Pindah ke Gaara, ups rupanya Gaara sadar kalo si penguntitnya ini sering mengikutinya. "Apa maumu? Kenapa mengikutiku?". Matsuri tampak tegang, "Se…sebenarnya..a..aku…". Gaara menatapnya sinis dan memojokkannya ke tembok, "Apa? Kau mau melaporkanku ke Pak Baki?"tanyanya dingin. "Bu…bukan begitu senpai…ta..tapi a..aku….". Ia melihat kiri dan kanan, lalu mengambil sesuatu dari kantongnya.

Ia mengusap luka di muka Gaara yang membiru karena berkelahi. "Sebenarnya, aku ingin senpai mengajariku…lagi…Aljabar itu susaaaah…Hiks". Air mata Matsuri mengalir, sementara dalam pikiran Gaara, "Apa anak ini sebegitu putus asanya dengan pelajaran pak Baki ya? Sampai menangis…" Astaga Gaara gak peka tapi ia melepaskan Matsuri. "Baiklah, besok temui aku sepulang sekolah kita akan belajar". Matsuri mengangguk senang lalu mencium pipi Gaara dan berlari sebelum Gaara meraih tangannya dan berkata, "Tasmu…kau hampir melupakannya". Wajah Matsuri memerah…rasanya pengen ia mengubur diri hidup-hidup karena malu. "Arigato senpai…sampai besok"ujarnya sambil kabur. Temari dan Kankuro yang melihat adegan itu langsung pingsan. Adiknya itu sama sekali tak ada emosi, lihat saja ekspresi Kankuro karena tidak merasakan yang sama dengan Gaara.

"Ehm, aku tidak suka diintip Temari..Kankuro…"sahutnya. Temari terkikik, "Astaga….adikku yang preman ini bisa juga dapat cewek…Oh My God, pasti gadis itu khilaf deh….". Wajah Gaara yang datar itu semakin datar, "Tidak, dia hanya kohai yang minta tolong diajarin Aljabar karena pelajaran itu sangat susah baginya.". Wajah Kankuro meringis, "Iyaa….tapi kan gak pake nyium pipi kan? Aku saja belum pernah dicium cewek….masa kau yang preman dan kasar itu sudah duluan dicium cewek sih?"tanyanya. Temari malah menjitak Kankuro, "Hush, itu mah derita loo tau….Ah, Gaara pasti kau sedang berkelahi ya? Apa kau mau ayah kita marah lagi padamu?". Gaara memandang Temari sinis…"Itu bukan urusanmu!" dan langsung pulang ke rumahnya.

Balik ke rumah Naruto…Hinata tengah dipandangi oleh Kushina dan Minato bak pembeli yang tengah meneliti barang sebelum mereka membelinya. Muka Hinata memerah malu.. "A…Ano..ke..kenapa anda memandangi saya seperti itu, Nyonya?"tanyanya mencicit. Kushina yang tadinya melihatnya penuh minat jadi memeluknya erat, "Kyaaaa….anak gadis ini sopan sekali, ttebane! Minato…Coba liat rambut panjangnya yang indah, wajahnya…aduuuuh…coba kalo aku punya anak semanis dia pasti aku jadi ibu paling bahagia sedunia, ttebane!". Naruto datang membawa minuman untuknya dan berkata, "Kaasan…lepaskan Hinata…liat dia ketakutan..". Kushina langsung melepas pelukan mautnya. "Kaasan juga…anak kaasan kan aku ttebayo…liat aku sama ganteng dengan ayahkan?"sahutnya sambil mematut diri depan Kushina. "Iya..tapi kau nakal sekali dan suka berkelahi, ttebane!"sahut Kushina ngambek.

Minato menenangkan mereka, "Maa…maaa…baiklah gadis manis siapa namamu?". Dalam sekejap, tatapan cemburu Kushina keluar, sementara Minato hanya sweatdrop melihat tatapan istrinya. Astaga…Kushina pencemburu banget. Hinata lalu menjawab, "Maaf…aku sudah merepotkan kalian…namaku Hinata.. Hinata Hyuuga..". Minato membelalakkan matanya. "Apa? Hyuuga? Apa kau anak Hiashi Hyuuga?". Hinata mengangguk cepat, "Eh, kenapa tuan tahu nama ayah saya?"tanyanya. Minato tersenyum lembut, "Ah…aku teman ayahmu…perkenalkan namaku Minato Namikaze dan istriku Kushina Uzumaki, orang tua Naruto…Boleh kami tahu kenapa kau bisa dibawa oleh Naruto?"

Naruto menjawab, "Tou..san..aku menolongnya dari preman jahat makanya aku babak belur ya, kan?"sahutnya sambil mengedipkan mata pada Hinata. Wajah Hinata memerah sebentar lalu mengangguk. Minato menggodanya "Oh..jadi selama ini kau suka berantem demi membela pacarmu ini ya?". Naruto jadi gugup, "Tou san Hinata bukan pacarku…dia teman sekelasku…masa aku membiarkannya jadi sasaran bully sih?". Kushina malah menggodanya lagi, "Oh, jadi bener ya? Kau pacar anakku? Waaaaaah aku senang sekali bakal punya menantu secantik dirimu…". Hinata terkaget-kaget… "Saa..sayaaa…hyaaaaa". Bruk…Hinata pun pingsan. Naruto hanya menghela napas pendek, "Kaa..san liat…dia pingsan kan? Heran…dia pasti saja pingsan kalo aku dekatnya…apa aku begitu menakutkan karena tanda lahir kumis ini ya?". Minato tersenyum kecil, "Haaaah, kau tidak peka nak…". Naruto melihat heran pada sang ayah, "Hmm? Tidak peka apa ttebayo?". Akhirnya malam itu Hinata menginap di rumah Naruto, sementara di Mansion Hyuuga tampak Hiashi tengah menyusun rencana untuk menginterogasi Naruto setelah Minato berkata via telepon bahwa ia menginap di rumah mereka. Poor Naruto