.

Thanks a lot for you who read, review, follow and faver this fic~ ^u^

.

.

Buat Sycarp, ff NC Sibumnya udah ada, tuh.. :*

Jangan lupa buat review, ya~

.

.

.

.

.

The Butler

.

Screenplays!Sibum with!others

.

T until M

.

Akai with Azul

.

All about characters is not mine, except this fic and idea

.

Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ alternative universe with much baby typos

.

No like, don't read!

.

Summary!:

Dengan Choi Siwon sebagai butlernya, Kim Kibum merasa aman, nyaman dan terpuaskan dengan pelayanan pria yang tidak diketajui asal – usul mendalamnya. Namun dibalik betapa sempurnanya hasil yang dilakukan oleh sang butler, sedikit demi sedikit masa lalu dan seluk – beluk kehidupannya mulai terkuak..

My first ff with Sibum couple! :D

Miss them so much~ :*

Thanks a lot for authors who wrote yhey ff/ story on ffnet~~ *bowing*

.

.

.

3rd day "The Butler, suspicious"

.

.

.

Kibum melihat – lihat laporan di dalam map beragam warna. Laporan itu merupakan sebagian dari bahannya untuk meeting beberapa jam lalu, dokumen baru juga lama yang harus dibubuhi tanda tangannya, dan dokumen proposal kerjasama dari berbagai pihak.

Membaca cepat—scanning—dokumen itu dengan mata yang mulai merengek untuk istirahat. Tubuhnya yang terduduk santai di ruang kerja mini di kamarnya ikut merajuk – rajuk untuk segera menikmati hangant dan lembutnya ranjang. Tapi Kibum masih berusaha menenangkan mereka, berjanji akan secepat mungkin untuk beristirahat—setelah pekerjaan mengeceknya selesai.

Ketika Kibum membaca salah satu perusahaan yang cukup berpengaruh saat ini, Siwon masuk setelah diperbolehkan si empunya ruangan. Membawa troli. Di dalam troli berukuran sedang itu, ada seperangkat alat minum teh—porselen bermotif bunga lili kuning yang diimpornya dari Tiongkok, sebuah toples madu berukuran kecil dihias pita polkadot, dan sebuah three tier dimana terdapat beberapa sweet croissant, choco madelaine dan green tea nastar.

"kue – kue apa sekarang?" Kibum bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari berkasnya. "teh apa sekarang?"

"kue saat ini adalah sweet croissant, choco madelaine dan green tea nastar." Siwon membungkuk sebelum menjawab. "teh saat ini adalah teh melati yang diimpor dari Indonesia, Tuan muda."

Kibum melirik setoples madu cair yang masih tertutup. Sedangkan diatas tutup toples terdapat sendok teh berpita biru. "untuk apa kau bawakan madu, Siwon..?"

"ah, saya sudah mencoba teh melati yang diberi madu, dan rasanya lumayan nikmat. Barang kali lidah Tuan muda ingin merasakannya juga?" sang Tuan muda mengangguk. "boleh juga."

Maka, dituangkanlah teh hangat dengan kepulan asap pada cangkir itu. Dengan gerakan elegan pula, Siwon membuka toples madu dan mengambil takaran sesendok madu dan dicampurkannya mereka. Denting antara gelas porselen kelas dua dan sendok perak yang berkilat indah menggema di ruang kerja sang tuan muda. Kibum memijat pelipisnya, lantas memijat pangkal hidung dan terakhir kedua pipinya. Siwon sadar akan hal itu, karenanya setelah menyediakan teh yang telah dikombinasikan dengan madu, sang butler perdana di rumah Kim Kibum sigap menuju belakang kursi tempat tuan mudanya duduk.

"tehnya telah siap, dan saya akan memijat tubuh Anda, Tuan muda." Merayaplah kedua telapak tangan Siwon.

Pertama, tangan itu menyentuh lembut helaian rambut hitam semalam sang tuan muda. Lantas bergerak pelan menuju kedua pelipis dan memijatnya dengan gerakan bagai ahli terapi tubuh. Untuk beberapa gerakan, menjalar kedua tangan itu menuju kedua pipi Kibum yang bergerak – gerak kecil karena mengunyah nastar. Siwon yang merasakan hal itu, membayangkan jika kedua pipi Kibum menjadi gembung seperti tupai yang membawa kacang dalam mulutnya, lantas menahan tawa dengan bibir yang digigit – gigit kecil.

Kibum tidak sadar, ia masih terhanyut dengan kue – kue buatan Siwon, dan Siwon bersyukur.

Tapi Siwon tidak berhenti sampai situ.

Ketika pangkal hidung Kibum telah direlaksasi lembut, bertepatan dengan kedua tangan Siwon yang merayap menggoda ke daerah leher sang Tuan muda, lidah butler itu menjilat gemas telinga kanan Kibum. Kibum tersentak sekaligus meleguh samar dengan mulut terdapat teh yang hendak ditelan.

Kesepuluh jari Siwon yang terampil memijat dan mengelus ringan leher putih salju sang tuan muda, dan lidah nakal itu tetap menjilat dan melumat telinga Kibum yang mulai memerah sekaligus basah. Kibum merinding, namun tak menampik juga jika ia menikamati pelayanan tambah yang Siwon layangkan.

Sedikit bersusah payah untuk menelan cairan yang terkukung di mulutnya, akhirnya Kibum mulai melirih dan mendesis – desis. Nafasnya menderu dan tubuhnya mulai melemas saking nikmatnya apa yang Siwon lakukan di salah satu weaks spot sang tuan muda. Bergetar kecil tubuh sang tuan muda.

Keping mata Kibum menyayu. "nggh.. aah.." saliva berlomba – lomba menyeruak keluar. "geli.. geli, Siwoon.. berhenti.. hhh.. ah.."

Lidah itu menujam – nujam lubang telinganya. Gigi itu mengigit – gigit daun telinganya. Dan bibir itu melumat – mengulum hampir keseluruhan lebar telinganya hingga basah dan mengkilat – kilat.

"berhenti..?" lirih rendah sang butler setelah melepaskan kuluman di daun telinga sang tuan muda. Kelereng matanya berkilat penuh gairah dan ia menyeringai nakal. Kibum yang masih terhanyut dengan sensasi deru nafas Siwon di telinga kanannya, tidak menyadari jika kedua tangan Siwon mendarat di dadanya. "tubuh Tuan muda sudah tegang begini," memeras dada itu hingga Kibum memekik tertahan. "dan anda ingin saya berhenti..?"

Aura di sekeliling mereka berdua memanah, penuh gairah dan godaan.

"ah.. Siwon.." dada itu terus dicumbu oleh jari – jari milik sang butler. "Siwon.. nghh.. ah.." desah Kibum.

Tak lama, kedua puting Kibum yang tersembunyi di balik piyama hijau tuanya mencuat hingga menimbulkan gundukan kecil. Maka, Siwon sang butler yang sifat mesum dan jahilnya kambuh, terkekeh. Ingin rasanya sang butler melumat puting mungil milik tuannya, namun mengingat posisinya tidak memungkinkan, maka yang ia lakukan adalah menyentil dan memelintir gemasnya. Sambil terkekeh tak lupa ia lakukan.

Kibum mendengar Siwon terkekeh, dan karena Siwon tidak menuruti perintahnya untuk berhenti bermain – main dengan dadanya, sekejap, beberapa tumpukan dokumen yang cukup tebal itu mendarat di kepala Siwon dengan keras. "kya! Siwon, kubilang berhenti! Kau jadi nakal dan mulai tidak menuruti perintahku, ya..!"

Siwon mengaduh. Melepaskan tangannya dari dada Kibum yang mulai membengkak dengan kedua putingnya mencuat tercetak di kain piyama. Bibir bawah merah merekah milik si tuan muda digigit si empunya, kelereng matanya agak melotot dan wajahnya memerah kombinasi malu dan kesal. Sang butler, setelah mundur beberapa langkah karena terkejut, sambil memijat pelan kepala tempat sang tuan muda menghajarkan dengan tumpukan dokumen, mulai mendekati Kibum yang masih memberikan deathglare.

Butler itu menyeringai kecil, lalu membungkuk hormat. "maafkan saya, tuan muda. Saya hanya iseng saja."

"kau keterlaluan sekali! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!" beranjak dari kursi dan berkacak pinggang. "maafkan saya, Tuan."

Kibum mencebik dan memilih beranjak menjauh dari Siwon menuju pintu akses keluar – masuk ruangan. "aku tidak peduli, kau mulai nakal dan membantahku tadi! Sebagai gantinya, kau bereskan dokumen itu sesuai tanda yang kuberikan di sudut kanan atas—harus rapi dan sesuaikan tanggalnya! Juga saat aku datang ke sini lagi, teh melati itu harus masih atau sudah dihangatkan ulang! Mengerti..?!"

"baik."

"bagus! Kalau dalam tiga puluh menit sejak aku keluar ruangan untuk menemui Tao kau tidak melaksanakan perintahku dengan baik, mala mini tidak akan kuijinkan kau tidur denganku satu ranjang denganku!"

"baik."

Kibum menghilang di balik pintu. Hening menyelimuti ruangan tempat Siwon masih berdiri cantik disana, hanya detik jam klasik yang berdiri kokoh di salah satu sudut ruangan, yang kemudian berdentang lima kali dengan jarum jam menunjukan pukul 07:00 PM.

Siwon mendengus geli mengingat kejadian tadi—Kibum dengan sikap kuuderenya pada orang luar, mendadak berubah menjadi tsundere jika sang butler mulai kumat dengan kejahilannya yang sesekali senang membantah perintah di situasi tertentu. Seperti sebelumnya.

Tak ingin mendapat hukuman yang 'ajaib' dari sang majikan, akhirnya butler itu melakukan apa yang diperintahkan. Melakukannya dengan baik untuk mendapatkan hasil memuaskan seperti biasa ia melayani Tuan muda cantiknya.

.

.

.

Belum satu hari full, Kim Kibum sudah mulai curiga dengan Choi Siwon.

Tentang sikapnya yang terkadang berubah 180 derajat—dari sopan sekali hingga mesum sekali. Tentang CV lamaran kerjanya yang memiliki lembar sedikit daripada lamaran kerja pelayan lain di rumah ini saat melamar padanya—mengindikasikan jika Siwon bukanlah sosok bertele – tele, seperti di salah satu CV lamaran kerja pelayannya, yang terdapat informasi tambahan yang tidak penting untuk dijelaskan.

Tentang perintahnya yang selalu di kerjakan dengan baik dan sangat memuaskan, yang hasilnya tampak seperti dikerjakan oleh seorang ahli atau pro—padahal pria tampan dengan tubuh yang agak tinggi dari Kibum hanyalah lulusan sarjana ekonomi di salah satu universitas kelas dunia. Seperti, sejak kapan Siwon bisa membuat kue – kue dengan rasa yang bisa disejajarkan dengan chef/ pattisier kelas satu..? apakah di fakultasnya kuliah ada mata kuliah tambahan yaitu tata boga..?

Dan juga….

…. Asal – usul atau cerita singkat mengenai kehidupannya sebelum melamar pada Kibum.

Seperti yang sudah dideskripsikan, Siwon mengirim CV lamaran kerja padanya hanya dengan berkas yang berjumlah dua lembar saja—dan disana tanpa menceritakan kehidupan singkat selain bahwa Choi Siwon merupakan anak satu – satunya di keluarga Choi, memiliki hobi menikmati travelling dan melatih kemampuan parkour, dan lulusan sarjana ekonomi di universitas di Spanyol. Singkat, namun kurang mendalam.

Entah kenapa saat itu, Kibum bisa – bisanya menyetujui Siwon menjadi butlernya. Dan bibirnya langsung mengatakan hal – hal diluar kendali otaknya akan aturan Siwon sebagai butler—tinggal dengannya dan tidur satu kamar dengannya. Bahkan Kibum juga berpikir keras sambil menahan malu, mengingat bisa – bisanya saat itu ia bertingkah agak menantang pada Siwon, yang berakhir dengan cumbuan mesra malamnya.

"uagghh!" mengusak – usak rambutnya. Menangkupkan wajahnya yang memerah dibalik telapak tangan. "aku terlihat seperti bitchy sekali saat itu.." gumamnya. Tak menyadari jika Changmin di belakang Kibum dengan merautkan wajah bingung karena tuan mudanya melirih membawa kata 'bitchy' di gumamannya.

"bitchy..? kenapa Tuan muda merasa bitchy..?" Kibum tersentak. Sekejap menoleh kebelakang, mendapati Changmin dengan bola mata yang membulat karena penasaran. "Changmin..?! sejak kapan kau di belakangku..?!"

"sejak Tuan muda berteriak dan bergumam sambil membawa kata 'bitchy', tuan muda.." Changmin membungkuk memberi salam formal. "ngomong – ngomong, kenapa tuan muda merasa bitchy..?"

"ah.. tidak. Tidak kenapa – kenapa. Jangan membungkuk kalau kita sedang berdua, kau lupa, Changmin..?" Kibum melirik ke kiri. Menghindari tatapan curious Changmin yang berkilat – kilat cantik. "ngomong – ngomong, nampan itu mau kau bawa kemana..?" Kibum menunjuk Changmin yang membawa nampan berisi sepiring makan malam, segelas air mineral dan segelas lemon tea hangat—tercium dari wanginya.

Pria muda yang hobi makan namun tidak pernah gemuk itu melirik sekilas nampan perak yang ia bawa, lalu menyengir ramah—Changmin memang akan menjadi seorang teman jika hanya berdua dengan Kibum. Dan itu kesepakatan rahasia mereka berdua. "ini untuk Tao, Tuan muda. Walaupun kakinya mulai bisa ia gerakan untuk berdiri dan berjalan, tapi hanya sebentar dan kalau berjalan ke ruang makan pelayan yang lumayan jauh, ia masih belum kuat. Jadi Baekhyun memintaku untuk membawakan makan malamnya—sama seperti tadi pagi dan siang."

"kau ingin ke ruang Tao..? kalau begitu, kita searah. Aku ingin mengecek kondisi Tao." Changmin tersenyum. "tentu. Ayo, Tuan muda."

.

.

.

Pintu coklat sederhana berkenop warna nila itu terbuka.

Yixing dan Baekhyun sigap berdiri dan membungkuk hormat pada Kibum yang masuk bersama Changmin. Tao hanya bisa tersenyum sumringah setelah ia diperintahkan untuk tidak banyak bergerak oleh tuan mudanya—dan Changmin berjalan menuju meja nakas yang bersebrangan dengan dirinya.

Kibum tersenyum kecil, setelah menyuruh Baekhyun dan Yixing kembali duduk, Kibum ikut duduk di pinggir ranjang Tao. "bagaimana kabarmu..?"

"saya baik – baik saja, Tuan muda." Nadanya ceria. Namun sedetik kemudian, ia agak menundukan kepalanya dan berwajah melas. "maafkan saya, saya ingin sekali membungkuk hormat pada anda."

"tak apa – apa. Aku menyuruhmu untuk tetap duduk di ranjang," Kibum mengusap lembut pucuk kepala Tao yang dimahkotai surai hitam sama seperti Kibum. Tao tersenyum manis, dan menggerakkan kecil kepalanya seperti anak kucing yang senang sekali dielus – elus kepalanya. "mengingat tadi Changmin bilang kalau kakimu belum cukup kuat untuk digunakan. Aku senang kau mulai baik – baik saja."

"uhum.." Tao mengangguk kecil. "saya juga senang Tuan muda baik – baik saja." Kibum mencubit gemas kedua pipi Tao. "kau seperti tidak khawatir pada kondisi tubuhmu saja. Untung Yixing punya kemampuan medis yang sangat baik, jadi kau segera mendapat pertolongan pertama."

Yixing yang disebutkan namanya terkekeh malu. "aku tidak sehebat itu, Tuan muda." Kibum melirik Yixing yang tersenyum kecil. Lalu menjawil pucuk hidung sang lelaki muda asal Tiongkok yang telah bekerja dengannya hampir tiga tahun. "kau beruntung sekali, panda. Ah, sebagai ganti kau berhasil menyelamatkanku, kau boleh meminta sesuatu. Apa yang kau mau, hm..?"

"oh, ya?! Kalau begitu, saya ingin boneka panda dan tas Gucci keluaran terbaru!"

"tidak!" sela Baekhyun. Lalu menunjuk ke satu arah, dimana mereka semua yang berada di sana mengikuti arah telunjuk ramping Baekhyun. Menatap ke dua lemari kaca yang cukup besar. Terdapat beberapa koleksi boneka panda dan tas di sana. "kau sudah banyak koleksi boneka panda dan tas Gucci di lemari, Tao! Lihat, bahkan aku belum pernah kau memakai salah satu dari mereka saat kau pergi keluar!"

"tapi, hyung… tas Gucci itu baru keluar dan modelnya lucu! Tao suka, dan.. dan karena kebetulan Tuan muda ingin memberi Tao reward.. jadi, ya.. um.." Tao melirik Kibum yang menatapnya. Sang tuan muda tersenyum kecil dan menjawil pucuk hidung Tao lagi. "tentu. Kau mau itu, 'kan..? aku akan membelikannya untukmu besok."

"horray!"

"Tuan muda, apa anda tidak terlalu memanjakannya..?!" Changmin dan Baekhyun bersamaan. "kau terlalu memanjakan Tao menurut kami, Tuan." Tao yang mendengar itu mencebikkan bibirnya. Bersidekap dan mendengus agak tertohok. Kibum mengerjap, lalu mengibaskan tangannya dengan ringan. "tidak, tidak. Aku tidak merasa memanjakannya. Aku memang berhak memberinya reward karena telah menyelamatkanku waktu itu."

"tapi.." lirih Changmin. "saya juga jadi ingin diberi reward." Senyum kecil terpahat di wajah cantik Kibum. "kau mendapatkannya juga, Changmin. Kau juga, Baekhyun. Nah, kalian ingin apa..?"

"saya ingin makanan seafood!/ saya ingin produk eyeliner terbaru!" pekik girang mereka. "boleh saja. Akan kulakukan untuk kalian sebagai reward-nya."

"nah, nah. Karena kalian sama – sama diberi reward oleh Tuan muda, bisakah Baekhyun menyuapkan Tao? Dan kau Changmin, siapkan obat – obatan untuk Tao. Tuan muda, barangkali ada yang ingin ditanyakan soal kondisi Tao lebih spesifik..?"

Yixing mulai memberikan rentetan kondisi Tao pada Kibum, Changmin beranjak menuju salah satu sudut ruangan yang terdapat kotak p3k di sana, dan Baekhyun mulai membujuk Tao untuk makan malam dengan alasan Tao tidak lapar.

Suasana di kamar yang cukup minimalis, dengan penataan yang cantik oleh sang empunya kamar, tampak normal dengan suara bising yang normal pula. Sesekali, terdengar Tao merengek pada Baekhyun yang memaksanya menghabiskan makan malam, padahal ia sudah kenyang—walaupun baru makan lima sendok. Atau juga Changmin bertanya – Tanya soal apa saja obat Tao dan kebutuhan untuk mengganti lukanya. Atau juga sesekali Yixing yang tertawa kecil melihat Tao yang memelas padanya untuk menghentikan paksaan Baekhyun soal habiskan makan malamnya.

Atau juga Kibum yang akhirnya membujuk dan berhasil membuat Tao mau tak mau menghabiskan makan malam yang tetap disuapi Baekhyun.

Semua baik – baik saja dengan suasana normal biasa, sampai pada akhirnya, Changmin yang beberapa menit lalu menatap Baekhyun dengan lekat – lekat, membuka pelan mulutnya dan bertanya dengan volume suara agak dikeraskan, dengan pandangan curiga…

… "ngomong – ngomong Baekhyun, waktu malam setelah penyerangan pagi, kau keluar untuk pergi kemana di jam selarut itu..?"

.

.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Maaf ya, Al updatenya Lama.. ternyata pas mau di publish waktu itu, word-nya acak – acakan entah kenapa.. (QAQ) jadi yah.., pas udah disusun ulang, dan dibaca ulang, kok rasanya chapter ini aneh… jadinya diketik ulang lagi, deh.. [;_;]

Tenang saja, Al konsisten buat tamatin ff ini, kok~ :*

.

.

.