Hooyy! back agaiin!
ada yang nunggu ga? / ga
sekalian deeh.. jawaban buat yang kemaren itu urutanya : Halilintar, Taufan, Gempa, Ying, Yaya, dan Fang. selamat bagi anda yang telah benar menebaknya!
Disini Taufan, Gempa, dan Halilintar sebagai kakak adik. teman-temannya numpang lewat doang.
Disclaimer : BBB dkk punya animonsta, aku minjem lagi
Warning : typo(s), family, no pairing, no elements, kalimat yang memusingkan, DLL.
Happy reading guys
enjoy it! (^^)
Chapter 3 : 1 April
Suara alarm yang keras membangunkan Gempa dari tidurnya yang nyenyak. Gempa segera duduk sambil mengucek-ngucek matanya. Dia melihat ke arah kalender yang ada di di atas lemari di sebelah kasurnya. Dia hanya mendesah pasrah melihat tanggal hari ini.
"Dan akhirnya hari ini datang.. 1 April ya?" Gumam Gempa pada dirinya sendiri.
Tanggal 1 April adalah hari yang paling mengesalkan bagi Gempa. Dan Gempa sendiri juga tidak tahu kenapa tanggal 1 April ini ia masukkan sebagai salah satu hari yang tidak ia sukai. Bukan, bukan karena hari ini adalah April Mop. Mungkin dia tahu, karena hal ini telah terjadi dari tahun-tahun sebelumnya, hanya saja, dia tidak ingat ada apa dengan tanggal 1 April ini.
Yang dia ingat, tanggal 1 April ini adalah hari dimana dia akan didiamkan oleh teman-temannya, bahkan kedua saudaranya juga mendiamkannya. Dan ia tidak tahu mengapa mereka mendiamkannya.
Gempa segera keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah semuanya selesai, dia turun ke lantai satu dimana keduan saudaranya sudah menunggunya.
"Lama amaat!" Bentak Taufan pada Gempa.
"Dasar lelet." Tambah Halilintar.
Gempa hanya menunduk, "Maaf." Ucapnya singkat.
Taufan dan Halilintar sudah berjalan keluar pintu meninggalkan Gempa yang masih terdiam di tangga terakhir. 'Tuh kan, mulai nih perilaku mereka ke aku jadi dingin..' Desah Gempa. Ia pun segera menyusul kedua saudaranya ke masjid.
.
.
.
SKIP TIME
.
.
.
Setelah semuanya siap, Halilintar dan Taufan berangkat duluan menuju sekolah. "Gempa, kita duluan." Pamit Halilintar dengan dinginnya.
Gempa hanya mengangguk dan melanjutkan sarapan yang belum ia habiskan. Setelah selesai, dia segera berangkat ke sekolah, sendiri.
0oOOo0
Sesampainya di sekolah, Gempa segera masuk ke kelasnya. Dan, seperti dugaannya, teman-temannya pada cuek padanya. 'kenapa pada nyuekin aku sih? Emang ada apaan?' Tanya Gempa pada dirinya sendiri. Bahkan, dua sahabatnya, Ying dan Yaya, sama sekali tidak menyapanya.
Gempa segera duduk di kursinya dan menghadap ke jendela. Memikirkan tentang apa yang terjadi pada teman dan saudaranya itu, hingga bel masuk berbunyi.
Pelajaran pertama adalah matematika, gurunya adalah seorang yang benar-benar gila matematika sehingga sering mengadakan ujian dadakan.
Akhirnya guru matematika itu memasuki kelas.
"Baiklah anak-anak, sekarang bapak mau membagikan hasil ujian kalia kemarin." Ucap guru itu.
'Sekarang? Males' pikir Gempa.
Guru itu pun membagikan kertas-kertas ujian yang sudah dinilai pada muridnya.
Ketika Gempa melihat hasil ujiannya, "HEEE?"
Semua anak terkejut dan melirik ke arah Gempa. Namun, mereka tidak memedulikannya dan langsung serius menghadap papan tulis untuk belajar. Sementara Gempa masih shock tidak percaya dengan nilai yang ia dapatkan.
"Em, em, em... empat puluh?" Tangan Gempa bergetar melihat hasil ujiannya, "Oh, my, pasti bakal dimarahin Kak Hali habis-habisan niih..." Gumam Gempa pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama, bel istirahat pun berbunyi dan semua anak di kelas Gempa segera berhamburan keluar kelas. Sementara itu, Gempa masih duduk terbengong-bengong di kursinya.
"Kalau Kak Hali tahu tentang nilai ini, dia bakal marah ga ya?" Tanya Gempa pada dirinya sendiri, "Ngomong-ngomong, kenapa setiap tanggal 1 April pasti teman-teman, Kak Hali, sama Taufan pada nyuekin aku ya?"
Gempa mencoba untuk mengingat-ingat kejadian yang terjadi pada 1 April di tahun-tahun sebelumnya. Namun, semua usahanya sia-sia. Ia tidak bisa mengingat hal yang terjadi pada tangaal yang sama tahun lalu. Gempa hanya mendesah pasrah.
.
.
.
SKIP TIME
.
.
.
Sepulang sekolah, Gempa berjalan ke rumah sendirian. Kedua saudaranya sudah mendahuluinya pulang ke rumah. Gempa merasa sepi tanpa ditemani oleh mereka.
"Males nih, Kak Hali sama Taufan kenapa pulang duluan ya? Ada acara?" Gumam Gempa pelan meratapi nasibnya.
Sepanjang perjalanan, yang ada di pikiran Gempa hanyalah kejadian yang terjadi setiap tanggal 1 April ini. Jujur, dia sudah lelah selalu dikucilkan pada hari ini. Tapi, kenapa dia akhirnya selalu bisa membuang rasa kesalnya itu? Apakah ada hal yang spesial pada hari ini? Kalau iya, apa? Gempa selalu memikirkan hal-hal itu hingga ia sampai di rumah.
0oOOo0
Sesampainya, Gempa terkejut karena pintu rumahnya masih terkunci. Untunglah setiap saudaranya memegang satu kunci cadangan. Jadi, tidak perlu menunggu saudara yang lain untuk membukakan pintu rumah.
"Assalamu'alaikum.." Dibukanya pintu itu, dan yang ia dapati adalah rumah yang masih kosong dan sepi dengan lampu yang masih mati.
"Kak Hali sama Taufan belum pulang ya?" Gumam Gempa.
Ia segera menyalakan lampu-lampu dan masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Diambilnya kalender yang ada di atas lemari di sebelah kasurnya.
"Emang hari ini ada apaan sih?" Gempa bertanya pada dirinya sendiri.
Selesai ganti baju, Gempa segera turun ke lantai satu dan membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Setelah itu, dia duduk di atas sofa di ruang tamu, menunggu kedua saudaranya pulang.
Setiap sekian menit dia melihat ke arah jam dinding, "Baru jam 12 siang.." Gumamnya pelan.
Hari ini, murid-murid memang disuruh pulang cepat karena guru-guru ada rapat, sehingga mereka pulang sekolah jam 11 tadi. Tidak boleh ada kegiatan sepulang sekolah, bahkan ekstrakulikuler sekalipun.
Memang, Gempa baru menunggu kedua saudaranya itu selama satu jam. Tapi, biasanya, jika mereka pulang telat, mereka akan sampai di rumah hanya selang setengah jam dari Gempa. Dan ini sudah satu jam, sementara Halilintar dan Taufan belum pulang juga.
"Mereka kemana sih? Kenapa belum pulang juga?" Gempa mulai merasa kesal sekaligus khawatir pada kedua saudaranya, "Apa mereka ada kegiatan? Atau saat pulang sekolah, saat menyebrang, mereka—" Gempa tidak melanjutkan kata-katanya. "Sudah, sudah, jangan negative thinking doong!" Seru Gempa pada dirinya sendiri sembari memukul-mukul kepalanya dengan tangannya.
Krieet—
Terdengar suara pintu yang terbuka, Gempa segera menengok ke arah pintu tersebut berharap bahwa kedua saudaranya lah yang datang. Dan, benar, Halilintar dan Taufan baru pulang. Mereka berdua masih mengenakan baju seragam.
Gempa segera menghampiri mereka, "Dari mana saja? Kok baru pulang?" Gempa segera bertanya pada kedua saudaranya.
Namun, seperti yang ia duga, mereka berdua tidak menghiraukannya dan hanya berjalan melewati Gempa dengan muka yang datar. Mereka segera naik ke lantai dua dan pergi ke kamar mereka masing-masing.
"Tuh, mereka nyuekin aku lagi." Gumam Gempa kecewa karena kelakuan kedua saudaranya itu.
Ssepulag dari masjid, Gempa segera menghampiri Halilintar dan Taufan yang sudah duduk di kursi di ruang keluarga sambil menonton TV.
"Kak, kok Kakak nyuekin aku?" Tanya Gempa pada kakaknya.
"Terus, emang kenapa? Ga boleh?" Tanya Halilintar balik dengan tatapannya yang dingin, datar, dan sama sekali tidak menoleh ke arah Gempa, melirik pun tidak.
"Kalau Taufan?" Sekarang Gempa bertanya pada Taufan, adik kecilnya.
"Bodo, terserah aku dong Kak!" Bentak Taufan pada Gempa dengan mukanya yang sedikit kesal, namun, Taufan masih mau menengok bertemu mata dengan Gempa. Menurut Gempa, Taufan masih lebih mending dari pada Halilintar yang sama sekali tidak menoleh bahkan melirik lawan bicaranya.
Gempa merasa bersalah telah menanyakan hal itu pada mereka. Mungkin, mereka berdua mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka cuek padanya. Jadi, Gempa hanya menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, mencoba untuk memaklumi semua kejadian ini.
"Kak, aku tidur dulu ya, nanti kalau udah Ashar tolong bangunin." Kata Gempa pada kakaknya.
"Ya." Balas Halilintar singkat.
Gempa segera naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Dia menaruh jaket yang dikenakannya di samping tempat tidurnya dan menaruh topinya di atas lemari. Ia segera naik ke atas kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut berwarna kuning bergradasi jingga. Dalam hitungan menit, Gempa sudah memasuki dunia mimpinya.
.
.
.
SKIP TIME
.
.
.
Hari sudah sore, Gempa yang masih tertidur itu terbangun karena mendengar suara familiar yang memanggilnya.
"Gempa! Gempa! Bangun! Cepat keluar!" Ternyata Halilintar yang membangunkannya.
"Eh, Kak Hali, ada apa kak? Udah Ashar?" Tanya Gempa yang masih setengah sadar pada kakaknya.
"Ga ada waktu, cepat pakai jaket dan topimu!" Seru Halilintar yang terlihat panik dan berkeringat.
Menyadari hal itu, Gempa segera bertanya, "Kakak kok kelihatan panik? Ada apa Kak?" Tanya Gempa sambil memakai jaket dan topinya.
Tiba-tiba, tangannya segera ditarik oleh Halilintar.
"Eh, ada apa Kak? Kenapa Kakak lari?" Tanya Gempa yang masih setengah sadar. Halilintar tidak menjawab pertanyaan adiknya, dan dengan menarik tangan adiknya, ia segera berlari sekuat tenaga keluar rumah.
Setelah mereka sampai di luar rumah, Gempa melihat ada banyak orang dan tetangga yang melihat rumah mereka dengan panik. Gempa segera mengucek matanya dan berbalik badan melihat keadaan rumahnya.
Matanya membulat, tubuhnya juga bergetar, ia tak percaya dengan hal yang ada di depan matanya.
"Ru, rumahnya... kebakar?" Tanya Gempa dengan suaranya yang terdengar menahan rasa paniknya. "Kak, kenapa bisa begini?" Tanya Gempa pada Halilintar yang sedari tadi memegang tangan Gempa.
"Ceritanya panjang." Jawab Halilintar. Ini sudah yang kedua kalinya Halilintar menjawab pertanyaan Gempa dengan kata itu ketika suasananya sedang buruk.
Gempa yang otaknya baru connect mengingat benda-benda yang ada di dalam rumah itu segera meronta-ronta mencoba melepaskan pegangan Halilintar.
"Di dalam ada baju seragam! Buku pelajaran juga! Nanti mau sekolah gimana?!" Seru Gempa sambil menggerak-gerakkan tangannya supaya pegangan Halilintar melemah. Namun, hal itu malah membuat Halilintar mencengkram tangan Gempa dengan lebih erat.
"LEPASIN KAAK! LEPASIIN! BARANG-BARANG DI DALAM RUMAH GIMANA?!" Teriak Gempa sambil menahan tangisnya mengingat kenangan-kenangan yang ada di dalam rumah itu.
Tanpa peringatan, entah untuk yang keberapa kalinya, Halilintar memeluk Gempa erat, ia mencoba menenangkan adiknya itu.
"Barang-barang di dalam rumah tidak ada nilainya dibandingkan dengan keselamatan dua adikku ini." Ucap Halilintar pelan, "Jangan nekat Gempa, nyawamu lebih berharga dari pada benda-benda yang ada di dalam rumah itu." Sambungnya,. Suaranya seperti ia sedang menahan tangisnya. Tangan Halilintar yang memeluk Gempa dari belakang, bergetar seakan dia takut, takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada kedua adiknya. Halilintar yang bersikap dingin itu, dia masih menyayangi kedua adiknya dengan sepenuh hati, ia tidak ingin hal yang buruk menimpa kedua adiknya itu. "Aku akan menjagamu Gempa. Kamu adalah adikkku, jadi, aku bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Aku tidak mau kamu terluka, seperti saat Taufan tertabrak waktu itu. Jadi, tolong dukung aku."
Kata-katanya membuat tangisan Gempa tidak bisa dibendung lagi, Gempa menangis sekeras-kerasnya di dalam pelukan Halilintar. Sedangkan Halilintar mengeratkan pelukannya pada Gempa. Halilintar mengelus-elus kepala adiknya itu perlahan, mencoba membuat Gempa tenang.
Setelah Gempa sedikit tenang, ia memperhatikan sekitarnya. Banyak orang yang membawa ember berisi air berusaha memadamkan api yang lumayan besar itu dari rumahnya.
Gempa mematung saat ia baru mengingat akan sesuatu yang penting, sangat penting.
"K, Kak, di, dimana Taufan?" Tanya Gempa pada Halilintar dengan nada suara yang terbata-bata dan muka yang panik.
"ADIK! JANGAN MASUK KE DALAM!"
Teriakan orang-orang membuat Gempa dan Halilintar kaget. Mereka melihat ke arah pintu rumah mereka. Dilihatnya sesosok bayangan seorang anak yang berlari memasuki rumah yang terbakar tersebut.
"TAUFA –" belum sempat Gempa berlari memasuki rumah itu, ia mendengar suara derap kaki di sebelahnya. Gempa menoleh ke belakang dan Halilintar tidak ada dibelakangnya. Gempa segera menoleh ke arah pintu rumah tersebut.
"KAK HALI!" Teriak Gempa memanggil kakaknya yang sedang berlari memasuki rumah tersebut. Bayangan Halilintar semakin lama semakin kabur ketika ia memasuki rumah yang terbakar itu. Hingga akhirnya bayangan Halilintar hilang di antara abu yang hitam pekat dan juga api yang membakar rumahnya.
"KAK HALI MAU KEMANA?!" Gempa segera berlari menyusul kakaknya, namun, tubuhnya dicegat oleh orang-orang yang ada di sana.
"LEPASIN! KAK HALI ADA DI DALAM! TAUFAN JUGA! AKU GA MAU MEREKA BERDUA KENAPA-NAPA! LEPASIIN!" Gempa meronta sambil berteriak. Tangisnya yang tadi sudah sedikit tenang, sekarang keluar lagi. "LEPASIN! LEPASIIN! KAK HALI! TAUFAAAN!" Teriak Gempa sambil menangis meneriaki nama kedua saudaranya itu.
0oOOo0
Sementara itu di dalam rumah yang terbakar, Halilintar berlari-lari mencoba menemukan Taufan, adik bungsunya.
"Taufaan! Kamu dimana?!" Teriak Halilintar saat ia sudah memasuki rumahnya yang terbakar itu.
'Ya Allah, tuh anak kenapa sih? Sampai nekat masuk ke dalam rumah yang terbakar. Lu mau mati bukan Fan?' Pikir Halilintar panik.
BRUK!
"UWA!"
Terdengar suara benda yang terjatuh dan diikuti dengan teriakan kesakitan. Halilintar yang mendengarnya, segera mengikuti sumber suara.
"Lantai dua!" Seru Halilintar memberitahu dirinya sendiri. Ia segera berlari menaiki anak tangga yang sudah dilalap api sebagiannya. Namun, Halilintar tidak peduli, ia masih terus menaiki anak tangga itu walaupun kakinya sudah sakit karena panasnya api yang ia lewati.
Sesampainya ia di lantai dua, Halilintar segera berlari memasuki kamar-kamar mencari adiknya itu.
Kamar Gempa, kosong. Kamar Halilintar, kosong juga. Berarti tinggal satu lagi kamar yang tersisa, yaitu kamar Taufan sendiri.
BRAK!
Halilintar mendobrak pintu kamar Taufan yang tertutup. Dicarinya Taufan di dalam kamar itu. Dilihatnya Taufan sedang duduk di pojok ruangan dengan kakinya yang menekuk dan dia merangkul sebuah benda diantara badan dan kakinya itu, salah satu tangannya memegang bagian kepala yang sepertinya kejatuhan benda tadi.
Halilintar segera menghampiri Taufan. "Taufan!"
"Ah, Kak Hali.." Ucap Taufan santai, namun di dalam hatinya ia merasa takut dan kesakitan.
"Taufan! Kamu mikir ga sih? Masa masuk ke rumah yang lagi kebakar! Nanti kalo kamu—" Belum selesai Halilintar bebicara, ia segera mematung melihat benda yang sedang dirangkul oleh Taufan.
"Taufan, kamu—" Kata Halilintar tak percaya pada adiknya.
"Hehe, maaf ya Kaaak." Taufan hanya tersenyum tipis melihat ekspresi dan kelakuan kakaknya itu.
"Sudahlah, kepalamu tidak apa-apa?" Tanya Halilintar.
Sambil mengelus-elus bagian kepalanya yang sakit, Taufan menjawab, "Ah, nggak apa-apa kok Kak. Cuman sakit aja tadi."
"Bisa jalan?"
"Bisa." Taufan segera berdiri, namun, rasa sakit dari kepalanya membuat dirinya oleng dan hampir terjatuh. Untunglah Halilintar dengan sigap menahan adiknya itu.
"Tuh, kan." Kata Halilintar pada adiknya.
"Mmm, sorry ya Kak."
Halilintar menggelengkan kepalanya dan jongkok di depan Taufan.
"Cepet naik." Suruh Halilintar.
"Eh? Aku digendong?"
"Mau nggak? Kalau nggak, ya udah jalan sendiri saja."
"Eh, iya iya." Taufan segera naik ke atas punggung Halilintar, "Mmm, makasih ya Kak."
"Iya, itu barang yang kamu ambil dipegang yang benar, jangan sampai jatuh."
"Oke Kak." Taufan memegang erat benda yang dia ambil tadi. Halilintar dan Taufan segera berlari keluar rumah.
0oOOo0
Sementara itu, di luar rumah, Gempa yang sedari tadi menunggu kedua saudaranya itu muncul dari balakang pintu, sudah mulai merasa khawatir.
"Ya Allah, mereka kok lama? Kenapa ya?" Tanya Gempa pada dirinya sendiri.
"KAK HALI! TAUFAAN!" Berkali-kali Gempa memanggil kedua saudaranya namun tidak ada jawaban.
Disaat Gempa sudah tidak sabar dan ingin masuk ke dalam rumah itu, ia melihat sesosok bayangan yang sedang berjalan ke arahnya. Setelah bayangan itu mendekat, Gempa melihat dengan jelas bahwa itu adalah Halilintar dan Taufan.
Awalnya, Gempa merasa aneh melihat Taufan digendong Halilintar, namun, pikiran itu ia buang dan segera berlari menuju mereka berdua. Halilintar menurunkan Taufan. Namun, sepertinya Taufan masih belum kuat berdiri, jadi dia masih dipapah oleh Halilintar.
Gempa kaget saat melihat keadaan Halilintar yang terluka dan keringat yang terus mengalir dari tubuhnya. Ini pertama kalinya Gempa melihat Halilintar dalam keadaan seperti ini. Taufan juga keadaannya seperti hampir pingsan, kepalanya terluka, dan cara jalannya yang sempoyongan menandakan bahwa dia sangat kesakitan.
"Kak Hali sama Taufan ga kenapa-napa?" Tanya Gempa ketika ia sdah berada di depan adk dan kakaknya.
"Ah, Kak Gempa, nggak kenapa-napa kok Kak." Jawab Taufan dengan senyumnya.
"Tadi kamu ngapain masuk ke rumah?" Tanya Gempa kembali.
"Oh, tadi aku ngambil ini." Taufan mengambil benda yang ia ambil dari dalam rumah dan mengulurkannya pada Gempa.
Gempa hanya terkejut melihat barang yang Taufan ambil, "Kado?" Tanyanya.
"Lho, Kakak ga inget ya? Kan hari ini Kakak ulang tahun.." Balas Taufan bingung dengan suaranya yang semakin lemah.
"Eh?" Sekarang Gempa ingat. Alasan kenapa setiap tanggal 1 April, ia pasti didiamkan oleh saudara dan , teman-temannya hanya berpura-pura, mereka tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Bahkan, Gempa sendiri tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Kak Gempa." Panggilan Taufan membubarkan lamunan Gempa, dengan spontan ia menoleh ke arah Taufan.
"Ada apa?"
"Ini Kak, dari aku sama Kak Hali." Taufan memberikan kado itu pada Gempa.
"HBD ya Kaak.." Senyuman tipis muncul di muka Taufan sebelum ia akhirnya menutup matanya dan jatuh pigsan. Dan sekali lagi, Halilintar yang ada di sebelahnya dengan sigap menahan tubuh Taufan agar tidak terjatuh.
"Taufan!" seru Gempa kaget ketika Taufan hampir terjatuh. Gempa memegang kening Taufan. "Panas." Ujarnya. Namun, kekhawatirannya tidak berhenti sampai situ, saat ia melihat kepala Taufan, ada bagian dari kepalanya yang mengeluarkan darah. Dengan panik, Gempa menyuruh Kakaknya untuk membawa Taufan ke rumah sakit.
"Kak, cepat bawa Taufan ke rumah sakit! Nanti aku nyusul!"
Halilintar mengangguk dan segera pergi membawa Taufan ke rumah sakit sambil menggendongnya. Untunglah ada seorang tetangga yang baik hati mau mengantar mereka.
Gempa melihat kedua saudaranya pergi menjauh sambil memegang erat kado yang diberikan oleh Taufan padanya. 'Ya Allah, tolong selamatkan Taufan..'
TBC
Hiyaa! ngegantung lagi! / ya tah?
aku sengaja masukin tanggan 1 april habis 1 april juga ultah ku _(:3 (re: ga nanya)
Oh ya, chap depan bakal jadi chap terakhir di Fic ini
habis, aku juga udah kehabisan ide DX
Thanks ya yang udah review kemaren...
Last..
Review please!
