Stand by Me

Naruto by Masashi Kisimoto

Saya hanya pinjam karakternya saja

Warning: AU, alur berantakan, ngalor-ngidul, DLDR, OOC, dan Typo

.

.

.

Itachi mengetuk-ngetukkan ujung telunjukanya ke permukaan meja. Ia butuh penyaluran. Urat-uratnya telah tengang karena menahan bosan. Menunggu lama bukan spesialisasinya. Tak masalah jika wanita cantik atau tambang emas yang membuat ia harus seperti ini. Tapi ini adik semata wayangnya! Sudah berapa kali Sasuke membuatnya begini? Mentang-mentang dengan kakak sendiri.

Sasuke akhirnya tiba di ruangannya dengan wajah datar tanpa guratan rasa bersalah. Hoi, setidaknya hargai kakakmu, dia bosnya disini…

"Ah, kupikir aku harus menunggu seabad lagi.." gurau Itachi.

Sasuke bersidekap, tak menanggapi ocehan kakaknya. Selalu begini, Itachi tahu betul adiknya jadi ia bisa terima.

"Apa lagi yang kau inginkan?" Pertanyaan itu meluncur dari mulut si bungsu.

Itachi menggaruk pipinya. Adiknya memang tak isa diajak basa-basi, persis sang ayah. "setidaknya, duduklah dulu.." Tawarnya.

"Aku tidak punya waktu."

Hhh.. percuma bermanis-manis padanya. Makan hati, "Kau tahu apa yang kumau."

"Tidak." Tolak Sasuke.

"Ayolah, Adik. Aku tahu kita memiliki obsesi yang sama." Itachi menatap tajam adiknya, "ajak Sakura bersamamu!"

Sasuke mendengus jengah, ia tidak suka diatur meski itu kakaknya, "kau membuang-buang waktuku, Kakak." Ia meletakkan map yang ia bawa ke meja Itachi, "Ini pesananmu, aku permisi." Begitulah Sasuke. Ia tak bisa didkte. Itachi pikir setelah setuju bekerja sama dalam proyek promosi Sakura, Sasuke akan bersikap kooperatif. Nyatanya, Sasuke tetap pada sikapnya yang seenaknya.

Meski Sasuke menolak, tapi ia telah menyiapkan sekenario cadangan. Ia pastikan adiknya dan Sakura dapat bertemu di gedung teater nanti. Ia mengirim Tayuya untuk memata-matai mereka.

Sebuah pesan singkat masuk.

'Semua beres, kita tinggal menunggu hasilnya.' –Tayuya.

Itachi tersenyum licik, "Selamat menikmati pertunjukkannya, Adik."

.

.

.

Subaru Levorge putih berhenti di parkiran sebuah gedung teater. Pria berparas tampan khas Uchiha keluar dari mobil elegan itu. Langkah tegapnya mengalun melewati pengunjung lain. Ketampanannya yang mencolok mengundang perhatian para wanita. Tak ada yang bisa mengalihkan pandangan jika telah terjerat pesona seorang Uchiha Sasuke. Objek yang menjadi pusat perhatian tak menaruh peduli. Ia bukan tipikal orang yang sudi membuang waktunya untuk melakukan hal sepele seperti beramah-tamah pada orang yang tak dikenal.

Begitu keberadaan Sasuke diendus media, kilatan cahaya kamera segera menyerbunya. Ini merupakan salah satu bagian yang ia tak suka. Namun apa daya, ini dunia yang digelutinya. Ia sutradara muda yang populer lantaran keterlibatannya dalam produksi Music Video idol group terkenal. Baru-baru ini drama televisi besutannya juga menuai pujian dari kritikus. Sosoknya tengah hangat diperbincangkan, tak heran jika media tak melewatkan kesempatan menulis berita tentangnya.

Beberapa selebritis, sineas, kritikus, dan pegiat seni hiburan juga terlihat berjalan memasuki gedung. Rupanya bukan Sasuke saja yang tertarik pada pementasan ini. Nama besar Masami memang sulit ditolak. Ia aktris legendaris yang meniti karir dari panggung teater. Sederet judul film dan drama panggung telah sukses dibintanginya. Ini merupakan pementasan setelah sekian lama Masami vakum dari panggung teater. Drama yang dipentaskan kali ini menjadi tambah istimewa lantaran ceritanya diadaptasi dari Mutter Courage und ihre Kinder (Mother Courage and Her Childern) garapan Bertolt Brencht.

Masami adalah inspirasi Sasuke. Kala ia kecil, ibu dan ayahnya mengajaknya menonton pementasan teater Masami. Dan abarakadabra! kepiawaian wanita cantik itu menyihirnya. Setelahnya, Sasuke tak pernah melewatkan setiap pementasan Masami.

"Uchiha-san, kami dengar Anda akan memimpin produksi drama terbaru Sakura-chan, apa itu benar?" beberapa wartawan mengerumuninya dan menyodorkan microphone tepat dihadapannya. Hal lain yang Sasuke benci dari dunianya. Wartawan infotainment selalu menyoroti hal sepele atau mengorek hal-hal yang akan diumumkan secara official di kemudian hari.

Belum sempat Sasuke memberi jawaban. Mata wartawan teralih pada sosok yang berjalan dari arah lobi. Gadis cantik bergaun merah yang baru saja memasuki gedung itu adalah magnet lain. Jika Sasuke dibombardir kerlingan para wanita, gadis itu adalah berlian idaman para pria. Dan yang lebih penting, ia merupakan gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka. Haruno Sakura. Senyum penuh radiasi terukir dibibirnya. Surai merah muda sebahunya ditata apik dengan ujung dibuat ikal. Tak ayal, kini baik kaum hawa maupun kaum adam telah memiliki tambatan perhatian masing-masing.

Sasuke mendengus. Gadis berkepribadian ganda itu lagi. Tapi minimal kemunculannya mengenyahkan gangguan wartawan-wartawan darinya. Saat mereka lengah karena Sakura, Sasuke menyelinap pergi.

.

.

.

Sasuke mendapat kursi VIP. Apa yang ia peroleh setimpal dengan biaya yang ia bayarkan. Ia mendapat pemandangan terbaik dari tempat duduknya. Panggung prosenium terpampang indah. Ia bersandar nyaman di sandaran kursi yang empuk. Tangannya ia julurkan di siku kursi. Punggung tangannya tanpa sengaja bersinggungan dengan tangan orang di sebelah.

Tangan yang tampak mungil itu ditarik pemiliknya, "Gomen.."

Spontan Sasuke melirik padanya. Bola mata zamrud adalah hal pertama yang membuatnya mengenali sosok di sebelah. Haruno Sakura.

Gadis itu terkejut melihatnya, "Uchiha-san." Sapanya kikuk setelah berhasil mengendalikan diri.

Gumaman khasnya menjawab sapaan Sakura. Jangan anggap ia tak sopan, karena memang demikianlah Uchiha Sasuke. Ngomong-ngomong di balik mimik datarnya, Sasuke terkesan dengan sikap Sakura saat ini. Gadis itu biasanya bersikap cukup kurang ajar dengan tak mengacuhkannya. Tapi baru saja ia terang-terangan menyapanya. Sasuke lekas menampik rasa penasaran yang bergolak. Ia tak mau ambil pusing. Kabar baik jika gadis itu mulai belajar sopan santun. Selebihnya ia enggan berpikir lebih jauh.

Sembari menanti pementasan dimulai, Sasuke membuka-buka buklet. Ia meneliti nama-nama para pemeran. Pada urutan pertama ia menemukan Masami yang memerankan Canteen Anna. Tentu, sebab pementasan ini didedikasikan untuknya.

"Uchiha-san pengemar Masami?" Makhluk pink di sampingnya bersuara.

"Hn." Ia terlalu asyik melihat-lihat buklet hingga mengabaikan sebuah kejadian cukup ajaib, bahwa yang menanyainya adalah Haruno Sakura.

"Aku juga penggemar berat Masami." Bola mata zamrud Sakura berbinar menatap panggung, "Ini pertama kali aku melihat pementasan teater-nya secara langsung. Biasanya aku hanya bisa melihat aktingnya lewat film. "

Tangan Sasuke yang membolak-balik halaman buklet terhenti. Ia baru menyadari, Sakura bicara padanya. Ia menoleh ke samping. Dari posisinya, Sasuke dapat melihat fitur wajah Sakura. Hidung mungilnya, bola mata hijaunya yang cerah, dan jangan lupakan bibir yang tidak begitu tipis namun melekat indah berharmoni dengan unsur lain di wajahnya.

Sakura tak sadar seseorang tengah memperhatikannya, "Ya Tuhan.. tak kusangka… Kita punya selera yang sama." Ucapnya dengan kedua belah bibir tertaik ke atas.

Sasuke terpana. Pikirannya mau tak mau kembali terusik oleh pertanyaan: Mengapa gadis ini menjauhinya? Seingatnya, Sakura dulu menyukainya. Ia ingat bocah manis dan menggemaskan tapi menyebalkan berrambut pink yang tiada henti mencari perhatiannya. Sasuke tak bisa berbohong jika ia suka bocah itu. Terutama karena ia mengingatkannya pada Masami. Ya, Sakura berhasil menjeratnya. Bukan hanya karena ia manis, tetapi karena Sakura cilik ibarat Masami versi mini, pandai bermain seni peran.

Sasuke remaja memenuhi keinginan kakeknya untuk melanjutkan sekolah menengah atasnya di Konoha. Rumah kakeknya luas, khas hunian bangsawan Jepang masa lalu. Namun, rumah seluas itu hanya dihuni kakeknya dan dua orang pelayan. Salah seorang pelayan pernah berujar, anak-anak kecil di sekitar rumah takut pada Uchiha Madara –kakek Sasuke, karena pembawaannya yang kaku dan terkesan kurang ramah. Namun ada satu gadis cilik setiap hari datang berkunjung. Gadis itu datang untuk melihat kaligrafi buatan sang kakek. Kadang ia seharian menemani kakek bermain karuta. Pelayan itu menambahkan, gadis itu sudah seperti cucu sendiri bagi kakeknya.

Perkenalan mereka terjadi melalui perantara kakek Madara tentu saja. Kakek menantangnya untuk mengalahkan permainan karuta Sakura. Tentu bukan hal sulit. Gadis itu pemula, sementara Sasuke mengenal karuta sejak balita. Namun gadis itu cukup gigih rupanya. Sasuke harus kehilangan lima kartu karena bocah ingusan itu. Pipi chubby-nya yang menggembung saat dinyatakan kalah sangat menggemaskan. Tapi itu tak cukup untuk membuat Uchiha Sasuke meliriknya. Terlebih di kemudian hari gadis itu kian menyebalkan dengan sikapnya yang manja.

Ketertarikan Sasuke tumbuh saat melihat penampilan Sakura di pementasan drama festival tahu baru Konoha. Sakura mengaktualisasikan dua karakter berbeda dalam satu cerita dengan sangat brilian. Sasuke tak berhenti bertanya, bagaimana gadis itu melakukannya?

"Kau lihat itu Adik? Dia hebat. Dia bisa jadi bintang besar jika kita membawanya ke Tokyo." Itachi menyuarakan pendapatnya. Kakaknya yang sedang berlibur itu sama sepertinya, sulit terkesan. Pujian dari Uchiha bersaudara adalah barang mahal. Sakura beruntung mendapatkannya.

"Sakura-chan memang berbakat. Ia bintang di kelompok drama sekolahnya." Seorang pelayan yang mengantar mereka menonton festival menginformasikan.

"Oh ya? menarik sekali. Aku bisa lihat, dia alami, unik, dan otentik." Demikian penilaian Itachi.

Sedangkan Sasuke tak megeluarkan sepatah kata pun. Hanya saja matanya belum dapat teralihkan dari objek merah muda yang berdiri di atas panggung. Untuk membuktikan ucapan sang pelayan, Sasuke meminjam dokumentasi pementasan kelompok drama sekolah Sakura. Dan ya, Sasuke melihat penampilan Sakura yang konsisten. Ia mengakui bahwa kemampuan gadis itu di atas rata-rata. Yang tak Sasuke pahami adalah, entah mengapa Sakura begitu mengingatkannya pada Masami. Karena bakat alami merekakah? Boleh jadi. Tapi Sasuke tak seratus persen yakin.

"Sasuke-kun, ayah mendaftarkanku ke sebuah sekolah di Tokyo." Sakura mengabarkan rencana kepindahannya. Bagi Sasuke itu kabar baik. Ia bisa mengabari Itachi, dan kakaknya tidak akan berpikir dua kali untuk merekrut Sakura dalam agensi-nya. Tapi sepertinya gadis itu merasa berat meninggalkan Konoha.

"Sasuke-kun.." suara Sakura bergetar menahan isakan. Ia tak rela jika harus meninggalkan Sasuke.

"Enyah dari hadapanku!" Hanya itu yang terpikirkan oleh Sasuke agar Sakura tak lagi berat hati berangkat ke Tokyo. Konoha bukan lingkungan yang tepat bagi lebih bisa memberi bakatnya ruang dan kesempatan untuk berkembang.

"Dia ada di Tokyo Kakak." Sasuke menelepon Itachi.

"Siapa?" Itachi kakak kandung Sasuke. Tapi ia pun kadang sulit menangkap maksud gaya bicara Sasuke yang seringkali tanpa prolog itu.

"Sakura."

"Sakura?"

"Haruno Sakura. Gadis drama di festival tahun baru."

"Ah, benarkah? Bagus sekali. Kau tahu dimana dia tinggal?"

Sialnya tidak. Sasuke tak tahu apa-apa selain gadis itu pindah ke Tokyo untuk melanjutkan sekolah menengah. Ayolah, Tokyo itu luas. Tidak mudah menemukan gadis bernama Sakura di tengah lautan manusia di kawasan Tokyo.

Saat Sasuke memperoleh informasi dimana Sakura tinggal, ia telah debut sebagai member grup idola. Sayangnya, grup idola tempat Sakura bernaung, tidak cukup menyokong potensinya. Menurut pandangan Sasuke, grup itu tak cukup baik untuk Sakura. Dan ia tak suka gadis itu terkontaminasi kultur dunia idola masa kini, terutama budaya gravure idol yang mulai menjamur. Sasuke tak rela jika Sakura mencari fans dengan mengemas diri menjadi model bikini. Tidak, karena ia bisa mendapatkannya dengan cara yang lebih 'terhormat'.

Di tengah usahanya mewujudkan cita-cita menjadi sutradara, Sasuke menyempatkan diri untuk mengikuti perkembangan Sakura. Ia melihat perubahan pada gadis itu. Tampaknya menejemen me-setting image Sakura sebagai cute baka-idol, idola cute yang agak bodoh. Imej yang sangat tidak Sasuke sukai dan justru mengubur pesona Sakura yang sebenarnya.

"Sakura sudah tanda tangan kontrak. Mulai hari ini ia resmi berada dibawah UFE." Kabar baik dari Itachi. Sasuke lega mendengarnya. Setidaknya ia percaya kakaknya akan mengupayakan yang terbaik untuk Sakura. Setelah ini ia tak ragu lai untuk lepas tangan. Ia bisa berkonsentrasi pada usahanya menjadi sutradara.

Namun kekecewaan tak dapat Sasuke tampik. Ketika kembali ke Tokyo, ia mendapati Sakura masih bertahan di grup. Apa saja yang dilakukan Itachi? Ia berharap gadis itu hengkang dan memulai karir akting, bukan menjadi idola di grup yang tak memberi kejelasan masa depan. Pelaku bisnis hiburan tahu, industri idola Jepang masa kini keras dan penuh delusi. Tak peduli kau punya suara emas jika kau tak kunjung bisa meraih simpati fans dan menejemen, kau takkan punya masa depan di grup. Maka Sasuke menyimpulkan, bergabung dalam grup idola hanya membuang waktu dan tenaga.

Puncak kekesalan Sasuke adalah ketika ia menyaksikan Sakura muncul di sebuah drama televisi tengah malam produksi menejemen grupnya. Awful! Penampilannya kacau. Sungguh berbeda dengan akting yang ditunjukkannya saat di Konoha. mulai dari situ Sasuke memutuskan untuk melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri. Persetan dengan kakaknya yang menyebutnya obsesif.

Jika melihat ke belakang seperti ini, Sasuke belum jua menemukan alasan pasti mengapa Sakura menjauhinya. Tapi sisi angkuhya berpaling. Apa pedulinya? Ia tidak punya urusan dengan Sakura kecuali perihal obsesinya untuk menjadikannya aktris setingkat Masami. Jadi bukan masalah jika di luar itu hubungan mereka tak baik. Tentang bagaimana mewujudkannya, Sasuke tak mau berpusing-pusing dengan melibatkan hal-hal yang tidak relevan. Ia memantapkan diri jika ia tak punya perasaan lebih, atau mungkin belum?

"Jadi sejak kapan Uchiha-san menyukai Masami?"

Suara Sakura menyadarkan Sasuke dari kemelut batinnya. Butuh beberapa detik bagi Sasuke –yang baru saja lepas dari alam lamunan- untuk menyampaikan pertanyaan Sakura ke sistem penjawab di sisi kiri otaknya. Alis Sasuke terangkat sebelah. Sakura benar-benar tengah beramah-tamah padanya? Apa ini karena ia mengembalikan ponselnya tempo hari? Malam itu Sasori yang memintanya. Tidak lebih. Well, ia tidak bisa mendustai diri sendiri. Nalurinya juga terlibat waktu itu. Sebuah teori lama menyebutkan, tak baik membiarkan seorang gadis pulang sendirian di tengah malam. Biasa, pride pria.

"Uchiha-san?"

"Sejak kapan kau memanggilku seformal itu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja.

"Eh?" Mimik Sakura seolah berkata 'apa aku tidak salah dengar?'

"Lupakan." Itu tadi di luar kontrol dirinya. Sasuke perlu meredam diri. Oh, lihatlah.. kau menyebut Sakura berkepribadian ganda dan ternyata kau pun tak berbeda darinya.

Suasana berubah canggung. Sakura tidak lagi bersuara. Untunglah pementasan akhirnya dimulai. Lampu-lampu di daerah penonton dimatikan. Semua mata fokus ke panggung. Sebuah gerobak kantin berada di tengah panggung dengan Masami berdiri di sampingnya. Mutter Courage berkisah tentang seorang wanita yang berprofesi sebagai penjaja makanan dan minuman keras bagi serdadu perang. Ia menyambung hidup melalaui perang, perang memberinya kehidupan. Tapi perang pulalah yang kemudian merenggut kehidupan ketiga anaknya.

Sesuai ekspektasi, Masami berhasil menghidupkan tokoh Canteen Anna dengan gemilang. Sasuke sangat menikmati apa yang ia saksikan. Pengadaptasian naskah juga terhitung sukses. Sasuke dapat merasakan efek aleniasi yang menjadi khas dari drama ini. Melihat drama ini tak akan membuat orang berempati pada tokoh-tokohnya. Tidak. Drama ini bukan kisah tragedi sentimentil ala Yunani kuno yang menampilkan pahlawan-pahlawan berhati mulia. Tapi kisah ini akan membuat orang berpikir betapa dahsyatnya sebuah peperangan, dan darinya akan muncul pengatahuan: ide-ide tentang kebajikan takkan dihargai kala jiwa manusia telah rusak. Sasuke puas. Ia seperti baru saja menikmati anggur kualitas prima.

"Kirei.."

Sasuke kambali melirik Sakura. Kekaguman terpancar dari raut wajah ayunya. Senyum tulus terukir di bibir merah mudanya.

"Pementasan hebat bukan?"

"Um." Gadis itu masih belum berhenti bertepuk tangan. "Masami luar biasa..!"

"Kau ingin menjadi sepertinya?

"Tentu."

"Kalau begitu, besok beraktinglah dengan sungguh-sungguh karena masa depanmu ada di tanganku." Sasuke bangkit dari tempat duduknya. Ia beranjak keluar.

Sakura tertegun sesaat sebelum mengejar Sasuke. "Apa maksudmu, Uchiha-san?" Tanyanya saat berhasil mensejajari langkah Sasuke.

"Direktur membuat proyek promosi untukmu. Jika kau setengah-setengah, jangan mimipi bisa menjadi seperti Masami."

Sakura masih memasang ekspresi terperangahnya.

"Sakura-chan.." Tayuya menghampiri mereka. "Ah, ada Uchiha-san juga." Wanita itu menyapa Sasuke.

"Ah, Tayuya-san kemana saja sih?"

"Maaf, Sakura-chan. Seseorang memintaku bertukar kursi. Ia bilang ia sangat ingin mendapat kursi VIP. Karena tak tega aku berikan saja tiketku untuknya."

"Huh.. kenapa tidak bilang-bilang.."Keluh Sakura.

Tayuya tersenyum tawar sambil menggaruk pipi, " Oh iya, sekali lagi maaf ya, Sakura-chan. aku tak bisa mengantarmu pulang. Ada urusan mendadak." Ia melirik Sasuke, "Ah, Uchiha-san aku mohon bantuannya.."

Sasuke tahu maksud Tayuya. Mata tajamnya berkilat curiga. Ada semburat ketidakberesan dalam getar suara Tayuya. Mungkinkah wanita itu berdusta?

"Hn." Tapi lagi-lagi sisi lain dirinya memegang kendali. Uchiha Sasuke tak bisa membiarkan Haruno Sakura pulang sendirian.

.

.

.

Tayuya berbalik. Senyum miring tercetak mutlak di wajahnya. Pesan singkat ia kirimkan untuk Itachi.

.

.

.

'misi sukses.' –Tayuya.

"Wohoo!"

"Kau baik-baik saja, Sayang?" Konan melongok dari kamar mandi.

Itachi tergeragap. "Ah, aku baik-baik saja." Ia segera menyingkirkan ponselnya. Istrinya yang telah selesai mandi, ikut berbaring di ranjang bersamanya.

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Konan memincingkan matanya.

"Ini hanya masalah kantor. Kau tak perlu risau. Bagiku cukup satu wanita, dan itu kau." Itachi memerangkap Konan dalam kungkuan lengannya.

.

.

.

Bersambung

A/N:

Gh.. aku gak puas dengan chapter ini. Piye toh? Campur aduk soalnya. Sempet hilang konsen gara-gara kemaren dua author favorit aku memutuskan retire dari FFN. Sedihnya.. berapa hari ini aku mojok sambil ngitungin semut #lebay!

Oh iya, aku gak bermaksud memberi pandangan negatif tentang idol group Jepang. Disini aku cuma menggambarkan pandangan Sasuke pada grup tertentu. Aku ngambilnya dari pendapat beberapa orang pada grup jua tertentu sih (yang biasa mantengin idol grup pasti tau lah..). Lagian format idol group kan beda-beda.

Kalo gravure itu artinya beauty shoot, semacam photoshoot yang sexy gitu.. kadang pake bikini, lingerie, dll, yang jelas tidak masuk kategori pornografi, katanya. Setahuku idol grup sebenernya nggak mengharuskan membernya buat jadi model gravure kok. Itu tergantung idolnya sendiri maunya gimana. Gravure Cuma salah satu cara biar idol makin eksis dan dikenal orang. Dan gak semua idol grup menganjurkan membernya buat berbikini ria kok. Contohnya IG favorit aku.. tuing..tuing..

Karuta itu permainan kartu ala jepang. Kartunya itu isinya potongan puisi. Dimainkan setidaknya tiga orang. Dua tanding, satu baca puisi. Yang pernah nonton anime Chihayafuru pasti tahu. Kalo belum jelas di-gugel aja ya. trims udah baca. Makasih juga buat yang ng-reviewnya kemaren. Buat Nama Saya Yana makasih support-nya. kalo ada yang janggal dan ga enak dibaca bilang aja ya. jangan sungkan. Luv yu all muah..#plak!