Title : 90 Days Together With You (chapter 3)

Author : Young Mao aka DaeJae Sweet

Main Cast : DaeJae couple

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (14+)

Warning : TYPO BERTEBARAN, EYD ANCUR, AUTHOR GESREK, ALUR MAJU MUNDUR MASUK JURANG (?), OOT, OOC, MASYAALLAH GAJE BANGETTT, DAN KETIDAKLAZIMAN LAINNYA *capslock kebablasan* THIS IS YAOI FANFICTION! DLDR!

.

.

.

You can click close button now if you dislike my story^^

No More Coments

Happy Reading~~~

.

.

.

.

.

"Bawa aku kemana saja, asal jangan kerumah", Youngjae mengeratkan pelukannya pada

tubuh Daehyun yang kini tengah menggendongnya.

"Ayah mu akan khawatir Yoo Youngjae, lagipula bukankah dia bilang malam ini kalian kedatangan tamu? Kau lupa?", Daehyun bisa mendengar Youngjae menghela nafasnya lelah.

"Aku tidak mau pulang! Pokoknya tidak mau!", Youngjae memberontak saat Daehyun melangkah menuju jalan kearah rumahnya.

"Lihatlah keadaanmu, kau butuh istirahat Youngjae~ah", Daehyun menghentikan langkahnya dan sedikit menoleh kearah Youngjae.

"Kau bilang akan melakukan apapun untuk membehagiakanku? Lalu ini apa?!"

Daehyun terhenyak mendengar penuturan Youngjae. Itu memang benar, tapi sekarang Daehyun sangat khawatir dengan keadaan Youngjae.

"Daehyun, kumohon..", Youngjae berusaha membujuk Daehyun dengan nada memelas andalannya.

Daehyun menghela nafasnya, jika namja manis bermarga Yoo itu sudah seperti ini maka dia tidak bisa berbuat apa-apa.

.

.

.

.

.

Daehyun menurunkan Youngjae dengan hati-hati dan mendudukkan namja manis itu. Dia duduk disamping Youngjae seraya meregangkan otot punggungnya yang terasa sangat pegal. Youngjae yang melihat Daehyun hanya terkekeh pelan.

"Maaf, aku membawamu kesini", Daehyun membuka pembicaraan, memecahkan keheningan yang sempat menyelimuti keduanya.

"Terimakasih, aku suka tempat ini, walaupun ini sudah malam tapi disini tetap hangat", Youngjae tersenyum seraya menyapukan pandangannya kepenjuru padang rumput itu.

Padang rumput? Jadi Daehyun membawa Youngjae kepadang rumput. Ya, dan mereka sekarang tengah duduk di pondok kecil ditengah padang rumput itu.

"Bagaimana dengan kakimu? Masih sakit?", tanya Daehyun tiba-tiba.

Youngjae hanya mengangguk atas pertanyaan Daehyun. Dia sedikit terkejut saat Daehyun mengangkat kakinya yang mulanya menjuntai bebas kepangkuannya.

"Aw!", Youngjae memekik saat Daehyun memijat kakinya atau lebih tepatnya bagian lutut dan paha.

"Maaf", lirih Daehyun."Sebaiknya kau tidur Youngjae~ah, ini sudah malam"

Youngjae menggeleng menandakan bahwa dia belum ingin tidur.

"Youngjae~ah"

Youngjae mengangkat wajahnya yang menunduk dan melihat Daehyun kini menatapnya dalam. Dengan gerakan yang tiba-tiba Daehyun memeluknya erat. Hangat. Itulah yang dirasakannya.

"Ini baru hari ketiga aku bersama denganmu, dan kau tau? Itu sudah cukup untuk membuatku.. jatuh cinta padamu"

#DEGH

Youngjae merasa jantungnya hampir copot mendengar apa yang baru saja Daehyun ucapkan. Dia sempat berfikir ada yang salah dengan pendengarannya, namun hipotesa itu lenyap seketika saat Daehyun kembali berucap.

"Saranghaeyo, Yoo Youngjae"

Youngjae masih bungkam. Dia benar-benar tidak tau harus bagaimana. Tiba-tiba dia merasakan Daehyun melepaskan pelukannya dan menangkupkan tangannya diwajahnya. Dia bisa melihat wajah Daehyun yang semakin dekat dengan wajahnya.

Aku akan mengikuti kata hatiku, dan inilah yang sedang hatiku inginkan.. Batin Daehyun.

#CUPP

Youngjae benar-benar habis pikir dengan apa yang Daehyun lakukan padanya sekarang. Dia berusaha menjernihkan pikirannya yang terasa buntu, hingga dia sadar bahwa kini Daehyun sudah menindihnya tanpa melepaskan ciumannya.

.

.

.

.

.

The 28th Days~

.

.

Tidak terasa, ini sudah hari ke-28 Daehyun bersama Youngjae. Mereka terlihat semakin dekat. Tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Daehyun, sejak dirinya mengutarakan perasaannya pada Youngjae dan telah mencuri ciuman pertama namja manis itu, dia semakin sayang pada Youngjae, walaupun waktu itu hingga sekarang belum ada jawaban pasti Youngjae tentang perasaannya. Tapi dia sama sekali tidak menuntut pada Youngjae, dia tau Youngjae butuh waktu untuk mempertimbangkannya. Ya, memang banyak sekali alasan yang harus Youngjae pertimbangkan, apalagi mengingat mereka 'tidaklah sama'.

Lalu sebenarnya, apakah Youngjae juga memiliki perasaan yang sama dengan Daehyun?

Kita lihat saja nanti.

.

.

.

.

.

Youngjae memperhatikan setiap penjelasan yang disampaikan oleh Dosennya hingga dia merasakan Himchan yang duduk tepat dibelakangnya mencolek punggungnya.

"Apa?", Youngjae sedikit berbisik.

"Hari ini aku dan Yongguk akan makan di café, kami ingin merayakan kemenangannya dipertandingan basketnya kemarin, dia bilang kau dan pacar mu harus ikut. Tenang saja, Yongguk yang traktir", jawab Himchan sedikit berbisik juga.

"Siapa yang kau maksud pacarku, huh?!", Youngjae masih berbisik namun terlihat dia kini tengah mengeraskan rahangnya karena Himchan mengatakan kata 'pacar mu' tadi.

"Aish, kau ini, siapa lagi kalau bukan Daehyun", Himchan tersenyum jahil.

Youngjae tidak menggubris lagi apa yang dikatakan Himchan. Dia kembali memfokuskan diri pada materi yang disampaikan Dosennya.

Daehyun? Pacarku?

Youngjae menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran anehnya. Tapi, kalau dipikir-pikir, wajar saja jika Himchan ah tidak! Bukan hanya Himchan saja tapi semua orang yang melihat Daehyun dan Youngjae akan mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Mereka terlalu manis.

"Baiklah, aku rasa pertemuan kita hari ini cukup, kita bertemu lagi besok lusa", Youngjae tersadar dari lamunannya saat menyadari bahwa kelasnya sudah berakhir. Dosennya pun sudah keluar dari kelas.

"Ayooo", Himchan menarik tangan Youngjae menuju keluar kelas.

"O hay Daehyun~ah!", Himchan menyapa Daehyun yang ternyata sudah berdiri didepan kelas mereka.

"Ne, Himchan-ssi", Daehyun tersenyum ramah pada Himchan.

"Sudah lama ya menunggu Youngjae?", Himchan menaik turunkan alisnya, mencoba menggoda Daehyun. Daehyun hanya tersenyum.

"Sudahlah Daehyunie, jangan hiraukan dia, kita pulang saja", Youngjae tiba-tiba menarik tangan Daehyun menjauh dari Himchan. Namun dengan cepat Himchan mengejar mereka dan berjalan diantara mereka berdua seraya merangkul bahu mereka.

"Daehyun~ah, jangan pulang dulu, kita pergi ke café, bagaimana?", Himchan menampilkan puppy eyes nya.

"Ee, Youngjae bagaimana?", Daehyun melirik ke arah Youngjae.

"Aaa, iya aku tau kau tidak bisa terpisah dengannya. Tenang saja dia ikut kok", Himchan tersenyum lebar saat Daehyun menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa dia mau.

.

.

.

.

.

"Sudah siap?", Yongguk menolehkan kepalanya ke jok belakang yang disana duduk Daehyun dan Youngjae, lalu kesamping kanannya, atau lebih tepatnya kearah kekasihnya, Himchan.

"Baiklah, kita berangkat", setelah memastikan semuanya siap, Yongguk pun segera menjalankan mobilnya.

Sedangkan di jok belakang..

"Youngjae~ah, kalau kau tidak suka ini, aku bisa bilang pada Himchan kalau kau tidak bisa ikut", Daehyun menggenggam tangan Youngjae, dia tau Youngjae kini tengah memikirkan sesuatu. Dan dia juga tau apa yang namja manis itu pikirkan.

"Tidak usah, lagipula aku memang belum ingin pulang", Youngjae tersenyum pada Daehyun, berusaha menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Daehyun pun membalas senyuman Youngjae dan mengeratkan genggamannya pada tangan Youngjae.

.

.

.

.

.

"Kenapa kalian tidak pacaran saja sih? Jujur saja aku lelah melihat kalian berdua", Himchan mencerocos seraya menyeruput Americano nya.

"Bukan urusanmu!", Youngjae menjawab dengan sinisnya. Daehyun yang melihat Youngjae jutek seperti itu hanya bisa tersenyum.

"Iya, aku tau, aku tidak berhak atas hubungan kalian tapi bukankah kalian saling mencintai? Kenapa kalian tidak jadian saja sih?"

"Mr. Kim, bisa kah kau jaga ucapanmu sebelum aku menendangmu?", Youngjae bicara dengan gaya manis yang dibuat buat namun penuh dengan penekanan.

"Sudahlah Hime, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Aku tidak ingin acara makan kita berantakan jika Youngjae mengamuk", Yongguk dengan segera menahan Himchan yang ingin kembali berucap.

Youngjae hanya bisa menghela nafas. Mereka memang dengan mudah mengatakan itu, 'kenapa kalian tidak jadian saja?', karena mereka tidak tau siapa Daehyun itu. Yang mereka tau, Daehyun adalah bodyguard nya. Manusia. Bukan peri.

"Jae?"

Youngjae menoleh dan mendapati Daehyun menatapnya dalam.

"Jangan terlalu dipikirkan. Maaf jika kejadian waktu itu membuatmu tidak nyaman. Aku tidak bermaksud membebani pikiranmu"

"Ehem!", Daehyun dan Youngjae sontak menoleh kearah Himchan yang dengan sengaja berdehem.

"Aku dan Yongguk ingin pergi ke taman, kalian juga butuh waktu berdua kan? Maaf, kami tidak bisa mengantar kalian pulang, tidak apa kan?",

"Eoh?", Youngjae memiringkan kepalanya heran.

"Ne, tidak apa Himchan~ah, aku dan Youngjae bisa naik bus, kalian pergilah. Selamat bersenang-senang", Himchan tersenyum puas mendengar jawaban Daehyun.

"Baiklah, kalian juga selamat bersenang-senang ya! Ayo Gukkie", Himchan segera menarik tangan Yongguk dan beranjak dari tempat itu, meninggalkan Daehyun dan Youngjae.

Setelah Himchan dan Yongguk benar-benar menghilang Daehyun pun mengalihkan pandangannya kearah Youngjae.

"Aku mau pulang,", gumam Youngjae namun masih bisa didengar jelas oleh Daehyun.

"Daehyun, ayo kita pulang", Youngjae berdiri diikuti Daehyun yang mengangguk patuh dan mereka pun memutuskan untuk pulang dengan naik bus.

.

.

.

.

.

Bintang yang bersinar dilangit pasti sanggup membuat siapa saja yang melihatnya serasa enggan untuk melewatkan pemandangan indah itu. Tak terkecuali dua insan yang kini duduk dibalkon seraya memandang langit malam bertabur bintang itu.

"Apa kau pernah mendengar jika bintang yang paling terang yang ada di langit adalah jelmaan dari orang tersayang kita yang sudah meninggal?", Daehyun, yang merupakan salah satu dari dua insan tadi membuka pembicaraan, memecah keheningan. Masih dengan memandang langit.

"Ya, aku tau", jawab insan yang satu lagi yang ternyata adalah Youngjae.

"Kau percaya itu?", Daehyun menatap Youngjae yang masih setia memandang langit.

"Sangat. Aku sangat percaya. Ibu dan Youngwon hyung selalu mengawasiku, siang dan malam, walaupun pada saat siang hari aku tidak bisa melihat mereka", Youngjae tersenyum tipis.

"Youngwon?", Daehyun mengerutkan alisnya saat Youngjae menyebut nama yang asing olehnya.

Youngjae tersenyum geli melihat ekspresi penasaran Daehyun. Rupanya Daehyun belum tau siapa Youngwon itu. Oo? Bukankah Daehyun itu peri? Dia tau tentang semua hal bukan?

"Apa Youngwon itu kekasihmu?", Daehyun mencoba menebak siapa Youngwon itu, namun apa respon yang diberikan Youngjae? dia tertawa terbahak-bahak, apalagi melihat ekspresi aneh Daehyun. Cemburu? Entahlah.

"Masa iya aku berpacaran dengan Hyung ku sendiri? Hahahaha.. kau ini ada-ada saja", Youngjae berhenti tertawa.

"Kau benar-benar tidak tau tentang Youngwon Hyung? Bukankah kau tau semua tentangku?", tanya Youngjae serius.

"Tidak, aku tidak tau tentang itu, kau tidak pernah menceritakan itu padaku"

"Youngwon hyung meninggal karena tenggelam dikolam renang, saat itu aku masih berumur empat tahun. Umur kami berbeda 3 tahun. Dan dua tahun setelah kematian Youngwon hyung aku kembali kehilangan orang yang sangat kusayangi, ibuku.", Youngjae tersenyum miris karena kembali teringat dengan masa lalu kelamnya. Daehyun hanya diam mendengarkan setiap bait kisah masa lalu Youngjae.

"Bukankah masa kecilku sangat mengerikan? Jika kebanyakan anak menikmati masa kecilnya dengan bahagia, aku menikmati masa kecilku dengan kesedihan."

"Jangan bicara seperti itu Jae~ah, setidaknya kau masih memiliki ayah, kau harus menjaganya dengan baik", Youngjae mengangguk paham mendengar penuturan Daehyun. Ya, dia masih memiliki ayah dan dia harus menjaga ayahnya dengan baik. Walaupun kadang rasa marah itu datang. Tapi, bagaimanapun juga ayah tetap ayah, dan itu tidak akan berubah apapun yang terjadi.

"Dae, terimakasih"

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya, kau selalu membantuku menyelesaikan masalahku"

"Itu sudah tanggungjawabku untuk menjaga dan membantumu", Daehyun tersenyum pada Youngjae, menunjukkan kasih sayangnya pada namja manis itu.

Saranghae Yoo Youngjae..

.

.

.

.

.

"Apa kau sudah mencari informasi tertang Putra dari Presdir Yoo?", seorang pria dengan setelan jas hitamnya tengah berbicara pada anak buahnya melalui telepon.

"…."

"Ya, segera kirim ke e-mail ku"

"…."

"Setelah ini masih banyak yang harus kau lakukan, kau harus melakukannya dengan baik, dan aku tidak mau rencana ini gagal, kau mengerti?"

"…."

"Baiklah kalau begitu, segera kabari aku jika ada informasi baru"

#PIP

.

.

.

.

.

To be Continue~~

.

.

Cie~ chapter 3 nya update.. *apaan sih?*

Author sempet-sempetin nulis saat jadwal ujian sudah diujung tanduk -_- *jangan ditiru* Soalnya kebelet banget pengen nulis lagi dan sebagai pelepas stress karena nilai tryout mateMATIka author nyungsep ke kali (?) T_T

Maaf juga bila chapter ini typonya berkembangbiak(?) dengan sangat tidak terkendali -_- maklumlah diketiknya selesai dalam empat jam! Dan tanpa cek ulang soalnya gak sempet.. yaudahlah sebelum curhatan author nyasar kemana-mana kalian review aja deh *maksa*

Ohya, terakhir! *dilempar granat* makasih buat yang udah review, favorite, dan follow ff gaje karya cabe-cabean(?) ini. Dan buat siders makasih juga udah mau mampir^^ *kecup basah*

See Yoo later~~

Review ne? ^^