Di lain tempat di kediaman Sabaku. Matsuri tengah mengerjakan tugasnya dengan menguap panjang sementara di depannya Gaara tengah memandangi gadis itu intens sambil sesekali memperhatikan tulisan tangan gadis itu. Ia pun mengambil keputusan, sudah saatnya Matsuri tidur. "Hn, Matsuri tidurlah….kita sekolah besok". Matsuri langsung bersemangat, "O..oh iya…terima kasih senpai. Aku pulang dulu". Gaara menarik tangannya dan membuat Matsuri kebat-kebit. "Se..senpai aku.." kata Matsuri gugup. "Tidak…siapa bilang kau boleh pulang. Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kau tidur di kamar ini".

Jeglar…petir serasa menyambar. Sekamar tidur dengan Gaara tidak pernah terpikir dalam benaknya saat ini. Gaara yang mengerti lalu melanjutkan pernyataannya. "Jangan khawatir, aku akan tidur bersama Kankuro malam ini. Sekarang kau istirahat, besok kau ulangan kan?". Oke, Matsuri sekarang tambah bingung. Bagaimana si senpai preman ini bisa tahu besok ia ulangan tapi sayang si Gaara udah keburu keluar kamar. Jadi Matsuri memutuskan untuk segera tidur dan menuju alam mimpi, ketemu pangerah berbaju merah dengan topi caping berkain putih dengan tato ai di dahi. Yup, Matsuri bermimpi tentang Gaaranya yang sangat tampan.

Saat Gaara keluar, Kankuro langsung menggodanya. "Ho..jadi kau mengajarinya Aljabar..ck..dasar jenius kendati preman kau tetap saja pintar. Buktinya sampai semalam ini belajarnya". Gaara menanggapi kakaknya ringan, "Kankuro, kau juga bisa kalo kau belajar dan tidak terlalu banyak bermain dengan boneka dan Sasori. Sekarang aku tahu kenapa kau mendukung Temari untuk pacaran dengannya daripada si nanas aneh itu". Kankuro tersenyum, "Buktinya kau tidak menyukai pria nanas itu juga, kan?". Gaara melewati kakaknya dan menuju kamar Kankuro. "Hei…kau ini…..tidak sopan…masa setelah melakukan kau meninggalkannya di kamar?"goda Kankuro. Oke, satu lagi sifat jelek Kankuro…mesum. Hahahaha, maklum aja….dia playboy di kampusnya. Ctak…urat marah Gaara muncul dan ia menarik kerah Kankuro, nah kalo udah begini Kankuro jadi bingung. Soalnya kalo Gaara marah, ia bisa seperti badai gurun yang memporak-porandakan rumah. "O..oke…bercanda kok…aku tahu kau kan gak tertarik sama wanita…"sahutnya sambil kabur ke ruang tamu sebelum Gaara menghajarnya.

Keesokan paginya, Matsuri sudah bersiap-siap dan tengah berkutat di dapur keluarga Sabaku, hingga seorang pria tua memandangnya heran. "Siapa kau? Mengapa kau ada di rumahku?". Oh..ternyata tuan rumah sudah datang. Ayah Gaara yang hampir 90% sangat mirip Gaara. Matsuri terdiam hingga Temari memberitahukan bahwa Temari yang mengajaknya ke sini untuk bekerja dan mengalihkan perhatian Gaara. Ayah Gaara memandang gadis itu lagi…ya, ia juga sependapat dengan Temari bahwa gadis itu sangat mirip dengan mendiang istrinya. "Baiklah, bersiaplah ke sekolah bersama Gaara setelah itu aku mau kau menceritakan semuanya tentang dirimu". Gaara yang melihat sang ayah tengah duduk, hanya mengambil selembar roti yang sudah disiapkan Matsuri dan mengajak gadis itu pergi. Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak bungsunya itu.

Matsuri melonjak senang saat ulangan tadi. Gaara senpainya memang hebat, ia ingat bahwa soal-soal setipe ini yang keluar di ujian. Rasanya ia pengen nangis saking senangnya. Baki yang mengamati sampe curiga apa anak ini gangguan jiwa atau ga, pasalnya berbagai macam ekspresi keluar mulai dari senyum hingga air mata. OMG, Baki penasaran apakah gadis ini berubah gara-gara keponakannya yang preman itu, Gaara Sabaku?

Sehabis istirahat, Matsuri menemukan kekasih hatinya tengah berada di belakang kebun sekolah sedang merokok. Matsuri mencabut rokok itu dengan berani dan mendapatkan gertakan hebat dari senpainya ini. Ia langsung meninju batang pohon dibelakang Matsuri hingga remuk. Gadis itu sangat ketakutan, "Ma…maaf senpai, aku kasar tapi…aku hanya tidak ingin senpai sakit karena barang itu. Karena barang itu, ayahku meninggal karena kanker paru. Lagipula, se..sebenarnya aku ingin memberikan senpai masakanku di mata pelajaran memasak karena tadi aku sukses dalam ujian aljabar". Gaara mendengus, "Aku tidak butuh…"lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi pada Matsuri. Sejenak ia berbalik lalu berkata, "Kau sudah berhasil, jadi jangan buntuti aku lagi."

Matsuri mengambil sikap, ia mengejar dan tetap membuntuti Gaara. Gaara udah tahu kok gadis ini di belakangnya tapi dicuekin hingga Gaara mengambil posisi tidur di bawah pohon rindang dan sejuk. Kyaaa, batin Matsuri memberontak…Senpainya itu tampak kelihatan lebih macho dibanding saat ia berkelahi. Tentu saja sebagai penguntit yang baik, Matsuri langsung mengambil foto yang banyak dari Gaara yang amat menggiurkan itu. Untung saja cuma dia yang mendapatkan momen langka ini. Ia lalu mengendap-endap pergi namun Gaara memanggilnya, "Hei..aku sudah tahu kau dari tadi mengikutiku bahkan memotretku juga. Apa maumu hah? Bukankah sudah kubilang kau jangan menguntitku lagi? Kau sudah berhasil melewati ujian aljabar kan?" Matsuri melangkah ragu, "Justru itu senpai, aku ingin memberikan makanan ini sebagai tanda terima kasih. Aku…senang bisa berkenalan dan menjadi murid senpai. Daripada senpai merokok seperti tadi dan dada senpai sesak, lebih baik senpai makan makananku ini."

Gaara memandang Matsuri cukup lama, "Kau..argh, baiklah mana makanannya.."sahutnya meminta pada Matsuri. Matsuri pun membagi manakanannya pada Gaara. "Gaara senpai… masih ada yang tidak kumengerti dari beberapa materi pelajaran lain. Jadi bolehkah senpai mengajari Matsuri lagi?". Gaara menghela napas pendek, "Jadi kau menyuapku agar menjadi tutormu terus ya? Aku tidak mau…."sahutnya lagi. Matsuri terpaksa memohon, "To..tolonglah senpai….aku juga ingin naik kelas dan lulus….terus bekerja dan menikah dengan se..ups". Matsuri langsung menutup mulutnya karena ia hampir keceplosan mengatakan ia ingin menikah dengan Gaara. Gaara malah memandang ke depan, "kau tahu kan aku mengajarnya seperti neraka kemarin. Kau saja tidak tahan..sudahlah kau minta orang lain saja…". Matsuri masih saja memandang Gaara dengan pandangan memelas…ia sangat ingin Gaara tidak lagi menjadi preman tapi menjadi lebih sosialis…Hmm, Matsuri punya ide…