Sesi balas review :3 ::
"Royalblue5 :: eh?! *bacaulangff* iya, ya… kayak Kuroshitsuji.. *melongo* tapi Al baru sadar pas baca ulang lagi, lho. Makasih buat review-nya~ :*"
"babybuby :: iya, sekarang ff Sibum langka banget.. sedih.. *mewek* makanya Al mau ikut melestarikan ff mereka~ viva Sibum! *mutermuter* makasih buat review-nya~"
"Abilhikmah :: of, course~ kalau nggak dijagai, nanti Kibum diapa-apain sama saingan perusahaannya.. *ups!spoiler!* makasih buat review-nya, bung!"
"Zimalaca ElF :: ini udah lanjut, kok! Makasih buat review-nya~"
"LS-snowie :: sama – sama. Makasih udah baca sama nge-review~ :3"
"zakurafrezee :: seperti yang diminta Tuan Muda dan dijanjikan Siwon, tugas butler itu melayani segala hal dengan sempurna dan penuh profesionalitas~ ufufufufufufu~ *smirk* makasih udah nge-review~"
"dirakyu :: kata siapa nama Choi nggak cocok..? *smirk* dicocokin aja kali~ kkkkkkk! Makasih buat review-nya~"
"ShinJiWoo920202 :: ini udah lanjut, friend~! XD makasih udah sempat nge-review~"
"Bumbum :: iya! Al baru nyadar kalau ff ini mirip Black butler! XD tapi tenang aja~ Siwon bukan butler setan, kok. Tapi butler kuda(?)~ XDDD maksih udah nge-review~"
"Mian the fujo :: oke~! Ini udah lanjut kok, say(?)! makasih udah nge-review~"
"Zae-hime :: udah lanjut, kok.. makasih buat review-nya~"
"LV Devil247 :: nah, itu dia! Al agak bosan dengan peran Siwon jadi 'master', Kibum jadi 'maiden' gitu. Jadinya, Al balik aja perannya. Sesekali Kibum yang jadi boss keren juga kayaknya~ :D makasih udah nge-review~"
.
.
.
The Butler
.
Screenplays!Sibum with!others
.
T until M
.
Akai with Azul
.
All about characters is notmine, except this fic and idea
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ BoysLove/ Alternative universe with baby typos
.
No like, don't read!
.
Summary!:
Dengan Choi Siwon sebagai butlernya, Kim Kibum merasa aman, nyaman dan terpuaskan dengan pelayanan pria yang tidak diketahui asal – usul mendalamnya. Namun di balik betapa sempurnanya hasil yang dilakukan oleh sang butler, sedikit demi sedikit masa lalu dan seluk beluk kehidupannya mulai terkuak…
My first ff with Sibum couple! :D
Miss them so much~ :*
Thanks a lot for authors who wrote they ff/ story on ffnet~~ *bowing*
.
.
.
2nd day "The Butler, connive"
.
.
.
Saat ini Siwon berada di pantry. Membuat teh Darjeeling yang Kibum inginkan, tak lupa dengan beberapa kue – kue kecil seperti strawberry muffin, choco-carac, dan greentea-vanilla scone—yang kemudian di tata di nampan bertingkat; three tier.
Semua bahan yang dibutuhkan dibeli sang butler di convenience store lengkap beberapa meter dari jarak perusahaan yang dibina Kibum di negara ginseng ini.
"aku lapar. Buatkan aku makanan yang tidak terlalu berat, ini belum jam makan siang. Jangan lupa dengan Darjeeling tea-nya, Siwon!" begitu perintah sang Tuan Muda. Maka setelah mendapat izin, butler tampan ini pun pergi untuk membeli bahan – bahan yang dibutuhkan untuk membuatkan makanan pengganjal lapar sang majikan.
Tak lama, pintu pantry terbuka dan masuklah beberapa karyawan—pria dan wanita.
Siwon mengangguk salam, yang kemudian dibalas juga dengan mereka. Sebagian ada yang langsung mengambil minum atau makanan ringan yang tersedia di sana, dan sebagiannya lagi ada yang penasaran dengan apa yang butler atasannya itu lakukan.
Tak heran mereka mengetahui jika Siwon sedang membuat pastry yang menggugah selera, mengingat pantry memang dibuat luas dan di bentuk sedemikian rupa hampir menyamai café mini—jadi banyak macam peralatan dapur di sana. Pantry itu dibuat sedemikian rupa karena tak jarang ada karyawan yang mendapat tugas lembur dan tak sempat keluar untuk menikmati waktu makan.
"pastry untuk tea – time..?" Tanya salah satu karyawan wanita. Kedua tangan wanita itu memeluk sensual pinggul Siwon. "padahal 'kan ini masih jam 10:30 AM."
Bahkan jari – jarinya bergerak nakal di sana—menngodanya. Sedari awal sang butler di perkenalkan oleh majikan pada karyawan - karyawati, Siwon merasa bahwa wanita ini tertarik sangat padanya. Semua karyawan yang tahu akan peringainya hanya bisa diam membiarkan wanita penggoda itu beraksi. "ya. Tuan Muda butuh pengganjal perutnya."
Wanita itu terkekeh. "jika aku juga ingin dibuatkan, apa kau juga akan membuatkannya?"
"jika anda ingin," Siwon melirik kecil wanita itu, kemudian mengambil beberapa kue yang tersisa di sana. "silahkan. Ini ada lebihan kue yang saya buat."
"hmm~" wanita itu mengambil sebuah scone dan melahapnya dengan gerak sensual. Dagunya yang dengan berani mendarat di bahu kanan Siwon bergerak kecil, menggesekkan permukaannya. "ini enak sekali. Kau jago juga ya, di bidang yang biasanya dikuasai wanita sepertiku. Aku jadi merasa kalah." Wanita bercatkuku merah menyala seperti pelembab bibirnya itu mengusap pelan punggung tegap Siwon.
Tak lama, bibir wanita itu mendekati telinga sang butler. Berbisik lembut dengan diiringi desahan yang biasa ia lakukan untuk menggoda sang lawan jenis. "pasti urusan di ranjang pun kau juga tak kalah jago dengan urusan ini, hmm~?"
Siwon yang sedang menata pastry di three tier terhenti gerakannya. Melirik pada wanita berambut bob yang menyeringai kecil dan mengedipkan satu matanya. Lantas butler Choi itu tersenyum tipis dan membalas bisik. "terima kasih. Anda memang benar, dan karenanya saya sampai – sampai lepas kendali tadi pagi."
"apa?" mengerjap. Wanita itu membeo dengan jawaban lawan pandangnya. "kau… apa maksudmu tadi?"
"tidak." Siwon menggeleng dengan elegan. "tidak ada maksud apapun. Lupakan saja."
"sudahlah, sebaiknya jangan ganggu Siwon. Bisa – bisa nanti dia dimarahi pak presdir karena terlambat membawakan pesanannya." Sela salah satu karyawan pria yang berada di sana.
Sedari tadi, ia dan beberapa teman sesama profesi lainnya melihat ulah salah satu temannya menggoda sang butler, dan hanya diam saja. Namun kali ini, sepertinya salah seorang dari mereka harus bertindak untuk menghentikan sang wanita menggodainya macam – macam.
Ucapan itu disusul dengan gurauan dan penyetujuan yang membuat wanita yang menggoda Siwon merengut kesal. Sambil membawa dua piring yang berisi pastry buatan Siwon, wanita itu membalas ucapan temannya dan menyuruh mereka diam.
"daripada kau sibuk berkoar – koar tak penting, kau makan saja pastry buatan butler atasan kita ini!" wanita itu menoleh kecil kearah Siwon yang kebetulan akan melangkah keluar pantry sambil menenteng nampan berisi tea – time set permintaan sang Tuan Muda. "bolehkan kalau kuenya kutawari pada mereka juga, hei butler..?"
Senyum tipis dan mengangguk. "tentu. Selamat menikmati, dan maaf kalau kuenya tidak berkenan di lidah anda semua. Saya permisi."
Namun sebelum pria berpakaian butler ala inggris yang serba hitam itu melangkahkan kakinya menjauh, ia diam di depan pintu pantry yang berkaca buram tersebut. Memokuskan indera pendengarannya untuk mendengarkan obrolan para karyawan yang terkadang tersedat karena menikmati pastry buatan sang butler.
"hebat, ya. Darimana presdir mendapatkan butler yang menghasilkan pekerjaan sesempurna ini?! Lihat, bahkan kue ini pun rasanya seenak buatan chef kelas atas!"
"kau benar! Aku jadi iri dengan pak presdir. Aku jadi ingin mempunyai butler juga~"
"sebaiknya kau bermimpi saja. Kuyakin gaji butler itu bahkan melebihi gaji kita, mengingat hasil yang dikerjakan dia saja sememuaskan ini!"
"tapi, kenapa tiba – tiba presdir mencari butler, ya..? dan yang lebih penting, kenapa butler itu ikut pak presdir ke kantor ini..?"
"kau lupa? Tiga hari yang lalu 'kan pak presdir datang terlambat karena ada penyerangan perampok kelas teri yang nekat datang waktu pagi!"
"oh ya, aku ingat! Salah satu pelayannya terluka cukup parah, 'kan..? apa mungkin itu sebabnya presdir mencari butler..?"
"mencari butler hanya karena itu? Seharusnya pak presdir mencari bodyguard, 'kan..?"
"iya juga, sih. Tapi, entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa begitu. Semua serba mendadak; ya penyerangan perampok kelas teri yang bisa melukai salah satu pembantunya, ya perkenalan si butler di hadapan kita tadi… aku tidak peduli."
"kau benar. Sebaiknya kita jangan ikut campur masalah pribadi pak presdir. Kita tak tahu apa yang dipikirkannya, iya 'kan..? lebih baik lupakan saja."
"iya, benar! Eh ngomong-ngomong, hari ini ada yang berulang tahun, lho!"
"siapa..? siapa..? dari divisi mana..?"
"kita siram yuk, sepulang kerja nanti! Hahahaha.. aku jadi rindu masa – masa SMA!"
Merasa jika tak ada obrolan yang ia pikir penting, Siwon melengos dari pintu pantry menuju ruang kerja sang majikan. Sambil membawa nampan di sebelah kanannya dan membawa sehelai kain berwarna putih tipis untuk membereskan remah – remahan pastry dari tubuh Tuan Mudanya.
Sambil berjalan, Siwon menatap lurus. Namun pikirannya melayang – layang kembali ke waktu dimana Kibum membicarakan kondisi Tao dan ucapan dari orang itu tentang penyerangan perampok kelas teri yang nekat di waktu pagi saat majikannya hendak berangkat. Tak jarang saat ia tenggelam dalam dunianya sendiri, Siwon mengacuhkan sapaan dari bawahan Tuan Mudanya—yang membuat orang itu melongo bingung dengan sikap tak ramah Siwon tiba – tiba.
Lima langkah lebar lagi maka sang butler akan sampai, jika seandainya tidak dikejutkan dengan bunyi dering ponselnya yang menandakan bahwa ada pesan masuk. Maka, dirogohnya ponsel itu di balik rompi abu – abu yang ia kenakan, dan membuka pesan yang berasal dari orang yang ia kenal cukup baik.
Beberapa detik Siwon membaca bait kata dalam pesan itu, lantas dengan kecepatan mengetik yang cukup cepat, ia membalas balik pada orang yang mengirim pesan jauh di luar sana.
Sang butler tampan nan misterius itu tersenyum mengingat kembali isi pesan itu. Setelah menetralkan diri dan mempersiapkan diri, ia pun masuk ke dalam ruangan Tuan Mudanya berada setelah mengetuk pintu dan mengucapkan sapaan formal.
[from :: Hyung – ah]
[text about :: Milady's planning]
[text :: bagaimana? Apa kau berhasil mendapatkan akses masuk di rumah itu? Kabari aku secepat mungkin, milady uring – uringan karena kau mengganti nomor ponselmu tanpa sepengetahuannya.]
[to :: Hyung – ah]
[text about :: replay to message of milady's planning]
[text :: sudah, hyung. Sesuai yang direncanakan your milady, aku berhasil mendapatkan akses masuk di rumah itu sebagai butler. Aku akan mengabarimu lebih lanjut lewat telepon nanti, dan tolong jangan beri tahu your milady soal nomor ponselku yang baru. Aku tidak mau direcoki oleh perintah absolutnya—karena mulai hari ini aku milik Tuan Mudaku.]
.
.
.
Kibum menumpukan pipinya di meja. Matanya mengarah ke jendela yang ada di sampingnya; memperlihatkan pemandangan berupa gedung – gedung bertingkat, beberapa pohon, dan tiang – tiang listrik beserta benangnya. Saat itu, langit dihiasi gulungan awan yang nyaris menyerupai gulungan permen kapas. Membuat Tuan Muda dari butler Choi itu tambah lapar.
Mendengus singkat, lalu kedua tangannya melingkar di perut yang berbunyi kecil.
"Siwon lama sekali.." desahnya. Menutup mata dan menyamankan posisi karena ia mulai diserang kantuk. Salahkan sang butler yang menggagahinya dengan hebat semalam hingga jam dua pagi. "jadi tidak mood makan dan malah mengantuk. Semua salah Siwon!"
"Tuan muda, permisi. Saya datang membawa apa yang anda inginkan."
Bangun dari posisinya yang menumpukan kepala di permukaan meja, kini Kibum menatap tajam si butler dengan tangan yang dilipat di dada.
"kau lama sekali! Aku jadi tidak mood untuk menghabiskannya!"
"maafkan saya, tadi saya ada keperluan sedikit." Kibum mengernyit ganjil. Berpikir tentang keperluan apa yang dilakukan butlernya hingga menghabiskan waktu 20 menit dari waktu yang dijanjikan Siwon. "keperluan apa? Kukira perintahku hanyalah membuatkan camilan pengganjal lapar dan Darjeeling tea. Tidak mungkin kau ke kamar mandi untuk buang air kecil selama 20 menit lamanya 'kan, Siwon?"
"itu bukan masalah penting, Tuan muda. Dan, apa anda yakin jika anda tidak ingin menghabiskan ini?"
"tidak!" Tuan Muda sang butler membuang mukanya ke kiri. Merajuk, pikir Siwon. "benarkah..?" goda Siwon sambil melangkahkan kaki mendekati meja tempat Kibum tadi bekerja mengecek beberapa laporan dari sekretarisnya.
Kibum menatap sengit mendengar nada godaan dari sang butler. "Siwon, hentikan! Jangan berkata dengan nada seperti itu!" mendapat balasan sedemikian rupa, Siwon semakin melancarkan aksinya. "seperti apa, Tuan muda..? saya berbicara dengan nada yang biasa saja.."
"diam, Siwon!" tunjuk Kibum dengan garang seperti kucing betina yang sedang bunting. "Kubilang jangan berkata dengan nada seperti itu—"
Krrruuukkk~~~!
"….."
"….."
"…..nah, sepertinya perut anda lebih jujur daripada mulut merah apel anda, Tuan muda. Makanlah pastry ini, dan maaf kalau tidak sesuai dengan selera anda."
Kibum tidak membalas ejekan tak langsung dari butlernya, sebab ia sibuk mengumpatkan diri dalam hati soal perut yang tiba – tiba bunyi dengan suara sebesar itu. Tangan kanannya meremas kemeja hitam yang ia kenakan tepat di perutnya, dan bibir yang sedikit membengkak itu meracau dengan bisikan lirih.
Sang butler yang mendengar itu hanya mendengus dan tersenyum kecil, lebih memilih menyibukkan diri untuk menata meja Kibum sedikit lebih rapi agar tea – time dan pastrynya yang duduk cantik di three tier bisa dihidangkan di meja itu.
"silahkan, Tuan Muda." Siwon selesai merapikan pesanan Kibum di tengah meja kerja. Sebelumnya, ia melangkah kecil ke belakang dan menunduk sopan pada majikan. "untuk makan siang nanti, saya sudah menyiapkan cordon bleu yang saya simpan di penanak nasi."
Kibum mengangguk singkat. "hmm." Berlian matanya berkilau – kilau menatap hamparan camilan yang tampak lezat di three tier. Tapi bukan lantas ia ambil dan nikmati, Kibum memundurkan kursinya beberapa jauh dan mengangkat kedua tangannya di udara.
"Siwon, kemarilah."
Dengan diam, Siwon melangkahkan kaki menuju Kibum yang masih mengangkat kedua tangannya. Sepasang mata Tuan muda sang butler menatap lurus kearah keping mata pria berpakaian serba hitam itu. Tepat ketika Siwon berada di hadapan Kibum, tanpa perintah lisan sang butler mengangkat tubuh mungil Tuan Mudanya dan menggendongnya hingga mereka saling berhadapan.
Tak lama, Siwon mengambil alih kursi Kibum. Sementara Kibum masih mengunci mulut, dengan kedua tangannya yang mengusap dada bidang sang butler yang sedang memangku dirinya.
"suapi aku." Perintah keluar dari mulut yang dilahap Siwon malam itu.
"tentu, anda ingin tehnya dulu atau salah satu pastry-nya..?" senyum tipis terpahat di wajah tampan ukiran sang pencipta.
Jawab Kibum, "teh."
"baiklah. Akan saya tuangkan tehnya…."
"… dengan mulutmu, Siwon. Suapi aku dengan mulutmu." Sela Kibum dengan tatapan mata tak ingin di bantah.
Siwon mengerjap sekali. Lalu menyeringai tipis dan terkekeh dengan nada rendah. Membuat jantung Kibum berdetum cukup cepat dan suhu tubuhnya agak meninggi. "ah.. hahaha.."
Tangan kanan itu menuangkan teh dalam cangkir porselen yang dibeli dari toko barang impor Tiongkok. Menimbulkan bunyi air yang beradu dengan cangkirnya. Pelan, Siwon membawa cangkir yang terisi cairan sebanyak setengah cangkir dan meminumnya hingga habis.
Tanpa di telan, dan sekejap Siwon menyerang mulut Kibum yang telah terbuka dengan sukarela. Mengirimkan teh hangat ke dalam mulut Kibum yang kemudian mengalir di kerongkongan dan mendarat di lambung sang Tuan Muda. Menimbulkan dengungan lirih sang Tuan Muda karena kekagetan akan tiba – tibanya cairan masuk kedalam mulut.
Lantas begitu kecupan dalam yang Siwon manfaatkan dengan sebaik mungkin, dilepaskan bibir Kibum yang mengkilat karena saliva dan teh yang tak sempat tertelan—berlari menyusuri dagu, leher dan akhirnya bersembunyi di balik kemeja hitam milik Tuan Mudanya. Kibum terengah, matanya menyayu dan pipinya merona hebat.
"baiklah. Apapun perintah Tuan Muda."
.
.
.
Ring! Ring!
"eh?" Baekhyun yang sedang membalur cologne ke sekitar leher terperanjat. Menengok ke sumber suara deringan itu muncul—kearah ranjangnya yang dilapisi sprei berwarna magenta.
Ring! Ring!
Dilihatnya ID call di layar ponsel, kemudian tersenyum manis hingga pipinya bersemu seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Tak menunggu lama, ditekannya tulisan 'answer' dan mendekatkan ponselnya ke telinga pria cantik pelayan di rumah Kibum itu.
Duduk menyantaikan diri dan mengambil nafas sebelum berbicara pada orang di seberang sana yang menelponnya.
"ne, hyung..? ada apa..?"
/"apa Siwon si kuda ada di rumah, Baek baby..?!"
"he?" Baekhyun mengerjap. Bingung kenapa hyung yang menelponnya tiba – tiba bertanya soal Siwon dengan nada kesal. "tidak, hyung. Dia ikut dengan Tuan Muda Kibum ke kantornya. Mungkin mereka akan pulang di jam biasa."
/"apa?! Dasar si kuda sialan! Lalu, apa kau punya nomor ponselnya..?!"/
"memangnya ada apa, hyung..? bukankah kau punya nomor ponselnya..?"
/"dia menggantinya tanpa sepengetahuanku, Baek baby! Bahkan butlerku juga tidak tahu nomor baru ponselnya! Sial, dasar kuda brengsek!"
"kalau begitu, aku juga tidak punya, hyung." Baekhyun menggeleng. Wajahnya gelisah dan gugup. "Baekhyun tidak tahu kalau Siwon – hyung mengganti nomornya. Tapi kalau hyung minta tolong untuk memintanya, mungkin akan Baekhyun usahakan—soalnya sejak pertama datang ke rumah ini, Tuan Muda Kibum seolah memonopoli Siwon hyung."
/"hah? Monopoli..?"/
"ya." Baekhyun mengangguk, meskipun lawan bicaranya tidak melihat. "bahkan Siwon-hyung tidur di kamar yang sama dengan Tuan Muda Kibum. Kau tahu hyung, semalam aku mendengar suara aneh dari dalam sana."
/"apa..?!"/
"iya, hyung! Seperti suara rintihan kedengarannnya."
/"SIWON SIALAN! BERANI – BERANINYA DIA MENYENTUH KIBUM! AKAN KUPOTONG PENISNYA DAN KUBUANG ABUNYA KE LAUT SETELAH KUBAKAR BEGITU AKU BERHASIL BERTEMU DENGAN KUDA SIALAN ITU!"/
Baekhyun terpaksa menjauhkan jarak ponsel, tak ingin menjadi tuli mendadak di usia muda. Beberapa detik sang penelpon meravau dengan kata kasar, akhirnya suara lawan bicaranya kembali normal. Maka, mendekat kembali ponsel model flip – flap hadiah dari Kibum saat ulang tahunnya kedua puluh dua setahun yang lalu.
Ia kembali berbisik karena takut ada yang mendengar percakapan antara dirinya dan orang itu.
"um, Hyung.. ada lagi yang ingin kau tanyakan..?"
/"apa..? oh ya, ada! Bagaimana kondisi Tao setelah terluka oleh suruhanku..?"/
"Tao mulai membaik, hyung." Jawab Baekhyun sambil memelintir anak rambutnya. "hyung, kau keterlaluan sekali menyuruh mereka menyerang Kibum sepagi itu.., kami semua jadi kaget dan cukup kelabakan—seandainya Tao tidak langsung sigap menyerang suruhanmu itu."
/"kekekekeke~~ kejutan yang cukup menyenangkan tidak, Baek baby..? lalu, bagaimana kondisi suruhanku? Kau bilang Ren sempat menendang wajah mereka hingga bibirnya sobek dan pelipisnya berdarah."/
"mereka baik – baik saja setelah kutengok di flat kecil mereka sehari yang lalu, hyung. Aku pergi diam – diam dan saat semuanya sudah tidur. Aku meminta maaf atas nama Ren kepada mereka, dan mereka hanya tertawa sambil memamerkan uang bayaran yang sudah kau transfer."
/"sudah kuduga mereka akan bungkam kalau kubayar sebanyak itu. Ya sudahlah, itu saja yang mau kutanyakan. Tolong kau awasi semuanya ya, Baekhyun—terutama Kibum dan Siwon. Sampai jumpa~ akan kubelikan oleh – oleh kalau aku sempat pulang ke sana, ok?"/
"ne, hyung. Hati – hati.. dan gomawo~"
Percakapan itu lantas berhenti. Baekhyun tersenyum puas sambil memandang ponselnya, namun sedetik kemudian matanya bergulir ke bingkai kecil yang tergeletak apik di meja nakas. Menampilkan foto dirinya dan pelayan lain bersama sang Tuan Muda rumah tempatnya bekerja. Tetapi yang menjadi fokus utama kelereng mata Baekhyun adalah rupa dari Kibum yang sedang duduk sambil tersenyum tipis diantara mereka.
"maafkan aku, Tuan Muda. Aku tidak bermaksud, tapi ini demi kebaikanmu sebelum 'mereka' bergerak untuk menghancurkan anda."
Kelereng Baekhyun menyendu. Menghela nafas kecil dan setelahnya menggelengkan kepala untuk menormalkan raut wajahnya yang sempat bersedih. Ia bahkan sempat menepukkan kedua pipinya berkali – kali hingga memerah dan ia mengaduh perih.
Terlonjak begitu mendengar ketukan pintu dan suara Luhan yang memanggil namanya. Baekhyun pun baru sadar jika ia akan pergi membeli taplak meja baru bersama Luhan sekarang, maka dengan tergesa – gesa mengambil dompet, payung, dan botol minum untuk kemudian dimasukkannya bersama tas selempang.
Memakai sepatu boot hitam setengah betis dan kembali untuk bercermin—melihat hasil pilihan pakaiannya yang selalu tampil sederhana namun masih terkesan trendi.
"Baekhyun, Kau lama sekali! Kenapa kau juga mengunci pintu kamarmu?! Aku jadi tidak bisa masuk, 'kan..?!"
"iya, hyung! Aku sudah selesai, kok!"
Pintu kamar yang diketuk Luhan itu terbuka, menampilkan Baekhyun yang menyengir lucu tanpa rasa bersalah. Membuat Luhan merautkan wajah bete dan mendengus sebal karena membuatnya menunggu lama di depan pintu kamar Baekhyun seperti orang bodoh.
Akhirnya, Baekhyun kembali ke perannya semula.
Perannya yang hanya sebagai pelayan biasa yang tak tahu rahasia di balik rahasia, alih – alih seorang pelayan yang memiliki tugas sebagai mata – mata untuk mengawasi Tuan Muda dan Siwon—sang butler; atas permintaan seseorang yang saat lalu menelponnya.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
A/N:
Makasih buat yang merespon ff ini~
Kali ini, wordcount-nya sedikit lebih banyak dari bab sebelumnya, dan kuharap kalian puas! XD meskipun hints Sibum-nya (mungkin) sedikit tidak memuaskan. Maaf, ne.. tuntutan alur cerita.. ( )
Jaa,
Want to review..? :3
.
.
.
