"Hey, bangun... Bangun, un!" Deidara menggoyang-goyangkan tubuh Saso yang masih terlelap diatas kasur Sasori tersebut.

"Umm..." Saso menggumam tak jelas sambil menggeliat di atas kasur tersebut. Keliahatannya ia masih sangat mengantuk.

Dengan perlahan ia membuka matanya yang masih sayu itu. Ia melihat sesosok pemuda pirang dengan mulut di tangannya.

Eh? Mulut di tangannya?

"WAAAAAAAAAAAAA!" Sasori yang lupa akan segalanya, langsung berteriak ketakutan melihat mulut di tangan Deidara.

"HOY BOCAH! HENTIKAN TERIAKANMU UN!" Deidara membentak dan menjitak kepala Saso hingga ia terdiam ketakutan.

"Kau ini! Selalu saja berteriak ketika melihat tanganku un!" omel Deidara sambil menjewer telinga Saso. "Kau harus membiasakan diri un! Jangan membuat orang kaget terus dengan teriakan cemprengmu itu un!" lanjut Deidara yang kini berkacak pinggang dengan tampang judes.

Ketika Deidara sedang marah-marah, muncullah Sasori dari balik pintu. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat Saso tengah menunduk takut dan di hadapannya ada Deidara yang berkacak pinggang sambil membentak-bentak Saso.

"Hey Deidara, percuma kau marah-marah. Bocah itu tak akan paham. Dan jika dia jujur berasal dari masa depan, kurasa kau memang abnormal." ucap Sasori sambil tersenyum sinis.

Deidara mengepalkan kedua tangannya dan langsung mendeathglare Sasori. "Dua-duanya Sasori! Dua-duanya membuatku KESAL! Un!" Deidara langsung pergi meninggalkan kamar sambil mencak-mencak lalu membanting pintu kamar dengan keras.

BRAKK!

Saso terkikik melihat Deidara yang jadi kesal sendiri itu. Kemudian ia memandangi Sasori sambil tersenyum riang. "Arigatou Saso-nii.. Kau menyelamatkanku dari si pirang cerewet itu." senyuman tulus Saso membuat Sasori merasakan hal yang aneh dalam dirinya entah apa itu.

Tanpa menjawab atau membalas senyuman Saso, Sasori melangkah keluar kamar. Namun, langkah kakinya terhenti saat ia berada di depan pintu kamar. "Keluarlah. Ketua menyuruhmu ikut sarapan." ucapnya datar kemudian ia benar-benar pergi keluar kamar.

Saso terdiam. Menatap dirinya di masa lalu itu. Tak tau apa yang Saso pikirkan, namun wajahnya menunjukkan kesedihan.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

"Ohayou..." Saso menguap sambil menarik kursi entah tempat siapa yang tersedia di meja makan.

Semua mata memandangnya dengan tatapan seram. Hal itu membuat Saso menjadi bingung bercampur takut.

"Eh? A..apa?" tanya Saso dengan wajah panik.

"Itu kursiku." Saso mendengar suara seorang wanita berkata pelan tepat di telinganya.

Ia mengenali suara itu. Itu suara gadis pujaannya. Bukan. Itu suara gadis yang berwajah mirip dengan gadis pujaannya.

Gluk.

Saso menelan ludahnya ketika jantungnya mulai berdebar kencang. 'Dia bukan Konan. Tapi kenapa jantungku menggila seperti ini?'

"Hhh...hh...hh.." Saso meremas baju di bagian dadanya. Ia merasa sangat sesak. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.

'Biasanya ada Dei yang menolongku. Tapi sekarang...'

"Ayo pergi ke kursimu un."

'Eh? Dei?' benak Saso yang terkejut karena Deidara datang dan menggandengnya menuju kursinya.

"Doshita?" ucap Saso pelan pada Deidara.

"Semalam kau bercerita kepadaku tentang perasaanmu terhadap Konan. Aku tau, kau pasti gugup sekali berada di dekatnya un." jawab Deidara cuek yang membuat Saso terharu.

"Huaaaaaaa Dei-chaaaaaannn..." Saso kumat lagi lebay-nya. Ia memeluk Deidara sambil nangis bombay.

Deidara yang geram karena dipeluk Saso langsung saja merogoh sakunya dan melemparkan burung kecil yang terbuat dari tanah liat itu ke udara.

"KATSU!"

BLAMMM...

"Kyaa!" Sasori tambah mengeratkan pelukannya pada Deidara.

"Jika kau terus memelukku, akan kuledakkan kepalamu bocah sia*an!" ancam Deidara yang membuat Saso langsung menjauh beberapa meter darinya.

"Sudahlah. Bisakah kita makan dengan tenang?" kata Hidan yang terlihat jengkel pada mereka berdua.

Deidara langsung duduk di kursinya yang berada tepat di samping Sasori. Sedangkan Saso masih berdiri dengan wajah takut dan tubuh bergetar.

"Ayo kemari Sasori." ajak Kisame sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Sasori berdiri dari kursinya dan pindah duduk di kursi kosong yang berada di samping Kisame dengan wajah datar.

"Bukan Sasori kau. Tapi Sasori yang itu." ucap Kisame dengan nada sebal kepada Sasori sambil menunjuk Saso yang berdiri agak jauh dari meja.

"Ouw. Kukira aku. Aku kan Sa-so-ri." Sasori mengeja namanya dengan nada nyolot.

"Sasori mulai lagi." gumam Kakuzu sambil menggelengkan kepalanya dengan gaya elegan.

"Hey. Sasori yang berdiri di sana," panggil Itachi.

Saso menunjuk dirinya sendiri. "Boku? Ah, hai. Ada apa Itachi?" tanyanya.

"Berapa umurmu?" tanya Itachi lagi.

"A..aku, 17 tahun. Kelas 3 SMA." jawabnya lengkap.

"Baiklah. Mulai sekarang panggil dia Saso kecil. Agar tidak keliru seperti tadi." usul Itachi.

"Aku setuju." tanggap Kisame.

"Aku tidak." tanggap Sasori.

"Kenapa lagi Danna?" kata Deidara yang mulai sebal pada partnernya yang tengah berulah itu.

"Kenapa dia harus dipanggil Saso kecil? Wajahnya dan wajahku sama saja. Kenapa kalian tidak pernah memanggilku Saso kecil?" ucap Sasori dengan nyolotnya.

"Sadarlah Sasori. Kau sudah tua." celetuk Kakuzu.

"Benar. Seharusnya kau sudah punya dua anak. Hahahaha..." tambah Hidan.

"Cih!" Sasori berdecih lalu memalingkan wajahnya yang kesal itu.

Saso memperhatikan mereka yang saling meledek itu dengan tatapan heran. 'Bukankah mereka pembunuh? Tapi kenapa mereka terlihat biasa saja seperti teman-temanku di masa depan?' benak Saso yang tidak mengerti.

"Saso kecil. Ayo duduk." perintah Pein dengan nada bijaksana.

Ucapan Pein otomatis memecah lamunan Saso. "Um." Saso mengangguk dan menghampiri meja makan.

Ia duduk di kursi Sasori yang terletak di samping Deidara karena Sasori sudah pindah duduknya ke samping Kisame.

"Baiklah. Ayo kita mulai sarapan kita." kata Pein kepada semua anggotanya plus Saso kecil.

"ITADAKIMASU..."

Saso menengok ke kanan dan ke kiri melihat semua penjahat rank S itu mulai menyantap sarapan mereka kecuali Sasori yang memang tidak makan ataupun minum karena ia adalah boneka kayu.

'Mereka normal. Kukira mereka mengerikan.' benak Saso dengan wajah sedikit lega.

"Kenapa kau tidak makan Saso-chan?" tanya Hidan sambil menunjuk makanan Sasori dengan sumpitnya.

"Eh? Oh. Iya. Aku makan." Saso langsung makan setelah tersenyum kepada Hidan.

Ternyata, Sasori sedari tadi memerhatikan Saso dengan wajah jengkel.

.

.

Sasori, Akatsuki, Rate T, Drama, Friendship

.

.

SKIP TIME

Kini ke-9 orang penjahat rank S anggota Akatsuki plus Saso telah berada di ruang rapat di markas Akatsuki.

Ke-10 orang itu kini duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang tersedia di sana.

Pein duduk di ujung meja selaku ketua Akatsuki. Konan duduk di sebelahnya selaku partner dari Pein.

Saso penasaran. Apa di masa ini mereka berdua juga berpacaran?

"Ne Dei," bisik Saso sambil menarik jubah Deidara.

Deidara langsung mendeathglare Saso dengan sangat mengerikan.

"Go..gomen. Kenapa kau marah?" bisik Saso panik.

"Sudah kukatakan, jangan singkat namaku un!" geram Deidara. "Panggil aku senpai! Karena aku 2 tahun lebih tua darimu!" tambah Deidara.

"Senpai?" ucap Saso setengah hati. Tiba-tiba ia teringat Tobi yang selalu berteriak 'Senpai... Senpai... Senpaaaaaaaai...' mendadak suara cempreng Tobi memenuhi kepalanya.

PROK!

Deidara menepuk kedua tangannya dengan keras di depan wajah Saso hingga Saso tersentak dan sadar dari lamunannya.

"Mengerti? Saso-chan un?!" tanya Deidara.

"H..hai. Sen...pai." Saso masih tidak ikhlas memanggil Deidara dengan sebutan Senpai. Tapi biarlah, daripada dia mati dibunuh.

"Lalu, kau ingin bicara apa tadi un?" tanya Deidara pelan.

"Um.. Aku ingin tau, apa mereka pacaran?" Saso menunjuk Pein dan Konan yang sedang berbicara pelan dengan wajah serius entah apa yang mereka bicarakan.

Deidara menggaruk kepala pirangnya. "Un... Mana aku tau. Aku jarang bicara pada mereka. Mereka kan atasan kami. Tentu ada jarak antara mereka dan kami un." jelas Deidara.

"So desu ne.." gumam Saso sambil menatap wajah Konan yang dingin tanpa senyuman sedikitpun.

"Perhatian semuanya." ucap sang ketua dengan nada serius. "Ada beberapa hal yang harus kita bahas dalam pertemuan kali ini. Yang pertama adalah," Pein menggerakkan bola matanya hingga ia bertatapan dengan Saso.

Saso jadi tersentak karena tatapan tajam sang ketua yang seolah mengintimidasi dirinya.

PUK

"Daijoubu." ucap Deidara seraya menepuk pundak Saso.

Saso memandang Deidara yang tersenyum padanya. Ketegangannya sedikit berkurang karena Deidara.

"Kimi, aku sudah dengar semua tentangmu dari Sasori dan Deidara. Benarkah kau berasal dari masa depan?" tanya Pein dengan tegas.

"Masa depan?" ucap Hidan tak percaya.

"Maksudnya, dia menembus ruang dan waktu?" kata Zetsu.

"Mustahil." gumam Itachi.

"Tenanglah. Aku ingin mendengar langsung dari Saso kecil." ucap Pein yang entah kenapa jadi kurang keren ketika menyebut 'Saso Kecil'.

Saso berdiri dari kursinya. "I..iya.. Ketua. Aku memang berasal dari masa depan. Aku juga tidak tau kenapa bisa berada di sini." ucap Saso perlahan.

"Kalau begitu. Berarti kau tau, apa yang akan terjadi pada Akatsuki selanjutnya kan? Jelaskan pada kami." perintah Pein yang membuat Saso gugup setengah mati.

"A..aku, kurang ingat dengan sejarah tentang kalian karena aku memang bukan anak yang pintar. T..tapi, yang aku tau pasti adalah.." Saso ragu untuk mengatakannya.

Tiba-tiba sebuah tangan hangat menggenggam tangannya.

Saso menoleh. Ternyata pemilik tangan itu adalah Deidara.

"Gan-ba-tte!" ucap Deidara pelan.

Saso terharu mendengarnya. 'Kau di masa lalu pun selalu membantuku di saat sulit ya Dei.' benaknya.

"Kalian semua akan mati, satu-persatu." ucap Saso perlahan.

.

.

WARNING : AU, OOC, TYPO, GAJE,

MEMBOSANKAN

.

.

Deg

Deg

Deg

Mendadak atmosfer di ruangan itu berubah. Sangat jelas semua anggota tersentak mendengar penuturan Saso kecuali Sasori dan Deidara yang sudah mendengarnya semalam.

"Huh. Hahahaha. Hey Saso-chan, aku ini abadi. Hal breng**k apa yang bisa membunuhku hah?!" bentak Hidan yang geram sambil menggebrak meja dan menatap Saso dengan penuh amarah.

"Hn. Aku juga tidak mudah mati karena memiliki banyak jantung. Sasori juga abadi karena ia boneka kayu." tambah Kakuzu.

"Aku hanya berkata kenyataan. Kematian kalian memang sudah jelas tertulis di buku sejarah di masa depan. Aku tidak mengada-ada." jawab Sasori setengah takut.

"Menarik. Katakan, siapa yang akan mati duluan?" ucap Konan dingin.

Saso menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia menunjukkan jari telunjuknya lalu menunjuk mereka satu-persatu berdasarkan urutan kematian mereka sambil menyebut namanya.

"Saso-nii, Hidan, Kakuzu, Deidara, Itachi, Pein, Konan, Kisame, Zetsu putih, Tobi, Zetsu hitam." ucapnya serius. Kemudian ia kembali duduk.

Lagi-lagi para anggota Akatsuki agak tersentak. Termasuk Pein si ketua.

"Uso." Hidan tersenyum sinis.

"Siapa Tobi?" tanya Deidara.

"Anggota baru yang akan menggantikan Saso-nii sebagai partnermu setelah kematiannya. Ia selalu memakai topeng dan agak misterius." jelas Saso pada Deidara. Deidara mengangguk pelan. Sedangkan Sasori malah tertawa mengejek.

Tiba-tiba Pein, Konan, Itachi, dan Zetsu langsung menatap Saso dengan wajah serius.

"Dia tidak berbohong Pein." bisik Konan pada Pein.

"Hn. Tak ada yang tau tentang Uchiha Madara yang menyamar sebagai pria bertopeng selain kita dan Zetsu." ucap Pein pelan yang hanya di dengar oleh Konan.

'Apa yang dia maksud adalah Uchiha Madara?' benak Itachi.

'Bagaimana bisa dia tau tentang Obito? Apa dia benar-benar berasal dari masa depan?' pikir Zetsu.

"Dan kalau tidak salah, Tobi itu sebenarnya adalah-"

"S..sekarang aku ingin membicarakan masalah selanjutnya!" Pein memotong ucapan Sasori dengan nada gugup. 'Anak itu tak boleh bicara lebih banyak lagi tentang Uchiha Madara.' pikir Pein sambil menatap tajam kepada Saso.

Beberapa anggota langsung memandang curiga pada Pein dengan pikiran mereka masing-masing.

"Kita mendapatkan sebuah missi dari Takigakure. Dan aku mau yang mengerjakan missi ini adalah..." Pein menatap anak buahnya satu-persatu dan tatapan matanya terhenti pada Sasori.

"Sasori, aku menugaskan kalian bertiga dalam sebuah missi." ucap Pein tegas.

.

.

The Puppet Master

By : Chan-ame

.

.

"Apa? BERTIGA?" tanya Sasori dengan nada terkejut.

"Iya. Bertiga. Kau, Deidara, dan Saso kecil." jelas Pein.

"HAAAAAH? Aku?! Missi? Apakah akan ada adegan actionnya?" Saso kalap sendiri karena membayangkan missi yang mengerikan.

"Hey, tenang dulu un." kata Deidara yang mencoba menenangkan Saso yang kalap. "Ketua. Kenapa anak ini harus ikut bersama kita? Lagipula apa missinya un?" tanya Deidara kepada Pein.

"Missinya adalah, mengambil gulungan rahasia dari Yuugakure dan menyerahkan gulungan itu kepada pimpinan Takigakure." jelas Pein singkat.

"Missi mudah. Cukup kami berdua saja yang mengurusnya. Tak usah kau libatkan anak ini dalam pekerjaan kami. Dia pasti hanya mengganggu saja." ucap Sasori sinis sambil melirik ke arah Saso yang masih ketakutan.

"Tidak. Ini bukan missi mudah. Gulungan itu disimpan di tempat tersembunyi. Tak ada seorangpun yang tau bahkan orang-orang di desa Yuugakure pun sedang mencarinya." kata Pein sambil menatap tajam mata Sasori yang terlihat malas itu.

"Jadi, kau ingin bocah ini membantu mencari gulungannya karena ia berasal dari masa depan?" tanya Sasori sambil menaikkan sebelah alisnya.

Saso terlihat berpikir keras. "Benar juga. Aku seperti pernah belajar tentang pencurian gulungan rahasia Yuugakure oleh Akatsuki. Tapi aku tak bisa mengingatnya." kata Saso seraya mengacak-acak rambut merahnya karena ia tak bisa mengingat apapun.

"Honto? Lalu apa gulungan itu berhasil dicuri oleh Akatsuki un?" tanya Deidara heboh sambil memegangi pundak Saso.

"Entahlah aku lupa, maaf." kata Saso perlahan sambil menunduk sedih.

"Berarti kau tau di mana gulungan itu di simpan?" tanya kisame.

Saso menggeleng. "Aku tidak ingat. Aku kan sudah bilang, aku buruk dalam pelajaran sejarah." Saso mengangkat kedua bahunya dengan tampang menyesal.

"Pokoknya kalian bertiga harus pergi dalam missi ini. Siapa tau saja ia mengingat sesuatu saat menjalankan missi." perintah Pein pada mereka bertiga.

"Tunggu, kalau aku mati bagaimana? Aku kan bukan ninja!" protes Saso yang tak mau menjalani missi itu.

"Jika kau melanggar perintahku, maka akulah yang akan membunuhmu." ucap Pein datar.

DEGG! Saso langsung bergidik ngeri.

"Daijoubu. Aku dan Sasori no Danna akan melindungimu Saso-chan un." kata Deidara yang mencoba menenangkan Saso.

"Benarkah kalian akan melindungiku?" tanya Saso dengan tampang khawatir.

"Iya un kau tenang sa-"

"Tidak. Aku tidak mau repot-repot melindungimu. Ada atau tak ada kau, sama sekali tak ada efeknya dalam hidupku." kata Sasori jutek.

"Danna!" Deidara membentak Sasori.

"Apa? Kau membelanya? Silahkan. Aku juga tak butuh kau Deidara." tanggap Sasori cuek.

"Omae!" Deidara menarik kerah jubah Sasori dan bersiap menghajarnya.

"Heaaaaahh!"

CRASH!

Tangan Deidara memukul perisai kertas dan kini kertas-kertas itu membungkus tangannya dan membuat tangan Deidara kembali ke posisi semula.

"Hentikan. Kita ini teman seperjuangan. Jangan berkelahi karena hal bodoh." ucap Konan dengan anggunnya.

Ternyata perisai kertas itu adalah ulah Konan.

Deidara berdecih sementara Sasori tetap berwajah datar.

Saso terpana melihat pemandangan di hadapannya. "Benar-benar anime ninja live action. Dan ini bukan efek animasi." gumam Saso yang terkagum-kagum.

"Waktu kalian hanya 3 hari. Kalian mengerti?" kata Pein kepada Sasori, Deidara, dan Saso.

"Hai. Ketua!" ucap Deidara dan Sasori dengan nada tegas.

.

.

Chapter 6 : Missi Pertama

.

.

Terlihat Sasori dan Deidara sedang bersiap-siap memasukkan semua perlengkapan mereka seperti senjata, gulungan, tanah liat, ke dalam tas mereka masing-masing.

Saso hanya menatap mereka berdua tanpa melakukan apapun. Ia tidak tau harus melakukan apa.

"Ano, apa aku tidak usah membawa apa-apa?" tanya Saso yang memecah keheningan.

Deidara menghentikan aktivitasnya dan menatap Saso dengan wajah berpikir. Kemudian ia beranjak menuju lemari dan mengambil sesuatu dari dalam sana.

PLUK.

Deidara melemparkan jubah Akatsuki kepada Saso. "Pakai itu," perintah Deidara.

Saso melihat-lihat jubah itu dengan wajah lebay. "SUGOI! Ini jubah Akatsuki sungguhan! Di masaku, kami juga membuat pakaian dengan motif seperti ini." kata Saso dengan riang kepada mereka.

"Jangan banyak bicara un. Cepat pakai!" perintah Deidara lagi.

Saso cemberut karena merasa diabaikan. Kemudian ia melepas Yukatanya dan memakai jubah Akatsuki.

"Waaah, aku keren sekali kan?! Dei, Saso-nii, lihat aku!" Saso berputar-putar di hadapan mereka berdua dengan ceria.

"Kau benar-benar serupa dengan Danna un. Hufh, ya sudahlah terserah kau mau memanggilku apa un." komentar Deidara yang sebal karena namanya di singkat-singkat lagi.

"Jangan samakan aku dengannya!" kata Sasori judes.

"Ne, ne, bisa minta tolong ambil gambarku?" Saso mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Deidara setelah menyalakan fitur kameranya. "Tinggal sentuh gambar lingkaran ini jika kau ingin memotretku." Saso memberi sedikit pengarahan pada Deidara.

Deidara mengambil ponsel itu dan menyetujuinya. Saso yang senang langsung berpose di depan Deidara.

"Ok un. Siap? 1, 2, 3,"

KLIK

"Coba kulihat!" pinta Saso pada Deidara. Deidara pun memperlihatkan hasilnya pada Saso.

"Waaaah, sudah kuduga aku memang tampan!" ucap Saso dengan narsisnya.

"Sekarang, dengan Saso-nii." Saso menyerahkan ponselnya lagi pada Deidara dan dia langsung memeluk Sasori yang sedang mengutak-atik Hirukonya.

"Senyum Saso-nii..." Saso memeluk erat Sasori hingga pipi mereka menempel.

"Apa-apaan sih kau bocah?!" omel Sasori.

"Ya ya ya! Bagus seperti itu! 1, 2, 3!"

KLIK

Deidara pun berhasil mengabadikan moment Saso dan Sasori tersebut.

"Ih! Apa-apaan sih kau!" Sasori mendorong tubuh Saso agar menjauh darinya.

"Ne, ne, ayo kita selfie..." ajak Saso penuh semangat sambil mengaktifkan kamera depannya.

"Selfie?" ucap Sasori dan Deidara bersamaan dengan wajah bingung.

Saso memasang timer dan meletakkan ponselnya di tempat yang strategis. Kemudian dia menghampiri Sasori dan Deidara lalu merangkul mereka berdua.

"Senyummmm." seru Saso ceria.

KLIK

Tersimpanlah gambar mereka bertiga di ponsel milik Saso. Walaupun Sasori hanya menampilkan giginya tanpa tersenyum, Saso sudah sangat senang. Pose Deidara pun unik. Dia menjulurkan ketiga lidahnya yang sudah tidak membuat Saso takut lagi.

"Arigatou. Ini akan menjadi kenangan indah kita bersama." ucap Saso sambil tersenyum tulus.

"Kenangan? Souka. Ini missi pertamamu dan kau pasti mati." Sasori menyeringai jahat sambil memandang Saso yang membuat Saso menjadi merinding.

"Be..be..be..benarkah? A..a..a..aku.. A..a..a..akan.. M..ma..ma..mati?" tubuh Saso benar-benar gemetar dan dia pun langsung terlihat pucat.

"Ya. Kau benar. Khu..khu..khu..khu.." Sasori tertawa jahat ala penyihir.

Deidara menggelengkan kepalanya "Oy... Danna, jangan jahil padanya un. Kau tidak lihat wajah ketakutannya yang bodoh itu." Deidara tersenyum geli melihat Saso yang pucat itu.

"Aku tidak sedang bercanda. Aku sedang memperingati 'Saso Kecil' itu!" wajah Sasori makin menakutkan seolah diselimuti aura gelap. Ia niat sekali menjahili Saso.

"Waaaaaaaaaaa! Aku tidak mau ikut! Tidak mau! Tidak mau! Tidaaaaaaaaaak maaaaaaaaau!" Saso menjerit-jerit sambil berguling-guling di lantai.

"See, dia tidak mungkin reinkarnasiku." kata Sasori kepada Deidara sambil menunjuk Saso yang sedang berguling-guling.

Deidara memasang tampang illfeel sambil memandangi Saso. "Kau ada benarnya juga un." sahut Deidara.

Deidara berjongkok dan mengusap-usap kepala Saso yang sedang menangis meraung-raung karena ditakut-takuti oleh Sasori barusan. "Cup..cup..cup.. un, aku kan sudah bilang padamu kalau aku akan melindungimu un."

"Hiks..hiks.." Saso menoleh ke arah Deidara yang memandangnya dengan wajah sedikit sebal. "Honto?" tanya Saso polos.

Deidara mengangguk. "Un. Jadi cepatlah, kita hanya punya waktu tiga hari untuk menyelesaikan missi ini." Deidara memperingatkan.

Saso mengangguk setelah menyeka air matanya. Entah kenapa tiba-tiba Sasori sebal melihat Saso seperti itu. Sasori pun langsung saja beranjak dari posisinya dan pergi keluar kamar.

"Aku duluan. Cepatlah Deidara. Aku benci menunggu." kata Sasori sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu.

Saso memandangi pintu tempat Sasori keluar dengan tatapan sedih. "Ne Dei, kenapa Saso-nii tidak menyukaiku?"

"Eh? Kenapa kau berpikir seperti itu? Un." Deidara menatap Saso dengan wajah heran.

"Kau tidak lihat? Sikapnya padaku jutek sekali." Saso cemberut sambil menunduk dan meremas-remas jubah Akatsukinya.

Deidara tertawa kecil. "Hahahahaha. Saso-chan, dia memang seperti itu pada semua orang. Kau tidak usah khawatir. Un."

Saso memandang Deidara seolah belum menerima perkataan Deidara.

"Dia itu, hidupnya sangat sulit. Wajar saja sikapnya dingin dan ketus un. Terkadang, aku ingin sekali menghiburnya. Namun, kurasa itu akan percuma un." Deidara tersenyum miris.

Saso merasa tau apa yang Deidara maksud. Tertulis jelas di buku pelajaran sejarahnya tentang latar belakang Sasori yang menyedihkan itu. Seketika itu pula ia menyadari perbedaan sikap Sasori ketika ia menyebut tentang Kaa-san dan Tou-san.

"Souka. Jadi itu sebabnya." ucap Saso sambil menjentikkan jarinya.

"Sebab? Sebab apa un?" tanya Deidara yang penasaran dengan kata-kata Saso.

"Iie. Ayo kita berangkat." Saso menggeleng sambil tersenyum lalu beranjak pergi keluar kamar meninggalkan Deidara yang masih terpaku dalam kebingungannya.

.

.

KLEPAK... KLEPAK... KLEPAK...

Terlihat Deidara telah berada di atas burung tanah liat miliknya yang sedang mengepak-ngepakkan sayapnya di atas langit.

"Woaaaahhh sugoi... Itu benar-benar terbuat dari tanah liat Dei? Itu keren sekali.." kata Saso yang terkagum-kagum pada mahakarya Deidara. Padahal sebelumnya ia sudah pernah melihat bahkan naik burung tanah liat milik Deidara itu.

"Khu..khu..khu.. Aku hebat kan un. Nee, Sasori no Danna, akhirnya kau mengakui kehebatanku un." Deidara berteriak dari atas burungnya kepada Sasori yang sudah berada di dalam Hiruko miliknya.

"Nani? Apa maksudmu aku sudah mengakui senimu hah? Sampai kapanpun aku tak akan pernah mengakuinya!" jawab Sasori dengan judesnya dengan suara mengerikan miliknya jika ia sedang berada di mode Hiruko.

"Hahahaha.. Kau lupa? Saso kecil adalah reinkarnasimu. Dia adalah dirimu di masa depan un, dan barusan dia mengakui ke-he-ba-tan-ku. Un. Hahahahahaha..." Deidara tertawa puas sekali di atas burung tanah liatnya sampai-sampai ia memegengi perutnya saking gelinya.

"CIH! Aku tak pernah mengiya-kan kalau bocah ini adalah reinkarnasiku!" bentak Sasori yang tidak terima dengan ucapan Deidara.

"Ta..tapi, aku memang reinkarnasimu kok. Lihat saja, wajah kita sama, prinsip seni kita pun sama." celetuk Saso yang juga tidak terima karena tidak diakui oleh Sasori.

"CUKUP! Jika kita melanjutkan semua ini. Ini tak akan pernah ada habisnya! Lebih baik kita susun rencana untuk missi kita kali ini!" perintah Sasori yang sudah sangat jengkel pada kedua orang yang sedang bersamanya itu.

"Huhh... Gitu aja ngambek un." Deidara mulai mendaratkan burung tanah liatnya di tanah dan ia pun merapal jutsu untuk menghilangkan burng tanah liatnya itu yang hanya menyisakan kepulan asap putih saja. Kini Deidara pun berjalan bersama Sasori dan Saso.

"Jadi, apa rencanamu Sasori no Danna?" tanya Deidara dengan tampang malas.

"Jujur saja, aku tidak punya rencana. Mendadak aku tidak bisa berpikir jernih entah karena apa." ucap Sasori ketus sambil melirik ke arah Saso kecil yang sedari tadi hanya memasang tampang sok imut saja.

"Eh? Apa karena aku?" Saso yang sensitif pun langsung menyadari kalau ia sedang disindir oleh Sasori. Seketika itu pula Sasori membuang mukanya dari Saso.

"Sudahlah Danna. Kali ini biar otak pintarku yang bekerja. Un." Deidara menunjuk kepalanya sambil menyeringai bangga.

"Huh, kuharap kita tetap hidup setelah menggunakkan rencana milikmu Dei." sahut Sasori sambil menatap ke arah lain.

"Kau jangan meremehkanku dulu Danna. Kau lupa, aku ini teroris handal sebelum aku bergabung dengan Akatsuki un." Deidara lagi-lagi menyeringai bangga.

"Teroris? Kau? Kejamnya.. Apa kau tak pernah memikirkan keluarga dari orang-orang yang kau bunuh?" kata Saso sambil menatap Deidara dengan pandangan kesal.

"Hey, dengar ya Akasuna Sasori, apa kau tau kalau keluargaku juga terbunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Dan apa mereka memikirkan bagaimana nasibku selanjutnya un? TIDAK! Mungkin duniamu sudah damai hingga kau mampu memikirkan orang lain. Tapi tidak dengan duniaku ini un! Jika kau mau bertahan hidup, kau harus membunuh orang lain!" Deidara mendadak marah. Senyuman-senyuman jahil di wajahnya mendadak sirna berganti dengan tampang penuh kemarahan dan kekecewaan. Bahkan ia memanggil Saso dengan nama lengkapnya.

Deidara melangkah meninggalkan Saso dan Sasori yang masih terdiam di belakangnya.

"Um.. Dei," Saso ingin menyusul Deidara karena merasa tidak enak. Namun, langkahnya dihentikan oleh Sasori. Ia menghalangi jalan Saso dengan ekor Hirukonya.

"Jangan. Biarkan di sendiri. Kau telah membuka luka lama dihatinya." ucap Sasori serius.

"Luka...lama?" Saso menatap punggung Deidara dengan penuh penyesalan. Ia jadi tak enak karena berbicara seenaknya.

"Kami para ninja, selalu hidup dalam rasa sakit akan kehilangan. Kami egois untuk bertahan hidup. Tak ada yang mau menjadi penjahat. Tapi ini pilihan satu-satunya." ucap Sasori pada Saso lalu ia pun menyusul langkah Deidara.

Saso terdiam, memperhatikan punggung dua makhluk bersejarah di hadapannya dengan tatapan tak mengerti.

'Benarkah membunuh demi bertahan hidup itu memang suatu pilihan?' benak Saso yang masih tidak bisa menerima kata-kata Sasori dan Deidara.

.

.

Matahari mulai tenggelam, mereka bertiga memutuskan untuk beristirahat di sebuah hutan. Mereka sudah menyusun rencana untuk mencari gulungan itu di pagi hari. Yang terpenting adalah memusnahkan orang-orang merepotkan dulu setelah itu barulah mencari gulungan dan memberikannya pada pimpinan Takigakure.

"Kita bermalam di sini." kata Sasori yang kini keluar dari Hirukonya dan mulai bersandar di bawah sebuah pohon besar.

"Um, tendanya mana?" tanya Saso dengan polosnya.

"Tenda? Untuk apa tenda un?" tanya Deidara yang kini juga bersandar di bawah sebuah pohon besar.

"Yaaaa, untuk tidur lah? Memangnya kalian mau tidur di alam terbuka seperti ini?" Saso menjelaskannya dengan sedikit panik.

Sasori dan Deidara saling berpandangan lalu menatap Saso sambil mengangguk.

Saso menepuk dahinya. 'Kuso! Bagaimana ini?' ia menangis di dalam hatinya.

"Hey bocah, apa kau sudah mengingat sesuatu tentang missi kita kali ini?" tanya Sasori to the point.

"Ya, apa kau tau di mana gulungan itu tersimpan un?" tambah Deidara.

"Hummmmmmmmmm..." Saso terlihat berpikir keras. Ia benar-benar berusaha mengingat apa yang di katakan oleh Kurenai-sensei saat itu.

"Gulungan legendaris dari desa Yuugakure itu, menjadi incaran setiap desa karena berisi jurus rahasia yang sangat berbahaya yang digunakan oleh para leluhur untuk menaklukan wilayah lawan dengan mudahnya. Suatu hari, para leluhur menyadari kalau kekuatan dari jurus terlarang itu sangatlah berbahaya dan beresiko tinggi bagi penggunya jutsunya. Sehingga para leluhur memutuskan untuk menyembunyikan gulungan itu di..."

"Sasori, apa kau membawa pulpen lagi? Pulpenku habis..."

Tiba-tiba ketika ia sedang mengingat apa yang Kurenai-sensei katakan, ia malah terbayang wajah Konan yang saat pembahasan materi itu meminjam pulpen darinya dengan wajah yang sangat manis.

BLUSSHHH...

Mendadak wajah Saso memerah karena membayangkan senyuman manis Konan. Hal itu membuat Sasori dan Deidara heran melihat perubahan wajah Saso yang sangat aneh itu.

"Hoy Saso-chan, kau kenapa un? Kok wajahmu merah sekali un? Apa kau demam?" tanya Deidara sambil memastikan suhu tubuh Saso dengan punggung tangannya.

"Cih, merepotkan sekali! Apa sih yang ada di kepala ketua sampai menyuruh bocah ini ikut menjalankan missi bersama kita?" gerutu Sasori sambil mencari-cari sesuatu dari dalam tas kecilnya.

Sementara itu, Saso mendapatkan potongan ingatannya tentang apa yang di katakan oleh Kurenai-sensi.

"HIDAN! Jangan main PSP terus!"

"Come on Kurenai-chan, aku tetap mendengarkanmu kok walaupun sambil bermain."

"Kalau begitu jawab pertanyaanku! Di mana gulungan legendaris itu disembunyikan?"

"Huh. Di bawah tebing, di balik batu besar yang menghadap sungai, di dalam peti mati seorang shinobi, lebih tepatnya di dalam saku milik mayat sia*an itu."

"Lalu, di mana tebing itu berada?"

"Di rawa kematian, di dalam gua limbah beracun, di ujung sungai lahar panas."

"Yup, kau benar. Tapi bukan berarti kau boleh main PSP di kelas ya!"

"Hai.. Kurenai-chan."

"SOUKA! AKU INGAT SEKARANG!" seru Saso dengan penuh semangat.

"Benarkah?!" ucap Sasori dan Deidara secara bersamaan.

Saso mengangguk. "Hn! Aku tau di mana gulungan itu! Tapi," Saso terlihat ragu-ragu.

"Tapi.." ulang Sasori dan Deidara yang lagi-lagi bersamaan.

"Tempat itu berbahaya." lanjut Saso dengan wajah ngeri.

"Katakan." perintah Sasori padanya.

"Gulungan itu berada di bawah tebing, di balik batu besar yang menghadap sungai, di dalam peti mati seorang shinobi, lebih tepatnya di dalam saku milik jenazah yang berada di dalam peti itu. Dan letak tebing itu, di rawa kematian, di dalam gua limbah beracun, di ujung sungai lahar panas." jelas Saso dengan perlahan.

"Kedengarannya memang berbahaya. Apa kau yakin un?" tanya Deidara. Saso hanya mengangguk dengan wajah serius.

"Rawa kematian ya. Jika kita mau ke sana, kita harus melewati desa dan beberapa penjaga di sana." gumam Sasori sambil memegang dagunya.

"Kau tau tempatnya Danna?" tanya Deidara.

"Um." Sasori mengangguk. "Rawa kematian itu, berada tepat di belakang kantor pimpinan Yuugakure. Pintu menuju rawa itu terkunci rapat dan rawa itu di jaga ketat karena rawa itu sangat berbahaya, katanya, dulu ada warga desa yang menghilang di sana. Semenjak itu, kantor kepemimpinan dipindahkan ke sana agar tak sembarang orang memasuki rawa itu. Itu semua demi keselamatan penduduk desa Yuugakure." jelas Sasori panjang lebar.

"Waah, kau tau banyak juga Danna." puji Deidara setengah kagum.

"Tentu..." Sasori mengangguk-angguk. "Dulu aku sering ke sana membuat boneka perang ketika masih menjadi shinobi Sunagakure."

"Ngomong-mgomong soal boneka, maukah kau mengajariku membuat boneka?" pinta Saso dengan sungguh-sungguh.

"Haaaah? Kau bercanda? Aku tidak mau! Mendokusei!" tegasnya.

"Yaaaahhh..." Saso kecewa berat. Namun Deidara menepuk pundaknya.

"Daijoubu. Nanti akan kubujuk dia un." bisik Deidara sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum ala Gai-sensei.

"Arigatou Dei," ucap Saso dengan nada lesu.

"SUDAH! Cepat kalian berdua tidur!" perintah Sasori dengan tegasnya.

"Matahari saja baru tenggelam kenapa kami harus tidur Saso-nii?" tanya Saso dengan polosnya.

"Terserah jika kau tidak mau tidur SA-SO-RI. Tapi nanti pada saat tengah malam, kita harus segera bergerak." ucap Sasori ketus sebelum ia berbaring membelakangi Saso dengan wajah sebal.

"Sudahlah un, kau turuti saja Saso-nii mu itu, memang benar kita akan bergerak tengah malam, jadi simpanlah tenagamu un." Deidara pun ikut berbaring dan mulai memejamkan mata.

"Tu..tunggu, apa kalian yakin kita tidur seperti ini? Tanpa tenda? Tanpa alas? Bagaimana mungkin..." Saso mengacak-acak rambut merahnya dengan wajah frustasi.

"Tsc. Kau manja sekali sih!" bentak Sasori tanpa menoleh ke arah Saso.

Sedangkan Saso hanya cemberut saja.

Beberapa menit pun telah berlalu, Deidara sudah pergi ke dunia mimpinya sendiri. Sasori memejamkan matanya tapi tidak tertidur. Tentu saja, dia hanya boneka. Sedangkan Saso, masih saja duduk sambil menengok ke kanan dan ke kiri.

'Bagaimana aku bisa tidur jika keadaannya seperti ini.. Kuso!' benak Saso sambil nangis bombay.

KRATAK.. KRATAK..

"Eh?" tiba-tiba Saso melihat boneka Hiruko yang ada di sebelahnya terbuka sendiri. Kemudian Saso pun langsung menoleh ke arah Sasori yang masih berbaring membelakanginya. "Saso-nii, kenapa bonekamu bisa terbu-"

"Tidurlah di dalam sana. Di dalam sana cukup nyaman untuk tidur." potong Sasori.

Saso pun merasa tidak percaya dengan sikap Sasori yang perhatian itu. Ia hanya terdiam tanpa menjawab ataupun bergerak dari tempat ia duduk sekarang.

"Apa yang kau tunggu?! Kau tidak mau?!" akhirnya Sasori berbalik menatap Saso dengan tatapan galaknya. Ketika ia berbalik, tiba-tiba Saso sudah berada di dekatnya dan langsung memluknya erat. Hal itu tentu saja membuat Sasori terkejut.

"Arigatou Saso-nii, aku tau kau itu sebenarnya baik..." Saso mengeratkan pelukannya kepada Sasori dengan wajah berseri-seri.

"Ih! Apa yang kau lakukan sih!" Sasori langsung mendorong Saso hingga ia tersungkur.

"Ugh, itai desu ne Saso-nii," Saso mengusap-usap kepalanya yang terbentur tanah itu.

"CEPAT TIDUR SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN DAN TIDAK JADI MEMINJAMKAN HIRUKOKU!"

"Ha..hai..! Saso langsung bergegas masuk ke dalam Hiruko dan Sasori pun langsung menutup Hirukonya.

Sasori menatap Hirukonya beberapa saat sebelum akhirnya ia menghela napas panjang. 'Apa yang kulakukan sih?' Sasori mengacak-acak rambut merahnya lalu meniup-niup poni di dahinya.

"Ha-ha-ha, baru kali ini aku melihat sisi lain dari Sasori no Danna, un."

"Eh?" Sasori terkejut ketika mendengar suara Deidara yang ia kira sudah tidur itu. "D..Deidara.."

Deidara pun berbalik dan menatap partner jahatnya yang sedang gugup itu. "Hahaha.. Kau tidak perlu gugup. Ternyata kau orang yang penyayang juga ya. Un." goda Deidara sambil menaik-naikkan kedua alisnya.

"DIAM KAU! Atau kau mau kubunuh?!" ancam Sasori.

"Silahkan, tuan penyayang." Deidara tersenyum lebar sebelum akhirnya ia berbalik kembali dan melanjutkan tidurnya.

"Cih! Teme!" gerutu Sasori.

"Dia hebat ya... Bisa membuatmu kembali berekspresi. Kau marah, kesal, gugup, hahaha.." ucap Deidara tanpa berbalik menatap Sasori yang sedang menggerutu itu.

"Cih!" Sasori hanya berdecih.

"Hahahaha... Aku jadi penasaran masa depan itu seperti apa un."

"Tsc, tidurlah, jangan sampai missi gagal hanya karena kau mengantuk." ucap Sasori yang lalu kembali ke posisi tidurnya.

"Hahahahaha.." Deidara hanya tertawa menanggapi perintah Danna-nya itu. 'Yokatta ne Sasori no Danna.' benaknya sebelum memejamkan mata.

.

.

PLAK

"Sasori no baka! Apa yang kau lakukan hah?! Kau kan sudah tau kalau aku ini pacarnya Pein, tapi kenapa kau malah... Huaaaaa..."

"Ko..Konan?"

"SASORI APA ITU BENAR?!"

"Ke..ketua, aku hanya..."

"Huh, aku tak menyangka Danna, selain seniman gagal kau juga perebut pacar orang un. Aku tidak sudi memanggilmu Danna! un/"

"He..hei, Dei.."

"SASORI... NILAI UJIANMU SEJARAHMU BURUK SEKALI! KAU TIDAK LULUS KELASKU!"

"Kurenai-sensei, maafkan aku..."

"Nii-chan, DENGARKAN CURHATKU!"

"Sakura?"

"Kembalikan ciumanku! / Kubunuh kau Sasori / Aku benci padamu un! / Kau akan tinggal di kelas selama musim panas / Nii-chan.. Aku mau menikah dengan Sasuke... / Sasori / Sasori / Danna / Sasori / Nii-chan."

Saso kalap dan kebingungan karena kepala Konan, Pein, Deidara, Kurenai-sensei, dan Sakura berputar-putar dengan ekspresi marah di atas kepala Saso. Namun tiba-tiba ada sesosok bayangan mirip dirinya yang menatapnya dengan tatapan sinis.

"Saso-nii? Apa itu Saso-nii.."

Sosok itu tak menjawab dan malah mengeluarkan boneka dan menembakkan beribu jarum beracun pada Saso.

"WAAAAAAAA... Saso-nii tolong aku..."

JLEB!

"Haaa?!" Saso pun tebangun dari tidurnya dengan tubuh yang penuh dengan keringat serta napas yang tersengal-sengal.

"Hey,"

"Kyaaa!" Saso langsung terkejut ketika di hadapannya sudah ada Sasori yang menatapnya dengan tatapan dingin. "Saso-nii.. K..kau.."

"Apa? Apa kau mimpi buruk?" tanya Sasori dengan cool-nya.

Saso bernapas lega karena semua itu hanya mimpi. Ia pun lalu mengangguk. "Hmm. Aku bermimpi tentangmu Nii." Saso mengacak-acak rambut merahnya itu. "Loh? ngomong-ngomong, kita sedang bergerak ya?" tanya Saso yang merasa kalau Hiruko yang sedang ditumpanginya bergerak maju.

"Yaa. Ini sudah tengah malam dan kau susah sekali dibangunkan. Bahkan Deidara sampai meledakkan tanah liat bodohnya itu untuk membangunkanmu."

"Eeehhh? Benarkah?" Saso merasa tidak percaya.

"Sudah. Karena kau sudah bangun, keluarlah dari Hirukoku!" usir Sasori.

Saso cemberut dengan imutnya. "Kenapa? Padahal di sini masih lega kan? Aku lelah kalau harus berjalan terus Nii, biarkan aku di sini ya?" Saso tersenyum sambil merajuk.

SINGG..

Sasori mengeluarkan kunai bearacun dari dalam jubahnya dan menatap Saso dengan tatapn mengerikan. "Keluar atau kau mati."

Saso langsung tersentak kaget karena ancaman Sasori. "Ha..ha..hai!" ia pun langsung bersiap keluar dari Hiruko Sasori dan langsung saja keluar setelah Sasori membuka Hirukonya.

"Huffhhhh.." Saso pun menghela napas panjang setelah ia berada di luar Hiruko.

"Ohayou bocah menyusahkan." sapa Deidara sinis.

"Ini masih malam tau." sahut Saso dengan betenya.

"Bukan saatnya kau mengeluh. Kita harus menyusup ke dalam rawa kematian dan mengambil gulungan itu. Kita harus bekerja serapi mungkin tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga untuk bertarung." ucap Sasori dengan serius dengan suara berat dari dalam Hiruko.

"Go..gomen ne Saso-nii.." Saso menunduk sedih.

"Kau harus bersiap Saso-chan, jangan sampai keberadaanmu mengganggu missi kami un." tambah Deidara.

"Tapi aku harus bagaimana? Ini missi pertamaku dan aku bukan ninja." Saso lagi-lagi cemberut dan menunduk frustasi.

"Kau hanya harus diam dan ikuti kami serta mempertahankan dirimu agar tidak mati un." jawab Deidara santai.

"Loh..loh.. bukankah kau berjanji untuk melindungiku?!" Saso menarik jubah Akatsuki Deidara dengan kesal.

"Tapi keberhasilan missi ini jauh lebih penting daripada nyawamu bocah un."

"TEME! KAU MENIPUKU DEI!" Saso kesal sekali mendengar ucapan Deidara.

"Aku bukan Dei temanmu yang kau bilang selalu baik padamu itu, aku ini Deidara mantan teroris yang kini menjadi buronan rank S yang tergabung dalam organisasi yang paling diwaspadai di dunia. Akatsuki! Un." jawabnya dengan wajah agak jengkel.

"Kau ini kenapa sih Dei? Tadi kau tidak seperti ini?" Saso jadi bingung sendiri.

"CUKUP! Kita sudah sampai di desa Yuugakure."

Saso dan Deidara menghentikan ocehan mereka dan langsung melihat ke depan mereka. Pintu utama desa Yuugakure.

"Wuaaaaahhhhh... Bangunan kuno ini seperti miniatur di museum kota..." Saso terpana melihat desa Yuugakure tersebut.

"Desa ini tak ada penjaganya un. Kita bisa masuk dengan mudah.." Deidara menyeringai.

"Tidak semudah itu. Sekilas memang tampak seperti itu. Tapi, jika kita masuk ke dalamnya, kita akan langsung dikepung. Setiap orang yang akan memasuki desa ini akan diperiksa dengan ketat. Jika orang itu shinobi, maka akan diserang dengan beberapa pertanyaan dan test-test tertentu. Kecuali shinobi yang memang diutus oleh pimpinan desa. Karena pimpinan desa pasti sudah membuat pemberitahuan sebelumnya kepada pihak Yuugakure. Itu pun mereka masih harus menjalani beberapa pemeriksaan. Takut-takut kalau mereka adalah utusan palsu." jelas Sasori panjang lebar kali tinggi bagi dua (PLAK).

"Hmm.. Kenapa desa kecil begini keamanannya sangat ketat un?"

"Justru karena kecil mereka jadi lebih waspada. Apalagi mereka menyimpan gulungan yang diincar." jawab Sasori.

"Lalu, bagaimana kita masuk ke dalam sana tanpa dicurigai?" tanya Saso dengan polosnya.

Deidara dan Sasori langsung menoleh ke arah Saso dengan wajah serius. Sesaat kemudian, Deidara dan Sasori saling berpandangan sambil tersenyum penuh arti. Namun senyuman Sasori tidak terlihat karena ia berada di dalam Hirukonya.

"Ne, Danna, apa yang terjadi jika seseorang yang bukan shinobi yang masuk ke sana un?" tanya Deidara sambil tersenyum penuh arti ke arah Saso.

"Setauku, mereka akan membiarkan orang itu masuk begitu saja.." jawab Sasori sambil menatap ke arah Saso juga.

Saso yang merasa mulai mengerti maksud dari duo penjahat di hadapannya itu pun langsung panik. "Cho..chotto! Apa kalian bermaksud menyuruhku masuk ke dalam dan mengalihkan pandangan mereka?" tanya Saso perlahan.

Duo penjahat itu mengangguk tanpa basa-basi.

Saso menepuk dahinya dan merutuki nasib burukknya itu.

"Kau hanya harus masuk sambil membawa kami yang akan menyamar menjadi benda mati. Setelah kau di kepung, lepaskan kami dan kami akan berbaur diantara mereka. Gampang kan?" kata Sasori dengan entengnya.

"Waaaaahh, ide bagus un. Danna memang pintar." Deidara mengacungkan jempolnya ke arah Sasori.

"Tapi aku harus jawab apa ketika mereka bertanya padaku?" tanya Saso dengan nada merajuk karena ia masih tak mau melakukannya.

"Kau ini kan punya otak, gunakanlah sedikit otakmu." kata Sasori ketus.

Saso langsung makin cemberut karenanya. "Aku tidak mau ahh!"

"Tuh kan Danna, dia jadi ngambek. Ini semua gara-gara kau Danna un!" omel Deidara.

"Kalau dia tidak mau ya sudah kita bunuh saja dia lalu bialng pada ketua kalau dia mati dalam tugas." balas Sasori kepada Deidara yang membuat Saso langsung merinding.

"Eh? Benar juga ya un.. Untuk apa kita repot-repot membawa bocah yang tak berguna ini un." Deidara melirik ke arah Saso yang sedang gemetar itu.

"Iya, iya, iya aku mau..! Awas saja kalian kalau sampai aku mati. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan tau!" omel Saso kepada duo penjahat di hadapannya itu. Yang diomelin malah menyeringai menang.

"Hahahaha... Paling-paling kau hanya mau berpacaran dengan Konan." goda Deidara.

"Diam kau Dei! Kalian tidak akan mengerti. Aku dan dia, memang sudah bersama sedari dulu. Namun dia meninggalkanku duluan. Dia malah berpacaran dengan Pein yang baru ia temui ketika kami SMA." Sasori menunduk sedih.

"Apa kau mencintainya?" tanya Sasori.

"Tentu saja! Aku kan sudah bilang tadi. Makanya aku takut sekali jika aku mati dalam missi ini." Saso mengacak-acak rambutnya karena frustasi.

"Aku akan mengajarimu membuat boneka."

"Ehh?" Saso dan Deidara mendadak kaget mendengar ucapan Sasori yang wow itu.

"APA? BISA KAU ULANGI?" kata Saso dan Deidara serempak.

"Aku hanya akan mengulanginya sekali. Aku akan mengajarimu membuat boneka." kata Sasori sambil memalingkan wajahnya dari mereka berdua.

"Horaaaayyyyyy..." Saso melompat sambil bersorak gembira.

"Tapi," lanjut Sasori.

Saso menghentikan sorakannya dan menoleh ke arah Sasori. "Tapi?"

"Tapi missi ini harus berhasil dan tidak ada yang boleh mati diantara kita bertiga." tegas Sasori.

"Uhh, syarat yang sulit un." celetuk Deidara.

"Apa maksudmu Dei?" Saso cemberut ke arah Deidara.

"Hahahaha... Membuat missi ini berhasil sih mudah, tapi membuatmu tidak mati dalam missi, itulah yang sulit un." ledek Deidara.

Saso jadi kepikiran sendiri, 'Apa benar ini akhir hayatku? Mati di tempat yang jauh dari duniaku karena dibunuh orang? Aku tak pernah membayangkan kematian yang seperti ini. Hiks..' benaknya.

"Hey.. Jangan memasang wajah tegang begitu dong un. Aku kan cuma bercanda un." Deidara mencolek-colek Saso.

'Tapi aku tidak boleh menyerah. Ini kesempatanku untuk menjadi seorang Puppet Master. Jika aku bisa melewati semua ini hidup-hidup, Saso-nii akan mengajariku membuat boneka dan aku bisa menunjukkan pada Dei kalau aku bisa menjadi seniman hebat yang setara dengan dirinya. Tidak, tidak, aku akan melampauinya.' pikir Saso dengan wajah penuh semangat.

"Hoy.. Saso-chan un?" panggil Deidara.

"YOSH! AYO KITA LAKUKAN SEKARANG!" teriak Saso penuh semangat yang membuat Deidara dan Sasori terheran-heran.

"Darimana asalnya semangatmu itu nak?" tanya Deidara heran.

"Itu tidak penting. Yang terpenting adalah missi ini harus berhasil dan kita harus tetap hidup. Benar kan? Saso-nii?" Saso tersenyum penuh arti pada Sasori. Sasori tidak mempedulikannya.

"Wuaaahhh... Ternyata kau serius ingin menjadi The Puppet Master ya un. Hahahahahaha." ucap Deidara sambil menepuk-nepuk pundak Saso yang masih tersenyum riang.

"Baiklah, ayo kita bergerak." perintah Sasori sambil membuka Hirukonya dan ia keluar dari dalam sana.

"Hmm. OK!" jawab Saso dan Deidara serempak.

'Kaa-san, Tou-san, doakan aku supaya tidak mati yaa..' Saso berdoa di dalam hatinya sambil tesenyum sedih.

.

.

.

.

.

To be Continued ^^

.

.

.

.

.

Special thanks for : Shadow, Apostrophee, Mudiantoro, AN Narra, Green Mkys, Haruko Akemi, Zaa-chan, Dikdik717, LA Lights, anisa alzedy, seigi no kami, hess ti 7, Sho, Palvection, Kaguya tami, Guest..

Arigatou buat reviewnya, Ame jadi tambah semangat! ^^

Ini sampai Chap berapa? Ame juga belum tau. Ame emang udah mikirin semua ceritanya sampai ending, tapi Ame masih belum mikirin cara menyampaikannya dan jujur saja, walaupun Ame ngasih potongan chapter selanjutnya tapi Ame sama sekali belum nulis cerita selanjutnya itu. Hehehehe..

Apa Saso bakalan balik ke masanya? Itu pasti dong.

Apa temen-temen Saso khawatir atau ini kaya Narnia? Humm kalau ini belum bisa Ame jawab. Baca terus aja ya kelanjutannya :p hehehe.

.

.

.

.

.

Chapter selanjutnya….

"Sebenarnya aku kesini karena aku dengar ada restaurant enak di sini."

.

"Restaurant? Apa itu?"

.

"Baka."

.

"Sasori..!"

.

"TEMEEEEE..."

.

"KATSU!"

.

"Bertahanlah bodoh! Aku akan mengajarimu setelah ini!"

.

"Apa yang harus kita lakukan pada anak itu Pein?"

.

.

.

.

.

Review kalian penyemangat Ame ^^