Warning: AU, OOC, Fantasy
Summary: Slaine si tudung merah yang ingin menemui kakeknya di sebuah hutan. Apa yang akan terjadi kepadanya? Hadir, Cruhteo. R&R plis.
Slaine si Tudung Merah
.
Chapter 3
"Aku pulang.."
"I..Inaho? akhirnya kau pulang juga. Inaho kau membawa sesuatu?"
"Iya, Inko.." Pemuda bernama Inaho itu langsung meletakkan barang –bukan- seseorang yang ia gendong di pundaknya. Ia meletakkan pemuda itu di lantai batu itu.
"Inaho! Kita tidak makan manusia!" Ujarnya.
"Memang tidak.. aku mengambilnya, ia adalah milikku."
"Kau? Sudah kubilang aku butuh makan! Kelompok kita."
"Aku bertemu dengan Matsuribi & Calm di hutan, mereka berjanji akan membawakan daging rusa. Tenanglah.. Yuki-nee belum balik? Inko, kasih tau jika semua sudah kembali. Aku mau ke kamarku dahulu." Inaho memungut kembali barang itu dan mengendongnya kembali ke dalam sebuah bilik batu tak jauh dari goa itu. Walau di sebut goa, tempat tersebut tetap di berikan penerangan dan terdapat beberapa ruangan khusus.
Inaho menaruh buruannya di kasur empuk dan membuka penutup mulutnya.
"Kau aman disini.." Ia mengelus surai blonde milik pemuda itu. Tetapi yang bersangkutan malah terlihat ketakutan dan menutup matanya dengan tangan kirinya.
"Maafkan aku.. pasti kau sangat kesakitan ya?" ia mengelus luka tangan kanan tersebut. "Aku harus meneruskan klan ini, kelak kau pasti mengerti. Yuki-nee pasti akan memarahi ku lagi.."
"A..apa maksudmu?" Pemuda blonde itu mulai berbicara. "Kenapa kau menggigitku dan menculikku? Kau ingin memakanku?"
"Tidak."
"Terus untuk apa?"
"Ada yang harus aku lakukan demi kelompokku ini. Kau akan mengetahuinya nanti, mungkin setelah mereka semua kembali.." Inaho menatap kedua iris teal miliknya lalu mengecup pelan dahi milikknya, membuat pemuda itu bingung.
"Inaho, Yuki-nee sudah kembali.." Ujar Inko dari luar kamar.
"Iya, aku akan kesana.." Inaho menjawabnya. "Setelah mengobati kau terlebih dahulu." Inaho pun membuka perban itu dan mulai menjilati luka-luka tersebut.
"Ja-ngaaan nnghh~~ a-apaa yang kau-la—kukaaan!"
"Menjilati lukamu Slaine, kau akan segera sembuh nanti." Inaho melanjutkan menjilati luka-luka itu walau yang mempunyai tubuh ku tidak terima perlakuannya. Ia malah berusaha menyingkirkan lidah Inaho dari lukanya. Tetapi, Inaho lebih kuat darinya, apalagi.. dengan tubuh terluka itu.
Puas menjilatinya, Inaho menjilati jempolnya, "Terimakasih atas makanannya." Itu membuat Slaine semakin pasrah, wajahnya merah total, napasnya beradu.
"Ka..kau sudah puas?" Ia pasrah melihat tubuhnya yang memanas, tetapi ia agak heran kenapa lukanya tidak terasa sakit lagi.
"Jangan heran, karena ludahku adalah obat untuk penyakitku. Ayo pergi, kita sudah ditunggu." Inaho memakaikan sebuah selimut untuk menutupi tubuhnya itu dan ia menarik tangan Slaine pelan.
Mereka tiba di sebuah ruangan dengan penerangan lumayan. Ia menaruh Slaine di tempat terdekat.
"Nao-kun.. bau apa ini? Kau? Ia bukannya anak manusia?"
"Iya, Yuki-nee, semuanya. Ada yang ingin kubicarakan." Semua anggota pada bertanya tentang apa yang akan Inaho sampaikan. "Kalian pasti tahu percis kalau aku yang kalian pilih untuk menjadi ketua klan. Kalian juga tahu jika aku menyanggupinya walau aku masih berusaha untuk mengabulkan permintaan kalian semua. Oleh karena itu.. aku meminta kalian mendengarkan permintaanku."
"Apakah ini tentang klan kita, Nao-kun?"
"Salah satunya Yuki-nee." Inaho menundukkan wajahnya lalu menatap Slaine.
"Ada hubungannya dengan pemuda itu, adikku?" Tanya Matsuribi sambil menatap liar ke arah Slaine.
"Ada, kumohon.. ini memang terdengar tidak aneh, menyimpang.. tetapi jika dilakukan kuharap menjadi awal perdamaian klan kita dengan manusia. Jadi… Aku akan menilih pemuda itu untuk menjadi ratuku."
"!" semua kaget mendengar ucapannya, begitu juga dengan Slaine dan tiba-tiba dipeluk sama Inaho dari belakang.
"Nao-kun! Apa yang kau pikirkan? Menikahi seorang pria dari ras manusia? Kau sudah gila?"
"Tidak Yuki-nee, Ini adalah hal yang sedang kupikirkan. Lagipula.. pemuda itu adalah cucu dari Tuan Saazbaum. Jika kita memiliki cucunya, mereka tidak akan menyerang kita lagi."
"Tidak mungkin! Inaho! Jangan bercanda! Kau sudah gila! Bisa saja Saazbaum dan sekutunya malah membantai klan kita! Inaho!" Calm, salah seorang rekan Inaho pun naik pitam lalu mencengkram kaos yang Inaho pakai dengan keras.
"Aku sudah memutuskannya." Inaho berkata seperti iya sudah menerima semua resiko.
"Kalau kau sudah paham akan resikonya, lanjutkan.. aku dukung! Aku rindu kebebasan disini.."
"Rayet!" Teriak kakak Inaho, Yuki kepada gadis bernama Rayet. Yuki akhirnya menghela napas saja, toh semua yang dilakukan adiknya memang selalu kelewat batas.
"Lalu, kuminta sekarang kalian berkemas dan segera pindah ke lembah, kita tidak bisa terus berdiam diri disini, purnama akan datang. Kita kembali 3 hari ini." Setelah memberikan pesan ia jongkok dan mengucapkan sesuatu di telinga Slaine. "Aku akan disampingmu, karena kau adalah calon ratuku."
"Inaho, tunggu dulu.. apa kau yakin pilihanmu?" Tanya Calm lagi.
"Tentu, kita harus memerdekakan tempat kita tinggal. Ayo bergerak!" Inaho mengendong Slaine di pundaknya dan mengambil tasnya, bersama dengan Matsuribi & Calm ia membantu gadis-gadis keluar dari goa secepatnya dan menuju kedalam hutan.
.
"Apa? Putra ku ditangkap?"
"Benar sekali tuan, kami sedang mencarinya."
"Tahan mereka menuju lembah tersebut! Mereka akan kuhancurkan karena berani menculik putra ku!"
"Tapi tuan, purnama akan segera muncul. Mereka akan kua-" Sebuah tongkat mendarat mulus ke pipi salah satu anggota bawahannya.
"Apa yang kalian takut? Pecundang! Biar aku yang maju!"
"Tuan Cruhteo!" Pria dewasa yang di panggil Tuan Cruhteo itu keluar rumahnya, menyambar tali kekang kuda berwarna putih. Ia memerintahkan tim pencari untuk mengikutinya mencari putranya.
"Slaine, kuharap kau tidak terluka." Ucapnya dalam hati.
.
Review di tunggu..
Terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membacanya, dan terimakasih untuk yang sudah meriview.
Sign,
Haqua
