Semua baik-baik saja dengan suasana normal biasa, sampai pada akhirnya, Changmin yang beberapa menit lalu menatap Baekhyun dengan lekat-lekat, membuka pelan mulutnya dan bertanya dengan volume suara agak dikeraskan, dengan pandangan curiga.
"... Ngomong–ngomong Baekhyun, waktu malam setelah penyerangan pagi, kau keluar untuk pergi kemana di jam selarut itu..?".
.
.
.
.
.
.
The Butler
.
Screenplays!Sibum with!others
.
T until M
.
Akai Momo
.
All about characters is not mine, except this fic and idea
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ alternative universe with much baby typos
.
No like, don't read!
.
Summary!:
Dengan Choi Siwon sebagai butlernya, Kim Kibum merasa aman, nyaman dan terpuaskan dengan pelayanan pria yang tidak diketahui asal – usul mendalamnya. Namun dibalik betapa sempurnanya hasil yang dilakukan oleh sang butler, sedikit demi sedikit masa lalu dan seluk – beluk kehidupannya mulai terkuak..
My first ff with Sibum couple! :D
Miss them so much~ :*
Thanks a lot for authors who wrote they ff/ story on ffnet~~ *bowing*
.
.
.
.
.
Maaf menunggu lama, semuanya... ^^"
.
.
.
.
.
4th day "The Butler, Moving On"
.
.
.
.
.
Baekhyun menoleh ke arah Changmin, menatapnya dengan tatapan tanpa canggung atau berdosa, berbanding terbalik dengan sorot tatap penasaran sekaligus memaksa yang dilayangkan pria tinggi yang hobi makan tersebut. Bibir Baekhyun yang beberapa detik lalu melantunkan canda-tawa renyah, kini terkatup rapat-rapat.
Cukup membuat Changmin, selaku pelempar pertanyaan, membatin heran dalam benak; sebab jika Baekhyun tidak segera menjawab, itu artinya bahwa ada hal yang ia sembunyikan dan kini tertangkap basah oleh orang lain akan hal tersebut.
Di sisi lain, Kibum mulai aneh dengan sirobokan kelereng cantik dari dua pelayan rumahnya, ia juga cukup terkejut, sama seperti Yixing dan Tao, dan ia merasa tertarik akan laporan tak langsung yang diutarakan Changmin untuknya. Meskipun roman wajahnya terlihat seperti anak-anak yang rasa ingin tahunya sedang menggebu-gebu membakar gairah, namun dalam hatinya ia sedang mempersiapkan fisik-mental untuk mendepak kasar Baekhyun jika terbukti membelot dari perjanjian.
'Seandainya memang begitu, dengan berat hati aku akan mengusirnya dari sini sebagai bentuk pengkhianatan terhadapku.' Kibum mendecih dalam hati. 'Padahal selama ini aku menyukai hasil kerjanya yang bagus. Tapi kalau dipikir-pikir, Baekhyun itu sangat malas jika disuruh keluar rumah malam-malam, kan..? Jika Baekhyun yang pemalas untuk keluar malam saja bisa berani dan sanggup keluar larut malam di waktu itu, berarti ada hal yang disembunyikan Baekhyun dariku; dari rumah ini!'
Kibum mengulum bibirnya yang terkatup rapat, seolah ingin menyembunyikan emosinya yang semakin memuncak. 'Jika memang begitu, berarti Baekhyun memang membelot dariku, entah dia menjual informasi situasi-kondisi rumahku kepada siapa, tapi tak akan kubiarkan mereka lolos selamat dari tanganku! Tak akan kubiarkan begitu!
Nah, sekarang, kita lihat, seandainya Changmin merasa bahwa Baekhyun bersih dari dugaan burukku, maka Baekhyun memang bersih.
Jika tidak, aku tak akan segan-segan membunuh Baekhyun untuk menghilangkan salah satu koneksi mereka dan setelah itu akan kusuruh siwon melacak dan membunuh mereka.'
"Kau melihatku, hyung..?" Baekhyun memutuskan untuk berujar setelah keheningan menelan kamar Tao delapan detik lamanya. Ia tidak ingin dipikir buruk oleh Kibum, maka dari itu seperti biasanya, ia kembali melanjutkan akting sebagai pelayan-tak-tahu-apapun; meskipun kalimat yang Baekhyun ujarkan terkesan menantang balik. Ia mau tidak mau membiarkan semua orang mencurigainya untuk bisa mengorek informasi tentang bagaimana Changmin bisa mengetahui jika dirinya keluar rumah di larut malam. "Memang kau pikir aku pergi ke mana malam larut waktu itu...?"
"Ya, aku melihatmu dari balik tirai kamar yang tertutup. Sayang sekali kalau kau lupa akan hal jendelaku yang menghadap langsung ke gerbang belakang rumah." secara tak sadar, Changmin membuka kartu as-nya; yang mungkin bagi pria muda itu ingin memberitahukan pada Kibum secara tak langsung bahwa ia tidak asal bicara.
Tapi tidak bagi Baekhyun dan bersorak-sorai dalam hati, sekaligus kesal pada diri sendiri yang seteledor itu; sangat lupa jika jendela kamar Changmin berhadapan langsung dengan pintu gerbang halaman belakang rumah; sesuai yang diungkapkan Changmin.
"Aku tak tahu; kami tak tahu. Tapi kami akan tahu kalau kau mau memberitahu pada kami, Baekhyun." Changmin mengernyitkan dahi, cukup tersentak dan terkesima dengan Baekhyun yang seolah menantangnya. Tapi ia pun tak ingin berakhir dengan sesuatu yang tak berarti.
Maka dari itu, ia kembali memancing Baekhyun dengan kail terbaik, "Kecuali jika kau sedang menyembunyikan sesuatu yang seharga harta karun kuno."
Diam, tak lama Baekhyun mendesah kecil sambil tangan merogoh kantung celananya. Diambilah sebuah struk belanjaan dari salah satu conviniece store terdekat dan dijulurkannya kearah Changmin yang sedang menaikkan sebelah alisnya. "Mungkin ini akan meringankanku dugaan Tao, hyung dan tuan muda. Ambil dan amatilah waktunya."
Tertera di struk berukuran standar tersebut, Baekhyun membeli beberapa camilan untuk persediaan mendadak, dan sebuah instant cup mie. Juga di kertas yang kondisinya cukup lusuh karena terselip dengan benda lain yang diboyong Baekhyun dalam kantungnya terdapat keterangan waktu kunjungan.
Ketika Tao, Yixing, Changmin dan Kibum mengerubungi benda itu, Baekhyun hanya diam dengan mata cantiknya yang berkaca-kaca. Harap-harap cemas, takut-takut seandainya Changmin masih ngotot untuk mengintrogasinya secara langsung di depan sang tuan muda, takut-takut seandainya Changmin berkata bahwa kesaksiannya belum cukup bukti atau tidak bisa dipercayai. Dan kalau sudah begitu, Baekhyun hanya pasrah jika ia akan didepak langsung malam ini, diusir.
'Itu masih lumayan, Baekhyun. Bagaimana kalau Tuan muda justru mengeksekusi mati dirimu saat itu juga dan di tempat itu juga..?' bergidik kecil.
'Tapi kalaupun aku sudah tidak terikat lagi dengan rumah ini, masih ada Siwon hyung yang tersisa. Hanya masalahnya, Miladyhyung bahkan tidak tahu nomor ponselnya, jadi bagaimana caranya ia akan memberi intruksi pada Siwon hyung...?' Baekhyun meremas tangannya yang ia sembunyikan di balik punggung, tangan yang berkeringat dingin dan bergetar-getar kecil akibat asumsi barusan padanya. 'Oh, sial! Kalau begini caranya, aku hanya bisa berdo'a semoga Changmin hyung tidak terlalu curiga padaku, tidak curiga aneh-aneh padaku, demi keselamatan dan kelanjutan tugasku di rumah ini.'
'Eh..?! Tunggu dulu..!'
Baekhyun terlonjak tak tampak. Matanya yang semula berkaca-kaca gelisah tanpa diketahui empat orang di hadapannya (yang masih sibuk dengan kertas struk belanjaan), kini berubah menjadi lebih bernyawa, dengan kilau-kilau kecil yang melingkupi kelereng indahnya, lantas iris menawan milik Baekhyun tersebut tertawa tanpa nada yang menguar-nguar di udara kamar.
'Ah iya, kenapa aku tidak minta tolong ke Siwon hyung saja supaya ia membujuk Tuan Muda Kibum untuk tidak mendepakku dari sini...? Well, mungkin dia mampu, karena akhir-akhir ini mereka akrab sekali.'
Terngiang-ngiang di mana Baekhyun mendengar suara rintih-jerit-desah dari kamar sang tuan muda saat berkeliling untuk jurit malam sebelum pergi menjemput mimpi. Siapapun akan tahu hal apa yang dilakukan Siwon dan Kibum di kamar tersebut tanpa harus melihatnya langsung, dan itu pulalah yang terjadi dengan Baekhyun.
Terkekeh dan memuji-muji Siwon dalam hati bahwa hanya membutuhkan waktu sesingkat itu untuk bisa menjinakkan Kim Kibum.
"Baiklah, aku percaya."
Ucapan Changmin cukup mengejutkan semua orang yang ada di sana, terutama Kibum dan Baekhyun yang hanya menganga mendengarnya. Mereka berdua mengedip, mengedip, dan mengedip lagi ke arah Changmin di timing yang bersamaan; membuat Yixing dan Tao cekikikan lucu. "Kenapa wajah Tuan muda dan Baekhyun-ie begitu..? Kaget sekali seperti menang lotre jutaan dollar saja." celetuk Yixing.
"Ak-aku... Hei, kau bilang apa tadi, hyung...?" Baekhyun tersenyum renyah, berbanding terbalik dengan hatinya yang menjerit girang karena Changmin sedikit mudah dikelabuhi. Untung saja saat itu ia mampir ke conviniece store, selain untuk membuat alibi kuat, ia pun benar-benar ingin membeli persediaan camilan.
Changmin mengangguk, lalu mengembalikan struknya ke Baekhyun. Pria itu terkekeh tatkala Kibum menatap lekat-lekat padanya yang mempertanyakan kenapa ia bisa berkata seperti itu melalui sorot mata indah turunan keluarga Kim.
"aku mencocokkannya dengan waktu Baekhyun pergi dengan waktu kunjungannya ke conviniece store dan yah.. Memang tidak ada yang salah.
Waktu itu aku juga melihat Baekhyun pulang dan aku kembali melihat waktu di jam kamarku. Dan semuanya memang benar.
Intinya, kebenaran akan jam pergi Baekhyun, jam kunjung dan jam pulang yang disamakan dengan jarak conviniece store-nya dari rumah ini memang sesuai, begitu."
Tao berdecak, lalu bertepuk tangan sambil menggelengkan kepalanya dengan air muka terkesima. "Wow, gege, wow! Itu keren sekali, seperti detektif saja! Jjang..!"
"Tidak heran kalau Tuan Muda Kibum memilihmu sebagai pengatur strategi dan yang bertugas untuk mengintrogasi penjahat berulah untuk keamanan rumah ini." celetuk Yixing yang ditertawakan Changmin, tentu saja pria tinggi itu bangga dengan status sampingannya di rumah Kibuk selain sebagai pelayan.
"Kalian tahu," Baekhyun Melirih. "Aku cukup ketakutan tadi. Dituduh yang macam-macam dan diintrogasi seagresif itu oleh Changmin hyung." mendengarnya, Kibum meringis, sebab secara tidak langsung ucapan Baekhyun menujam-nujam hatinya. Terkekeh memaksalah sang tuan muda, lalu beranjak dari duduknya hanya untuk mendekati Baekhyun dan mengusap sayang punggungnya. "Kami tidak bermaksud, tapi kau tahu sendiri bukan, dengan aturan dan konsekuensinya jika tertangkap basah bertindak mencurigakan di rumah ini, Baekhyun..?"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum kecil, "Maafkan saya, tuan muda."
"Tentu, aku juga minta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak padamu." Kibum menoleh ke Changmin, Tao dan Yixing. Senyum sekilas dan beranjak menjauh dari Baekhyun menuju pintu kamar Tao. "Ah ya, semuanya, aku harus kembali ke ruanganku, tumpukan dokumen pekerjaan menunggu. Jadi, selamat malam kalian."
Kompak mereka membungkuk dan mengucapkan salam. "Selamat malam, tuan muda."
.
.
.
.
.
Cumbuan antara alas kaki dan lantai lorong rumah itu menggema menggaung. Disusul dengan gumaman nada lagu dilantunkan Kibum yang sesekali berbondong keluar untuk mengusir keheningan yang terpatri di sana.
Sesekali, matanya bertatap liar ke lantai bercorak papan catur, atau sesekali melihat ke dinding lorong yang dihiasi permadani atau lukisan pemandangan yang hobi di koleksi sang kakak, atau juga menatap lurus ke depan yang tidak tampak siapapun. Dan diantara kesemua pelayannya, memang hanya Tao dan Kyungsoo saja yang jarak kamarnya jauh paling ujung lorong.
Tak jarang meskipun Kibum sendirian kini, namun dengan pikiran yang melanglang buana membuatnya tak takut. Apapun ia pikirkan, entah soal Siwon (Kibum malu mengakuinya blak-blakan, namun memang pria butler itulah yang mendominasi pikirannya akhir-akhir ini) atau soal kejadian yang melukai Tao beberapa waktu lalu, hingga kejadian di ruang kerjanya dan berakhir dengan masalah dugaan akan Baekhyun yang menyelinap larut malam.
"Sebentar...
... Kalau dipikir-pikir, jika aku menghubungkan antara kejadian penyerangan pagi, penyelinapan Baekhyun di larut malam dan lamaran Siwon atas iklanku tentang mencari butler dengan memperhatikan rentang waktunya...,
... Itu seperti ada mengaturnya dengan sengaja.
Maksudku," Dahi Kibum mengkerut lucu dibalik poninya, membuat ujung alis dalamnya saling bersentuhan satu sama lain. "Memang ada sebuah kebetulan, dan bahkan hiduppun pasti diatur oleh Yang Kuasa, tapi khusus kejadian akhir-akhir ini...
... Memang seperti ada seseorang yang membuatnya begitu. Memang seperti direncanakan sebelumnya."
Langkah yang semulanya santai dan tegas kini memelan, dan semakin lama langkah kaki itu berhenti di satu tempat, di tengah-tengah lorong.
Kibum terperangah saat sebuah asumsi menggeliat nakal di pikirannya, asumsi yang Mengamuk mencak-mencak kepada Kibum untuk mempercayainya. Itu, berhasil membuat Kibum sedikit hilang akal, dan dengan tubuh yang bergetar di semua sudut-sudut diri sambil nafas yang mulai terpatah-patah, Kibum meracau-racau sambil mengucapkan dua kata pendorong keyakinannya: tidak mungkin.
Satu persatu wajah orang-orang rumah mencuat dalam pikiran, muncul dengan senyum ramah khas mereka masing-masing, mulai dari Kim Himchan, Kwon Jiyong, Choi Minki a.k.a Ren, Do Kyungsoo, Xi Luhan, Zhang Yixing, Shim Changmin, Huang Zi Tao, semuanya hingga terakhir, Choi Siwon. Bahkan kakaknya yang kini menjilatkan kaki di negara entah di mana, dan butler pribadi sang kakak pun ikut berkumpul di benaknya; seolah sedang mencari sosok yang sekiranya adalah seorang musuh dalam selimut.
Musuh dalam selimut.
'Jangan-jangan...
... Di rumah ini memang ada musuh dalam selimut...?'
'Musuh...
Dalam...
Selimut.'
Kelereng mata yang semula membulat melotot, perlahan menyipit, menyayu dan tertutup erat-erat. Ia tidak bisa dan tidak akan bisa siap jika seandainya benar ada musuh di balik selimut di rumahnya. Ia belum kuat dan tidak akan kuat jika dikhianati.
Tidak ingin,
Tidak siap,
Tidak suka bila dikhianati...
... Oleh semuanya, terutama Choi Siwon.
"Uh.."
Kibum merosot jatuh, jongkok lemas dengan kedua tangannya meremat-merat helai rambut kebanggaan. Bulir-bulir air mulai menumpuk menggenang di pelupuk mata, menunggu untuk diijinkan terjun bebas dan menghantam lantai. Kedua pipi agak gembilnya memerah, satu warna dengan pucuk hidungnya yeng bergerak-gerak gelisah.
Kibum menyembunyikan kepalanya di balik kedua lutut, lalu menangis sembunyi-sembunyi sambil memanggil-manggil nama Siwon dengan nada lirih dihias isak tangis.
"Siwon.. Hiks.. Hiks.. Hyungie, hiks.. Siwon-Siwon-Siwon.. Hiks.."
"Tuan Muda..?"
Tubuh yang meringkuk dengan getar kecil itu menegang, lamat-lamat, wajah yang tersembunyi rapi dibalik lututnya mulai bergerak, mengadah ke atas dan menampakkan kondisinya yang dicucuri air mata. Kibum melongo lucu, dengan bulir-bulir yang masih bebas terjun dari pelupuk matanya, bibirnya membengkak sehabis digigit-gigit dan begitu pula dengan kedua pipi dan pucuk hidungnya.
Di sana, lima langkah lebar ke depan, berdirilah sang butler dengan senyum teduh menenangkan. Senyum yang membuat lesung pipitnya sedikit menyembul malu-malu, menatap lurus kelereng cantik Kibum yang berkaca-kaca sekaligus menyiratkan kekagetan akan hadirnya disana.
Lagi, Kibum terisak seperti anak kecil yang akan kehilangan orang tuanya dan sanak saudaranya. Sambil itu, bibir bergetar Kibum meracau dengan nada mencicit takut-takut.
"Siwon.. Kau milikku, kan..?"
Siwon yang tahu akan masalah apa yang menimpa pikiran sang majikan pun hanya mendesah dengan senyum yang mulai dilebarkan.
Pria butler itu mengangguk tegas dengan pandangan yakin agar Kibum kembali tenang, dan sambil itu ia melangkah mendekati sang tuan muda yang sedang terpuruk akibat dugaan-dugaan yang menyusup dalam hati.
"Ya, tuan muda.
Mulai hari dimana saya dan anda menandatangani kertas kontrak, saya sepenuhnya sah milik anda."
Kibum tertegun. Lantas bertanya kembali dengan wajah yang mulai menenang. "Benarkah...?"
"Ya." tinggal lima langkah pendek lagi, maka mereka akan berhadapan dengan teramat sanhat dekat. "Itu benar sekali. Anda bisa memegang kata-kata saya tadi."
"Kau...
... Tidak akan mengkhianatiku kan, Siwon...?"
Dua berlian wajah itu saling bersirobok dengan air muka masing-masing; Kibum yang masih digentayangi rasa takut akan sebuah pengkhianatan dan Siwon yang menatap dengan banyak arti.
Akan tetapi, saat mendapat pertanyaan itu sang butler tidak segera menjawab. Pria bertubuh gagah dengan balutan seragam serba hitam yang membuatnya semakin mempesona justru mengambil lembut kedua tangan Kibum yang meremat-remat helai hitam jelaganya. Menariknya bediri dari jongkok, dan dibawanya untuk mendekat dengan jarak mesra antara mereka.
Kibum hanya diam, bibirnya ia lumat-lumat kecil, dan ia bisa merasakan rasa asinnya air mata yang masih meluncur bebas di pipi.
Tak berselang lama, dikecup hangat punggung jemari Kibum yang digenggam lembut oleh sang butler, berkali-kali hingga Kibum merona cantik.
Setelahnya, Siwon tersenyum indah, membuat Kibum tertawan dan terpesona dengan wajah yang berjarak sangat dekat di hadapannya. Sangat dekat sampai-sampai deru nafas kedua belah pihak saling membentur polos satu sama lain.
Kibum bahkan tidak menyadari akan hadirnya usapan seringan bulu malaikat yang mendarat di kedua pipinya, mengusap kering air matanya, sebab terlampau hanyut dengan wangi tubuh maskulin dan Choi Siwon.
Ia tersadar dari buaian aroma maskulin dan usapan menenangkan di pipi oleh sang butler tatkala ia dibisiki sebuah pertanyaan sederhana yang mampu membuat tubuhnya meleleh dan jantungnya berdegup hebat.
"Mau kucium supaya kau lebih tenang, Tuan Muda Kibummie...?"
.
.
.
.
.
.
Kanvas raksasa berwarna hitam membentang melingkupi bumi. Berbondong-bondong awan kabut dan awan kapas yang sama gelapnya dengan angkasa raya menjelajahi dengan langkah santai, sang ratu malam yang sama anggun dengan hari sebelum-sebelumnya duduk cantik di tahta tercinta, tersenyum manis dan penuh godaan birahi bagi siapapun yang mendaratkan pandangan padanya yang memang telah diakui kecantikan yang ia emban. Di sekitar, para dayang yang berkelap-kelip nakal tersebar ke segala ruang langit malam, memperindah eksistensi langit malam yang saat ini ceria bahagia.
Namun kondisi berbeda dialami oleh Yunho, sang pewaris sah Jung Corporation yang hanya menatap tanpa minat. Mata musangnya menatap jengah dan angkuh pada ratu malam, lalu mendecih tak tertarik pada dayang-dayang ratu yang menggoda sensual dirinya. Pria berkulit tan menggoda tersebut lebih menyukai menatap lekat gerak-gerik sesosok cantik bertubuh ramping yang dibalutkan seragam ala butler tak jauh jaraknya.
Sosok berambut hitam pendek yang sibuk membereskan meja kerjanya dari lembar-lembar dokumen penting perusahaan. Menyadari bahwa ditatap seintens itu, sosok cantik bertubuh ramping tersebut membalas tatap dengan pandangan tanda tanya.
"Ada apa, Tuan..?"
"Tidak," Menggeleng pelan penuh kharisma, Yunho tersenyum tipis. "Hanya saja aku berpikir lebih menakjubkan dirimu daripada pemandangan langit malam. Apalagi kalau kau pasrah di bawahku tanpa busana."
Jengah, dengan malu luar biasa akan ungkapan blak-blakan sang tuan muda, butler cantik itu kembali beberes meja kerja Yunho dan memasuk-masukkan lembar dokumen ke dalam tas kerja yang esok akan dibawa. "Tidak, Tuan."
"Baiklah, aku mengalah padamu, daripada kau berulah macam-macam lagi yang membuatku uring-uringan sampai sakit kepala."
Butler cantik itu terkekeh, dan kekehan itu lenyap tak berbekas begitu Yunho menatap tajam kearahnya, tatapan tajam ketika mereja berdua akan membicarakan hal serius.
"Ada apa..?" butler itu tersenyum kecil. "Apa ada yang mengganggu pikiran anda?"
"Bagaimana kemajuan soal surat ajuan kerjasama dengan perusahaan itu, Jaejoong..?"
Jaejoong diam sesaat, sorot manatap yang ditawan lekat-lekat oleh pandangan serius Jung Yunho itu tampak ragu untuk menjawab pertanyaan yang dilemparkan padanya.
"Kim Jaejoong, jawab aku."
"Belum ada surat balasannya, Tuan. Maafkan saya, tapi sampai hari kita mengirimkan surat ke kantornya, kita belum mendapat surat balasannya."
"Bukan belum," geraman terdengar samar-samar dari bibir Yunho. "Tapi tidak."
Jaejoong tidak membalas. Ia hanya bisa menunduk dengan sikap sempurna, walaupun ia bisa mendengar racauan kecil yang dilayangkan sang tuan majikan Jung, namun ia tidak tahu kalimat-kalimat apa yang diungkapkan. Bahkan sesekali telinganya dimanjakan dengan paksa oleh umpatan kasar dan dengusan jengkel.
Hampir sepuluh menit lamanya Jaejoong menyereting mulut dengan resleting khayalan, hingga ketika Yunho memeluk mesra dirinya, Jaejoong hanya bisa berkata ya dengan usapan penenang dilayangkan pada punggung sang tuan majikan ketika majikannya berbisik dengan gigi bergemeletuk penuh emosi.
"Besok malam ketika situasi aman, kau dan aku akan bertamu ke rumahnya tanpa meminta izin. Ajak juga yang lain dan kita akan sangat bersenang-senang di sana, Jaejoong."
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
Konflik dimulai, word count-nya juga lumayan panjang. :3
Terima kasih buat kalian yang menunggu update-an chapter ini~ :)
Salam author, Akai Momo.
