Teng.. Teng.. Teng..
Suara berisik yang sangat mengganggu. Benar-benar mengganggu. Tapi suara itu terdengar seperti bunyi alunan musik yang indah bagi murid-murid SMA Konohagakuen itu. Karena waktu pulang sekolah telah tiba.
Semua anak telah meninggalkan ruangan kecuali 8 orang pemuda dan satu orang wanita yang tergabung dalam organisasi bernama Akatsuki.
Sebenarnya ada 10 orang anggota Akatsuki. Namun satu orang lagi adalah adik kelas mereka yang masih kelas 1.
Akatsuki terbentuk sekitar satu tahun yang lalu. Awal terbentuk Akatsuki sebenarnya adalah sebuah ide bodoh dari Pein Yahiko yang menetapkan dirinya sendiri sebagai pendiri Akatsuki dan ketua Akatsuki secara sepihak.
Ia membentuk Akatsuki hanya karena pada saat dia kelas 2 SMA, ia membaca buku pelajaran sejarah kelas 3 milik temannya Nagato dan pada bab 4 di buku sejarah itu, membahas tentang sebuah Organisasi kelam yang beranggotakan 10 ninja penghianat desa rank s (sangat berbahaya) yang bernama Akatsuki.
Kesepuluh anggota itu memiliki nama yang sama dengan dirinya dan beberapa orang temannya di sekolah. Sehingga ide untuk membentuk organisasi tersebut pun mucul di kepala Pein.
Sulit menemukan dan merekrut orang-orang yang bernama sama dengan anggota Akatsuki itu. Nama 10 anggota itu adalah Pein, Konan, Sasori, Deidara, Hidan, Kakuzu, Itachi, Kisame, Zetsu, Tobi.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
Pein hanya kenal dengan wanita bernama Konan, karena dia pacarnya yang waktu kelas 2 sekelas dengannya di kelas C. Lalu, Sasori. Teman pacarnya yang ada di kelas B. Setelah itu Deidara, teman Sasori yang juga di kelas B. Terakhir Itachi, teman masa kecilnya yang berada di kelas A.
Pribadi mereka berlima sangat sulit disatukan. Pein yang suka hal-hal berbau (negatif) dewasa, Konan yang anggun, manis, ramah, tapi kalau marah super duper galak, Sasori si cowok sok imut dan sok elit tapi jorok dan pemalas, Deidara yang cerewet dan tidak pernah mau kalah, Itachi yang pendiam dan pelit kata tapi paling narsis karena hobi ngaca dan sering upload foto di jejaring sosial.
Dengan usaha keras Pein, ia meyakinkan mereka berempat agar bergabung di Akatsuki. Pein menjanjikan bahwa organisasi Akatsuki akan membawa pengaruh besar bagi setiap anggotanya.
Jika pada zaman dahulu kala tujuan anggota organisasi Akatsuki adalah menangkap Bijuu, maka Pein memutuskan tujuan organisasi Akatsukinya adalah menangkap hewan spesies langka.
tentu saja Konan, Sasori, Deidara, dan Itachi menolak dengan sadis. Tapi akhirnya mereka luluh dan mau juga bergabung.
Konan lah yang pertama kali berubah pikiran untuk bergabung dalam organisasi Akatsuki. Hal itu terjadi karena Pein berhasil menangkap seekor kupu-kupu langka yang bersayap sangat indah dalam perburuannya. Konan yang diperlihatkan kupu-kupu itu, langsung senang dan mau ikut karena berharap dapat menemukan kupu-kupu langka bersayap indah yang lainnya.
Lalu yang kedua adakah Sasori. Sasori pun menyetujui untuk bergabung ke dalam organisasi tak jelas itu. Sasori bergabung bukan karena ia menyukai kupu-kupu. Bukan, sama sekali bukan. Ia hanya ingin selalu berada di dekat Konan dan selalu ingin tau apapun yang Konan lakukan. Ia memang benar-benar menyukai Konan dari dulu.
Selanjutnya Deidara. Awalnya, Deidara ikut hanya karena Sasori, best friend forever and never end nya ikutan organisasi itu. Tapi lama-lama Deidara menikmatinya karena ia jadi terinspirasi untuk membuat patung-patung berbentuk hewan langka yang mereka buru. Tentu hasil karyanya terpajang di museum kota dan dihargai oleh banyak orang.
Itachi yang terakhir. Ia mengikuti organisasi itu karena hewan langka yang berhasil di tangkap mengundang banyak media untuk meliputnya. Meliput berarti pakai kamera. Itachi yang banci kamera pun setuju bergabung demi popularitas agar follower twitternya makin banyak.
Namun Pein merasa belum lengkap. Masih kurang 5 orang lagi. Dia butuh orang bernama Kisame, Kakuzu, Hidan, Zetsu, dan Tobi. Tapi dia tak tau dimana mencarinya.
.
.
Sasori, Akatsuki, Rate T, Drama, Friendship
.
.
Deidara bilang, dia tau seseorang yang bernama Hidan. Anak kelas E yang suka membuat masalah. Mulutnya kotor dan suka menghina siapapun bahkan guru. Tak ada yang suka padanya. Deidara tau nama orang itu karena suatu insiden kecil.
Ketika Deidara sedang menyerahkan tugas bimbingan konseling ke ruang BP, ia melihat Hidan sedang dimarahi guru BP. Karena bosan dan kehabisan ide untuk membuat Hidan kapok, guru BP meminta Deidara yang kebetulan ada disana untuk menentukan hukumannya.
Deidara pun memutuskan untuk memplester mulut Hidan dengan lakban hitam selama seminggu. Tentu saja ia harus diawasi. Deidara langsung yang mengawasinya. Jika Hidan ketahuan melepas lakban hitam itu kecuali sedang makan siang, maka hukumannya bertambah satu minggu lagi. Dan jika ketahuan bicara kotor dan membuat keributan, maka akan ditambah terus hingga ia menjalankan hukumannya dengan jujur.
Alhasil, Hidan menggunakan lakban hitam di mulutnya selama 2 bulan karena melanggar terus-menerus. Akibatnya, ia sangat dendam pada Deidara, walaupun di sisi lain Hidan mengakui kalau Deidara itu manis.
Saat di rekrut Pein, dia tidak menolak. Karena memang dia suka berburu dan menangkap mangsa yang menarik. Tapi ketika tau bahwa Deidara salah satu anggotanya, Hidan terus-terusan mengucap sumpah serapah setiap harinya dan mengutuk Deidara terus-menerus.
Selanjutnya, Hidan merekomendasikan tetangganya, siswa kelas 2.D yang namanya juga dicari oleh Pein. Kakuzu. Makhluk paling mata duitan di mata Hidan. Dan memang benar, Kakuzu langsung mau saja masuk Akatsuki ketika Pein bilang hasil tangkapan mereka selalu menghasilkan uang.
Tinggal 3 orang lagi yang belum Pein temukan. Kisame, Zetsu, dan Tobi. Akhirnya Konan punya ide untuk meminjam pengeras suara sekolah untuk memanggil nama Kisame, Zetsu, dan Tobi. Walaupun mereka tak tau apakah di sekolah mereka ada yang bernama seperti itu atau tidak.
Setelah mereka memanggil. Tak lama muncul 2 orang yang menghampiri mereka. Yang satu pecinta ikan sampai-sampai wajah dan baunya seperti ikan dan yang satunya lagi pecinta tumbuhan, sampai seluruh tubuhnya wangi bunga. Rambutnya pun berwarna hijau daun.
Si pecinta ikanlah yang bernama Kisame dan si pecinta tumbuhan yang bernama Zetsu. Tidak sulit merekrut mereka karena mereka suka alam terbuka. Dan setelah Kisame resmi menjadi anggota Akatsuki, target operasi mereka tak hanya di hutan dan pegunungan saja. Tapi juga di laut. Itulah syarat dari Kisame kepada Pein.
.
.
WARNING : AU, OOC, TYPO, GAJE,
MEMBOSANKAN
.
.
Terkumpullah 9 orang dengan karakter yang berbeda. Hanya satu lagi yang tersisa yang namanya belum ditemukan. Tobi. Tak ada yang bernama Tobi. Mereka terus mencari namun nihil.
Lalu, setahun kemudian ketika mereka sudah kelas 3 SMA dan mereka berada di dalam kelas yang sama, Deidara selaku pengurus OSIS menemukan seorang junior bernama Uchiha Obito ketika sedang MOS. Tapi, dia bilang, nama kecilnya adalah Tobi.
Deidara senang karena menemukan orang bernama Tobi. Tapi ia ragu untuk memperkenalkan Tobi kepada Pein. Pasalnya, Deidara sangat, sangat, dan sangat tidak menyukai Tobi.
Tobi adalah pemuda berisik bersifat kekanak-kanakan yang suka menubruk siapapun yang berada di hadapannya dan terkesan tidak punya otak. Mendengar ocehan Tobi sebentar saja membuat Deidara merasa seperti di neraka. Apalagi jika ia harus selalu bersama Tobi ketika berburu dengan Akatsuki. Mungkin Deidara akan benar-benar mati muda.
Namun akhirnya ia mengenalkan Tobi juga pada Pein karena memang tugas mereka mencari siapapun yang bernama Tobi tidak peduli seperti apa orangnya. Tobi yang tidak punya otak langsung setuju masuk Akatsuki padahal dia tak mengerti apa tujuan Akatsuki. Ia hanya ikut-ikutan saja.
Semenjak itu, Tobi selalu mengganggu Deidara. Entah kenapa, mungkin karena Deidaralah yang pertama ia kenal. Sasori hanya bisa tertawa setiap Deidara memarahi kekonyolan Tobi lalu Tobi menangis dan Deidara kebingungan.
Sasori berkata "Kau kualat padaku Dei, kau kan selalu cerewet terhadapku dan sekarang kau malah dicereweti oleh Tobi. Hahahaha…" dan reaksi Deidara hanyalah memajukan bibir bawahnya 2 cm kedepan Sasori.
Lengkap sudah anggota Akatsuki sekarang. Anggota mereka cukup terkenal di kalangan masyarakat saat ini. Bisa dibilang, mereka idola baru masa kini.
.
.
The Puppet Master
By : Chan-ame
.
.
"Akhirnya weekend juga ya my fu***ng friends" Hidan si mulut kotor menyeringai lebar sambil meregangkan tubuhnya.
"Berhenti bicara kotor Hidan...!" bentak Kakuzu si mata duitan yang duduk disebelah Hidan sambil menghitung uangnya.
"Diam kau sh*t Kakuzu! Otak uang sepertimu tak pantas menceramahiku! Demi dewa Jashin, kau akan dikutuk olehnya as***le!" balas Hidan.
"Cih!" Kakuzu malas meladeni si mulut kotor.
"Kalian berdua berkelahi mulu un." celetuk Deidara yang sedang asyik mengutak-atik ponselnya.
Hidan yang anti Deidara pun langsung berdiri dan menunjuk wajah manis pemuda pirang itu.
"HEH! BANCI SIA**N! BERANINYA KAU BICARA PADAKU DASAR BAJ***AN TENGIK! AKU HARAP KAU TERTIMPA SIAL SEUMUR HIDUPMU BI**H!"
Baru saja Deidara ingin membuka mulutnya untuk membalas kata-kata Hidan, Sasori membekap mulut Deidara. "Sudahlah Dei, jangan kau ladeni dia.." ucap Sasori dengan kalemnya sambil mencoba memasang engsel tangan boneka kayu kecil yang tak jelas bentuknya itu namun gagal terus.
"Huh... Dasar fu***ng Sasori si liliput berwajah bayi dan fu***ng bi**h Deidara uke! kalian berdua pasangan gay yang terkutuk!" kaja Hidan yang sukses memancing emosi Sasori.
"APA KATAMU HIDAN! KUBUNUH KAU!" Sasori ingin menghajar Hidan Sasori yang kini meronta-ronta.
"Tenanglah Sasori-kun.. Jangan terpancing olehnya" kata Kisame.
"Cih! Sok bijaksana kau! Fu***ng fish!" gumam Hidan dengan wajah yang membuat siapapun jengkel.
Kini gantian, Kisame yang ngamuk-ngamuk dan dipegangi oleh duo terunyu Akatsuki Sasori dan Deidara.
"Hei diamlah!" gumam Pein yang sama sekali tak menakutkan tapi entah kenapa mereka semua nurut. Karena aura ketua dari Pein kali ya.
"Jadi, weekend ini kita kemana?" tanya satu-satunya anggota perempuan di Akatsuki. Konan.
.
.
Chapter 2 : AKATSUKI
.
.
"Hutan di pelosok desa Suna. Kalian pasti mendengar kabar baru-baru ini kalau disana ada hewan langka berbentuk rakun (bayangin shukaku) yang berukuran cukup besar dan agak buas." ucap Pein serius dengan wajah menakut-nakuti.
"Ya, aku liat di TV. Jadi itu target kita?" si pendiam Itachi pun angkat bicara.
"Yup! Ini kesempatan kita untuk beraksi lagi karena belum ada yang berhasil menangkapnya." seru Pein dengan riangnya. Yang lain manggut-manggut.
"Benar! Selain itu, kita kan bisa refreshing di desa Suna. Kudengar akan diadakan festival disana." Konan tersenyum manissssss sekali. Tanpa Konan sadari, Sasori yang memerhatikan Konan sedari tadi pun langsung nosebleed ketika melihat senyuman itu.
"Danna un?!" Deidara menoleh ke arah Sasori yang tengah menutup hidungnya dengan tangan walaupun darah terus mengalir bak keran air.
"Sasori... Kau mimisan..." Konan beserta yang lainnya khawatir dan mencoba mendekat pada Sasori.
Sasori mengangkat tangannya ke wajah Konan seperti berkata 'stop' Konan menghentikan langkahnya.
"Dia cuma kecapean un. Tenang saja…" Deidara menenangkan mereka. Deidara terkikik kecil sambil melirik Sasori. Sasori cuma memble karena tau Deidara sedang mengejeknya.
"Ah.. Demi dewa Jashin, kau selalu menyusahkan pria mungil breng***. Dasar penyakitan!" umpat Hidan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Hidan! Jangan bilang begitu pada Sasori." bela Konan. Hidan langsung diam. Ia memang hanya menuruti perkataan Konan atu Pain.
"Hei.. Sudah,, sudah.. teman-teman." lagi-lagi Pein harus melerai mereka.
Tiba-tiba, di tengah suasana ricuh dan panik. Terdengar suara derap langkah kaki yang ribut sekali. Semua anggota Akatsuki tau, itu suara langkah kaki siapa. Apalagi Deidara. Ia sudah memasang wajah ngeri luar biasa ketika mendengar suara langkah kaki itu.
"Oh..tidak un! Siapa saja, tolong bunuh aku sekarang!" gumam Deidara dengan wajah frustasi. Semuanya termasuk Sasori menahan tawa karena tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"5...4...3...2...1..." Zetsu cengengesan sambil menghitung mundur. Ketika hitungan mundur Zetsu berakhir, muncullah makhluk autis yang gemar memakai topeng orange berbentuk lollypop.
"Deidara-senpai...!" Tobi, si anak bawang Akatsuki berlari ke arah Deidara dan menubruknya sampai ia terjengkang dari atas bangku.
DUAAAK… BRUKKK….
"Uupsss…" Tobi memegang kedua pipinya dengan sangat imut.
Sedangkan Deidara, sudah memancarkan aura gelap yang luar biasa mencekam dan sangat menakutkan. Semua anggota kecuali Tobi sudah memandang ngeri pada Deidara. Mereka tau kalau sebentar lagi Deidara akan melaedak.
"HOY TOBI! Kenapa cuma aku sih yang kau siksa seperti ini un!" bentak Deidara sambil mengusap kepalanya yang terbentur tembok.
"D..Dei-senpai marah sama Tobi?" mata Tobi sudah berlinangan air mata buaya ketika Deidara membentaknya.
"jika kau PINTAR kau harusnya tak usah bertanya lagi padaku! Namun sayang kau ini BODOH un!" kata Deidara ketus.
"Hiks..." semua mata memandang Tobi. Mereka semua sudah siap menutup telinga mereka masing-masing karena mereka tau setelah itu Tobi pasti...
"HUAAAAAAAAAAAAAAAA... DEIDARA-SENPAI JAHAAAAAAAAATTTTTT!" Tobi menangis meraung-raung hingga satu sekolah mendengar suaranya walau tanpa microphone.
Pein menepuk dahinya dengan wajah frustasi. 'Organisasiku sangat kacau' benak Pein dengan wajah depresi.
.
.
"Hufffhhhhhh…" Sasori menghela napas panjang ketika ia telah sampai di depan rumahnya.
Ia pun melangkah ke arah pintu rumahnya tersebut dengan langkah gontai. CKLEK.. Ia membukanya lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya tersebut.
"Tadaima.." ucapnya lemah.
"OKAERI… NII-CHAAAAAAANNN…" sahut Sakura, adik perempuan Sasori yang masih kelas 3 SMP sambil berlari ke arah Sasori lalu langsung memeluk Sasori dengan sangat erat.
Yang di peluk tetap memasang wajah lesu dan suram.
"Nii-chan? Kau kenapa? Seperti gadis yang baru kehilangan keperawanan saja…" ucap Sakura dengan polosnya tapi sanggup membuat Sasori melotot.
"KAU…. Belajar darimana kau kata-kata barusan?!" Sasori langsung memegang kedua pundak adiknya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Owww…ow… Santai saja dong Nii-chan,,, aku ini kan sudah 14 tahun, dan aku sudah punya pacar. Aku sudah sering melihat ekspresi para gadis yang baru saja kehilangan keperawanannya…" ucap Sakura santai.
Sasori semakin panik setelah mendengarkan penuturan adiknya. "SAAAAAAAKUUUUURAAAAA!" jerit Sasori sekeras-kerasnya.
Sakura langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat. "Iya… Iya… Nii-chan,, aku bercanda!" kata Sakura untuk menghentikan teriakan Sasori.
Sasori pun terdiam dan menatap adiknya dengan tatapan masih ingin teriak.
"Aku memang tak mengerti apapun tentang 'keperawanan' aku hanya meniru dialog di FTV yang tadi kutonton.. " jelas Sakura.
"Oh ya? Judulnya apa?" tanya Sasori polos.
"Tidak ada perawan, janda pun jadi.."
"NANI? FTV macam apa itu?! Acara televisi zaman sekarang memang harus di komplain habis-habisan!" Sasori mengepalkan tangannya seperti orang yang sedang berorasi.
"Ya..ya..ya.. terserah apa katamu lah Nii. Nii-chan,,, aku mau curhaaatt…" kata Sakura manja sambil menarik-narik lengan seragam sekolah kakaknya.
"Jika itu tentang Sasuke,, aku tak mau dengar. Lagipula aku sangat lelah Sakura… kumohon lepaskan aku kali ini…" Sasori sampai menyatukan kedua telapak tangannya di depan Sakura dengan wajah melas.
Sakura langsung terlihat kesal sekali karena penokalan Sasori itu. "Huh! Dasar Nii-chan! TIDAK BERGUNA!"
JLEBBB satu panah tak terlihat menembus jantung Sasori.
"Suka mengharapkan PACAR ORANG!"
JLEBBB…
"Nilai pelajaran MERAH SEMUA!"
JLEBBB…
"SENIMAN TAK BECUS!"
JLEB! JLEB! JLEB!
Kata-kata terakhir Sakura mampu membuat 3 panah sekaligus yang menembus jantung Sasori.
Sasori yang memang sudah badmood, tak bisa berkata apapun dan hanya bisa melangkah pergi meninggalkan adiknya yang masih marah-marah di ruang tamu.
.
.
Sasori melemparkan tas sekolahnya di sudut kamarnya secara sembarangan. Kemudian disusul dengan sepasang kaus kaki hitamnya dan juga jaket biru yang ia kenakkan.
Sasori membuka satu persatu kancing seragamnya dan melepaskan baju seragam itu lalu kembali ia lemparkan ke sembarang tempat di kamarnya. Celananya pun ia buka dan ia lempar.
Ia berjalan ke arah lemari pakaiannya. Ia buka lemari itu,, eeewww berantakan sekali. Semua baju-bajunya tersusun berantakan bahkan ada beberapa baju yang lipatannya terbuka.
Hal ini disebabkan oleh Sasori yang suka mencari baju-bajunya secara asal-asalan. Padahal sang ibu selalu memarahinya karena sikap jorok dan berantakannya itu. Namun tetap saja ia begitu.
Kini Sasori sudah mengenakkan kaos berwarna kuning dengan celana pendek hitam yang ia pilih dari dalam lemari pakaiannya yang berantakan itu. Lalu, Sasori beralih ke meja belajarnya yang berada di seberang lemari pakaian. Ia membuka laci meja belajarnya dan mengeluarkan beberapa peralatan membuat boneka kayu dan membawanya ke lantai.
Sasori pun duduk bersila kaki di lantai dan mulai memegang cutter dan sebuah boneka kayu berbentuk manusia (menurut Sasori) yang sebenarnya bentuknya sama sekali tidak jelas.
Bagian kepalanya tidak bulat dan malah penyok-penyok. Bagian tubuhnya pun tidak simetris kanan dan kirinya. Belum ada kaki dan tangan yang terpasang di sana. Ia mencoba mengukir wajahnya dulu sebelum memasang kaki dan tangannya.
Dengan sangat hati-hati dan bermodalkan gaya seperti seorang pembuat boneka kayu professional (gayanya doang),, Sasori mulai membuat pola bulat yang mungkin ia sebut mata. Namun, ukirannya itu sangat jelek dan tidak seperti mata.
Sasori terdiam memandangi ukiran mata pada wajah boneka kayunya tersebut. Ia memperhatikan boneka itu dengan sedikit mengerutkan dahinya. "Bagus…" Sasori mengangguk-angguk menatap boneka jeleknya.
Namun, sesaat kemudian, wajahnya menjadi sangat murung. Mendadak ia mengingat kata-kata yang Deidara ucapkan padanya.
Ketika kau melihat kekurangan di karya senimu,, katakanlah 'Bagus'. Karena kata-katamu itu bisa memasukan sugesti positif ke dalam pikiranmu yang membuatmu membuat karya senimu yang kurang bagus itu menjadi lebih bagus lagi un….
"Cih! Omong kosong.. " Sasori melepaskan pegangannya ke boneka tersebut dan membiarkan boneka itu terjatuh bebas di lantai. "Barang rongsokan, selamanya akan menjadi barang rongsokan!" seru Sasori yang kesal pada dirinya sendiri karena merasa tidak berguna.
Sasori pun beranjak dari posisi duduknya dan meninggalkan peralatan memahatnya secara tidak bertanggung jawab di lantai. Kemudian ia duduk di meja belajarnya setelah membuka gorden yang terletak tepat di depan meja belajarnya itu.
Sasori bertopang dagu dan menatap malas ke luar jendela. Ia melihat banyak orang yang berlalu-lalang di depan rumahnya. Kemudian ia beralih pada bingkai foto yang tergeletak terbalik di atas mejanya.
Ia mengambil bingkai itu dan memandangi foto yang berada di bingkai itu. "Konan…." Ucapnya pelan.
BLUSSSHHH….
Hanya memandang fotonya saja Sasori langsung blushing. Dengan cepat ia membalik bingkai foto itu lagi di atas mejanya.
"Huffffhhh…." Sasori menghela napas lega ketika foto Konan sudah berhasil diamankan. Kini matanya teralih pada buku pelajaran sejarah yang berserakan di antara buku-buku pelajaran lain di meja belajarnya. Ia ingat bahwa minggu depan akan diadakan ulangan pelajaran sejarah. Dan dia paling lemah dalam pelajaran itu. Meskipun sebenarnya ia buruk dalam semua mata pelajaran sih.
Ia mengambil buku itu dan langsung membuka BAB 4 di dalam buku tersebut.
AKATSUKI.
Akatsuki adalah sebuah organisasi paling berbahaya yang menjadi ancaman bagi semua desa di lima Negara besar. Anggotanya adalah 10 orang ninja buron penghianat desa dengan level ninja rank S atau sangat berbahaya.
Sasori membalik-balik halamannya lagi sampai ia menemukan sesuatu yang ia cari.
1. Akasuna no Sasori
Akasuna no Sasori adalah salah satu anggota Akatsuki yang paling di segani di dunia shinobi. Ia adalah seorang penghianat dari desa Sunagakure yang pergi meninggalkan desa ketika ia masih berusia 15 tahun.
"Sugoi,,, masih kecil tapi sudah berani…" komentar Sasori.
Ia sebenarnya hanyalah seorang anak kesepian yang tinggal berdua dengan nenknya karena kedua orang tuanya telah meninggal dalam sebuah peperangan. Sasori yang tidak pernah diberi tau oleh neneknya pun selalu menunggu kepulangan kedua ayah dan ibunya. Namun mereka tak pernah kembali. Sehingga, Sasori yang mulai tumbuh dewasa menjadi anak pendiam yang anti sosial. Dia benci menunggu dan benci membuat orang lain menunggu.
"Kasihan juga anak itu.. " gumam Sasori perlahan.
Sasori adalah seorang puppet master paling hebat yang pernah ada. Di usia mudanya, ia sanggup menciptakan berbagai boneka perang untuk mendukung desanya dalam menghadapi serangan-serangan musuh dari luar. Ia pun bisa membuat tubuh manusia menjadi boneka seutuhnya dan dijadikan alat perang untuknya.
"Wooowww Sasori yang satu ini benar-benar membuatku iri…"
Ia membuat boneka manusia dengan cara membedah tubuh manusia itu, mengeluarkan semua organ tubuhnya, lalu mencuci bersih tubuh yang tak berisi itu. Kemudian ia mengisi tubuh itu dengan beberapa senjata dan racun lalu melapisi mereka dengan kayu.
"Iyyuukksss…. Dia mengerikan!" seru Sasori sambil menutup mulutnya.
Tapi perbuatan itu melanggar hukum dan ia memutuskan untuk pergi dari desa dan menjadi penghianat. Kemudian Sasori muncul sebagai anggota Akatsuki beserta Deidara partnernya dan kembali ke desanya untuk menyerang Kazekage ke-5 yang merupakan seorang jinchuriki karena tujuan Akatsuki yang memang memburu 9 bijuu yang tersegel di setiap tubuh seorang jinchuriki.
"Bahkan di masa lalu pun Sasori bersama dengan Deidara.. " gumam Sasori. Sasori menguap dan langsung membalik-balikan halaman bukunya dengan wajah bosan.
Kegiatannya pun terhentu ketika menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Kematian Sasori
Sasori tewas di tangan neneknya dan seorang kunoichi dari desa Konoha yang bernama Haruno Sakura ketika mereka berusaha menyelamatkan Kazekage ke-lima dari cengkeraman Akatsuki. Sampai sekarang ini masih menjadi misteri. Kenapa seorang puppet master hebat yang tak pernah kalah sekali pun dalam pertarungan bisa menemui ajalnya di tangan seorang nenek tua dan gadis remaja.
Sasori terdiam. Perlahan ia menutup buku sejarahnya. Ia tiba-tiba berpikir, kenapa Sasori bisa kalah? Bukankah dia The Puppet Master?
Sasori yang sempat mengagumi Sasori yang lainnya itu pun mendadak kecewa ketika tau penyebab kematian sang puppet master legendaris itu.
"Sasori no Baka.." bisik Sasori pelan dengan wajah sedih. "Semua yang bernama Sasori adalah pecundang. " lanjutnya.
.
.
.
.
.
To be Continued ^^
.
.
.
.
.
Special thanks for : Shadow, Apostrophee, Mudiantoro, AN Narra, Green Mkys, Haruko Akemi..
Arigatou buat reviewnya, Ame jadi tambah semangat! ^^
Sasori antimainstream? Hahaha memang itu tujuanku :3
Umm,,, action ya? Pasti itu mah, tapi sabar ya, mungkin di beberapa chapter selanjutnya :D
Yupp,, ini emang tentang perjalanan Sasori dari dia skillnya masih nol banget sampai ia berhasil jadi The Puppet Master :D
Hehe masih banyak typo :( Nanti Ame bakalan lebih teliti lagi,, arigatou masukannya, berguna sekali… :3
Hahaha,, SasoDei disini adalah sahabat deket banget, dan emang banyak banget adegan mereka berdua nantinya. Tenang aja, tapi 'just friendship' loh yaaa :D
.
.
.
.
.
Chapter selanjutnya….
Sore nanti Akatsuki akan langsung ke Suna. Agar besok pagi sudah sampai dan bisa berburu seharian di hari sabtu. Lalu di hari minggu barulah kita melakukan kegiatan masing masing.
.
"Hunting lagi?"
.
"Sasori-kun, kau terlihat lesu sekali. Ada apa?"
.
Aku selalu menghayal mungkinkah aku reinkarnasi darinya? Hey.. Dia dan aku sama-sama suka boneka kayu. Prinsip seni kami pun sama. Tapi itu khayalan bodoh. Sasori yang itu jelas-jelas The Puppet Master. Sedangkan aku? The Looser Puppet Master.
.
"Itachi-san, kau mau?" Kisame menyodorkan bento berisi sushi pada Itachi.
"Hn. Arigatou Kisame-san." Itachi disuapin sushi sama Kisame. "Kisame-san, kau mau?" Itachi menawarkan kue dangonya pada Kisame.
"Tentu saja. Arigatou Itachi-san". Kisame disuapin dango sama Itachi.
.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Konan menatap wajah Sasori. Sasori tetap berusaha tak memandang wajahnya.
.
GROAAAAAAAR!
.
"Aku akan menangkap ekornya dengan taliku. Setelah itu, kau lumpuhkan kakinya dengan sabitmu." tutur Kakuzu yang memberikan arahan pada Hidan .
"Wakatta! cepat lakukan kikir breng***!" perintah Hidan.
.
"Apa yang senpai lakukan?" Tobi nangis-nangis saat semua lollypopnya berhasil direbut Zetsu.
.
"APAAAAAA?! Bagaimana bisa kau membawa senapan tanpa isi peluru?!"
"Habisnya kan biasanya sekali tembak langsung kena sayangg." Pein menunduk frustasi.
.
"kita akan menjadi bintangnya kali ini un." kata Deidara dengan semangat./"Benar! Dan komisi kita akan lebih banyak 50% dari komisi yang lainnya." kata Sasori yang meniru gaya bicara Kakuzu si matre kikir.
