Hai, hai semua! Nacchan disini! Kali ini, bersama Ryouta~!

Ryouta: Hai

Ayen: Pagi, Nat (memasuki area studio Nacchan48 Project(?) bersama 3 tokoh utama lainnya)

Nacchan: Pagi~

Haruka: Untuk episode pertama, boleh aku yang membukanya?

Nacchan: Tentu, silahkan!

Haruka: Oke, pemirsa, ini dia—

Cigull: (Copas presenter Selebriti Investigasi-_-)

Yupi: Eh, eh, tunggu dulu, ada surat nih, jawab yuk

Nacchan: Dari siapa?

Yupi: Reviewers yang gak login, aku jawab ya

Nacchan: Suka mu lah..

Yupi: Oke, mulai dari yang pertama:

~Leman SLM

Hei, hei, Leman, iya nih, tentang Yankee...
Hehe, tentu saja, Jeje bakal di masukkin di serial ini! Cuman, jangan komentar dia masuk ke bagian Prota atau Anta ya, soalnya bakal aja kejutan dari Jeje—

Yupi: Iya kan, Nat, ada kejutan?

Nacchan: Iyain aja lah..

—ganbarimasu! Dan, inilah episode pertama dari serial Koko no Senso, sorry nunggu lama, ya~

~J

Oke cuy ^0^)b

Yupi: Udah

Nacchan: Udah?

Yupi: Udeh...-,-

Nacchan: Oke, Haruka buka

Haruka: Pemirsa, inilah...KOKO NO SENSO!

.

.

.

Pagi yang cerah, mungkin untuk dunia luar saja. Namun, bagi seorang Rona Anggreani...

.

.

.

"APAAN SIH LO DARI PAGI NELPON-NELPON GUE TERUS!?" teriak Ayen yang sudah marah tingkat dewa.

"Gue bingung nih, pake baju apa?" tutur seseorang di telpon, Yupi.

"Bingung, bingung, ya pake baju pas SMP lha, bego!"

"Udah sempit nih..."

"Ya udah, gak usah pake baju ke sekolah!"

"Malu lah gue, bego, bego!"

"Ya udah, pake pakaian lain, yang macho! Susah amet sih."

"Tapi, apa!? Baju-baju macho gue lagi di cuci semua, tau!"

Ayen sweatdrop ditempat, "Minjem baju siapa kek kalo kagak ada."

"Tapi pake baju sa—" seseorang merebut telpon Yupi, "Oi, Ayen, temui kami dibawah ya! Jaa ne."

Klik! Telpon dimatikan begitu saja. Ayen berusaha untuk menenangkan diri. "Dasar loli-loli sialan," Ayen mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku roknya.

Ia memakai baju lengan pendek berwarna hitam bergambarkan hati berwarna pink dengan sebuah cincin melingkarinya berwarna biru langit. Ia memakai cardigan pendek berlengan panjang yang kerahnya ia naikkan berwarna hitam dan rok berompi berwarna hitam dengan hiasan rantai. Ia memakai kaos kaki panjang sepaha berwarna hitam.

Ia menggulung lengannya, memastikan senjatanya berada di tempat yang benar. Ya, senjata Ayen (yaitu pisau) ia simpan di lengan cardigannya. Ia mengambil tasnya, memakai sepatu sekolahnya dan berjalan menuju lift.

"Eh, tunggu dulu! Tahan nenek lampir!" seru seseorang berlari menuju lift sebelum pintunya benar-benar tertutup.

Dengan senyum dan muka yang bersimbah keringat, cowok itu berdiri di samping Ayen. Ayen menatapnya tajam, "Kenapa bisa gue se-lift sama nih bajingan!?" rutuknya.

Yup, cowok di sebelahnya adalah pemegang kedua dari lantai 25, Nakatsuka Akihiro atau yang akrab di sapa Aki, tapi mari kita sebutkan namanya 'Akihiro' saja.

"Elo ya, pagi-pagi udah keringatan gitu!" tutur Ayen menatap jijik Akihiro.

"Napa lo? Iri gue berkeringat pagi-pagi?" tanya Akihiro.

"Idih siapa yang iri punya tubuh jijik kayak gitu, hoek."

"Jijik, jijik, nanti juga pas udah nikah sekasur sama tubuh kayak gini."

"Hoekk~" Ayen merasa mual, "Gue bener-bener bakal muntah!."

"Gi hee," seringai Akihiro, "Dia terlihat hijau mukanya, BUWAHAHAHA!"

Ting!Suara lift yang sudah sampai di lantai tujuan. Sesegera mungkin, Ayen berlari menuju kamar sahabatnya, Nakagawa Haruka. Akhiri dengan santai berjalan keluar dari lift, yang sepertinya akan mengunjungi temannya juga.

Ting!Tong!Ting!Tong! Ayen terus-menerus memencet bel pintu kamar Haruka.

Krek...Haruka membuka pintu dengan muka acak-acakan, "Hoaamm...apa..?"

Ayen menerobos masuk ke kamar Haruka dan pergi menuju kmaar mandi. "Eh..?" Haruka hanya mengedipkan matanya berkali-kali.

Setelah 5 menit muntah, Ayen keluar dari kamar mandi. Lalu, menatap datar Haruka, "Hei, Haruka."

"Apa...?"

"Kenapa belom berpakaian?"

"Emang kenapa?"

"Ini udah lewat dari satu tahun, bego."

"Masa sih...? Malesss~"

"Cepet gih mandi!"

"Malesss~"

"SE-KA-RANG HARUKA!"

"B-baik, Mak," Haruka langsung kocar-kacir menuju kamar mandi karena takut kena marah Emak Ayen(?).

30 menit kemudian...

"Udah rapi, kan?" tanya Haruka.

"Udah, ayo, sekarang, ambil tasmu, senjatamu, peralatan sekolahmu, dan kita berangkat menuju SMA 08!" jawab Ayen.

"Oke emak!" Haruka memberi hormat dan menuruti apapun yang dikatakan oleh Ayen. "Oke, sekarang, ayo kita ke SMA 08!" Ayen menarik pergelangan tangan Haruka menuju lift.

.

Nacchan48 Project(?) Present

.

JKT48 : Koko no Senso
Episode 1: Become a Team
Rated: T
Disclaimer: Yasushi Akimoto-sama
Genre: Action/Friendship/Humor/Romance/dll.
WARNING(!): OOC, TYPO, GAJE, ABAL, De El El.

Cast on this Episode:

-Rona Anggreani (Ayen) from JKT48
-Nakagawa Haruka (Haruka) from JKT48
-Cindy Yuvia (Yupi) from JKT48
-Cindy Gulla (Cigull) ex-member of JKT48
-Nakatsuka Akihiro (Akihiro/Aki) My Original Characters or My OC
-Melody Nurramdhani Laksani (Melody) from JKT48
-Devi Kinal Putri (Kinal) from JKT48
-Iskandar (nama samaran) yang tak diketahui asal-usulnya
-Shinoda Mariko (Mariko-sama) ex-member of AKB48
-Shania Junianatha (Shanju) from JKT48
-Amanda Dwi Arista (Manda) from JKT48
-Thalia Ivanka Elizabeth (Vanka) from JKT48
-Muro Kanako (Murokana) from NMB48
-Matsui Rena (Gekikara-sensei) from SKE48.
-Habara/Archdemon from Danshi no Koukousei no Nichijou
-Shinta Naomi (Naomi) from JKT48

.

.

.

"Mana sih, si kembar itu? Lama banget!" tutur Ayen memeriksa jam tangan Haruka.

"Itu mereka!" Haruka menunjuk ke arah si kembar yang di sebut-sebut Ayen.

Ayen hanya meletakkan kedua tangannya di pinggang.

"Hosh...hosh..hosh.." keduanya mengatur nafas, "Gomen, nunggu lama," tutur Yupi, "Salahkan kakakku atas hal ini."

"Apa!?" Cigull menatap Yupi tak percaya, "Yang seharusnya disalahkan adalah kamu! Yang berantem bareng Habara pagi ini!"

"Habara? Si Archdemon dari acara Danshi no Koukousei no Nichijou itu, ya?" tanya Ayen.

"Yah, begitulah," jawab Cigull.

Yupi menatap Ayen dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Kok gak pake seragam SMP?".

"Di cuci," jawab Ayen.

"Oh," balasan Yupi yang lalu menoleh ke arah Haruka, "Eh, Haruka udah mulai sekolah?"

"Kan udah 1 tahun lewat, Bakayupi," tutur Cigull.

"Eh, udah ya? Baru nyadar aku," tutur Yupi, "Emang kenapa Haruka gak sekolah selama 1 tahun?"

"Agar seangkatan sama kalian!" jawab Haruka.

"Oh," balasan Yupi.

"Ayo, yuk! Nanti kalo terlambat kita bakal di congkel matanya," ajak Cigull berlari menuju SMA 08.

"Eh, tunggu, Cigull!" Yupi dan yang lain mengejar Cigull.

[Koko no Senso]

Teng! Tong! Suara bel dari SMA 08 berbunyi. "Bel sudah berbunyi Kaichou," tutur wakil ketua OSIS SMA 08, Kinal.

Melody—Kaichou—menatap datar Kinal, "Gue juga udah tahu, keles."

"Tapi, Kaichou masih sibuk dengan ponselmu."

"Iye, ah, sabar, mirip Tsubaki banget sih ente."

"Memang itulah yang seharusnya saya miripkan dengan sifat Tsubaki Sasuke, karena memiliki Kaichou seperti Agata Sojiro."

"Ya, ya, terserah, tolong jangan ganggu gue sebentar, gue ada panggilan drai mata-mata kita di SMA Tunas Cabe(?)!"

"Baiklah, jika itu yang anda inginkan, Kaichou."

Melody kembali fokus dengan teleponnya, "Halo, halo, dengar?"

"Yeah, jadi, mereka akan melakukan penyerangan, dalam beberapa minggu lagi. Dan, berhati-hatilah pada Monica, Melo!"

"Memangnya ada apa dengan anak itu?"

"Dia berbahaya, Melo! Dia seorang psikopat."

"Aku juga psikopat," yang berbicara terlihat tersinggung.

"Bu-bukan gitu, dia lebih psikopat! Psikopat tingkat akut."

"Aku juga," tambah tersinggung orangnya.

"Okeh, kamu level berapa psikopatnya?"

"Level 9."

"Kalo gitu, Monica level 10."

"Gekikara-sensei level 11 lagi."

"Argh! Pokoknya, dia berbahaya!"

"Iya, iya deh, bagaimana dengan Ratu Cabe mu itu, yang-aku-tak-tahu-namanya-itu?"

"Yang-aku-tak-tahu-namanya-itu—"

"Kamu juga gak tahu namanya!?"

"Lupa gue, oke, lanjut ke masalah, Monica itu adalah salah satu boneka milik yang-aku-tak-tahu-namanya-itu, jadi, kau harus hati-hati, dan jaga baik-baik keturunan kerajaan Zavedeight."

"Pastilah, udah jadi kewajiban aku itu!"

"Oke, Iskandar pamit dengan damai!"

Klik!Sambungan telepon dimatikan. "Kaichou..." panggil Kinal.

"Apa Female Tsubaki?" tanya Melody menoleh ke belakang.

"Gekikara-sama sebentar lagi akan sampai di lapangan."

"WHAT THE...!? AYO, CEPETAN FEMALE TSUBAKI!" Melody menarik tangan Kinal menuju lapangan.

Kinal menatap tangannya yang di tarik oleh Melody (di slow motion kan adegan ini).

"KYAAA~ Kaichou menarik tanganku~" batin Kinal bersemu merah.

Pelajaran yang kita dapat hari ini:

-Ternyata Female Tsubaki alias Kinal adalah seorang Lesbi.

-Arisu berpesta akan kehadiran tokoh Lesbi.

-Jangan pernah adakan tokoh Lesbi lagi.

Ryouta: Serius tuh?

Nacchan: Gak tahu, oke, kembali ke cerita~!

.

.

"Dan, sebagai seorang Yankee..." Kepala Sekolah, Shinoda Mariko, berpidato dengan bersemangat. Semua anak kelas 1, sebagian anak kelas 2, dan seperempat anak kelas 3 mendengarkannya dengan menghayati, yang termasuk salah satunya Haruka.

"Hoaamm..." Ayen menguap lebar, lalu menoleh ke arah Cigull dan Yupi. Cigull tengah membaca manganya dan Yupi tertidur di bahu Cigull.

"Manga apa, Cigull?" tanya Ayen penasaran dengan tatapan mengantuk.

"Hn?" Cigull menoleh ke arah Ayen, "Boy meets Boy."

"NaruSasu, ya...?"

"Iya."

"Pasti suka lemon."

"Tuh tahu."

"Betul kan? Menjijikan, mungkin dia cocok sama Nabilah, mengingat aku menemukan banyak sekolah manga Yaoi disana."

16 menit kemudian, Mariko-sama selesai berpidato dengan akhiran "HIDUP SMA 08!".

"HIDUP SMA 08!" sorak Haruka.

"Mana bisa sekolah hidup!" batin Ayen menatap datar Haruka.

Lalu, berlanjut ke pidato Melody. Semua kelas 8 dan 9 berwajah berseri-seri, menandakan hal yang bagus. Dengan tatapan datar, Melody melihat ke kanan, lalu ke kirinya. Dan, terakhir, ke tengah, lurus ke depan.

"KEPARAT UNTUK SMA 04!" teriaknya.

"YO!" sambut semuanya, kecuali Ayen, Cigull yang sibuk dengan manganya, dan Yupi yang hampir jatuh dari pundak Cigull.

"MATI SAJALAH SMA 04!"

"YO!" sambut semuanya, kecuali Ayen yang menguap, Cigull yang mengganti halaman baca, dan Yupi yang jatuh ke tanah—namun masih tidur.

"BASMI SEMUA CABE-CABEAN DARI SMA TUNAS CABE(?)!"

"YO!" sambut semuanya, kecuali Ayen yang menatap semuanya dengan tatapan 'weird', Cigull yang menutup mangannya, dan Yupi yang di kerubungi semut merah.

"DAN, SELAMAT TAHUN AJARAN BARU!"

"YEAH!" sambut semuanya, kecuali Ayen yang hanya meninju udara dengan pelan, Cigull yang tengah bertarung dengan semut merah yang mengerubungi adiknya, Yupi.

"SEKARANG, PERGI KE KELAS MASING-MASING!" teriak Melody.

"YEAHH!" kali ini semuanya menyambut, termasuk Cigull yang tengah berperang dan Yupi yang sambil tertidur. Semua langsung berhamburan ke kelas masing-masing. Ayen dan Haruka menoleh ke arah Cigull dan Yupi, "UWAA! A-apa yang terjadi!?"

"Pasukan semut merah menyerang, komandan! Apa yang harus kita lakukan!?" tanya Cigull.

"Ng..." Ayen terlihat bingung.

"Sini, biar ku urusi semut-semut itu," Haruka mengeluarkan sebuah semprotan anti-serangga, dan menyemprotnya ke tubuh Yupi. Berlangsunglah kabut selama 5 detik yang membuat batuk-batuk, dan akhirnya menghilang dengan semua semut merah mabuk dan mati.

"Ada yang bawa parfum, gak?" tanya Cigull.

"Emang kenapa?" tanya Haruka polos.

"Baunya kayak semprotan anti-serangga," jawab Cigull menunjuk ke arah Yupi.

"Ya iyalah, orang habis di semprot anti-serangga!" batin Ayen.

"Hei, kok bau anti-serangga sih tuh cewek?" tanya seseorang.

Semua menoleh ke sumber suara, "Shanju!".

"Hai sobat!" sapa Shanju, "Nih, ada minyak wangi yang kucuri dari cewek-cewek cabe dari Tunas Cabe(?) selama pembukaan, selamat datang di SMA 08! Aku pergi dulu, ja nee!" Shanju lari memasuki gedung bertingkat yang menjadi tempat dimana ia belajar.

"Oke, makasih Shanju!" seru Haruka, yang dulu teman sekelas Shanju sewaktu kelas 9.

Dengan segera, Cigull menghabiskan setengah dari parfum yang di berikan Shanju untuk menghilangkan bau semprotan anti-serangga. "Haruka," panggil Cigull.

"Iya, Cigull?" tanya Haruka.

"Bisa bawa Yupi ke kelas, enggak? Mengingat kalian satu kelas."

"Oke, deh, beres!" Haruka menggendong Yupi dan berlari sekuat tenaga menuju kelas keduanya, 1-5.

"Gak usah kencang-kencang, Haruka," tutur Cigull, "Ya udah, aku ke kelas ya."

"Oh, oke, kelas mana tadi, kamu, Cigull?"

"1-6."

"1-6?"

"Yeah."

"Oke, beda jalan."

"Ja nee, Ayen."

"Ja nee."

Ayen berjalan sendirian menuju kelasnya, 1-2. Jalan antara kelas 1-2, dengan kelas 1-5 maupun kelas 1-6 berbeda. Ketika ia memasuki kelas 1-2, ia langsung memilih duduk di belakang, dekat jendela, tempat paling mainstream di setiap cerita Jepang, namun, memang paling nyaman duduk disana. "Eh, sekelas lagi kita, Ayen!" tutur seseorang.

Ayen menoleh ke sumber suara, "Eh, Manda!" wajahnya berseri-seri.

Amanda Dwi Arista, atau yang akrab di panggil Manda, adalah teman seperjuangan Ayen sewaktu SMP. Manda duduk di sebelah Ayen, "Heee...jadi kita sekelas lagi nih, ceritanya?"

"Yah, begitulah."

"Eh, tadi kamu denger nggak apa yang dikatakan Mariko-sama."

"Tidak sama sekali, kamu?"

"Tentu saja tidak."

Keadaan menjadi canggung, jika seseorang tak datang mengagetkan, "HEII! KALIAN BERDUA!"

Ayen dan Manda menoleh ke sumber suara, "Eh, Vanka!" tutur Ayen.

"Vanka di kelas ini juga?" tanya Manda tak percaya.

"Yup! Betul sekali!" Vanka duduk di depan Manda, "Capek tahu aku, dari toilet ke sini! Wuihh...jauh banget!".

"Ih, gila, sejauh mana?" tanya Manda.

"Mm...antara kamar kamu ke kamar Ian," jawab Vanka. Keduanya juga tinggal di Apartemen YAOI.

"Ke-kenapa bisa antara kamar aku sama Ian!? Siapa tahu, sampai kamarnya Ha—" mulut Manda langsung di sekap oleh Vanka.

"Ssstt...ada H.A.D. bodoh disini!" tutur Vanka.

"Serius ada Habara disini!?" seru Ayen.

"Yah, malah ngomong pula dia!" Vanka menepuk keningnya.

"Hn, ada apa Ayen? Kenapa manggil-manggil nama aku?" tanya Habara yang duduk di pojok depan, yang sangat jauh dari Ayen, namun, kerennya, suara Ayen terdengar sampai pojok sana—untuk Habara.

"Nggak ada kok, Habara, cuman, kaget aja!"

"Kenapa kaget?"

"Yah, keren tahu, kalo kita punya temen satu kelas sekuat kamu, Habara! Kata Naomi, setiap bulannya, akan di adakan perang antar kelas, jadi, kemungkinan besar, kita akan menang karena ada kamu, Habara!"

"Oh, baguslah, perang, menyerukan."

"Fiuhh..." Ayen menghela nafas lega.

"Serius tuh, setiap bulan ada perang antar kelas?" tanya Vanka.

"Kurikulum 2014 memang ada perang antar kelas," jawab Ayen.

"Kita pake K-14?" tanya Manda.

"Iya," jawab Ayen.

"Bukannya K-13 ya?" tanya Vanka.

"K-13 itu untuk sekolah-sekolah biasa. Kalo, sekolah khusus Yankee kayak kita, namanya K-14, karena dibuat tahun 2014," jawab Ayen.

"Ohhh..." Vanka dan Manda ber-oh ria. "Pasti tahu dari Kak Naomi, kan?" tanya Vanka.

"Tuh tahu," tutur Ayen.

Mereka pun bercanda dan mengobrol dan tertawa bersama. Lalu, datang seorang gadis berambut hitam bergelombang datang menghampiri mereka, "Ohayou," sapanya.

"Ohayou," sapa Ayen, Vanka, dan Manda.

"Borehkah aku duduk di depan mu?" tanya gadis itu dengan aksen Jepang kepada Ayen.

"Oh, sure, tentu saja boleh," jawab Ayen.

"Arigatou," ucap gadis itu dan duduk di depan Ayen.

Ayen memandang ke dua temannya, kedua temannya memandangnya balik. "Hei, anata wa dare ka?" tanya Ayen.

Gadis itu menoleh ke arah Ayen, Vanka, dan Manda, "Atashi namae wa Muro Kanako desu."

"Muro Kanako?" tanya Ayen.

"Ha'i, Muro Kanako desu," jawab gadis itu.

"Biasa di panggil apa?" tanya Vanka yang tak pandai bahasa Jepang, namun, tahu arti dari bahasa Jepang—aneh.

"Murokana desu," jawab gadis itu—Murokana.

"Ohhh...Murokana..." Vanka ber-oh ria.

Manda membuka buku bahasa Jepangnya, lalu menoleh ke arah Murokana, "Anata wa doko kara kimashita?"

"Tanpa bahasa Jepangpun, dia mengerti..." batin Ayen dan Vanka.

Murokana membuka buku bahasa Indonesianya, "Saya berasaru dari Namba, desu," ucapnya terpenggal-penggal.

"Ohhh...Namba toh..." semuanya ber-oh ria. Mereka pun mengobrol seputar Jepang dan Indonesia, hingga seorang wanita datang. Seorang guru bernuansa seram, jauh melebihi Archdemon atau Habara.

BRAK! Wanita itu membanting buku-bukunya di meja guru, "Perkenalkan, Matsui Rena, atau Gekikara. Panggil saja Gekikara-sensei, jadi wali kelas kalian, oke, ada pertanyaan?"

Ayen menunjuk tangannya.

"Ya, kau, gadis kecil, siapa namamu?" tanya Gekikara-sensei.

"Rona Anggreani, Ayen," jawab Ayen.

"Oke, Ayen, apa pertanyaanmu?"

"Kenapa anda menjadi wali kelas kami?"

"Ada apa? Kau tak suka?"

"Bukan, karena anda adalah guru paling killer dan paling kuat di antara semua guru di sini, dan, psikopat level 11."

"Bagus, bagus, tahu dari mana?"

"Shinta Naomi, dan Laksani bersaudara."

"Woaahh...teman-temanmu ternyata mantan muridku, oke, kalian adalah murid-murid spesial dari kelas spesial. Kalian adalah anak-anak terkuat dari hasil nilai yang terpampang di mading, dari urutan pertama hingga 37. Jadi, aku dipilih untuk menjaga dan mendidik kalian agar berguna untuk perang tahun baru nanti. Dan, kita akan pakai K-14 atau Kurikulu 2014, yang dapat dipastikan bahwa Ayen sudah tahu seperti apa itu K-14—" ucap Gekikara-sensei menunjuk ke arah Ayen.

Ayen hanya menatap dingin Gekikara-sensei.

"—Nah, sebelum masuk ke 'apa itu K-14' mari kita perkenalan dulu, mulai dari rank 1, Habara 'Archdemon'."

Habara berdiri dan memperkenalkan diri. Ayen, Vanka, Manda, dan teman-teman yang tahu tentang Habara hanya membantin, "Sudah pasti, Archdemon ranking pertama."

[Koko no Senso]

Seminggu kemudian...

Seminggu telah berlalu. Terkadang, Ayen ke sekolah bareng Cigull, Yupi, dan Haruka. Namun, terkadang, ia ke sekolah bareng Vanka, dan Manda. Ketua kelas 1-2 ialah seorang gadis bernamakan Takayanagi Akane atau Akane. Wakil ketua kelas ialah Habara. Kenapa Habara tak jadi ketua kelas...? Karena Habara tak bisa menjadi ketua kelas. Terlalu di takuti oleh semua orang.

Manda menjadi sekretaris kelas, sedangkan bendahara kami adalah Shania Gracia atau Gracia. Vanka menjadi seksi kesenian di kelas. Sedangkan aku menjadi seksi keamanan di kelas bersama Yona.

Ketika pelajaran Paruru-sensei berlangsung, tiba-tiba saja, terdapat panggilan.

"Bagi anak-anak yang dipanggil, segera datang ke Ruang OSIS..." dan terdengar suara Gekikara-sensei memanggil-manggil nama-nama siswa.

"Habara dari kelas 1-2, Rona Anggreani dari kelas 1-2, Michelle Christo Kusnadi dari kelas 1-3..." ucap Gekikara-sensei.

"Eh, aku?" tanya Ayen. Ayen dan Habara pamit dan segera pergi ke ruang OSIS. Sesampainya disana, mereka menunggu beberapa anak yang di panggil oleh Gekikara-sensei. Salah satu anak-anak yang di panggil Gekikara-sensei adalah si Duo Cindy dan Haruka.

"Oke, aku mengumpulkan kalian semua untuk membuat suatu tim untuk pertahanan dari SMA Sialan Tunas Cabe Kering(?) itu," tutur Gekikara-sensei.

"Oke, tim pertama, Naomi dengan Okada dan Alicia!" tutur Gekikara menunjuk Naomi, Okada Nana (Naachan) dan Alicia Chanzia (Alicia).

"Sip," Naomi mengancungkan jempolnya.

"Tim kedua, Habara dengan Minami," Gekikara-sensei menunjuk Habara dan Minami Shimada.

Keduanya hanya mengangguk.

"Tim ketiga..." Gekikara menunjuk-nunjuk siswa-siswa untuk dijadikan satu tim. Ada yang menentang secara terang-terangan, ada yang menentang secara diam-diam.

"Dan, sisanya, akan menjadi tim! Yaitu, kau Ayen, Nakagawa, dan Duo Cindy!" tutur Gekikara-sensei.

Ke-4 nya terdiam.

.

.

.

"MAJI DE!?"

...~End of Become a Team~...

Nacchan: Yeah~ Selesai akhirnya~ Dari Sore ampe malam~

Haruka: Yey! Kita satu tim! (tepuk tangan)

Ayen: Habara di kelas kami? (tertegun)

Yupi: Terus, Gekikara yang jadi wali kelas kalian~

Cigull: (sibuk baca manga Natsu x Gray dari Fairy Tail, Doujinshi)

Nacchan: Oke, siapa yang mau ngucapin penutupnya?

Yupi: AKU!

Nacchan: Oke, ucapkan, Yupi!

Yupi: Dan, inilah akhir dari Episode Pertama dari Koko no Senso, kekurangan dari fiksi ini mohon di maafkan, terima kasih telah membaca—terutama telah mereview—serial ini, sampai jumpa di episode depan~!


Kami selaku Nacchan48 Project(?)

Ingin mengucapkan

~(ARIGATOU GOZAIMASU)~

Kepada anda yang telah membaca dan mereview

Sampai jumpa di chapter depan

~Salam dari semua pemain~