Terlihat 6 orang pria dan satu orang wanita berjubah hitam dengan corak awan merah, tengah menatap Sasori yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas sofa dengan sisa air mata di pipinya yang telah mengering di sebuah markas gelap nan lembab yang lebih mirip dengan gua itu dengan tatapan heran.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi Deidara?" tanya pemuda yang berwajah mirip sekali dengan Pein namun terdapat banyak sekali pierching di seluruh wajah dan tubuhnya.
"Entahlah ketua. Tadi saat menjalankan missi dengannya, dia masih baik-baik saja un. Lalu kami berpencar saat bertarung un dan tiba-tiba, ketika aku menemukannya, dia sudah aneh seperti ini un." pemuda yang mirip Deidara dan memang bernama Deidara itu pun mengacak-acak rambutnya karena sedikit stress.
"Memang benar, boneka busuk ini terlihat aneh. Mengapa dia pakai yukata? Mana jubah Akatsuki dan Hirukonya?" kata seorang pria berwajah Hidan yang membawa-bawa sabit bermata tiga.
"Itu belum seberapa un! Kau tau. Dia hanya diam saat diserang. Dan dia terkejut ketika melihat seni-seniku un. Dan dia, sangat takut melihat mulut di tanganku ini un." Deidara melebarkan telapak tangannya dan menunjuk mulut yang berada di sana dengan sangat ekspresif.
"Hahahaha. Jangankan Sasori, aku saja takut melihatnya." ledek pemuda berwajah Hidan pada Deidara.
"Cih! Suatu hari aku pasti akan membunuhmu! Un!" sahut Deidara dengan juteknya.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
"Tenanglah." ucap pria berwajah Pein yang sebut ketua Pein itu. "Lalu, kenapa dia tak sadarkan diri seperti ini? Apa kau memukulnya hingga pingsan?" tanyanya lagi.
"Tentu saja tidak un. Lagipula apa orang ini bisa pingsan hanya karena dipukul un? Dia itu menangis dan menjerit-jerit ketika aku mendekatinya un. Lalu di sela tangisannya, ia berkata 'Kaa-san.. Tou-san tolong aku. Aku mau pulang' begitu terus-menerus hingga ia lelah dan tertidur un." tutur Deidara sambil menunjuk-nunjuk Sasori yang masih terlelap.
"Menangis? Sasori menangis? Menjerit-jerit? Kau bercanda Deidara?" kata pemuda berwajah Kakuzu dengan nada tidak percaya.
"Aku tidak bercanda un! Aku juga tak percaya dengan apa yang kulihat un! Bahkan dia yang tidak pernah tidur pun sekarang tertidur pulas kan un!" ucap Deidara dengan sewotnya sambil menunjuk wajah Sasori lagi.
Tiba-tiba di tengah perdebatan mereka, Sasori terlihat menggeliat dan mengecap-ngecapkan mulutnya dengan imut. Semua mata langsung menoleh ke arahnya. Perlahan, Sasori membuka matanya seraya menguap dan meregangkan tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya berkali-laki dengan tampang yang imut sekali karena ia merasa ada 7 manusia mengelilinginya dan menatapnya lekat-lekat.
Ia tak asing dengan wajah orang-orang itu. Hanya saja penampilannya agak berbeda. Sasori duduk sambil memandang wajah-wajah di hadapannya dengan tatapan polos yang menggemaskan.
Hening menerpa mereka semua. Sepertinya Sasori masih setengah sadar. Kemudian Deidara mengulurkan tangannya untuk menyentuh Sasori. Terlihatlah mulut di tangan Deidara tepat di depan wajah Sasori. Seketika Sasori benar-benar tersadar 100% setelah melihat mulut di tangan Deidara itu. Lalu...
"WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!" Sasori menjerit sekeras-kerasnya seraya menampar wajah Deidara hingga Deidara tersungkur.
Semua orang yang ada di sana kecuali Deidara dan Sasori menutup telinganya rapat-rapat.
"Itachi... Bekap mulutnya!" perintah Pein pada pemuda berwajah Itachi karena posisi pemuda itu paling dekat dengan Sasori. Pemuda berwajah Itachi itu pun langsung membekap mulut Sasori yang sangat berisik itu.
"HMPPFH...HMMMPPFH...HMPPHFH...!" Sasori meronta-ronta ditambah dengan air mata yang terus mengalir deras dari pelupuk matanya.
Mereka yang ada disana benar-benar heran melihat tingkah Sasori. Mereka sudah tidak menutup telinga mereka lagi. Mereka masih agak sweatdrop melihat Sasori yang menangis sesedih itu.
"Si breng**k itu benar-benar menangis meraung-raung." kata Hidan yang tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Semuanya menatap heran pada Sasori. Bahkan Kisame sampai mangap dengan lebar saking tidak percayanya.
"Itachi, lepaskan dia!" perintah Pein karena ia melihat Sasori sudah agak tenang dan ia pun ingin menginterogasi Sasori.
"Aku akan melepaskanmu. Tapi kau diam ya." kata Itachi kepada Sasori. Sasori mengangguk dengan wajah takut.
Itachi melepaskannya lalu "WAAAAAAA...Hmmpffhh..." Sasori malah berteriak lagi dan Itachi langsung membekapnya lagi.
"Kau bandel ya un." Deidara yang telah bangkit mendekatkan wajahnya ke wajah Sasori lalu menjitak kepalanya.
PLETAK "Kapan lagi aku bisa memukul kepala si pembunuh berdarah dingin jika bukan sekarang un. Hahaha." Deidara tertawa geli.
DUAKK! Sasori menendang perut Deidara dengan keras.
"Ugh! Hey apa yang kau lakukan hah?! Dasar Sasori no Danna! Un!" Deidara berdecak kesal.
"Biar aku yang coba bicara padanya." Satu-satunya wanita di sana yang berwajah mirip Konan pun berjalan perlahan ke arah Sasori.
.
.
Sasori, Akatsuki, Rate T, Drama, Friendship
.
.
Semakin dekat wanita itu ke arah Sasori, semakin cepat jantung Sasori berdetak. Dia kumat lagi. Walaupun wanita di hadapannya bukan Konannya melainkan Konan versi 29 tahun yang terlihat sangat cantik dan dewasa.
Itachi menyadari gejala aneh Sasori. Ia kira, Sasori kesulitan bernapas karena mulutnya dibekap. Lalu ia pun melepaskan tangannya dari mulut Sasori dengan perlahan. Takut-takut Sasori berteriak lagi.
Tapi ternyata tidak. Sasori diam seribu bahasa sambil terus menunduk. Kini wanita berwajah Konan itu sudah berada tepat di hadapan Sasori. Wajah Sasori sudah merah padam dan ia mengeluarkan banyak keringat dingin.
"Sasori-san, apa yang terjadi padamu?" tanya Konan dengan nada tenang dan datar.
DEG..DEG..DEG..DEG..DEG..
Jantung Sasori berdegup semakin kencang. Berkali-kali ia meneguk ludahnya. Nafasnya pun sudah mulai kacau.
"K..Ko..Ko..Konan." ucap Sasori dengan susah payah. Yang lain jadi tambah bingung dibuatnya. Apalagi wanita itu. Dia hanya menggerakan matanya ke atas seolah berkata "Apa?"
"B..be..be..be..ra..pa.. u..um..mur..mu?" tanya Sasori dengan terbata-bata.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya. "29 tahun. Kenapa?" tanyanya bingung.
"Haaah? 29? K..kau tua sekali." Sasori sudah mulai stabil lagi dari gejala-gejala anehnya.
"Kau lebih tua Sasori-san. Umurmu kan 35 tahun!" wanita bernama Konan itu mulai kesal karena dibilang tua oleh Sasori.
"35? 35 tahun?" Sasori merasa mulai memahami situasi yang tengah ia hadapi. 'Apa mungkin aku terlempar ke masa lalu? Dan aku dikira Sasori si puppet master tua yang berwajah muda itu? Kalau begitu, mereka yang ada dihadapanku itu adalah...' gumam Sasori dalam hati.
"A..apa kalian...Akatsuki? Penjahat rank S itu?" tanya Sasori perlahan dengan hati ketakutan.
Yang lainnya semakin bingung dengan pertanyaan Sasori. Mereka sampai menyangka kepala Sasori terbentur dan amnesia.
"Tentu kami itu Akatsuki. Kau juga kan Aakatsuki." kata Konan dengan nada bingung.
'ASTAGA! Jadi aku benar-benar berada di masa lalu? Di dalam sejarah? Dan di zamannya para ninja yang menakutkan itu?' pikir Sasori yang membuat wajahnya semakin menampakkan ekspresi takut yang luar biasa.
"Sasori-san..hey..." suara Konan menyadarkan lamunan mengerikan Sasori.
"Baiklah! Aku mau bertanya sekali lagi." Sasori kini sangat tidak tenang hatinya. Ia berharap jika ia hanya dikerjai oleh teman-temannya saja yang hanya berpura-pura menjadi orang-orang masa lalu.
"Tanyakan saja." ucap Konan singkat.
"Apakah.. I..ini adalah zaman di mana hampir semua orang di dunia ini adalah seorang... Ni..ninja ?" tanya Sasori dengan gugupnya.
Untuk kesekian kalinya semua orang yang berada di sana hanya bisa bersweatdrop ria.
"Hoy boneka kayu sia*an! Apa yang sedang kau bicarakan hah?! Kau ini sedang bercanda atau apa sih? Tentu saja iya! Memangnya kau pikir akan ada zaman di mana tak ada ninja dan peperangan?!" bentak Hidan yang sedari tadi sudah menahan untuk tidak bicara.
Sasori terdiam. Wajahnya terlihat shock berat.
.
.
WARNING : AU, OOC, TYPO, GAJE,
MEMBOSANKAN
.
.
"Danna un? Daijoubu desu ka?" tanya Deidara yang khawatir. Sasori memandang Deidara, kemudian memandang yang lainnya satu-persatu.
'Jika mereka Akatsuki, berarti mereka adalah penjahat yang kejam!' GLUK. Sasori menelan ludahnya. 'Benar juga, walaupun wajah mereka mirip dengan teman-temanku, tapi aura mereka benar-benar gelap dan dingin.' benak Sasori.
Tiba-tiba lamunan Sasori sirna ketika sesosok makhluk aneh berbentuk tanaman venus flytrap muncul dari dalam tanah. Hal itu tentu saja membuat Sasori sangat terkejut.
"GYAAAAAAAAAA!" lagi-lagi ia berteriak dan memekakan telinga semua orang yang mendengarnya. "Zet..Z..Z..Zet..Zetsu?" Sasori menunjuk wajah makhluk yang mirip Zetsu itu dengan wajah ngeri. Lalu tak lama ia pun kembali pingsan di pelukan Itachi.
Lagi-lagi hening menerpa mereka semua.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
"SASORI…(DANNA)?" seru mereka semua secara bersamaan.
GRUDUK..GRUDUK..GRUDUK..
Tiba-tiba terdengar suara batu besar yang merupakan pintu markas mereka dibuka oleh seseorang. Lalu, terlihatlah sesosok manusia buruk rupa dengan cadar di wajahnya. Badannya pun bungkuk dan dia berjalan seperti kura-kura.
"Deidara... Kenapa kau tinggalkan aku dan pulang sendiri? Bukankah perjanjiannya kita bertemu di pohon besar? Kau membuatku menunggu sia-sia! Kau tau kan aku benci menunggu!" bentak si buruk rupa itu pada Deidara dengan suara mengerikan.
Tapi Deidara malah memasang wajah terkejutnya. Bukan cuma Deidara, semuanya terkejut melihat sosok buruk rupa itu muncul di hadapan mereka. Mata mereka terbelalak dan mulut mereka terbuka lebar.
Si buruk rupa jadi tak mengerti apa yang sedang terjadi, mengapa orang-orang di hadapannya bersikap seperti itu.
"SASORI?!" pekik mereka bersamaan. Si buruk rupa yang merasa memiliki nama itu pun menyahut.
"Hn? Nanda?" jawabnya singkat.
"K..kalau itu Sasori.. Lalu.. Siapa dia?" ucap pria berwajah Kisame sambil menunjuk Sasori yang pingsan dipelukan Itachi itu.
Perlahan si buruk rupa itu mendekat ke arah mereka setelah menutup pintu batu besar yang merupakan pintu markas mereka itu. Kemudian setelah sudah dekat, si buruk rupa menyingkap jubah yang ia kenakan dan punggung si buruk rupa itu terlihat terbuka.
Ternyata sosok buruk rupa itu hanya boneka kayu. Sosok yang asli ada di dalamnya. Perlahan ia keluar dari tubuh boneka yang jelek itu dan terlihatlah sesosok pemuda yang menawan. Rambut merahnya yang menyala, mata cokelat hazelnya yang menawan, dan wajahnya yang tampan, imut, dan menggemaskan itu pun kini sudah berada di hadapan para penjahat rank S tersebut.
Pemuda berambut merah yang dipanggil dengan nama Sasori itu pun ikut terkejut ketika melihat sesosok manusia yang tak sadarkan diri di pelukan Itachi itu. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali takut-takut ia salah lihat.
Ternyata matanya masih awas. Dia tidak salah lihat. Orang itu memang sangat mirip dengannya. Tidak, orang itu serupa dengannya tanpa ada perbedaan sedikitpun kecuali pakaian yang mereka kenakkan.
"Siapa dia?" tanya Sasori si penjahat rank S kepada teman-teman satu profesinya. Yang ditanya malah menggeleng semua.
.
.
The Puppet Master
By : Chan-ame
.
.
"Un...ano Danna.. Aku yang membawanya kesini karena kupikir dia adalah Danna un. Dia ada di arena pertarunganku tadi un." ucap Deidara kepada Dannanya.
"Jangan-jangan anak ini penyusup yang menyamar menjadi Sasori." tuduh Zetsu kepada Saso. (A/N : Mulai sekarang, Sasori dari masa depan Ame sebut Saso dan Sasori di masa lalu Ame sebut Sasori ya readers biar gak bingung atau keliru ^^)
"Tidak mungkin. Jika dia memang mau menyusup, dia pasti akan meniru penampilan dan semua gelagat Sasori kan? Tapi anak itu, hanya wajahnya saja yang mirip, penampilan dan gelagatnya jauh berbeda." sangkal Kakuzu yang mematahkan perkataan Zetsu.
"Lagipula dia bukan shinobi. Aku tidak melihat aliran cakra di tubuhnya. Cakranya masih tertutup." gumam Itachi yang sedang memangku Saso.
"Kalau kau tau begitu, mengapa kau tidak bilang dari tadi haaah? Uchiha sia*an? un!" bentak Deidara kesal.
"Aku ragu mengatakannya." ucap Itachi singkat.
"Sudahlah hentikan!" kata sang ketua. Semuanya terdiam. "Deidara, karena kau yang membawanya.. Jadi kuserahkan urusan tentangnya kepadamu!" perintah sang ketua dengan tegas.
"NANI?! Aku harus mengurus anak mirip Danna yang cengeng ini un? Aku tidak mau!" Deidara menolak dengan tegas.
"Cengeng?" kata Sasori sambil memandang copiannya itu.
"Ini perintah! Kau tak berhak menolak! Cari tau semua tentang dia. Kalau dia berbahaya, bunuh saja! Kalau tidak, terserah mau kau apakan." kata Pein dengan sangat galak.
Deidara cemberut dan membuat wajah manisnya itu semakin menggemaskan (Ame klepek-klepek). "Baiklah!" sahut Deidara dengan kesalnya.
"Tapi aneh ya, anak ini tau nama kita. Padahal kan kita organisasi yang sangat rapat." kata satu-satunya wanita di sana sambil memegangi dagunya ala detektif.
"Benar juga un. Waktu pertama kali aku bertemu dengannya pun dia langsung memanggil namaku un. Makanya aku kira dia Danna un." Deidara mengusap-usap dagunya layaknya detektif juga.
Itachi menggendong Saso dan menyerahkannya pada Sasori. Sasori menggendong Saso.
"Anak ini manusia." kata Sasori sambil memegang-megang tubuh Saso.
"Tentu saja dia manusia! memangnya kau pikir dia hantu un!" kata Deidara dengan nada kesal.
"Seharusnya kau bisa membedakan aku dengan dia. Tubuhku kan terbuat dari kayu. Apa kau tak menyadari perbedaan itu ketika membawanya kemari?" Sasori menaikan sebelah alisnya sambil menatap partnernya yang tengah berwajah bodoh.
"Eh? Mana mungkin aku sadar un. Aku kan tidak pernah menyentuh tubuhmu sebelumnya un. Jadi aku tidak ingat kalau kau boneka kayu walaupun aku tau un." Deidara mencoba membela diri.
"Ya sudah ayo ke kamar." ajak Sasori. Deidara hanya mengangguk dan bergumam "Un" saja lalu mengikuti langkah Sasori.
.
.
Chapter 5 : Zaman Para Ninja
.
.
Saso membuka matanya. Ia merasakan kepalanya sedikit pusing. Perlahan ia duduk dan tersentak ketika melihat pemandangan di sekitarnya. 'Jadi aku benar-benar tidak sedang bermimpi ya.' benak Sasori lemas.
Ia berada di atas kasur yang cukup empuk walaupun tak seempuk kasur dirumahnya. Cahaya di sana sangat minim. Ruangan itu pun hampir tak ada ventilasinya yang membuat Sasori merasa sedikip pengap.
Sasori mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajahnya karena kegerahan. 'Hufh, seperti inikah kamar seorang buronan?' pikirnya sambil tetap menjelajahi seisi ruangan dengan mata hazelnya.
Tiba-tiba Saso dikejutkan oleh dua orang yang memasuki ruangan tersebut. Yang satu sangat mirip dengan Deidara sahabatnya, tentu saja dia sudah tak terkejut lagi karena sudah dua kali bertemu.
Yang satunya ini yang membuat Saso amat terkejut. Ia melihat sesosok manusia yang serupa dengan dirinya bahkan nyaris tak ada perbedaan di antara mereka kecuali garis di leher orang itu yang seperti sambungan sebuah boneka. Dan, tatapan mata orang itu sangat mengerikan.
Saso mengingat sesuatu. Yaitu boneka yang ia temukan di gua itu. Jangan-jangan, yang ada di hadapannya adalah boneka itu ketika ia masih hidup.
Sasori memandang ngeri ke arah makhluk yang serupa dengan dirinya itu.
"Kau sudah bangun un?" Deidara mendekati Saso yang tengah ketakutan.
Gluk. Ia menelan ludahnya. Jika benar pemuda berambut merah itu adalah Akasuna no Sasori, bisa dipastikan ia akan mati kapan saja.
Menurut buku pelajaran sejarah yang sempat ia pelajari, Akasuna no Sasori adalah anggota paling kejam di Akatsuki. Dia mengubah orang-orang yang ia kalahkan menjadi boneka dengan cara mengeluarkan seluruh isi tubuhnya, lalu dicuci kemudian diisi dengan senjata. Mengerikan. Manusia macam apa yang mampu melakukan hal sekeji itu.
'Wajahnya memang mirip aku. Tapi hatinya tentu jauh berbeda.' pikir Saso. "K..kau, apa kau.. A..Akasuna no Sasori?" tanya Saso kepada Sasori dengan takut.
"Ya." jawab Sasori singkat.
Seketika Saso benar-benar ketakutan. Ia langsung saja memegang lengan Deidara yang sudah ada di sampingnya dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Deidara tanpa rasa takut. Karena menurutnya, Sasori jauh lebih menakutkan bagi dirinya.
"Hey, kau tidak takut lagi kepadaku ya bocah merah?" ucap Deidara namun tidak dijawab oleh Saso karena Saso masih gemetar menatap Sasori sambil membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sasori to the point.
"Na..namaku, Akasuna Sasori." jawab Saso perlahan.
"Haaaah? Kau bercanda ya bocah merah un? Jawab yang jujur atau hidupmu berakhir un!" bentak Deidara yang membuat Saso merasa ketakuatan untuk yang kesekian kalinya.
Saso langsung saja menjauh dari Deidara dan menyudutkan tubuh di pojok kasur. "A..aku tidak bohong! Jika kalian tak percaya, periksa saja kartu pelajarku!" Saso mengeluarkan dompet dari sakunya dan memperlihatkan kartu pelajarnya pada dua makhluk di hadapannya.
Kedua orang itu meraih kartu pelajar yang Saso berikan. Mereka menatap kartu pelajar itu dengan wajah bingung.
"Apa ini un?" tanya Deidara bingung.
"Aku kan sudah bilang itu kartu pelajar. Apa di dunia shinobi seperti ini tak ada yang sekolah?" jawab Saso dengan sedikit jengkel.
"Sekolah? Maksudmu, akademi ninja un?" kata Deidara lagi.
"Sekolah itu ya...sekolah. Tempat untuk belajar dan menjadi pintar." jelas Saso yang memang bingung bagaimana cara menjelaskannya mengingat ia juga bukan anak yang pintar.
Terlihat Deidara masih bingung dengan perkataan Saso. Tentu saja, penjelasan Saso benar-benar seadanya. Sedangkan Sasori masih memandang Saso dengan tatapan dingin tanpa ekspresinya.
"Katakan, darimana asalmu. Tadi kau bilang 'Di dunia shinobi seperti ini'. Apakah kau berasal dari dunia yang lainnya?" tanya Sasori dengan wajah yang tetap datar.
Deidara menengok ke arah partnernya itu sambil menaikkan sebelah alisnya. "Hah? Danna bercanda un? Mana ada dunia yang lainnya. Memangnya kau pikir ini dongeng un?" Deidara mencibir ke arah partnernya itu. Tapi sang partner hanya diam saja.
"Um..ano.. K..kau benar Sasori.. Um..maksudku Akasuna-sama.. Ah tidak! Saso-senpai, Eh..mungkin Saso-nii lebih baik." kata Sasori yang bingung memutuskan panggilan yang tepat untuk Sasori yang ada di hadapannya itu agar lebih enak saat berkomunikasi.
"Hey bocah merah! Apa yang sedang kau bicarakan un?" Deidara terlihat sangat jengkel pada orang yang mirip dengan Sasori itu.
"Darimana?" Sasori mengulang pertanyaannya tanpa menghiraukan Deidara yang sedang berbicara pada Saso.
Dengan ragu-ragu Saso menjawab. "Aku dari dunia yang sama denganmu. Hanya saja, beberapa ratus tahun kemudian. Intinya, aku berasal dari masa depan. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa terlempar ke masa ini." Jelas Saso panjang lebar.
Sasori dan Deidara terdiam. Mereka saling berpandangan lalu Deidara tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Sasori, hanya menanggapinya dengan tersenyum sinis.
"Hahahahahaha... Apa yang katakan bocah merah un? Masa depan? Hahahaha. Tidak masuk akal un! Carilah alasan yang lain. Hahahahahaha." Deidara tetap terbahak-bahak.
"Kau pikir kami akan percaya SA-SO-RI?" ucap Sasori dengan wajah sinisnya.
"Aku tidak bohong Saso-nii. Memang itulah kenyataannya. Kurasa ini terjadi karena permohonanku semalam." tambah Saso dengan wajah serius.
Tawa Deidara mulai mereda. Ia kembali memperhatikan dua Sasori di hadapannya.
"Permohonan? Katakan maksudmu. Jangan berbelit-belit. Aku benci menunggu!" perintah Sasori yang merasa kesal karena Saso tidak to the point.
"Ba..baiklah.." Saso pun menceritakan semunya pada Sasori dan Deidara. Dimulai dari organisasi Akatsuki yang dibentuk oleh Pein di masa depan, hunting di desa Suna, festival ulang tahun desa Suna, bahkan sampai kisah cintanya dengan Konan di bukit. Ia pun menceritakan ketika ia tersesat dan menemukan ruangan yang berisi banyak boneka kayu berbentuk manusia beserta boneka kayu yang berbentuk Sasori itu. Ia pun menceritakan permohonannya ketika sedang bicara pada boneka Sasori yang entah kenapa menjadi nyata ketika ia bangun tidur.
"Begitulah." Sasori mengakhiri ceritanya.
Deidara dan Sasori menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jadi, kau suka Konan, tapi Konan itu pacarnya ketua un?" komentar Deidara yang membuat Sasori sweatdrop.
Saso mengangguk. "Iya, aku harus bagaimana ya Dei? Pasti dia akan marah padaku karena ciuman itu. Aaargh! Aku tak sanggup bertemu dengannya!" Saso mengacak-acak rambutnya yang membuat Sasori tambah sweatdrop.
"Hentikan pembicaraan konyol kalian berdua! Hey bocah. Kau bilang mungkin kau reinkarnasiku kan? Dan kau menemukan tubuh bonekaku tanpa heart container?" tanya Sasori dengan nada tegas.
"Ya. Aku juga tak begitu yakin aku reinkarnasimu atau bukan. Habis, kau dan aku berbeda. Hanya wajah kita yang sama." Saso menyentuh pipinya sendiri dengan jari telunjuk.
"Bukan itu yang kumaksud! Apa kau tau? Aku ini adalah seni yang abadi. Aku tak akan pernah mati. Jadi, tak mungkin ada reinkarnasiku. Kesimpulannya semua kata-katamu adalah omong kosong!" tegas Sasori sambil memalingkan wajahnya.
"Benar un! Sasori no Danna tidak bisa mati kau tau. Kalau aku, tentu saja akan mengakhiri hidupku sendiri dan menampilkan seni yang indah un." Deidara menyeringai lebar yang membuat partnernya mendecih meremehkannya.
"Ya! Ya! Ya! Kau memang akan mati dalam ledakanmu sendiri Dei. Aku ingat. Itu tertulis di buku pelajaran sejarahku." Saso menunjuk wajah Deidara dengan semangat.
"Benarkah? Waaaaah! Aku senang mendengarnya un!" Deidara jadi berseri-seri. Namun setelah itu ia memasang tampang jengkel. "Hoy! Kau kira aku akan percaya dengan cerita palsumu un? Benarkan Danna?" Deidara menatap wajah Sasori dan meminta dukungan.
"Ya, dan apa maksudmu dengan buku pelajaran sejarah?" tanya Sasori lagi.
Saso menepuk dahinya. Ia bingung juga karena dua makhluk bersejarah di hadapannya terus-terusan bertanya padanya tentang hal-hal yang menurut Saso yang bodoh itu sulit untuk dijelaskan.
"Begini, Dei.. Saso-nii.. Di masaku, masa kalian yang sekarang ini adalah masa lalu yang telah menjadi sejarah. Semua tentang hal yang terjadi pada masa ini, akan ditulis dalam buku sejarah dan dipelajari oleh semua orang di masaku agar kami tau asal-usul masa lalu negara kami." ucap Saso panjang lebar.
"Mungkin seperti sejarah tentang Rikudou Senin ya Danna?" bisik Deidara pada partnernya yang hanya diberikan anggukan oleh partnernya tersebut.
"Di buku sejarah itu tertulis jelas tentang kematian kalian. Dan kau Saso-nii, kau yang pertama mati di Akatsuki." ucap Saso perlahan.
Sasori melengkungkan senyuman sinis lalu tertawa mengejek. "Hahahaha. Kau benar-benar lucu, tiruanku. Katakan. Apa yang bisa membunuhku. Hm?" tanyanya dengan nada menantang.
"Nenekmu. Dan kunoichi berusia 16 tahun. Mereka yang merenggut nyawamu." Jawab Saso pelan.
Sasori terlihat sedikit tersentak dengan perkataan Saso yang menyebutkan tentang neneknya.
"Sebenarnya kematianmu masih jadi misteri. Tak ada yang tau pasti kenapa seorang puppet master sehebat dirimu bisa dikalahkan oleh seorang nenek tua dan gadis remaja." lanjut Saso.
Lagi-lagi Sasori tersenyum sinis. "Menarik. Aku jadi ingin membuktikan kata-katamu bocah. Katakan kapan itu terjadi?"
"Umm... Aku.. Kurang ingat. Aku memang buruk dalam pelajaran sejarah. Tapi jika aku ingat, akan segera kuberi tau padamu Saso-nii." Jawab Saso sambil tersenyum bodoh.
"Cih! Berhenti memanggilku Saso-nii. Aku bukan kakakmu!" ujar Sasori dingin.
"Hoy hoy Danna. Apa kau mempercayai kata-kata bocah ini un?" Deidara dengan seenak jidatnya mengetuk-ngetuk kepala Saso dengan jari telunjuknya.
"Umm.. Tidak, makanya aku mau buktikan sendiri perkataannya." jawab Sasori.
Saso jengkel karena masih tidak dipercaya. Lalu ia tak sengaja mengingat sesuatu kemudian merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ponselnya dengan wajah berseri-seri.
"AKU PUNYA BUKTI KALAU AKU BENAR DARI MASA DEPAN!" Saso menyeringai sambil menunjukkan ponselnya pada dua makhluk bersejarah itu.
Dua makhluk bersejarah itu hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Di zaman ini pasti belum ada handphone kan? Lihat! Ini yang kumaksud dengan handphone. Benda canggih yang hanya ada di zamanku!" Saso memutar Mp3 player yang ada di fitur ponselnya. Lagu Hero's Come Back mengalun dan membuat Sasori dan Deidara sempat terkejut.
"Benda apa itu un?! Suara jelek apa yang keluar dari situ un!" kata Deidara yang panik bin norak sambil nunjuk-nunjuk ponsel Saso dengan ekspresi yang kelewat lebay dan sangat OOC.
Saso menyeringai lebar. "Sudah kubilang. Ini benda dari masa depan. Dan suara ini adalah suara musik yang sedang populer di masaku tau! Ini keren. Tidak jelek seperti katamu." jelas Saso panjang lebar. Kemudian ia mengaktifkan kameranya dan memotret dua makhluk bersejarah yang ada di hadapannya.
KLIK
"Nah, benda ini juga bisa memotret." Saso menunjukkan hasil jepretannya pada mereka. Mereka berdua hanya memandang layar handphone itu sambil membuka sedikit mulutnya dan berkata "Wow" bahkan Sasori pun tercengang melihatnya.
"Benda kecil seperti ini bisa memotret?" gumam Sasori yang agak kagum. Pasalnya di masa mereka, kamera itu sangatlah besar.
"Ini juga bisa membuat rekaman video." kali ini Sasori mengaktifkan mode rekam.
"Video? Apa itu video un?" tanya Deidara dengan tampang innocent yang bikin Ame pengen kisu si Dei Dei sampe dia gak bisa napas. Kyaaaaaa~ kyaaaaaa~ xD (Dei : Berisik lo un! / Ame : Masbuloh? / Dei : Bukan gue yang bermasalah! Tapi dia un..! *nunjuk Itachi* / Ame : Ada apa dengan Itachi-nii? / Itachi : Heh Ame sia*an! Gue lagi sakit gigi tau! AMATERASU! / Ame : Waaa...waaaa.. Help me! Help me! Help me...)
Saso menyeringai. Ia menaruh ponselnya di kasur lalu disandarkan pada bantal. Ia lalu menggandeng Deidara dan Sasori dengan sok akrabnya. Yang digandeng hanya mengikuti Saso dengan wajah bingung.
Mereka duduk bertiga di bawah menghadap ke arah ponsel Saso.
"Matanya menatap lubang ini ya." Saso menunjuk lensa kamera ponselnya. Sasori dan Deidara mengengguk lalu menatap lensa kamera Saso.
"Ikuti gerakanku setelah kubilang 'mulai' ya.." Saso mengaktifkan videonya lalu mulai menari-nari tidak jelas yang membuat Deidara dan Sasori sweatdrop.
"Mulai! Ayo menari sebebas kalian" perintah Saso.
Lalu mereka berdua dengan bodohnya menuruti perintah Saso dan mulai menari-nari bodoh mengikuti arahan dari Saso.
Deidara menari dengan semangat. Sementara Sasori hanya menari dengan gerakan heboh tetapi tampangnya datar.
5 menit kemudian…
"Hey! Kenapa aku harus meladeni permainan bodohmu bocah!" bentak Sasori yang baru tersadar dari kebodohannya.
Saso hanya terkikik sambil mengutak-atik ponselnya. Ia sedang memasukan lagu harlem shake sebagai backsound videonya barusan.
"Nah! Selesai, inilah yang namanya video." Saso menunjukkan ponselnya pada Sasori dan Deidara.
Deidara dan Sasori langsung melihat layar ponsel Saso untuk mengetahui apa itu video.
Betapa noraknya mereka ketika mendengar suara lantunan musik Harlem Shake berbunyi bersamaan dengan video mereka yang sedang menari-nari tadi.
"Waaah, kita ada di kotak ini un... Keren un! Keren!" kata Deidara heboh.
"Hahaha gayamu jelek Dei. Lihat gayaku!" kata Saso semangat.
"Tapi lebih buruk lagi gaya Danna ya kan bocah merah un." lalu Deidara dan Saso terkikik sambil menatap ke arah Sasori. Yang di tatap malah tidak peduli.
"Hmm... Jadi ini bisa merekam kejadian ya?" tanya Sasori.
"Tepat! Nii memang pintar!" puji Saso sambil mengacungkan jempolnya ala Gai-sensei.
"Hmm.. Jadi kau benar-benar dari masa depan un?" tanya Deidara yang mulai mempercayai perkataan Saso.
Saso mengangguk sambil tersenyum.
Deidara dan Sasori saling bertatapan dan mulai berbicara dari hati ke hati.
'Kau percaya Danna?' Deidara menaikkan sebelah alisnya.
'Entahlah.' Sasori hanya mengangkat kedua bahunya.
'Lalu mau kita apakan anak ini un?' Deidara melirik Saso.
'Kau urus saja dia dulu.' Sasori menunjuk Deidara dengan dagunya.
'Apa? Tidak un! Tidak!' Deidara langsung menyilangkan kedua tangannya.
'Ya sudah, kubunuh saja dia.' Sasori menaruh jari telunjuknya di leher dan menggerakkannya seolah itu adalah pisau.
'Eh? Ja..ja..ja..jangan dong Danna.' Deidara lagi-lagi menyilangkan kedua tangannya.
'Ya sudah kau urus dia.' Sasori menunjuk Deidara dengan dagunya lagi.
'Cih! Danna sia*an. Baiklah un!' Deidara menaikkan bibir atasnya lalu mengangguk.
Saso hanya terdiam menatap dua orang di hadapannya yang sedari tadi terdiam dan saling bertatapan sambil melakukan gerakan-gerakan aneh.
Sementara itu, Sasori dan Deidara yang sudah menyelesaikan pembicaraan dalam hati mereka pun kini menatap Sasori lekat-lekat.
"Baiklah bocah merah, kami percaya padamu un. Kau akan kami urus sementara kau masih ada di sini un." ucap Deidara dengan nada bijaksana.
Saso yang seharusnya tersenyum dan bilang 'Arigatou' malah menunduk dengan wajah sedih.
"Apalagi masalahmu Sasori?" tanya Sasori dengan wajah tenang namun bernada kesal.
"Aku...mau...pulang... Hiks... Aku mau ketemu Kaa-san, Tou-san, adikku dan teman-teman Akatsukiku." air mata si cengeng itu mulai berjatuhan lagi.
Sasori tersentak ketika Saso menyebut-nyebut tentang Kaa-san dan Tou-san.
"Mereka masih hidup?" ucap Sasori perlahan sambil melebarkan matanya.
"Ehh... Mereka siapa Nii?" Tanya Saso tak mengerti.
Sasori menunduk sambil menggigit bibirnya. "Lupakan." Sasori pun berdiri dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Deidara hanya menatap partnernya dengan tatapan sedih.
"Saso-nii kenapa Dei?" tanya Saso pada Deidara dengan wajah polos.
"Huh! Jangan singkat-singkat namaku un!" Deidara menjitak si kepala merah itu.
Saso meringis sambil memegangi kepalanya. "Itai.. Habis aku memanggil reinkarnasimu dengan panggilan itu." Saso cemberut dengan imutnya kepada Deidara.
Deidara memutar bola matanya. "Hmm.. Kau bilang di masa depan akan ada Akatsuki lagi kan un? Lalu bagaimana sifatku di masa depan un ?" tanya Deidara yang penasaran.
"Hmm.. Dia itu cerewet dan tidak mau mengalah. Selalu bilang 'un' di akhir kalimat dan sangat percaya diri dengan prinsip 'SENI ADALAH LEDAKAN' miliknya. Dia juga baik dan perhatian padaku. Dia selalu berusaha memotivasiku." jelas Saso panjang lebar.
"Wah! Benar-benar mirip aku un! Seni memang ledakan un. Eh tapi, kalau aku sih, tidak pernah memotivasi Sasori no Danna un. Memangnya kau ada masalah apa bocah merah sampai-sampai kau dimotivasi oleh reinkarnasiku un?" Deidara membuka jubahnya dan kini berbaring di kasur tepat di seberang Saso.
"Kau tau, aku sangat suka seni kerajinan boneka kayu dan Dei sangat suka memahat patung tanah liat. Kami berdua bisa berteman akrab karena sama-sama menyukai seni." kata Saso yang kini duduk di atas kasur di seberang kasur Deidara.
"Kau seperti Danna un. Menyukai boneka-boneka bodoh yang tak berguna itu. Lalu apa masalahnya un?" Deidara mulai memejamkan matanya karena lelah.
"Dei merupakan seniman hebat. Ia sudah diakui oleh dunia sebagai seniman muda berbakat di negara kami. Karnyanya sudah bisa ditemukan di mana-mana. Bahkan di museum seni di luar negeri." Saso tersenyum pahit ketika mengatakannya.
"Waaaah, aku memang keren un!" Deidara yang sudah berbaring dan memejamkan mata pun kini jadi terduduk lagi dengan wajah bersemangat.
"Ya, begitulah. Sedangkan aku. Aku hanya berangan-angan untuk menjadi seorang seniman. Tapi satu boneka pun tak pernah kuselesaikan dengan benar." Saso menunduk sambil tersenyum miris. Ia sangat malu bercampur kesal juga sedih.
Deidara menatapnya heran. "Tidak mungkin, Sasori no Danna adalah puppet master terhebat yang pernah ada di dunia ini. Masa kau reinkarnasinya tidak bisa membuat boneka un." kata Deidara sambil tertawa kecil seolah tak percaya dengan apa yang Saso katakan.
"Inilah kenyataannya. Makanya aku sangat ingin Saso-nii mengajariku membuat boneka. Tapi dia menyeramkan. Aku jadi takut." Saso membayangkan wajah Sasori yang sedang berekspresi seperti pembunuh. Kemudian ia bergidik ngeri sendiri.
"Ne bocah merah, aku akan mencoba membantumu untuk membujuk Danna. Bagaimana menurutmu un?" kata-kata Deidara kriminal ini bagaikan bisikan dari surga ditelinga Saso.
Tanpa pikir panjang Saso yang kelewat bahagia itu langsung memeluknya seperti biasanya ia memeluk Dei sahabatnya ketika Dei membantunya. Tapi hal ini tak biasa bagi Deidara si makhluk bersejarah yang berstatus buronan rank S itu.
"APA-APAAN SIH KAU BOCAH MERAH?! Lepaskan aku un!" Deidara mendorong tubuh Saso dengan keras hingga ia membentur lantai.
Saso meringis kesakitan. 'Ugh, aku harus menjaga sikap. Biar bagaimanapun dia bukan Dei. Bisa-bisa aku dibunuh' benak Saso yang sedang kesakitan di lantai.
Malamnya...
Terlihat Sasori tengah duduk di luar markas. Tepatnya di tepi sungai yang berada dibelakang markas. Ia menatap langit malam dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Mengingat pria yang satu ini selalu berwajah datar.
Terlintas kalimat yang diucapkan oleh Saso tadi siang kepadanya.
Aku...mau...pulang... Hiks... Aku mau ketemu Kaa-san, Tou-san, adikku dan teman-teman Akatsukiku.
Sasori menunduk dan mengucapkan sesuatu dengan sangat pelan.
"Mau ketemu Kaa-san dan Tou-san katanya?" Sasori tersenyum pahit.
Tiba-tiba, sebuah tangan bermulut mengagetkannya dengan sebuah tepukkan. "Nah.. Sasori no Danna, kenapa kau malam-malam malah ada di luar un?" ternyata orang itu adalah Deidara.
"Lalu aku harus berada di mana?" jawabnya singkat.
"Ya tidur dong un. Di kamar. Walaupun kau tidak butuh tidur sih." Deidara mengambil posisi duduk tepat di samping Dannanya itu.
Sasori tersenyum sinis kepada Deidara. "Tsc, bagaimana aku bisa tidur jika bocah itu tidur di kasurku?" Sasori terlihat sangat jengkel kala itu.
"Haaah? Jadi karena itu un? Kasurnya kan cukup besar un. Kau bisa berbagi tempat tidur dengannya kan un?" kata Deidara dengan nada agak tinggi.
"Cih! Aku tidak mau!" Sasori mengatakannya dengan sangat tegas sambil membuang mukanya.
"Dasar keras kepala un! Padahal tidak ada salahnya kan berbagi tempat tidur?! Lama-lama kau ini berkelakuan seperti anak kecil un! Padahal usiamu sudah 35. Harusnya kau mencari wanita untuk kau nikahi un!" omel Deidara seperti seorang ibu yang gelisah karena anak laki-lakinya belum juga menikah.
"Hey?! Kenapa kau jadi menceramahiku sih?! Apa masalahmu Deidara?" tanggap Sasori dengan ketusnya.
"Bagaimana aku tidak kesal! Satu Sasori manja saja sudah cukup mengusik hidupku un! Sekarang kau juga mau ikut-ikutan manja seperti kembaranmu itu hah?!" jawab Deidara yang tak kalah ketusnya.
Sasori memadang kesal pada partnernya itu lalu membuang mukanya lagi. "TERSERAH APA KATAMU! Aku tidak mau ke kamar selama dia tidur di tempatku!" ucapnya tegas.
Deidara menggeram kesal namun ia tahan. "Ya sudah, Danna tidur di kasurku saja. Biar aku yang tidur dengan anak itu jika memang kau tidak mau berbagi kasur dengannya un." Deidara langsung melangkah pergi dengan kesal. Sedangkan Sasori hanya bengong melihat partnernya yang tiba-tiba perhatian itu.
"Tumben Deidara baik padaku." gumam Sasori pada dirinya sendiri sambil memandangi punggung Deidara yang sudah menjauh.
'Aku tau kau sedang sedih karena memikirkan kata-kata si bocah merah itu tentang orang tuanya kan? Sasori no Danna.' benak Deidara yang sebenarnya kasihan pada Sasori.
.
.
.
.
.
To be Continued ^^
.
.
.
.
.
Special thanks for : Shadow, Apostrophee, Mudiantoro, AN Narra, Green Mkys, Haruko Akemi, Guest, Zaa-chan, Dikdik717..
Arigatou buat reviewnya, Ame jadi tambah semangat! ^^
Kenapa Sasori bisa ke masa lalu? Itu karena waktu dia ngucapin permohonan untuk bertemu dengan Sasori di masa lalu, ada bintang jatuh yang ngabulin keinginan dia :D.
Actionnya? Nanti, di Chapter selanjutnya atau selanjutnya lagi Ame juga bingung nentuinnya. Hehehe.. :p
.
.
.
.
.
Chapter selanjutnya….
"Hey Deidara, percuma kau marah-marah. Bocah itu tak akan paham. Dan jika dia jujur berasal dari masa depan, kurasa kau memang abnormal."
.
"Dua-duanya Sasori! Dan dua-duanya membuatku KESAL! Un!"
.
"Kalian semua akan mati, satu-persatu."
.
"Aku menugaskan kalian bertiga dalam sebuah missi."
"Apa? BERTIGA?"
.
"Saso-nii tolong aku!"
.
"Ini semua gara-gara kau Danna un!"
.
"Aku dan dia, memang sudah bersama sedari dulu. Namun dia meninggalkanku duluan."
.
"Apa kau mencintainya?"
.
"Aku akan mengajarimu membuat boneka."
.
.
.
.
.
Review kalian penyemangat Ame ^^
