aku menikahi hyora karena faktor keterpaksaan! aku dan dia hanya diikatkan oleh tali perjodohan keluarga semata! lebih tepatnya pernikahan bodoh itu dapat mengembangkan usaha kedua kakekmu. karena demi kemajuan perusahaan, maka aku dan ibumu menyetujuinya. satu lagi, tentang keberadaanmu di dunia ini adalah suatu hal yang tidak disengaja" ayah kembali bercerita dengan santainya tanpa memedulikan keberadaan kyuhyun dan hanna ahjumma.

cairan bening keluar dari kadua mataku dengan seenaknya. dadaku terasa terhimpit semakin lama semakin mengerat hingga rasanya aku tak bisa bernafas lagi.

"yeobo!" percuma hanna ahjumma berteriak berusaha mengingatkan atau melakukan hal apapun yang membuat ayahku tersadar akan perkataannya, toh aku sudah mengetahui kebusukan semuanya.

"aku mencintai hanna! dan aku sama sekali tak menginginkan kehadiranmu di dunia ini, aku hanya menginginkan kehadiran kyuhyun dalam keluarga ini! anakku bersama hanna!" pahit. pahit sekali rasanya mendengar kenyataan sepilu ini langsung dari mulut ayahku sendiri. lantas, apa gunanya aku ada di dunia? tak ada yang menginginkan kehadiranku lagi.

tak tahu apa yang menguasai diriku sekarang.. aku berjalan mendekatkan diri pada ayah. aku mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan ayah lalu membawanya hingga tubuh tersebut menempel pada dinding. semakin lama kudekatkan wajahku ke arah wajahnya hingga jarak kami hanya terpaut sekitar 5cm.

"ap..ap..apa yang akan kau lakukan padaku?" kini tanganku mencengkeram kuat kedua lengannya hingga ia tak dapat melakukan perlawanan. terlihat semburat ketakutan dari wajahnya yang teramat memuakkan bagiku.

"tak pernah kau menyadari betapa ibu mencintaimu, haah?" kutinju sebuah kaca besar yang menggantung tepat di samping pelipis ayah bagian kanan. hingga percikan darah dari tanganku mewarnai dinding sekitar kaca tersebut. tak kupedulikan lagi bagaimana nasib turnamen basket nasional yang akan kuikuti dengan keadaan tangan seperti ini.

"tak cukupkah jawabanku baru saja? AKU MENCINTAI HANNA! AKU TAK PERNAH MENCINTAI HYORA SETITIKPUN!"

setelah mendengar jawaban yang sama untuk kedua kalinya dari mulut ayah, lututku terasa begitu lemas. hingga aku menangis terduduk tak berdaya. aku memang tak pantas berada disini, di dunia yang kejam seperti ini.

"baiklah, mungkin sebaiknya aku pergi. besok aku akan bertanding di turnamen nasional. jika kau berkenan, tontonlah di salah satu channel televisi. aku tak mau berharap lebih agar kau hadir mendukungku di stadium, cukup menyempatkan sedikit waktumu untuk menonton di televisi saja aku akan sangat senang" aku berusaha berdiri sambil mengusap kasar air mata yang telah membasahi wajahku. aku berjalan terseok masuk ke dalam kamar sekedar mengambil beberapa potong pakaian dan barang-barang yang kuanggap penting.

.

.

begitu aku keluar kamar, ketiga pecundang itu masih saja di tempatnya. seorang pria tua yang sedang fokus membaca surat kabar di sofa ruang keluarga seakan tak pernah terjadi apapun, ditemani sang 'selingkuhan' yang diam seribu bahasa, serta pemuda pucat yang terduduk lunglai bak tak memiliki nyawa.

"oh ya, tenang saja. aku tak akan membawa barang berharga pemberianmu. kunci mobil, dompet, bahkan ponsel sekalipun tak akan kubawa. semua barang tak berguna itu telah kuletakkan di atas nakas kamar" aku membenahi tas yang sudah kuselempangkan di bahu.

"aku pergi. anggap saja aku tak pernah tinggal disini"

"tidak donghae hyung! jangan pergi!" teriakan panik kyuhyun kembali mewarnai rumah besar yang dari awal terkesan mencekam.

namun teriakan kyuhyun hanya kuanggap sebagai angin lalu saja. aku terus berjalan keluar rumah mewah ini tanpa memiliki tujuan. aku sengaja tak menghubungi sungmin dan hyukjae tentang kepergianku dari rumah, lagipula aku tak mau selalu merepotkan mereka. sisa uang saku bulan ini masih bisa mencukupi kebutuhan selama aku mencari pekerjaan paruh waktu.

"donghae hyung aku ikut!" tampaknya kyuhyun terisak semakin keras. aku berusaha menulikan kedua telingaku. kubulatkan tekadku untuk tidak menoleh ke arahnya. aku terus berjalan, dan lihat! pintu utama pun sudah terbuka lebar untukku. setelah ini tak ada lagi nama lee donghae di silsilah keluarga Lee. keluarga yang terpandang dan disegani seantero korea selatan. tapi siapa yang tahu jika setiap anggota keluarganya memainkan suatu drama yang ketika dilihat dari sisi luar, keluarga ini nampak seperti keluarga sempurna. kematian ibu yang diisukan kecelakaan di luar negeri dan keberadaan hanna ahjumma serta kyuhyun yang tak pernah diungkap ke publik hingga sekarang. hhhh bukankah sebaiknya aku pergi ke manajemen entertainment untuk menjadi seorang aktor?

"donghae hyung..."

"DIAM DI TEMPATMU KYUHYUNIE!" terus saja kau lindungi kyuhyunmu itu ayah!

"tidak, lebih baik aku ikut donghae hyung saja!" suara langkah kyuhyun tertangkap lagi di indera pendengaranku. aku terus berjalan cepat menuju pintu utama. menjauhlah kyu, menjauhlah dariku saat ini juga. sebentar lagi aku terbebas dari belenggu penderitaan ini, jangan mengikutiku terus. jangan membuatku terbebani. kumohon.

tanpa disangka, kyuhyun berhasil memotong langkahku. ia sudah berdiri tepat di hadapanku, sampai aku tak dapat berkutik lagi.

GREP.

dan apa-apaan ini? tanpa seizinku ia berani untuk... memelukku? YA! apa kata orang nanti jika melihat adegan tidak senonoh semacam ini?

"kumohon jangan pergi donghae hyung... tega sekali kau meninggalkanku sendiri dirumah sebesar ini? jika bukan kau, siapa lagi orang yang menemaniku kala ayah dan ibu pergi bekerja selama berminggu-minggu tanpa pulang ke rumah? kau tahu sendiri bukan, selama 19 tahun aku sama sekali tak memiliki teman? kau kejam hyung..."

"..." tak ada kata yang dapat terucap dari bibirku. aku benci seperti ini. aku benci ketika aku tak bisa membalas apa yang diucapkan kyuhyun. aku benci saat aku tak bisa mengalahkan sifat egoku sendiri.

"hae hyung, bagaimana bisa aku menemukanmu jika kau pergi tanpa membawa ponsel? bagaimana jika ayah dan ibu ingin menghubungimu? bagaimana kau bisa hidup di luar sana jika kau tak membawa seluruh fasilitas yang diberikan oleh ayah?"

"itu bukan urusanmu kyu. biarkan aku pergi. ini terakhir kali kau dapat memelukku, setelah itu jangan harap! aku tak mau orang melihatku sebagai gay" aku berusaha melepaskan pelukannya, namun ia justru semakin mengeratkan kedua tangannya.

"hyung... aku ikut"

"tidak. aku tak sudi untuk selalu kau repotkan" perlahan pelukan kyuhyun terlepas. ia menunduk kembali sambil terisak-isak.

"jaga baik-baik dirimu hyung"

"hm"

"terima kasih sudah menjadi hyungku selama 2 tahun ini"

"...maaf" aku berlari secepat mungkin keluar rumah menembus hawa dingin yang dapat menembus tulangku.

.

.

.

aku berjalan tanpa arah, hanya mengikuti kata hati saja. sudah tak tahu lagi berapa kilometer jarak yang telah kutempuh. mengunjungi rumah persemayaman dimana abu ibuku disimpan, memutari pusat keramaian di sekitar gangnam, hingga aku berada di sini. di pinggiran jalan yang tak terlalu ramai, ditemani bunga sakura yang bermekaran. aku memelankan langkahku, berniat untuk menikmati pemandangan yang dapat dilihat sekali dalam setahun saja. hanya di awal musim semi lebih tepatnya. mengapa aku jadi rindu pada mawar-mawarku di rumah? siapa yang akan merawatnya jika aku tak ada di rumah?

aku tersenyum kecil, membayangkan bagaimana jika sekarang aku menikmati pemandangan ini bersama ibu. pasti ia akan mengobati luka di tanganku dan mengomel tiada henti di bawah pohon-pohon ini. hingga merasakan mahkota bunga yang berguguran ketika tertiup angin. pasti akan sangat menyenangkan. hhh, khayalanku semakin liar saja.

tak ada yang dapat kulakukan selain menendang kaleng minuman yang tak sengaja mengganggu langkahku. tak terbesit sekali pun tempat dimana harusnya aku pergi sekarang. aku terus berjalan membelah dinginnya malam di awal musim semi seperti gelandangan. tak mungkin juga jika ayah akan mengutus pengawalnya untuk mengikutiku. ia pasti sudah bahagia dengan keluarga kecilnya.

berbeda dengan pikiranku, tanpa kusadari bahwa kedua kaki ini telah membawaku ke daerah stadium dimana turnamen nasional akan diadakan mulai esok pagi. ohh, dapat kusimpulkan sudah cukup jauh aku berjalan. dapat kutebak pula pasti sekarang telah melewati tengah malam. aku memasuki stadium tersebut menggunakan tanda pengenal yang kumiliki, lalu berjalan kembali ke arah bangku penonton. aku memilih duduk di salah satu dari puluhan ribu kursi yang ada. kulihat sekelilingku, kosong. sama seperti hatiku. bagaimana rasanya jika ayah dan ibu duduk di kursi ini sambil membawa papan penyemangat untukku? bagaimana rasanya jika ayah dan ibu berteriak senang kala aku dapat memberikan poin untuk timku? sepertinya aku mulai mengandai lagi.

.

.

"donghae..."

"lee donghae.."

"donghae, bangunlah. ini sudah pukul 8 pagi kau tahu!"

aku berusaha membuka mata yang terasa berat, akibat suara yang sangat kukenali dan goncangan beberapa kali di bahu kanan.. sangat mengganggu tidur nyenyakku. kufokuskan pandangan di sekitar, dan menemukan dua orang sahabatku sudah berdiri di samping tempatku berbaring.

"bagaimana caranya kau bisa—"

"lupakan saja bagaimana kami bisa menemukanmu disini. yang ingin kutanyakan adalah... hey lee donghae! kau ingin jadi raja gelandangan hah? untung saja kau bisa masuk stadium ini dengan tanda pengenal" sungmin sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"apa lagi yang terjadi pada tangan kirimu huh? bahkan memasang perban saja kau tak becus!" hyukjae mulai menimpali. aku tak sempat menyembunyikan luka di tanganku hingga hyukjae berhasil merebut tangan kiriku dan dilihatnya dengan seksama.

"maaf, kali ini aku tak dapat bercerita" kulepas tangan kiriku secara paksa dan mengambil tasku (yang tadinya kujadikan bantal untuk tidur) kemudian berlalu pergi. kira-kira masih ada satu jam waktuku untuk bersiap. setidaknya mandi di ruang ganti akan lebih baik, daripada aku diintrogasi oleh mereka berdua. hari ini adalah penentuan juara untuk turnamen basket tingkat nasional tahun ini, dan aku akan berjuang mati-matian demi mendapatkan piala yang terpajang di kotak kaca tersebut.

.

.

.

"waktu tersisa 10 menit lagi, dapat dirasakan bila atmosfer pertandingan final kali ini semakin seru. 66 vs 64! selisih poin yang didapat oleh kedua tim sangatlah tipis, tidak menutup kemungkinan poin-poin tersebut akan saling menyusul..." ocehan komentator tak hentinya menyemarakkan keriuhan di dalam stadium. untung saja aku telah terbiasa, jadi konsentrasiku tak akan terpengaruh olehnya.

66 poin. kau pasti bisa membuat tim Myongji University jauh lebih unggul hae!

berkali-kali kapten tim lawan berusaha mencelakaiku dengan menjegal kaki atau mendorong dadaku cukup keras. namun dengan mudahnya aku dapat membaca permainan licik dari choi siwon beserta anak buahnya, sehingga aku tak perlu masuk perangkapnya. sebagai kapten, aku telah mengingatkan sebelumnya pada anggota tim yang lain agar berhati-hati dengan kelicikan lawan main kami. supaya tak ada yang terkecoh atau menjadi korban kebusukan permainan mereka. karena aku tahu, dengan semua yang dimilikinya.. choi siwon akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang ia ingini. dengan sifatnya yang seperti itu, aku yakin kalian pasti teringat dengan seseorang.

"mari kita lihat! persaingan sengit antar kedua kapten dalam merebut bola begitu menegangkan. YAK! lee donghae mengoper bola ke arah lee jonghyun... lee donghae bergerak cepat ke sekitar ring lawan... lee jonghyun mendribble untuk mempertahankan bolanya dan... ternyata ia oper lagi pada lee donghae. oh tidak! kedua anggota tim Inha University telah siap mengunci pergerakan dari lee donghae. wow! strategi apa lagi yang akan dilakukannya?"

"bola berhasil didapatkan dengan sempurna oleh lee donghae..."

"lee donghae berusaha mengecoh tim lawan dengan gerakan gesitnya, ia berlari ke sudut lapangan dan..."

.

"donghae hyung! hae hyung! semangat!"

saat aku berlari ke sudut lapangan demi menyempurnakan poin yang didapat, tiba-tiba suara kyuhyun terngiang jelas di otakku. eh? apa aku berhalusinasi lagi? kugelengkan kepala beberapa kali berharap suara itu akan menghilang, namun semakin lama suara kyuhyun semakin kencang dan semakin jelas. oh, ayolah hae!

"donghae hyung pasti bisa! donghae hyung pasti menang!"

.

"WOAH! shooting three point yang dilakukan oleh pemain nomor 15 atau lee donghae, dengan tepat masuk ke dalam ring milik tim Inha University! 69 vs 64! apa tim Inha University dapat menyaingi poin dari tim Myongji University dengan memanfaatkan waktu yang tersisa?"

yeah! berhasil! di sisa waktu yang tak kurang dari dua menit, aku berhasil menambah keunggulan tim. aku berlari kecil menghampiri teman-teman satu tim yang lain, dan memberikan hi five pada mereka. tak sengaja aku melirik bangku penonton di sisi kanan tempatku berdiri, dan mendapati kyuhyun tengah membawa spanduk besar bertuliskan namanku. ia tersenyum lebar layaknya lupa akan penyakit yang dideritanya.

"donghae hyung kau hebaaaat!" kyuhyun mengacungkan ibu jarinya ke atas.

kulihat sekeliling lagi, tak ada tanda-tanda kyuhyun dijaga oleh pengawal ayah. hanya sungmin dan hyukjae yang menemaninya di barisan penonton. apakah ia-?

PRRIIIIIIIIIIIIIIT.

"ah, sayang sekali. peluit tanda berakhirnya pertandingan sudah dibunyikan oleh wasit. dan berikan selamat untuk tim Myongji University sebagai pemenang turnamen nasional tahun ini!"

riuh rendah dari sorakan penonton mengawali kemenangan yang kami raih. sebentar lagi, piala dengan warna emas itu akan menjadi milik kami. aku tersenyum tipis, sedikit merasa bangga atas apa yang kucapai. ayah, apa kau melihatnya?

.

.

selain piala, satu per satu dari anggota tim kami diberi sebuah medali sebagai simbol kemenangan. kucium medali tersebut kemudian melepaskannya, dan kuangkat tinggi-tinggi ke sisi kanan seolah memberikan medali itu kepada tiga orang yang berada di barisan penonton. kupejamkan kedua mataku sejenak, dan tersenyum. senyuman lebar yang tulus dari relung hatiku.

"setelah menerima piala dan medali sebagai simbol kemenangan, apakah dari sang kapten ingin memberikan ucapan terima kasihnya untuk mewakili teman-teman satu tim?" ntah kapan datangnya, tiba-tiba sang komentator sudah turun di tengah lapangan dengan sebuah mikrofon yang ia bawa.

aku tersenyum membalas ucapan komentator. kuambil mikrofon tersebut dan menggenggamnya erat, sebenarnya aku terlalu gugup untuk dapat berbicara di tengah puluhan ribu penonton.

"terima kasih kuucapkan pada anggota tim yang lain, tanpa adanya kerja sama yang baik pasti kami tak mungkin mendapatkan piala ini"

"hanya itu saja donghae-ssi?"

"hmm... jika ayahku menonton siaran ini... aku ingin berterima kasih padanya. karenanya, aku lebih terpacu lagi dalam memenangkan setiap pertandingan. ayah, lihatlah! aku berhasil menambah koleksi medaliku.. meski kau pernah bilang tidak bangga terhadap prestasiku, tapi aku tetap berjuang hingga sekarang. karena aku ingin membuktikan jika aku memang bisa. aku bisa membuat ayah tak menyesal memiliki anak sepertiku..."

hening. puluhan ribu penonton yang memadati stadium seperti ikut terhipnotis mendengar rangkaian kalimatku. biar saja, biar semua orang di dunia tahu bagaimana hidup yang kurasakan selama ini.

"tapi sepertinya... aku harus memilih untuk menyerah. untuk apa aku mati-matian memperjuangkan ini jika ia tak menoleh sedikit pun padaku?"

"uljima (jangan menangis)!"

"uljima (jangan menangis)!" secara serempak penonton meneriakkan kata uljima padaku. tenang saja, aku bukan tipe orang yang dengan mudahnya mengungkapkan ekspresi sebenarnya di depan publik.

"mulai detik ini, aku. lee donghae. memutuskan untuk pensiun dari dunia basket. terima kasih atas seluruh dukungan yang diberikan padaku. maaf jika aku mengecewakan kalian" aku membungkuk 90 derajat ke segala sisi barisan penonton, tak jarang teman-temanku satu tim menepuk bahuku beberapa kali.

.

.

aku berlari ke luar lapangan menuju ruang ganti. di tengah perjalanan, tepatnya di lorong penghubung ruang ganti.. kyuhyun, sungmin, dan hyukjae menghentikan langkahku.

"donghae hyung, ayah berkali-kali menghubungiku. katanya ingin bicara padamu" kyuhyun menyodorkan ponselnya.

"hm" kataku membuka suara dalam sambungan teleponnya.

"sudah puas membuat harga diriku terjatuh?"

"huh? tak kusangka, ternyata kau menonton pertandingan ini. walau sepertinya melalui perantara televisi belaka"

"oh, kau sudah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari um? 60% investor menarik sahamnya dari perusahaan, dan ini karena ulahmu brengsek!" ups, nampaknya ayah tak sengaja melontarkan kata-kata kasarnya lagi.

"bukan salahku"

PIP.

"hyung-ah, kau mau kemana?" setelah mengembalikan ponsel milik kyuhyun, tanpa banyak bicara lagi aku masuk ke dalam ruang ganti.

"hyung-ah!"

"pulanglah kyu, hanna ahjumma pasti menunggumu di rumah" aku mengibaskan tanganku, dengan kata lain mengusirnya pergi dari sini.

"ibu juga menunggumu pulang ke rumah, hyung" mendengar kata-kata kyuhyun, kututup pintu ruang ganti dengan kasar hingga menimbulkan suara debuman yang cukup keras. bisakah dia berlagak untuk mengacuhkan segala hal tentang kehidupanku? dan tenang saja. tak ada orang lain yang melihat kejadian ini, karena anggota tim lainnya mungkin masih merayakan kemenangan dengan berfoto bersama di lapangan.

.

"sudahlah kyu, ayo kuantar pulang" hyukjae yang sejak tadi memilih diam, kini ikut berujar.

"tidak, biarkan aku menunggu donghae hyung disini"

"tadi kau berjanji hanya ingin melihat pertandingan donghae dari jauh, tapi nyatanya tadi kau memilih duduk di barisan pertama. kau sadar jika tindakanmu sudah jauh melanggar perjanjian?" sungmin merangkul bahu kyuhyun, membujuknya agar mau diantar pulang.

"tidak, jika aku pulang.. aku tak yakin bisa bertemu donghae hyung lagi. kumohon.."

"apa aku perlu menghubungi tuan lee untuk mengirimkan pengawalnya kemari? maaf kyu, tapi ini untuk kebaikanmu sendiri" hyukjae mulai mengancam.

suara obrolan mereka masih terdengar dari dalam ruang ganti. apa yang harus kulakukan saat ini? aku seorang pengangguran, aku tak memiliki tujuan hidup, aku... aku orang tak berguna. aku telah menyerah untuk mimpiku, haruskah aku juga menyerah untuk hidupku?

.

.

setelah suara gaduh di luar ruangan mereda, dengan mengendap-endap aku keluar dan memeriksa sekelilingku. sepertinya kyuhyun sudah menyerah karena ancaman hyukjae. mereka bertiga tak terlihat lagi di sekitar sini.

terdengar sebuah bisikan lembut di ujung telingaku, seperti menginterupsiku untuk berjalan ke balkon stadium melewati pintu darurat. dengan mengikuti arahannya, kini aku sudah berada di atas balkon yang cukup luas dan nampak tidak begitu terawat. tak lupa juga, aku telah mengunci pintu balkon dari dalam supaya tak ada yang bisa menggangguku.

aku melangkah menaiki tembok pembatas setinggi 1 meter, dan mencoba berjalan diatasnya. cukup menyenangkan memang, apalagi jika angin yang cukup kencang menerpa tubuhku. aku masih berjalan kesana kemari di tepian tembok pembatas tanpa menghiraukan teriakan beberapa orang dari bawah.

"apakah lelaki itu adalah lee donghae? apa yang dilakukannya di atas sana?"

.

"lee donghae ingin bunuh diri?"

.

"cepat panggilkan tim penyelamat!"

.

"apa dia sudah gila?"

.

secara mendadak rasanya otakku penuh dengan suatu hal yang tidak kumengerti. tiba-tiba hatiku membuncah, pikiranku serasa melayang, kepalaku terasa sakit hingga ingin menjambak rambutku sendiri, tubuhku seperti tak terkontrol. aku ingin berteriak marah, mengamuk, menangis tapi aku terlalu riskan untuk melakukannya. terlintas di otakku untuk mengakhiri ini semua.

aku tersenyum simpul melihat kerumunan orang yang menyaksikanku atau justru meneriakiku dari bawah, tak ada gunanya lagi kawan. kucoba untuk merentangkan kedua tanganku, kututup mataku perlahan. kutarik nafas panjang, lalu kunikmati detik-detik terakhirku.

.

selamat tinggal..

selamat tinggal penderitaan..

selamat tinggal sampah-sampah kehidupanku..

selamat tinggal semua..

.

kuterjunkan tubuhku ke tanah, aku menikmati sepersekian detik waktu yang masih tersisa. aku merasa seperti burung yang terbang bebas, melayang-layang di udara meskipun hanya dalam sekejap mata.

dan kini, kenikmatan itu.. kebebasan itu.. tergantikan oleh rasa sakit yang luar biasa menyerang di sekujur tubuhku.

REMUK, ya itu yang kurasakan. tak dapat menggerakkan seluruh anggota tubuhku, bahkan membuka kedua mataku. juga merasakan banyak cairan di hampir seluruh tubuhku. apa mungkin itu darah? aku hanya mendengar jeritan dari beberapa orang di sekelilingku. dan... suara kyuhyun? bagaimana bisa dia masih berada di sekitar sini?

satu pertanyaan yang masih mengelilingi kepalaku. apa dengan keputusan yang kuambil, ayah dapat tersenyum puas? apakah aku dapat memberikan kebahagiaan padanya walaupun menggunakan cara yang berbeda?

"hyung, jawab aku! berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkanku!" tangisan kyuhyun membuat hatiku semakin sesak. setulus itukah ia menyayangiku sebagai hyungnya?

namun sayang sekali, aku tak dapat berbuat banyak. aku hanya dapat menggelengkan pelan kepalaku, serta memberikan senyuman yang mungkin sedikit membuatnya tenang.

"berjanjilah padaku hyung, BERJANJILAAAAAAAHHH!" kurasakan guncangan kuat pada tubuhku. guncangan yang kyuhyun berikan pada tubuhku yang sudah terasa sangat lemah ini.

"kau pengecut! brengsek! Kau pecundang! KAU LELAKI PECUNDANG! kau tak berani menghadapi kenyataan hidupmu! kau hanya tahu jalan pintas! kau tak pernah tahu betapa besar penderitaan yang juga kualami! kau egois hyung! KAU BENAR-BENAR EGOIIIIISSSSS! ARRRRRRGGGHHH!" perlahan tetesan air mata kyuhyun jatuh diatas pipiku.

mengapa harus disaat terakhir aku menyadari jika kyuhyun benar-benar menyayangiku? namun setidaknya aku masih memiliki seorang yang sungguh mengharapkanku secara tulus.

"maaf kyuhyunie... maafkan...aku.." bisikku pelan. tanpa kusadari pula, lagi-lagi air mataku mengalir deras dari pelupuk mata.

"MENGAPA KALIAN TAK MEMANGGIL AMBULANS? MENGAPA KALIAN TAK ADA USAHA SAMA SEKALI UNTUK MENYELAMATKAN NYAWA HYUNGKU? APA KALIAN INGIN MELIHATNYA MATI? MENGAPA KALIAN HANYA DIAM BERDIRI SAMBIL IKUT MENANGIS DISINI? KALIAN TAK PUNYA OTAK? KALIAN TAK PUNYA HATI NURANI, HAAAH? JAWAB AKU!" bentakan dan tangisan keras kyuhyun semakin lama semakin menghilang dari pendengaranku.

samar-samar kulihat sebuah cahaya putih yang menyilaukan pandanganku. semakin lama, cahaya itu semakin berwujud. aku melihat seseorang yang tak asing lagi di sejarah hidupku.

"i...bu..." tenggorokanku seperti tercekat, hingga nyaris tak dapat mengeluarkan suara.

"mari, ikut ibu hae-ya…" suara lembutnya sungguh meneduhkan hatiku yang gersang. ia mengulurkan kedua tangannya, sembari berjalan pelan namun pasti kearahku.

aku pun mengikuti ajakannya. aku cukup dibuat bingung, mengapa kini tak ada rasa sakit sedikitpun pada tubuhku? mengapa tubuhku serasa ringan seperti kapas? aku tak mau memikirkannya lagi, yang terpenting aku akan pergi bersama ibu dan tak akan terpisah kembali.

.

.

.

Author POV

.

terlihat secarik kertas muncul dari saku celana kostum basket yang donghae gunakan bercampur dengan darah yang mulai mengering. ntah karena apa, tak sengaja kyuhyun melihatnya dan cukup penasaran dengan isinya. jelas terlihat, jika kertas tersebut telah sempat di remas-remas oleh pemiliknya.

dengan tangan yang bergetar hebat, kyuhyun membaca rangkaian kata tersebut dalam hati. ia berusaha mencerna setiap makna kata yang tertulis di atasnya.

.

aku… tak lain hanyalah lelaki 'loser' yang tak pernah bisa menerima keadaan.

aku… tak lain hanyalah lelaki durhaka yang sangat membenci ayah hingga seumur hidupnya.

aku…tak lain hanyalah namja brengsek yang tak pernah mengakui keberadaan ibu tiri serta namdongsaengku.

tetapi aku… ingin seperti mawar-mawarku, memberikan kebahagiaan bagi banyak orang.

dan inilah keputusanku, keputusan yang tak masuk akal namun akan berarti besar.. terutama di rumah mewah ini. rumah yang selalu terkenang akan penderitaan yang kualami selama hidupku.

maaf, jika aku telah menjadi lelaki tak berguna yang membawa kesialan bagi keluarga anda.

maaf, jika aku telah hadir di tengah-tengah keluarga anda menjadi seorang lelaki yang tak pernah diinginkan keberadaannya di dunia ini.

dan tindakanku ini, adalah sebuah hadiah besar untuk anda. aku ingin keluarga anda utuh, dan menjadi harmonis tanpa ada penghalang sepertiku. aku mohon, jangan pernah sia-siakan ini semua. ini adalah kesempatan besar untuk memperbaiki rumah tangga anda menjadi lebih baik.

terima kasih, karena anda masih bersedia melihatku selama lebih dari 19 tahun.

terima kasih, atas sisi baik yang pernah anda berikan selama ini untukku. meskipun mungkin hanyalah sandiwara semata.

jika aku boleh jujur, diantara serpihan hatiku yang kini telah hancur.. masih terdapat sedikit ruang untuk menyimpan rasa sayangku yang tulus pada anda. walaupun aku yakin, sudah tak ada lagi sisa kasih sayang anda untukku.

untuk terakhir kalinya, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan ayah? meskipun hanya melalui tulisan ini, akan sungguh berarti untukku..

anda tidak perlu khawatir, ini hanya untuk terakhir kalinya.. sesudah itu, anda boleh melupakanku untuk selama-lamanya. menganggapku tak pernah ada dalam kehidupan anda.

Bolehkah?

A..Y..A..H.. :)

.

.

cho, bukan. maksudku lee kyuhyun, jaga ayah dan ibumu baik-baik.

jangan pernah kecewakan mereka, buatlah mereka bangga dengan kecerdasan yang kau miliki.

tetaplah berlagak manja dan ceria seperti biasanya.

terima kasih, karena kau memberikan sebuah ketulusan untuk menyayangiku..

aku juga menyayangimu, bodoh! maaf jika aku tak pernah jujur kepadamu, karena kurasa semuanya telah tertutup oleh keegoisanku..

maafkan aku. maafkan aku.. tak pernah bisa menjadi seorang hyung yang baik untukmu.

.

.

hanna ahjumma, untuk pertama dan terakhir kalinya.. bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan ibu?

I..B..U :)

.

.

terima kasih.. terima kasih atas semuanya..

-pecundang besar 'DONGHAE'-

.

.

.

"HYUUUUUUUUUUNNNG, ANDWWEEEE! JANGAN PERGIIII…. ARRRRGGGGHHH!" kyuhyun menangis histeris serta memeluk surat tersebut secara kuat-kuat.

"alangkah lebih baik jika aku ikut menyusulmu kan hyung? tapi bagaimana dengan ayah dan ibu nantinya? aku tak bisa sepertimu, dengan mudahnya melepas semua yang berada di sekitarku. aku harus bagaimana hyung? kau pikir aku akan senang? sama sekali tidak! kau tega membuatku menanggung penderitaanmu seorang diri huh?" kyuhyun bermonolog di samping tubuh donghae yang sudah terbujur kaku disusul dengan tangisnya yang semakin kencang.

"donghae hyung... kurasa kejadian mawar-mawarmu yang mati secara mendadak menjadi pertanda akan kepergianmu... karena aku tahu, sebagian besar hidupmu ada pada mawar-mawar itu... selamat jalan hyung-ah.." kyuhyun membenahi poni milik donghae yang basah karena darah dan keringat. ia mencoba untuk berdiri kembali, dan mundur satu langkah demi memberikan sedikit jarak pada beberapa petugas penyelamat untuk mengangkut tubuh donghae ke dalam ambulans.

.

.

.

hujan tangis mewarnai kediaman tuan lee. seorang konglomerat besar berasal dari daerah Gangnam, Korea Selatan. pemberitaan tentang masalah keluarga tersebut kini menjadi hot news di seluruh negara, setelah salah satu bintang muda basket berbakat di korea yang juga adalah anak kandungnya membeberkan fakta serta kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun dari balkon stadium tempat dimana pertandingan digelar. nama lee donghae kini pun menjadi top search untuk mesin pencari berita di internet. ya, seluruh rahasia masalah keluarga lee yang sempat ditutup-tutupi sekarang menjadi bahan perbincangan masyarakat.

dan lebih parahnya, tuan lee sempat dikabarkan mengalami depresi berat saat mengetahui kematian anak kandungnya. bahkan ia tertangkap kamera wartawan tengah menangis di pinggiran jalan yang dihiasi pohon-pohon sakura dengan keadaan masih mengenakan piyama. tempat tersebut disebut-sebut sebagai salah satu tempat favorit anak kandungnya. sungguh memprihatinkan.

juga diberitakan, kini tuan lee tidak dapat memimpin lagi perusahaannya. namun akan digantikan oleh kyuhyun, yang santer dikabarkan sebagai anak beliau bersama selingkuhannya.

bagaimana latar belakang kyuhyun sebenarnya?

.

.

.

END

.

.

.

loh udah end?

haha iya, udah. gini doang endnya *tertawa miris*

update hampir 2 minggu yahh? maapiiiin yaa, yang penting ga selama chapter-chapter sebelumnya kan? hihi

bagaimana? semakin pasaran? atau membosankan? bahkan mengecewakankah? ini udah sangat jauh dari cerita aslinya wkwkwk

yang minta dipanjangin dalam satu chapter, tuh.. udah terkabul. yang biasanya 3000an words sekarang chapter ini jadi sekitar 5500words wkwkwkkw

mau dibikinin epilog atau mau langsung judul baru hayo?hahaha *ketawa setan ala kyu*

maapin banget chapter kemarin mungkin rada mengecewakan, semoga chapter ini bisa terbayar yaaah.

di chapter terakhir ini, bisakah kalian memberikan review lagi?

biar saya semangat bikin ff brothership lagi ahahaha

baybayyyy!

sampai jumpa di ff berikutnyaaa!

maaf, kali ini belum bisa bales reviewnya lagi. tapi aku udah baca setiap review yang masuk kok.. terima kasih atas segala review yang diberikan, aku sangat mengapresiasinya!^^

.

.

big thanks to:

kyuhae / ayusetya198 / kyuli 99 / septianurmalit1 / kimchan83 /

Shofie Kim / lian pangestu / Guest(1) / Retnoelf / Rahma94 / angel sparkyu /

mengkyuwind / aniielfishy / Hanna shinjiseok / diasya / hulanchan / Guest(2) / Naa /

Wonhaesung Love / Yeri LiXiu / dewiangel / SheeHae / Gyu9 / Sparkyubum / ningKyu / Haebaragi86 /

ainkyu / awaelfkyu13 / ekha sparkyu / yolyol / mifta cinya / ilmah / phn19

dan semua silent readers yang aku harap di chapter terakhir LMBH mau menampakkan dirinya di kolom review^^