Matsuri tengah menjahit sesuatu di ruang kerajinan, sebuah kain merah kecoklatan tengah diukurnya baik-baik. Ah..ia bisa membayangkan betapa gantengnya Gaara dalam kostum ini. Ia memang berusaha sebaik mungkin mempersiapkan kostum ini…well, inspirasinya sih dari komik favoritnya. Ia yakin kegarangan Gaara sangat cocok dengan kostum ini. Ia berniat untuk menyelesaikannya secepat mungkin agar bisa dipakai Gaara. "Semoga muat"sahutnya. Ia bisa membayangkan betapa tampannya Gaara dalam balutan busana yang ia pakai nanti. Saat itu, tiba-tiba hpnya berdering, dari Gaara. Oke, Gaara menunggunya di perpustakaan sekolah. Hari itu, di depannya sudah ada 3 buku di atas meja. "Matsuri..buku ini adalah buku yang bagus untuk kau baca dan menjawab kesullitanmu. Kau tidak perlu aku ajari lagi, buku itu sangat ringkas dan dapat membuatmu belajar dengan baik. Aku pergi dulu". Matsuri langsung menyusulnya, "Senpai tunggu..!"Matsuri berlari mengejar Gaara hingga ia jatuh karena terpeleset tali sepatunya. "Ada apa Matsuri? Bukankah aku sudah menunjukkan buku bagus untuk kau baca?"sahutnya.

"Uhm..bagaimana kalo aku bingung juga…aku tanya pada siapa?". Gaara mau marah tapi tatapan putus asa Matsuri lagi-lagi menggugahnya. "Oke, baca dulu lalu kau boleh bertanya padaku…aku janji akan menerangkannya. Aku sibuk sekarang ini…". Oh, matsuri khawatir lagi. Gaara memang hobi berkelahi namun tidak pernah memicu duluan. Gaara tidak boleh pergi, "SENPAI! Temani aku membeli bahan-bahan di rumah…bahan-bahan di rumah senpai habis, jadi aku tidak bisa masak"sahutnya sambil menarik tangan Gaara. Gaara yang kaget lalu terpaksa ikut saja diarak-arak ke pasar tradisional. Sayang, beberapa preman mengenalinya dan segera menghadang mereka di pasar. Gaara berniat untuk menghajar mereka namun Matsuri segera menariknya dan masuk ke dalam pasar lebih jauh.

Tersesat di kompleks pasar yang besar memang lebih baik dari pada melihat pria di sampingnya terluka karena berkelahi. Mungkin begitulah pikiran Matsuri ini. Gaara sangat marah mengetahui mereka tersasar, tapi Matsuri malah berkata bahwa ia belum selesai belanja dan ingin membeli yang lain. Setelah hampir 3 jam berputar-putar di pasar, akhirnya mereka bisa kembali pulang dan disambut Temari dan Kankuro yang heran dengan penampilan kusut mereka. Gaara hanya diam saja dan menuju kamarnya, sementara Matsuri meletakkan belanjaan dan mulai memasak. Lagi-lagi Temari mengiterogasi mereka, Matsuri hanya tersenyum dan berkata mereka tersesat di pasar karena ingin mencari bahan untuk makan malam. Setelah makan malam selesai, Matsuri mandi di kamar Temari dan berganti pakaian. Setelah makan malam Gaara kembali ke kamarnya sementara Matsuri malah diinterogasi oleh ayah Gaara. Ia penasaran, bagaimana bisa gadis itu dekat dengan anak bungsunya yang sadis. Ia berharap gadis itu bisa mengembalikan Gaara yang pintar seperti dulu, sebelum sang ibu meninggal. Well, jelas sekali ternyata, gadis ini menyukai anak bungsunya. Itu sih yang dilihat oleh ayah Gaara. Gadis itu memang tidak bilang sih, tapi dari gerak-geriknya yang berusaha menarik Gaara untuk tidak berkelahi tadi menyimpulkan gadis ini sangat peduli dengannya. Pria itu juga akhirnya tahu bahwa gadis ini sangat miskin sehingga harus bekerja untuk bisa membayar uang sekolah. Well, akibatnya ia jadi susah belajar dan jadi bulan-bulanan saudaranya, Baki guru Aljabar di sekolah.

Ayah Gaara pengen tertawa mendengar cerita Matsuri tentang awal pertemuannya dengan anaknya untuk pertama kalinya dan bagaimana ia merengek pada Gaara untuk minta diajari. Biarlah, itu lebih baik daripada Gaara berkelahi. Pantas saja 2 hari sejak gadis itu datang ke rumah, Gaara tidak pernah kelihatan memar. Perkataan Kankuro sempat terlintas di benaknya saat ia melihat Gaara kembali membongkar catatan-catatan lamanya demi mengajari gadis ini. Wow, suatu langkah besar. Gaara pasti sangat peduli dengan gadis ini. Lihat saja, saat ini Gaara minta izin padanya mengantar Matsuri untuk pulang. Matsuri terssenyum senang, "Senpai…makasih untuk buku pilihannya..aku janji akan belajar dengan baik, tapi kalo aku tidak mengerti boleh tanya senpai kan?". Gaara mengangguk-angguk, "Ya..kau boleh bertanya apa saja."