Warning: OOC, AU, Fantasi.
Summary: Slaine si Tudung Merah hendak bertemu dengan kakeknya yang tinggal di dalam hutan. Tetapi, seorang manusia serigala memburunya. Dapatkah ia melarikan diri atau malah masuk jeratnya? Tambahan.. Harklight! Inaho x Slaine x Harklight. Review please~
Slaine, Si Tudung Merah
Chapter Two
Mereka tiba di sebuah rumah di pinggir danau yang masih berada didalam hutan. Dengan hati-hati Harklight si pemburu itu meletakkan korban gigitan serigala itu.
"Apa yang harus kita lakukan Harklight?! Dia melukai anak ini!"
"Tetap tenang, kalau gegabah kita tak akan bisa menemukan atau membunuh mereka. Ambilkan aku obat serta perban. Harus segera di obati." Tak lama kemudian yang ia minta pun tiba, dengan sangat hati-hati ia mengobati pemuda bersurai blonde itu.
"Sa..kit.."
"Bersabarlah.." setelah selesai ia pun memberikan selimut hangat ke tudung merah itu. "Namaku Harklight, kamu? Aku menemukan mu dihutan bersama.." suaranya menurun, "manusia serigala." Raut wajah tudung merah pun berubah menjadi ketakutan, tubuhnya gemetar dan menangis.
"Di..dia menerkamku.. menggigitiku, layaknya sebuah daging segar.. dia bukaann!?"
"Sabar, dia tak ada disini lagi, kau aman.." Harklight pun mengelus punduk mungilnya, sedangkan si tudung merah menarik baju yang dikenakan si penolongnya dengan tangan kirinya.
"Aku akan membunuh serigala itu untukmu, bukan.. demi sekelompok manusia yang tinggal disini. Kau tinggal dimana? Namamu?"
"Di..dia tidak disini? Dia juga menyerang orang lain? Hikss…" air matanya mengalir deras melalui bola matanya yang berwarna biru cerah.
"Tidak, kau aman disini.." Harklight memberikan senyumnya kepada pemuda itu.
"Na..namaku.. S-Slaine. A-aku ingin bertemu kakekku yang berada di tengah hutan."
"Apakah namanya Tuan Saazbaum?" Slaine pun mendongak mendengar nama kakeknya.
"Kau mengetahuinya?"
"Tentu,, dulunya ia adalah para pemimpin pemburu disini, ternyata kau cucunya? Mungkin saatnya aku akan membalas kebaikan kakekmu. Akan ku antar kau ke kakekmu, tetapi.." pria bersurai biru itu menghapus air mata pemuda mungil yang ia dekap dengan tangannya, dengan sangat hati-hati.
"Tetapi?"
"Kita akan pergi 3 hari lagi, purnama akan muncul besok. Manusia serigala itu akan menjadi lebih buas, tetapi esok harinya mereka akan melemah, kita harus memburunya terlebih dahulu. Rute menuju rumah kakekmu adalah jalur yang biasa mereka lewati menuju lembah."
"Lembah?"
"Saat mereka melemah, saat yang baik untuk membunuh mereka."
"Eh?" Slaine kaget mendengarnya.
"Kenapa Slaine? Kau tidak boleh berburu mereka disaat seperti ini, luka mu akan terendus, lebih baik kau disini."
"Kau akan berburu?"
"Tentu.." Harklight memberikan senyuman ke Slaine, lalu ia membaringkan tubuh mungil itu ke kasur, "waktunya tidur, anak kecil tidak boleh tidur terlalu malam.. aku akan menemanimu disini.. tidurlah.." ia menutupi tubuh Slaine dengan selimut tebal dan tangannya memainkan ujung rambut pemilik bata biru cerah itu.
"Hentikan.. aku bukan anak kecil." Slaine menepis pelan tangan pria itu.
"Baiklah.." Slaine pun mencoba untuk menutup matanya ke alam mimpi.
.
Di tempat lain, sekelompok manusia serigala sedang berkumpul di goa di pinggir sungai yang tak jauh dengan tempat para pemburu tinggal. Pemuda serigala bernama Inaho pun tengah membagikan buruannya kepada teman-temannya.
"Purnama akan tiba, tetapi.. setelah itu kita akan melemah, aku yakin para pemburu itu akan memburu kita semua. Kita harus bertahan hidup dan mengusir mereka semua dari tanah ini! Mereka adalah pendatang! Kita harus mempertahankan tempat kita tinggal!" Ujar Inaho sang pemimpin kelompok manusia serigala tersebut.
"Tetapi, bagaimana caranya? Bisa-bisa mereka akan menutup jalur kita ke lembah!" Ujar gadis manusia serigala bersurai blonde twintail.
"Biasanya menutup, terus kita perang, dan tanah ini berubah menjadi darah.." sahut yang bersurai coklat cepak (?)
"Atau mungkin kita tinggal saja di lembah sampai kekuatan kita kembali, gimana?" Sahut yang bernama Inko.
"Tidak.. kita tidak bisa meninggalkan tempat ini, tempat ini adalah segalanya untuk kita, beliau sudah memperjuangkan nasib kita. Tuan Putri kita, Asseylum."
"Aku tahu.. tapi kita menghindari pertempuran dengan mereka kan? Bagaimana kalau jumlah kita berkurang, Inaho!"
"Kalau begitu.. kalian saja yang pindah… aku akan tetap disini, sampai purnama bermunculan."
"Jangan bodoh Inaho! Kita memang kuat saat itu,tetapi.. hanya sesaat!" tangan gadis memegang lengan pemuda bersurai coklat tersebut.
"Aku tahu Inko, ada yang harus aku kerjakan.. kau dan yang lain pergi saja duluan, aku akan menyusul." Ia melepaskan tangan Inko pelan.
"Aku keberatan," ujar seseorang yang disebut sebagai Matsuribi-senpai. "Aku tidak bisa meninggalkan sodara laki-laki ku disini.. bagaimana jika kita? Aku dan Inaho yang tinggal?"
"Kalau senpai aku setuju!" si gadis twintail memberikan tanda oke lewat jarinya.
"Tidak.. aku mohon, pergilah.. aku tidak apa-apa.."
"INAHO BODOH!" Inaho si ketua kelompok itu mendapatkan makian kencang dari anggota yang lain.
"Jangan mati saja kau bodoh!"
"Tentu, Inko." Inaho pun tersenyum.
.
Next Day
Matahari keluar malu-malu dari sarangnya, tetapi aktifitas para pemburu sudah mulai terlihat. Meraka ada yang mengasah pisau atau sekedar membuat makan pagi.
Sinar matahari perlahan menembus jendela kamar tempat pemuda mungil itu tidur. Matanya menangkap sinyal yang terang. Ia membuka matanya perlahan-lahan. Lalu di rabanya kasur tempat ia tidur dan merasakan sentuhan kulit dan kulit.
"Eh, tangan siapa itu.." Slaine pun bangun dari kasurnya dan agak kaget begitu ia menengok ke arah kiri ada pria yang menyelamatkan kemarin malam sedang tidur dengan posisi duduk dengan kepala dan tangan berada di kasur.
"Harklight?" Ujarnya pelan, "Begitu ya.. sejak kemarin dia menjagaku?" Slaine pun bangun dari kasurnya dan mencoba untuk berdiri, "Aduh!" ujarnya cukup keras.
"Nggh.." Pria itu ternyata mendengar suaranya yang terdengar cukup jelas, ia mencoba membuka matanya perlahan dan menegakkan tubuhnya. Lalu menangkap sosok mungil itu dengan ekpresi panik di wajahnya.
"Aku membangunkanmu?" Tangan Slaine menjulurkan tangan kirinya mencoba meraih tangan kanan pria itu.
"Selamat pagi. Tidak juga. Justru aku berterimakasih sudah dibangunkan. Kau ingin kemana? Kamar mandi? Aku harus mengganti perbanmu terlebih dahulu." Ujar Harklight dengan sigap ia mengambil perban baru di balik lemari dan menyentuh bahu-nya itu.
"A-aku mandi saja gimana?" Ujar Slaine terbata-bata. "Lalu aku akan pasang sendiri perbannya."
"Kau yakin bisa mandi sendiri?"
"T-tentu! Gampang kok!" Jawab Slaine pede, ia menuju kamar mandi dan tak lama kemudian terdengar suara seperti rintihan kesakitan.
"Kau tidak apa-apa?" dari luar kamar mandi, Harklight berteriak..
"I..iya.." Harklight tahu kalau pemuda blonde itu kesakitan.
"Aku akan siapkan makan terlebih dahulu.."
Slaine pun keluar dari kamar mandi dengan muka merah menahan tangis, rupanya luka gigitan itu terasa menusuknya. Ia pun mewek jadinya.
"Sa..sakit.. papa.. tolong akuuu.. hiks.." Tangisnya pecah lagi ketika ia mencoba memakai perban ke lukanya.
"Sudah saya bilang itu susah loh.." Ujar pria berambut biru itu masuk ke ruangan tempat Slaine masih berusaha untuk memakaikan perban itu.
"To-tolong aku.. sakit sekali rasanya.. hikss.." Harklight hanya mengela napas, lalu ia mengambil beberapa gulungan perban dan obat luka.
"Bentangkan tanganmu.." Suruhnya, Slaine pun melakukannya, walau air matanya tetap mengalir deras. "Ini akan ku oles obat luka seperti kemarin, jika sakit teriak saja ya.." Ia lalu mengelus pipi pemuda mungil itu sebelum mengoleskan ke bagian yang sakit. Memang, rasa sakit itu terasa lagi, Slaine yang tidak kuat merasakannya hanya menggigit bibirnya menahan rasa sakit itu. "Jangan kau gigit bibirmu." Tangan itu mengelus pipi lalu turun ke bibir Slaine. "Teriak saja." Slaine mengangguk, ia mengikuti saran Harklight.
Dari luar jendela kamar itu berdiri sosok manusia berambut coklat yang berjalan pelan menuju pondok tempat pemburu tinggal. Ia bahkan bersapa dengan para pemburu lain dengan hangatnya.
"Kudengar ada pemuda bernama Slaine ya?" Ujarnya.
"Ah Iya, Tuan Harklight sedang bersamanya. Ia ada di dalam pondok."
"Begitu ya.." Ia berjalan menuju pondok. Tetapi langkahnya terhenti, hidungnya menangkap bau sesuatu. "Kau disini, makananku.." ia pun menendang pintu malang itu, serta membuat penghuni pondok itu kaget.
"Aku menemukanmu.." Ujarnya.
"I..INAHO!?" Slaine kaget, Harklight lalu menatap pemuda yang berumur sama dengan Slaine itu dengan tatapan marah. Ia mengambil pelatuknya dan meletuskannya. Kalah cepat, Inaho lebih cepat berpindah dan memamerkan kuku-kukunya yang panjang di di antara wajah Harklight dan Slaine.
"Lepaskan dia, atau aku akan membunuhmu.." Tangan sebelahnya menarik tubuh Slaine. Harklight melepaskannya, Inaho pun mundur 3 langkah kebelakang.
"Ternyata kau ya si manusia serigala itu? Aku sudah mendengar rumornya kalau kau cepat, oh tidak paling cepat. Aku tak menyangka kau tertarik dengan anak manusia." Ujarnya.
"Karena ia adalah buruanku.." Inaho lalu menjilat telinga Slaine, sedangkan si pemilik tubuh itu hanya diam ketakutan. Tubuhnya berkeringat dingin.
"Tetapi, kau akan mati sekarang!"
"kau berani menembakku?" Curang memang, ia memakai tubuh malang Slaine menjadi tameng. "Kau tidak akan berani," tatapannya yang dingin lalu menatap pria jangkung didepannya. "Terima kasih." Ia pun segera menaruh tubuh buruannya ke pundaknya, dan meloncat keluar melalui jendela yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Harklight lalu melihat sosok bayangan menghilang.
"Kau akan kubunuh bersama klan-mu!"
.
Chapter Two End
Jadi begini..
Mungkin bingung ya?
terimakasih udah di fave-in..
Review ditunggu ya.
Sign,
Haqua
