Yuhuuu!

I'm back agaaain

otaknya lagi encer, jadinya cepet selese

Oh, ya, kan chap kemaren sedih-sedih, sekarang, kita happy-happy an aja yaa!

Disini Taufan, Gempa, dan Halilintar sebagai kakak adik. temen-temennya cuma numpang lewat doang

Disclaimer : BBB punya animonsta, minjem (lagi)

Warning : Typos banyak (kali?), bahasa yang mungkin kurang dimengerti, no pairing, dll

Selamat membaca...

Enjoy it! (^^)


"Halilintar, kamu ngewakilin sekolah ikut OSN matematika ya."

"He?"

Chapter 2 : Relax please!

"Kak Hali ikut OSN mate?" Seru anak bungsu kaget, ia segera berjalan mendahului kedua kakaknya dan menatap kakak tertuanya dengan tatapan kagum.

"Yaa, Kak Hali memang pinter sih matenya.." Tambah anak kedua melirik ke arah kakaknya yang masih berjalan santai.

"Tapi aku ga suka." Kata anak pertama memutarkan bola matanya sambil berjalan disebelah adiknya.

"Eh? Kenapa emang?" Tanya anak bungsu kembali.

"Nanti malah disuruh belajar terus, kan ga enak." Jawab anak pertama itu.

"Tapi bagus kan? Kalo Kakak menang, kan Kakak bisa membawa nama keluarga juga." Ujar anak tengah.

Sudah 3 bulan sejak si anak bungsu, Taufan kecelakaan. Hari ini, seperti biasa, Taufan, Gempa, dan Halilintar pulang sekolah bersama. Sepertinya, mereka sedang mambicarakan OSN matematika yang akan diikuti Halilintar.

"Terus, Kakak mau mengundurkan diri?" Tanya Taufan.

"Ya, maunya sih ngundurun diri kalo bisa mah. Tapi katanya ini udah keputusan bulat tidak boleh diganggu gugat." Jelas Halilintar.

"Yah, kalo Kakak ikut OSN, nanti ga ada yang ngebantuin pr aku doong.." Ujar Gempa

"Yaaah, mau gimana lagi?"

Sesampainya di rumah, mereka bertiga segera ke kamar mereka masing-masing untuk ganti baju. Setelah itu, mereka pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV.

"Kak, Kakak jadi mau ikut OSN?" Tanya Taufan.

"Pengennya sih ga mau ikut, tapi memang sudah harus ikut, jadinya yaaa… harus." Jawab kakak pertamanya itu sambil menyalakan TV.

"Ya udah, Kakak ikut aja, tapi jangan terlalu memaksakan diri ya Kak." Ujar Gempa sambil mengambil teh dingin di kulkas.

"Yaaa, kalau kalian bilang gitu... Ya udah, Kakak ikut, tapi belajarnya mulai besok ya." Balas Halilintar dengan muka malas dan terpaksa.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

Beberapa hari kemudian, Halilintar yang sedang belajar di kamarnya, sepertinya terlalu serius mengerjakan soal-soal yang diberikan guru matematika untuknya. Halilintar bahkan tidak keluar kamar untuk makan, jadi kedua adiknya itu harus pergi ke kamar Halilintar untuk membawakannya makanan.

"Kak main yuuuk."

"Kak Hali, aku ada pr nih, ajarin dooong."

"Kak, keluar atuuh... masa di kamar melulu? Ga ada Kak Hali ga seru niih."

Berbagai macam cara kedua adiknya itu lakukan untuk membuat kakak pertama mereka keluar kamar. Tapi, usaha mereka hanya membuat Halilintar menjawab.

"Lagi belajar, jangan ganggu."

Bukan berarti Halilintar tidak pernah keluar kamar ya, saat berangkat sekolah atau hanya ada suatu kepentingan saja Halilintar akan keluar kamar. Hal itu membuat Taufan dan Gempa bingung.

"Kak Gempa, Kak Hali kayaknya terlalu serius nih belajarnya." Ujar Taufan pada Gempa.

"Iya nih, lama-lama males liat Kak Hali ga pernah keluar kamar." Jawab Gempa sambil membereskan piring bekas makannya.

"Gimana ya, cara supaya Kak Hali ga terus-terusan belajar?"

"Iya tuh, Kak Hali jadi ga pernah main sama kita lagi... gimana ya caranya?"

Keduanya segera berfikir, sampai akhirnya adzan maghrib menghentikan mereka berdua untuk berikir lebih lama.

"Eh, udah maghrib, sholat dulu." Suruh Gempa.

"Oke Kak, tapi Kak Halinya gimana?" Tanya Taufan.

"Nanti juga nyusul kayak biasanya." Jawab Gempa.

Gempa keluar rumah duluan meninggalkan Taufan yang masih mendongak melihat ke lantai 2 berharap Halilintar akan segera turun menyusul mereka berdua.

0oOOo0

"Kak Hali duluan lagi?"

"Ya, ada latihan pagi di sekolah."

Taufan hanya cemberut mendengar alasan Kakak pertamanya itu. Karena ikut OSN, Halilintar jadi sangat sibuk dan selalu berangkat pagi mendahului kedua adiknya. Dan alasannya? Ya tentu saja karen ada latihan pagi.

"Ya udah, duluan ya, Assalamu'alaikum."

"Ya, hati-hati ya Kak. Wa'alaikumsalam."

Halilintar segera berjalan keluar rumah meninggalkan kedua adiknya yang masih sarapan itu di rumah. Gempa melihat kearah jam.

"Baru jam setengah enam, Kak Hali berangkatnya pagi banget? Emang latihannya berapa jam ya?" Gempa bertanya pada diri sendiri.

"Entah, udahlah Kak, itu cepetan habisin sarapannya, terus langsung berangkat." Jawab Taufan yang sepertinya mendengar ucapan Gempa.

Gempa hanya menatap Taufan yang sarapannya sudah habis dan mengangguk, ia segera menghabiskan sarapannya. Setelah habis, Gempa menaruh piringnya di tempat cucian dan berangkat sekolah bersama Taufan.

Di jalan, mereka masih bertanya pada diri mereka sendiri bagaimana caranya supaya kakaknya itu tidak terlalu sering belajar.

"Kak, Kakak sudah kepikiran belum caranya supaya Kak Hali bisa main sama kita lagi?" Tanya Taufan.

"Nggak, ga kepikiran tuh. Masa kita harus ngedobrak pintu kamar Kak Hali terus narik dia keluar kamar hanya supaya mau main sama kita?" Gempa balik bertanya pada Taufan.

"Ya nggak lah Kak, ngetok pintunya aja udah marah, apalagi ngedobrak? Bisa-bisa nanti dihajar sama Kak Hali.."

"Terus? Mau ngapain atuh?"

"Kayaknya kita jangan mikirin masalah Kak Hali dulu deh, yang penting sekarang belajar dulu."

"Ya udah, yuk cepetin jalannya, 20 menit lagi bel masuk sekolah."

"Oke kak."

Dengan cepat mereka berjalan menuju sekolah. Sesampainya, mereka kaget melihat orang yang sangat mereka kenal ada di depan gerbang.

"Kak Hali? Bukannya Kakak ada latihan OSN?"Tanya Gempa sambil berlari mendekati kakaknya itu.

"Iya, Kakak ga langsung masuk kelas?Udah mau bel lho." Sambung Taufan.

"Aku nunggu kalian di gerbang, emang kenapa?Ga boleh?"Jawab Halilintar dingin, sepertinya dia stress karena latihan tadi.

"Bukannya ga boleh sih Kak, tapii mm.. Kakak nunggu disini dari jam berapa?"Gempa balik bertanya.

"Entah, dari jam setengah tujuh kali."

"Eh? Sekarang kan udah jam tujuh. Kakak nunggu setengah jam?" Taufan kaget mendengar jawaban kakaknya itu sambil melihat jam tangannya.

"Udah udah, sana masuk kelas, udah mau bel."Halilintar segera berbalik dan pergi berjalan meninggalkan kedua adiknya itu.

"Yaaah, kayaknya Kak Hali ga terlalu berubah ya?"Tanya Taufan sambil melihat Halilintar pergi menjauh.

"Iya, kayaknya dia masih biasa aja. Tapi muka Kak Hali tadi, kayaknya Kak Hali stress sehabis latihan tadi." Jawab Gempa memandang Taufan dengan tatapan bingung.

"Udah deh, kan udah dibilang jangan mikirin masalah ini dulu, ke kelas yuk Kak, nanti keburu bel." Taufan menarik tangan yang dari tadi bengong memikirkan kakaknya terkejut.

"Eh, eh? Taufan, ga usah narik juga lari segala?"

"Iih, Kak Gempa… lihat jam dong. Sekarang jam berapa?"

Gempa melihat jam tangannya, "Jam tujuh lewat lima!? Lima menit lagi bel masuk! Ayo Taufan, larinya yang cepet!"Gempa segera berlari meninggalkan adiknya.

"Cih, baru nyadar, makasih gitu diingetin."Taufan segera berlari menuju kelasnya yang sudah ramai.

.

.

SKIP TIME

.

.

Kriiing….

"Akhirnya istirahat juga, jajan ah.."Gumam Taufan pada dirinya , saat dia hendak berdiri, ada guru yang masuk ke kelasnya.

'Woy,kok masuknya pas istirahat sih? Kalo ada pengumuman, diumuminnya pas pelajaran aja napa?Ngeganggu orang aja' Pikir Taufan kesal.

"Anak-anak, bapak ada berita gembira. Jadi, tanggal 26 nanti, sekolah kita akan mengadakan study tour ke Dufan, tapi sebelumnya kita akan mampir dulu ke Museum. Semua anak dari kelas 5 SD hingga SMA ikut. Kalian boleh memilih bis dan orang yang akan duduk bersama kalian di bis nanti. Tempat duduknya ada yang 2 dan ada yang 3 orang." Jelas guru itu panjang lebar kali tinggi (Kok jadi rumus bangun ruang ya?).

Entah gurunya yang mengumumkannya terlalu cepat atau muridnya yang belum connect, seketika kelas menjadi hening.

Satu…

Dua…

Tiga…

"YEEEEYY!" Tiba-tiba kelas yang sepi menjadi ramai dengan teriakan para murid. Apa lagi teriakan para siswi, teriakan mereka cetar membahana dengan suara mereka yang nyaring atau lebih tepatnya melengking yang sepertinya bisa membuat telinga menjadi pengang.

"Taufan, kamu duduk bareng aku ya?" Tanya Gopal, teman sekelas Taufan.

"Eh? Mm..sorry ya Pal, tapi kayaknya aku bakal duduk bareng Kakak-Kakak aku nanti." Jawab Taufan dengan senyuman tipis dimukanya.

"Yaaah-, ya udah deh, bye Fan!" Gopal segera berlari mencari teman duduk yang lain. Taufan melambaikan tangannya pada Gopal dan segera memandang ke arah jendela

Tanpa Taufan sadari, ternyata ia sudah tersenyum devil memikirkan rencana untuk Kakaknya yang gila mate itu nanti.

"Mmm -, nanti Kak Hali enaknya diapain ya?" Taufan bertanya pada dirinya sendiri, "Nanti aja deh, diomongin sama Kak Gempa."Taufan yang akhirnya mempunyai waktu istirahat segera berlari ke kantin.

0oOOo0

Sepulang sekolah, karena Halilintar ada latihan OSN, dia jadi tidak bisa pulang bersama Taufan dan Gempa. Di jalan, Gempa dan Taufan menggunakan kesempatan ini untuk membuat rencana untuk kakak mereka.

"Jadi, nanti Kak Hali mau diapain?" Tanya Taufan.

"Kenapa emang?" Gempa berbalik bertanya pada adiknya.

"Kakak ga kepikiran ya?"

"Apanya?"

"Hhhh, sudahlah, nanti di rumah aja aku kasih tahu." Taufan mendesah kesal.

"Ya udah." Jawab Gempa singkat padat jelas.

"Hhh.." Taufan semakin kesal dengan tingkah laku Gempa, "Kak, Kak Hali latihan lagi?"

"Iya, kamu lupa ya? Kak Hali kan latihannya setiap hari Senin, Rabu, sama Jum'at." Jawab Gempa.

"Seriusan nih Kak, aku jadi bosen ga main sama Kak Hali." Ujar Taufan menunduk, "Kapan ya, bisa main sama Kak Hali lagi?" Lanjutnya.

"Entah, kalau Kak Hali lolos di tingkat kota, berarti Kak Hali bakalan belajar terus.."

"Kalau begitu, berarti Kak Hali ga bisa main sama kita terus doong."

"Yaah, terima aja. Ini juga untuk nama baik keluarga sama sekolah." Kata Gempa pasrah.

Mereka berdua berjalan dalam diam, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Keduanya sedang memikirkan rencana untuk Kakak mereka itu.

0oOOo0

Sesampainya di rumah, Taufan dan Gempa segera ke kamar masing-masing untuk ganti baju. Setelah itu, Taufan pergi ke kamar Gempa.

Tok Tok Tok!

Taufan mengetuk pintu Gempa.

"Masuk." Suruh Gempa.

Taufan memasuki kamar Gempa. Dilihatnya Gempa sedang duduk menyender di kasurnya dengan satu kakinya lurus dan kaki satunya ditekuk. Dan tentu saja, posisi kakinya itu sebagai alas meja jalan yang di atasnya terdapat selembar kertas HVS. Di sebelah Gempa terdapat tempat pensil yang terbuka. Gempa memegang pensil mekaniknya di tangan kanan dan penghapus di tangan kiri. Jadi intinya, Gempa sedang menggambar.

"Kak Gempa, gambar lagi?" Tanya Taufan pada Gempa yang masih serius menggambar.

"Menurut kamu? Ya iyalah lagi gambar, kamu bisa lihat kan?" Jawab Gempa dengan nada sedikit kesal tanpa melihat ke arah Taufan.

"Iya iya, maaf atuh Kak." Balas Taufansambil memutarkan matanya dan melangkah maju ke tempat Gempa duduk.

Kakaknya itu memang pintar dalam hal seni, apa lagi tentang gambar, Gempa memang jagonya. Di sekolah, ia selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran SdB, atau mungkin selalu mendapat nilai tertinggi dalam hal gambar. Jadi, tidak aneh jika Taufan melihat Gempa yang sedang duduk menyender sambil menggambar di kamar Gempa. Bahkan, hasil gambar-gambarnya, Gempa simpan didalam map yang mungkin sekarang sudah 'obesitas' isinya karena terlalu penuh.

"Kak, aku ada ide nih." Kata Taufan sembari duduk di sebelah Gempa.

"Ide apaan?" Tanya Gempa.

"Ide supaya Kak Hali tidak terlalu stress lah, apa lagi? Kan dari tadi kita mikirin hal itu." Jawab Taufan.

Gempa segera memberhentikan kegiatannya dan bertanya pada adiknya itu, "Idenya apaan?"

Belum menjawab, tapi Taufan sudah nyengir-nyengir senang dengan senyuman devilnya.

"Kenapa senyum-senyum? Jawab cepetan!" Perintah Gempa, sepertinya ia sudah tidak sabar mau mendengar ide adiknya itu, atau mungkin sudah tidak sabar ingin melanjutkan gambarnya yang belum selesai?. Entah lah.

"Oke oke, gini Kak. Jadi, di bis nanti kita... bla bla bla, lalu di Museum kita... bla bla bla, terus di Dufan kita... bla bla bla..." Taufan menjelaskannya panjang lebar kali tinggi (lagi?).

Gempa hanya terbengong-bengong mendengarkan ide adiknya itu, bahasa yang digunakan Taufan terlalu sulit untuk dimengerti oleh Gempa.

"Soo~, the point is?" Tanya Gempa tidak mengerti.

"Jadi intinya..." Jawab Taufan membuat Gempa makin tidak mengerti dan penasaran, "KITA AKAN MEMBUAT KAK HALI MAIN SEPUASNYA SAMPAI DIA MELUPAKAN OSNNYA!" Teriak Taufan yang membuat Kakaknya kaget, mungkin suaranya itu terdengar sampai luar rumah.

"Ga usah teriak-teriak juga kali.." Ucap Gempa sambil mengusap-usap telinganya yang sepertinya pengang mendengar teriakan Taufan tadi.

"Hehe, sorry atuh Kaak.." Ujar Taufan sambil melet dan membuat tangannya membentuk "peace".

"Jadi, dimulainya dari saat berangkat ke Museum?" Tanya Gempa yang sudah mengambil pensilnya dan bersiap-siap untuk melanjutkan gambarnya.

"Yap, nanti Kakak bantuin yaaa" Pinta Taufan pada Gempa.

"Ya deh, ngomongnya udah kan? Ya udah keluar sana, mau ngelanjutin gambar, jangan ganggu." Gempa melambaikan tangannya menyuruh adiknya itu untuk pergi dari kamarnya dengan mata yang tidak peduli.

"Iya deeh, selamat menggambar ya Kak.." Ucap Taufan sambil berjalan keluar kamar.

0oOOo0

Hari ini tanggal 26. Yap, hari ini adalah hari dimana Taufan dan Gempa akan menjalankan misinya.

"Kak, ayo cepetan!" Terdengar teriakan Taufan dari luar rumah.

"Iya, tunggu sebentar!" Gempa membalas teriakan adiknya.

Sedangkan Halilintar? Dia sudah ada di luar rumah menunggu kedua adiknya itu selesai siap-siap. Setelah semuanya ke luar rumah, Halilintar segera mngunci pintu rumah dan berjalan mendahului kedua adiknya.

"Kak, sekarang saatnya!" Seru Taufan heboh sambil melompat-lompat. Namun, tentu saja, Halilintar tidak mendengarnya karena dia sudah berjalan lumayan jauh dari Taufan dan Gempa.

"Yap! Saatnya menjalankan.." Sambung Gempa yang juga terlihat sangat semangat.

"MENJALANKAN MISI!"

TBC


Hehe, ngegantung lagi deh

habis ternyata kepanjangan lagi...

sorry ya.. m(_ _)m

Oh, ya, makasih ya yang udah rievew chap kemaren!

BTW, ini bahasanya kok kayaknya berubah ya? / lanjut deuh

sebenernya Fafic ini terinspirasi dari FF yang pertama aku baca dan yang membuat aku jadi suka baca dan membuat FF.

temanya sama-sama family, tapi beda cerita

ini juga aku bikinnya kan berdasar pengalaman dan imajinasiku sendiri

terima kasih sudah memasukkanku ke dalam hal yang menyenangkan ini senpai!

doain FF ini cepet update ya...

Terakhir, rievew please!