-Poéme-

Cho Kyuhyun & Lee Sungmin

Rated : M

Romance/Hurt

(YAOI)

This story is wholly MINE

Do not Bash/Flam or Plagiarism!


Satu minggu yang melelahkan untuk Sungmin, saat Kyuhyun mengiriminya pesan pertama semenjak pertunangan mereka berakhir, Sungmin tahu dia tidak bercanda untuk mendapatkannya kembali.

Sungmin sungguh tidak siap dengan semua pesan, dering telepon, e-mail ataupun voice mail, semuanya penuh dengan 'aku menyesal dan minta maaf' ataupun janji satu minggu yang lalu seperti 'Aku akan berusaha untuk serius'. Sebenarnya Sungmin masih mempertanyakan darimana Cho Kyuhyun mendapat nomor ponselnya.

Tidak cukup dengan semua notifikasi gadget miliknya, Kyuhyun juga mendatangi ruangan kerjanya dikantor, tidak memberikan pilihan apapun pada Sungmin selain berlindung di toilet dan meminta bantuan Hyukjae.

Kamar kosong dilantai bawah menjadi tempat penyimpanan semenjak semua buket keranjang bunga juga puluhan hadiah pinkyes ataupun bunny yang Kyuhyun kirimkan mempunyai satu kartu ucapan berisi kalimat puitis tentang bagaimana Kyuhyun begitu menyesal dan merindukannya. Sungmin sempat pada keheranannya mengingat Kyuhyun tidak pintar dalam hal romantis, tapi karena belum ada kalimat 'aku mencintaimu' Sungmin mengabaikannya.

Lagi pula cara yang terakhir adalah yang paling menjengkelkan. Sungmin bukan perempuan, seharusnya Kyuhyun tidak perlu memberi bunga.

Ting Tong

'Bel menyebalkan itu lagi!'

Cklek

"Kali ini bunga atau hadiah?"

Postman itu tersenyum ramah, "Hadiah."

"Oh Tuhan!"

"Kalau begitu silahkan tanda tangan disini."

"Kau bosan tidak? Satu minggu ini kau selalu datang kerumahku.."

"Haha.. Jujur aku sangat ingin mengunjungi rumah yang lain."

Sungmin mendengus. "Lihatlah, bahkan kau saja merasa bosan, aku heran kenapa dia tidak bosan juga."

"Mungkin anda orang yang istimewa?"

Sungmin tersenyum sebelum menutup pintu. "Semoga tebakanmu menjadi yang beruntung."


"Mesin seks, dia selalu menyebutmu seperti itu didepanku.. Tidak bisakah kau ceritakan apa yang terjadi?"

Kyuhyun memutar bola matanya, Teman kecilnya ini sama sekali tak membantu di dua jam terakhir. Mereka membahas ini diruangan Kyuhyun, bagaimana tuan muda Cho itu terlihat frustasi dengan semua isi pikirannya.

"Demi tuhan Hyukjae, aku muak menceritakan hal yang sama berulang kali!"

"Baik, jadi dongeng pangeran yang kesepian itu sungguhan?"

Kyuhyun menggeram. Tampang sok polos Hyukjae menyakiti harga dirinya. "Baik Cho.. Katakanlah aku bodoh karena sangat amat tidak mengerti alur kisah menyedihkanmu itu, maksudku.. bagaimana kronologi kematian Nae un-mu, rasa frustasi, pertunangan menyebalkan, serta mengacuhkan Sungmin bisa menjadi satu?"

"Aku tertekan, kematian Nae un sangat dekat dengan jarak pertunangan itu. Aku tidak bisa menebak perasaanku sendiri."

"Bukan salahku melewatkan kisah cintamu dan Nae un selama aku di Paris."

"Itu sebabnya kau tidak akan mengerti."

"Yeah.. Aku tidak mengerti bagaimana bisa rasa frustasi itu membawamu meniduri wanita dan menerima pertunangan itu disaat yang bersamaan."

"Aku tidak bisa mengendalikan diriku."

"Lalu kenapa kau berbohong pada Sungmin?"

Kyuhyun diam, semua kilasan buruk itu berputar dikepalanya. Malam itu hujan, wanita sialan bernama Seo Jo Hyun itu memasukan peransang diminumannya. Kyuhyun seharusnya masih bisa tetap terjaga dengan kadar alkhohol Wine tapi tidak setelah jalang itu menukar minumannya.

Tubuh brengseknya malah membawa Seohyun menuju apartemen, bukan kearah Hills Hotel yang hanya berjarak tiga bangunan dari bar. Kyuhyun merasa kesadarannya hampir tercabut saat wanita itu menciumi dadanya sebelum tamparan Sungmin membawa Kyuhyun kembali.

Jantungnya terasa berhenti dengan tidak adanya spekulasi Sungmin akan ada di apartemen. Kyuhyun lupa hal penting, Sungmin takut akan suara petir. Mungkin itu yang memancing dirinya mendatangi apartemen Kyuhyun dimalam hujan deras.

"Sudah sadar?"

"Huh?"

"Kau sudah sadar dimana letak kesalahanmu?"

Kyuhyun mengangguk lemah. "Aku pantas mendapatkan ini, seharusnya Sungmin memukuliku saat itu."

"Mungkin kau tidak salah saat memilih meniduri wanita saat diawal kematian Nae un, tapi tidak saat Sungmin telah disampingmu. Kau mengacaukan semuanya Kyuhyun, bagaimana bisa kau berjanji akan serius pada pertunangan kalian sedang kau masih meniduri para jalang diluar sana?"

"Aku berhenti Hyuk, aku berhenti semenjak Sungmin hadir. Saat aku bilang aku akan lebih serius aku butuh memikirkan bagaimana masa depanku setelah itu. Aku hanya ingin sedikit lebih tenang dengan alkhohol saat jalang itu memanfaatkannya."

Kyuhyun melirih. "Demi tuhan Hyuk.. Aku sungguh tak ingin menyakitinya."

Kyuhyun menyandarkan kepalanya ke sofa, pikirannya seolah diperas kuat saat penyesalan itu datang bertubi-bertubi. Dirinya terasa bodoh dengan luka untuk Sungmin.

"Menurutmu apa dia akan memaafkanku?"

"Aku tidak tahu tentang itu.. Ada banyak ketulusan didalam dirimu Kyuhyun, hanya saja mungkin semua rasa tulus itu belum siap. Aku harap kau bisa melihat lebih jelas."

Hyukjae duduk disofa, menyandarkan punggungnya lebih rileks. "Sebelum aku menawarkan bantuan.. aku harus tahu satu hal."

Kyuhyun menaikan alis. "Apa?"

"Apa kau benar-benar menginginkan Sungmin kembali karena mencintainya atau merasa bersalah?"

"Aku bahkan tidak pernah seperti ini pada Nae un.."

"Dan semua perasaanmu untuk Nae un hanya karena bersalah telah membuatnya mati bunuh diri karena penolakanmu untuk menikahinya. Aku hanya bertanya hal sederhana tentang perasaanmu untuk Sungmin."

Rasa panas menyengat mata Kyuhyun. "Aku benar-benar mencintainya.. lima bulan terakhir seperti dineraka.. aku tertekan dengan semua rasa penyesalan dan rasa cintaku untuknya tanpa bisa menemuinya."

"Jadi lima bulan di Dubai bukan untuk melarikan diri?"

"Tentu saja bukan, perusahaan disana kacau setelah orang tuaku meninggal, butuh waktu lama sebelum aku bisa kembali ke Seoul dan bertemu Sungmin."

Kyuhyun menghapus air matanya. "Aku mencintainya, demi tuhan aku mencintainya tanpa bisa berpikir bagaimana aku bernapas tanpa Sungmin."

"Hyung, kumohon bantulah aku.."

Hyukjae tersenyum. "Aku akan memberi satu kesempatan untuk kau berbicara dengannya."

Setelahnya Hyukjae berdiri dengan ponselnya.

"Halo Hae? Kau sibuk tidak?"


"Kau benar-benar tidak tertarik memikirkan ulang ide dariku?"

"Apa itu juga bukan erotika?"

"Ya Tuhan…"

Donghae bangkit dari kursinya menuju mesin kopi, matanya terasa berat untuk terbuka. Saat Sungmin mengalihkan pandangannya mengikuti, Donghae meringis dan memegangi perutnya.

"Kau baik-baik saja?" Sungmin bertanya.

Donghae mengangguk, tapi saat mengambil langkah kedepan Donghae terkesiap dan terjatuh ke lantai.

"Donghae!" Sungmin menjerit, bersegera memapah Donghae yang masih memegangi perutnya. Dengan kalut Sungmin berputar ke meja Donghae, menekan tombol satu ditelepon.

"Iya tuan?"

"Siapkan mobil! Donghae maksudku.. Tuan Lee kesakitan! Kita harus membawanya kerumah sakit" Suara Sungmin bergetar.

"Baik!"

Dengan penuh kekhawatiran, Sungmin memapah Donghae ke sofa. "Ya Tuhan.. Dimana yang sakit?"

"Perutku.." Lirihnya, "S-sepertinya radang ususku kambuh."

"Dimana kotak obatnya?!"

Donghae meringis. "Aku tidak menyimpan benda seperti itu."

Ekspresi Sungmin memucat ketakutan. "Aku mohon Donghae bertahanlah…"

Saat pintu ruangan terbuka, Sungmin merasakan aliran darahnya cukup menenang, dua orang bertubuh besar memapah Donghae menuju Lift dan turun ke basement parkiran.

Mereka sampai di mobil, dengan Sungmin yang duduk gelisah dikursi penumpang bagian depan. Kepalanya tak berhenti menoleh memeriksa Donghae yang terbaring di jock belakang.

Sungmin ketakutan, dia tak pernah dibiarkan memilih oleh Tuhan untuk tidak mempunyai rasa simpati dan kasih sayang seberlebihan ini terhadap orang asing sekalipun. Tangannya akan terus bergetar sebelum Donghae memasuki ICU dan mendapat pertolongan.


Tap Tap Tap

"Hah.. Hah.. Dimana Donghae?!"

Sungmin mendongak, matanya yang kelelahan mendapati seseorang berdiri terengah di depannya. "D-dia masih didalam."

Orang itu ikut duduk dikursi tunggu, tepat disebelah Sungmin.

"Bagaimana bisa?"

"Aku tidak tahu, dia hanya meminum kopi-nya dan semuanya terjadi begitu saja."

"Aku yakin kebiasaan mengkonsumsi makanan instan itu belum dia tinggalkan."

Sungmin hanya mengangguk lemah, persendiannya masih terasa lemas, terlebih lagi dia sangat ingin bertanya bagaimana bisa orang disebelahnya ini mengenal Donghae.

"Aku tidak tahu rasa simpati dan empati-mu masih sebesar dulu."

"…."

Percakapan kecil itu selesai dalam diam, orang itu mengutuk dirinya yang tidak pandai dalam berbasa-basi kecil seperti 'apa kabar' atau 'selamat siang, bagaimana harimu?', menyerapahi semua kecanggungan dan sepinya lorong rumah sakit, orang itu berharap pintu bertuliskan EMERGENCY itu segera terbuka.

Bingo! Pintu ruang ICU terbuka.

"Radang usus, mungkin Donghae-ssi mengkonsumsi makanan yang menyebabkan ususnya infeksi, dia akan dipindahkan keruang rawat."

"Ya Tuhan, syukurlah.." Guman Sungmin, dia tersenyum seraya berterima kasih.

"Diantara kalian siapa yang mengurus administrasi?"

"Aku."

"Keluarganya?"

"Bukan, aku Cho Kyuhyun. Teman baiknya."

"Silahkan ikut aku."

Sungmin diam ditempatnya, orang itu adalah dia, seharusnya takdir tidak serumit ini untuk terus mempertemukannya dengan Kyuhyun. Seseorang yang penting di impian Sungmin adalah sahabat baik dari mantan tuangannya.

'Lucu sekali hidupku' Sungmin mendengus dalam hati.


"Aku akan mengantarmu." Kyuhyun menawarkan.

Mereka didalam ruang rawat selama lima belas menit dengan kecanggungan luar biasa, tidak ada yang berbicara kecuali gerutuan Donghae, Pria itu sangat menyebalkan dengan semua pertanyaannya mengenai masa lalu Sungmin dan Kyuhyun. Dan mantan pasangan itu ditendang keluar dengan paksa saat tusukan ucapan ketus dari Donghae 'Aku tidak suka dengan kecanggungan, kalau tidak mau membuat lelucon kenapa tidak pulang saja?'

"Well, Karena ini weekend aku rasa jalanan akan penuh, dan akan sangat dingin menunggu bis malam di pertengahan oktober. Jadi yahh.."

"Kalau begitu ayo." Kyuhyun mengulurkan tangannya, Sungmin menatap dengan hati-hati.

Kyuhyun tidak ingin berdebat lebih lama dengan hatinya ataupun Sungmin, karena itu dia mengaitkan jemari mereka. Ada sengatan listrik kecil disepanjang garis tangannya, tapi Kyuhyun tidak mau melepaskan ini, dengan genggaman yang semakin erat mereka berjalan ke parkiran.

Kyuhyun melangkah dengan ceria. Dia memiliki kesempatan untuk bersama Sungmin malam ini, dan Kyuhyun telah berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Sungmin melihat kebenaran yang paling akhir.

Rintikan salju kecil menutupi mereka saat berlari masuk kemobil, Sungmin menggosokan tangannya mencari kehangatan.

"Kau ingin makan tidak?"

"Huh?"

Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya. "Operasi kecil itu membutuhkan waktu lima jam, jika tebakanku benar, terakhir kau makan adalah sarapan di cafetaria."

"Oh.. Aku punya seorang Stalker sekarang.."

Tubuh Kyuhyun bergetar saat Sungmin menyilangkan tangannya di dada. "Dan Stalker aneh itu lupa kalau dia bersamaku sejak lima jam yang lalu."

Dahi Kyuhyun berkerut "Apa artinya itu?"

"Artinya kau juga seharusnya makan."

"Mungkin aku akan makan jika kau mau makan bersamaku."

Sungmin tahu dia harus setuju dengan tawaran itu, Kyuhyun sangat berusaha untuk ini, jahat sekali kalau dia menolak rona merah dipipi pucat itu.

Dia tersenyum, Kyuhyun yang terlihat kikuk selalu manis. "Kau yang memaksa, aku tidak mau gaji-ku dipotong karena tagihan makanannya oke?"

Kyuhyun tersenyum sumringah. "Pesan apapun, tinggalkan urusan tagihan itu padaku."


Perjalanan menuju rumah Sungmin penuh dengan keheningan kecuali radio yang terdengar samar tentang ramalan cuaca, beberapa belokan sampai ban mobil Kyuhyun berhenti di depan rumah sederhana yang terlihat manis dengan pagar putihnya.

Sungmin hampir turun setelah mengucapkan terima kasih sebelum Kyuhyun berputar dari kursi kemudinya kedepan pintu mobil disebelahnya, tidak mempedulikan helaian ikalnya dijatuhi serpihan putih.

"Aku bukan seorang gadis yang akan tersanjung." Bohong, bahkan hatinya bergetar karena tersanjung.

"Aku hanya mencoba menjadi seseorang yang kau inginkan."

Sungmin tersenyum dan turun, berdiri berhadapan dengan Kyuhyun. Tinggi badan yang jauh berbeda mungkin akan sulit untuk tetap saling menatap sejajar mata masing-masing, satu ingatan tentang bagaimana Kyuhyun pernah memuji tingginya. 'Tinggimu cocok denganku, bukankah kita pasangan yang sangat manis?' Sungmin harus kembali kedunianya sebelum ada ciuman di tengah romantic rintik salju.

"Terimakasih.."

Dada Kyuhyun bergetar pada kenyataan membiarkan Sungmin menjauh satu langkah, dia tidak ingin kehilangan kesempatan lagi saat hatinya berteriak untuk meraih bahu itu menghadapnya. Mereka telah berbincang banyak hal hingga Kyuhyun takut akan kembali keneraka-nya jika dia dan Sungmin tidak kembali bersama.

"Tunggu!"

'Ya Tuhan..' Kyuhyun hampir bersorak saat Sungmin berbalik, dia mendekat sampai tangannya mencapai tangan mungil Sungmin.

"Kau harus tau aku satu hal.." Kyuhyun menarik nafas. "Aku merindukanmu, jauh sebelum aku sangat ingin bersujud minta maaf dikakimu aku sangat merindukanmu."

Sungmin membeku, hatinya juga. Jika Sungmin diijinkan untuk membongkar setiap lembaran kertas dan novel yang selama ini dia tulis, Sungmin akan menunjukan setiap rantai kalimatnya pada Kyuhyun agar pemuda itu tahu bagaimana Sungmin hampir mati menahan semua rasa cinta juga rindunya untuk Kyuhyun.

Sungmin menuliskan semua karyanya dengan kisah dari penggalan hubungan pertuangan mereka hingga ia menangis ditengah malam sebelum terlelap. Dia berusaha selalu kuat didepan mereka semua agar tidak ada seorangpun yang akan memberitahu Sungmin begitu rapuh untuk semua rasa sakitnya.

Dia merindukan Kyuhyun, ingin Kyuhyun, mendengar suara Kyuhyun, dan memeluk Kyuhyun, sebuah dunia yang penuh dengan Kyuhyun jauh dibalik semua imajinasinya. Sungmin menulis untuk kebahagiannya sebelum tujuannya menulis berputar saat Kyuhyun pergi.

Dia… ingin menuliskan dunianya sendiri dengan semua goresan kisah nyata-nya bersama Kyuhyun dengan semua akhir berbeda. Memiliki rasa sakitnya dikenyataan, biarkan Sungmin setidaknya tenggelam dalam harapannya bersama selepak novel impian pupusnya.

"Aku harus masuk."

"Tidak Sungmin! Kau harus mendengarkanku kali ini!." Kyuhyun tidak dalam kesadaran utuhnya saat membentak.

"Apa lagi?!"

"Aku sudah minta maaf dengan ratusan cara berbeda Sungmin, tidak bisakah kau melihatnya?"

"Dan jika kau lupa, aku sudah tersakiti dengan ribuan cara berbeda juga."

Kyuhyun menggeram. "Aku tidak meniduri wanita itu!."

"Memang tidak, tapi kau akan seandainya aku tidak disana untuk menamparmu!"

"Minumannya Sungmin, wanita sialan itu menukar minumanku. Kau tau aku sangat tertekan dengan semua komitmen itu, harusnya kau mengerti bagaimana posisiku."

Sungmin mendengus marah. "Oh ya? Lalu kapan kau akan mengerti aku?"

"Kumohon… Kumohon, jangan berdebat dengan hal ini lagi.."

"Kau yang memancingku!" Teriak Sungmin emosi.

"Kau dengan semua kisahmu itu menyakitiku Kyuhyun, aku tidak bisa untuk lebih paham saat tentang bagaimana Nae un meninggalkanmu dan melarikan diri dengan pertunangan kita.. Mungkin aku dan Nae un adalah sosok yang sama dengan semua ketidak pastianmu.. Aku tidak menyalahkanmu tentang kematian sosok yang kau cintai itu, tapi ayolah.. Semuanya sangat brengsek."

Kyuhyun diam tapi matanya tidak lepas dari Sungmin. Kepulan uap kecil dari pernapasan mereka menjadi pengisi hening.

"Aku tidak mencintai Nae un."

"…"

"Aku gay Sungmin, dari aku lahir. Apa kau tidak pernah memikirkan sedikitpun kenapa aku tidak jijik dengan semua hubungan kita?"

Sungmin terengah, matanya terasa pusing di hawa dingin dan satu kebenaran terakhir yang akan dia dengar.

"Aku sadar saat aku menyukai sahabat laki-laki ku di Junior High School, Aku marah pada diriku dan kelainanku, hingga saat kelas tiga teman-temanku mengajakku untuk bermain dengan salah satu gadis dikelasku. Dia adalah Nae un."

Kyuhyun memalingkan wajah saat air mata menusuk matanya.

"Setidaknya dengan semua kenikmatan itu aku terbebas. Dan saat itu aku memutuskan untuk memacari Nae un, menidurinya juga."

"K-Kyuhyun.."

"Kami berhubungan selama 3 tahun, tapi Nae un tidak pernah tahu tentang aku yang tidak mencintainya. Sampai hari diumurku yang ke-21 dia memintaku menikahinya, dan aku menolak tentu saja, sejak saat itu dia mencurigai-ku dan akhirnya dia memergokiku meniduri seorang wanita."

"Kau benar-benar.." Mulut Sungmin terbuka dalam hening.

"Ayolah.. Aku melakukannya untuk membebaskan rasa frustasiku Sungmin.. Nae un berbohong tentang dia yang hamil dan memaksaku menikahinya, awalnya aku bingung karena sebelumnya kami selalu memakai pengaman, tapi akhirnya aku percaya saat dia bilang aku pernah menidurinya dalam keadaan mabuk tanpa pengaman."

"Kau tetap menolak menikahinya?"

Kyuhyun mengambil jeda nafasnya sejenak.

"Tidak sebelum Dokter kandungan itu bilang umur kehamilannya sudah dua bulan, Aku masih ingat dia sendiri yang bilang aku menidurinya tanpa pengaman 7 minggu yang lalu, bisa kau bayangkan betapa marahnya aku? Bahkan aku hampir mempertanggung jawabkan bayi yang tidak aku ketahui siapa ayahnya. Aku marah dan meninggalkannya lalu semuanya terjadi begitu saja saat dia mengejarku dengan mobil dan tertabrak truk barang."

"Ya Tuhan Kyuhyun…"

"Lalu kau datang Ming, sangat indah saat pertama kalinya aku merasakan bagaimana itu cinta. Tapi semua kilasan balik Nae un menahanku.."

Kyuhyun melirih. "Maafkan aku Sungmin.. Maafkan aku.." Kyuhyun merendah dengan lututnya menyentuh jalan setapak kecil dihalaman Sungmin. Mata Sungmin melebar.

"A-apa yang kau lakukan?"

Dia menaruh tangannya dilengan Kyuhyun, mengajak tubuh itu untuk kembali berdiri, tapi Kyuhyun hanya diam. Menundukan wajahnya dari egoisme demi Sungmin

"Berlutut dibawah hawa 0 derajat tanpa baju hangat."

"Ini tidak lucu Kyuhyun! Berdiri!" Desis Sungmin saat orang-orang dijalanan menatap mereka dengan aneh.

"Tidak sampai kau memaafkanku."

Sungmin menggeram. "Aku butuh waktu Kyuhyun. jadi berhentilah bersikap konyol."

"Baik, terserah kau mau mengataiku konyol atau yang lainnya, tapi buang semua rasa sakit dan kemarahanmu itu, jadi kau bisa memaafkanku malam ini."

Kyuhyun membuka satu-persatu jemarinya menghitung. "Aku sudah menuliskan permintaan maafku di kartu ucapan, pesan teks, pesan suara, bahkan email-mu.. tapi aku akan mengatakannya lansung karena ini kesempatan terakhirku." Dia menarik nafasnya dengan kasar. "Aku minta maaf Ming, aku minta maaf dengan semua sikap pengecut dan bajinganku yang menyakitimu, aku sangat menyesal dengan semua ketidak pastianku yang takut menyuarakan hatiku padamu. Aku berjanji akan melakukan apapun asal kau mau kembali padaku."

Wajah Sungmin memerah. "Kau mempermalukanku didepan semua tetanggaku, berdirilah Kyuhyun!, atau aku akan memanggil anjing Ryeowook untuk menggigitmu."

"Aku tidak peduli."

"Kyuhyun! Berhenti terlihat bodoh, semua orang akan berpikiran bahwa kau aneh!"

Kyuhyun menggeleng lemas. Jujur, tubuhnya bahkan sudah seperti bongkahan es, sialnya kekeras kepalaan Sungmin benar-benar sulit untuk diatasi.

"Aku hanya ingin kau percaya padaku."

"Ya Tuhan.. Orang-orang tidak akan berpikir ini sesuatu yang bagus."

Kyuhyun berdecak kesal "Aku tidak peduli apa yang akan mereka pikirkan.. Hanya beri aku satu kesempatan Sungmin."

Sungmin mendengus, berbohong pada semua hatinya tentang Kyuhyun. lebih dari lima bulan yang lalu, Sungmin sudah memaafkan Kyuhyun setelah satu langkah dari pintu apartemen Kyuhyun, dia berperang dengan semua rasa sakit dan cintanya tapi hatinya tetap berteriak bahwa dia masih amat sangat menginginkan Kyuhyun.

Semua perlakuan brengsek ataupun pengecut tidak pernah ada dihatinya, walaupun kadang umpatan dimulutnya tak bisa Sungmin hindari. Dia kesal dan marah pada dirinya sendiri yang terlalu 'mudah'. Tapi inilah seorang Lee Sungmin, begitu mudah untuk semua kebaikan hatinya pada bajingan dimasa lalu.

"Ini bukan Cho Kyuhyun yang kukenal."

Kyuhyun menyambut uluran tangan Sungmin, berdiri tegap dengan gemerletuk gigi, Sungmin memukul kecil kepala Kyuhyun. "Bagaimana jadinya jika aku meninggalkanmu disini. Apa kau akan jadi manusia salju?"

Kyuhyun tertawa. "Tidak bisakah kau memujiku barang sedikit? Setidaknya bisa katakan kau terkesan?"

Sungmin mendengus dengan sudut bibirnya terangkat dengan lambat. "Sebenarnya kau serius tidak sih?"

Kyuhyun menatap tegas. "Masih tidak percaya?" Sungmin mengangguk jahil.

"Akh!"

"Yah! Turunkan aku!"

Kyuhyun menggeleng dengan wajah polosnya, membawa Sungmin kedalam rumah mungil nan cantik itu dalam gendongannya.

"Aku rindu coklat hangat buatanmu."

"Setelah kau menjelaskan semuanya tanpa menggigil seperti tadi, bagaimana?"

"Tawaran diterima."

Sungmin mencubit gemas pipi pucat Kyuhyun, sentuhan agar permukaannya memerah. dan mereka tertawa setelahnya.

Satu kejutan untuk Cho Kyuhyun malam ini, dia ingin berteriak pada dunia bahwa ia bahagia. Seandainya Kyuhyun bisa dia ingin terbang bersama kereta rusa Santa Clause pada malam natal nanti dan menceritakan pada semua orang bagaimana indahnya senyuman penuh maaf dan cinta Sungmin untuknya, ditengah salju pertengahan Oktober, dengan semua pandangan aneh para tetangga, Kyuhyun ingin berlari kegereja, bersyukur pada tuhan atas kado musim dinginnya.


OoO To Be Continued OoO

Alohaaaa^^ Im back everyone^^

Terima kasih untuk semua semangat dan dukungan readers di chap sebelumnya^^

Chap kemaren ternyata ada typo 'Tuan Park' seharusnya 'Tuan Lee' hehehe begitulah saya memang author yang masih banyak sekali kekurangan, terimakasih untuk readers yang sudah mengkoreksi^^

Untuk yang tanya Poéme itu artinya Sajak yaaa~.

Spaecial kiss and Hug to : arvita kim|lee sunri hyun|iciici137|Najika bunny|1307|anieJOYer|dwie isna|joy|ChoLee Kyuminie|ningkyuminelf|Sherfly1307|gyumin4ever|clouds137|aslidELF|ChuteKyumin|Yefah|myangelicKYUMIN|Cho adah joyers|Phia89|Finda Elf 137|Zefanya Amelia|Darklily|bebek|KYUMINTS|maria8|harusuki Ginichi-137411|Lee'90|melsparkyu|abilhikmah|Cho Na Na|ShinJiWoo920202|Maximumelf|Park Heeni|cloudsKMS|sider imnida|okoyunjae|Okalee|vila13kyuvil|Guest|Chikyumin|AJoyers137|ryesungminkyu18|Guest|143 is 137|TiffyTiffanyLee|anakyumin|kiran theacyankEsa|shippo chan 7|ChoLee|evil vs bunny|PumkinsJoy|Karen Kouzuki|Kyumin joyer ChoLee|krystalswaggie|Cho MeiHwa|Coffeewie137|sary nayolla|cho hyo woon|youminchoi7|kyumin pu|citraaryatyas|ayyu annisa 1|reaRelf|ajeng kumala|joupujoy|hairo chan|Year Kim|Ryr|sissy|wullancholee|Haruka Elf137|zagiya joyers|Zen Liu|joykyumin22|010132joy|littleMing137|bunnyblack FLK 136|sjkms137|5351|jo|shfly990|Prisna sparkyu.

Jangan bosan review yah^^ Supaya saya juga nga bosan ngelanjutin ff-nya^^

Sorry for typos!

Sign,

Rye Kim