Mereka tidak membiarkan gadis-gadis bekerja sendiri, mereka ikut bergabung dan saling melindungi. Tak lama polisi datang dan segera menangkap mereka semua. Ke-6 orang itu menjadi saksi dan tak lama mereka dipulangkan. Hiashi dan Seinen sudah menunggu di halaman Mansion Hyuuga bersama orang tua Naruto. Demikianlah, 4 orang itu tampak disidang dengan posisi berlutut sampai berjam-jam. Yang paling tersiksa tentu saja Naruto…dia sama sekali tidak pernah hidup dalam aturan keras seperti ini. Neji ikut diceramahi oleh Seinen Liu, ia bahkan bersumpah hampir mengeliminasi seluruh Hyuuga bila Tenten tidak kembali. Hiashi melotot marah pada Seinen dan sekaligus menceramahi Naruto.
Naruto sangat diejek dengan sebutan tak sopan, preman tak tahu diri. Puncaknya, Hiashi melarang Naruto untuk bertemu Hinata dan memutuskan memindahkan Hinata ke sekolah lain. Seinen juga berpikiran hal yang sama dan mengatakan bahwa ia akan membawa Tenten ke Hongkong untuk sekolah mafia di sana. Tenten malah terlihat senang, karena akhirnya ia bisa bertemu dengan orang yang kuat di sana.
Terbayang dirinya akan bertarung dengan orang-orang hebat, namun perkataan Neji selanjutnya membuyarkan impian Tenten. "Maaf paman, tapi menurut adat tradisi Hyuuga Tenten harus menjadi istriku". Tenten melotot kaget mendengarnya. "Neji…jangan bicara sembarangan…Aku tidak mau jadi istrimu, aku lebih baik sekolah mafia di Hongkong". Neji menggeleng, "Tidak, karena kau sudah memenuhi syarat calon istri Hyuuga, yang pertama adalah kau selalu kalah saat melawanku berkelahi. Menurut tradisi Hyuuga, siapa saja yang kalah melawan anggota Hyuuga wajib menjadi milik Hyuuga entah sebagai budak atau bawahan, tapi kalo perempuan harus dijadikan istri. Yang kedua, aku sudah mencium bibirmu. Menurut tradisi Hyuuga, ciuman bibir hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri atau mereka yang sudah diikat oleh tali pertunangan. Tapi kau berbeda, jadi kau harus jadi calon istriku". Seinen Liu memerah mukanya, entah ia harus senang atau marah karena Tenten sudah dicium Neji.
Muka Tenten tampak pucat, ia memandang ayahnya yang tampak marah. Hiashi memandang Seinen, "Bagaimana? Keponakanku sudah melamar anakmu secara langsung, bukankah kau harusnya senang karena dari dulu kau menginginkan semua ini? Ingat tradisi Hyuuga bertuah, siapa yang melanggarnya terkutuk seumur hidup." Neji melamar Tenten sekali lagi pada Seinen dan Seinen mau gak mau setuju mengingat ia tidak mau melawan tradisi Hyuuga yang konon bertuah itu.
Kini Naruto, "Hiashi sama..aku mohon jangan pisahkan aku dengan himeku". Hiashi mendelik kaget, "Siapa yang memberimu hak memanggil putriku dengan sebutan itu? Aku gak suka!". Muka Hinata tampak memerah. Naruto melirik muka Hinata lalu tersenyum lebar, "Tuh, muka Hinata memerah tandanya dia suka padaku".Pyaasss, muka Hinata makin memerah semerah tomat. Kushina terkikik, pacar anaknya lucu sekali. "Lagipula, aku baru tahu ternyata dia suka padaku. Pantas saja dia selalu pingsan berada di dekatku. Aku tidak tahu alasannya kenapa ia melarangku untuk berkelahi, aku tidak menyangka ada yang peduli padaku sampai seperti itu. Karena itu, izinkan aku untuk membalas perasaan Hinata-hime dengan menyayanginya".
Minato lalu tersenyum dan berbicara pada Hiashi, "Hiashi san maafkan anakku Naruto yang kurang ajar itu, mungkin ia begitu karena kami sangat sibuk tapi Naruto bisa berubah berkat anakmu, aku sangat berterima kasih. Ingatlah, dulu saat kita sekolah, kau janji untuk menikahkan anak kita kelak. Apa kau mau membatalkan janji? Bukankah kau bilang tradisi Hyuuga bertuah seperti janji yang diucapkan seorang Hyuuga?". Oke kini Hiashi termakan omongan sendiri. "Hmm, aku mengawasimu bocah rubah! Jaga anakku baik-baik dan jangan berani-berani menyentuhnya sebelum kalian menikah". Naruto langsung melonjak, "Arigato! Daisuki yo…Hinata-chan"sahutnya sambil memeluk Hinata yang akhirnya pingsan lagi dalam pelukan Naruto. "Himeeeeee…..kenapa kau pingsan ttebayo!". Kushina menjewer telinga Naruto. "Dasar itu gara-gara kau tahu! Ah ayo kita bawa ke dalam." Hiashi lagi-lagi geleng-geleng kepala dan menepuk pundak Minato. "Aku tahu anakmu itu sebenarnya anak baik, jika saja ia mau lebih rajin dan lebih peka sedikit pada perasaan anakku. Asal kau tahu anakku itu sudah menyukai anakmu sejak TK tahu". Minato terkikik, "Maaf, ia mewarisi sifat istriku yang gak peka sama seperti kami muda dulu. Istriku malah berpikir aku main-main mendekatinya. Tenang saja, Naruto menjadi dewasa berkat Hinata, sekali lagi terima kasih ya?" Mereka berjabat tangan sekali lagi sambil berpelukan.
