Stand by Me
Naruto by Masashi Kisimoto
Saya hanya pinjam karakternya saja
Warning: AU, alur berantakan, ngalor-ngidul, DLDR, OOC, dan Typo
.
.
Sakura menjalani latihan rutin dengan pikiran kalut. Ia menari tanpa menaruh jiwa dalam gerakannya. Bibirnya tersenyum, tapi tatapannya kosong. Pikirannya berlarian keluar dari apa yang saat ini ia kerjakan.
Ini merupakan masa yang berat baginya. Konsekuensi menjadi member favorit menejemen mulai ia rasakan. Tekanan datang dari berbagai arah. Menejemen sendiri, sesama member, fans, dan orang-orang yang menaruh perhatian di luar sana. Popularitas memang mampu didulang, ia bahkan mampu menggeser posisi member-member veteran. Tapi hater-hater juga bermunculan di saat yang bersamaan.
'oh, man.. Haruno Sakura might be the cutest creature to ever walk the earth, but she's tone deaf and worst dancer!' tulis seseorang dalam sebuah forum di dunia maya.
'Aku benci tipikal idola ortodoks macam Sakura. Dia tak menawarkan apapun selain wajah manis.' Balas yang lain.
Berbagai komentar tentang dirinya memenuhi perbincangan online para penggemar, terutama berkaitan dengan penolakannya atas tawaran gravure modelling. Sebagaian fansnya khawatir, popularitasnya akan menurun karena hal ini, sebagian lain mendukung. Sementara para anti membanding-bandingkannya dengan Uzumaki Karin, member seangkatan sekaligus rivalnya dalam unit song battle.
'Member naif!"
'Arogan!'
'Haruno Sakura, huh? She's boring like hell! Karin-chan seratus kali lebih menarik.'
'Dia hanya memanfaatkan menejemen tanpa mau bekerja keras. Tak pantas menjadi ace."
Seusai latihan beberapa member mendekatinya. Mereka tahu apa yang menimpa Sakura dan mencoba menguatkannya. Member senior menasehati bahwa apa yang dialaminya biasa terjadi, resiko menjadi idola. Uzumaki Karin yang secara pribadi dekat dengannya juga turut menghibur. Sakura tersenyum pada rekan-rekannya, meyakinkan mereka bahwa ia baik-baik saja.
Sebelum pulang, Sakura menemui pimpinan menejemen setelah sebelumnya ia diminta menghadap. Sakura yakin, pimpinan akan menyinggung masalah penolakannya. Dan yah, sesuai dugaannya, sang pimpinan memastikan langsung padanya. Sekali lagi Sakura menegaskan penolakannya.
Sakura masih tujuh belas tahun. Meskipun lumrah jika seorang idola seusianya melakukan debut gravure, tapi ayahnya jelas tidak mengizinkan. Tayuya yang datang sebagai wakil dari agensi bisa menerima alasan Sakura. Namun tampaknya sang pimpinan tidak puas dengan keputusan Sakura. Setelah menyampaikan klarifikasinya, Sakura beserta Tayuya mohon diiri.
Sakura dan Tayuya keluar dari ruangan pimpinan bersama. Mereka berjalan beriringan. "Ini pasti tak mudah untukmu." Tayuya memandang Sakura penuh simpati.
Sakura mendesah pelan, lalu tersenyum getir. "Aku sudah mempertimbangkan ini dengan ayahku, Tayuya-san. Aku siap menghadapi resikonya."
"Kau harus tahu, kami memilihmu bukan hanya karena kau bagian dari grup. Tapi karena kami yakin kau punya kemampuan. Kami takkan melepaskanmu." Tayuya mengusap bahu Sakura. Ia berusaha memberi kekuatan pada sang gadis muda. Sakura mengangguk dalam.
Sebuah getaran yang tiba-tiba memutus afeksi keduanya. Tayuya merogoh tas kerjanya. Ia mendapat panggilan. Wanita itu mengambil jarak dari Sakura untuk menerima telpon tersebut. Ia tampak berbicara serius dengan sang penelpon.
Sakura hanya terpaku sambil memperhatikan Tayuya. Selang bebrapa saat, wanita itu kembali, lalu berkata, "Maaf Sakura, sepertinya aku tak bisa menemanimu pulang. Ada hal yang harus kuselesaikan disini."
Sakura mengangguk," Tidak masalah, aku pulang duluan. Sampai jumpa."Mereka berjalan berlawanan arah.
Sakura berhenti di depan lift. Sambil menekuri posel berbentuk bar-nya, Sakura melangkah ke depan saat pintu lift terbuka. Ia terlalu asyik dengan dunia sendiri tanpa menyadari keberadaan orang lain dalam lift itu.
"Hn. Aku menolak."
Sakura tehenyak. Suara itu, ia kenal betul. Sakura mengangkat kepala. Dari refleksi dinding lift, tampak jelas berdiri seorang pria di sampingnya. Sakura melirik sosok itu dengan ekor matanya. Tak salah lagi, itu dia. Dia lagi. Uchiha Sasuke. Sakura jadi teringat PV unit song-nya dan sikap pria itu yang pura-pura tak mengenalinya. Rasa jengkelnya naik ke permukaan.
Uchiha Sasuke terlihat tak peduli dengan keberadaan Sakura. Ia fokus pada ponsel yang ia lekatkan ke telinga. Ia tengah menerima telpon. Saat ini semua orang tampaknya tak bisa lepas dari ponsel. Batin Sakura bersuara.
"Ck, dia tipe ortodoks. Tak ada yang menarik darinya selain kelebihan fisik."
Dada Sakura sesak seolah ada mata panah yang menikamnya. Tak jelas pria itu membicarakan siapa. Tapi redaksinya mengingatkan Sakura pada komentar-komentar negatif tentangnya.
.
.
Ting..
Pintu terbuka. Uchiha Sasuke berjalan meninggalkan lift. Aroma khas parfum pria menguar, menggugah kesadaran Sakura. Ia terkisap. 'oh Tuhan.. lagi-lagi aku melamun.' Suasana tadi benar-benar mirip dengan yang dialaminya tiga tahun lalu. Berdua di dalam lift bersama Uchiha Sasuke. Hft, ia seperti remaja yang gagal move on. Sakura menertawakan dirinya sendiri.
Tayuya telah tiba lebih dulu darinya. Sakura membungukuk hormat pada menejer dan direkturnya.
"Halo, Sakura-chan.." sapaan ramah sang direktur menyambutnya. Uchiha Itachi, memiliki kepribadian hangat, berbanding terbalik dengan saudaranya. Sesebal apapun saat ia berangkat tadi, sambutan hangat sang direktur membuatnya luluh.
Sebenarnya Sakura bertanya-tanya, ada apa gerangan direktur repot-repot memanggilnya. Bukankah segala urusan kontrak maupun tawaran kerja selalu melalui menejernya? Sakura melempar pandangan penuh tanya pada Tayuya. Dan Tayuya hanya menggeleng. Sang menejer juga tak mengetahui apapun. Direktur muda itu menyodorkan sebuah map pada Sakura.
Sakura mengernyit, ia membuka map itu dengan penasaran.
"Aku punya project khusus untukmu." Itachi buka suara sebelum Sakura berkomentar.
"Project?" Lontar Sakura dan Tayuya spontan. Dua perempuan beda usia itu kembali saling lempar pandang. Kondisi yang tidak biasa terjadi. Agensi punya seksi khusus untuk mengelola para talent. Direktur sangat jarang turun tangan langsung seperti ini.
Itachi mengangguk. Senyum aristokrat terulas di bibirnya. Ia duduk nyaman di kursi kebesarannya. Tampak menikmati ekspresi kebingungan mereka. "Itu saja yang ingin kusampaikan. Sekarang kau bisa pulang dan melanjutkan liburanmu."
"Eh?" Sakura masih disergap kebingungan. Ia terpaku di tempat duduk, belum bisa mencerna abnormalitas yang menimpanya. Uchiha Itachi yang sangat dihormatinya mendadak begitu absurd. Dengan agak linglung Sakura undur diri.
"Ah, Sakura-chan!" Seruan Itachi menahan langkah Sakura, "jangan lupa luangkan waktu untuk mempelajari berkasnya, oke?" Gadis itu mengangguk samar. Ia ber-ojigi sekali lagi lalu menghilang di balik pintu.
.
.
"Shachou, apa yang Anda rencanakan?" Tayuya segera memuntahkan uneg-uneg-nya.
Alis Itachi terangkat sebelah. Seringai misterius terpapar di wajah tampannya. Direktur muda berusia tiga puluh tujuh itu beranjak dari kursi, ia berjalan mendekati jendela. Ia menyelisik objek kecil yang bergerak keluar dari lantai dasar gedung agensi miliknya. Tak salah lagi, sosok yang nampak kecil berkepala merah muda itu adalah Haruno Sakura. Gadis kesayangannya.
"Sudah saatnya kita serius, Tayuya."
Tayuya mendengus. Ia tak suka manakala pertanyaannya dijawab dengan ambigu. "Saya tidak paham maksud Anda."
Itachi menatap Tayuya geli. "Berhentilah bersikap formal Tayu, kita hanya berdua disini. "
Tayuya memutar manik matanya. Hampir separuh hidupnya ia bersahabat dengan pria ini, tapi ia belum sepenuhnya dapat menerka apa saja yang ada di kepalanya. Ia menatap balik Itachi penuh selidik, "Jawab dengan jelas. Rencana apa yang kau buat?"
"Apa aku perah bercerita kalau aku jatuh cinta padanya?"
Kepala Tayuya tersentak ke belakang. Raut mukanya menunjukkan shock luar biasa. Ia berharap apa yang didengarnya adalah kelakar belaka, "Kau serius? Jangan main-main Itachi, kau sudah beristri.."
Dahi Itachi berlipat sebelas, mengenkripsikan kalimat Tayuya ke dalam pemahamannya. Begitu proses itu selesai, pinggangnya serasa digelitiki jari-jari gaib. Ia tak kuasa menahan tawa.
"Itachi!" Tayuya kehabisan kesabaran. Itachi masih saja tertawa sambil memegang perutnya yang mulai terasa nyeri. Sudut matanya berair saking hebatnya rasa geli yang menyerang.
"Demi Tuhan, Itachi! seriuslah atau aku pergi!" Ancam Tayuya. Air muka wanita itu merona, menyadari kesalahannya menerjemahkan pernyataan Itachi. Sementara sang direktur muda sekuat tenaga meraih kontrolnya kembali.
Itachi berdehem, memulihkan diri, "Gomen." Ia menghela napas, berusaha mencegah tawanya agar tidak kembali pecah, "Aku jatuh cinta pada potensi anak itu." Akhirnya, penjelasan yang Tayuya tunggu tersampaikan juga. "Aku yakin dia akan jadi akrtis besar di masa mendatang."
Tayuya melipat tangan, "Benarkah?" Tanyanya ragu, "Kau mau dengar pendapatku?" lanjutnya.
"Tentu." Jawab Itachi.
"Sejujurnya, aku tidak begitu yakin dengannya." Kata Tayuya pelan, "Maksudku, Sakura bisa berakting, ia masih muda dan akan terus berkembang. Tapi.. aku merasa ada yang kurang darinya."
"Menahan sesuatu lebih tepatnya." Tukas Itachi.
"Menahan sesuatu?"
"Um, aku pernah menyaksikannya berakting di sebuah pertunjukan drama. Performanya sangat bagus untuk ukuran anak seusianya."
"Aah, aku ingat. Dia pernah bergabung dalam klub drama sewaktu SMP. Tapi aku tidak tahu ia sebagus itu." Tayuya tahu melalui data diri yang diterimanya saat pertama kali menangani Sakura. Ia belum pernah melihat dokumentasi yang menunjukkan kemampuan aktingnya secara signifikan.
"Bukan. Aku melihat pementasannya sebelum ia datang ke Tokyo." Itachi memandangi telunjuk dan ibu jarinya yang ia usapkan satu sama lain. "Aku menyaksikannya di festival tahun baru saat aku mengunjungi kakekku di Konoha. Waktu itu ia mungkin masih SD."
"Jadi, saat itu kau jatuh cinta padanya?"
"Mungkin ini yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama." Ujar Itachi dramatis. Alis Tayuya berkedut. Syukurlah tak ada karyawan lain yang melihat sang direktur seperti ini. "sayang sekali ia harus bergabung dengan grup idola saat di Tokyo. Empat tahun potensinya tersia-siakan."
"Hei, kau mengorbitkannya menjadi idola solo setelah keluar grup, kalau kau lupa." Sindir Tayuya.
Itachi menggaruk kepalanya,"Ah, itu lain cerita, kau tahu logika bisnisnya kan?"
Tayuya tertawa mengejek. "Pebisnis tetaplah pebisnis, kau tak boleh melewatkan kesempatan meraih untung besar." Ia melafalkan kalimat ajaib Itachi.
"Menjadikannya idola itu bisnis. Membentuknya menjadi aktris adalah passion." Itachi dan kalimat ajaibnya yang lain. Tayuya dan orang-orang terdekat hapal akan hal ini. Menurut Tayuya bukan sesuatu yang keren, bahkan cenderung konyol. "Menjadi aktris adalah takdirnya." Lanjutnya. Tayuya memutar bola matanya jengah, "aku serius." Tegas Itachi.
"Baiklah, aku percaya kau serius." Tayuya melipat tangan di depan dada, "lalu apa yang kau rencanakan?"
"Aku sedang mendiskusikan dengan Nihon TV. Bersama mereka, kita akan menggarap sebuah late night drama untuk Sakura."
"Benarkah? Wow." Tayuya menanggapinya dingin, "lalu apa istimewanya rencana ini?" Tanyanya skeptis. Satu lagi drama minor bukanlah sebuah terobosan revolusioner menurutnya. "Peran kecil di drama primetime lebih masuk akal daripada late night drama, kurasa."
"Aku melibatkan Sasuke dalam proyek ini." Sergah Itachi. Ini baru kejutan. Mereka sama-sama tahu hubungan Sakura dan Sasuke tidak terlalu baik.
"Tidakkah kau pikir ini beresiko?" Tayuya sangsi terhadap rencana Itachi. Ia tahu seberapa mengerikan kerja Sakura ketika ia berada dalam mood yang buruk.
"Semua sudah kuperhitungkan. Lagipula Aku tak memberi opsi Sakura dan Sasuke selain menerima." Aura ketegasan telah kembali. Yang Tayuya hadapi saai ini adalah Uchiha Itachi sang direktur, pebisnis ulung yang lihai berstrategi." Jika drama ini sukses, pihak Nihon TV akan memakai Sakura dalam major drama mereka." Itachi menerawang dengan senyum miring penuh kelicikan. Tayuya bergidik. Bulu romanya menegang akibat radiasi aura pria itu.
.
.
Sasori menenggak bir hingga tandas. Kaleng bir yang telah kosong ia lempar ke keranjang yang berada tiga meter dari tempatnya duduk. Sayang lemparannya meleset. Kaleng itu jatuh di luar area sasaran, menambah kadar keberantakan apertemennya. Sangat khas pria lajang.
Ia nyaman-nyaman saja meski dikelilingi sampah. Kaleng bir, bungkus snack, kotak bentou, kertas-kertas bekas berserakan. Apatemennya tampak lebih sempit karenanya. Ia tak mau ambil pusing. Pekerjaannya membutuhkan lebih banyak perhatian. Lihatlah area sekitar matanya yang menghitam. Entah sudah berapa lama ia tidak mengambil waktu jeda. Jemarinya tersibukkan oleh tuts-tuts keyboard sepanjang waktu.
"Onii-san.." Suara manja adiknyalah yang akhirnya berhasil memecah perhatiannya. Sasori kelabakan. Adik sepupu kesayangannya datang tanpa mengabarinya terlebih dulu. Hei, dia ini pria yang diidolakan Sakura, keadaannya sekarang sungguh jauh dari kesan keren. Kaos tanpa lengan dan celana sedengkul, wajah kusut, rambut berantakan, oh jangan lupakan cambang tipis yang mulai tumbuh disana-sini.
Sakura punya kunci duplikat apartemennya, jadi ia punya akses tak terbatas atas tempat tinggalnya. Tangan Sakura penuh dengan kantong belanjaan. Sasori bisa menebak apa yang akan dilakukan adiknya.
"Sakura-chan.. kau datang?"
"Kejutaan..!" Seru Sakura seraya mengangkat belanjaannya. Sakura menyerbu masuk. Rona cerianya luntur melihat kondisi apartemen kakaknya, "Onii-san, apa disni baru saja terjadi gempa?" Sasori hanya bisa nyengir tawar.
Sakura akhirnya menunda acara masak-memasaknya. Jadilah ia menyingsingkan lengan baju untuk membersihkan kediaman kakaknya. Sasori ingin melarang, tapi apa daya adiknya memang terlahir memiliki kepala sekeras batu.
"Mou, apa kubilang tentang mencari istri?" Sakura memunguti sampah sambil menggerutu, "Kalau punya istri, nii-san akan lebih terawat dan aku tak perlu terus-terusan mengkhawatirkanmu."
Sasori tergelak, "Kukira kau akan cemburu padanya." Godanya.
"Tidak akan!" Sakura membantah, "lagipula aku punya banyak fans yang mencintaiku. Kalau onii-san menikah, aku masih punya mereka." Ia berkacak pinggang dengan pongahnya.
"Mereka tidak akan membelikanmu es krim." Balas Sasori tak mau kalah.
"Mereka bahkan bisa membelikanku rumah kalau aku minta!" timpal Sakura sengit. Es krim diungkit-ungkit? Aku sudah dua puluh satu! Inner tak terima. Meski sebenarnya ia mengakui, es krim traktiran kakaknya tetap yang terbaik.
Sasori menganggkat tangan, menyerah. Percuma meladeninya, karena ini takkan ada ujungnya, "baiklah.. aku akan berusaha. Eh, ngomong-ngomong, tumben kamu bisa berlama-lama di sini. Tidak ada jadwal?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan.
Garis wajah Sakura yang garang mendadak berubah. Bibirnya tertekuk ke bawah. Khasnya jika sedang merajuk. Ia tidak berkata-kata, namun lihat matanya, seperti anak kucing yang minta belas kasihan. Ia menghentikan aktivitas bersih-bersihnya. Lalu mendekati Sasori.
"Nii-san.." Sakura menyender ke lengan Sasori. Pertanyaan kakaknya itu membuat kegundahannya tersulut kembali. Proyek pembuatan drama yang terdekat turun langsung dari direktur. Dalam berkas yang diberikan padanya kemarin disebutkan, drama ini merupakan proyek prioritas. Tayuya juga menjelaskan bahwa agensi tengah berusaha mempromosikan dirinya secara lebih serius. Sakura senang sampai pada bagian itu. yang membuatnya gelisah adalah keterlibatan Uchiha Sasuke di dalamnya.
Bersandar pada lengan kakaknya adalah satu-satunya yang dapat mengurangi gundahnya. Ia tak mungkin bilang ke Sasori kalau keberadaan Uchiha Sasuke mengganggunya. Tidak. Kakaknya dan pria itu bersahabat. Sakura akan diam, seperti sebelum-sebelumnya. Ia tidak pernah memberi tahu Sasori tentang masa lalunya dengan Sasuke. Urusan sakit hatinya pada pria itu biar ia sendiri yang tahu. Eng, Tayuya sepertinya tahu juga sih. Mungkin ditambah direktur. Tapi ia tidak memberi tahu mereka secara langsung. Entah darimana mereka tahu. Demi karirnya ia akan menuruti kata Tayuya. Belajar bersikap profesional, termasuk pada Uchiha Sasuke.
"Ada apa, hm?" Sasori mengelus rambut merah muda adiknya. Sakura merapatkan dirinya pada sepupu yang sudah ia anggap kakak kandung itu.
"Hn."
Sepasang sepupu itu terlonjak kaget. Spontan mereka membalik. Dan, oh Tuhan.. itu dia biang kerusuhan dalam hidup Sakura. Baru saja Sakura memikirannya, pria itu secara ajaib telah ada di apatemen Sasori. Entah sejak kapan berdiri di belakang mereka.
"Kalian lebih dari sekedar sepupu rupanya."
"Aa, ini tak seperti yang kau pikirkan Sasuke, Sakura-chan adikku. Selamanya begitu." Sangkal Sasori salah tingkah.
Sial, Sakura lupa jika pria itu juga sering berkeliaran di kediaman Sasori. Bahkan sejak sebelum Sasori hidup mandiri. Mereka sahabat, bukan? Sakura tidak tahu kenapa kakaknya bisa tahan dengan orang macam dia.
"Pesananmu." Sasuke menyodorkan sebuah bungkusan pada Sasori. Dua pria itu selanjutnya terlibat pembicaraan serius. Merasa tak dibutuhkan, Sakura menyingkir dari interaksi mereka. Ia melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Sakura menata buku-buku dan mengembalikannya ke rak. Sakura tersenyum mendapati rak khusus tempat Sasori menyimpan koleksi-koleksi yang berkaitan dengannya. Photobook, DVD, majalah, dan beberapa CD single. Mulai dari koleksi saat Sakura masih di grup hingga ketika Sakura menjadi idola solo. Ia senang Sasori selalu setia mendukungnya.
Selesai dengan acara bersih-bersih, tiba saatnya menunaikan tujuan utamanya. Membuat makan malam untuk kakak tercintanya, dan terpaksa untuk pria itu juga. Sakura memejamkan matanya erat. Berupaya menajamkan logikanya. Ayolah, kau harus dewasa. Hadapi hidup, dan semua akan baik-baik saja. Ikuti permainan pria itu, ia bisa menanggalkan masa lalu, kenapa kau tidak?
.
.
Sakura menghidangkan masakannya di meja makan. Tanpa melepas apronnya, ia menengok ke meja ruang tengah tempat Sasori dan Sasuke melakukan kesibukan mereka. Sakura memiringkan kepala, tak paham apa yang mereka bincangkan. Tapi ia dapat melihat gaya Sasuke bertutur. Ah, dia memang pria yang datar total. Sulit mendeteksi apakah ia senang atau marah.
"Tuan-tuan." Sakura menyela keasyikan mereka. Keduanya menoleh, "makanan ini takkan nikmat jika disantap dingin."
Dua pria itu tak jua beranjak. Enggan menyudahi apa yang mereka mulai. Sakura jengkel dibuatnya. "Baiklah, lagipula aku tak keberatan menyingkirkan perangkat kerja kalian. Tapi jangan banyak protes jika mereka kembali tidak dalam kondisi utuh." Sakura bersiap untuk memindah mangkuk menuju tempat mereka. Sontak Sasori berdiri, mencegah Sakura merealisasikan ucapannya. Sementara Sasuke beranjak dengan ogah-ogahan. Sakura tersenyum puas.
Sasori duduk sebaris dengan Sakura, sedang Sasuke berada di sebrang. Sasori takjub dengan suapan pertamanya, "Ini enak. Adikku sekarang sudah pintar masak ternyata." Terakhir yang Sasori ingat, Sakura menambahkan terlalu banyak gula dalam tamagoyaki. Setelahnya Sasori agak trauma jika harus menyantap masakan Sakura, ia bukan pecinta manis.
"Tinggal sendiri membuatku terlatih, nii-san." Balas Sakura agak tersinggung. Percakapan di meja makan hanya terjadi antara Sakura dan Sasori. Sedangkan Sasuke diam seribu bahasa. Aturan yang ia pegang teguh, tak ada perbincangan di meja makan. Aturan aristokrat yang mendarah daging bahkan saat ia sudah hidup di era modern.
Sakura hendak mengambil daging, di waktu bersamaan tangan lain juga menyumpit daging yang diincarnya. Ia dan Sasuke menyumpit potongan daging yang sama. Begitu sadar, sontak keduanya mundur. Mengalah satu sama lain. Merasa lawannya mundur Sakura kembali menyumpit potongan daging itu. Tapi saat menyumpitnya, lagi-lagi secara bersamaan Sasuke juga menyumpitnya. Kali ini tak ada yang mengalah di antara mereka. Potongan daging itu jadi bahan tarik-tarikan keduanya. Mereka ngotot satu sama lain. Di tengah adu otot nereka, dengan cuek Sasori menyumpit potogan daging yang diperebutkan dari tengah-tengah. Langsung ia menyuapkannya ke mulut.
"Ehm, oishi…" Dua manusia yang baru saja berkompetisi itu menatapnya sinis.
"Onii-san.." Desis Sakura geram.
"Tidak baik menyia-nyiakan makanan." Sasori mengabaikannya.
Sakura menggigit ujung sumpitnya. Ia sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak melirik Sasuke. Gara-gara kejadian tadi perasaannya jadi awkward. Ada sisipan sensasi menyenangkan di sudut hatinya. Ia teringat adegan ala film-film romatis. Semburat tipis memulas pipinya. Inner Sakura mengibas-ngibaskan bayangan cheesy yang berkibar di benaknya. Bangun Sakura, nalar primitif tak boleh mengambil alih dirimu!
Sakura menggeleng kecil. Cepat-cepat ia menghabiskan makanannya. Ia harus segera pulang dan menetralkan diri. Ia berjanji esok hari ketika bertemu Sasuke lagi, ia telah menjadi sosok yang lepas.
.
.
"Yakin tak mau menginap?" Sasori mengulang pertanyaan untuk kesekian kali. Dan respon Sakura masih sama. Gadis itu menolak. Esok ada sesi pemotretan. Ia harus berangkat pagi-pagi sekali. "Kuantar.."
Sakura mendengus. Kadang perhatian kakaknya cukup menjengkelkan juga, "Aku bukan anak kecil. Apartemenku hanya beberapa blok dari sini, nii-san tidak lupa kan? " Sasori mau tak mau merelakannya pulang sendiri.
Angin malam menyambut Sakura. Suasana jalan cukup lengang. Tak ada aktivitas berarti yang ia temui. Hanya satu dua orang yang berpapasan dengannya. Ia merapatkan jaket dan memperbaiki letak topi serta kacamata. Tiga atribut wajib untuk sedikit menyamarkan identitasnya. Ia berjaga-jaga setiap waktu. Paparazi tak lelah membuntuti seorang idola sepertinya. Beberapa berita lokal yang menjadi headline pekan ini memuat tentang skandal idola. Ia tidak ingin muncul di media dengan pemberitaan negatif. Meski tidak berbuat hal menyimpang, setidaknya ia harus senantisa waspada. Gosip-gosip selalu menghantui kehidupan idola.
Resiko lain adalah kemungkinan adanya penguntit atau pria mesum. Rumor keberadaan penjahat kelamin adalah momok besar bagi semua gadis. Isu yang beredar, mereka melancarkan aksinya di keramian kereta atau di jalanan sepi seperti sekarang. Teringat cerita penjahat kelamin, Sakura disergap was-was. Ia memeriksa kanan dan kiri. Tak ada orang lain di sekitarnya. Ia mempercepat langkah.
Entah salah dengar atau karena ketakutan, ia merasa seperti ada langkah kaki yang mengikutinya. Takut-takut ia berbalik. Lengang. Hanya ada hembusan angin. Tidak ada seorangpun. Ketakutannya tak terbukti. Ia menghirup napas dalam-dalam. Sakura melanjutkan perjalanan. Ia terhenyak saat suara langkah kaki di belakangnya kembali terdengar. Sakura yakin, ada orang yang sedang membuntutinya. Dengan putus asa ia mengayunkan kakinya cepat. Sakura menyesal tak mengizinkan Sasori mengantarnya.
Sampai di belokan Sakura bersembunyi di antara tiang listrik dan tong sampah. Penerangan yang remang-remang menyamarkan keberadaanya dengan baik. Jantungnya berdetak keras, napasnya memburu, keringat dingin meleleh di dahinya. Benar dugaannya, seseorang mengikutinya. Sakura dapat melihat seorang pria berpostur tinggi tampak mencari-cari keberadaannya. Karena pencahayaan yang buruk Sakura tak dapat mengidentifikasi bagaimana wajah si penguntit.
Pergerakan aneh Sakura rasakan di antara kedua kakinya. Sakura terlonjak mendapati segerombolan kecoa merayap ke tubuhnya. Sakura membekap mulut, menahan teriakan keluar. Sakura mengibas-ngibaskan kakinya perlahan, mengusir hewan-hewan menjijikkan itu. Tapi bukannya pergi, kecoa-kecoa itu malah semakin mengerubutinya. Tak tahan lagi, Sakura pun berteriak sambil menggerakkan tubuhnya sedemikian rupa.
"Kyaa.. tolong aku! Siapapun tolong akuu…!" Pekiknya.
Sebuah tepukan mendarat di bahunya. Sontak ia membeku. Gawat, ia lupa kalau ia sedang bersembunyi. Penguntit itu menemukannya. Demi apapun, penguntit itu menemukannya!
"Kyaa… lepaskan aku.. komohon lepaskan aku..!" Sakura memberontak dengan mata terkatup. Tangan yang tadi menepuk kini mencengkram kedua bahunya, lalu memutar tubuh Sakura 180 derajat.
"Oi, apa yang kau lakukan?"
Sakura terkisap. Suara ini familiar. Ia membuka mata dan menajamkan penglihatan.
"Uchiha Sasuke?! Apa-apaan kau?!" serunya antara kaget dan lega. Ia melirik kedua tangan besar Sasuke yang masih tertelungkup di kedua belah bahunya. Ia mengendik.
Pria itu mengangkat tangannya dari bahu Sakura. Ia merogoh saku celananya. Sakura memperhatikannya dengan bingung.
"Milikmu."
Mata Sakura membola, "Ponselku..!" Ia meraih benda di tangan Sasuke. Sakura ragu-ragu memandangnya, tak tahu harus mengatakan apa.
"Sasori memintaku."
Sakura menepuk dahi lebarnya. Bisa-bisanya ia melupakan benda sepenting itu. Untung pria ini mangantarkannya. Gh, tapi ia baru saja mengatakan jika ini permintaan kakaknya. Jangan bermimpi Sakura! berhentilah berharap yang tidak-tidak.
"A-arigatou.." Bisiknya.
"Aa." Tanpa berkata-kata lagi, Sasuke berbalik meninggalkan Sakura. Sakura menatap punggungnya yang menjauh. Ah, ia memang bukan tipe gentleman.
Sakura tertawa kecil. Mungkin ia harus merubah cara pandangnya terhadap pria itu. Di samping sikap dinginnya, setidaknya ia punya kepedulian. Yap, mulai besok ia akan melihat Sasuke sebagai orang yang bisa diajak berteman, seperti kakaknya. Buanglah jauh-jauh obsesi untuk mendapatkan lebih darinya. Hm, Sakura mengangguk untuk dirinya sendiri. Ia membulatkan tekad.
Dengan langkah ringan Sakura berjalan pulang.
.
.
Dari balik kaca mobil Sasuke mengawasi gadis bersurai merah muda itu masuk ke dalam gedung apartemen. Seringai kecil secara tak sadar menghiasi bibirnya. Ia menjalankan mobilnya setelah sang gadis telah benar-benar berada di dalam gedung.
.
.
Bersambung
.
.
Absurd. Oiya, saya bukan orang yang teliti. Mohon diingatkan kalau ada kesalahan..
Balasan review
Veronica & Nama saya yana: trims..ini udah apdet..
