HAAIII! back agaaaaiin!

updatenya lama ya? gomen gomen

ini kalo ada yang di deskripsiinnya kurang sreg, maaf yaaaa. habis ga tau gimana ngedeskripsiinnya..

Disini Taufan, Gempa, dan Halilintar sebagai kakak adik. teman-temannya lumayan ada perannya di chap ini

Warning : BBB dkk punya animonsta, minjem bentar (re: sekarang udah yang ke 4 kalinya woy!), no elements, no pairing, family, typo(s), kata-kata yang mungkin tidak dimengerti, kalimat yang terbelit-belit (re: udah woy! kebanyakan!)

Oke deh, happy reading guys..

enjoy it (^ ^)/


Preview chap sebelumnya:

Hari ini tanggal 26. Yap, hari ini adalah hari dimana Taufan dan Gempa akan menjalankan misinya.

"Kak, ayo cepetan!" Terdengar teriakan Taufan dari luar rumah.

"Iya, tunggu sebentar!" Gempa membalas teriakan adiknya.

Sedangkan Halilintar? Dia sudah ada di luar rumah menunggu kedua adiknya itu selesai siap-siap. Setelah semuanya ke luar rumah, Halilintar segera mngunci pintu rumah dan berjalan mendahului kedua adiknya.

"Kak, sekarang saatnya!" Seru Taufan heboh sambil melompat-lompat. Namun, tentu saja, Halilintar tidak mendengarnya karena dia sudah berjalan lumayan jauh dari Taufan dan Gempa.

"Yap! Saatnya menjalankan.." Sambung Gempa yang juga terlihat sangat semangat.

"MENJALANKAN MISI!"


Chapter 2.1 : Relax Please!

Mission 1 : Membuat Kak Hali mengalami banyak kegiatan (Taufan akan mengejek atau memancing amarah Kak Hali)

"Zzz..."

"Ya elah, nih anak malah tidur." Desah Gempa yang duduk di tengah saat melihat Taufan yang sudah tertidur di dalam bis menuju museum, "Dasar aneh, katanya kamu mau mancing Kak Hali.."

Sementara itu, Halilintar yang duduk di paling pojok dekat jendela sudah membuka tasnya dan mengambil pensil, penghapus, dan soal matematikanya.

"Kak Hali masih belajar?" Tanya anak tengah pada kakaknya.

"Ga ada waktu buat nyantai." Jawab Halilintar singkat.

"..." Gempa hanya terdiam memutarkan bola matanya dan melihat ke arah Taufan yang masih tertidur dengan posisi menyender ke sandaran kursi tempat dia duduk yaitu di paling pinggir.

"Dasar.." Gumam Gempa pada Taufan kesal.

Mission 1 : Failed -_-

0oOOo0

Sesampainya mereka di museum, semua anak segera berlari keluar bis. Di saat yang lainnya sedang bersemangat melihat-lihat sekitar museum, Taufan yang sudah bangun dari tidurnya dan juga Gempa bersiap menjalankan misi kedua mereka untuk Halilintar.

Mission 2 : Membuat Kak Hali memenuhi permintaan Gempa dan Taufan saat berada di museum.

"Kak, itu ada pesawat, foto atuuh!" Seru Taufan sambil menunjuk ke arah pesawat besar, sambil menjalankan misinya.

"Kenapa emang?" Tanya Halilintar sinis pada adik bungsunya itu.

"Kakak ga mau foto sama pesawat? Supaya ada kenang-kenangan..." Sambung Taufan.

"Tidak terima kasih, ga tertarik.." Jawab Halilintar singkat namun itu adalah kata yang sangat menyakitkan di hati Taufan.

"Kakak jahat banget!" Teriak Taufan pada Kakaknya dengan nada yang tinggi.

"Bodo amat." Balas Halilintar singkat, padat, jelas, dan membuat Taufan semakin kesal.

"KAK HA-"

"Taufan, jangan!" Belum sempat Taufan selesai meneriaki nama Kakak sulungnya, Gempa segera mencegatnya.

"Tapi Kaak.." Ucap Taufan dengan nada kesal pada Gempa.

"Nanti kalau kamu teriak malah akan membuat kita jadi pusat perhatian." Jelas Gempa.

Taufan hanya menundukkan kepalanya dan menatap Halilintar jengkel. Sementara itu, Gempa berlari ke arah kakaknya yang sudah berjalan cukup jauh dari mereka berdua, Taufan mengikuti kakaknya itu dan segera berlari menyusul Gempa.

"Kak Hali, itu di situ ada museum yang balum kita kunjungin. Itu guru-guru juga nyuruh kita masuk ke sana. Masuk yuk Kaak.." Ajak Gempa pada Halilintar.

Halilintar melihat museum yang dibilang Gempa dan mengangguk pelan. Gempa segera menarik tangan Halilintar dan Taufan menuju museum yang ia sebut tadi.

"Ayo cepetan!" Seru Gempa bersemangat pada kedua saudaranya itu.

Taufan segera berlari mendahului Gempa, sedangkan Halilintar masih membiarkan tangannya di tarik oleh Gempa.

Saat mereka bertiga (hanya bertiga) memasuki museum itu, tampak museum yang mereka masuki gelap, sepertinya petugas tidak meyalakan lampu di museum ini. Segera mereka bertiga naik ke lantai 2 yang juga gelap, bahkan lebih gelap daripada lantai 1 tadi.

"Kak, turun yuuk.. gelap.." Pinta Taufan pada kedua kakaknya.

"Penakut." Balas Halilintar pada Taufan. Taufan yang mendengarnya hanya cemberut kesal dan menundukkan kepalanya.

Ketika mereka sudah berjalan cukup jauh, mereka sampai di suatu lorong yang bahkan tidak ada penerangan sama sekali. Lorongnya tidak terlalu panjang, namun karena tidak ada cahaya yang meneranginya, lorong itu terlihat menakutkan.

"Kaak, seriusan niih, turun yuuk.." Pinta Taufan sekali lagi pada kedua kakaknya. Taufan malihat ke sekelilingnya. Saat ia ingin memanggil kakaknya, ia baru sadar bahwa kedua kakaknya itu sudah memasuki lorong yang gelap itu. Dengan terburu-buru Taufan segera mengejar kedua kakakya.

"Kak Hali! Kak Gempa! Tungguin doong!" Teriak Taufan memecah keheningan yang ada di museum itu.

Kedua kakak itu segera berhenti dan menunggu adik bungsu mereka itu sampai di tempat mereka berada.

"Kamu sih, ngelamun melulu, makannya jangan meleng." Komen Gempa seraya menyindir Taufan.

"Kakaknya aja yang ga bilang!" Balas Taufan tidak mau kalah.

"Udah, udah, yuk cepetan turun, nanti ditinggal sama bis, kalian mau disini terus sampai besok?" Tanya Halilintar melerai adu mulut kedua adiknya.

Mereka berdua menatap satu sama lain dan mengangguk. Akhirnya mereka keluar dari museum yang cukup menyeramkan itu. Mereka pun naik ke bis 16, bis yang mereka naiki selama study tour sekarang ini.

"Yaah, setidaknya permintaan Kak Gempa dipenuhi." Gumam Taufan pada Gempa yang sedang meminum teh yang ia beli.

"Jadi, tinggal yang di Dufan kan?" Tanya Gempa pada Taufan.

"Yap!" Jawab Taufan semangat.

Akhirnya, bis-bis yang mengangkut siswa-siswi kelas 5 SD sampai SMA Sekolah Persatuan berangkat ke Dufan secara bergiliran.

Mission 2 : ½ complete :')

Di dalam bis, Gempa dan Taufan sedang bercakap-cakap tentang misi mereka selanjutnya. Sedangka Halilintar mengambil kertas soal matematika dan mengerjakannya sambil mendengarkan lagu, namun, earphonenya hanya dipakai sebelah, supaya dia bisa mendengar jika ada yang memanggilnya.

"Kak Halilintar masih belajar?" Seseorang memanggilnya. Halilintar menoleh ke arah sumber suara yaitu di belakangnya. Ternyata Gopal, teman sekelas Taufan yang memanggilnya.

"Terus, kenapa? Emang ga boleh?" Tanya Halilintar kembali dengan tatapan dingin yang menyeramkan.

"Udah, Gopal. Kak Halilintar kan mau ikut OSN, jadinya belajar terus." Ucap seorang anak perempuan berkerudung pink yang duduk di seberang mereka. Yaya namanya, teman sekelas Gempa.

"Iya, biarin aja Kak Halilintar belajar. Jangan diganggu" Sambung anak yang duduk di sebelah Yaya dengan rambutnya yang dikuncir dua. Ying, dia juga teman sekelas Gempa.

"Bahkan, saking seriusnya, manggil aja dimarahin. Dasar terlalu serius.." Tambah anak laki-laki yang duduk di depan Gempa, Taufan, dan Halilintar. Rambutnya berwarna ungu sedikit berantakan. Fang, teman sekelas Halilintar.

"Lho, semuanya ada di bis yang sama ya?" Tanya Taufan baru sadar dan juga baru ngeh.

"Kamu baru nyadar? Mereka naik ke bis ini setelah kita naik saat mau berangkat ke museum kan?" Tanya Gempa sedikit bingung.

"Bagaimana dia ingat? Baru duduk di kursi saja, dia langsung tertidur dengan nyenyaknya hingga kita sampai di museum tadi." Halilintar menjawab pertanyaan Gempa sambil mengerjakan soal-soalnya dan masih mendengarkan lagu tanpa menatap Gempa sama sekali.

"Iya, ya. Aku naik ke bis, Taufan sudah tidur.." Kata Gopal baru ingat, "Kak Yaya, Kak Gempa emang di kelas kayak apa?" Tanyanya.

"Kenapa kamu nanya? Gak ada hubungannya kan?" Tanya Gempa mengernyitkan dahinya pada Gopal.

"Hehe, habisnya aku penasaran. Kebiasaan Kak Gempa, Kak Halilintar, sama Taufan, sama atau beda di kelasnya." Jawab Gopal terenyum lebar.

"Ga penting." Timbal Halilintar yang sedari tadi masih mengerjakan soalnya. Sepertinya, dia juga mendengar pembicaraan teman-temannya.

Gopal hanya cemberut kecewa dan merasa menyesal telah menanyakan hal itu langsung di depan orang yang sedang ia maksud. Balasannya, dia mendapatkan dua kata dari Halilintar yang langsung menusuk hatinya. (lebay)

0oOOo0

Bis masih bergerak maju menuju tempat tujuan mereka selanjutnya, yaitu Dufan. Bagi tiga kakak beradik itu, ini adalah pengalaman pertama mereka ke Dufan. Jadi, Taufan dan Gempa sangat semangat dan senang ketika mlelihat bis yang mereka naiki telah berbelok sampai di tempat tujuan. Sementara Halilintar? Dia sudah selesai mengerjakan soalnya dan melihat ke arah jendela datar, sama sekali tak ada ekspresi.

Ketika mereka semua turun dari bis, Gempa dan Taufan tahu, bahwa misi mereka yang ke tiga telah dimulai.

Mission 3 : Membuat Kak Hali bermain sepuasnya di Dufan sampai dia menjadi dirinya sendiri. Dan juga kecapean(?)

Mereka bertujuh berjala bersama memasuki Dufan. Okey, bertujuh itu Taufan, Gempa, Halilintar, Gopal, Ying, Yaya, dan Fang. Setelah masuk ke area bermain, Taufan segera melihat ke arah permainan Kora-kora, yaitu kapal besar yang mengayun kedepan-belakang(?).

"Kaak, naik itu yuuk!" Ajak Taufan pada kedua kakaknya sambil menunjuk ke arah wahana yang ia maksud.

"Nggak aah, sereem.." Jawab Gopal secara tiba-tiba.

"Gak ada yang ngomong ke kamu kok Pal." Bantah Taufan pada sahabatnya itu.

Akhirnya, semua setuju menaiki wahana itu kecuali Gopal. Sepertinya, dia terlalu takut untuk mencobanya.

Mereka berenam mengantri di depan wahana itu, dan antriannya cukup panjang. Sampai akhirnya mereka berada di barisan paling depan dan segera duduk di ujung kapal (paling ujung) supaya terasa sensasinya. Taufan duduk di paling pinggir, sebelahnya Gempa, lalu Halilintar, Yaya, Ying, dan di pojok yang lainnya ada Fang.

Jujur, sebenarnya mereka sedikit atau mungkin sangat tajut menaiki wahana ini. Tapi, rasa penasaran akan sensasi yang orang-orang rasakan saat menaiki wahana ini sangat besar. Dan akhirnya mereka semua (kecuali Gopal tentunya) setuju mencoba menaiki wahana ini.

Gempa yang sedikit ketakutan saat kapal mulai bergerak, melihat ke arah Taufan. Dilihatnya Taufan sedang menutup matanya dan memegang pegangan yang ada di depannya dengan erat. 'Mana atuuh? Kan kamu yang ngajak naik wahana ini. Masa kamu yang takut?' Pikir Gempa sambil melihat Taufan dengan tatapan sinis.

Saat Gempa melihat ke arah kakaknya, mulut Halilintar berkomat-kamit, sepertinya dia sedang membaca do'a. 'Nih anak satu malah sholawatan, bagus sih. Tapi setidaknya laah, ini kan cuman permainan doang.' Pikir Gempa kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Saat lagu bertambah kencang, kapalnya juga mengayun dengan tinggi, makin tinggi, dan sampai di puncak! Keenam anak sekolah itu berteriak sekuat-kuatnya saat mereka sudah samoai di titik tertinggi dan turun secara tiba-tiba. Untung topi mereka sudah ditaruh ditas sebelum mereka menaiki wahana ini, jadi topi itu tidak terbag kebawa angin.

Sesaat kemudian, teriakan yang dikeluarkan oleh para penumpang sudah lebih keras daripada lagu itu sendiri.

"ANJIIIR! GUA BUNUH LU!"

"WAAA! GUA GA DUDUK NIIH!"

"YA ALLAH! UDAH ATUH WOY!"

"KYAAA!"

"HEI! KAMU MAU AKU TULIS DI BUKU PELANGGARAN HAH?!"

"WOOOYY MAS! LU GILA YA?!"

(Silahkan tebak yang mana teriakan Taufan, Gempa, Halilintar, Yaya, Ying, dan Fang. Di review yaaa :p )

Akhirnya, lagu yang dari tadi terdengar sangat kencang dan keras telah memelan seiring dengan memelannya ayunan dari kapal yang sedang mereka naiki. Setelah berhenti, host menyuruh mereka untuk angkat tangan supaya pegangan tangannya bisa terlepas.

Setelah mereka turun dari wahana itu, Fang segera memisahkan diri mencari wahana yang menurutnya lebih menantang. Sedangkan, yang lainnya juga memisahkan diri sehingga yang tersisa tinggal ketiga kakak beradik itu.

"Jadi, sekarang mau naik apa?" Tanya Halilintar dengan wajahnya yang terlihat pusing, namun juga senang dan bersemangat. Ini dia hal-hal yang ditunggu-tunggu oleh Gempa dan Taufan, yaitu wajah Halilintar yang bahagia dan menjadi dirinya sendiri, seperti dulu.

"Entah, jalan-jalan dulu aja yuk Kak." Jawab sekaligus ajak Taufan pada kedua kakaknya.

Keduanya mengangguk setuju dan berjalan mengelilingi Dufan. Halilintar jalan didepan, diikuti Gempa dan Taufan dibelakangnya, yaaa, kayak induk bebek yang diikuti kedua anaknya gituu (hehe).

Setelah sekia lama mereka berjalan, Halilintar tiba-tiba berhenti, sontak Gempa yang tidak memerhatikan kakaknya yang berhenti tertabrak Halilintar, begitu juga dengan Taufan yang menabrak Gempa secara tiba-tiba.

Gempa menggosok-gosokkan kepala yang tertabrak Halilintar dengan tangannya, "Kak, kok berhenti sih? Tiba-tiba lagi." Ucap Gempa kesal.

"Iya nih, kan jadi tabrakan beruntun." Sambung Taufan dengan nada tinggi.

"Naik itu yuuk!" Ajak Halilintar secara tiba-tiba dengan tatapannya yang penuh harap pada kedua adiknya. Dia menunjuk salah satu wahana yang dari sana terdengar teriakan-teriakan penumpang yang keras. HISTERIA.

Taufan dan Gempa melihat wahana tersebut dengan seksama. Yaa, Histeria memang sedikit menakutkan untuk dinaiki. Jadi, Taufan dan Gempa sdikit merinding saat mendengar teriakan-teriakan dari wahana itu.

"Udah, ga usah mikir dulu! Ayo cepetan!" Halilintar menarik tangan Taufan dengan tiba-tiba. Taufan yang sebenarnya tidak ingin menaiki wahana tersebut berteriak meminta tolong pada Gempa.

"Kak Gempa! Tolongin! Aku ga mau naik Histeria!" teriak Taufan berharap Gempa memberinya pertolongan.

Gempa hanya menatap kedua saudaranya yang berlari (Yah.., ga bisa dibilang berlari siih. Mmm.. gini aja deeh...)

Gempa hanya menatap Halilintar yang berlari sambil menarik Taufan yang masih berteriak meminta pertolongan (Gini lebih ke kenyataannya kan?) dengan nafas lega. 'Kak Hali udah ga terlalu mikirin OSNnya, setidaknya untuk hari ini, akhirnya dia bisa jadi dirinya yang dulu lagi' Pikir Gempa sambil tersenyum dan sedikit tertawa melihat kelakuan kedua saudaranya itu. Gempa pun berlari menyusul kedua saudaranya.

Setelah sekian lama menunggu antrian, akhirnya mereka berada di barisan paling depan. Mereka pun menaruh tas mereka di rak yang sudah disediakan dan duduk di ke tiga bangku yang menghadap keantrian yang panjang.

"Kaak, takut niih..." Ucap Taufan pada kedua kakaknya.

"Penakut. Sudah lah, nikmatin aja.. namanya juga permainan.." Balas Halilintar sambil memasang sabuk pengamannya.

"Iya, namanya juga permainan.. pasti ada sensasinya laah.." Tambah Gempa yang juga memasang sabuk pengamannya.

"..." Taufan hanya terdiam tidak mendapat kata-kata untuk menyangkal perkataan kedua kakaknya. Jadi, Taufan hanya pasrah dan memasang sabuk pengamannya juga.

Seketika tempat duduk yang mereka naiki naik keatas sedikit lalu turun dengan perlahan. Turun, semakin turun, semakin turun, tiba-tiba...

WUUUSSYY!

Tempat duduk yang mereka duduki seketika naik ke atas. Taufan memegang penahan badannya dengan erat dan berteriak takut. Gempa juga memegang penahan badannya dan berteriak, namun teriakannya adalah teriakan senang. Sedangkan Halilintar, satu tangannya memegang penahan badannya dan tangan yang lain terangkat, dia juga berteriak senang dan semangat.

Ketika mereka sudah mencapai puncak ketinggian, mereka bertiga membuka mata, dan yang mereka lihat sekarang adalah hamparan laut yang luas dan membentang.

"Terbaiik!" Seru mereka bertiga berbarengan ketika melihat hamparan laut yang ada di depan mereka.

Setelah permainan selesai, mereka bertiga pergi mencoba wahana-wahana lainnya. Seperti, Ontang-anting, Ice Age, Arung Jeram, Rumah Miring, dan juga Rumah Jahil. Tapi, mereka juga tidak ketinggalan sholatnya.

Setelah selesai bermain di Dufan, semua murid Sekolah Persatuan disuruh masuk kembali ke dalam bis untuk perjalan pulang. Sebelum itu, ketiga kakak adik itu mengambil topi yang juga menjadi ciri khae mereka dan memakainya.

0oOOo0

Di dalam bis, Gempa sedang asyik menggambar di buku tulis yang ia bawa, sedangkan Halilintar sedang mendengarkan lagu, dan Taufan sedang terbengong-bengong.

Gopal yang sedang memerhatikan Gempa menggambar segera berseru ketika gambar yang dibuat Gempa sudah jadi.

"Hee? Itu kan Kak Halilintar? Ada Taufannya juga!"

"EH? Mana coba liat?" Taufan yang tersadar dari lamunannya segera mengambil buku tulis yang ada di tangan Gempa.

"Ih, iya, bener! Kak Halinya lagi nge-blush malu-malu gitu deeh!" Seru Taufan.

Halilintar yang mendengarnya segera melepaskan earphonenya dan merebut buku itu dari Taufan.

"Taufan! Siniin bukunya!"

"Wee.. ga boleh."

"Siniin Taufan!"

"Ambil aja kalo bisa!"

"TAUFAAN!"

"UDAH WOY! KALIAN BISA DIEM GA SIH? BERISIK TAHU GA?!" Bentak Fang kesal pada Taufan dan Halilintar.

"Hehe, maaf ya Kak Fang." Sahut Taufan.

"Cih, dasar, ngeganggu aja." Gumam Halilintar kesal. Dia segera memakai earphonnya kembali. Sedangkan Taufan mengambil buku tulis dan pulpennya.

"Kak Yaya, Kakak itu ketua Osis kan?" Tanya Taufan pada Yaya.

"Iya, kenapa emang?" Tanya Yaya balik.

"Gini lho Kaak, jadi aku ada tugas disuruh wawancara tentang pekerjaan. Ketua Osisi juga pekerjaan kan? Daripada nanya ke guru atau orang yang tidak dikenal, mending tanya ke Kak Yaya aja.. hehe." Jelas Taufan pada Yaya.

"Ooh, oke deh, mau nanya apa?"

"Ini Kaak..." Taufan mulai mewawancarai Yaya. Gempa hanya tersenyum senang melihat adiknya itu.

Pluk..

Sesuatu terjatuh di pundak kiri Gempa dan itu membuatnya kaget. Saat dia menengok ke kiri, ternyata itu Halilintar yang tertidur, earphonenya juga masih terpakai, dia tertidur sambil menyender ke pundak kiri Gempa dengan nyenyak. 'Sepertinya dia kcapean..' Pikir Gempa.

Taufan yang akhirnya selesai mewawancarai Yaya, segera kembali ke tempat duduknya dan terkaget saat melihat Halilintar sudah tertidur.

"Sssstt.." Gempa meletakkan jari telunjuknya ke depan mulutnya sebagai tanda jangan berisik.

Taufan mengangguk mengerti.

"Kak, berarti misi yang ini sukses doong.." Bisik Taufan pada Gempa.

"Yap." Balas Gempa.

Gempa kembali menoleh pada Kakaknya yang masih tertidur dengan pulas di pundak kirinya. Saat dia hendak menengok Taufan, dia merasa sesuatu terjatuh di pundak kanannya. Dan benar saja, Taufan yang sudah tertidur pulas sambil memegang buku tulisnya juga menyender ke pundak kanan Gempa. Gempa hanya bisa mendesah melihat kedua saudaranya kini sedang menyender padanya.

"Mimpi indah ya.." Gumam Gempa pada Halilintar dan Taufan. Gempa melepaskan topinya dan memegangnya dengan tangan kanannya.

Tidak lama, Gempa juga mengantuk dan akhirnya tertidur dengan posisi sedikit menunduk, sedangkan Halilintar menyender ke pundak kirinya dan Taufan menyender ke pundak kanannya. Mereka bertiga terlihat seperti tiga kakak beradik yang sangat akur pada satu sama lain.

Mission 3 : Big success \(^ ^)/


Done!

Tentang OSNnya lupakan saja, authornya sudah cape bikinnya -_-

Soal gambar yang dibuat Gempa di chap sebelumnya, itu sih tergantung imajinasi kamu aja, ga mikirin sedetail itu :p

Oh ya, percakapa yang ini:

"ANJIIIR! GUA BUNUH LU!"

"WAAA! GUA GA DUDUK NIIH!"

"YA ALLAH! UDAH ATUH WOY!"

"KYAAA!"

"HEI! KAMU MAU AKU TULIS DI BUKU PELANGGARAN HAH?!"

"WOOOYY MAS! LU GILA YA?!"

Kalau mau nebak yang mana teriakan Taufan, Gempa, Halilintar, Yaya, Ying, dan Fang. Di review aja yaaa :p

Doain chap selanjutnya lancar ya!

Thanks juga yang udah review kemaren!

Untuk yang sekarang.. REVIEW PLEASE!