I'm back!

hehe yang kemaren aku motongnya ngegenatung banget ya?

Sorry yaa...

Disini Taufan, Gempa, sama Halilintar sebagai kakak adik. temen-temennnya cuma numpang lewat bentar.

Warning : Typo banyak (kali?), no pairing, family

Selamat membaca! enjoy it (^_^)


Preview chap sebelumnya

BRAK!

Suara bantingan pintu kelas membuat seluruh anak bahkan guru yang sedang mengajar kaget.

"Gempa!" Seru Yaya terengah-engah, sepertinya ia telat, padahal bel sudah berbunyi.

"Oh, Yaya, kenapa?"

"Cepet ke luar!"

"Eh, kenapa emang?"

"..." Yaya diam sesaat sebelum ia menjawabnya, "Adikmu Taufan, tertabrak saat mau menyebrang." Jawabnya dengan suara pelan.

Jawaban itu membuat seisi kelas kaget dan segera menatap Gempa. Baik teman ataupun guru yang sedang mengajar kelas Gempa memandang Gempa dengan tatapan khawatir.

"Lho? Kok-"


Chapter 1.2 : Bad Feeling

"Tadi aku lihat Taufan sedang berlari dan Kak Halilintar mengejarnya, sepertinya Taufan tidak melihat jalan, jadi saat masuk ke jalan raya..." Jelas Yaya pada Gempa dengan matanya yang merah dan mukanya yang menunduk.

Gempa yang mendengar hal itu hanya diam 'Kok bisa? Bukannya tadi Taufan berangkat bareng Kak Hali?' Pikir Gempa khawatir. Tanpa ia sadari, ternyata tubuhnya sudah bergetar, matanya membulat, dan air mata mulai jatuh ke pipinya.

Tanpa pikir panjang, Gempa segera berlari meninggalkan kelas meninggalkan tasnya dan tidak menghiraukan panggilan teman-temannya. Ia segera berlari ke tempat kejadian.

Teman-temannya yang ingin keluar kelas mengikuti Gempa, segera dicegat oleh Yaya.

"Yang lainnya jangan keluar! Duduk dan belajar!"

"Tapi Gempa.." Kata salah satu temannya.

"Emang kalo kalian kesana kalian mau ngapain? Liatin doang kan? Mending berdo'a aja buat mereka bertiga supaya mereka selamat!" Seru Yaya pada teman-temannya.

"Iya, Yaya bener tuh, dari pada kita kesana ga ngapa-ngapain, mending disini berdo'a buat mereka. Lagi pula, ini kan masalah kakak adik, ga ada hubungannya sama kita." Sambung Ying.

Akhirnya semua anak setuju dan duduk ke bangku masing-masing. Mereka semua berdo'a untuk ketiga kakak adik itu dan dipimpin oleh guru yang sedang mengajar mereka.

0oOOo0

Gempa berlari keluar kelas, ia berlari melewati kelas-kelas lain yang sepertinya menatapnya "aneh". Bagaimana tidak? Gempa berlari keluar gerbang sekolah tanpa tasnya dengan tubuh yang gemetaran dan matanya yang merah menahan tangis.

'Tuh 'kan bener, bad feelingnya itu ternyata... Ya Allah... Kenapa hal ini harus terjadi siih?' Di kepalanya terbayang bagaimana kondisi adiknya itu.'BODOH! BODOH! BODOH!' Kata-kata itu selalu ada dipikirannya setiap ia membayangkan kondisi Taufan.

Gempa sama sekali tidak memedilukan orang-orangb yang melihatnya, yang ia pikirkan sekarang hanyalah bagaimana kondisi adik dan kakaknya itu.

Sesampainya di tempat kejadian, yang bisa ia lihat hanyalah sekerumunan orang yang ada di jalanan.

"Eh, itu ada yang ketabrak?"

"Iya, katanya yang ketabrak anak SD..."

"Kakaknya ada disitu kan?"

"Iya, tapi yang nabraknya malah kabur... dasar ga bertanggung jawab."

Orang-orang membicarakan kejadian itu yang membuat Gempa semakin yakin bahwa sesuatu telah terjadi. Bukannya membuat Gempa agak tenang, tapi hal itu malah membuatnya semakin khawatir akan hal terburuk. Jadi, ia menerobos masuk dalam kerumunan itu.

"Minggir!"

"Awas!"

"Misi! Mau lewat!"

Teriak anak tengah itu sambil berlari menerobos kerumunan. Saat ia sampai ditengah, ia hanya bisa diam membatu, matanya membulat, tatapannya kosong, tubuhnya bergetar hebat. Ia hanya bisa berjalan sempoyongan ke arah mendekati orang yang tertabrak itu.

"Taufan?" Gumamnya.

Ternyata Yaya benar. Dilihatnya Taufan yang kepalanya bercucuran darah sehingga jaket dan baju seragam yang Taufan pakai juga ikut kena darahnya. Topinya ada di pinggir jalan, yang sepertinya terlepas saat kejadian berlangsung. Mata Taufan tertutup tak sadarkan diri. Sedangkan kakaknya Halilintar memangku Taufan yang berdarah itu sehingga bajunya juga ikut terkena darah Taufan. Tas mereka berdua juga ada di pingggir jalan.

"Ah, Gempa..." Panggil kakaknya dengan senyuman tipis dimukanya, mencoba membuat Gempa tidak terlalu panik. Namun, matanya merah sembab memberitahu Gempa bahwa Halilintar habis menangis.

"Kak Hali, kenapa?"

"Mmm, ceritanya panjang.." Jawab sang kakak.

Gempa segera berjalan mengambil topi adiknya dan pergi menghampiri mereka berdua.

"Taufan, Taufan, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Gempa pada adiknya yang tak sadarkan diri itu.

"..." Tak ada jawaban.

"Kak, sekarang gimana?" Tanya Gempa pada kakaknya dengan mata yang sembab.

"Gempa, titip Taufan sebentar." Kata kakaknya sembari menyerahkan Taufan pada Gempa.

Halilintar segera berdiri dan meminta pada kerumunan orang itu untuk membawa adiknya ke rumah sakit. Namun, seberapa kalipun meminta, tidak ada yang mau menolongnya. Gempa yang sedang duduk bersama adiknya itu mulai menangis. Tiba-tiba, terdengar suara yang memanggil Taufan.

"Taufan! Ya Allah naak, sini bapa antar ke rumah sakit." Ucap orang itu. Ternyata dia adalah guru matematika yang tidak Taufan suka ketika dia mengajar, tapi sepertinya diluar pelajaran, mereka akur seperti biasa.

Gempa dan Halilintar hanya mengangguk. Guru itu membopong Taufan masuk ke mobilnya, Halilintar segera mengambil tas miliknya sementara Gempa mengambil tas Taufan dan ikut masuk ke dalam mobil guru itu.

Di dalam mobil, Gempa masih menangis melihat adiknya itu, Halilintar segera menenangkannya.

"Nngghh.." Terdengar suara Taufan yang sepertinya sudah siuman.

"Taufan, kamu nggak apa-apa?" Tanya Halilintar.

"Kak Hali... Sakiiiittt." Kata Taufan menahan rasa sakitnya.

"Iya, kakak tau. Taufan tidur lagi aja."

"Tapi sakiiiit!" Taufan mulai berteriak.

Gempa dan Halilintar melihat adiknya yang bersimbah darah itu mulai menangis. Kedua kakaknya hanya bisa menahan tangisan mereka supaya adiknya tidak terlalu panik. Sedangkan guru itu mengemudikan mobilnya dengan cepat ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, Taufan segera digendong guru itu ke UGD, sementara Gempa dan Halilintar mengikutinya dari belakang.

Setelah sampai di satu ruangan, guru itu membawa Taufan masuk sementara Gempa dan Halilintar duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu.

"Ini salahku." Ujar Gempa.

"Bukan kok, Gempa ga usah nyalahin diri sendiri.." Kata Halilintar.

"Kalo aja aku ga pergi duluan, kalo aja aku berangkat sekolah bareng kalian, kalo aja aku nggak mentingin tugas yang belum selese itu, kalo aja-" Gempa terus memikirkan kesalahan-kesalahannya yang membuatnya hampir menangis lagi.

"GEMPA!" Teriak kakaknya yang membuat Gempa kaget, "Ini bukan salah kamu! Kamu harus tenang! Masa aku harus ngebully kamu dulu baru bisa tenang? Nggak kan? Udah, ga usah nyalahin diri sendiri!"

"Tapi kaak-"

"Ini juga salah aku sih, tapi kalo aku terus mikir kalo ini kesalahan aku, emangnya hal yang sudah terjadi bakal berubah? Terima aja, kejadian ini adalah cobaan buat kita, Allah sedang menguji kita. Makannya kita harus sabar!" Seru Halilintar pada Gempa.

Gempa hanya diam menunduk.

Beberapa saat kemudian, guru dan dokter yang menangani Taufan keluar ruangan.

"Dok, gimana kondisi adik saya?" Tanya Halilintar spontan.

"Tidak ada luka serius, tapi luka di pellipisnya itu sepertinya kemasukan beberapa batu kerikil, satu-satunya cara untuk mengeluarkannya hanyalah operasi." Jawab dokter itu.

"Lakukanlah apapun, yang penting Taufan bisa sehat lagi!" Seru Gempa.

"Gempa, jangan buru-buru. Kalo Taufan dioperasi, yang bayar siapa? Kan yang nabraknya malah kabur." Cegat Halilintar.

"..." Gempa hanya diam.

"Orang tua kalian sedang pergi kan? Kalau soal biaya pengobatan dan operasi, itu sudah ditanggung oleh sekolah." Kata guru itu tiba-tiba.

"Kok?"

"Tadi di dalam, bapak sudah memberi tahu kepala sekolah dan wali kelasnya Taufan, dan mereka setuju untuk membiayai apapun jenis pengobatan yang akan dilakukan supaya Taufan bisa kembali ke sekolah." Jelas guru itu panjang lebar.

"Ya sudah, operasinya langsung dilaksanakan saja." Ucap dokter itu.

Dokter itu pun segera masuk kembali ke ruangan Taufan untuk mempersiapkan operasinya. Di luar, Gempa dan Halilintar yang masih bingung tak mengerti diajak mengobrol sama guru itu.

"Kalian kakaknya Taufan kan?" Tanya guru itu.

"Iya." Jawab Gempa singkat.

"Adik kalian Taufan itu anak yang sangat ceria di kelas maupun di sekolah lho." Sambung guru itu, "Oh, ya, perkenalkan, saya Pak Santoso guru matematikanya Taufan."

"Saya Halilintar dan ini Gempa." Halilintar memperkenalkan dirinya dan Gempa pada Pak Santoso dengan senyuman tipis diwajahnya.

"Oh, kalian memang mirip ya, senyuman kalian bertiga juga mirip." Kata Pak Santoso, perkataannya membuat kedua kakak itu bingung.

"Di kelas, Taufan itu selalu saja bercanda, sehingga tak jarang dia bapak suruh ke depan untuk mengerjakan soal." Pak Santoso mulai bercerita, "Di luar kelas juga, jika bapak bertemu degan Taufan, pasti dia segera menghampiri bapak dan mengucapkan salam dengan senyuman dimukanya." Sambungnya.

"Namun, kemarin, saat bapak melihatnya melamun disaat pelajaran, bapak merasa ada yang aneh. Disaat biasanya dia selalu saja mengobrol dengan temannya, sekarang dia malah bengong sendirian di kursinya." Cerita Pak Santoso sambil tertawa mengingat saat-saat dimana dia selalu bisa melihat senyuman anak didiknya itu.

Gempa dan Halilintar yang dengan seksama mendengarnya, jadi mengingat saat-saat mereka melihat senyuman adiknya yang polos itu. Juga mengingat bagaimana Taufan dan Halilintar selalu bertengkar setiap pagi karena hal yang sepele.

"Aku memang kakak yang payah." Kata Halilintar tiba-tiba sambil memegang kepalanya dan tersenyum tipis, namun juga menahan tangis yang sangat ingin ia keluarkan.

"Aku juga, ga cuma Kak Hali doang.." Sambung Gempa menepuk pundak Halilintar.

"Oh ya, Gempa, tas kamu masih di kelas kan?" Tanya Pak Santoso pada Gempa.

"Eh, iya ya, aku ninggalin tasku di kelas sebelum lari keluar sekolah." Jawab Gempa.

"Ya sudah, bapak ambilkan. Nanti kalau ada apa-apa, telfon saya ya, nih nomornya." Kata Pak Santoso sambil memberikan kartu namanya pada Gempa.

"I, iya. Makasih ya pak." Kata Gempa.

"Ya, nanti bapak bakal kesini lagi nganter kalian pulang kok." Ucap Pak Santoso yang segera berlari masuk ke dalam mobilnya dan pergi ke sekolah.

Dalam seketika lorong tempat mereka duduk menjadi sepi.

"SAKIIITT!" Teriakan Taufan dari ruangan di belakang kedua kakak itu memecah keheningan.

"Taufa-" Gempa hampir membuka pintu ruangan itu namun segera dicegat oleh Halilintar.

"Duduk." Perintah kakaknya itu.

Gempa segera menurutinya dan duduk disebelah Halilintar.

"UDAH! UDAH! SAKIT!"

Teriakan Taufan membuat Gempa dapat membayangkan rasa sakit yang ditanggung olehnya jika ia ada di posisi adiknya itu. Tanpa Gempa sadari, ternyata dia sudah menangis sambil memegang erat topi adiknya itu.

"UDAH! BERHENTI! UDAH!"

Dengan tangannya yang gemetaran, Gempa menaruh topi Taufan disebelahnya dan menutup kedua telinganya. Gempa tidak tahan melihat ataupun mendengar adiknya menjerit kesakitan.

"UDAH! CUKUP! PERGI! SAKIIIT!"

Setiap kali Taufan berteriak, air mata Gempa semakin deras. Sampai akhirnya dia tidak bisa menahan tangisannya lagi.

"Ya Allah... Kenapa harus Taufan? Kenapa nggak aku aja? Aku ga bisa tahan mendengar jeritan adikku ini Ya Allah!" Teriak Gempa. Air matanya semakin deras, teriakannya juga semakin kencang.

Halilintar yang melihat tingkah laku Gempa segera memeluknya erat.

"Gempa, udah, jangan nangis lagi.." Pinta Halilintar.

Namun, adiknya itu semakin lama tangisnya semakin kencang. Sampai-sampai Halilintar juga menangis melihat adiknya itu.

"Udah Gempa, Taufan pasti bakal pulang kook." Ucap Halilintar tersenyum tipis sambil menangis.

Halilintar mempererat pelukannya pada Gempa. Gempa akhirnya kembali memeluk Halilintar dengan erat.

"Taufan ga bakal mati kan kak?" Tanya Gempa pada kakaknya.

"Ya, dia ga bakal mati kok. Taufan pasti kayak dulu lagi." Jawab kakaknya.

Setelah Gempa yakin dengan perkataan kakaknya, ia melepaskan pelukannya pada Halilintar dan segera menghapus air matanya juga mengambil topi Taufan yang ia taruh disebelahnya. Lama kelamaan, suara tangisan Gempa melemah dan akhirnya berhenti.

"Gempa?" Tanya Halilintar ketika menyadari adiknya itu tidak bersuara. Halilintarpun melihat muka Gempa untuk memastikannya.

"Eh, tidur ya?" Ternyata Gempa tidur karena terlalu capek menangis. Dilihatnya Gempa yang tidur sambil memegang topi adikknya, mukanya agak menunduk miring. Halilintar tersenyum dan menghapus air mata yang masih ada di pipi adiknya itu. Tanpa sadar, Halilintar juga mulai tertidur dengan posisi masih memeluk Gempa.

Entah mereka tidur berapa lama, Halilintar dan Gempa terbangun saat ada yang memanggil nama mereka.

"Gempa, Halilintar, bangun.." Ternyata yang memanggil itu Pak Santoso, "Ayo masuk, operasinya sudah selesai, kalian boleh melihat Taufan tapi jangan berisik ya.." Sambungnya.

Gempa dan Halilintar segera berdiri dan masuk ke ruangan itu. Dilihatnya Taufan sedang berbaring dengan perban dikepalanya dan kakinya.

"Dok, kok kakinya ikut diperban? Bukannya kepala doang ya?" Tanya Gempa.

"Oh, itu kakinya Taufan terkilir, jadi tadi sekalian diurut biar sembuhnya cepat." Jawab dokter itu.

Setelah mengerti, kedua kakak itu berjalan ke samping Taufan,ternyata Taufan sedang tidur. Gempa yang melihatnya merasa lega, ternyata adiknya itu tidak terluka terlalu parah.

"Dok, kapan Taufan boleh dibawa pulang?" Tanya Halilintar.

"Sekarang juga boleh, tinggal nunggu luka dikepalanya sembuh. O ya, juga sekalian ajarin Taufan buat jalan. Nih resep obatnya" Kata dokter sambil memberikan selembar kertas pada Halilintar.

"Terima kasih dok."

"Jadi, mau pulang sekarang?" Tanya Pak Santoso.

Gempa dan Halilintar mengangguk setuju dengan senyuman manis dari muka mereka berdua.

"Oke, Taufannya bapak gotong aja ya. Nanti sebelum pulang ke apotik dulu, bapak aja yang turun dari mobil, kalian jaga Taufan di dalam mobil ya." Kata Pak Sontoso.

"Oke pak!" Seru mereka berdua.

Pak Santoso segera menggotong Taufan dan membawanya ke mobil, Gempa dan Halilintar mengikutinya.

0oOOo0

Di rumah, Taufan segera ditidurkan di kasur di kamarnya. Setelah itu, Pak Santoso segera pergi ke sekolah.

Beberapa lama kemudian, Taufan terbangun dari tidurnya.

"Kak Gempa? Kak Hali?" Tanya Taufan.

"Eh, Taufan, udah bangun? Nih minum dulu." Respon Gempa sambil memberi teh hangat pada Taufan.

"Mmm, Kak Gempa, Kak Hali mana?"

"Di bawah, mau aku panggilin?"

"Iya deh, makasih ya kak.."

"Ya" Gempa segera turun ke bawah memanggil Halilintar.

Sesampainya Halilintar ke kamar Taufan, Taufan ingin berjalan ke arah Halilintar namun segera ditahan oleh Gempa.

"Taufan jangan kemana-mana dulu, tiduran aja."

"Tapi kaak.."

Sebelum Taufan sempat melanjutkan ucapannya, Halilintar segera bertanya pada Taufan.

"Kenapa Fan?"

"Mmm, Kak, maaf ya, Taufan ga dengerin kata kakak siih, jadinya gini deh." Jawab Taufan bersalah.

"Ya udah sih, yang sudah terjadi biarkanlah berlalu, yang penting kamu selamat." Halilintar berjalan kearah Taufan.

"Ha, habiis. Gara-gara Taufan, Kakak jadi ga sekolah, gara-gara Taufan Kakak jadi-" Ucap Taufan hampir menangis mengingat kesalahan-kesalahannya. Namun, tak disangka, Halilintar segera memeluk Taufan.

"Udah Taufan, jangan nangis lagi, nati Gempa ikut nangis lhoo. Iya, Kakak maafin Taufan kok, tapi lain kali dengerin kata Kakak ya.." Kata-kata Halilintar membuat tangis Taufan pecah, ia sudah tak bisa menahan tangisan karena rasa bersalahnya pada kedua kakaknya itu.

"Kaaak, maafin Taufan ya. Maafin Taufan. Taufan bakal nurutin nasehat Kakak. Taufan ga bakal ceroboh lagi. Taufan masih mau main sama Kakak. Taufan masih mau denger kata-kata Kakak pas Kakak lagi marah. Taufan masih mau disini." Seru Taufan sambil menangis dipelukan Halilintar.

"Iya, Kakak juga masih mau main sama Taufan kok. Makasih ya, Taufan udah ngasih Kakak pelajaran yang berarti." Ujar Halilintar membalas perkataan adiknya itu.

Gempa hanya bisa menangis sambil tersenyum melihat kelakuan mereka 'Ya Allah, makasih udah nyelamatin Taufan, aku bersyukur punya kakak sama adek kayak mereka berdua.'

0oOOo0

Sudah 3 minggu Halilintar dan Gempa tidak masuk sekolah untuk menjaga adiknya itu. Mereka sudah bilang ke Pak Santoso, jadi mereka bisa tenang di rumah. Hanya saja, mereka harus selalu menanyakan materi dan pr yang diberi dari guru-guru mereka pada temannya, jadi mau tidak mau, mereka juga harus belajar di rumah.

"Kak Hali, yang ini ajarin dooong." Pinta Gempa pada kakaknya.

"Yang mana? Sini liat." Halilintar segera mengambil buku adiknya itu.

"Yang ini, soal mate, ga ngerti..."

"Ooh, yang ini sih gini.." Jelas Halilintar pada Gempa.

Taufan yang sedang duduk memperhatikan kedua kakaknya bingung 'Perasaan dulu Kak Hali ga pernah ngebantuin Kak Gempa ngerjain pr tuh, kok sekarang malah dengan senang hati ya?' Taufan melihat ke arah jam.

"Kak, Taufan udah harus minum obat, udah 6 jam." Taufan mengingatkan kedua kakaknya.

"Oh, ya, tar ya, ambil dulu obatnya." Gempa segera turun mengambil obat sementara Halilintar membantu Gempa di dapur.

Di dapur Gempa yang tidak tahu letak obatnya bertanya pada Halilintar.

"Kak, obatnya ditaro dimana?"

"Itu, di lemari yang sebelah tempat piring."

"Oh, ya, thanks kak."

"Ya."

Saat Gempa dan Halilintar ingin naik ke kamar Taufan, mereka kaget melihat Taufan yang sudah duduk di ruang keluarga di depan TV.

"Taufan, kamu jalan ke sini?" Tanya Gempa.

"Ya iyalah Kak, masa lompat..." Canda Taufan.

"Kaki kamu udah ga apa-apa?" Sekarang Halilintar yang bertanya.

"Ga apa-apa kok. Cuma masih agak sakit dikit sih, trus juga cuman pusing dikit kalo jalan." Jawab Taufan.

"Sudahlah, nih, minum dulu obatnya." Gempa memberikan 3 obat pil pada Taufan dan Halilintar memberinya air putih.

Setelah Taufan meminum 3 obatnya, sebelum kakaknya itu pergi ke dapur, Taufan memanggil mereka.

"Kak, aku besok sekolah ya?" Pintanya berharap.

"Kan kamu masih sakit." Jawab Gempa sambil memasukkan obat Taufan ke dalam lemari.

"Tapi kaki Taufan udah ga papa kook, kan udah bisa jalan. Aku ga mau di rumah terus, males, bosen, mending di sekolah bareng temen-temen." Jelas Taufan.

"Ya udah deh, tapi besok kalo mau pulang tunggu kita ya, nanti kita bakal ke kelas Taufan kok." Jawab Halilintar.

Taufan tersenyum senang mendengar hal itu, ia berteriak keras saking senangnya.

"YEEEYYY, makasih ya Kaaak. Kakak memang yang Terbaiik! Hehe."

Gempa hanya tersenyum sedangkan Halilintar segera menelfon Pak Santoso memberi tahu bahwa besok mereka bertiga akan masuk sekolah. Yaaa, biar pada ga kaget aja. Ga lucu kali, masa habis kecelakaan absen 3 minggu, terus tiba-tiba nongol aja di kelas.

"Ya udah, tidur gih, biar besok dibanguninnya ga susah." Suruh Halilintar pada Taufan.

"Oke Boss." Taufan segera naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya untuk tidur.

"Yaah, setidaknya dia sudah tersenyum kayak dulu lagi." Kata Gempa pada Halilintar.

"Ya, aku kangen sama senyumannya yang hangat itu." Ucap Halilintar pelan namun masih bisa didengar oleh Gempa.

"EH? Apaan? Coba ulang.."

"He? Ng, nggak kook.."

"Waaah, muka Kak Hali merah! Kak Hali nge-blush! Hiii unyu bangeet!"

"Gempa! Lu bisa diem gak siih?!"

"Makin meraaah!"

"GEMPA!" Halilintar segera mengejar adiknya yang sudah kabur itu untuk dibully (?). Yah, mungkin perkataan Halilintar memang benar, kalau mau nenangin Gempa harus ngebully dia dulu.

"WOOY! BERISIK! GA BISA TIDUR NIH! KAK HALI, KAK GEMPA UDAHAN BERANTEMNYA! TIDUR SEMUA TIDUR!"

Kayaknya, besok pagi bakal ada pertengkaran lagi ya.


Chap 1 selesaaaaiiii (senangnyaaa)

Sebenernya masih mau dilanjutin sampe Taufannya masuk sekolah, tapi karena kepanjangan, ga jadi deh

Feelnya ngena ga sih? kok kayaknya ga terlalu ngena yaaa? / sedih

Soal endingnya, entah mengapa malah jadi kayak gini (Ga sengaja bikin endingnya)

Trus, itu endingnya kok Taufan sama Gempa malah kayak bertukar kepribadian ya? / biarlah, cape ngulang lagi

Buat yang minta review kilat, entahlah bisa update kilat atau nggak. aku juga kan masih sekolah, trus ada eskul sama les juga. jadi aku ga bisa janji yaaaa... / Gomenne saaaiii

Terus, mending kalo bikin chap 2nya lancar, kalo udah WB mah bisa lamaaaa banget selesenya..

Oh ya, minta pendapat dooong. kalo nanti udah sampe chap terakhir, endingnya mending happy ending atau sad ending?

Kirim lewat rievew aja

Oh ya, makasih ya yang udah kemaren review :3

Terakhir review please!