Buat para review-er, faver, dan follower, terima kasih banyak untuk dukungannya sampai ff ini sudah di chapter lima. ^^

Tanpa kalian, mungkin ff ini akan dihinggapi lumut di folder flashdisk-ku. Hehe..

Dan buat Sycarp, terima kasih sudah menyukai majas yang ada di chapter kemarin. Oh ya, aku menyebutnya dengan bahasa klasik, lho, jadi pas tahu kalau itu adalah termasuk kata-kata majas, aku langsung melongo. Hehe. ^^

Jaa, tidak lupa, mari me-review kembali. :3

.

.

.

.

.

.

.

The Butler

.

Screenplays!Sibum with!others

.

T until M

.

Akai Momo

.

All about characters is not mine, except this fic and idea

.

Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ alternative universe with much baby typos

.

No like, don't read!

.

Summary!:

Dengan Choi Siwon sebagai butlernya, Kim Kibum merasa aman, nyaman dan terpuaskan dengan pelayanan pria yang tidak diketahui asal – usul mendalamnya. Namun dibalik betapa sempurnanya hasil yang dilakukan oleh sang butler, sedikit demi sedikit masa lalu dan seluk – beluk kehidupannya mulai terkuak..

(My first ff with Sibum couple! :D

Miss them so much~ :*

Thanks a lot for authors who wrote they ff/ story on ffnet~~ *bowing*)

.

.

.

.

.

.

5th Day "The Butler, recruiting"

.

.

.

.

.

.

Waktu berbisik mistis jika saat ini adalah hampir jam tengah malam.

Bisik mistis yang terdengar manis bagi orang-orang yang memiliki jadwal pekerjaan dari pagi buta hingga jam klasik berdentang-dentang, menandakan jika dua jarum mereka bertemu dan bercengkrama diam-diam di angka 12 ketika bumi sedang terlelap pulas.

Seolah diizinkan, ketika dentang-dentang jam kayu klasik itu mengalun memanjakan sepasang telinga, maka tubuhpun mulai merayu-merengek-meronta untuk segera dibawa ke kamar, mendarat ranjang empuk dan bertemu peri mimpi yang siap dengan rajutan mimpinya. Seperti apa yang ingin dilakukan Baekhyun.

Terus, terus, dan terus lelaki muda berparas cantik itu menguap lelah. Sesekali pun tangannya yang terbebas ikut menimpali memberitahu akan kelelahan tubuhnya dengan cara mengusap-usap pelan kantung mata. Baekhyun mendesah, inginnya ia mangkir dari jurit malam rumah sebelum tidur yang telah disepakati jadwalnya, namun ia tidak bisa bebas begitu saja. Entah bagaimana caranya, jika mangkir dari jadwal jurit malam, Himchan selalu tahu. Lalu sampai satu jam lamanya, ia akan diceramahi habis-habisan oleh pelayan cantik Kim itu.

"Ayolah, sebentar lagi kita sampai di kamar dan mendarat di ranjang empuk, tubuhku." menepuk-nepuk pipi, lantas ia kembali melanjutkan langkahnya. "Ah, melelahkan sekali." Baekhyun kembali bermonolog. "Fisik dan batinku, dipompa di hari yang sama. Uh, tapi, hanya hari ini saja sih, mereka dipompa sama-sama." teringat kembali akan kejadian di kamar Tao beberapa jam yang lalu. Lantas Baekhyun bergidik dan memucat wajahnya. "Itu mengerikan. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Changmin hyung sebisa mungkin, apalagi soal curiga-mencurigai." lalu terkekeh merendahkan. "Untung saja aku menyiasatinya dengan trik bagus."

Melewati setiap ruang dalam jalannya menuju kamar, menjelajahi lorong-lorong di semua sisi di rumah milik sang majikannya, dan mengabaikan tiap-tiap pintu yang tertutup rapat-rapat seolah di dalamnya ada harga karun seharga dunia. Baekhyun tidak peduli akan udara dingin yang menusuk-nusuk sadis kulit porselennya, hawa menyeramkan yang tercipta di lorong-lorongnya, atau detik jam dari ujung lorong pertama yang terdengar seperti ketukan kaki sang waktu.

Tak berselang lama, sampailah Baekhyun di depan pintu kamarnya. Pintu kamar berwarna coklat gelap, yang beberapa langkah diapit oleh pintu kamar milik Ren dan Kyungsoo dan berhadapan dengan pintu kamar Jiyong. Namun, bukannya Baekhyun segera masuk ke dalam dan segera tidur, yang ada justru ia membeku di sana.

Sorot wajahnya nampak mengartikan sesuatu, di tambah dengan matanya yang terhiasi eyeliner itu menyipit dengan dahi yang mengerut tajam. Bersamaan itu, tubuhnya merasakan perasaan tidak menyenangkan dibalik rontaannya yang menginginkan untuk segera terlelap.

Maka, karena dirinya ingin segera tidur tanpa harus mengalami sesuatu pada tubuhnya, Baekhyun merogoh revolver yang tersembunyi apik dibalik celana, diam cantik menempel pada betisnya.

Mempersiapkan kuda-kuda dan pistolnya, Baekhyun menempelkan punggung pada permukaan pintu sediam mungkin, tak ingin memberi sinyal pada siapapun yang ia kira sedang menjamah kamarnya. Sepasang kelereng Baekhyun berkilat-kilat sadis, ia meringis dengan giginya yang bergemeletuk.

'Seingatku, aku sudah mengunci jendela kamar sebelum makan malam.' batinnya mengingat kembali. 'Ya, aku sudah melakukannya. Bahkan menggemboknya dengan kode angka. Aku juga sudah memeriksa pintu dan jendela di seluruh rumah ini, dan tidak ada kondisi mencurigakan di sana.' bersamaan itu, Baekhyun menyiapkan diri untuk meringkus siapapun yang saat ini menghuni kamarnya. 'Jangan-jangan, saat kami makan malam, ada pencuri yang menyelinap masuk dan bersembunyi di kamarku..? Sial! Kenapa harus kamarku yang nyaman, sih..?!'

Baekhyun melongo. Lalu mencubit pipinya sendiri. 'Bodoh kau, Byun Baekhyun! Namanya juga mengambil acak, jadi mungkin saja kalau kamarmu yang terpilih untuk menjadi tempat persembunyiannya!'

Tarik nafas dan hembuskan satu kali lagi, 'oke, aku siap!' Baekhyun mengangguk yakin.

Sekejap, pintu kamar itu menjeblak terbuka oleh tendangan kaki sang pemilik, tak lama revolver siap tempur itu tertodong ke segala arah kamar yang di terangi lampu temaram, dan Baekhyun bergerak seringan bulu masuk ke dalam kamarnya dengan pandangan menajam.

Namun tak lama ia diserang dari belakang.

Pelaku penyerangannya menyepak keras salah satu kaki Baekhyun hingga terganggu keseimbangannya. Baekhyun yang menyadari jika pelakunya ada di belakang, sekejap kedip mata ia membalikkan tubuh dan menekan pelatuk revolver untuk menembus tubuh sang lawan, akan tetapi hasilnya meleset dan timah panasnya justru menembus langit-langit kamar setelah tangannya yang menggenggam revolver diancungkan ke atas oleh sang pelaku. Baekhyun memekik tertahan saat revolvernya di sentak dari genggaman oleh orang itu, dan terkejut lagi saat tubuhnya di tubruk kasar ke lantai kamar dan ditindih berat-berat oleh tubuh lawannya. Posisinya semakin terhimpit tak ada celah ketika kedua tangannya di cengkram erat-erat, dadanya ditekan sekeras mungkin oleh benda tumpul dan leher jenjangnya di cekik sadis, membuat tarikan nafasnya terpatah-patah berbahaya.

Namun semua suasana penyerangan di tempat bercahaya remang yang menegangkan tersebut sekejap sirna, tergantikan dengan suasana penuh kebingungan ketika kelereng kembar Baekhyun menangkap wajah Changmin yang menindih erat tubuhnya, dengan lutut kanan yang mendarat di atas dada, yang terkapar tanpa celah.

"Cha-Changminhh... Hh... hyung..?!"

Changmin memutar bola matanya searah jarum jam, dan bersamaan dengan menjauhnya tubuh lelaki jangkung itu dari atas tubuh Baekhyun, Changmin berdecak dan menghampiri pintu kamar Baekhyun untuk ia tutup dan ia kunci. Di sisi lain, Baekhyun terbatuk-batuk sambil merangkak mendekati ranjang. Ia duduk dengan menyenderkan punggungnya di pinggir ranjang dan merogoh nafas rakus-rakus. Tidak peduli dengan peluh dingin yang reunian di kedua pelipis dan tangan, Baekhyun lebih memilih menggapai revolvernya yang tergeletak tak jauh di kolong ranjang.

"Kau keterlaluan sekali.. Hh.. Uhuk-uhuk-uhuk! Hh.. Hyung." lirih Baekhyun menatap melas. "Kau membuatku takut."

Changmin berdecak, mendaratkan tak sabar bokongnya di kursi meja serbaguna di kamar sang dongsaeng. "Seharusnya aku yang berkata seperti itu, kau tiba-tiba menjeblak pintu dengan tidak santainya, lalu menodong revolver ke segala arah seperti orang gila! Belum lagi kau nekat menekan pelatuk itu! Untung saja aku lebih dulu menepis tanganmu ke atas, kalau tidak, aku sudah tamat dengan peluru menancap di leherku!" Baekhyun yang tidak terima di salahkan banyak, ia pun membalas dengan nada dan deru nafas yang mulai stabil. "Aku kan refleks melakukan itu untuk membela diri, kau yang lebih dulu menyerangku dengan sepakan di kaki! Kalau kau tidak melakukannya, akupun tidak akan melakukannya, hyung! Lagipula, kenapa kau tidak bilang jika ingin ke kamarku..?!" kantuk yang menyerang Baekhyun lari terbirit-birit mendengar geraman tertahan dari bibir peach-nya. "Apa yang kau inginkan dari kamarku..?!"

"Aku menginginkan bayaran dengan harga setimpal darimu atas kebohonganku di depan tuan muda, Baek."

Tubuh Baekhyun menegang, lalu menelan salivanya sembunyi-sembunyi dari jangkauan mata Changmin. Pelan dan terpatah-patah, Baekhyun kini bersirobok dengan berlian wajah Changmin yang berkilat-kilat menuntut. Ia tidak bisa lagi berpura-pura, karena selain tertekan aura intimidasi kuat yang keluar dari tubuh Changmin dan sorot matanya yang menunjukan bahwa tak ingin dibohongi, ia sangat kaget dengan kenyataan yang diungkapkan blak-blakan barusan.

Iris coklat kehitamannya bergerak agak gelisah, lalu sambil merangkak mendekati Changmin, Baekhyun berbisik dengan nada tak percaya. "Kau.. Apa, hyung..?"

"Ya. Aku membohongi tuan muda soal masalahmu saat kita di kamar Tao tadi. Apa sekarang sudah jelas..?"

"Kau membohonginya..?!" jerit tertahan dengan wajah memucat. Changmin mengangguk tanpa rasa canggung dan melipat kedua tangannya di dada. "Dan menyelamatkan nyawamu, tentu saja. Kau tahu 'kan, konsekuensi atas pengkhinatan terhadap tuan muda..?"

Baekhyun melongo, lalu menyergahnya sungguh-sungguh. "Tapi aku tidak berkhianat pada tuan muda, hyung! Tidak sama sekali!"

"Aku akan mempercayai sanggahanmu kalau kau membuka hal apapun yang kau simpan dari semuanya, Baekhyun."

"Kenapa kau memaksaku, hyung..?!" Baekhyun berdecak dan membuang pandang matanya dari Changmin. Ia ingat dengan janjinya untuk sebisa mungkin tidak terlibat dengan Changmin terutama hal curiga-mencurigai, namun ternyata Yang Kuasa berkehendak lain. "aku tidak merahasiakan apapun, percayalah!"

"Tidak. Ceritakan padaku atau aku akan memberitahukanmu pada tuan muda kalau kau berkhianat, hem..?" Changmin sengaja melempar-lemparkan kunci kamar Baekhyun ke udara, mengindikasikan kepada sang pemilik bahwa ia tidak bisa mengusir atau kabur dari jangkauan lelaki jangkung hobi makan tersebut. Menyadari itu, Baekhyun yang meringis gelisah karena posisinya semakin tidak menguntungkan. "Kusarankan, sebaiknya kau pilih apa yang menurutmu baik dan mampu menyelamatkan nyawamu, Byun Baekhyun."

"Kau tidak akan berani, hyung, karena aku adik angkat kesayanganmu!"

"Oh, aku berani; sangat berani malah. Apapun akan kulakukan untuk kenyamanan dan keselamatan tuan muda, termasuk melenyapkan pengkhianat yang bahkan dilakukan oleh adik angkat kesayanganku sendiri." Changmin terkekeh jahat, menatap sadis kearah Baekhyun yang kembali wajahnya memucat saat mendengar pengakuan barusan. "Lagipula, aku hanya menganggapmu adik selama kau ada di sini, dan kalau kau diusir atau mati sekalipun akibat konsekuensi pengkhianatan, aku bisa mengganggap Tao atau Luhan atau Kyungsoo atau lainnya menjadi adikku sendiri seperti yang kulakukan padamu Byun Baekhyun."

Semula, jarak antara Baekhyun dan Changmin hanya lima langkah kaki. Namun pelan tapi pasti, sambil merangkak lagi, Baekhyun berhasil mendekati Changmin yang duduk dengan gaya bos besar, lengkap dengan kakinya yang disilangkan, kesepuluh jari yang saling berkaitan dan dagunya yang sedikit ditengadahkan keatas.

Dan Baekhyun pun kalah, menceritakan apa-apa yang ia emban, apa-apa yang ia sembunyikan, dan apa-apa yang ia ketahui dalam tugas rahasia yang dititahkan oleh 'majikan'nya yang lain. Sesekali, melalui kepalanya yang ia sembunyikan di balik lipatan tangan yang mendarat di paha Changmin, ia melirik ekspresi macam apa yang terpahat di wajahnya.

Selain itu, sambil sesekali merengek dan memohon-mohon untuk tidak mengadukannya kepada Kibum, ia bercerita dengan transparan soal yang terjadi akhir-akhir ini, lengkap, terutama soal Choi Siwon.

Di sisi Changmin, lelaki itu terkadang menyiratkan banyak ekspresi, baik itu kaget, atau marah, atau kesal dan masih banyak lainnya. Ia pun terkaget-kaget soal kehadiran luar biasa dari butler baru yang kini menjadi anak baru di rumah milik keluarga tuan muda. Changmin merasa bahwa apa yang dilakukan Baekhyun (terutama di dalangi oleh seseorang yang ternyata ia kenal) sangatlah tidak adil dan sedikit egois, sebab secara tidak langsung mereka -para pelayan- tidak dipercayai bisa menyamankan/ melindungi Kibum dari serangan musuh oleh sang dalang.

"Begitulah, hyung." akhir Baekhyun. Ia masih menggelayut manja di tumpuan kaki Changmin. "Kau tidak akan mengadukannya pada tuan muda kan, hyung...? Kau janji, kan..? Pria sejati harus menepati janjinya lho, hyung."

Changmin diam, hanya menatap Baekhyun yang melancarkan serangan puppy eyes-nya. Ia mencak-mencak dalam hati, kenapa Baekhyun yang terkadang bertingkah seperti anak tk, bisa menjadi pion si dalang -sang Milady-. "Berikan ponselmu padaku, Baekhyun." meskipun bingung, Baekhyun tetap memberikannya setelah ia keluarkan dari saku belakang celana. "Kau tak akan menelpon temanmu lewat ponselku, 'kan..?"

"Memangnya kenapa..?"

"Kau bodoh atau apa sih, hyung..? Sudah lewat tengah malam begini, memangnya kau pikir mereka masih sadar...?" cemooh Baekhyun.

"Masih. Karena aku menelpon dia yang saat ini sedang ada di negara lain."

Baekhyun tidak peduli dan tidak ingin tahu. Ia memilih untuk berdiri dan duduk di pangkuan Changmin yang setia mendengarkan nada sambung di ponsel. Kepala lelaki cantik itu mendarat di bahu kanan sang kakak angkat, berhadapan dengan ponsel flip-flap miliknya, lalu menguap dan menggumam-gumam seperti anak kecil yang hendak dibuai mimpi. Semakin cepat ia akan terlelap karena tepukan hangat pada pahanya oleh Changmin, jika seandainya sang kakak angkat tidak mengatakan kalimat yang membuatnya melotot terkejut sambil memekik tertahan, hampir sama dengan respon dari lawan hubung pria muda tersebut.

Sementara sang pelaku kejutan hanya menyeringai licik penuh arti sambil menatap wajah Baekhyun.

"Milady, ini saya, Shim Changmin, maaf mengganggu.

Saya ingin mengomplen kepada anda bahwa kenapa saya tidak diikut sertakan dalam permainan menyenangkan anda, Milady..?"

.

.

.

.

.

Sejak di mana Siwon menemukan Kibum di lorong kamar-kamar para pelayan, sejak mereka memilih mendaratkan diri di ranjang empuk atas perintah absolut sang tuan muda, Kibum belumlah memejamkan matanya yang memandang kosong ke langit-langit. Meski Siwon mengusap-usap punggungnya yang terbalutkan piyama nyaman, atau menepuk-nepuk pelan bokongnya, atau bahkan mendengung-dengungkan lagu nina bobo yang terdengar kekanakan, keping indah hitam sejelaga itu tidak tertarik menutup barang sejenak selain kedipan mata tak berarti. Itu, membuat Siwon bingung, dan semakin curiga bahwa apa yang menyebabkan tingkah aneh sang tuan muda adalah setelah ia kembali dari kamar Tao. Mungkin terjadi sesuatu yang membuat tuan muda terlihat syok dan ketakutan seperti ini, batin Siwon.

'Mungkin aku akan menanyakannya pada Baekhyun nanti,' terlintas di pikiran Siwon akan sebuah pesan ringan bahwa Baekhyun sedang di kamar Tao saat jam yang sama pula dengan jam kunjung Kibum. 'Ya, akan kutanya macam-macam padanya sampai ke akar.'

Tak lama, pria bermarga Choi itu tersentak ketika Kibum membalikkan tubuhnya, membuat mereka kini saling berhadapan. Melihat ekspresi ragu-ragu yang disiratkan sang majikan, butler tampan itu tersenyum teduh dan membuat lebih dekat tubuh mereka hingga dada masing-masing saling menyentuh hangat. Kembali diusapnya punggung dan tengkuk Kibum yang tersembunyi oleh helai-helai hitamnya, Siwon berucap dengan nada penuh ketenangan yang ajaib.

"Ada apa, tuan muda..?"

"Kita tidak sedang diluar kamar dan jam kerja, Siwon." decak Kibum. Pria itu menyamankan diri dalam dekapan penuh perasaan sang butler. Mendengar erangan tidak suka yang ditamparkan untuknya, Siwon hanya terkekeh dan mengecup-ngecup gemas pucuk kepala Kibum. "Baiklah, maafkan aku, Kibummie."

"Ngomong-ngomong, aku masih kesal dengan lepas kendalimu di ruang kerja tadi!"

"Baiklah, maafkan aku, Kibummie."

"Jika kau mengulanginya lagi, aku akan langsung menendang dan menginjak-injak selangkanganmu sampai membengkak!"

"Baiklah, maafkan aku, Kibummie."

"Betul, kau jangan sampai menyia-nyiakan kebaikan yang diberikan cuma-cuma olehku, Kim Kibum!"

"Baiklah, maafkan aku, Kibummie."

"Bisakah kau mengatakan kalimat lain selain itu..?! Kau menyebalkan, Siwon!"

"... Baiklah,

... Kalau kau menendang dan menginjak-injak selangkanganku, yang ada bukannya dia akan membengkak, tapi justru mengembung."

"Siwooooonnnn...! Kenapa kau mesum sekali, hah..?! Kenapa..?! Kenapa.. ?!" Kibum mencubit-cubit kesal dan gemas pinggang Siwon akibat dipermainkan seperti itu, pipinya memerah dan tubuhnya memanas hanya mendengar kalimat frontal yang di bisikkan Siwon tepat di depan di telinganya. Siwon pun terkekeh-kekeh, lantas memeluk gemas tubuh mungil Kibum seperti ia memeluk boneka, membuat pria cantik itu meronta-ronta sesak.

"Siwon, tenagamu berbahaya sekali, tahu! Bagaimana kalau aku mati konyol karena kehabisan nafas dipeluk seperti itu olehmu..?!" cubitan itu mendarat lagi di pinggangnya. "Itu tidak elit dan tidak keren sama sekali! aku tidak mau-aku tidak mau-aku tidak mau mati dengan cara dan alasan konyol!"

Siwon memutar searah jarum jam bola matanya, ia membatin bahwa Kibum hampir sama cerewetnya dengan sang kakak. Maka, untuk meredam kecerewetannya yang mencuat muncul, Siwon melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan butler dari kakak sang majikan: menciumnya dalam-dalam hingga suara itu tersumbat dan digantikan dengan desahan melirih.

"Uhm!" Kibum terkejut sesaat, lalu pelan menutup matanya dan memilih melarutkan diri dengan kecupan dalan Siwon. "Hhuum... Uhmm.. Mmh.. Si-woonnmmhh.."

Lima belas detik, tiga puluh detik, empat puluh lima detik, hingga satu menit kemudian, tautan basah dan dalam itu terlepas, menimbulkan desah lega dan kecewa yang bersumber dari bibir merah apel Kibum. Saliva tercecer nakal di dua sudut bibirnya, dan dengan sigap juga seringan serat kapas, Siwon mengusap-usap tempat itu.

"Sudah puas cerewetnya..?" Kibum mengangguk tidak sadar. "Kalau begitu, coba kau katakan padaku, apa yang terjadi di kamar Tao sampai-sampai kau bertingkah aneh sehabis menjenguknya tadi..?"

Ragu kembali menyerang. Awalnya sekali, lalu dua kali, dan berlanjut yang ketiga kalinya Kibum membuka-mengatupkan mulutnya yang agak membengkak dan berkilau menggoda, akhirnya ucapan yang membuat penasaranpun terdengar juga di sepasang indera pendengar Siwon.

"Kalau ada seseorang yang mengkhianatimu, apa yang akan kau lakukan, Siwon..?"

Dahi itu mengerut lucu dan ujung alisnya saling bercumbu mesra karena hal itu. "Tergantung situasi-kondisinya, Kibummie. Kalau dia yang berkhianat membuatku terkena pengaruh buruk secara langsung, atau membuatku merasa terancam dalam banyak hal, maka aku akan membuat perhitungan padanya." bola mata itu bergulir ke atas, mencari jawaban yang dirasa memang akan ia lakukan jika demikian terjadi. "Tapi jika pengkhianatan itu tidak berpengaruh secara langsung padaku, maka aku akan pergi dari jeratannya dan melanjutkan hidup seolah aku tidak mengenal orang itu. Hem, ya.. Mungkin seperti itu?"

Jawaban itu tidak benar-benar sukses menenangkan hati Kibum. "Kalau... Seandainya... Orang yang berkhianat padamu adalah orang yang sangat-sangat-sangat dekat denganmu,

bahkan kau menempatkan dia di posisi istimewa dalam hidupmu,

apa yang akan kau lakukan..?"

'Sudah kuduga, memang benar terjadi sesuatu di kamar itu.' Siwon menatap lurus pada Kibum yang menatap ketakutan dan seolah ingin menangis. Bahkan kelereng matanya mulai berkaca-kaca dan pucuk hidungnya mulai memerah. 'Sepertinya aku harus bertanya macam-macam pada Baekhyun besok pagi sebelum semuanya terbangun.'

"Ada sebutan lain yang mungkin lebih pantas jika dilakukan oleh orang yang sangat-sangat-sangat dekat denganku, atau kau, sampai menempatkan orang itu di posisi istimewa dalam hidupku, atau kau, Kibummie."

"A-" mengerjap lucu. Kilatan kesedihan dan ketakutan di keping kembar itu tergantikan dengan kilat penasaran yang besar. "Apa itu..? Memangnya ada, ya, Siwon..?"

"Tentu saja ada," pipi gembil Kibum menjadi sasaran kecup ringan sang butler. "Namanya bohong. Dan orang yang melakukannya di sebut pembohong. Dan mungkin, itu sebutan yang pantas dan sesuai daripada pengkhianat, karena pembohong hanya akan melakukan kebohongan untuk dua hal saja."

"Apa itu..? Apa lagi itu..?"

"Dua hal itu adalah pembohong akan berbohong untuk kebaikan diri sendiri dan pembohong akan berbohong untuk kebaikan orang lain. Sangat berbeda dengan pengkhinat yang akan berkhianat untuk kebaikan dirinya sendiri, Kibummie." Siwon menatap penuh arti pada Kibum, yang dibalas dengan tatapan tidak peka sang pria cantik. "Tapi sering kali kita akan tahu, pilihan macam apa yang diambil oleh kebohongan itu ketika semuanya sudah berjalan terlalu jauh, atau paling tidak, diakhir-akhir skenario kebohongannya."

Terpekur.

Diam dengan bibir terkatup rapat. Matanya menatap kejut, kagum, dan rasa tidak kepercayaan disaat yang bersamaan. Lalu hening menyergap ruang kamar minimalis namun elegan dan berkelas milik Kibum, udara dinginpun dengan gigih berhasil menyusup masuk dari balik pakaian hingga kedua tubuh itu semakin merapat untuk menambah kehangatan.

Kibum yang menggerutu teredam karena wajahnya ditelusupkan ke dada bidang sang butler. "Ucapanmu membuatku tambah lelah, Siwon. Aku jadi mengantuk gara-gara itu." detak jantung Siwon yang indah, menjadi lagu pengantar tidur terbaiknya hingga hanya membutuhkan dua menit saja sang peri mimpi membawa kesadaran Kibum menjelajahi tautan mimpi.

"Selamat malam Kibum, mimpi indah dan mimpikanlah aku, sayang."

Pria Choi itu menghembuskan nafasnya lega, menyadari jika Kibum benar-benar terlelap dibuai kantuk, sekaligus jika obrolan mereka tentang khianat, berkhianat, pengkhianat dan pengkhianatan berakhir sudah. Sebab Kibum tidak tahu, jika topik obrolan itu telah berhasil membuka luka lamanya sedikit demi sedikit.

Semayam luka lama di hati yang berdarah, bernanah dan berbau berhasil ia sembuhkan sedikit demi sedikit oleh bantuan waktu dan orang yang kini telah ia anggap kakak dalam hidupnya dan ia panggil dengan sebutan Milady.

.

.

.

.

.

.

(London-Inggris, musim dingin, beberapa belas tahun yang lalu)

.

.

.

Jika kau menganggap bahwa dunia itu tidak adil, maka kau harus mengetahui satu hal bahwa pengaruh hiduppun berada di belakangnya.

Jika dunia tidak adil, maka sama tidak adilnya dengan hidup, karena mereka saling berkomplot untuk menabur acak ketidakadilan pada semua mahkluk hidup.

Mereka yang kaya raya maka akan hidup makmur dikelilingi harta dan tahta, lalu mereka dibuai kenyaman dan keamanan yang tercipta dari rumah-rumah megah menjulang menantang langit, lalu merekapun akan berpesta-pesta dengan meriahnya, dan ketika hukum mulai menyentuh tubuh, dengan status dan uang mereka berhasil menepis hukum itu dan kembali melanglang buana menikmati dunia penuh gemerlapan.

Namun bagi mereka yang tinggal dan bertahan di lingkaran kemiskinan, berhasil mendapatkan sepotong roti dengan tubuh mulus tanpa luka pun mereka akan mensyukurinya dengan sungguh-sungguh, lalu ketika mereka menginginkan sesuatu, butuh waktu panjang untuk mendapatkan sepeser demi sepeser uang sejumlah harga yang tertera, dan kalau sudah begitu, terkadang harapan polos tinggallah abu tak berguna jika tak banyak yang berhasil dikumpulkan. Sesuatu berbau kenyamanan dan keamanan adalah hal yang langka, jika pada nyatanya mereka hidup menggelandang terpincang-pincang dan saling berkelahi satu sama lain berebut hasil rampasan. Dan jika hukum sudah menyentuh, mutlaklah mereka diadili tanpa proses formal yang memakan biaya hanya karena status mereka yang tidak dihargai: orang-orang jalanan, kubangan, dan gang tikus.

Keadaan lumrah yang kini memeluk erat tubuh ringkih, kurus, dan tak berdaya si kecil Siwon.

Siwon kecil yang hidup tanpa kedua orang tuanya, yang semula tinggal di panti asuhan terpencil untuk kemudian kabur bersama beberapa temannya dari sana karena pemiliknya yang bertingkah agak gila: senang riang gembira melakukan kekerasan fisik pada anak asuhan. Dan setelah mereka berhasil kabut dengan membawa anak-anak lemah yang terlalu sering menjadi sasaran tingkah psikopat sang pemilik panti, mereka pun mulai berpencar menjelajahi dunia yang belum pernah mereka lihat dan pijak-pijak. Ada yang melanglang buana ke kota tetangga, dan ada pula yang bertahan di kota ini dengan bersembunyi di gang-gang tikus yang lembab, bau, dan sempit, seperti yang dilakukan Siwon kecil.

Selalu, selalu, dan selalu Siwon kecil mempertahankan hidupnya yang ia pikir teramat tidak adil dengan mencuri makanan dari toko-toko atau mengemis meminta keping-keping belas kasih di alun-alun kota. Selalu, selalu, dan selalu Siwon kecil menatap sadis dan jijik pada dunia yang sedang tidak adil padanya, bibir jokernya mengumpat kata-kata kasar baik secara frontal maupun diam-diam dalam hati, dan ia bebas melakukannya karena tak ada seorangpun yang berani melarang.

Selalu, selalu dan selalu Siwon kecil menelan pahitnya dunia dan hidup yang dibebankan padanya, sambil meringkuk agak dalam di gang tikus yang menjadi naungannya dan menatap langit kelabu khas musim dingin dengan pandangan menusuk, hasil didikan situasi-kondisi lingkungan di pantinya dulu. Dan langit kelabu seolah tak ambil pusing, lebih memilih untuk menumpah ruahkan butir-butir salju untuk kemudian menumpuk-menyelimuti-mengirimkan sensasi dingin yang menusuk-nusuk kulit.

Dan Siwon kecil pun sama tak pedulinya dengan langit kelabu, memilih merapatkan tubuh yang dibalutkan kemeja kotak-kotak merah marun lusuh, celana jumper berwarna hijau pudar selutut dan sepatu boot tua ukuran dua kali lipat dari besar kakinya dan menghangatkan diri dengan selimut kusam penuh tambal yang ia bawa dari rumah panti. Lalu tidur dan membiarkan lelapnya yang tak ditemani mimpi sekalipun.

Namun semuanya berubah ketika Siwon kecil meringkuk agak keluar dari dalam gang tikus. Di malam yang semakin menggelap, dengan cahaya lampu temaram dari tiang yang berdiri kokoh di trotoar jalan hingga mengesankan suasana dan aura akan keangkeran, dan dengan butir-butir salju yang datang berkunjung untuk kesekian kalinya di tempat itu, Siwon kecil dikagetkan dengan hadirnya sosok pria bertubuh gempal dan bergaya pakaian agak parlente di hadapannya.

Semakin melotot pula kelereng mata Siwon kecil tatkala pria berkumis lebat berwarna putih itu mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan beludu warna coklat tua dan berujar nada lirih penuh rasa bersahabat dengan suara khas pria tua pada umumnya.

"Hei anak malang,

Apa kau ingin ikut bersama pria tua ini ke rumahnya yang sederhana dan hangat...?"

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

Akhirnya, flashback Siwon datang juga! XD

Walaupun kepotong sih, hehehe..

Aku update cepat karena kebetulan ada ide cerita/ alur plot selanjutnya, dan tanpa pikir panjang langsung kutuangkan di sini. ^^

.

.

.