"Saat itu, kami sedang beristirahat un.. Kemudian, insting pemburu kami memberi tahu kalau hewan itu ada dibalik pohon." kata Deidara.

"Kemudian dengan sigap kami mengeluarkan senjata kami. Aku mengeluarkan jarum-jarum biusku, Dei mengeluarkan petasannya." tambah Sasori.

"Kami mendekat ke arah hewan itu un. Lalu aku berteriak lantang padanya 'HEI HEWAN BODOH, RASAKANLAH SENIKU YANG HEBAT INI UN' aku pun melemparinya dengan petasan buatanku dan BLAM! Hewan itu ketakutan karena ledakanku un." wajah Deidara berseri-seri. Ia bercerita dengan seringaian lebar di bibirnya ditambah dengan gerakan tangan dan tubuhnya.

"Setelah itu, si hewan menggila dan menyerang kami. Aku bergulat dengannya seorang diri aku menendang perutnya, menyikut wajahnya, mencekik lehernya. Dia sangat tangguh!" Sasori tak kalah ekspresifnya dengan Deidara ketika bercerita.

"Aku pun membantu Danna dan bergulat dengan hewan ini un. Dia memang tangguh tapi kami lebih tangguh un." Deidara melipat tangannya di depan dadanya lalu tersenyum sombong.

"Ya benar! Setelah itu, aku dan Dei berhasil merobohkannya. Dia menangis seperti bayi saat itu. Ku katakan padanya 'Dasar hewan jelek. Itulah akibatnya jika melawan kami'. Kemudian dia menunduk seperti kucing yang manis." Sasori mengangguk-angguk sambil menyeringai.

"Setelah itu, untuk mengurangi penderitaannya, Danna membiusnya agar dia tidak merasa takut lagi pada kami un."

"Begitulah cara dua orang pria gentle seperti kami melumpuhkan hewan buas ini (un)." kata Sasori dan Deidara bersamaan dengan wajah bangga. (dasar pembual).

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

"Waaaaah Dei-senpai dan Saso-senpai kereeen….." puji Tobi dengan mata berbinar-binar.

"Benaaar! Kau hebat Sasori, Deidara... Pein dan aku saja tak bisa menangkapnya." tambah Konan yang juga berbinar-binar.

"Cih! Paling-paling mereka hanya membual." ucap Zetsu dengan sebal.

"Benar! Pasti itu semua cuma kebetulan yang dibesar-besarkan." tambah Kakuzu.

"Tidak mungkin pasangan gay biadap seperti kalian bertarung sekeren itu!" Hidan mencibir ke arah Sasori dan Deidara.

"Bilang saja kalian iri pada kami un! Kalian hanya pecundang dan kamilah pemenangnya un! Iya kan Danna un?" Deidara melirik ke arah Sasori seolah minta dukungan. Sasori mengangaguk dengan antusias.

"Apa katamu ukenya Sasori sia*an?!" geram Hidan.

"CUKUP! Sudahlah yang penting hewan ini sudah tertangkap." Itachi menengahi perdebatan mereka.

"Benar kata Itachi-san. Lebih baik, pikirkan nama untuk hewan ini. Ini kan hewan spesies baru." kata Kisame seraya menunjuk hewan itu.

Hidan, Zetsu, dan Kakuzu berdecak kesal. Lalu meninggalkan tempat itu. Yang lain tidak menahan mereka. Biarlah mereka menenangkan diri. Tapi Tobi nyusulin partnernya si Zetsu.

"Baiklah, Sasori.. Dei, karena kalian yang menangkapnya, kupersilahkan kalian berdua untuk memberikan nama kepada hewan ini." ucap Pein dengan nada bijaksana.

"Hmm... Hewan ini mirip Ichibi di dalam sejarah un." gumam Deidara dengan gaya orang berpikir.

"Iya juga sih.." kata Sasori dengan gaya yang sama dengan Deidara.

"Bagaimana kalau kita beri nama Shukaku!" ucap Deidara dan Sasori bersamaan (kompak banget sih pacar-pacar Ame xD).

"Bagus." Konan tersenyum sambil menepuk bahu Sasori. Yang ditepuk langsung keringet dingin. Sebentar lagi juga pingsan.

Deidara dengan sigap langsung memisahkan jarak antara Konan dan Sasori sejauh 1 meter sebelum Sasori pingsan.

"Apaan sih Dei?!" kata Konan dengan sebalnya.

"Jangan deket-deket Danna ya un! Deket-deket aku aja un." Deidara noel-noel dagu Konan sampai Konan blushing.

DUAKK|PLETAK ! Deidara di tonjok Pein dan di jitak Sasori.

"Aduh! Sakit tau un!" Deidara mengelus pipi dan kepalanya yang sakit.

"Ya sudah. Sekarang lebih baik kita ke penginapan di desa Suna bagaimana? Mumpung masih siang. Nanti malam kau bilang ada festival kan sayang?" tanya Pein pada Konan.

"Hn." Konan mengangguk sambil tersenyum. "Aku sudah siapkan yukata untuk nanti malam." kata Konan dengan tampang berseri-seri

Sasori memandangi Konan yang berseri-seri itu. Sasori sudah membayangkan betapa cantiknya Konan saat memakai yukata. Seandainya saja Sasori bisa berjalan berdua dengan Konan di malam festival itu, tapi itu mustahil. Konan pasti berjalan dengan Pein.

Deidara melirik Dannanya yang terlihat sedih. Ia tak tau harus berbuat apa. Ia tau persis apa yang ada dipikiran Dannanya saat itu.

"Yosh! Kalau begitu, ayo kita masukan Shukaku ini ke kandang besi di mini bus." perintah Pein pada ke-empat anak buah lelakinya.

"Umm, ano.." Kisame terlihat ragu-ragu.

"Gomen, badanku masih agak sakit. Kisame-san juga sedang terluka," sahut Itachi.

"Tidak apa-apa Itachi, biar kami yang menangani. Ya kan? Sasori, Dei, biarkan mereka beristirahat." sahut Pein.

"Aku gak mau ah. Shukakunya bau." sahut Sasori.

"Aku juga gak mau un. Berat tau!" sahut Deidara.

KisaItaPein cuma geleng-geleng lalu akhirnya mereka bertigalah yang tetap mengangkat Shukaku dan membawanya ke mini bus. Mereka bertiga berpikir jangan-jangan KakuZetHid benar kalau si SasoDei cuma membual (Akatsuki : Kenapa Ame jadi hobby nyingkat-nyingkat nama (un)? / Ame : Suka-suka gue! Situ oke? / Akatsuki : Gue mampusin lo Ame sialan (un) / Ame : A..ampun..hiks...hiks..Sasori darling, Deidara honey, tolongin... / Sasori : Sejak kapan gue jadi darling lo?! / Dei : Gue juga gak mau jadi honey lo un! / Ame : Itachi-nii , tolong... / Itachi : Gue bukan kakak lo! Gue Amaterasu lo! / Ame : Siapa yang mau nolong dong? / Tobi : Tobi mau, mau, mau, Tobi kan anak baik.. / Ame : Bunuh gue aja deh daripada di tolongin ama si Tobi! / Tobi : huweeeeeee.. Ame-san jahaaaat!).

.

.

Sasori, Akatsuki, Rate T, Drama, Friendship

.

.

Pada sore hari, anggota Akatsuki sudah sampai di penginapan. Disana, mereka beristirahat sejenak. Para cowok-cowok Akatsuki memutuskan untuk berendam di pemandian air panas di penginapan. Sedangkan satu-satunya cewek di Akatsuki itu langsung mengunci diri di kamar guna mempercantik diri sebelum ke festival.

"Huaaaah.. Emang paling enak berendam di air panas ketika lelah." gumam Zetsu sambil merentangkan tubuhnya.

"You right fuc***g florist!" Hidan menenggelamkan wajahnya ke dalam air.

"Itachi-san, mau kugosok punggungmu?" tanya Kisame.

"Hn. Arigatou Kisame-san" jawab Itachi.

"Bebeknya berenang... Cipak cipuk cipak cipuk.. Loh? Ada puteri duyung. Sedang apa kau?" Tobi yang membawa mainan bebek karet ke pemandian, tengah memainkan bebek karetnya layaknya bocah lima tahun.

"Aku lagi nyari pangeran Errick. Kau lihat gak bebek?" eh, ternyata ada bocah lain yang bawa-bawa boneka Ariel the mermaid ke pemandian. Siapa lagi kalau bukan Sasori.

"GROK...zzz...GROK...zzz...GROK...zzz..." ternyata Kakuzu malah tidur di pemandian. Untung gak tenggelam (hati-hati bang kuzu !).

"CK! Tak ada celah untuk mengintip ke pemandian wanita lagi!" gerutu Pein sang ketua mesum dengan gondoknya.

Sepertinya ada yang kurang, Kemana Deidara? Ternyata dia sedang membenamkan seluruh tubuhnya di dalam air. Lalu, tak lama kepalanya menyembul dari dalam air hingga butiran-butiran air itu melayang di udara dan ia pun mengibaskan rambut pirang panjangnya yang basah sambil mengusapnya dengan kedua tangannya dengan gerakan slowmotion.

Semua cowok Akatsuki yang melihat adegan itu, langsung terpana melihat Deidara dan menghentikan aktivitasnya masing-masing. Bahkan Kakuzu yang sudah terlelap pun langsung membuka matanya lebar-lebar demi melihat pemandangan indah itu.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

SROOTTTTT

Para cowok Akatsuki yang melihat Deidara yang sangat mirip dengan perempuan menggoda yang sedang mandi saat itu pun langsung nosebleed serempak.

Seketika Deidara langsung keheranan melihat tingkah teman-temannya. "Kalian kenapa sih un?" Deidara mengerutkan dahinya sambil memandang mereka satu persatu.

'Sh*t! Manis banget si Uke sia*an itu!' benak Hidan.

'Ternyata Dei kalau masuk ke air panas berubah jadi cewek toh. Berarti dia aslinya cewek dong?' benak Zetsu yang kebanyakan baca komik Ranma ½.

'Cantiknya gadis pirang itu.' benak Kisame.

'Rambutnya menggoda.' benak Itachi.

'Senpai sexy banget!' benak Tobi. (kaya Tobi ngerti aja sexy itu apa!)

'Baru ngeh kalau Dei itu cantik banget!' benak Sasori sambil menatap Deidara dengan penuh kekaguman (kemane aje lo Sasori Darling?).

'Ada bidadari nyasar di kolam cowok ya?' benak Kakuzu.

'Gak apa-apa deh gak ada celah ngintip. Pemandangan disini juga bagus kok. Hihi.' benak Pein sambil tertawa mesum.

Lalu, tiba-tiba semuanya menghadap ke arah Deidara dengan tatapan penuh nafsu. "DEI-CHAN MANIS, APA PUNGGUNGMU MAU KUGOSOK?" tanya cowok-cowok itu serempak seraya mendekat ke arah Deidara dengan seringaian nakal di bibir mereka masing-masing.

Deidara yang merasakan aura negatif berbau pelecehan langsung melompat keluar kolam pemandian dan buru-buru mengambil handuk untuk menutupi bagian terpentingnya.

"DASAR COWOK-COWOK GAK NORMAL UN!" Deidara teriak seperti wanita sambil menunjuk mereka dari atas kolam dengan wajah blushing entah marah entah malu dan setelah itu ia langsung ngacir keluar area pemandian.

Cowok-cowok yang tadi 'sempat' terpesona oleh kecantikan Deidara yang menggoda, kini telah sadar dari fantasi-fantasi liar mereka tentang Deidara versi wanita dan langsung muntah-muntah setelah melihat tubuh Deidara yang benar-benar pria tulen 100% (ingat, ini bukan fic yaoi loh).

.

.

WARNING : AU, OOC, TYPO, GAJE,

MEMBOSANKAN

.

.

"Nona..." seorang pelayan wanita memanggil Deidara yang sedang berjalan ke arah kamarnya. Tapi, Deidara yang merasa bukan 'nona' terus berjalan dengan santainya.

"Nona tunggu." pelayan itu menarik yukata penginapan yang tengah Deidara kenakan.

"Ada apa sih un? Aku bukan nona tau! Aku laki-laki un!" Deidara memasang wajah kesal.

"A..ano..gomenasai tuan." ucap pelayan berambut hitam pendek dengan tanda pengenal bertulisan Shizune itu.

"Ya un. Tidak apa-apa. Ada apa un?" kata Deidara cuek.

"Kalian mau pesan menu masakan paket A, B, atau C untuk makan siang?" tanya pelayan itu seraya memegang pulpen dan kertas untuk mencatat pilihan Deidara.

"Bedanya apa un?"

"Kalau paket A, menyajikan masakan perancis. Paket B, menyajikan masakan China, dan kalau paket C, menyajikan masakan Jepang." jelas pelayan itu dengan sangat ramah.

Deidara terdiam dan terlihat berpikir sebentar. "Humm,, paket A saja deh un." pilih Deidara. 'Sesekali boleh-boleh saja kan makan masakan Perancis.' benak Deidara.

"Gomen ne, juru masak masakan perancisnya sedang mengalami masalah perut sehingga ia tidak bisa memasak hari ini." kata si pelayan dengan tampang menyesal.

'Tsc, kalau tau begitu kenapa masih menawarkan menu paket A un!' geram Deidara dalam hati. "Ya sudah paket B saja un." Deidara berusaha menutupi amarahnya.

"Gomen ne, tapi jembatan penyeberangan di arah timur sedang di renovasi." ucap si pelayan yang lagi-lagi memasang tampang bersalahnya.

Deidara mulai kesal kepada pelayan itu. "Lalu apa hubungannya..!" nada bicara Deidara mulai tinggi.

"Karena toko yang menjual bahan masakan China hanya bisa di jangkau jika melewati jembatan itu. Jadi kami tidak bisa menyiapkan masakan China karena bahan-bahannya tidak ada. Hehehehehe." pelayan itu malah tertawa polos di hadapan Deidara.

Deidara mengepalkan kedua tangannya dan urat-urat di dahinya mulai bermunculan. "Lalu... Kenapa... Kau... MENAWARIKU MENU PAKET B?!" teriak Deidara yang geram tepat di depan wajah si pelayan.

"Go..go..gomenasai Nona, eh.. Tuan, atashi, atashi..." si pelayan itu sangat ketakutan hingga kaki-kakinya lumer.

"Sudahlah! Paket C saja.." ucap Deidara dengan kesalnya.

"Ano..." ucap si pelayan menggantung.

"NANI?! APA ITU JUGA TIDAK ADA?!" kepala Deidara membesar seolah ingin menelan si pelayan hidup-hidup.

"Ti..ti..ti..tidak. Paket C ada kok No, eh tuan." ucap si pelayan dengan gugupnya.

"Lalu?"

.

.

The Puppet Master

By : Chan-ame

.

.

"Ma..makanannya.. Mau diantar ke kamar kalian masing-masing atau mau di sediakan di ruang makan agar bisa makan besar bersama-sama?" tanya pelayan itu perlahan.

"Hmm... Makan bersama saja un."

"Mau di ruangan A, B, atau, C?" tanyanya lagi.

"Bedanya apa un?"

"Kalau di ruangan A, anda bisa menikmati langsung pemandangan pegunungan Kawarimi sambil menyantap makanan anda. Kalau di ruangan B, anda bisa menikmati langsung pemandangan pantai utara Sunagakure sambil menyantap makanan anda, dan kalau di ruangan C, humm, hanya ruangan kosong tanpa ada yang menarik sih." jelas pelayan itu dengan sangat ramah.

Deidara terdiam dan terlihat berpikir sebentar. "Hum, ruangan A saja deh un." pilih Deidara. 'Sepertinya menarik makan sambil memandangi gunung.' benak Deidara.

"Gomen ne, ruang A sedang di renovasi jadi tidak bisa dipakai." kata si pelayan dengan tampang menyesal.

'Tsc, kalau tau begitu kenapa masih menawarkan ruangan A un!' geram Deidara dalam hati. "Ya sudah ruangan B saja un." Deidara berusaha menutupi amarahnya.

"Gomen ne, tapi perusahaan SABAKU sedang diambang kehancuran." ucap si pelayan yang lagi-lagi memasang tampang bersalahnya.

Deidara mulai kesal kepada pelayan itu. "Lalu apa hubungannya..!" nada bicara Deidara mulai tinggi.

"Karena mereka berada diambang kehancuran, jadi mereka memutuskan untuk mengadakan rapat dadakan dan rapat dadakan itu dilakukan di ruangan B. Hehehehehe." pelayan itu malah tertawa polos di hadapan Deidara.

Deidara mengepalkan kedua tangannya dan urat-urat di dahinya mulai bermunculan. "Lalu... Kenapa... Kau... MENAWARIKU RUANGAN B?!" teriak Deidara yang geram tepat di depan wajah si pelayan.

"Go..go..gomenasai Nona, eh.. Tuan, atashi, atashi..." si pelayan itu sangat ketakutan hingga kaki-kakinya lumer.

Deidara memijat pelipisnya yang terasa sakit sekali itu. 'Kok aku merasa seperti deja vu ya dengan dialog kami un?' benak Deidara yang frustasi.

"Sudahlah! ruangan C saja.." ucap Deidara dengan kesalnya.

"Ano..." ucap si pelayan menggantung.

"NANI?! APA ITU JUGA TIDAK BISA?!" kepala Deidara membesar seolah ingin menelan si pelayan hidup-hidup.

"Ti..ti..ti..tidak. ruangan C kosong kok No, eh tuan." ucap si pelayan dengan gugupnya.

"Lalu?"

"Ma..makan siangnya mau jam 12, 13, atau-"

"TERSERAH!" bentak Deidara penuh emosi.

"Ba..baik No, eh tuan, akan kusiapkan!" si pelayan langsung menegakkan tubuhnya sambil hormat pada Deidara lalu bergegas pergi dari sana.

Deidara, kesal bukan main dan ingin sekali membunuh pelayan itu saat ini juga.

Langkah kaki pelayan itu terhenti dan ia berbalik menuju Deidara lagi. "Makanan penutupnya mau es krim, buah, atau-"

"TERSERAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH!" bentak Deidara lagi. Kali ini bentakkannya lebih dahsyat dari yang pertama.

"HA..HAI!" si pelayan itu hormat lagi dengan kaki gemetar. "Baiklah kalau begitu no, eh.. Tuan. Akan segera kami siapkan." pelayan itu membungkuk lalu mencoba berlari sekencang-kencangnya.

Tapi tiba-tiba Deidara teringat sesuatu dan menahan pelayan itu. "Matte un!"

Si pelayan itu mengehentikan langkah kakinya dan berbalik ke arah Deidara. "A..ada apa lagi no, eh.. Tuan?" si pelayan itu ketakutan.

Deidara menyeringai lalu membisikan sesuatu pada pelayan itu. Lalu Deidara memberikan beberapa lembar uang kertas ke pelayan wanita itu.

Pelayan wanita itu mengangguk sambil tersenyum. "Baik nona! Laksanakan!" Deidara memberi deathglare pada pelayan itu karena lagi-lagi membuatnya kesal dengan panggilan nona yang ia ucapkan.

Pelayan itu meneguk ludahnya lalu tersenyum aneh. "Ehmmmm... Maksudku, laksanakan tuan. Hehe.." kemudian si pelayan langsung berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Deidara.

"Dasar pelayan bodoh! Kenapa harus aku yang terlibat dengannya Kami-sama un? Dan lagi, apa dia tidak bisa membedakan cowok dengan cewek ya un.." gerutu Deidara.

(Ame : Salahkan mukamu yang cantik itu Dei! / Dei : Tapi lo suka gue kan un? Lo kan cewek, berarti lo liat gue sebagai cowok gentle dong un? / Ame : Hum! *blushing sambil merem sambil ngangguk-ngangguk 1000x*)

.

.

Chapter 4 : Aku Ada Di Mana?

.

.

"ITADAKIMASU" semua anggota Akatsuki lengkap sudah berada di meja besar yang penuh dengan makanan-makanan lezat khas penginapan di desa Suna tersebut.

Semuanya makan dengan lahap disertai tawa ria dan canda mereka. Di sudut ruangan, pelayan wanita berambut hitam yang tadi sempat membuat Deidara agak frustasi sedang berdiri dan menunggu ada yang membutuhkan bantuannya. Deidara melirik ke arah pelayan itu dan menatapnya seolah berkata "Apa sudah kau kerjakan?"

Pelayan itu mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Deidara tersenyum senang karenanya.

Sebenarnya, yang diminta Deidara kepada pelayan itu adalah agar ia memasukan obat cuci perut sebanyak-banyaknya ke makanan dan minuman Pein agar Pein tidak bisa ikut ke festival. Dengan begitu, Sasori bisa dengan leluasa mendekati Konan. Deidara memang sangat peduli pada sahabatnya itu.

.

.

Malam harinya, para cowok Akatsuki minus Pein sudah berkumpul di teras penginapan dengan penampilan yang berbeda. Mereka memakai Yukata tradisional dan terkesan tampan karena pakaian itu.

Sasori mengenakan yukata merah, Deidara biru, Kisame abu-abu, Itachi cokelat tua, Kakuzu hitam, Hidan orange, Zetsu hijau, dan Tobi PINK? (Ame : Seriusan lo Tobi? / Tobi : Hai! Ame-san *ngacungin jempol ala gai-sensei*).

Mereka sedang menunggu ketua mereka beserta kekasihnya yang belum juga keluar dari kamar masing-masing.

"Ketua lama banget deh. Tobi kan udah gak sabar pengen main." Tobi cemberut sambil mengigiti Yukatanya.

"Sabar dulu dong Tobi. Nanti juga keluar." kata Zetsu sambil menepuk-nepuk pundak Tobi. (Duuh, Zetsu keibuan banget :3).

"Hoaaaaehhmmm.. Aku ngantuk." ucap si baby doll sambil merentangkan tangannya. Namun aksinya terhenti ketika melihat seorang gadis cantik berambut biru yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Konan. Pujaan hati si baby doll Sasori.

Gadis itu nampak sangat anggun dengan Yukata berwarna ungu muda dengan motif bunga berwarna putih yang senada dengan hiasan mawar putih di rambutnya. Gadis itu sedikit berbeda dengan riasan make up tipis di wajahnya. Gadis itu tersenyum malu-malu ketika semua pria di sana menatapnya dengan kagum. Pasalnya, Konan di kesehariannya itu adalah gadis yang cukup cuek dalam berpenampilan. Tapi kali ini dia tampil bak seorang puteri raja.

"Wahh kau cantik sekali Konan-hime." puji Hidan yang untuk pertama kalinya berkata tanpa menggunakan kata 'sisipan'nya tersebut.

Konan blushing.

"Kau seperti puteri bulan Konan." kata Itachi sambil tersenyum. Jarang banget loh Itachi senyum. Bahkan hampir gak pernah.

Konan tambah blushing.

"Kau lebih cantik dari bunga manapun di dunia ini." kata Zetsu dengan mata yang berbinar-binar.

Kini wajah Konan benar-benar semerah rambut Sasori.

"Ariel the Mermaid aja kalah Konan-san." Kisame menyeringai.

"Untuk pertama kalinya dimataku ada yang lebih cantik dari uang." ucap Kakuzu.

"Konan-senpai maaaaniissss banget lebih manis dari lollypop Tobi." kata Tobi (Si autis bisa ngegombal juga toh?).

"Kau seni yang sempurna un. Bersediakah kau menjadi model patungku yang terindah un?" Deidara tersenyum manis banget (Pacar Ame gitu loh!).

"Hehehe... A..arigatou minna, kalian berlebihan ah." ucap Konan malu-malu seraya mengalihkan pandangannya dari para pria yang sedang menatapnya dengan mata berbinar.

"AH..GAK KOK. KAMU EMANG CANTIK BANGET MALAM INI (UN)." kata semua cowok itu kecuali Sasori.

Konan tersenyum dan berterimakasih lagi. Lalu Konan melirik ke arah Sasori. Cuma Sasori yang tidak berkata apapun. Tapi wajah Sasori sudah sangat merah padam semerah rambutnya jika dibandingkan dengan pria-pria lainnya.

Konan menghadap ke arah Sasori. "Ehm.. Sasori, bagaimana penampilanku?" tanya Konan malu-malu sambil berputar dengan cantik di hadapan Sasori.

Sasori langsung kumat. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, nafasnya terengah-engah, wajahnya pun semakin panas memerah. Namun kali ini Sasori mati-matian melawan semua itu. Ia memberanikan diri menatap Konan dan berusaha mengutarakan apa yang ada dipikirannya.

"K...k..ka..kau.. C..ca..ca..can..tik.. K..Ko..Ko..Konan!" ucap Sasori terbata-bata seperti orang gagu.

Konan langsung tersenyum lebar sekali. "Arigatou Sasori." ucapnya dengan penuh semangat. Sasori cuma sanggup mengangguk untuk membalas ucapan Konan. Tidak pingsan saja sudah keajaiban bagi Sasori saat ini.

"Lalu dimana ketua?" tanya Kakuzu.

Tiba-tiba Konan mengerutkan dahinya. "Huh! Si bodoh itu tidak bisa ikut ke festival. Katanya dia sakit perut dan tak bisa jauh dari toilet." ucap Konan dengan nada kesal.

Deidara tiba-tiba menahan tawanya. Sasori yang berada disamping Deidara pun langsung menyadari tingkah aneh sahabatnya itu. "Apa itu ulahmu Dei?" bisik Sasori. Deidara hanya menyeringai. Sasori menghela napas. Entah harus berterimakasih pada Dei, atau harus memarahinya.

"Kasihan ketua. Berarti senpai sendirian dong?" tanya Tobi.

Konan mengangguk. "Um. Makanya," Konan menoleh ke arah Sasori. "Kau temani aku ya Sasori?" pinta Konan dengan wajah memohon.

Sasori melotot. Ia tak percaya mendengarnya. Ia langsung tenggelam dalam imajinasinya sendiri dan meyakinkan dirinya bahwa itu memang bukanlah mimpi.

Namun, lamunannya terhenti ketika Deidara menyenggol lengan Sasori yang masih mematung dengan wajah blushing yang bodoh. "Cepat katakan ya, sebelum aku menggantikanmu un." goda Deidara pada Sasori.

Sasori mendeathglare Deidara setelah itu ia langsung ngangguk-ngangguk 1000x tanda ia setuju menerima ajakan Konan.

"Kenapa mesti dengan si semenya Deidara sih Konan-hime? Denganku saja." tawar Hidan. Konan hanya tertawa kecil.

"Gomen ne Hidan, aku dan Sasori kan sudah lama berteman. Jadi kurasa aku lebih nyaman dengannya. Hehe." Konan tersenyum manis dan menolak Hidan secara halus.

'Konan nyaman denganku?' benak Sasori. Wajah Sasori pun langsung berubah 100x lipat lebih merah daripada yang tadi. Kemudian kepalanya meledak dan asap mengepul dari atas kepala merahnya.

"Kyaa!" Deidara yang posisinya berada di samping Sasori pun langsung keget sendiri melihat Sasori yang meledak itu.

Hidan yang ditolak oleh Konan pun langsung memasang wajah terburuknya. Begitu pun dengan pria-pria lain yang berada di situ kecuali Sasori dan Deidara. Mereka pun lansung kecewa seperti Hidan setelah mendengar pernyataan Konan.

"Yasudah un! Ayo kita berangkat un!" kata Deidara dengan semangat 45nya.

"AYOOOOOO!" seru semuanya yang sudah kembali bersemangat lagi.

.

.

Di festival desa Sunagakure, suasananya sangatlah ramai. Banyak sekali lampu berwarna-warni yang menerangi kegelapan malam di sana. Ada juga bermacam-macam stand seperti stand makanan, pakaian, mainan, aksesoris, dan lain-lain. Katanya itu merupakan festival ulang tahun desa. Kebetulan sekali mereka sedang ada disana. Mereka memang memilih waktu yang tepat untuk berburu.

"WAAAAAAAAHHHH! BANYAK MAINAN! TOBI MAU, TOBI MAU, TOBI MAU! Dei-senpai Ayo temani Tobi!" Tobi menggandeng tangan Deidara dan langsung menariknya.

"Gak mau ah un! Sama Zetsu aja sana un!" tolak Deidara dengan sadis tanpa basa-basi.

Mata Tobi sudah siap mengeluarkan air bahnya. Namun Zetsu langsung mencegahnya dan mengajak si anak baik (katanya) itu ke stand mainan.

"Sudahlah Tobi, ayo bermain denganku ya…" Zetsu menepuk-nepuk kepala Tobi agar ia tak jadi menangis

"Itachi-san, ayo kita main itu." Kisame menunjuk permainan menjaring ikan dengan jaring kertas.

"Baiklah Kisame-san. Tapi aku mau beli dango dulu." Itachi menunjuk stand makanan yang menjual kushidango. Lalu mereka berdua pergi ke tempat tujuan mereka bersama-sama.

"Hey Kakuzu breng**k, ayo kita main itu." Hidan merangkul bahu Kakuzu sambil menunjuk ke arah permainan melempar panah ke papan target.

"Cih! Permainan bodoh." Tanggap Kakuzu sok cool.

"Hadiahnya utamanya uang loh." bisik Hidan tepat di telinga Kakuzu.

Seketika itu juga, mata hijau Kakuzu langsung menyala dan berkilat-kilat. Lalu dengan gerakan cepat, Kakuzu langsung menyambar tangan Hidan dan menarik Hidan ke tempat itu.

Kini tinggal Deidara, Sasori, dan Konan yang masih terdiam di tempat tanpa arah dan tujuan. Merasa tak mau mengganggu, Deidara pun ingin pergi meninggalkan mereka berdua. Sebelum mengutarakan niatnya, Deidara di tabrak oleh seorang wanita hingga hampir terjatuh.

"Ah.. Go..go..gomenasai." kata seorang gadis berambut indigo dan bermata lavender itu. Gadis itu terlihat sangat cantik bak seorang puteri raja. Sejujurnya, dia lebih cantik dari Konan malam itu.

"Loh Hinata? Kau ada disini un?" Deidara kenal gadis itu. Gadis itu teman sekelas adiknya Deidara. Gadis itu pula yang merupakan incaran hati Deidara. Deidara benar-benar tak menyangka kalau ia akan bertemu gebetannya di Suna ini.

"Aaah... Deidara-nii? Kau juga ada disini?" ucap Hinata lembut dengan tampang pura-pura terkejut. Sebenarnya Hinata memang sudah merencanakan ini semua.

Bukan Hinata sih, tapi, adiknya Deidara yang bernama Naruto itu lah yang merencanakan segalanya setelah tau tujuan hunting sang kakak dan apa yang akan sang kakak lakukan setelahnya. Rencana ini pun dibantu oleh Sakura, dan teman-teman lainnya.

"Hmm. Aku dan Akatsuki habis hunting di Suna. Kau bagaimana bisa berada di sini sendirian un?" tanya Deidara penasaran.

"Tadinya sih bertujuh. Aku, Naruto, Tenten, Ino, Sakura, Sai, dan Sasuke. Tapi aku terpisah dari mereka di tengah perjalanan." ucap Hinata pura-pura sedih.

"Hah? ada adikku dan adik Itachi juga?" celetuk Sasori.

"I..iya Sasori-nii" jawab Hinata.

"Anak itu! Berani-beraninya dia pergi ke tempat sejauh ini dengan pacarnya malam-malam begini!" Sasori yang sister complex pun langsung emosi sendiri. "Ne Hinata, apa kalian menginap? Di mana kalian akan menginap?" tanya Sasori dengan tatapan mata tajam sambil memajukan wajahnya kepada Hinata hingga Hinata merasa terintimidasi.

"A..ano, eto, k..kami menginap di, penginapan Kamaitachi." Ucap Hinata ragu-ragu.

"Yosh! Tak akan kubiarkan adkku menginap bersama si tengil Uchiha itu!" kata Sasori berapi-api.

Di tempat lain yang tak jauh dari sana..

"Kuso." Gumam Sakura yang sedang mengawasi keadaan.

Kembali ke lokasi semula...

"Ya sudah un. Jangan sedih. Bagaimana jika kutemani kau un? Aku juga sendiri." Deidara tersenyum ramah sampai membuat Hinata blushing berat.

"I...i..iya.. Ma..mau.." jawab Hinata dengan gugupnya.

"H..hey Dei! Kau akan meninggalkanku?" ucap Sasori panik. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diingikan jika ia hanya berdua saja dengan Konan.

"Kau kan bersama Konan un. Aku tak mau mengganggu Danna...un." Deidara mengedipkan sebelah matanya lalu menggandeng Hinata pergi menjauhi mereka berdua.

"T..tapi...Dei.." Sasori mengulurkan tangannya.

"Jaga Danna ya Konan un." teriak Deidara dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.

Kini Sasori dan Konan hanya berdua saja. Hening terjadi beberapa saat diantara mereka sebelum Konan akhirnya memecah keheningan.

"Um, kau tidak senang ya menemaniku?" tanya Konan sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.

"Bu..bukan seperti itu..!" Sasori langsung panik dan gugup. "Aku.." Sasori tidak sengaja menyentuh kedua bahu Konan dengan tangannya dan ia pun langsung segera menjauhkan tangannya dari bahu Konan sambil tersipu malu. "GO..GOMEN!" Sasori langsung berbalik badan agar tidak menghadap Konan. Ia sudah sangat gugup sekali.

Sedangkan Konan hanya menatapnya dengan tatapan bingung karena tingkah Sasori yang menurutnya tidak wajar.

"Daijoubu ka?" Konan memegang pundak Sasori yang sedang membelakanginya.

Sasori yang sangat tegang karena disentuh bahunya oleh Konan pun langsung berkeringat dingin. "Da..da..daijoubu!" ucapnya dengan susah payah.

Konan menghela nafas dan menarik kedua bahu Sasori dengan kedua tangannya sehingga kepala Sasori berada di bahu kanan Konan "Beli permen kapas yuk." kata Konan tepat di telingan Sasori yang membuat Sasori luar biasa terkejut dan semakin deg-degan.

Sasori pun langsung menjauhkan diri dari Konan dan menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri agar tidak gugup. Lalu, dengan perlahan, ia berbalik badan dan menatap Konan yang tengah berseri-seri dengan mata berkilat seperti anak kecil yang meminta permen kepada ibunya.

"Um.. A..aku.." ucap Sasori gugup.

"AYO!" Konan makin mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sasori yang sudah memerah itu. Sasori pun langsung mmundur satu langkah ke belakang.

"I..iya, baiklah." Sasori mengangguk sambil memaksakan senyumannya.

"Yaiy! Kalau begitu ayo cepat!" Konan memeluk lengan Sasori lalu beranjak pergi ke stand makanan. Sasori benar-benar tak sanggup menahan gejolak aneh di dalam dirinya. Ia merasa sangat senang tapi juga sangat gerogi.

Sasori pun membeli dua permen kapas di kedai makanan itu lalu ia pun memberikannya pada Konan.

"Waaaahhh….. Arigatou Sasori." Konan mengambil permen kapasnya dengan mata yang berkilat-kilat. "Sekarang kita kemana?" Tanya Konan semangat sambil memakan permen kapasnya.

Sasori sempat terpesona dengan Konan saat ia membuka mulutnya untuk memakan permen kapasnya. Namun, dengan segera ia langsung menampar pipinya sendiri agar ia sadar. "Hmm... Kita main lempar gelang saja." ajak Sasori yang sudah mulai anteng gejala anehnya dan lebih menikmati kebersamaannya dengan Konan.

"Ayo.. Ayo!" seru Konan bersemangat.

Kemudian mereka pun berjalan menuju ke stand permainan lempar gelang. Sesampainya disana Konan meminta agar Sasori memenangkan boneka beruang yang besar. Lalu Sasori pun akhirnya bisa mengabulkannya setelah 4 kali gagal.

"Kau hebat sekali Sasori." puji pada Sasori sambil memegangi boneka beruang hadiah utama yang sangat besar itu.

"Ah, tidak, hanya kebetulan saja. Hehehe.." Sasori tersipu malu karena pujian Konan itu.

"Rendah hati sekali. Seperti dirimu yang biasanya. Hum… Boneka lucu ini, kuberi nama apa ya?" Konan melirik ke arah Sasori meminta pendapat.

"Hmm.. Bagaimana kalau Sako?" ucap Sasori malu-malu karena maksud Sasori, Sako itu adalah Sasori Konan.

"Nama yang lucu. Apa artinya?" tanya Konan antusias.

Sasori langsung tersentak karena Konan menanyakannya."Tidak ada. Hehe." bohong Sasori.

Kemudian mata Sasori tertuju pada stand aksesoris. Ia melihat sesuatu di sana yang membuatnya jadi tertarik.

"Kau tunggu sebentar ya Konan," Sasori tersenyum lalu meninggalkan Konan beberapa langkah untuk menuju ke stand aksesoris.

Konan hanya diam sambil menatap Sasori yang terlihat membeli sebuah gelang sederhana yang cantik berwarna merah dan ungu.

Tak lama, Sasori berjalan ke arah Konan dengan wajah berseri-seri.

"Ini untukmu Konan. " kata Sasori seraya memakaikan gelang yang berwarna merah itu di tangan Konan.

"Apa ini?" Konan memperhatikan gelang di tangannya.

"Gelang persahabatan." Sasori menunjukkan gelang berwarna ungu berjenis sama yang telah ia pakai di tangan kirinya. "Warna merah itu melambangkan diriku, dan warna ungu yang kupakai juga melambangkan dirimu. Dan gelang yang berbentuk lingkaran ini kuanggap sebagai simbol persahabatan kita yang tak akan pernah ada ujungnya seperti sebuah lingkaran. Aku harap, kita bisa, seperti lingkaran." ucap Sasori sambil blushing.

Konan tersenyum mengangguk. "Pasti. Kita pasti akan seperti lingkaran Sasori." Sasori pun tersenyum mendengar jawaban Konan.

.

.

Tiba saatnya pesta kembang api akan dimulai. Konan dan Sasori menjauhi kerumunan dan berjalan ke arah bukit yang tidak jauh dari tempat festival. Mereka berdua pun duduk di atas bukit yang sepi itu.

"Kalau disini, kita bisa melihat jelas kembang apinya dan tak akan terhalang oleh apapun." kata Sasori sambil mengacungkan jempolnya.

"Kau pintar Sasori." Konan tersenyum kepada Sasori.

Tak lama, letusan kembang api mulai terdengar. Langit malam yang awalnya gelap telah berubah menjadi terang dan penuh warna karena ledakan indah yang menghiasi angkasa itu.

"Waaaah indahnya." Konan tak henti-hentinya menatap dan mengagumi letusan kembang api penuh warna di angkasa itu. Mata indahnya menjadi berkilat karena cahaya terang dari kembang api tersebut.

Sasori tak menatap langit sama sekali. Ia tak begitu suka dengan sesuatu yang meledak yang dianggap seni oleh Deidara itu. Ia lebih tertarik memandangi wajah gadis pujaannya yang tengah tersenyum dan berseri seri mengagumi keindahan setiap letusan cahaya warna-warni itu.

Tanpa sadar Sasori mendekatkan wajahnya ke wajah Konan. Konan tak sadar akan hal itu hingga ia merasakan hembusan nafas seseorang menerpa kulit wajahnya. Ketika Konan menengok, bibirnya langsung bertemu dengan bibir pemilik hembusan nafas itu, Sasori.

Awalnya mereka berdua terkejut. Lalu Sasori mulai memejamkan mata dan mengecup bibir gadis pujaannya lebih dalam. Konan diam saja. Ia tak membalas ciuman Sasori tapi juga tidak menolaknya.

Satu menit saja mereka saling bertukar kehangatan bibir mereka masing-masing. Tiba-tiba Sasori sadar dari kebodohannya dan melepaskan ciumannya dari Konan. Mereka langsung salah tingkah dan menjauhkan diri satu sama lain.

"Ma..ma..maafkan aku Konan.. Aku..a..aku.." kata Sasori terbata-bata. Konan terdiam tak berkata apapun. Ia hanya menyentuh bibirnya dengan jari-jari lentiknya dengan wajah merah padam.

"A..aku,, ke toilet dulu!" kata Sasori yang langsung berlari menjauhi Konan.

'Baka baka baka! Apa yang aku lakukan?! Dia itu sudah punya pacar! Kenapa aku sebodoh itu. Dia pasti membenciku.' benak Sasori yang terus berlari entah ke arah mana. Pikirannya kacau hingga ia tak memperhatikan sekelilingnya dan tersesat.

Sasori POV

Aku dimana? Haduh! Sudah bodoh! Tersesat pula. Aku terus berjalan menelusuri hutan itu. Ya. Ini hutan. Tapi bukan hutan tempat aku hunting tadi. Di sini gelap, dingin, dan seram sekali. Aku takut.

Huaaaa... Kaa-san, Tou-san.. Tolong aku. Aku mulai panik saat aku merasa semakin tersesat. Hiks..hiks.. Aku mulai menangis seperti Tobi. Aku takut. Sangat takut. Ingin menghubungi teman-teman, tapi aku tak dapat sinyal.

"WAAAAAAA…."

Tiba-tiba, tanah yang kuinjak terperosok ke bawah. Dan apa yang kutemukan, sebuah gua. Entah kenapa, tapi aku rasanya ingin masuk ke gua itu.

Kunyalakan layar ponselku untuk memberikanku sedikit penerangan. Aku memasuki gua itu semakin dalam dan dalam. Tiba-tiba aku menemukan sebuah tangga, dan diatas tangga itu ada sebuah pintu.

End Sasori POV

Sasori membuka pintu kayu bergaya kuno tersebut. Ternyata tidak dikunci. Sasori melangkah masuk dan melihat apa yang ada dibalik pintu. "Tempat apa ini?" Sasori bergumam sambil melihat-lihat sekelilingnya yang gelap dengan bantuan cahaya ponsel tersebut.

"WOOOWWWW…." Sasori melebarkan matanya. Ia melihat puluhan boneka kayu seukuran manusia tergantung dan berjajar rapi di tembok.

Sasori mendekati boneka kayu tersebut dan menyentuhnya. Perlahan, ia menelusuri seluruh bagian boneka itu dengan tangannya. "Halus sekali. Sungguh pahatan yang bagus bahkan detilnya sangat sempurna." Sasori tak dapat menyembunyikan kekagumannya. "Siapa yang memahat semua ini ya? Pasti dia sangat professional." Ucapnya.

Sasori melihat-lihat semua boneka dengan reaksi kagum yang berbeda-beda. Kemudian, pandangannya teralih ketika melihat ke sudut ruangan. Ia mengarahkan layar ponselnya ke tempat itu dan melihat sesosok manusia tengah berdiri disana. Namun ia tau. Itu bukan manusia. Itu pasti boneka juga seperti yang lainnya. Namun kenapa boneka itu terpisah sendiri?

Ia terus melangkah hingga berada tepat di hadapan boneka tersebut. Sasori makin melebarkan matanya ketika melihat rupa dari boneka kayu berbentuk manusia tersebut. Mulut Sasori terbuka agak lebar saking tak percayanya dengan apa yang ia lihat.

"Mustahil! Kenapa boneka kayu ini, berbentuk seperti diriku?!" Sasori meraih boneka itu dan menyentuh wajahnya. "Matanya, rambutnya, bahkan semuanya memang serupa denganku!"

Sasori lalu melihat bagian dada kiri boneka yang berlubang. Seperti ada sesuatu disana sebelumnya. Sesaat, ucapan Kurenai sensei terlintas di pikirannya.

Akasuna no Sasori, mengubah seluruh tubuhnya menjadi boneka dan hanya menyisakan satu organ hidup saja yang melekat di tubuh bonekanya. Yaitu, jantung yang dimasukan kedalam sesuatu berbentuk tabung yang disebut heart container yang ia tancapkan di dada kirinya agar ia tetap bernyawa.

Setelah kematiannya, shinobi bernama Kankuro mengambil tubuh boneka Sasori yang tentu saja heart containernya telah dilepas karena sudah tak berfungsi dan menjadikan boneka Sasori sebagai senjatanya.

Sasori terdiam sebentar. "Apa kau Sasori di dalam sejarah itu? Kenapa kau mirip denganku?" Sasori kini tengah duduk sambil memangku boneka yang seukuran denganya dan memiliki wajah yang serupa dengannya pula.

"Jawab aku boneka!? Kenapa kita mirip? Apa jangan-jangan aku memang reinkarnasi darimu dan kau adalah kehidupanku di masa lalu?" tanya Sasori kepada boneka itu.

"Jika kau benar Sasori di dalam sejarah, berarti kau yang membuat semua boneka ini bukan?" Sasori tersenyum antusias kepada boneka yang berekspresi datar itu. "Kau hebat! Sasori!" lanjut Sasori dengan mata yang berbinar.

"Hmm.. Seandainya aku bisa bertemu denganmu, aku pasti akan memintamu untuk mengajariku membuat boneka." kata Sasori masih dengan mata yang berbinar. Tanpa ia ketahui, diluar sana ada sebuah bintang jatuh yang melintas.

Lama kelamaan, setelah terus mengoceh kepada boneka mirip dirinya tersebut, ia mengantuk dan tertidur sambil memeluk boneka kayu yang ia panggil Sasori tersebut.

.

.

"HEAAAAAAHHH!"

TRAK TRING TEP!

"Katsu!"

BLAAAAMMM! DUAAARRR!

Sasori masih mengantuk. Tapi ia mendengar suara ribut yang luar biasa. Ada suara benda tajam saling beradu, suara teriakan seram dari orang-orang, serta suara ledakan yang memekakan telinga. Seperti sedang ada perang saja. Setidaknya itulah yang ia dengar ketika sedang menonton film perang.

Sasori membuka matanya yang masih mengantuk. Entah ia mengigau atau tidak, ia melihat sebuah kunai, senjata ninja jaman dahulu tengah melintas ke arahnya. Sasori hanya bisa terdiam menatap kunai yang melesat ke arahnya itu.

TRING!

Sebuah kunai dari arah lain menghantam kunai tadi sehingga kunai itu terjatuh ke tanah dan tidak jadi menembus kepala Sasori.

"Danna! Apa yang kau lakukan disana un?! Mengapa kau malah tidur tiduran un?!" teriak pemuda yang ternyata si pelempar kunai yang menyelamatkan nyawa sasori barusan.

"Deidara?" Sasori bangkit dan menatap pemuda yang ia yakini kalau itu adalah Deidara. Tapi Deidara yang ini memakai pakaian yang aneh menurut Sasori.

Jubah panjang bermotif lambang Akatsuki, celana ungu dibawah lutut, ditambah kaos kaki putih panjang dan sandal hitam. Di balik poninya yang menutupi mata kiri, terlihat sebuah alat seperti kamera menempel di mata kirinya. Dia juga mengenakan cincin aneh di telunjuk kirinya serta yang paling aneh menurut Sasori adalah, ia mengenakan kuteks berwarna ungu. Deidara memakai kuteks? Apa dia benar benar ingin menjadi wanita?

Lagi-lagi ada yang melemparkan senjata ke arah Sasori dan lagi-lagi pemuda berwajah Deidara itu menyelamatkan Sasori.

"Katsu!"

BLAM!

Sasori melihat Deidara melemparkan tanah liat berbentuk burung kecil ke para ninja yang mencoba menyerang Sasori dan burung kecil itu meledak setelah Deidara mengatakan 'Katsu'.

'Haaaaaah? Me..me..meledak? Apa itu petasan baru ciptaannya? Tapi itu jelas tanah liat! Dan ledakannya seperti bom.' batin Sasori keheranan.

"Danna! Ayo kita pergi dari sini un!" teriak pemuda berwajah Deidara kepada Sasori. Tapi Sasori diam saja. Ia masih mencerna apa yang terjadi.

'Apa ini mimpi?' benak Sasori.

Duaaaak!

Tiba-tiba ada seorang ninja yang memukul perut Sasori hingga ia tersungkur dan memuntahkan darah. "Uhuk...!" Sasori terengah-engah. 'Ugh.. Sakit. Berarti ini bukan mimpi.'

"Dannaaaaaa!" pemuda itu melompat ke depan Sasori. Lalu ia melemparkan tanah liat berbentuk burung dan tangannya seperti ninja di film-film yang sedang merapal jutsu.

BLESHH... Kepulan asap putih menyelimuti burung kecil itu dan burung kecil itu kini telah berubah menjadi burung besar.

"WAAAAAAAAA! Bu..bu..burungnya jadi besar….." kata Sasori heboh.

"Haaah? Kau ini kenapa sih un?" tanya pemuda yang kini sudah melompat ke atas burung itu. "Cepatlah Danna...!" Sasori tidak mengerti maksud pemuda berwajah Deidara tersebut. Sasori menatap pemuda itu dengan wajah innocent dan mulut setengah menganga.

Pemuda itu melihat beberapa ninja hendak menyerang Sasori. "Ck! Sial un!" gumam pemuda itu lalu melompat ke arah Sasori dan menarik paksa Sasori ke atas burung tanah liat besar miliknya. Lalu, mereka terbang ke angkasa bersama burung itu.

"Huwaaaaaa...eit...eit...eit..." Sasori nampak tak seimbang dan langsung memeluk erat pemuda itu. Sontak pemuda itu jadi terkejut.

"Ne Danna! Apa yang kau lakukan un!" Sasori benar-benar memeluk pemuda itu dengan sangat erat.

"Kenapa burung tanah liat ini bisa terbang?" teriak Sasori yang masih memeluk erat pemuda itu sambil memejamkan mata.

"Kau aneh sekali Danna un! Apa yang terjadi padamu? Ada apa dengan sikapmu Danna? Kenapa kau pakai yukata un? Mana hirukomu dan..dan.. Kenapa kau jadi seperti bocah pengecut Danna?!" pemuda itu jadi terlihat senewen sendiri karena tingkah Sasori yang menurutnya tak biasa.

Sasori membuka mata melihat pemuda itu. Pemuda itu sedang menggaruk pipinya. Tunggu, Sasori melihat sesuatu di telapak tangan pemuda itu. Apa itu mulut?

"WAAAAAAAAAAAAAAA! KENAPA DITANGANMU ADA MULUTNYA?!" Sasori mendorong tubuh pemuda itu dan ia menjauhi si pemuda. Karena tak seimbang, Sasori terjatuh dari burung itu.

"AAAAAAAAAAAAAAAAA."

Pemuda berwajah Deidara itu sweatdrop melihat tingkah Sasori. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan wajah bingung. 'Ada apa dengan Danna?' benaknya. Kemudian, ia melesat menghampiri Sasori yang hampir mendarat di tanah dengan burungnya. Ia berhasil mendapatkan Sasori lalu mereka berdua mendarat di tanah.

Sasori dengan wajah ketakutan langsung berlari menjauhi pemuda itu.

"Kau kenapa sih Danna un?" pemuda itu mendekat. Sasori melangkah mundur hingga tersudut oleh pohon.

"Ja..ja..JANGAN MENDEKAT! KAU BUKAN DEIDARA!" Sasori menunjuk pemuda itu dengan tangan yang gemetar.

"Kau bicara apa sih un? Aku ini Deidara? Apa kepalamu habis terbentur?" Deidara semakin mendekat.

"Huaaaaaaaa...aaaaa...aaa...a...! KAA-SAN...TOU-SAN... Tolong akuuu...hiks..hiks..hiks.. AKU MAU PULANG!" Sasori menangis meraung raung.

"He..hey.. Danna un.." pemuda itu mencoba menyentuh lengan Sasori tapi tak jadi karena tangisan Sasori makin keras.

"HUAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Baik! baik! Aku mundur un." pemuda itu menjauhi Sasori dan menatap Sasori yang masih menjerit-jerit dengan tatapan tak mengerti. 'Pembunuh berdarah dingin Akasuna no Sasori, menangis meraung raung seperti bayi?' benak pemuda itu.

"Hiks...hiks..." tangisan Sasori melemah walaupun dia masih terisak. 'Aku ada dimana? Aku mau pulang.. Kaa-san, Tou-san, Dei, aku mau pulang...Hiks...'

.

.

.

.

.

To be Continued ^^

.

.

.

.

.

Special thanks for : Shadow, Apostrophee, Mudiantoro, AN Narra, Green Mkys, Haruko Akemi, Guest, Zaa-chan..

Arigatou buat reviewnya, Ame jadi tambah semangat! ^^

Sasori sama Deidara aja? Gomen ne, Deidara itu suamiku :3, jadi aku gak akan membiarkan suamiku berpasangan sama cowok. Karena suamiku bukan yaoi. Ehehehehe.. Apalagi yaoiannya sama selingkuhanku Sasori :p

.

.

.

.

.

Chapter selanjutnya….

"Jadi, apa yang terjadi Deidara ?"

.

"WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!"

"Itachi-san... Bekap mulutnya"

.

"A..apa kalian...Akatsuki? Penjahat rank s itu?"

.

Terdengar suara batu besar yang merupakan pintu markas mereka dibuka oleh seseorang. Lalu, terlihatlah sesosok manusia buruk rupa dengan cadar di wajahnya. Badannya pun bungkuk dan dia berjalan seperti kura kura.

.

"Sasori ?!"

.

"Siapa dia ?"

.

.

.

.

.

Review kalian penyemangat Ame ^^