Oke, ga tahan pengen nih Fic cepet selese. mumpung sebenernya udah jadi, jadinya sekalian aja di publish.. biar nunggunya ga lama-lama :3

Kenapa ya, Taufan terus yang aku bikin sengsara? kayaknya mah, karena dia masih anak SD, jadinya enak gitu dibikin sengsara.. hehe #dilemparkejurangsamafansnyataufan

BTW, chap sebelumnya gaje ya? gomenne saai~

Oke deh, dari pada kebanyakan nulis, langsung aja yaa

Disini Taufan, Gempa, dan Halilintar sebagai kakak beradik. teman-temannya nongol diakhir cerita. :3

Disclaimer: BBB dkk punya animonsta, aku minjem lagi

Warning: Typo(s), GaJe, abal, kalimat yang berbelit, family, no pairing, no elements, DLL

Happy reading guys

Enjoy it (^^)


Preview chap sebelumnya:

"Kak Gempa." Panggilan Taufan membubarkan lamunan Gempa, dengan spontan ia menoleh ke arah Taufan.

"Ada apa?"

"Ini Kak, dari aku sama Kak Hali." Taufan memberikan kado itu pada Gempa.

"HBD ya Kaak.." Senyuman tipis muncul di muka Taufan sebelum ia akhirnya menutup matanya dan jatuh pigsan. Dan sekali lagi, Halilintar yang ada di sebelahnya dengan sigap menahan tubuh Taufan agar tidak terjatuh.

"Taufan!" seru Gempa kaget ketika Taufan hampir terjatuh. Gempa memegang kening Taufan. "Panas." Ujarnya. Namun, kekhawatirannya tidak berhenti sampai situ, saat ia melihat kepala Taufan, ada bagian dari kepalanya yang mengeluarkan darah. Dengan panik, Gempa menyuruh Kakaknya untuk membawa Taufan ke rumah sakit.

"Kak, cepat bawa Taufan ke rumah sakit! Nanti aku nyusul!"

Halilintar mengangguk dan segera pergi membawa Taufan ke rumah sakit sambil menggendongnya. Untunglah ada seorang tetangga yang baik hati mau mengantar mereka.

Gempa melihat kedua saudaranya pergi menjauh sambil memegang erat kado yang dibetikan oleh Taufan padanya. 'Ya Allah, tolong selamatkan Taufan..'


Chapter 3.1 : 1 April

Setelah apinya padam, Gempa segera meminta tolong pada seorang tetangganya untuk mengatarkannya ke rumah sakit tempat Halilintar dan Taufan pergi.

Diperjalanan, Gempa membuka kado yang diberi Taufan padanya. Setelah ia membukanya, Gempa seperti tidak percaya melihat isi kado tersebut.

"Sketch book?"

Sketch book ini memang benda yang paling ia inginkan. Gempa tidak pernah mempuyai sketch book sebelumnya, jadi, ia hanya bisa menggambar di atas kertas HVS atau di buku tulis.

"Bagaimana mereka?"

Gempa mencoba mengingat, apakah ia pernah memberitahukan bahwa ini adalah benda yang paling ia inginkan pada saudaranya?

"Oh, iya, waktu itu ya.." Gempa bergumam pada dirinya sendiri mengingat hal itu.

Flashback On

"Kak Gempa.." Panggil seorang anak SD yang menyembunyikan separuh badannya di belakang pintu kamar kakaknya.

"Kenapa Taufan?" Jawab Gempa yang sedang serius menggambar di atas hertas HVSnya.

"Ngg.. aku boleh masuk ga?"

"Masuk aja."

Taufan pun masuk ke dalam kamar Gempa.

"Kenapa?" Tanya Gempa pada adiknya itu.

"Kakak kalau dikasih satu benda, Kakak maunya apa?" Tanya Taufan dengan malu-malu dan kepalanya yang menunduk menghadap lantai.

"Eh? Aku nggak mau apa-apa kok." Jawab Gempa heran.

"Ayolah Kaak.. Satuuu aja." Pinta Taufan dengan tatapannya yang penuh harap.

"Mm.. iya deeh. Aku cuman mau skeetch book aja." Jawab Gempa.

"Hooo sketch book ya.. thanks Kak!" Seru Taufan sambil memeluk Gempa senang dan segera keluar kamar Gempa sambil berlari.

"Taufan kenapa ya?" Tanya Gempa pada dirinya sendiri sambil melanjutkan kebali gambarnya yang belum selesai.

Flashback Off

Gempa hanya tersenyum mengingat masa-masa itu. Memang saat itu bahkan tidak terpikirkan olehnya bahwa Taufan sebenarnya menanyakan hadiah yang akan ia kasih padanya.

Ketika Gempa ingin menutup kembali kado itu, ia melihat selembar kertas yang ada di dalam bugkusan tersebut bersamaan dengan sketch book itu. Saat Gempa ingin mengambilnya, ternyata ia sudah sampai di rumah sakit tersebut, jadi, dia tidak sempat membaca tulisan yang ada di secarik kertas itu.

0oOOo0

Di dalam, Gempa segera berlari mencari ruangan tempat Halilintar dan Taufan ada. Ia berlari dari satu lorong ke lorong yang lain. Sampai akhirnya, Gempa bertemu dengan Halilintar yang sedang duduk di atas kursi tunggu di depan satu ruangan.

Gempa segera berlari menghampirinya. "Kak, Taufan?" Tanya Gempa begitu sampai di depan Halilintar.

Halilintar hanya menunjuk ruangan yang ada dibelakangnya sebagai jawaban dari pertanyaan Gempa. Mata Halilintar untuk yang kedua kalinya terlihat sembab, sepertinya dia habis menangis kencang, tubuhnya juga bergetar takut, nafasnya tak teratur, tangannya memegang topi Taufan erat, kepalanya tertunduk menghadap lantai.

Gempa duduk disebelah kakaknya dan menepuk-nepuk pundak Halilintar mencoba membuatnya sedikit tenang. Sebenarnya, Gempa juga ingin menangis jika ia tidak melihat kondisi kakaknya yang drop itu. Di sekujur tubuh Halilintar juga ada perban, sepertinya, dia juga habis diobati oleh dokter karena luka-luka yang dibuatnya.

"Aku memang bodoh." Ujar Halilintar tiba-tiba.

"Nggak, Kak Hali nggak bodoh kok." Balas Gempa yang sedari tadi melihat Halilintar.

"Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan Taufan saat dia kecelakaan, aku juga malah menyusahkan kalian berdua saat kita ke Dufan." Sambung Halilintar.

"Maksudnya?" Tanya Gempa tidak mengerti.

"Aku tidak bisa melindungi kalian. Sebagai Kakak, aku merasa gagal." Jelas Halilintar putus asa.

"Nggak kok, kalau aja Kakak nggak ngebangunin aku tadi, aku pasti udah gosong di dalam sana. Kakak nggak gagal kok." Bantah Gempa.

"Tapi kan—"

"Kan Kakak yang bilang kita tidak boleh menyalahkan diri sendiri, masa Kakak lupa sama ucapan Kakak sendiri?!" Bentak Gempa pada Kakaknya.

Halilintar untuk yang kedua kalinya menangis di hadapan Gempa. Tapi, ini adalah yang pertama kalinya Halilintar benar-benar menangis di depan adiknya itu.

"Bodoh." Kata Halilintar sambil memegang kepalanya dengan salah satu tangannya.

"Kak..." Gempa mencoba memegang Halilintar, namun sepertinya ini bukan saat yang baik untuk melakukannya. Jadi, Gempa membiarkan Kakaknya sendiri untuk sekarang.

Dan tanpa ia sadari, Halilintar sudah memeluknya erat, mencoba untuk menahan tangisannya yang tidak bisa ia bendung lagi. Gempa juga membiarkan kakaknya itu memeluknya, mungkin ini adalah pilihan yang terbaik untuknya.

Ada kalanya ketika Gempa merasa semua ini adalah kesalahannya. Andai saja ia mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya, pasti Gempa tidak akan bilang pada Taufan barang yang paling ia inginkan. Justru karena itu, Taufan malah nekat masuk ke dalam rumah yang terbakar hanya untuk mengambil sebuah kado untuknya.

Setelah beberapa lama, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dia mempersilahkan Gempa dan Halilintar memasuki ruangan itu, namun tidak berisik. Kedua kakak itu mengangguk mengerti dan segera masuk ke ruangan itu.

Ruangan itu berwarna putih, hanya benda-benda tertentu saja yang berwarna. Melihat ruangan itu, Gempa jadi teringat saat ketika Taufan dirawat dengan teriakannya yang terdengar menyakitkan.

Gempa dan Halilintar segera menghampiri Taufan. Ternyata, Taufan masih bangun. Mukanya yang selalu berseri itu, sekarang menjadi pucat, kepala dan kakinya juga diperban, tangan kirinya juga diinfus.

Ketika Taufan melihat kedua kakaknya datang menemuinya, senyuman itu muncul lagi. Senyuman kesenangan polos yang muncul dari seorang anak kecil yang sedang terlentang lemas. Matanya juga sudah setengah menutup, sepertinya di kecapean.

"Kak Gempa." Panggil Taufan pada kakaknya.

Dengan spontan, Gempa menoleh ke arah Taufan, "Kenapa?"

Taufan berusaha untuk duduk, namun segera dicegat oleh Halilintar.

"Kamu jangan bangun dulu. Nanti makin parah sakitnya."

"Aku cuman mau duduk doang kok Kak."

Halilintar akhirnya menyerah dan membantu adiknya itu untuk duduk.

"Kak Gempa, Kakak ga marah sama aku kan?" Tanya Taufan tiba-tiba.

"Eh? Kenapa Kakak harus marah sama kamu?" Yang bersangkutan mulai berbicara.

"Habis, aku ceroboh masuk ke dalam rumah, padahal, rumahnya lagi kebakar."

"Ya udah, yang penting Taufan selamat kan?"

"Tapi kan—"

Sebelum Taufan melanjutkan kata-katanya, untuk pertama kalinya, Taufan segera memeluk Gempa dengan erat.

"Tapi kan ini semua salah aku Kaak. Karena aku, Kak Hali juga jadi luka. Kak Gempa juga jadi panik." Sambung Taufan.

"Nggak apa-apa Taufan, Kak Hali sama aku baik-baik aja kok." Balas Gempa sambil memeluk kembali adiknya.

"Kak.." Suara Taufan mulai melemah.

"Ya?" Air mata Gempa sudah ingin keluar. Ia sudah tidak tahan lagi dengan ini.

"Maaf ya kita nyuekin Kakak. Habis, itu juga bagian dari rencana."

"Iya, nggak apa-apa kok, Kakak sudah maafin Taufan."

"Maaf ya, aku sudah membuat Kak Hali sama Kak Gempa jadi kesusahan." Suaranya semakin lemah.

"Iya." Air mata Gempa mulai menetes.

"Kak, aku ga mau pisah sama Kakak.."

"Kakak juga ga mau pisah sama Taufan."

"HBD ya Kaak.." Suara Taufan semakin lemah.

"Daisuki." Kata Taufan sebelum akhirnya ia memejamkan matanya yang mengeluarkan air mata, juga dengan senyumnya yang tipis, dan tangannya yang sudah melemah hingga jatuh ke atas kasur.

Gempa yang baru sadar tangan Taufan sudah tidak memeluknya lagi segera melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Taufan cemas.

"Taufan, Taufan, bangun doong.. jangan tidur terus." Ucap Gempa mencoba menyingkirkan negative thinking dari kepalanya.

"..." Tak ada jawaban dari Taufan.

Seketika, Halilintar segera memanggil dokter dan Gempa masih terlihat tidak percaya dengan yang dilihatnya.

"Taufan, bangun doong.." Gempa menggoncang-goncangkan tubuh adiknya, berusaha membangunkannya.

Beberapa detik kemudian, dokter beserta beberapa susternya masuk ke dalam ruangan itu. Dokter menyuruh Halilintar dan Gempa keluar ruangan, namun, Gempa bersih keras melawan.

"TAUFAAN! BANGUN!" Teriak Gempa dengan histeris dan tangisannya yang keras dan kencang.

Ketika para suster itu memegang tangan Gempa, Gempa segera membantah. "JANGAN APA-APAIN TAUFAN! DIA MASIH HIDUP! TAUFAN!"

Para suster itu sudah kewalahan sampai akhirnya Halilintarlah yang menyeret membawa Gempa keluar ruangan.

Saat Halilintar dan Gempa sudah berada di luar ruangan, salah satu suster segera menutup pintu ruangan itu. Sementara Gempa sedang meronta-ronta berusaha melepaskan cengkraman Halilintar.

"KAK! LEPASIN! ITU TAUFANNYA GIMANA? TAUFAN MAU DIAPAIN KAAK?!" Teriak Gempa pada Halilintar yang berada dibelakangnya.

Halilintar tidak bisa, atau mungkin tidak sanggup menjawab pertanyaan adiknya itu. Halilintar tidak bisa menahan tangisannya lagi, jadi, dia hanya menangis dalam diam. Sementara Gempa masih berteriak-teriak memanggil nama Taufan.

Setelah beberapa lama, akhirnya dokter keluar dari ruangan itu. Halilintar segera bertanya tentang kondisi Taufan sambil masih memegangi Gempa yang masih meronta-ronta, bahkan memukulnya. Sehingga ada beberapa bagian di tubuh Halilintar yang terlihat memar karena Gempa.

Dokter yang sedari tadi masih diam tidak menjawab pertanyaan Halilintar akhirnya berbicara, "Maaf dik, kami sudah mencoba menolongnya. Tapi, Tuhan berehendak lain."

Glek-

Halilintar dan Gempa hanya mematung tak percaya dengan hal yang barusan mereka dengar tadi. Dengan cepat, Gempa segera memasuki ruangan tempat Taufan tertidur dan Halilintar segera menyusulnya.

"Taufan.." Gumam Gempa ketika ia melihat badan Taufan yang sudah terbujur kaku dan dingin, bibirnya membiru, juga matanya yang tak akan bisa membuka lagi.

Air mata Gempa mulai menetes ke atas tangan Taufan, dirangkulnya kepala Taufan ke badannya. Ia sudah tidak tahan lagi.

"TAUFAAN!" Teriak Gempa histeris dengan air mata yang terus mengalir.

"Taufan! Kenapa kamu ninggalin aku? Baru saja tadi kamu bilang kamu tidak mau pisah sama aku kan?! Taufan! Jawab!" Seru Gempa sembari mengguncang-guncangkan tubuh adik kecilnya itu.

Halilintar mulai menangis lagi dan menepuk-nepuk punggung Gempa untuk menenangkan adiknya, atau mungkin, adik satu-satunya yang ia miliki sekarang.

Selama setengah jam Gempa terus merangkul Taufan dan menangis dihadapannya. Sedangkan Halilintar masih mencoba menenangkan Gempa. Sampai akhirnya, jasad Taufan dibawa oleh seorang suster, dan kedua kakaknya itu berjalan mengikuti suster tersebut ke luar ruangan dengan kesedihan masih menyelimuti mereka.

0oOOo0

Banyak orang yang datang disaat pemakaman Taufan berlangsung. Jasad Taufan segera dikuburkan pada hari itu juga. Semuanya terlihat sedih dan berdo'a untuk Taufan. Sinar matahari yang tenggelam seakan mengatakan selamat jalan untuk Taufan. Setidaknya, itulah hal yang dipikirkan Gempa.

Gempa masih menangis, namun, ia merasa sedikit tenang sekarang. Ia tidak menyangka akan kehilangan adiknya secepat ini. Ia tidak menyangka bahwa kata "Daisuki" akan menjadi kata terakhir yang Taufan katakan untuknya. Ia tak menyangka bahwa senyuman Taufan yang lemah itu akan menjadi senyuman terakhirnya. Gempa masih memegang erat kado terakhir yang diberikan Taufan untuknya.

Halilintar berdiri di sebelah Gempa, ia masih berusaha menenangkan Gempa.

.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

Hari menjelang larut malam, sudah banyak orang yang pulang ke rumah mereka masing-masing. Sehingga yang tersisa hanyalah Gempa, Halilintar, serta Fang, Yaya, Ying, dan Gopal yang sedari tadi melihat Gempa dan Halilintar yang masih berdiri di sebelah kuburan adik mereka.

Halilintar menepuk punggung Gempa untuk yang terakhir kalinya dan berjalan meninggalkan Gempa sendiri.

Gempa yang mengingat kertas yang ada di dalam kado yang belum sempat ia baca, segera mengambil kertas tersebut dan membacanya dalam diam.

"Gempa." Fang memanggilnya dari belakang Gempa.

"Ah, Kak Fang." Ucap Gempa sambil membalikkan badannya.

Teman-temannya terkejut ketika melihat mata Gempa yang sembab dan air matanya yang mulai menggenang di pinggir matanya, baju yang Gempa kenakan juga sudah lusuh dan kotor. Namun, ia masih berusaha tersenyum pada teman-temannya.

Fang hanya menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan mengulurkan tangannya pada Gempa.

"Maaf, HBD ya.." Ucap Fang sembari memberikan sebuah kado pada Gempa.

Namun, diluar dugaan, mata Gempa membulat, air mata yang tadinya tergenang sekarang sudah mangalir di pipinya, sudah tidak ada lagi senyuman dimukanya, yang ada hanyalah tatapan yang datar dan kosong sambil menatap Fang.

Setelah beberapa lama Gempa mematung, akhirnya ia mulai tidak bisa menahan tangisnya, matanya menyipit mencoba menahannya namun semua itu sia-sia. Dengan segera, Gempa berlari ke arah Fang dan memeluk memegang jaket Fang erat.

"Eh? Gempa?" Tanya Fang yang terkejut saat Gempa memeluknya.

Tanpa Fang sadari, ternyata Gempa sudah menangis dalam pelukan itu, Fang yang merasa iba pada Gempa, ikut memeluk Gempa erat.

"Kalau mau menangis, menangislah sepuas-puasnya. Tidak akan ada yang mengejekmu kok." Ucap Fang pelan pada Gempa.

"HUWAA! TAUFAAN!" Seketika, Tangisan Gempa pecah dan ia segera menangis sekeras-kerasnya. Ia tidak peduli siapa yang dipeluknya saat ini, yang penting, ia ingin mengeluarkan semua kesedihannya saat itu juga.

Halilintar yang baru datang segera menghampiri mereka, saat ia melihat Gempa sedang memeluk Fang, Halilintar hanya tersenyum tipis dan membiarkan adiknya menangis.

"Gempa, maaf ya kita semua mendiami kamu." Ucap Yaya.

"Iya, maaf ya Gempa, kami tidak bermaksud melakukan itu." Tambah Ying.

"Sebenarnya, Taufanlah yang menyuruh kami semua untuk cuek pada Kakak supaya jadi surprise." Sambung Gopal.

Mendengar hal itu, tangisan Gempa semakin menjadi-jadi. Gempa yang sudah tidak kuat berdiri, akhirnya merosot terduduk, begitu juga dengan Fang yang dipeluknya. Sementara Halilintar mengecup kening Gempa dan mengelus kepala Gempa pelan, mencoba menenangkannya.

Malam disaat itu sangat tenang, bulan yang memancarkan sinarnya dengan terang, juga langit yang ditaburi bintang-bintang, seakan mengatakan pada Gempa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Gempa masih terus menangis dalam pelukan Fang dan membuat jaket Fang basah karena air matanya yang terus mengalir. Tangan kirinya memegang sketch book, dan tangan kanannya menggenggam selembar kertas yang membuat Gempa menangis lagi setelah membacanya dengan kuat. Entah tahun depan ia akan mengingat kejadian ini atau tidak. Namun, satu yang ia yakini.

Setelah ini, tidak akan ada lagi yang akan memanggilnya "Kakak" di rumah.

Kakak!

HBD yang ke 14 tahun ya!

Sebenarnya yang membeli kadonya aku sama Kak Hali, tapi Kak Halinya ga mau nulis suratnya, jadi aku aja yang nulis~ hehe

Oh ya kak, maaf ya kita semua udah nyuekin Kakak, kan biar jadi surprise buat pesta sore nanti! Teman-teman yang lainnya juga bakal datang!

Aku sama Kak Hali bakal nyiapin kue yang besaar!

Kita juga bakal masak makanan kesukaan Kakak lho!

Jadi, Kakak jangan marah yaa..

Oh iya, inget ga pas aku nanya ke Kakak tentang benda yang paling Kakak ingin? Aku nanya hal itu buat beli kado ini.. hehe.. maaf ya kalau aku tidak bilang

Semoga Kakak makin ++++++++ deh yang baik-baiknya!

Kakak juga doa'in aku ya Kak! Kan bentar lagi aku ada UN

Kakak juga jangan ninggalin Taufan lho, nanti Taufan jadi kangen sama Kakak..

Hehe peace Kak..

Oke deh, dari pada kepanjangan.. sekali lagi..

HBD ya Kaak!

Wish You All The Best

Kiss and hug,

Your lovely brothers 3

(Taufan 'n Halilintar)

End


Daisuki: seperti aku cinta kamu dalam bahasa Jepang / bener kan?

WAAA! kok jadi sad ending ya? ideku bercampur aduk dan membelok 180 derajat saat membuat chap yang ini, entah kenapa, malah jadi sad ending / hiks hiks

sorry ya yang minta happy ending, tapi memang sesuai alurnya juga, aku maunya bikin yang anti-mainstream. jadinya ya... gini deh :p

Jujur aja, aku ga tega nulis si Taufannya mati / HUAAA!

Aku juga bikin ilustrasinya/gambarnya juga ga tega bangeet!

HUWA! AUTHORNYA JAHAT BANGEET!

#abaikanyangdiatas

BTW, Feelnya ngena ga? penasaran aku

Oh ya, kalau ada yang penasaran gimana rumah mereka bisa kebakar... coba tebak! aku udah kasih cluenya lho di chap ini.. :3

aku buat kisah saat Hali sama Gempa hidup berdua ga ya? kalo bikin, palingan bakal jadi Fic yang baru..

Thanks ya yang udah selalu baca fic aku ini!

Thanks juga yang udah mereview, follow, dan memfav! love you guys!

Seperti yang kutulis, chap ini adalah chap terakhir di Fic ini..

jadi, karena ini chap terakhir, aku pengen tau krisar (kritik dan saran) juga pendapat readers tantang FF pertama ku ini!

Tolong review yaa!

PLEASE!